Too Late for Sorry...
Author :
.
Deer Luvian
.
Main Cast:
.
Byun Baekhyun (GS)
Park Chanyeol
.
Other Cast:
.
Lu Han (GS)
Kim Jongin
Do Kyungsoo (GS)
Kim Joonmyeon
Byun (Jung) Daehyun
Jung Ilhoon
.
Genre:
.
Hurt/Comfort, drama, angst
.
Rated:
.
T-T+
.
Lenght :
.
multi chapter
.
*Disclaimer:
Semua cast yang saya pakai sepenuhnya milik Tuhan Yang Maha Esa. Dilahirkan oleh kedua orang tua masing-masing dan dibesarkan oleh agensi mereka. SM Ent, maupun yang lainnya. Jalan cerita, ide cerita dan segalanya yang berkaitan dengan cerita sepenuhnya milik author. Kalaupun ada kesamaan cerita saya mohon maaf sebesar-besarnya.
This original stories is mine with pairing before WooGyu and I posted on Asianfanfics so If u feel that u've been read it, please bear it! I just re-make my own stories. Thanks for your attention..
This is genderswitch for several cast.
With pairing ChanBaek slight! KaiBaek, ChanLu, HunHan.
Please don't bash! Don't plagiat!
DLDR
.
AU! OOC! GS!
.
Thanks!
.
Summary:
Baekhyun hanyalah seorang istri yang terlalu lama merasakan gesipitn di hati. Beberapa saat ia tahan dengan sikap Chanyeol yang terus mengumbar kemesraan dengan Lu Han. Awalnya ia sanggup menahan namun lama kelamaan ia memilih mengakhiri semua. Bagaimana dengan Chanyeol? Apa dia akan tetap sama setelah kepergian Baekhyun?
.
.
Happy Reading ^^,
.
.
Chapter 6.
.
.
Sedikit demi sedikit, Baekhyun mulai menaruh rasa kepada Jongin. Ia tak menampik bahwa perhatian yang selama ini ia dapatkan menumbuhkan perasaan berbeda di dirinya. Perasaan yang tak ia rasakan kepada Joonmyeon. Hanya kepada Jongin ia merasakannya, padahal Joonmyeon juga memberikan perhatian yang sama kepada Baekhyun. Tetapi kenapa? Baekhyun mulai mengerti, ia mulai paham dan mulai menyadari bahwa ia menyukai Jongin. Ia menyayangi Jongin dan ia mencintai Jongin. Ia selalu merasa bahagia setiap kali bersama Jongin. Senyumnya selalu mengembang, gelak tawanya selalu menggelegar bahkan ketakutan akan ingatannya seolah-olah menghilang jika bersama dengan Jongin.
Jongin mengetahui bahwa Baekhyun telah memiliki rasa yang sama dengannya. Ia tak mau menghilangkan kesempatan itu, ia memberanikan diri untuk menembak Baekhyun dan memintanya menjadi kekasihnya. Hasilnya? Baekhyun menerima dengan sangat terbuka. Tanpa ada keraguan sedikitpun. Sehingga saat ini ia telah berstatus sebagai kekasih Jongin.
Status? Bukannya Baekhyun telah mengingat kalau ia berstatus sebagai istri orang? Iya, sedikit demi sedikit Baekhyun mulai mengingat tentang dirinya. Bisa dikatakan hampir 75% ia mengingat siapa dirinya. Baekhyun sudah tahu siapa namanya, darimana asalnya, siapa keluarganya, bahkan ia juga tahu bagaimana kehidupannya sebelum ia terjun kedalam sungai. Tapi ada satu yang membuatnya selalu bertanya, ia tak mampu mengingat siapa nama suaminya. Ya, ia tak mengingat Chanyeol! Ia hanya tahu bahwa ia telah menikah, kehidupannya tak bahagia, ia sering meminta cerai tapi ia tak tahu siapa nama dan bagaimana rupa wajah suaminya. Ia masih belum sanggup mengingat itu.
Ingatan yang mulai bermekaran di otak Baekhyun tak membuat Baekhyun ragu untuk berhubungan dengan Jongin. Hingga saat ini, Jongin masih belum mengetahui kebenarannya. Baekhyun tetap bercerita kepada Joonmyeon dan memintanya untuk tak mengatakan apa-apa kepada Jongin. Alasannya apa? Baekhyun hanya tak ingin kehilangan apa yang ia rasakan saat ini. Kehangatan sebuah keluarga, perhatian seorang kekasih dan kasih sayang yang mengalir deras kepadanya. Sedikitpun Baekhyun tak ingin kehilangan. Ia takut sangat takut Jongin akan meninggalkannya jika tahu bahwa Baekhyun telah menikah dan memiliki seorang suami.
Egois? Memang, Baekhyun akui bahwa ia egois. Mengapa ia tak mengatakan hal yang sejujurnya kepada Jongin? Kalau memang Jongin mencintainya dengan sepenuh hati harusnya ia yakin bahwa Jongin tak akan membencinya.
Jawabannya masih sama, Baekhyun tak mau kehilangan Jongin yang telah ia cintai dengan sepenuh hati.
Mungkin ini akibat dari semua kejadian yang menimpanya dengan sang suami. Baekhyun trauma jika harus kembali kekeluarganya dan bertemu dengan suaminya. Rasa sakit akan penghianatan dan kekecawaan yang ia terima akan menyeruak didirinya. Ia tak mau lagi harus menanggung pesakitan yang selama ini ia rasakan. Cukup saat itu saja ia merasakannya, sekarang hanya kasih sayang dari Jongin dan Joonmyeon yang ia butuhkan bukan keluarga yang sebenarnya.
.
.
.
.
.
Gemerisik air hujan yang sedikit turun menyapa bumi terdengar halus di telinga Baekhyun. Wanita bermata sipit ini tengah menikmati harum air hujan dan mencoba menghitung tetesan air hujan. Kebosanan tengah menghampirinya, bagaimana tidak? Baekhyun hanya seorang diri di rumah. Tanpa ada yang menemani. Jongin dan Joonmyeon sedang bekerja seperti biasa.
Rasa bosan yang semakin menggila itu membuat Baekhyun bangkit dari duduknya. Sekilas ia melihat jalanan yang telah basah akibat ulah titik-titik air itu. Tersenyum sebentar lalu melangkahkan kakinya menuju dapur. Di pikirannya ia ingin membuat makanan yang akan mengenyangkan untuknya, Jongin dan Joonmyeon. Kemampuan memasak Baekhyun masih sama seperti dulu, walaupun ia tak mampu bekerja cepat mengingat tangannya yang cidera masih belum sepenuhnya sembuh.
Dengan telaten Baekhyun mengiris beberapa potong sayuran. Ia berencana untuk membuat sup yang pasti akan menyenangkan jika dinikmati di hari yang lumayan dingin ini.
Beberapa menit dibutuhkan untuk semangkuk sup dan beberapa ikan siap terhidang di meja makan. Bibir tipisnya mengulas senyum lebar. Kebanggaan hadir di dalam dirinya. Meskipun hanya semangkuk sup dan beberapa potong ikan ia senang, setidaknya ini akan memberikan rasa nyaman untuk perut yang lapar sepulang kerja.
"Sepuluh menit lagi pasti Jongin akan pulang.." gumamnya pelan. Kemudian ia melangkah menuju ke ruang tengah untuk menyalakan televisi dan melihat tayangan yang sekiranya menarik hati.
Seperti apa yang dikatakan Baekhyun, sepuluh menit berlalu bel rumah berbunyi. Menandakan seseorang telah datang. Dengan sigap, Baekhyun segera bangkit dari duduknya untuk menyambut kedatangan seseorang yang ia yakini adalah Jongin.
"Annyeong, Hyemi-ya! kau belum tidur?" tanya Jongin seketika ia melihat Baekhyun berdiri manis di depan pintu.
Baekhyun menggeleng diiringi senyum manis mengembang, "Apa kau sudah makan?"
"Belum, aku belum sempat makan. Apa kau lapar? Mau aku buatkan makan?"
"Aku belum makan, aku menunggumu pulang. Aku sudah buat makan malam untuk kita." Jawab Baekhyun lalu menggandeng tangan Jongin. "Ayo masuk dan makan."
Jongin hanya menurut saja apa yang dikatakan Baekhyun. Senyumnya tak berhenti mengembang saat Baekhyun dengan sayang melayaninya sepenuh hati. Rasanya seperti sepasang suami istri yang baru saja menikah. Kontan, bayangan-bayangan tentang indahnya menikah dengan Baekhyun melayang-layang dipikiran Jongin.
Selesai menikmati makan malam bersama, Jongin meninggalkan Baekhyun yang sedang membersihkan sisa makanan untuk mandi dan berganti pakaian. Beberapa waktu berlalu, Jongin keluar dari kamar dan mendapati Baekhyun berada di depan televisi melanjutkan melihat tayangan yang sempat tertunda karena kedatangannya. Langsung Jongin duduk di sebelah Baekhyun dengan tangan memeluk Baekhyun.
Sedikit kaget dengan gerakan Jongin, Baekhyun menoleh ke arahnya lalu menggembungkan pipinya lucu. Gemas melihat wajah imut sang kekasih Jongin mengecup kilat bibir tipis Baekhyun yang malam membuat Baekhyun semakin menggembungkan pipi chubbynya.
Jongin tertawa kecil, "Kenapa kau seperti ini? Lucu sekali wajahmu.."
"Kau terlalu kilat menciumku.." jawab Baekhyun malu, semburat kemerahan menyeruak di antara pipi mulusnya.
Jongin mengusap surai hitam kemerahan Baekhyun lalu tersenyum manis, "Kau mau lebih lama?" berikutnya Jongin menangkup kedua pipi Baekhyun. Mendekatkan wajah Baekhyun kearahnya sehingga dapat dirasakan hidung mereka saling bergesekan.
"Ahahaha... Geli Jongin.." ujar Baekhyun sedikit menunduk malu. Jongin tak merespon, ia semakin mendekatkan bibirnya dan langsung menempelkan bibir penuhnya di atas bibir tipis Baekhyun. Sedikit melumat pelan namun penuh perasaan. Baekhyun hanya menutup mata sipitnya mengikuti gerakan lincah bibir Jongin yang tengah menyapu bibirnya. Ia menikmatinya, menikmati setiap sentuhan bibir Jongin hingga tak terasa udara di sekitar seraya menghilang sesaat.
Jongin melepaskan ciumannya dan menatap kedua mata sipit Baekhyun lembut. Sorot matanya mengatakan betapa ia sangat mencintai sosok yang ada di hadapannya ini. Begitu pula Baekhyun, ia juga membalas tatapan itu dengan sangat lembut dan penuh kasih sayang. Sekilas bibirnya melukiskan senyum paling manis.
"Hyemi-ya... ada yang ingin aku katakan kepadamu.." Ucap Jongin dengan nada serius.
Baekhyun memandang Jongin penuh tanda tanya, "Apa Jongin?"
"Mungkin ini terkesan begitu cepat.. aku hanya mau bertanya.. eum.."
"Apa Jongin? Jangan buat aku penasaran..." rengek Baekhyun.
"Apa kau mau menikah denganku?" tanya Jongin penuh harap. Tangannya menggenggam tangan Baekhyun erat, matanya menatap Baekhyun lekat-lekat.
Beberapa detik berlalu belum ada jawaban dari Baekhyun, namun sebuah senyum mengukir lebar dari bibir tipis Baekhyun. Kepalanya menggangguk antusias lalu tak tahu kenapa ia memeluk Jongin erat.
"Aku mau Jonginie...aku mau..." tutur Baekhyun sumringah. Hatinya tak menyangka bahwa Jongin akan menikahinya. Memang itu terlalu cepat, tapi Baekhyun tak memperdulikannya.
"Kau yakin?" tanya Jongin seolah tak percaya dengan apa yang didengarnya.
Baekhyun melepaskan pelukannya, "Eum, aku mau Jongin, aku mau.. tapi..." sejenak raut muka Baekhyun berubah sayu.
Tangan Jongin menangkup pipi Baekhyun. "Tapi apa Hyemi-ya?"
"Aku belum tahu siapa keluargaku dan aku takut kau akan meninggalkanku jika tahu siapa aku sebenarnya.." jawab Baekhyun lirih. Kepalanya menunduk dan tak terasa benda bening telah turun pelan dari sudut mata sipitnya.
"Kenapa aku harus meninggalkanmu kalau aku mencintaimu? Aku akan menerima semua kenyataan tentangmu Hyemi. Aku tak akan meninggalkanmu. Asal kau juga tak akan meninggalkanku dan mau menerimaku apa adanya." Balas Jongin meyakinkan Baekhyun. Tak ada keraguan dari ucapan Jongin, sontak membuat Baekhyun mendongakkan kepalanya dan menatap mata Jongin.
"Apa kau yakin?"
"Eum, aku janji..."
"Tapi aku tidak mau janji.."
"Baiklah! Aku tidak janji, tapi aku akan membuktikannya, aku akan melakukan apa yang aku katakan.." Jongin meraih tubuh Baekhyun dan mendekap di pelukannya.
"Terima kasih telah mempercayaiku dan mencintaiku. Aku juga sangat mencintaimu Jongin." Baekhyun semakin membenamkan kepalanya di dekapan Jongin. Dapat dirasakan air mata Baekhyun membasahi kaos Jongin. Jongin mengusap dan mengecup pelan puncak kepala Baekhyun.
"Sama-sama, aku juga terima kasih telah hadir di hidupku. Sekali lagi terima kasih.."
Keduanya larut dalam suasana yang sangat membahagiakan bagi mereka. Terutama Baekhyun, sungguh ia merasa sangat bahagia saat itu. Ia tak menyangka bahwa Jongin sangat menyayanginya, ia tak ragu akan kasih sayang yang diberikan Jongin hingga ia menerima ajakan Jongin untuk menikah.
Tapi, bukannya Baekhyun orang jahat telah membohongi Jongin tentang siapa dirinya? Ia tak peduli, kalau memang harus ia akan tetap berperan dan hidup sebagai Kim Hyemi bukan sebagai Byun Baekhyun. Ia tak peduli jika harus berpisah dengan keluarga, orang tua dan kedua adiknya. Baginya kedua orangtua Baekhyun lah yang telah membuat hidupnya menjadi menderita. Kalau saja ia tak dipaksa menikah dengan 'Sosok itu' yang orangtuanya anggap dapat membahagiakannya, mungkin Baekhyun tak akan merasa tertekan. Tetapi ia juga bersyukur atas kejadian itu, karena begitu ia sampai di tempat dimana kebahagiaan yang selama ini sangat ia dambakan. Hidup bersama dengan orang yang sangat menyayanginya dan ia sayangi. Sebagai sepasang kekasih dan berlanjut menjadi sepasang suami istri.
.
.
.
.
.
Hari minggu ceria, pagi ini mentari serasa enggan sekali membagi sinarnya kepada makhluk di bumi. Padahal musim panas telah sebulan yang lalu menghampiri negara empat musim ini. Hari yang tak begitu panas ini dimanfaatkan satu keluarga kecil untuk berlibur bersama. Mengingat mereka belum sempat pergi liburan bersama, mungkin hanya makan malam bersama.
Kebahagiaan yang dirasakan Jongin dan Baekhyun tidak ingin dinikmati sendiri. Mereka ingin berbagi dengan satu-satunya kakak yang selalu meramaikan rumah kecil itu, Kim Joonmyeon. Selain ingin berbagi kebahagiaan, Jongin ingin merayakan lamaran bersama-sama. Meski lamaran itu tidak resmi. Mengapa? Karena Jongin tak memiliki keluarga selain Joonmyeon dan ia juga tak tahu siapa keluarga Baekhyun.
Lelaki berkulit tan itu merasakan kehidupan yang sangat sempurna di usianya yang ke 24 ini. Baru kali ini ia bertemu dengan seseorang yang benar-benar membuatnya bahagia. Kehadiran Baekhyun yang bukan hanya sebagai penumpang di rumahnya sungguh disyukuri Jongin. Apalagi wanita dengan pipi chubby itu telah menyetujui lamaran pernikahan yang ia ajukan. Baginya tidak ada yang sangat membahagiakan selain kebersamaannya dengan Baekhyun.
Pergi ke taman kota dengan air mancur yang dapat digunakan untuk bermain menjadi pilihan ketiganya. Aneh bukan? Ketiga manusia yang notabene bukan lagi anak kecil memilih tempat untuk anak-anak. Mereka tak peduli, asal senang kenapa tidak?
Jongin dibantu Joonmyeon menggelar tikar di atas rumput yang memang disediakan untuk keluarga berpiknik. Sedang Baekhyun menyiapkan bekal yang ia bawa. Setelah tikar siap dengan sigap Baekhyun menata bekal di atasnya. Tampak berbagai macam makanan tersedia di atasnya. Terlihat sekali wajah-wajah penuh kekaguman mengguap dari kedua lainnya.
"Aku tak menyangka kalau Hyemi akan menerima lamaranmu Jongin yang yaaaaa sangat-sangat tidak romantis." Celetuk Joonmyeon menyingkap kesunyian sesaat.
Merasa disinggung, wajah Jongin berubah muram.
Baekhyun terkekeh, "Aku tidak masalah walaupun itu tidak romantis. Yang penting adalah keseriusannya." Sahut Baekhyun menyelamatkan Jongin.
"Waahhhh, beruntung sekali kau mendapatkan Hyemi yang mau menerimamu apa adanya.." Joonmyeon menggeleng-gelenggan kepalanya. Pernyataan itu sontak disambut pukulan ringan di kepala Joonmyeon.
"Yaa! Kalau aku nanti menikah dengan Hyemi hyung juga kan yang suka.." ujar Jongin kesal.
"Tidak! Aku tidak suka..." balas Joonmyeon dengan bibir manyun.
Baekhyun menautkan kedua alisnya, "Kau tidak suka jika aku menikah dengan Jongin?" tanya Baekhyun sedikit kecewa.
"Tidak...tidak...tidak... Maksudku aku tidak suka karena bukan aku yang akan menikahimu.." ralat Joonmyeon cepat dengan cengiran menggembang dari bibirnya.
"Apa hyung bilang? Hyung ingin menikahi Hyemi? Yaa! Hyemi itu hanya milikku! Tidak ada yang boleh memiliki selain aku..." protes Jongin seraya memukul-mukul tubuh Joonmyeon.
"Aduhh, sakit Jongin...sakit..." rintih Joonmyeon. "Tapi bagaimana kalau Hyemi sudah punya suami?" tanya Joonmyeon tanpa maksud apa-apa. Ia tak sengaja mengatakan itu.
Baekhyun menoleh cepat dan menatap tajam kedua kristal Joonmyeon. Menyadari tatapan kurang mengenakan dari Baekhyun, Joonmyeon menutup mulutnya.
"Maksudmu apa?" tanya Jongin bingung.
"Ee..." Joonmyeon gelagapan. Bingung harus menjawab apa. "Eeummm, begini! Kita tidak tahu asal usul Hyemi hyung, mungkin saja Hyemi hyung sudah menikah.." raut muka Joonmyeon tampak panik saat itu. Keringatnya mulai bercucuran.
Jongin mengerutkan dahinya lalu mendesah pelan, "Benar juga. Hyemi-ya! kalau kau memang sudah punya suami bagaimana?" tanya Jongin tercekat.
Tak ada jawaban dari bibir tipis Baekhyun. Ia hanya menunduk, menyembunyikan rasa bersalah yang telah menguasai ekspresinya. Entah apa yang akan ia lontarkan sebagai jawabannya, ia tak tahu.
"Ah, maaf! Aku malah merusak suasana yang seharusnya menyenangkan." Sesal Joonmyeon berusaha mengembalikan semangat Baekhyun. Yang paling mengerti situasi adalah Joonmyeon. Mengingat ia memang tahu tentang Baekhyun sebenarnya.
"Hemm, itu bisa kita bicarakan nanti.." Jongin mulai membawa suasana agar lebih cair kembali. Namun, Baekhyun masih dalam keadaan yang sama. Kepalanya masih menunduk.
Tangan halus Jongin mengangkat pelan wajah Baekhyun, kristal beningnya menyorot hangat kedua lensa coklat Baekhyun. Senyumnya mengulas lembut. "Tidak usah kau pikirkan Hyemi. Kita jalani saja apa yang ada sekarang."
"Ta..tapi..aku tidak ingin membuatmu kecewa.." jawab Baekhyun lirih.
"Kenapa aku harus kecewa? Bersamamu saat ini merupakan kebahagiaanku. Tak peduli apa yang akan terjadi nanti." Jongin meraih tubuh Baekhyun dan mendekapnya. Joonmyeon mengalihkan pandangannya, memberikan kesempatan kepada mereka berdua untuk melakukan hal lebih.
Baekhyun merasa lega, setidaknya Jongin masih tetap disisinya meski kecerobohan kata-kata Joonmyeon sedikit merusak suasana. Senyumnya mengembang diantara belaian bibir Jongin atas bibirnya.
Tanpa sengaja Baekhyun melihat seseorang dari arah lain. Wajahnya semakin tak karuan, ia menunduk mencoba bersembunyi dari tatapan yang seakan-akan ingin memakannya. Ia menggigit bibirnya berusaha menghilangkan ketakutan dan kekhawatiran yang tiba-tiba saja menghampirinya.
Benar, seseorang itu mendekat. Wajahnya menyiratkan berbagai macam ekspresi. Ekspresi ragu, tak percaya, tanda tanya dan sedikit... senang? Bercampur menjadi satu. Seakan tak mampu lagi menahannya, seseorang itu bertanya.
"Kau...kau...bukankah kau Baekhyun?" tanyanya dengan nada tak percaya..
Baekhyun menunduk...menunduk semakin dalam.
"Kau...kau memang Baekhyun... Kau Byun Baekhyun..."
.
.
.
.
.
"Kau...kau Byun Baekhyun kan? Kau benar Byun Baekhyun..." serunya seraya menggoyang-goyangkan tubuh Baekhyun. Baekhyun masih terdiam menunduk, ia berusaha untuk menyembunyikan wajah ketakutannya. Detik berikutnya ia menampik tangan itu yang berniat untuk mengangkat wajahnya.
"Ma..ma...maaf, aku..aku bukan Byun Baekhyun.. Aku..aku Kim Hyemi.." Jawab Baekhyun sedikit tercekat. Sekilas ia memandang wajah tak percaya itu dengan tatapan memohon agar mempercayainya.
"Tapi aku yakin kau Byun Baekhyun..." balasnya dengan nada masih tak percaya.
"Anda salah orang, aku Kim Hyemi bukan Byun Baekhyun.." kali ini suara Baekhyun terlihat lebih tenang. Lantas ia beranjak meninggalkan mereka. Jongin segera mengejar Baekhyun yang telah jauh pergi dari mereka.
Joonmyeon hanya memperhatikan dengan tatapan bingung kepada seseorang yang mengaku mengenal Baekhyun. Tatapannya berubah melunak ketika hembusan kecewa lolos dari bibirnya. Raut mukanya mengatakan bahwa apa yang ia lihat tidak salah. Joonmyeon memang mengetahui semua lantas menyentuh pundak seseorang itu. Bibir tebalnya ditarik tipis lalu berujar.
"Apa kau benar tahu siapa dia?"
Seseorang itu mengangguk, "Eum, aku sangat mengenalnya. Aku tidak mungkin salah kalau itu memang dia." Jawabnya pelan.
"Kalau begitu, ikutlah aku.. ada beberapa yang akan aku katakan kepadamu." Ajak Joonmyeon dan disambut hangat olehnya. Keduanya melangkah kesalah satu kafe di dekat sana untuk saling mengeluarkan cerita masing-masing.
.
.
.
.
.
Baekhyun masih berjalan dengan wajah takut, khawatir dan gelisah. Pikirannya tiba-tiba berputar kembali. Ia tak pernah berpikir akan bertemu dengan orang itu disini. Ia tak menyangka akan bertemu dengannya di saat ia tengah bersama Jongin dan Joonmyeon. Kenapa orang itu tiba-tiba ada di depannya? Meskipun sebenarnya ia merindukan orang itu, meskipun ia sangat ingin memeluk orang itu melepas rasa rindunya. Tapi, ia tak mungkin berbalik dan memeluk orang itu. Kebohongan tentang ingatannya yang telah kembali akan dengan sangat mudah diketahui oleh Jongin.
Masih terus menggerakkan kaki, Baekhyun tak menghiraukan panggilan Jongin. Pandangannya tetap lurus seiring dengan jejak-jejak yang terukir disetiap tapak kakinya. Jongin tetap memanggilnya, hingga ia tak sabar dan menarik tangan Baekhyun agar berhenti.
"Hyemi-ya! kau mau kemana?" tanya Jongin.
Baekhyun berbalik dan menatap sendu Jongin, "Aku mau ke sungai.." jawabnya lirih.
"Sungai? Kenapa ke sungai?" Jongin tak mengerti apa yang diinginkan Baekhyun. Alih-alih menjawab, Baekhyun malah membalikkan badannya kembali. Menggerakkan kakinya menjauh dari Jongin.
"Hyemi-ya! tunggu..." teriak Jongin kembali menarik tangannya.
Baekhyun tak merespon Jongin, ia masih mengabaikannya. Hal itu membuat Jongin merasa sedikit aneh dengan Baekhyun. Siapa orang itu? Ada apa dengan Baekhyun? Jongin memang tak mengerti dengan situasi yang tengah ia jalani saat ini. Situasi yang melibatkan Baekhyun dengan seseorang yang mengaku mengenal Baekhyun. Sempat ingin ia mempercayai orang itu dan ingin bertanya lebih banyak, namun ia tak mau membiarkan Baekhyun berjalan sendiri yang dapat membahayakan Baekhyun. Kalau memang Baekhyun tak ada apa-apa atau merasa tak mengenal orang itu kenapa ia harus menghindarinya? Kenapa harus pergi? Apa Baekhyun mengingat orang itu? pikiran Jongin dipenuhi pertanyaan-pertanyaan itu. Sedikit penuh tanda tanya, Jongin masih mengikuti Baekhyun di belakang.
Sayup-sayup aliran air sungai terdengar memanggil sosok yang tengah berdiri tenang di tepinya. Mata sipitnya memandang kosong ke arah aliran itu. Tenang, begitu menenangkan hanya dengan melihatnya saja. Bibirnya terkadang ditarik setengah lalu kembali datar. Ekspresi dingin menghiasi wajah manisnya saat itu.
Hembusan nafas berat berulang kali lolos dari bibir tipisnya. Mata bulatnya memandang nanar sosok di sebelahnya. Hatinya seakan tak berhenti bertanya, ada apa dengannya? Lebih dari sekali ia mencoba bertanya kepadanya namun tak ada satupun jawaban dapat menenangkan gejolak batinnya. Karena sosok itu enggan untuk menjawabnya. Tak ingin membuatnya terluka, ia hanya duduk diam seraya memainkan sebatang rumput tanpa melontarkan kembali pertanyaannya.
Di balik semua tanda tanya yang berterbangan di pikiran Jongin, ada rasa yang sebenarnya Jongin coba untuk menepisnya. Perasaan takut akan kehadiran seseorang yang mengaku mengenal Baekhyun atau yang ia sebut Kim Hyemi. Ia takut, kalau orang itu benar-benar mengetahui siapa Baekhyun yang sebenarnya. Ia takut kalau orang itu akan membawa Baekhyun kembali kekehidupan yang sebenarnya. Serta satu hal yang paling ia takutkan saat ini adalah, ia takut seseorang itu akan menjauhkannya dari Baekhyun, memisahkannya dari Baekhyun dan membuat Baekhyun meninggalkannya.
Tapi, Jongin mencoba berpikir positif. Jika memang orang itu tahu siapa Baekhyun sebenarnya, Baekhyun akan merasa senang dan bahagia bisa kembali lagi ke keluarga yang telah ia tinggalkan selama ini. Mungkin ini saat yang tepat untuk Baekhyun kembali, menemukan siapa keluarganya. Jongin sadar ia tak bisa egois, ia telah berjanji apapun yang terjadi nanti ia akan tetap mencintai Baekhyun. Apapun yang akan terjadi nanti. Termasuk seandainya orang itu membawa Baekhyun pergi, ia akan tetap mencintai Baekhyun.
Masih dalam keadaan yang sama, Baekhyun terdiam dalam sunyinya seraya menatap kosong aliran tenang sungai. Sedangkan Jongin hanya mampu memandang pilu Baekhyun yang masih bungkam tak ingin berbicara setelah pertemuan itu.
.
.
.
.
.
Sepoi-sepoi angin yang berhembus di antara gemericik air sungai memaksa keduanya untuk beranjak. Dingin jika mereka terus terdiam dengan pakaian yang tak terlalu tebal. Jongin menggandeng tangan Baekhyun di setiap langkah yang ia ciptakan bersama. Baekhyun tak lagi sesunyi tadi, sedikit ia melempar senyum kepada Jongin agar tak terlalu membuat Jongin kepikiran.
Sesampai mereka di dalam rumah, Baekhyun kembali mematung sejenak. Mata sipitnya menangkap seseorang lain bersama Joonmyeon di ruang tamu. Orang yang sama saat memanggilnya tadi. Tak ingin berlari lagi, Baekhyun hanya melengkungkan senyum menyapanya lalu bergerak masuk kekamar.
Sikap berbeda yang ditunjukkan Baekhyun membuat Jongin bingung. Tak memikirkan lebih lanjut, Jongin duduk menyebrang dari mereka. Memandang Joonmyeon sekilas dan menanti Joonmyeon untuk menceritakan apa yang sebenarnya telah terjadi.
"Jongin, kenalkan dia Do Kyungsoo-sshi. Dia mengaku mengenal Hyemi.."
Jongin tersenyum menjabat tangan orang itu, "Aku Kim Jongin.. Kau mengenal Kim Hyemi?"
"Eum, aku tak salah lihat. Dia memang Byun Baekhyun! orang yang sangat aku kenal." Balasnya.
Sesaat desahan pelan turun dari bibir Jongin, "Kau pasti sudah mendengar cerita dari Joonmyeon bukan? Aku minta maaf kalau Hyemi menghindarimu."
"Tidak apa-apa, aku tidak tahu kalau Baekhyun hilang ingatan. Aku ingin ucapankan terima kasih atas nama keluarga dan teman-teman Baekhyun karena kesediaan kalian menerima dan merawat Baekhyun hyung." ujarnya disertai bungkukan dalam.
Jongin mengangguk, "Aku akan panggilkan Hyemi dulu. Mungkin sekarang dia mau berbicara denganmu." Lantas Jongin berdiri dan melangkah menuju kamar Baekhyun.
Beberapa menit terlewati, Jongin kembali bersama Baekhyun dibelakangnya. Sebentar Baekhyun menunduk lalu menyapa kembali Kyungsoo dan duduk di sebelah Jongin.
"Hyemi-ya! Dia adalah Do Kyungsoo-sshi. Apa kau mengingatnya?" tanya Jongin hati-hati, ia tak mau membuat Baekhyun terbebani.
Baekhyun menggeleng, ia masih menutupi ingatannya yang kembali. "Aku tidak mengingatnya. Maaf." Jawab Baekhyun pelan.
"Jangan kau paksa kalau memang belum tahu, sepertinya dia memang mengenalmu Hyemi.."
"Benarkah? Ah, maaf kalau aku bersikap buruk kepadamu tadi. Aku tidak bermaksud.."
"Tidak apa-apa! aku mengerti.." potong Kyungsoo dilengkapi senyum manis. "Aku senang bisa bertemu denganmu, walaupun dalam keadaan yang tak pernah aku harapkan. Bagaimana kabarmu?" tanyanya ramah. Ia ingin membuat Baekhyun merasa nyaman dengannya.
"Aku baik-baik saja. Senang bisa bertemu denganmu Do Kyungsoo-sshi.." balas Baekhyun canggung. Ia sedikit kikuk harus bersikap seolah tak mengenalnya.
"Jangan panggil aku secara formal seperti itu. Panggil aku Kyungie seperti kebiasaanmu dulu.." ujarnya dengan tertawa kecil. Baekhyun hanya mengulas senyum canggung dan mengangguk pelan.
Suasana telah kembali menghangat, Baekhyun mulai sedikit demi sedikit menerima keberadaan Do Kyungsoo. Teman sekaligus sahabat yang sangat ia rindukan. Perasaan lega menyelimuti Baekhyun karena orang di depannya ini tak menuntutnya untuk mengingat lebih jauh, meskipun sesungguhnya Baekhyun telah mengingat sebagian.
Pertemuan Baekhyun dengan Do Kyungsoo menjadi kenyataan yang menyakitkan untuk Jongin. Do Kyungsoo telah menceritakan semua tentang Baekhyun, siapa Baekhyun, darimana asal Baekhyun bahkan sesuatu yang sangat ditakutinya. Kenyataan bahwa Baekhyun telah memiliki seorang suami yang menikahinya semenjak tiga tahun lalu. Sontak itu membuat hati Jongin tak tenang. Perasaannya bergemuruh, berbagai macam emosi menggerogoti hati dan pikirannya. Ketakutan akan kehilangan Baekhyun saat itu juga berkecambuk dihatinya. Ia takut, ia takut jika Baekhyun akan kembali kepangkuan sang suami yang mungkin saja ia rindukan.
Tetapi Jongin sadar, bahwa semua yang dilakukan memiliki konsekuensi. Salah satunya adalah mencintai sosok yang tak diketahui asal usulnya, apalagi ia hilang ingatan. Jadi mau tak mau ia harus siap dengan apapun yang akan terjadi nanti kepadanya. Ia harus siap jika kenyataannya Baekhyun memilih ikut dengan orang itu dan meninggalkannya. Ia akan ikhlas dan menerima jika seandainya memang seperti itu keadaannya.
.
.
.
.
.
"Pagi Baekhyun..." sapa Kyungsoo saat melihat Baekhyun keluar dari kamar mandi.
"Eh? Ah iya, pagi.." jawab Baekhyun dengan senyum sedikit dipaksakan. Kemudian ia mendekat kearah Kyungsoo. "Kau buat apa?"
Tangan Kyungsoo menunjukkan apa yang tengah ia kerjakan. "Cake. Strawberry Cake kesukaanmu."
"Iyaa? Ah! senangnya, terima kasih..." balas Baekhyun dengan senyum yang lebih tulus daripada tadi. Kedua mata sipitnya juga ikut tersenyum. Melihat Baekhyun seperti ini membuat Kyungsoo tersenyum senang. Walaupun ia merindukan sosok Baekhyun yang selalu bersikap manja ketika bersamanya.
"Kyungsooaa... aku merindukanmu... aku sungguh ingin memelukmu, bermanja-manjaan seperti dulu... tapi maaf, aku belum bisa..." gumam Baekhyun dalam hati.
Sudah beberapa hari Kyungsoo berkunjung di rumah Baekhyun, sekedar untuk membantu Baekhyun mengingat kembali siapa dirinya. Ia datang membawa beberapa album foto yang ia punya. Foto-foto saat jaman sekolah maupun kuliah. Foto-foto yang ia ambil sebelum Baekhyun memutuskan untuk mengakhiri masa lajangnya.
Dengan telaten Kyungsoo membantu Baekhyun mengingat dirinya. Walaupun sesungguhnya Baekhyun telah ingat, tapi ada satu alasan kenapa Baekhyun membiarkan Kyungsoo menceritakan semua tentang dirinya. Selain untuk menutupi kebohongannya, ia juga penasaran siapa sosok suaminya. Ya! Byun Baekhyun masih bertanya siapa sebenarnya suaminya. Dengan bantuan Kyungsoo, ia mengingat kembali Chanyeol, Park Chanyeol. Lelaki bertubuh tinggi yang telah menikahinya. Tetapi Baekhyun merasa ada yang aneh dengan cerita Kyungsoo. Di dalam ceritanya, Kyungsoo mengatakan bahwa Baekhyun bahagia dengan suaminya, tapi ia tidak merasakan itu. Setelahnya ia sadar bahwa ia dan suaminya telah melakukan perjanjian yang hanya diketahui oleh mereka berdua.
Park Chanyeol, nama itu berdengung terus di telinga Baekhyun. Sesaat Kyungsoo menceritakan siapa sosok Chanyeol, Baekhyun menjerit kesakitan.
"Ahhh..." pekik Baekhyun kesakitan.
"Baekhyun-ah, kau kenapa Baek?" tanya Kyungsoo panik. "Joonmyeon oppa, Jongin-ah! tolong!" teriak Kyungsoo meminta bantuan keduanya. Detik berikutnya Jongin menghampiri mereka.
"Hyemi-ya! Kenapa? Apa kepalamu sakit lagi?" Jongin memegang kepala Baekhyun lalu mengusap peluh yang berada di dahinya.
"Sakit Jongin.." rintih Baekhyun.
Jongin memeluk Baekhyun, mengecup puncak kepala Baekhyun berulang-ulang. "Tahan Mi-ya! Apa mau aku bawa ke rumah sakit?" tawar Jongin. Baekhyun menggeleng menolaknya.
"Apa kau memaksakan untuk mengingat?"
Baekhyun mengangguk, "Eum, aku mencoba mengingat seseorang." Jawabnya lirih.
"Siapa?" tanya Jongin penasaran.
"Park Chanyeol.."
Deg...
Hati Jongin bagaikan ditumbuk dengan batu besar. Seketika dadanya bergemuruh mendengar nama itu diucapkan Baekhyun. Jongin telah mengetahui semua tentang Baekhyun, bahkan siapa suaminya. Tetapi hal itu semakin menyakitkan ketika Baekhyun mengucapkan nama suaminya. Pikirannya melayang tak karuan. Sempat sekelebat pikiran tentang apakah Baekhyun akan kembali kepada suaminya setelah mengingat itu menyerang diotak Jongin. Namun setenang mungkin Jongin berusaha menghapus pikiran-pikiran itu. Baginya saat ini selama Baekhyun belum benar-benar ingat tentang siapa dirinya, sepenuhnya Baekhyun masih kekasihnya dan calon istrinya.
.
.
.
.
.
Berderet tanaman bunga tampak menarik perhatian Baekhyun. Tatapan matanya menyorot lembut kepada jejeran bunga yang tumbuh indah di sebuah taman kecil milik keluarga Jongin. Tangannya sesekali memetik daun-daun yang sedikit melayu agar tak mengurangi keindahan dari bunga itu. Bibirnya tak berhenti menyungging senyum dan bergumam lirih.
Sesaat ia membelai bunga-bunga itu, ia mulai mengajak bunga-bunga itu berbicara. Tampaknya Baekhyun sedang mencurahkah isi hatinya.
"Apa yang harus aku lakukan? Aku bingung.." ucapnya diiringi senyum tipis.
"Sepertinya aku harus jujur saja, toh Jongin juga sudah tahu siapa diriku yang sebenarnya..."
Baekhyun berjongkok seraya tetap membelai bunga-bunga itu.
"Tapi... aku takut Jongin akan memutuskanku dan memintaku kembali kepadanya.." kali ini suara Baekhyun terdengar lebih parau dan tercekat.
"Aku tidak mau kembali kepada lelaki itu... Lelaki itu telah menyakitiku..."
Tess...
Setetes air mata jatuh mengenai bunga yang tengah ia pegang.
"Aku..aku..tak mau tersakiti seperti dulu.. Aku ingin bahagia, aku ingin bahagia dengan Jongin.." ujarnya bersamaan dengan runtuhnya air dari sudut mata sipitnya.
"Hyemi-ya! apa yang kau lakukan disini?" tanya Jongin tiba-tiba. Baekhyun menoleh kearah suara itu. "Hyemi-ya! Kau! Kau menangis?" tanyanya panik dengan segera ia mendekati Baekhyun dan menangkup kedua pipi Baekhyun.
"Kenapa kau menangis?" tanyanya semakin khawatir. Tak menjawab Baekhyun malah memeluk Jongin dan menangis semakin keras.
"Aku takut...aku takut..." ucapnya lirih dalam tangisannya.
Jongin menyorot kedua mata sipit Baekhyun, "Kau takut apa Hyemi? Kau takut apa?"
"Aku takut..aku takut kau akan memutuskanku..aku takut kau akan meninggalkanku.."
"Kenapa aku seperti itu? kenapa kau berpikir begitu?"
"Aku takut kau akan menyuruhku kembali setelah mengetahui semuanya. Aku takut Jongin.." ucapnya masih dengan air mata yang mengalir.
Jongin melepaskan pelukannya dan kembali menatap sayang kristal kelam Baekhyun. Ia mengukir senyum untuk Baekhyun. "Hey, kenapa kau berpikir seperti itu? aku tidak akan meninggalkanmu.. Aku tidak akan memutuskanmu.. Justru aku yang seharusnya takut kehilanganmu. Aku takut kau akan kembali keasalmu. Kau akan kembali kepada suamimu. Kau akan memutuskan hubungan kita.."
"Jongin.." panggil Baekhyun lirih.
"Aku yang takut Hyemi. Asal kau tahu, aku tidak akan meninggalkanmu sampai kapanpun.."
"Jongin..." Baekhyun menatap mata lembut Jongin. "Aku minta maaf.." ucapnya lalu menunduk.
"Hey, kenapa kau minta maaf?"
"Aku minta maaf..." ucapnya diiringi lelehan bening yang jatuh kembali.
Jongin semakin tak mengerti maksud dari permintaan maaf Baekhyun. "Kenapa kau minta maaf Hyemi-ya? kenapa?"
"Aku minta maaf, sebenarnya aku... aku... aku sudah mengingat semuanya sejak beberapa minggu yang lalu ditambah dengan kehadiran Kyungsoo semakin memperkuat ingatanku.." jawab Baekhyun lirih. Ia takut akan menyakiti Jongin.
"Kau mengingatnya? Kenapa kau tak bercerita kepadaku?" tanya Jongin sedikit kecewa, nada suara itu mengagetkan Baekhyun karena ternyata Jongin tak marah kepadanya.
"Aku tidak mau pergi darimu. Aku tidak mau kau menyuruhku untuk kembali ke rumah. Aku tidak mau..." balas Baekhyun dengan suara bercampur sesenggukan.
"Aku tidak akan menyuruhmu pergi. Tapi kau memang harus bertemu keluargamu. Aku tidak mau keluargamu sedih kehilanganmu. Apalagi suamimu.." tanggap Jongin. Sesuatu sangat menyiksa Jongin ketika harus mengucapkan kata suami.
Baekhyun menggeleng keras, "Tidak..tidak...tidak...aku tidak mau kembali ke rumah..aku tidak mau..."
"Kenapa?" Jongin memegang pundak Baekhyun.
"Aku tidak mau pulang aku tidak mau.."
Saat itu juga, Baekhyun menceritakan semua yang ia rasakan. Ia menceritakan tentang ingatan-ingatannya yang mulai kembali lagi. Terutama tentang betapa sakitnya perlakuan sang suami kepadanya. Ia menceritakannya kepada Jongin. Untuk pertama kalinya Baekhyun menceritakan kehidupan rumah tangganya yang menyakitkan. Tidak ada yang ditutupi sama sekali. Alasan Baekhyun menutupi kebohongannya selama ini pun juga diungkapkan.
Baekhyun mengatakan bahwa ia tidak mau berpisah dari Jongin dan telah terlalu mencintai Jongin sehingga membuatnya tak sanggup mengaku kepada Jongin. Baekhyun memilih untuk tetap hidup sebagai Kim Hyemi bukan Byun Baekhyun. Ketika ditanya Jongin apakah ia akan meninggalkan Jongin dan kembali kepada suaminya dengan sangat tegas Baekhyun menjawab tidak akan kembali kepada suaminya. Ia tidak ingin tersakiti untuk kedua kalinya. Ia tidak mau kehilangan kasih sayang yang ia rasakan dari Jongin. Ia tidak mau melepaskan orang yang begitu mencintainya. Baginya saat ini Jongin nomer satu, bukan yang lain bahkan kedua orang tuanya.
Baekhyun tak peduli bagaimana dengan Chanyeol nantinya. Ia tak memperdulikan itu. Jika memang nanti ia akan bertemu dengan Chanyeol kembali, ia akan meminta cerai kepada Chanyeol dan mengatakan kepadanya bahwa ia akan menikah dengan Jongin. Meskipun saat ini, Chanyeol merasa kehilangan atas dirinya. Merasakan perasaan yang sama dimilikinya saat dulu kepada Chanyeol. Hampir mengalami kegilaan atas menghilangnya ia. Tapi Baekhyun telah memutuskan untuk memilih hidup dengan Jongin menjadi istri Kim Jongin bukan kembali kepada Park Chanyeol.
Bagaimana dengan Chanyeol nantinya jika mengetahui keputusan Baekhyun? Entahlah! ini semua juga karena sikapnya sendiri...
.
.
.
.
TBC
.
.
.
Mind to review?
Terima Kasih
.
.
Best Regards
.
.
~Deer Luvian~
