Too Late for Sorry...

Author :

.

Deer Luvian

.

Main Cast:

.

Byun Baekhyun (GS)

Park Chanyeol

.

Other Cast:

.

Lu Han (GS)

Kim Jongin

Do Kyungsoo (GS)

Kim Joonmyeon

Byun (Jung) Daehyun

Jung Ilhoon

.

Genre:

.

Hurt/Comfort, drama, angst

.

Rated:

.

T-T+

.

Lenght :

.

multi chapter

.

*Disclaimer:

Semua cast yang saya pakai sepenuhnya milik Tuhan Yang Maha Esa. Dilahirkan oleh kedua orang tua masing-masing dan dibesarkan oleh agensi mereka. SM Ent, maupun yang lainnya. Jalan cerita, ide cerita dan segalanya yang berkaitan dengan cerita sepenuhnya milik author. Kalaupun ada kesamaan cerita saya mohon maaf sebesar-besarnya.

This original stories is mine with pairing before WooGyu and I posted on Asianfanfics so If u feel that u've been read it, please bear it! I just re-make my own stories. Thanks for your attention..

This is genderswitch for several cast.

With pairing ChanBaek slight! KaiBaek, ChanLu, HunHan.

Please don't bash! Don't plagiat!

DLDR

.

AU! OOC! GS!

.

Thanks!

.

Summary:

Baekhyun hanyalah seorang istri yang terlalu lama merasakan gesipitn di hati. Beberapa saat ia tahan dengan sikap Chanyeol yang terus mengumbar kemesraan dengan Lu Han. Awalnya ia sanggup menahan namun lama kelamaan ia memilih mengakhiri semua. Bagaimana dengan Chanyeol? Apa dia akan tetap sama setelah kepergian Baekhyun?

.

.

Happy Reading ^^,

.

.

Chapter 7.

.

.

Keputusan Baekhyun untuk tetap menjadi Kim Hyemi dan tidak kembali kepada suaminya memberikan sedikit kelegaan bagi Jongin. Setidaknya ia tidak kehilangan Baekhyun setelah mengetahui bahwa Baekhyun telah kembali ingatannya. Namun ia masih merasa gelisah dan khawatir kalau suatu saat suaminya akan menariknya kembali. Tapi, mendengar cerita Baekhyun bahwa selama ini Baekhyun tidak bahagia dengan suaminya sedikit meyakinkan Jongin akan keputusan Baekhyun. Ia yakin apa yang dikatakan Baekhyun akan ditepati Baekhyun.

Semua yang diinginkan Baekhyun untuk hidup bahagia dengan Jongin telah diceritakan kepada Do Kyungsoo. Semula Kyungsoo tak menyangka jika Baekhyun akan seperti ini, mengingat hubungan sepasang suami istri itu sangat mesra dan bahagia. Namun setelah mendengar kisah hidup Baekhyun yang sebenarnya, membuat Kyungsoo panggilan akrab Do Kyungsoo mengijinkan dan mendukung apapun yang menjadi keputusan Baekhyun.

Suasana di ruang tengah keluarga Jongin sedikit mengharu biru, pasalnya Byun Baekhyun atau yang keluarga Jongin kenal sebagai Kim Hyemi sedang menceritakan kisah hidupnya. Dikelilingi orang-orang yang menyayanginya membuat Baekhyun semakin kuat dan yakin atas apa yang menjadi pilihannya. Ia akan tetap menikah dengan Jongin apapun yang akan terjadi nanti.

Joonmyeon dan Kyungsoo terus memberikan dukungan kepada wanita yang disayanginya ini. Dielus punggung lebar Baekhyun untuk mengurangi beban yang ia rasakan. Tak jarang pula, pelukan diberikan kepada Baekhyun dengan hangat.

"Apapun yang akan kau lakukan aku dukung. Tapi bagaimana dengan suamimu? Bagaimana dengan Chanyeol?" tanya Kyungsoo sedikit hati-hati.

Baekhyun mendongak dari pelukan Kyungsoo, "Aku tak peduli dengannya Kyungsoo.. Biarkan saja.. Ini juga pasti yang dia inginkan.." jawab Baekhyun dengan tangisan yang tersisa.

"Baiklah... Kau harus kembali ke keluargamu. Setidaknya mintalah ijin kepada mereka.. pasti keluargamu mencarimu Baek.." Kyungsoo mengeratkan pelukannya.

Dapat dirasakan Kyungsoo, Baekhyun mengangguk dalam pelukannya. "Eum, aku akan ke rumahku di Jeonju. Antarkan aku.. aku tidak tahu alamatnya.."

"Pasti.. Kita akan ke Jeonju bersama dengan Jongin dan Joonmyeon oppa. Sekalian kau kenalkan mereka kepada keluargamu..."

"Baiklah..." tanggap Baekhyun.

Baekhyun masih berada dalam pelukan Kyungsoo dengan erat sebagai pengganti kerinduan yang selama ini mereka pendam. Sedangkan Joonmyeon dan Jongin memberikan waktu kepada mereka untuk saling menyalurkan rasa rindu.

.

.

.

.

.

Lirih angin berhembus menemani sang mentari mewarnai pagi hari ini. Sepoinya membelai lembut kulit insan yang berjalan di setiap lorong jalan. Ditemani cahaya mentari yang mulai menghangat, Baekhyun, Kyungsoo bersama keluarga Jongin mengendarai mobil menuju Kota Jeonju.

Di setiap jalan yang dilewati, mata sipit Baekhyun seolah tersihir oleh pemandangannya. Tatapannya tak lepas dari bangunan-bangunan yang berjejer rapi menghias kota. Sesekali bibirnya membentuk lengkungan tipis. Tak jarang pula gumamam terdengar lirih mengundang orang-orang di sekitarnya untuk saling memberi komentar.

Beberapa jam ditempuh hingga mobil mereka berhenti di sebuah rumah yang bisa dibilang mewah di antara rumah lainnya. Namun bangunan itu terkesan lama atau disebut bangunan tua. Meskipun begitu masih dapat dilihat jelas, rumah ini sangat terawat. Terbukti dengan berbagai tanaman bunga berjejer indah disana.

Sesaat Baekhyun terdiam, memperhatikan setiap sudut bangunan di depannya. Kepalanya berputar mencoba mengingat sesuatu. Tak lama, bibirnya membentuk senyum tipis penuh arti. Lantas ia menggandeng Jongin untuk masuk diikuti yang lainnya.

"Annyeonghaseyo.." Baekhyun menekan bel di sebelah pintu kayu itu berulang kali namun belum ada sahutan dari dalam. Lima menit sudah mereka berdiri disana. Kemudian terdengar suara dari lantai yang bersentuhan dengan sepatu. Benar saja, pintu itu terbuka setelahnya.

"Baekhyun noona..." serunya seraya memeluk tubuh Baekhyun tanpa meminta ijin lebih dulu. Baekhyun masih terdiam, ia mencoba memproses dan menebak siapa yang memeluknya.

" ...kau Byun Daehyun.." ujar Baekhyun dengan genangan air di pelupuk matanya.

Sama dengan Baekhyun, Daehyun juga meneteskan air matanya. "Noona! kau kemana saja? aku merindukanmu..." ujar Daehyun masih tetap memeluk Baekhyun erat. Baekhyun mengeratkan pelukannya lalu melepaskan dan memandang sayang wajah sang adik.

"Maafkan noona Daehyun.. maafkan noona..." tukasnya tak mampu lagi membendung lelehan air hangat itu.

"Noona..." Keduanya larut dalam suasana haru. Saling berpelukan dan melepas rindu. Tak lupa Baekhyun memperkenalkan orang-orang yang bersamanya dan menemaninya saat itu.

Setelahnya, Daehyun mengerti semua yang terjadi. Baekhyun dan lainnya telah menceritakan apa yang terjadi kepada Baekhyun. Mengapa Baekhyun menghilang dan dimana selama ini Baekhyun berada. Bahkan alasan kenapa Baekhyun sampai nekat melakukan hal itu. Semua diceritakan kepada dongsaeng kesayangan Baekhyun.

Mendengar semua cerita Baekhyun membuat hati Daehyun mencelos. Ia sama sekali tak menyangka ternyata kehidupan noona-nya sangatlah sulit. Rumah tangga yang ia pikir betapa menyenangkan kenyataannya tak seperti itu. Sangat menyayat hati siapa saja yang mendengarnya. Sungguh, ia tak percaya. Noona-nya, Byun Baekhyun sangat tegar dan mampu melewatinya selama tiga tahun tanpa sedikitpun mengeluh kepadanya.

"Ahh, Terima Kasih hyung... Aku tidak akan pernah bertemu dengan Baekhyun noona kembali tanpa bantuan kalian.." Ucap Daehyun seraya membungkukan badan dalam-dalam.

Jongin dan Joonmyeon tersenyum hangat. "Sama-sama."

"Dae... ada yang ingin noona katakan.." Baekhyun menarik nafas dalam lalu menghempaskannya perlahan.

"Apa noona?" tanya Daehyun penasaran.

Sejenak Baekhyun menunduk lalu memandang lembut mata elang Daehyun. "Noona akan meminta cerai dan menikah dengan Jongin."

Tampak keterkejutan tergambar di wajah Daehyun. "Noona yakin akan melakukan itu?" tanya Daehyun.

Baekhyun mengangguk. "Sangat yakin. Noona kembali karena itu.."

"Tapi bagaimana dengan Chanyeol hyung?"

Baekhyun membuang muka lalu menghela nafas berat. "Aku tak peduli dengan Chanyeol."

Mata elang Daehyun menangkap ekspresi kekecewaan dari wajah Baekhyun. Lantas ia tersenyum. "Eum, aku akan mendukung apapun keputusanmu noona.." Daehyun memeluk tubuh Baekhyun.

"Terima kasih Dae... terima kasih..." Baekhyun mengeratkan pelukan Daehyun. Ia bersyukur, sangat bersyukur memiliki adik yang peduli dengannya. Senyumnya perlahan mengembang di balik pelukan Daehyun.

Semuanya terasa begitu ringan untuk Baekhyun. Segala beban yang menggantung dipundaknya sedikit demi sedikit memudar. Senyumnya kembali terukir lebar, tulus dan tak perlu lagi menyembunyikan sesuatu. Melihat Baekhyun begitu bahagia membuat Jongin maupun yang lainnya senang.

Kebahagiaan Baekhyun muncul ketika ia telah mendapatkan ijin menikah dengan Jongin turun dari orang tuanya. Ya! Keluarga Baekhyun telah mengetahui semua. Semula orang tua Baekhyun menolak, namun dengan bantuan Daehyun sebagai saksi semakin memperkuat alasan Baekhyun dan akhirnya mendapatkan persetujuan. Tetapi, surat cerai masih belum ditangan. Ia harus menemui Chanyeol untuk bercerai.

Byun Baekhyun menolak untuk bertemu Chanyeol. Di pikirannya tak ingin dan tak berharap untuk bertemu dengannya. Ia meminta Daehyun dan Kyungsoo mengurus perceraiannya. Walaupun seharusnya pihak bersangkutan sendiri yang mengurusnya. Ia tetap menolak untuk bertemu dengan Chanyeol. Alasannya masih sama, sakit hati dan kebencian yang membumbung tinggi.

Tak mau menyakiti dan membuat Baekhyun semakin sakit, Daehyun dan Kyungsoo tak bisa menolak. Keduanya setuju untuk mengurus segala yang berkaitan dengan perceraian Baekhyun. Namun, Daehyun ingin memberikan kesempatan kepada Chanyeol untuk bertemu dengan Baekhyun. Bagaimanapun Chanyeol suami Baekhyun dan ia juga tahu Chanyeol mati-matian mencari Baekhyun. Ada keyakinan jika saat ini Chanyeol mulai mencintai Baekhyun. Sehingga ia mencoba untuk menelpon Chanyeol tanpa sepengetahuan Baekhyun.

Untuk sesaat Daehyun memperhatikan kamar Baekhyun, sepertinya Baekhyun dan Jongin telah tertidur. Tak didengar lagi suara-suara percakapan yang ia dengar sebelumnya. Lantas ia menekan beberapa tombol diponselnya dan mendekatkannya ketelinga. Tak berapa lama sambungan itu diterima.

"Eoh, Chanyeol hyung! ada yang ingin aku sampaikan.."

"Apa?" tanya Chanyeol dari seberang.

"Kalau kau bisa, datanglah ke Jeonju besok!"

"Untuk apa?" suara Chanyeol terdengar penasaran dan bingung.

"Baekhyun noona kembali..." ujarnya pelan.

"Apa kau bilang Baekhyun kembali? Oke aku akan kesana malam ini..." jawab Chanyeol terburu lalu terdengar sambungan itu terputus.

"Hyung...ya! hyung... hyung..." Daehyun melihat ponselnya.

"Aisshhh... Chanyeol hyung.." keluhnya setelah mengetahui teleponnya telah diputus.

Lantas ia kembali kedalam kamar. Berharap Chanyeol tidak akan nekat menerobos malam untuk bertemu dengan Baekhyun. Karena sekarang telah menunjukkan pukul satu malam. Sangat berbahaya jika Chanyeol sampai nekat mengendarai mobil seorang diri dari Seoul ke Jeonju yang membutuhkan waktu cukup lama.

.

.

.

.

Mendengar kabar dari Daehyun bahwa Baekhyun telah kembali membuatnya tak karuan. Ia berpikir harus segera sampai di Kota Jeonju dan bertemu dengan sosok yang disayanginya. Sayang? Benar, Chanyeol mulai menumbuhkan rasa sayang dan cinta kepada Baekhyun. Semenjak kepergian Baekhyun, Chanyeol sadar betapa Baekhyun mencintainya dan betapa bodohnya ia menyakiti Baekhyun.

Sebentar ia mengambil kunci dan hendak masuk kedalam mobil. Namun terhenti, ia berpikir jika berkendara sendiri malam-malam akan sangat membahayakan. Lantas ia menelpon Ilhoon untuk menemaninya. Tak butuh waktu yang lama, Ilhoon telah berada di hadapan Chanyeol dengan posisi siap untuk diajak melakukan perjalanan jauh. Kemudian keduanya masuk mobil dan berangkat ke Jeonju.

Sama halnya saat Chanyeol dan Ilhoon berangkat ke Kota Cheongjoo. Kali ini kecepatan Chanyeol juga tak tanggung-tanggung cepatnya. Lebih cepat daripada saat itu. Lagi-lagi Ilhoon merasa dia sedang naik pesawat tempur. Ilhoon tak merasa aneh karena memang kabar Baekhyun ini benar bukan sekedar mereka-reka.

Pukul 5 pagi, mentari seolah masih enggan bertemu dengan makhluk-makhuk di bumi. Semburatnya tak menampak di antara basahnya bekas embun malam tadi. Dingin, masih dingin. Membuat siapa saja malas untuk bangkit dari indahnya mimpi. Sama halnya dengan Baekhyun, ia masih terlelap dalam pelukan Jongin.

Beruntung Daehyun sudah membuka mata dan berjaga di ruang tengah. Di temani Joonmyeon dan Kyungsoo yang secara kebetulan juga sudah bangun. Daehyun bangun lebih awal karena mengantisipasi kedatangan Chanyeol yang ditebaknya akan membuat kegaduhan. Benar saja, tak lama kemudian kedua sosok itu datang dengan wajah sulit diartikan.

"Mana Baekhyun? mana Baekhyun? aku ingin bertemu dengannya.." seru Chanyeol seakan tak sabar ingin bertemu dengan Baekhyun.

Ilhoon menahan tubuh Chanyeol agar tak terlalu berbuat brutal.

"Baekhyun noona masih tidur.." balas Daehyun datar. Sedikit kebencian menyelimuti Daehyun ketika melihat wajah tak berdosa Chanyeol.

Chanyeol akan berlari ke kamar Baekhyun namun ditahan oleh Joonmyeon dan Kyungsoo. "Jangan kesana!" pekik Kyungsoo.

"Kenapa? Kenapa aku tidak boleh ke kamar istriku?" protes Chanyeol.

Plaakk...

Satu tamparan keras mendarat dipipi Chanyeol. Sambutan dan hadiah dari Daehyun meski telat. Daehyun sangat tidak suka mendengar Chanyeol menyebut Baekhyun sebagai istrinya setelah ia tahu bagaimana aslinya Chanyeol.

"Yaa! Kenapa kau menamparku?" tanya Chanyeol dengan emosi yang tak terkontrol. Ia sudah terlalu marah. Ia bingung, ia disuruh datang kesini tapi tak diijinkan melihat Baekhyun. Malah mendapatkan tamparan dari Daehyun.

"Kau tanya kenapa? Ini sebagai imbalan dari kelakuanmu. Ini bukan apa-apa jika dibandingkan dengan apa yang selama ini kau lakukan terhadap Baekhyun noona.." balas Daehyun dengan nada menahan emosi.

Sejenak Chanyeol tampak terkesiap dengan jawaban Daehyun. "Maksudmu apa?" tanya Chanyeol tak mengerti.

"Jangan pura-pura bodoh! Apa mau aku tampar lagi?"

"Kau bicara apa?" Chanyeol semakin tak paham dengan kata-kata Daehyun.

"Kau tahu kenapa Baekhyun noona menghilang selama ini?" tanya Daehyun dengan nada sinis. Sungguh saat itu, yang berada di hadapan Chanyeol seperti bukan Daehyun.

"Apa?"

Daehyun memutar bola matanya lalu berdecih, "Dia mencoba bunuh diri gara-gara tidak tahan dengan kelakuanmu!"

Blaarrr...

Hati Chanyeol hancur seketika mendengar jawaban dari bibir tipis Daehyun. Bagaikan dihantam ribuan kerikil-kerikil tajam. Darahnya mendesir, dadanya sesak. Nafasnya terasa terhenti saat itu juga. Tanpa ia sadari, lelehan air bening menerobos dari pelupuk matanya. Ia tak menyangka, Baekhyun nekat bunuh diri.

"Kau tahu? Untung saja Baekhyun noona masih ada yang menolong. Kalau tidak? Tidak akan mungkin kau bisa bertemu dengannya lagi.."

Lagi, kali ini hati Chanyeol benar-benar hancur. Dadanya bertambah sesak. Sebuah pedang tajam seolah menusuknya saat itu juga. Ia terjatuh. Tubuhnya seakan-akan melemas kehilangan semua energinya. Tangannya memukul-mukul dada kirinya dan meremas kemudian. Air matanya jatuh semakin deras dan deras.

Pikirannya dipenuhi rasa tidak percaya dan rasa bersalah yang sangat dalam. Bagaimana bisa ia tak menyadari sejak dulu, bagaimana bisa ia tidak berpikir jika Baekhyun akan melakukan hal itu? Hampir saja ia membunuh orang yang ia sayangi. Hampir saja ia tak bisa bertemu kembali dan mengucapkan maaf. Maaf? Lantas ia bangkit dan berlari kearah kamar Baekhyun.

"Yaa! Kau mau kemana..." Daehyun menarik tangan Chanyeol.

Dalam tangisannya ia berkata. "A..aku..aku harus bertemu Baekhyun! aku harus minta maaf kepadanya.. aku harus.."

Daehyun mendengus, "Semudah itu? O o o o, enak sekali kau hyung! Kau tak pernah tahu bagaimana penderitaan Baekhyun noona. Dan sekarang? Kau mau minta maaf?" tatapan sinis Daehyun terlihat seperti hendak memakan Chanyeol.

"Aku..aku memang salah.. tapi aku mohon.. maafkan aku.." ujar Chanyeol penuh sesal. Memang semua ini kesalahannya dan tidak ada lagi yang perlu ditampik. Akan sia-sia saja jika ia mengelak. Yang ada dipikirannya saat ini ingin cepat-cepat bertemu dengan Baekhyun.

Sedikit terpancar tatapan sinis bercampur pilu dari kedua mata Daehyun sebelum ia mengijinkan Chanyeol. "Baiklah sekarang aku mengijinkan hyung untuk bertemu Baekhyun noona. Tapi jangan salahkan aku kalau apa yang kau lihat semakin membuatmu sakit."

Tak memperdulikan apa yang dikatakan Daehyun ia segera melangkah menuju kamar Baekhyun diikuti Ilhoon dan yang lainnya. Ia membuka kenop pintu kayu itu dengan kasar.

"Baekhyun... Baekhyun..." panggil Chanyeol dengan tak sabaran. Tapi langkahnya terhenti ketika ia melihat ada sosok lain yang tengah memeluk Baekhyun.

"Baek... Baekhyun..." Chanyeol mendekat.

Mendengar keributan yang dibuat Chanyeol, Jongin terbangun dan diikuti Baekhyun. Namun, ekspresi ketakutan begitu terlihat di wajah Baekhyun ketika melihat Chanyeol berdiri tepat di depannya.

"Kau...kau siapa berani-beraninya tidur dengan istriku..." pekik Chanyeol penuh amarah saat melihat Jongin terbangun di sebelah Baekhyun. Chanyeol langsung memukul wajah Jongin tanpa ampun. Jongin yang tak mengerti apa-apa hanya menahan sakit ketika pukulan Chanyeol tepat mengenai pipinya.

Chanyeol masih gelap mata. Ia hendak memukul kembali Jongin, namun dapat ditangkis oleh Jongin. Hal itu semakin membuat Chanyeol brutal.

"Kau siapa? Beraninya menyentuh Baekhyun?"

Daehyun melerai dan menahan tangan Chanyeol yang hendak memukul lagi.

"Hyung! hentikan tingkah konyolmu ini.." teriak Daehyun.

Mata Chanyeol menatap tajam Daehyun, sekilas ia melirik wajah Baekhyun yang menunduk dan Jongin secara bergantian. "Apa ini Daehyun? ini apa?"

"Dia calon suami Baekhyun noona.." jawab Daehyun dingin.

"Kau bilang apa? Calon suami? Yaa!" Chanyeol mendekat kearah Jongin. Tangannya mengepal siap untuk melayangkan pukulan kembali. Belum sempat pukulan itu membiru di pipi Jongin, teriakan keras terdengar dari Baekhyun.

"Hentikaan... Byun Daehyun, bawa orang ini keluar! Aku tidak mau melihatnyaa.." pekik Baekhyun dengan nada tercekat. Setelahnya, air mata mengalir dari sudut mata sipitnya.

Chanyeol terhenyak mendengar pekikan Baekhyun, detik berikutnya ia mendekat ke arah Baekhyun.

"Baek... ini aku Chanyeol Baek... Ini aku Chanyeol... aku minta maaf Baek... aku minta maaf... " ucap Chanyeol memelas. Tatapannya tampak sangat menyedihkan.

Raut muka Baekhyun berubah ketakutan, saat Chanyeol mendekat, ia mundur dan memeluk Jongin.

"Baek... Kenapa kau menjauhiku?" Chanyeol ikut menitikkan air mata melihat Baekhyun menjauhinya.

"Baek... maafkan aku..Baek..."

Baekhyun memeluk Jongin semakin erat seraya berucap lirih. "Pergi kau Park Chanyeol. Aku benci melihatmu.. Aku benci.. Pergi kau Park Chanyeol..."

Chanyeol tak menyerah, ia mencoba memegang Baekhyun namun ditampik Baekhyun dengan kasar.

"Park Chanyeol-sshi... Saya mohon dengan sangat jauhi Kim Hyemi sekarang.." pinta Jongin penuh harap.

"Siapa? Kim Hyemi? Dia Baekhyun.. Byun Baekhyun... bukan Park Baekhyun.." bantah Chanyeol..

Baekhyun menenggelamkan wajahnya di pelukan Jongin. Tak mau ia menatap wajah memilukan dari Chanyeol.

"Baek... aku mohon..." Chanyeol bersimpuh didepan Baekhyun dan Jongin. Bagaimanapun dan apapun yang dilakukan Chanyeol tak membuat Baekhyun menoleh ke arahnya. Paham dengan Baekhyun yang ketakutan dan merasa benci atas kehadiran Chanyeol, Jongin mengajak Baekhyun keluar ruangan diikuti yang lain.

Chanyeol masih terdiam dengan tangisan tak mempercayai apa yang terjadi kepadanya saat ini. Ia sangat terpukul dengan sikap yang ditunjukan Baekhyun terhadapnya. Sontak tubuhnya terjatuh dan memukul-mukul lantai dengan mengucap nama Baekhyun berulang-ulang.

"Baekhyun,... aku minta maaf... aku minta maaf..."

.

.

.

.

"Baekhyun... Jangan pergi... Jangan tinggalkan aku..."

Suara itu mengalun pelan dalam sela-sela tidurnya. Kedua matanya menutup rapat, namun bibirnya tak berhenti berucap.

"Baek... Aku mohon maafkan aku..."

Tubuhnya menggeliat ke kanan dan ke kiri. Seakan sesuatu menyentuh kasar kulitnya. Nafas memburu dari hidungnya. Terkadang lebih dari sekali terdengar tersengal-sengal.

"Aku salah... Aku mohon maafkan aku... Aku mencintaimu..."

Saat ini suara itu, diiringi sesenggukan dengan nada terbata. Terbaca jelas bahwa sang pemilik tengah menangis.

"Aku mencintaimu... Aku mencintaimu Baek..."

Sungguh, siapapun yang mendengar atau melihatnya akan sangat merasa miris. Lelaki ini, lelaki ini terlihar begitu menyedihkan. Dalam tidur yang seharusnya menenangkan ia malah menderita kesakitan yang luar biasa. Baginya, ini kali pertama ia mendapatkan pesakitan yang begitu menyiksa. Mengguratkan segala macam luka yang beradu dalam satu jiwa. Untuk ditanggung dan dinikmati sendiri.

Sosok di sebelahnya hanya menatap miris lelaki ini. Ia tak tega melihatnya begitu tersiksa. Kali pertama lelaki ini tampak begitu memprihatinkan di matanya. Wibawa dan kharisma yang selama ini dibangun seolah menguap saat itu juga.

"Chanyeol hyung... Kau baik-baik saja?" tanyanya seraya mencoba membangunkannya. Wajahnya mengalirkan keringat dingin perlahan. Sedikit hati-hati ia mengusap keringat itu.

Lelaki itu tak menjawabnya, hanya desahan kecil yang merespon sentuhan itu. Bibirnya belum menutup sempurnya. Setengah terbuka layaknya hendak mengumandangkan sesuatu.

"Baek... Jangan tinggalkan aku... Aku mohon maafkan aku... Aku mencintaimu..."

Lagi-lagi pernyataan itu lolos berulang dari bibir tebalnya. Membuat sosok di sebelahnya semakin khawatir.

"Chanyeol hyung... Bangunlah... Apa kau baik-baik saja?" tanyanya lagi. Gerakan tangannya lebih keras dari sebelumnya. Mengharapkan lelaki itu terbangun dari igauan-igauannya.

Beberapa menit terlewati dengan igauan setia mengalun dari sayup-sayup suara berat Chanyeol. Tidurnya tetap tak tenang. Tubuhnya tak mampu berdiam damai. Wajahnya semakin mengalirkan keringat dingin. Kecemasan dalam diri Ilhoon tak terbendungkan lagi. Lantas tangannya menggerakkan tubuh Chanyeol lebih kuat.

"Hyung... Bangunlaah..." seru Ilhoon dengan nada cemas.

"Hyung..."

Beruntung seruannya kali ini diterima gendang telinga Chanyeol. Detik selanjutnya lelaki itu membuka sedikit matanya. Lalu mengerjap pelan. Sorot pilu dari kedua mata Chanyeol menatap lembut Ilhoon penuh tanya.

"Bangunlah hyung... Kau menggigau dari tadi." Ucap Ilhoon seraya mengusap keringat di dahi Chanyeol.

"Ilhoon-ah..." suara serak Chanyeol memanggil Ilhoon.

"Eum?"

Chanyeol membuka selimut yang membungkusnya. Lalu bangkit dan terduduk di hadapan Ilhoon.

"Aku melihat Baekhyun meninggalkanku.." jawabnya lirih.

Dahi Ilhoon berkerut, nafasnya menghembus berat. "Hyung..."

"Dia akan pergi jauh Ilhoon... Dia tidak ingin tinggal denganku lagi..." kali ini, tetes tetes embun jatuh dari kristal kelamnya.

Hanya melihatnya seperti ini membuat Ilhoon begitu merasakan apa yang dialami Chanyeol. Ia tahu, sangat tahu bagaimana rasanya. Saat-saat bersama Chanyeol dalam mencari Baekhyun, meneriaki nama Baekhyun, bersusah payah agar bisa bertemu Baekhyun sekilas terlintas dipikirannya. Namun sekarang, disaat Chanyeol telah menemukan Baekhyun keadaan seakan membencinya. Tak tahu apa yang sebenarnya terjadi, Chanyeol ditolak mentah-mentah dari hadapan Baekhyun. Bahkan ia dapat mengetahui jelas dari wajah Baekhyun jika noona satunya itu benar-benar membenci Chanyeol. Apa yang sebenarnya terjadi? Pertanyaan itu masih belum terjawabkan oleh waktu. Keduanya masih belum mengetahui yang sesungguhnya. Hanya beberapa penggal kata yang terucap atau sengaja dilontarkankan dari bibir tipis Daehyun.

"Aku sangat takut Baekhyun meninggalkanku..." ucapnya lagi. Ilhoon tak tahu harus berbuat apa, ia hanya mengusap lembut punggung Chanyeol. Berusaha mengurangi sedikit beban yang ia rasakan.

"Sabarlah hyung... Mungkin ada alasan kenapa Baekhyun noona seperti ini..." tukas Ilhoon hati-hati. Takut akan menyakiti lelaki lemah di depannya ini.

"Tapi Ilhoon... itu sangat nyata... Aku melihat sendiri..."

"Hyung..." Ilhoon memeluk tubuh Chanyeol memberikan kesempatan Chanyeol untuk menangis. "Itu hanya mimpi.. Itu semua karena ketakutanmu... Sekarang tidurlah kembali hyung..."

Chanyeol tak menjawab, tangisannya terdengar semakin menggema dipundak Ilhoon. Tangan Ilhoon masih mengusap-usap punggung lebarnya.

Lama dalam posisi tersebut, Chanyeol melepaskan pelukan Ilhoon. Dirinya lebih tenang dari sebelumnya. Hatinya tak bergemuruh seperti tadi.

"Sekarang tidurlah hyung... Kau sangat kelelahan, istirahatlah.."

Ia mengangguk lalu membaringkan kembali tubuhnya. Ilhoon dengan lembut menyelimuti tubuh Chanyeol. Mata teduhnya memandang sendu Chanyeol. Kalau memang sanggup ia membantu Chanyeol menanggung ini, ia akan senang hati membantu. Tapi, ia tak mampu. Hanya ucapan dan belaian saja yang dapat ia berikan.

Apa yang dilakukan Baekhyun kepada Chanyeol benar-benar membuat Chanyeol tertekan. Sungguh, ia tak pernah membayangkan hal seperti ini akan terjadi kepada dirinya. Tak ada sedikitpun pikiran tentang hal ini. Semuanya terjadi diluar kemampuan Chanyeol. Hati Chanyeol menjerit. Lelehan air matanya masih tersisa. Pikirannya berputar tak menentu. Ia sadar, ia merasakan. Mungkin seperti ini rasanya ketika ia dulu memperlakukan Baekhyun. Jauh lebih parah daripada apa yang Baekhyun berikan kepadanya saat ini.

Keheningan malam mulai membawa Chanyeol kembali terlelap. Tak ada lagi igauan yang mengudara diantara sayup-sayup angin yang mencoba merangsek melalui celah jendela. Ilhoon menarik ujung bibirnya lalu kembali memejamkan mata. Detik-detik kemudian, keduanya lelap arungan mimpi di malam yang dingin.

.

.

.

.

.

Dolo wie yeogin runway
nal balaboneun nun sog milky way
Just love me right (aha!)
Baby love me right (aha!)

Dentuman musik yang lumayan keras itu mengetuk indera pendengaran Chanyeol. Sebentar ia merasakan pusing di kepalanya. Lantas ia menggelengkan kepala dan mengerjab pelan kedua kelopak matanya. Langkahnya sempoyongan bangkit dari tempat tidur. Sekilas ia melirik space di tempat tidur itu. Ternyata Jung Ilhoon lebih dulu bangun.

Kakinya bergerak keluar kamar. Untuk sesaat pandangannya beredar. Berharap sosok itu tertangkap lensa beningnya. Kemudian, sosok itu tertangkap. Namun, semakin membuatnya sakit. Chanyeol hanya tersenyum miring.

"Pagi... apa tidurmu nyenyak?" sapa seseorang saat Chanyeol tiba di depan meja makan. Tatapannya terpaku pada dua sosok yang tengah bercanda seraya menikmati makanan di ruang tengah.

"Apa kau sakit? Sepertinya kau tak sehat.." tanyanya lagi setelah ia tak mendapatkan jawaban yang pertama.

Chanyeol tersenyum lalu menggeleng. Sesaat matanya memicing. Ia tampak seperti berpikir. "Eung, apa kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya Chanyeol sedikit ragu.

Seseorang itu melongo dan menampangkan wajah berpikir. "Eoh? Eung..." beberapa detik ia berpikir lalu berkata, "Ahh... iya, aku pernah menabrakmu di Cheongjoo. Tunggu, kau pernah ke Cheongjoo?"

"Benar, kau orang itu... iya aku pernah ke Cheongjoo mencari Baekhyun.." Chanyeol meneguk minuman yang ia pegang. "Jadi... waktu kau berteriak Hyemi... dia adalah Baekhyun? Baekhyun benar-benar di Cheongjoo saat itu?"

Seseorang itu yang tak lain adalah Joonmyeon tersenyum, "Sepertinya ada yang perlu kau dengarkan."

"Eum, aku memang harus mendengarkan cerita darimu.."

Joonmyeon mengajak Chanyeol untuk mendengarkan ceritanya ditempat makan seraya menikmati makan paginya. Bibir tipis Joonmyeon mulai mengocehkan semua kejadian-kejadian yang menimpa Baekhyun.

"Kim Hyemi..." sebentar Joonmyeon menarik nafas dan menghembuskannya. "Aku menemukannya ketika hendak membuang sampah. Aku kaget waktu itu.."

Dada Chanyeol mulai bergemuruh. Telinganya masih mendengar untaian kata yang berhamburan dari bibir Joonmyeon.

"Dia sempat koma selama seminggu, sebelum akhirnya sadar dan ternyata Hyemi hilang ingatan. Makanya aku dan Jongin memanggilnya Kim Hyemi."

Dua kalimat itu membuat hati Chanyeol semakin perih. Dengan nada tercekat ia mulai bertanya. "Apa.. Baekhyun tak mengingatku saat itu?"

Joonmyeon menggeleng. "Jangankan engkau, nama dan darimana asalnya saja Hyemi lupa. Lama kelamaan ia mulai meningat tapi..." Joonmyeon menggantungkan kata-katanya.

"Apa? Tapi apa?" tanya Chanyeol terpancing.

"Hyemi pernah berkata ia tak mau kembali kekehidupan yang sebenarnya. Dia ingin tetap sebagai Kim Hyemi hingga ia ingin menikah dengan Jongin.."

Apa yang sedang didengarkan Chanyeol? Sangat menyakitkan baginya. Baru kali ini ia benar-benar mendengar kisah hidup Baekhyun yang sebenarnya.

Bibir tipis Joonmyeon tak berhenti mengoceh, menceritakan kepada Chanyeol tentang apa yang telah terjadi kepada Baekhyun. Bagaimana dia mengenal Baekhyun, bagaimana Baekhyun hidup selama ini, bagaimana Baekhyun berjuang dalam mengingat siapa dirinya. Serta bagaimana Baekhyun mampu jatuh cinta kepada Jongin. Semuanya bagaikan bambu runcing yang siap menusuk dada Chanyeol. Hatinya mencelos berulang kali, dadanya bergemuruh seketika. Pikirannya tak karuan. Bahkan telinganya seolah ingin menuli tak mau mendengar cerita tentang Baekhyun yang semakin lama semakin menyayat hatinya.

Chanyeol menggigit bibir bawahnya, ia sedang mencoba menetralisir nafas yang sepertinya akan berhenti saat itu juga. Dengan suara parau ia berucap. "Ahh, jadi seperti itu..." suaranya bergetar. Kelopak matanya mengerjab berulang kali.

"Apa kau baik-baik saja?" tanya Joonmyeon memastikan. Tangannya menyentuk pundak Chanyeol.

Sekilas ia mengulas senyum tipis. "Aku baik-baik saja. Terima kasih atas bantuanmu dan kesediaanmu merawat Baekhyun selama ini. Sungguh, aku baru menyadari kalau aku bukan suami yang baik..." tak mampu menahan, titik-titik air hangat turun perlahan dari kedua mata Chanyeol. Chanyeol menunduk, berusaha menutupi tangisannya.

"Aku cukup senang bisa bersama Baekhyun... Eum, sebaiknya kau tenangkan dirimu. Aku sarankan jangan kau dekati Baekhyun dulu, dia masih butuh waktu untuk membuat dirinya mau bertemu denganmu." Ucap Joonmyeon sebelum meninggalkan Chanyeol yang masih setia dalam tangisannya.

Benar-benar Chanyeol merasa sangat bersalah, ia memukul-mukul dadanya dengan konstan. Air matanya turun semakin deras dan deras. Pikirannya kacau, kalut. Rasa bersalah, penyesalan, kecewa dan semuanya berputar, bercampur aduk siap untuk menumpahi rasa senang Chanyeol. Ia merutuki dirinya sendiri. Betapa bodohnya dia, betapa kejamnya dia, betapa teganya dia.

Sekarang ia tahu dan menyadari kenapa Baekhyun memperlakukannya seperti ini. Memang semua adalah kesalahannya, tak ada yang perlu lagi dipertanyakan. Cerita dan penjelasan dari Joonmyeon merupakan jawaban dari segala pertanyaan yang berkecambuk dikepala Chanyeol tentang alasan Baekhyun bersikap seperti itu.

.

.

.

.

Siluet kuning tercipta dari mentari senja merebak diantara jejeran bunga yang bermekaran. Siulan riang unggas-unggas kecil sesekali menemani sang mentari mengisi senja yang akan menghilang. Bunga-bunga cantik tumbuh segar mengundang sosok manis itu mendekat. Terlihat sekilas lengkungan tipis tercipta ketika mata kecilnya memandang sayang tumbuhan itu.

"Oh, Baekhyun noona! apa yang kau lakukan disini?" Ia menoleh, bibirnya tertarik saat melihat sosok yang memanggilnya.

Tak menunggu waktu lama, ia memeluk sosok itu. "Ahh, Ilhoonie... Aku merindukanmu.." alih-alih menjawab pertanyaannya ia malah melontarkan kalimat yang membuat sosok bernama Ilhoon itu mengeratkan pelukannya.

"Aku juga merindukanmu noona..."

Baekhyun melepas pelukannya lalu menatap lembut wajah Ilhoon. "Apa kau bertambah dewasa? Ku perhatikan penampilanmu sedikit berbeda." Tukas Baekhyun dengan sedikit menggoda.

"Ahh noona... Aku benar-benar merindukanmu.." Ilhoon kembali memeluk Baekhyun.

"Aku juga merindukan adik kecilku ini..."

Mereka masih berpelukan, hingga seseorang menegurnya..

"Aigoo, apa yang kalian lakukan disini? Membuatku cemburu saja.." ujar Jongin dengan nada bercanda. Baekhyun melepas pelukan Ilhoon lalu tersenyum untuk Jongin.

"Jongin hyung, aku ingin mengucapkan terima kasih.." ujar Ilhoon semangat.

Jongin hanya menautkan alisnya. "Untuk?"

"Karena hyung telah merawat noona manisku ini... Apa Baekhyun noona merepotkanmu?" jawab Ilhoon sontak membuat Jongin tertawa. Berbeda dengan Jongin, Baekhyun memukul kecil lengan Ilhoon.

"Hahahaha, tenang... Noona-mu baik-baik saja dan sama sekali tidak merepotkanku.." senyum mengembang diwajah Jongin kemudian.

"Oh ya, apa kalian benar-benar akan menikah?" pertanyaan ini, sebenarnya ragu untuk ditanyakan. Namun, Ilhoon penasaran dengan kesimpangsiuran dari apa yang ia dengar.

Sejenak, Baekhyun mengukir senyum dan mengusap lembut surai coklat Ilhoon. Ia mengangguk.

"Eum, Noona akan menikah dengan Jongin. Apa kau tak akan merestui?"

Ilhoon menggeleng, "Aku akan merestuimu. Asal noona manisku ini bahagia.." jawabnya disusul kekehan dari bibir tebal Ilhoon.

"Terima kasih Ilhoon.." ucap Jongin.

Diiringi silauan mentari senja yang sedikit demi sedikit menghilang, ketiganya tertawa bersama. Saling bercanda dan berbagi cerita menarik. Tanpa menyadari satu sosok tengah tersenyum getir melihat pemandangan yang tertangkap bola beningnya.

Tak ingin merusak suasana bahagia yang terlihat dimatanya, ia berbalik. Tapi, bukan ini keinginannya. Masih ada rasa yang kuat untuk mendekat, menyapa sosok itu. Walaupun ragu, ia kembali berputar dan melangkah kearah mereka.

Seperti apa yang ia duga sebelumnya, Baekhyun membuang pandangannya ketika ia tepat didepannya.

"Baekhyun..." Sapanya lirih.. Ia berjongkok, menyamakan pandangannya.

"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Baekhyun dingin.

Ia mencoba memegang tangan Baekhyun namun ditampik Baekhyun. "Aku..aku minta maaf..." ucapnya penuh penyesalan.

Tak menjawab, Baekhyun berdiri dan hendak beranjak.

"Baek..." Ia menarik tangan Baekhyun.

"Park Chanyeol... Aku tidak mau berbicara denganmu..." serunya semakin dingin. Tergambar jelas betapa bencinya Baekhyun kepada sosok yang bersimpuh didepannya. Ia tahu akan seperti ini ia tahu. Tapi, ia tak mau menyerah.

"Baek..."

Kali ini Jongin turun tangan, ia melepas tangan Chanyeol dari tangan Baekhyun. Ia memberi kode kepada Ilhoon untuk membawa Baekhyun masuk kedalam rumah.

Tangan Chanyeol masih ingin meraih Baekhyun. Namun Jongin mencegahnya lalu menggelengkan kepalanya.

"Apa begitu besar rasa benci Baekhyun kepadaku?" tanyanya kepada Jongin.

Jongin melengkungkan bibir tipis. "Dia masih shock, dia tidak membencimu. Dia hanya butuh waktu tanpamu.." jawabnya kemudian meninggalkan Chanyeol yang berjongkok lemas. Rasanya, semua energi yang ada hilang saat itu juga. Ia sendiri, dengan air mata yang masih terjun dari matanya.

Lama Chanyeol menangis sendiri di dalam taman, ia memutuskan untuk kembali masuk ke dalam rumah. Bagaimanapun angin malam mengoyak tubuhnya. Seolah angin siap untuk menghempaskan Chanyeol semakin dalam dan dalam lagi. Tubuhnya telah lelah dengan apa yang menimpanya, namun angin seakan buta tak mau berbaik hati untuk memakluminya.

Langkahnya gontai menapak di setiap ubin putih dingin. Pandangannya kembali pilu, dadanya kembali mendesir saat dua sosok itu bermain cinta dihadapannya. Bukan, bukan dihadapannya. Hanya saja ia tak sengaja melihat. Lantas ia pergi kedapur untuk mengambil minum. Ingin segera ia menghilangkan semua kegelisahan dan kesakitan hatinya dengan segelas air minum.

Sungan heart attack i siganui kkeut
Nal apdohaneun sesang gajang hwangholhan neukkimui heart attack
I sumi meojeodo joheul mankeum neon gakkawo

"Eoh, Luhanie ada apa?" tanya Chanyeol setelah menjawab panggilan masuk yang ia terima.

"Ada yang ingin aku beri tahu kepadamu.." suara dari seberang terdengar ceria, berbeda dengan Chanyeol disini.

"Apa?"

"Aku hamil Chanyeol... Aku hamil... Hamil anakmu..." jawabnya riang.

"Apa? Kau? Kau hamil? Benar?" tanya Chanyeol dengan nada yang sulit diartikan. Apa yang harus diekspresikan Chanyeol? Senang? Sedih? Bahagia? Tak percaya? Kecewa? Apa? Ia bingung harus bereskpresi bagaimana.

"Yaa... Chanyeolie.. Apa kau tak suka aku hamil?" nadanya berubah sedih dan kecewa.

"Ah..ti..tidak... Bagaimana kau bisa hamil?" Chanyeol masih mengucapkan dengan nada sulit diartikan.

"Kau bagaimana sih Chanyeol. Kau tak ingat apa yang kau lakukan tiga bulan lalu? Aku sudah hamil hampir dulan yang lalu..."

"Ah..." Chanyeol mengingatnya...

"Chanyeol..."

Tak mau mendengar kenyataan yang pahit baginya, ia menutup telepon dari Luhan. Seperti apa perasaan Chanyeol? Pikirannya tak karuan. Kenapa di saat ia sedang berjuang untuk bisa kembali dengan Baekhyun malah ada satu hambatan? Siapa yang harus disalahkan disini? Siapa? Ia menjawab, yang pantas disalahkan adalah ia sendiri. Ini semua kesalahannya. Bukan salah Baekhyun membencinya karena memang kelakuan Chanyeol yang menyakitkannya. Bukan salah Luhan mengandung karena Chanyeol memang pernah melakukan itu dan itu bukan sekali saja.

Kepala Chanyeol begitu berat sekali. Ia pusing, ia pening, ia setress dan lain sebagainya. Sungguh, ia tak mampu berpikir jernih. Semua ketakutan, kekecewaan, penyesalan, rasa bersalah bercampur baur menjadi satu. Semuanya siap membunuh Chanyeol. Perasaannya seperti dirajang, dihancurkan. Kembali air matanya mengalir, meratapi apa yang selama ini ia lakukan. Ia sangat sangat menyesal.

Keberadaan Chanyeol didapur ternyata diketahui Baekhyun, tak sengaja ia mendengar percakapan Chanyeol dengan Luhan. Seulas senyum tipis tercetak diwajah manisnya.

"Kau akan bahagia dengannya Chanyeol... Bukankah ini yang kau inginkan?"

.

.

.

.

TBC

.

.

Mind to review?

Aku akan update 3 chapter sekaligus sebagai tanda maaf..

Oh ya, bagi yang gak suka sama FF ini silahkan tinggalkan FF ini. Saya membagikan FF ini bagi mereka yang mau saja..

Terima kasih atas perhatian dan dukungannya..

Maaf tidak bisa balas satu-satu..

.

.

.

.Best Regards.

.

.

~Deer Luvian~