Too Late for Sorry...
Author :
.
Deer Luvian
.
Main Cast:
.
Byun Baekhyun (GS)
Park Chanyeol
.
Other Cast:
.
Lu Han (GS)
Kim Jongin
Do Kyungsoo (GS)
Kim Joonmyeon
Byun (Jung) Daehyun
Jung Ilhoon
.
Genre:
.
Hurt/Comfort, drama, angst
.
Rated:
.
T-T+
.
Lenght :
.
multi chapter
.
*Disclaimer:
Semua cast yang saya pakai sepenuhnya milik Tuhan Yang Maha Esa. Dilahirkan oleh kedua orang tua masing-masing dan dibesarkan oleh agensi mereka. SM Ent, maupun yang lainnya. Jalan cerita, ide cerita dan segalanya yang berkaitan dengan cerita sepenuhnya milik author. Kalaupun ada kesamaan cerita saya mohon maaf sebesar-besarnya.
This original stories is mine with pairing before WooGyu and I posted on Asianfanfics so If u feel that u've been read it, please bear it! I just re-make my own stories. Thanks for your attention..
This is genderswitch for several cast.
With pairing ChanBaek slight! KaiBaek, ChanLu, HunHan.
Please don't bash! Don't plagiat!
DLDR
.
AU! OOC! GS!
.
Thanks!
.
Summary:
Baekhyun hanyalah seorang istri yang terlalu lama merasakan gesipitn di hati. Beberapa saat ia tahan dengan sikap Chanyeol yang terus mengumbar kemesraan dengan Lu Han. Awalnya ia sanggup menahan namun lama kelamaan ia memilih mengakhiri semua. Bagaimana dengan Chanyeol? Apa dia akan tetap sama setelah kepergian Baekhyun?
.
.
Happy Reading ^^,
.
.
Chapter 8.
.
.
Sakit... Perih... Pahit...
Apapun itu berada dalam satu ruang di hati Chanyeol. Mereka tertawa. Mereka mengejek. Mereka mencibir. Mereka seakan tak memperdulikan Chanyeol. Semua perasaan itu saling tertawa dan mencibir Chanyeol. Tak ada satu perasaan damai dalam hati Chanyeol. Tak ada, bahkan perasaan tenang nampaknya enggan untuk mendekat.
Hatinya semakin berantakan ketika orang tuanya menelpon untuk segera mengurus perceraiannya dengan Baekhyun. Ya! Orang tua Baekhyun telah memberi tahukan itu kepada orang tua Chanyeol. Bisa ditebak apa yang terjadi kepada Chanyeol. Ayah Chanyeol benar-benar murka kepada Chanyeol. Ia tak pernah menyangka akan memiliki anak seperti itu. Sempat sang ayah hendak mengusirnya dari keluarga Park, tetapi ibu Chanyeol membela. Akhirnya Chanyeol diberikan kesempatan dengan menceraikan Baekhyun dan berjanji tidak akan menyakiti siapapun nantinya.
Tak sanggup menolak lagi keinginan orangtua, Chanyeol hanya menurut saja. Mungkin ini memang jalan yang terbaik untuknya. Terlalu kejam kalau ia egois tetap mempertahankan Baekhyun hidup dengannya. Walaupun di dalam hati Chanyeol ia tak mau melepaskan Baekhyun. Ia tak rela memberikan Baekhyun kepada laki-laki itu. Ia tak mau. Yang ia inginkan adalah memperbaiki semua yang telah ia lakukan kepada Baekhyun.
Pandangannya kosong, menatap diam objek tak bergerak di depannya. Seolah tersihir, lensanya tak teralihkan dari sana. Tanpa ekspresi ia memainkan ponsel ditangannya.
"Hyung.. apa kau sudah makan?"
"Euh?" ia terlonjak kaget ketika sebuah suara menyentuhnya. "Ah, aku sudah makan Ilhoon.."
"Kapan kau akan kembali ke Seoul hyung? aku akan pulang nanti malam. Besok aku harus kuliah."
Lelaki di hadapan Ilhoon hanya mendesah pelan, "Aku juga akan pulang nanti malam. Aku harus mengurus perceraianku dengan Baekhyun dan aku harus menjenguk Luhan..." jawabnya lirih.
"Hyung..." Ilhoon menyentuh pundak Chanyeol. "Yang sabar... eum, Luhan noona sakit?"
"Tidak.." Chanyeol menarik nafasnya. "Dia sedang hamil dan memintaku pulang..." jawaban itu terdengar seperti tak ingin diucapkan oleh Chanyeol.
Ilhoon mengerti, ia hanya bisa memberikan semangat kepada Chanyeol.
Seperti paham bahwa Chanyeol butuh waktu sendiri ia meninggalkannya. Ilhoon masuk ke dalam kamar dengan tangan membawa jatah makannya. Sedang Chanyeol masih terdiam di ruang makan.
Tak lama, Jongin masuk kedalam ruang makan hendak mengambil makan. Ia melihat Chanyeol dengan wajah sangat memprihatinkan. Ia tersenyum menyapa Chanyeol sebelum kembali kekamar. Saat hendak pergi, Chanyeol menarik tangannya.
"Jongin-sshi... Aku ingin bicara denganmu..."
Jongin berbalik, ia memicingkan matanya. "Eum, ada apa?"
"Apa kau benar-benar mencintai Baekhyun?" tanya Chanyeol pelan.
"Baekhyun? Hyemi? Eum, aku sangat mencintainya. Ah, aku minta maaf kalau aku lancang mencintai istrimu..."
Chanyeol tersenyum tipis. "Aku berterima kasih kepadamu. Mau merawat Baekhyun hingga mencintaimu. Sepertinya, kau jauh lebih baik daripada aku.."
"Chanyeol-sshi... Apa kau juga mencintai Hyemi? Ah Baekhyun maksudku?" tanya Jongin penasaran.
Kepalanya menunduk, ia mengangguk pelan. "Eum, aku mulai mencintainya setelah ia pergi. Sangat terlambat bukan? Tapi itu tak berarti apa-apa sekarang."
"Dia pernah mencintaimu.. Hidup selalu begitu, ada kalanya dulu orang mencintaimu namun saat ini ia membencimu. Bahkan sebaliknya, dulu dia membencimu tapi sekarang mencintaimu. Cinta datang karena terbiasa dan perhatian.."
"Jongin-sshi..."
"Panggil aku Jongin saja.."
"Jongin... Apa kau serius akan menikahi Baekhyun?" ketika melontarkan pertanyaan itu, tak terasa benda bening merangsek turun. Memaksa Chanyeol membebaskannya.
Jongin mengangguk, "Eum, aku akan menikahinya setelah kalian resmi bercerai. Selama dia setuju dan tak keberatan. Maaf kalau aku terlihat buruk di matamu.."
Chanyeol mengulas senyum getir, perih sekali. "Aku titip Baekhyun kepadamu. Buat dia selalu bahagia. Jangan sakiti dia seperti aku menyakitinya.." pinta Chanyeol di tengah tangisannya. Jongin merasa iba sekaligus tampak sangat kejam. Tapi ini juga atas ijin Baekhyun. Sebenarnya ia juga tak tega. Mau bagaimana lagi?
"Eum, aku janji akan selalu membuat Baekhyun bahagia dan tak akan menyakitinya. Aku minta maaf Chanyeol-ah.. benar-benar minta maaf.." Jongin mengelus punggung Chanyeol.
"Tidak apa-apa... Tuhan adil, sangat adil... Terima kasih.. sekali lagi terima kasih..." Chanyeol tersenyum lebih tulus lalu meninggalkan Jongin.
Jongin hanya bisa menatap punggung Chanyeol pilu. Kenapa ini sangat sulit sekali? Apa yang harus ia lakukan? Kalau ia terus jalan, Chanyeol akan tersakiti. Tapi, kalau ia berhenti ia tak mau Baekhyun kecewa karena ia telah berjanji tak ingin meninggalkan Baekhyun dalam keadaan apapun.
Demi Chanyeol, ia berjanji dalam dirinya. Akan memperlakukan Baekhyun lebih baik nanti ketika telah sah menjadi istrinya. Ia tak ingin Baekhyun mengalami pesakitan dalam rumah tangga untuk kedua kalinya.
"Maafkan aku Chanyeol-ah... Aku tak tahu kalau kau begitu mencintainya..."
.
.
.
.
Dengan hati yang berat, Chanyeol mulai mempacking barang-barangnya. Dibantu Ilhoon agar hyung satunya ini cepat selesai. Sedari tadi, Chanyeol tampak tak fokus dengan pekerjaannya. Lebih banyak melamun daripada memasukkan barang-barangnya. Membuat Ilhoon merasa sangat kasihan.
Ilhoon, bagaimana ia bisa menyangka jika keduanya akan bercerai dengan seperti ini. Jika ia bisa membela, ia akan membela Chanyeol dan mendukungnya untuk tetap bersama dengan Baekhyun. Karena ia tahu sangat tahu bagaimana Chanyeol hidup setelah kepergian Baekhyun. Ia seperti orang gila. Namun, ini semua sudah menjadi keputusan Baekhyun. Baekhyun yang lebih tahu mana yang terbaik untuknya. Jadi, Ilhoon hanya bisa memberikan dukungan semangat untuk Chanyeol dan merestui Baekhyun, mendo'akan Baekhyun semoga ia bahagia dengan pilihannya.
Setelah selesai mengemasi barang-barang, Chanyeol keluar kamar menuju ruang tengah. Ia sengaja pergi kesana agar bisa bertemu dengan seseorang yang mengakibatkan dirinya merasa perih yang sangat menyiksa. Lagi-lagi ia harus mengulum senyum getir, sorot mata pilu dan ekspresi wajah kecewa. Pemandangan didepannya sungguh membuat hatinya bergetar hebat. Cairan bening dipelupuk matanya lagi-lagi memaksa untuk bebas.
Di depan televisi yang menyala, Baekhyun ditemani Jongin dan juga Daehyun tengah menikmati tayangan yang menarik hatinya. Terkadang suara tawa menggelegar di penjuru ruangan itu. Tak hanya itu, sesekali gerutuan yang muncul dari bibir tipis Baekhyun juga menghiasinya. Mereka terlihat sangat bahagia.
"Daehyun-ah.. Jangan kau makan semua kuenya! Nanti Jongin tidak kebagian.." omel Baekhyun saat melihat Daehyun menyantap kue kering di hadapannya.
Masih dengan mulut penuh kue, ia menjawab. "Akwu, tidwak mwakwan semwa..."
"Yaa! Habiskan dulu itu..." Baekhyun memukul kepala Daehyun.
"Aww... Swakitnowwnaa..." rintihnya.
Mereka bertiga asyik bercanda dengan tawa yang menghiasi. Namun, sesaat kemudian Chanyeol mendekat. Tampak perubahan ekspresi terlihat dari wajah Baekhyun. Baekhyun berdiri hendak pergi, tetapi Jongin memberikan isyarat untuk tetap tinggal. Sedang Jongin mengajak Daehyun untuk meninggalkan mereka berdua.
"Baekhyun..." panggil Chanyeol pelan. Ia duduk di sebelah Baekhyun. Menatap pilu sosok Baekhyun yang membelakanginya.
Chanyeol menyentuh pudak Baekhyun, mencoba memutar tubuh Baekhyun. Tetapi Baekhyun menolak.
"Baek... aku hanya ingin mengatakan aku akan kembali ke Seoul..." ujar Chanyeol lirih. Diliriknya sejenak Baekhyun yang masih membuang muka.
"Aku akan mengurus perceraian kita Baek..."
Baekhyun masih terdiam, ia tak merespon sedikitpun kata-kata Chanyeol.
"Aku harap kau akan bahagia dengan Jongin..." kali ini, suaranya lebih parau dan tertahan. Sebentar Chanyeol mengontrol emosinya. Ia menghirup nafas dalam sebelum mengucapkan kata-kata yang menggetarkan hatinya. Merajamnya dan menenggelamkannya.
"Aku minta maaf atas semua perlakuanku kepadamu Baek..." lolos begitu saja, air matanya menetes pelan.
"Aku tidak pernah berfikir kau akan terluka. Maafkan keegoisanku..." Chanyeol menangis, Chanyeol tak mampu menahan lagi. Pertahanannya runtuh di depan Baekhyun.
"Aku minta maaf..." Chanyeol menunduk. Mengeluarkan semua emosinya melalui tetesan-tetesan air mata yang keluar.
"Chanyeol-ah..." Panggil Baekhyun lirih. Melihat Chanyeol tersiksa membuat Baekhyun untuk sedikit merespon kepadanya. "Aku minta maaf.." lanjutnya.
Tangan Chanyeol memegang tangan Baekhyun. "Aku yang minta maaf Baek... Maafkan aku telah menyakitimu.."
"Aku baik-baik saja. Aku minta maaf... Ini yang kau mau bukan?" Baekhyun melirik sekilas Chanyeol yang bergelimang air mata. Sebentar bibirnya melengkung tipis.
"Bukan... Aku tidak pernah menginginkan hal ini..."
"Maaf, aku bukan Baekhyun yang dulu. Baekhyun yang bisa dibodohi karena cinta. Aku minta maaf.." ucap Baekhyun dengan senyum miring.
Chanyeol terkesiap dengan perkataan Baekhyun. Pikirannya memproses apa yang ia dengar. Sontak hal itu menyesakkan dadanya.
"Baekhyun yang buta karena cinta. Baekhyun yang tak pernah memikirkan dirinya sendiri. Baekhyun yang terlalu polos untuk berbohong demi orang yang ia cintai.."
"Aku bukan lagi Baekhyun yang seperti itu..."
Kata-kata itu...
"Aku bukan Baekhyun yang mencintaimu seperti dulu..."
"Baek..." Segera Chanyeol berlutut di hadapan Baekhyun. Ia menangis di lutut Baekhyun. "Aku minta maaf, aku minta maaf..."
"Aku benar-benar tidak mengerti dan tidak menyadari kalau kau mencintaiku... Aku minta maaf, aku sangat bodoh..."
Baekhyun menatap kepala Chanyeol yang menunduk di lututnya. Ia menggigit bibirnya. Bagaimanapun, sosok yang bersimpuh di bawahnya pernah ia cintai.
"Aku mencintaimu Baek..." Chanyeol semakin terisak dalam tangisnya.
Baekhyun terhenyak dengan pengakuan Chanyeol. Tapi...
"Aku tidak mencintaimu lagi Chanyeol..." Balas Baekhyun datar.
Chanyeol mendongak, "Apa kau membenciku?"
Baekhyun memalingkan pandangannya ketika mata bengkak Chanyeol menyorotnya. Bibirnya masih digigit kasar.
"Apa aku sangat menyebalkan bagimu Baek? hingga kau membenciku?"
"Baek..." tangan Chanyeol mengeratkan genggamannya.
"Aku tidak membencimu... Hanya saja aku tidak bisa kembali kepadamu.. Orang yang aku cintai Jongin, bukan kau..." Baekhyun memaksa berdiri dan melepas genggaman Chanyeol. Detik berikutnya ia melangkah pergi.
Chanyeol tak bisa lagi menahan, pikirannya masih kacau akan jawaban Baekhyun. Lelehannya semakin deras menurun.
"Baek... Baekhyun... aku minta maaf..."
.
.
.
.
.
Senja beralih menjadi hari yang lebih gelap. Seperti yang dikatakan sebelumnya, Chanyeol dan Ilhoon memutuskan kembali ke Seoul. Rumah besar itu akan sunyi kembali setelah kepergian Kyungsoo dan Joonmyeon yang lebih dulu kembali ke Cheongjoo. Baekhyun, Jongin dan Daehyun mengantarkan kepergian mereka dari depan rumah. Sebelum benar-benar pergi, Ilhoon memeluk Baekhyun sebentar.
"Noona... Ayo main ke Seoul, aku akan sangat merindukanmu..." ujar Ilhoon dengan manja. Baekhyun mengacak-acak rambut Ilhoon.
"Eum, nanti setelah aku menikah dengan Jongin. kita akan ke Seoul." Jawab Baekhyun lembut. Jawaban Baekhyun membuat hati Chanyeol perih. Ia sangat lembut kepada Ilhoon atau lainnya, tetapi saat berkata kepadanya? Hanya sahutan dingin yang diterima.
"Oke, aku akan menunggu... Kita berangkat dulu.." Ucap Ilhoon seraya membungkukkan badan dan melambaikan tangannya.
Chanyeol hanya menatap sendu Baekhyun dan lainnya. Kemudian ia tersenyum tipis dan menunduk. Detik berikutnya ia masuk kedalam mobil bersama Ilhoon.
"Hati-hati..." seru Jongin.
Keduanya mengangguk lalu menutup jendela mobil dan melaju ke kota asal, Kota Seoul.
Pandangan Baekhyun terlihat melembut setelah kepergian mereka. Di hatinya ia merasakan kelegaan. Walaupun sedikit rasa bersalah menyelimutinya namun tak membuat ia ragu akan keputusannya. Baginya, mencintai Park Chanyeol adalah masa lalu dan sekarang bersama Kim Jongin adalah masa depan.
"Selamat tinggal Park Chanyeol. Maaf kalau aku tak bisa mencintaimu selamanya. Aku bukan Kim Baekhyun yang mencintaimu seperti dulu.. Aku yakin kau akan bahagia bersama lelaki itu.. Maafkan aku Chanyeol.. terlalu terlambat untukmu memintaku kembali setelah apa yang kau lakukan selama ini."
"Aku tidak membencimu, hanya saja aku tak mau bersamamu... Do'aku untukmu... Semoga kau akan bahagia dengan siapapun nantinya.. Bukan denganku, dengan Byun Baekhyun yang kau kenal.."
Sosok di sebelah Baekhyun menyadari bahwa senyum aneh tercetak dari bibir tipisnya. Ia menduga, Baekhyun tengah mengantarkan kepergian dua orang itu dengan pikiran yang hanya Baekhyun yang tahu. Lantas tangannya menggenggam Baekhyun dan mengajaknya masuk ke dalam rumah. Bagaimanapun udara dingin tak baik bagi kesehatannya ataupun Baekhyun.
Baekhyun menoleh dan melempar senyum lembut. Senyumnya berbeda dari sebelumnya. Mata sipitnya menyipit seakan tak terlihat sama sekali. Bibirnya tertarik panjang ke kanan dan ke kiri. Genggaman itu dieratkan ketika jejak kaki akan mengukir didalam rumah besarnya. Dalam hati ia kembali berkata.
"Selamat datang Kim Jongin -calon suamiku- dalam kehidupanku. Sebentar lagi kau akan menjadi bagian dari rumah ini... Aku bahagia bisa hidup denganmu nantinya... Ku serahkan seluruh hidupku untukmu... Semoga kau tak akan kecewa denganku..."
"Selamat tinggal kesedihan yang selama ini menghantuiku.. Aku tahu.. Tuhan itu adil... Disinilah semua kesedihanku berakhir dan kebahagiaanku berawal..."
"Selamat tinggal Park Chanyeol dan selamat datang Kim Jongin..."
.
.
.
.
Dalam perjalanan pulang dari Jeounju menuju Seoul, Chanyeol tak berhenti meneteskan air mata. Hatinya sakit, perih dan kecewa. Penyesalah serta rasa bersalah ikut menyatu dalam keringkihan hatinya. Mereka beradu, bercampur menjadi satu dan menggilakan si empunya. Berulang kali gumamam, ocehan ataupun lain sebagainya teruntai manis dari bibir tebal Chanyeol. Siapapun yang melihatnya akan mengatakan hal yang sama. Sangat memprihatinkan dan nyaris mengerikan.
Keadaan Chanyeol yang mengawatirkan memberikan inisiatif bagi Ilhoon untuk membawa mobil. Ia tak mau, mati sia-sia karena Chanyeol. Sesekali lensanya melirik sekilas dan membidik Chanyeol yang tengah tertidur namun setia dengan igauannya. Tak jauh beda dari sebelumnya. Ungkapan kata penyesalan dan rasa bersalah yang selalu tertuang didalam ocehannya.
Hampir tengah malam mereka sampai diperbatasan Kota. Ilhoon membawa mobil Chanyeol masuk kedaerah rumah Chanyeol dan membangunkan Chanyeol setiba disana. Saat tangan Ilhoon menggerakkan tubuh Chanyeol, geliatan kecil meresponnya. Pelan Chanyeol mengerjab sebentar kemudian menyadari apa yang ia lihat.
"Eoh, Ilhoon-ah... Jangan bawa aku pulang.. Antarkan aku ke apartemen Luhan.." pintanya dengan suara parau..
Dahi Ilhoon mengernyit tak mengerti. Tetapi ia hanya menurut saja dan kembali mengemudikan mobilnya.
Tak butuh waktu lama, keduanya sampai di depan bangunan kokoh menjulang tinggi. Salah satu ruang di antara ratusan ruang di atas sana adalah milik Luhan. Lantas Chanyeol turun dan meninggalkan Ilhoon. Sedetik berikutnya Ilhoon memutar mobil untuk pulang.
Pandangan Chanyeol menatap nanar pintu kayu apartemen Luhan. Banyak beban menggantung dipundaknya. Apa yang membuatnya hingga ia mendatangi Luhan di tengah malam seperti ini? Rasa rindu? Atau... sekedar pelampiasan?
"Chanyeol... Kenapa kau kemari malam-malam?" tanya Luhan setelah lembaran kayu itu terbuka dengan cemas. Tak tahu ada apa, Chanyeol memeluk Luhan erat. Luhan bingung dengan sikap aneh Chanyeol.
"Kau tidak sedang mabuk kan?" tanyanya lagi.
Chanyeol menggeleng dalam pelukannya. Ia menatap Luhan lekat lalu kembali memeluknya.
"Aku merindukanmu... Ayo kita masuk.. Disini dingin..." pintanya sedikit tercekat. Lidahnya terasa tertahan ketika akan mengatakan yang sebenarnya. Luhan hanya menurut saja.
Keduanya lantas duduk menuju meja makan. Chanyeol melamun, memainkan sendok yang dipegangnya dengan pandangan kosong. Tak lama Luhan membawakan segelas kopi dihadapan Chanyeol.
"Chanyeol-ah, bagaimana kabar Baekhyun?" Luhan bertanya dengan hati-hati. Sedikit ia menangkap ekspresi Chanyeol yang terlihat gelisah, kecewa dan penuh penyesalan.
Chanyeol mendesah perlahan, tubuhnya bergetar sebentar. "Dia baik-baik saja. Kita akan bercerai dan..." Chanyeol menggigit bibir bawahnya sebelum meneruskan kata-katanya. "Dia akan menikah lagi.." kepalanya menunduk.
Wanita kurus di depan Chanyeol tersentak kaget, "Kau yakin dengan yang kau katakan?" tanyanya dengan suara yang tak dimengerti.
Anggukan pelan menjadi jawaban dari Chanyeol, detik berikutnya ia menyesap kopi yang terasa sangat pahit setelah menyentuh tenggorokannya.
"Apa kau baik-baik saja?" kali ini suara Luhan lebih melunak dan terkesan gelisah. Ia khawatir lawan bicaranya akan tersiksa dan tak lagi seperti dulu. Selain itu, ia takut kalau Chanyeol akan berbuat nekat. Dan meninggalkannya...
Senyuman tipis terbentuk dari bibir tebalnya, "Aku baik-baik saja." Lagi, ia menyeruput kopi itu. "Kau tidak mengantuk? Ayo tidur... Ah iya, kau bilang kau hamil? Kemarilah, aku ingin menyentuh anakku.." Chanyeol berusaha mengalihkan perbincangan dan berusaha menyembunyikan kekalutan hatinya. Luhan merasa aneh dengan sikap Chanyeol. Namun ia tak mempermasalahkannya.
Luhan mendekati Chanyeol. Chanyeol tersenyum lalu berjongkok. Mensejajarkan pandangannya terhadap perut Luhan.
"Ahh, inikah anakku? Apa kabar kau nak? Apa kau senang di dalam perut eomma-mu?" candanya mengajak bicara sosok didalam sana yang masih belum sanggup berbicara.
"Chanyeol... dia masih dini... belum bisa diajak berkomunikasi..." Luhan mengecurutkan bibirnya lucu.
"Aku tahu, ayo kita tidur saja. Kau pasti lelah.." Chanyeol menggendong tubuh kurus Luhan menuju kamar Luhan.
Setelahnya ia menidurkan Luhan dan menyelimuti tubuh mereka dengan selimut hangat. Chanyeol mengusap sayang wajah Luhan, bibirnya tersenyum manis.
"Chanyeol-ah, apa kau benar baik-baik saja?"
"Luhanie..." Chanyeol mengecup pelan bibir tipis Luhan. "Berapa banyak kau akan bertanya kepadaku? Aku baik-baik saja..."
Luhan mengangguk mengerti lalu membalikkan tubuhnya membelakangi Chanyeol. Tangan Chanyeol dengan setia memeluk serta menepuk-nepuk pelan perut Luhan supaya sosok di pelukannya cepat tertidur.
Bibir tebalnya menggumamkan lagu pengantar tidur. Semula keras semakin lama semakin melemah, seiring buliran air mata yang entah kenapa turun begitu saja dari mata Chanyeol.
Memang, yang ada di dekat Chanyeol saat ini adalah Luhan. Namun yang ada di pikirannya? Yang ada di pikirannya adalah Baekhyun.
Semuanya telah terjadi. Semuanya telah berakhir. Kisah cinta Chanyeol kepada Baekhyun yang baru saja tumbuh dihatinya harus berakhir dengan paksa. Semuanya telah terlambat. Tak ada yang bisa dilakukan selain pasrah, ikhlas dan menerima semua.
Mungkin ini adalah takdir Tuhan. Jodoh Chanyeol bukanlah Byun Baekhyun melainkan Luhan. Baekhyun hanyalah sosok yang pernah dipertemukan Tuhan untuknya, untuk bisa belajar bagaimana mencintai sesungguhnya dan bagaimana rasanya kehilangan.
Chanyeol hanya bisa menerima semua, tak ada lagi yang bisa disesali. Semuanya telah terlambat. Terlalu terlambat untuk menyadarinya, terlalu terlambat untuk menyesalinya dan terlalu terlambat untuk memperbaikinya. Baekhyun telah memilih jalan hidup yang akan ditempuhnya kelak. Sedang Chanyeol? Bersama Luhan merupakan pilihannya meskipun terpaksa. Tapi bukankah itu yang ia pilih dulu? iya dulu sebelum ia mencintai Baekhyun, sebelum ia jatuh kepada Baekhyun dan sebelum ia benar-benar merasakan rasanya kehilangan.
Tak ada yang bisa dilakukan lagi, semuanya telah terlambat...
"Sampai Jumpa Byun Baekhyun... Aku berdo'a kepada Tuhan untuk selalu memberikan kebahagiaan untukmu... Aku minta maaf... Aku minta maaf..."
Penyesalan memang selalu datang diakhir.. Setelah kita benar-benar merasakan arti dari mencintai dan kehilangan atas apa yang kita cintai...
.
.
.
.
TBC atau End saja?
.
.
.
Mind to review?
Ini endingnya ChanBaek kok, sebentar lagi Chanbaek, tp jalan menuju kesananya yg agak sulit.. Kan gak mungkin bisa langsung bersatu..
Terima Kasih yang masih setia mau membaca, saya ucapkan terima kasih banyak.
.
.
Best Regards
.
.
~Deer Luvian~
