Too Late for Sorry...

Author :

.

Deer Luvian

.

Main Cast:

.

Byun Baekhyun (GS)

Park Chanyeol

.

Other Cast:

.

Lu Han (GS)

Kim Jongin

Do Kyungsoo (GS)

Kim Joonmyeon

Byun (Jung) Daehyun

Jung Ilhoon

.

Genre:

.

Hurt/Comfort, drama, angst

.

Rated:

.

T-T+

.

Lenght :

.

multi chapter

.

*Disclaimer:

Semua cast yang saya pakai sepenuhnya milik Tuhan Yang Maha Esa. Dilahirkan oleh kedua orang tua masing-masing dan dibesarkan oleh agensi mereka. SM Ent, maupun yang lainnya. Jalan cerita, ide cerita dan segalanya yang berkaitan dengan cerita sepenuhnya milik author. Kalaupun ada kesamaan cerita saya mohon maaf sebesar-besarnya.

This original stories is mine with pairing before WooGyu and I posted on Asianfanfics so If u feel that u've been read it, please bear it! I just re-make my own stories. Thanks for your attention..

This is genderswitch for several cast.

With pairing ChanBaek slight! KaiBaek, ChanLu, HunHan.

Please don't bash! Don't plagiat!

DLDR

.

AU! OOC! GS!

.

Thanks!

.

Summary:

Baekhyun hanyalah seorang istri yang terlalu lama merasakan gerusan di hati. Beberapa saat ia tahan dengan sikap Chanyeol yang terus mengumbar kemesraan dengan Lu Han. Awalnya ia sanggup menahan namun lama kelamaan ia memilih mengakhiri semua. Bagaimana dengan Chanyeol? Apa dia akan tetap sama setelah kepergian Baekhyun?

.

.

Happy Reading ^^,

.

.

Chapter 09.

Brakkkk...

"Ini semua file-file perceraianmu sudah lengkap. Aku juga sudah bertemu dengan wakil Baekhyun. Sidang pertama akan dilakukan minggu depan. Kemungkinan Byun Daehyun-sshi atau Do Kyungsoo-sshi perwakilan dari Baekhyun yang akan menghadiri sidang. Bagaimana denganmu? Kau datang sendiri atau aku wakilkan?" cerocos Sungyeol setibanya ia di ruang kerja Chanyeol setelah meletakkan dengan kasar beberapa tumpukan surat berharga yang ia pegang.

Sosok yang diajak bicara hanya memandang malas ke arahnya sekilas. Ia memutar bola lalu berujar. "Aku akan datang sendiri.."

"Aku turut berduka atas musibahmu..." Sungyeol menepuk-nepuk pundak Chanyeol.

Chanyeol menatap nanar kedua mata bulat Sungyeol. Tak mau berkomentar atas pernyataannya, ia menelungkup di atas meja.

"Yaa! Kau terlihat jauh lebih menyedihkan daripada saat kau mencari Baekhyun. Sekarang kau tahu bagaiaman rasanya kehilangan bukan?" Lidah Sungyeol bagaikan meminum minyak bercampur jarum, licin dan sangat tajam.

"Kau rasakan sekarang bagaimana yang dirasakan Baekhyun dulu... Tuhan memang selalu tahu apa yang terbaik untuk umat-Nya.. Ah aku bersyukur Baekhyun bisa bersama orang yang ia cintai dan mencintainya..." ocehan-ocehan tajam nan menusuk itu terus bergelayutan dari bibir tipis Sungyeol.

"Kalau saja kau wak-.."

"Yaaa! Lee Sungyeol! Kalau kau masih banyak bicara keluarlah! Aku tidak membutuhkanmu disini.." bentak Chanyeol kesal. Bagaimanapun kata-kata santai Sungyeol menohok tepat di dada kirinya. Sesak dan tak beraturan dirasakan Chanyeol.

Sungyeol mengulas senyum tipis dan mengusap kasar punggung Chanyeol. "Bukan apa-apa.. Aku hanya menyemangatimu saja! Akan ada rencana Tuhan lainnya yang tidak kamu ketahui..." Kata-kata Sungyeol tak dimengerti Chanyeol. Setelahnya ia pergi dari ruangan Chanyeol.

Desahan berat mendominasi ruangan besar itu. Nafasnya tak karuan dengan rambut telah acak-acakan akibat tangannya sendiri. Lagi-lagi tanpa seijin sang empunya, kelopak mata Chanyeol menurunkan lelehan hangat yang tertahan.

.

.

.

.

Dua bulan kemudian...

Perceraian Baekhyun dengan Chanyeol telah berjalan lancar. Byun Daehyun, adik Baekhyun yang mewakili Baekhyun dalam persidangan. Sedangkan pihak Chanyeol, langsung ditangani oleh Chanyeol sendiri. Selama dalam persidangan, tampak jelas bagaimana raut kecewa, penyesalan, sedih dan apapun itu menggantung di wajah tampan Chanyeol. Berulang kali Daehyun memergoki dirinya meneteskan air mata di setiap putusan hakim sidang. Namun itu telah berlalu.. saat ini, tepat seminggu setelah perceraian Baekhyun mempersiapkan keperluan pernikahan keduanya.

Ditemani Daehyun, Baekhyun dengan telaten menata makanan yang akan disantap saat makan siang bersama keluarganya. Hari ini kebetulan, Jongin dan Joonmyeon datang kembali ke Jeonju setelah menyelesaikan beberapa pekerjaan yang memaksa mereka untuk ke Cheongjoo. Selain itu, adik bungsu Baekhyun, Byun Taehyung sedang berlibur ke Korea. Sehingga suasananya akan ramai.

Beberapa makanan siap terhidang di atas meja kayu panjang. Di sekililingnya telah ditatapi rapi gelas-gelas dan piring makanan. Tak lama kemudian, penghuni lainnya menyusul setelah kedatangan Jongin.

"Ommo... Ini pasti enak.." Puji Jongin seraya menarik kursi kayu dan duduk di atasnya.

Tangannya lantas mengambil sepotong lauk di atas piring putih. Belum sempat mengambil, sebuah pukulan lebih dulu diterima.

"Jongin! jangan ambil yang itu..." omel Baekhyun dengan mengerucutkan bibirnya. Jongin hanya terkekeh kecil melihat wajah menggemaskan dari Baekhyun.

"Kalau tidak boleh diambil kenapa ditaruh sini?" protes Jongin lengkap dengan kekehannya.

Segera Baekhyun mendekat lalu mengambilkan nasi dan beberapa lauk untuk Jongin.

"Jja.. Makanlah..." ujar Baekhyun.

"Noona... Kenapa hanya Jongin hyung saja? Aku mana?" protes Taehyung adik bungsu Baekhyun merasa tak diperlakukan adil oleh Baekhyun.

"Iyaa ini... Aku juga mana.." kali ini Daehyun dan Joonmyeon ikut merajuk.

Mata sipit itu langsung melirik satu-satu sosok yang ia sayangi itu dengan tatapan menggoda mereka.

"Kalian sudah besar, ambil saja sendiri..."

Taehyung berdecak pelan. "Baekhyun noona ini, padahal kan aku ke Korea agar bisa bermanja-manjaan dengannya. huu..."

"Taehyung-ah... Kau mau hyung ajak jalan-jalan ke Jeju?" Jongin mengalihkan perhatian Taehyung agar tak selalu kesal dengan kakak tertuanya.

Mata besar Taehyung membulat sempurna. Bibir tipis merah muda itu setengah terbuka. "Uwaahhh... Hyung akan mengajakku ke Pulau Jeju?" Taehyung memastikan apa yang ia dengar.

Anggukan pasti diberikan Jongin, "Eum, nanti saat bulan madu kita mau ke Pulau Jeju dan kalian akan hyung ajak..."

"Benar kah hyung?" Taehyung bertanya lagi..

"Iy-."

"Yaa! Jonginie kenapa kau mengajak anak-anak kecil saat kita bulan madu?" keluh Baekhyun memotong jawaban dari Jongin. Wajahnya memerah menahan kesal. Melihat Baekhyun seperti itu, mengundang kekehan kecil dari Jongin maupun yang lainnya.

Jongin mengusap pipi chubby Baekhyun lalu mengecupnya pelan. "Sudahlah sayang, tidak apa kan kalau kita berlibur bersama. Toh mereka juga tidak akan mengganggu kita..."

"Benar-benar... Kita tidak akan mengganggu. Iyakan hyung..." Taehyung menyikut lengan Daehyun agar meyakinkan Baekhyun.

"Eoh! Kita akan main sendiri disana.. Tenang, selama kalian butuh waktu berdua, kita akan memberikan dengan senang hati..." ujar Daehyun dengan nada menggoda Baekhyun. Langsung semburat-semburat merah tercetak di pipi mulus Baekhyun.

"Nah.. sekarang ayo kita makan.. Selamat makan..." Seru Taehyung diikuti yang lainnya.

Setelahnya, hanya terdengar dentingan piring yang beradu dengan sendok dan garpu. Walau sesekali lontaran kata-kata lucu meluncur dari bibir-bibir menggemaskan yang mengajak lainnya tertawa menanggapi. Suasana hangat dan bahagia begitu kental terasa. Dua keluarga kecil yang sebentar lagi bersatu telah lebih dulu merasa menjadi satu keluarga baru.

Pasangan baru yang hendak menikah minggu ini, menyelesaikan pekerjaan masing-masing sebelum mengecek kembali keperluan pernikahannya. Sebenarnya, semuanya telah siap. Mulai dari gereja, gedung resepsi, tuxedo, gaun dan lain-lainnya telah disiapkan oleh keluarga Baekhyun. Namun bukan namanya Baekhyun kalau dia tidak mengecek lagi. Ia takut kalau ada yang kurang. Meskipun ini bukan pernikahan pertamanya, namun ia ingin pernikahan kali ini berjalan sempurna.

.

.

.

.

.

Chanyeol menyiapkan segala keperluan yang ia butuhkan. Ah tidak juga, dia hanya membawa satu tas besar berisi pakaian pengganti, tuxedo dan kado untuk pernikahan Baekhyun. Saat ini, ia tengah bersiap sebelum berangkat ke Jeonju menghadiri pernikahan Baekhyun yang akan dilaksanakan esok pagi.

Tangannya cepat memasukkan pakaiannya dan beberapa benda yang dibutuhkan. Lalu turun keruang tengah menyapa Luhan yang sedang membaca sebuah majalah.

"Luhanie, kau yakin tak akan ikut denganku?" tanya Chanyeol seraya mengambil potongan kue bakar yang telah disajikan oleh Luhan.

Luhan menggeleng seraya membenarkan pakaian Chanyeol. "Tidak, ada urusan yang harus aku selesaikan.."

"Eoh? Baiklah, jaga dirimu baik-baik ya.. jangan sampai kelelahan. Ingat didalam ragamu ada dua nyawa.." tutur Chanyeol lalu mengecup pipi Luhan. Luhan mengangguk.

"Sampaikan maafku kepada Baekhyun dan jangan terlalu larut dalam kesedihan ini Yeolie.. Tuhan tahu ini kebahagiaan Baekhyun dan kau juga akan bahagia nanti.."

"Aku tahu.. Aku juga bahagia denganmu.. Aku pergi dulu..." Chanyeol melangkah keluar menuju mobil yang dikendarai Ilhoon untuk segera melesat ke Jeonju.

Luhan melambaikan tangannya dan dibalas oleh Chanyeol. Detik berikutnya Chanyeol telah menghilang dari hadapan Luhan.

"Kau harus kuat Chanyeol... Maafkan aku kalau kehadiranku membuatmu seperti ini... Sepertinya kau memang benar-benar mencintai Baekhyun... Aku bisa merasakan itu Chanyeol..."

.

.

.

.

.

"Aigoo, putri kesayangan eomma akan menikah lagi... Bagaimana perasaanmu nak? Apa kau gugup?" eomma Baekhyun bertanya setelah memperhatikan wajah Baekhyun yang terlihat tak tenang.

Senyum tipis dipaksakan Baekhyun untuk terukir. Kepalanya mengangguk kecil.

"Jangan gugup... Ini bukan kali pertama kau menikah bukan?" Eomma mengusap halus pundak Baekhyun. Mencoba menyalurkan rasa tenang kepada anaknya.

"Ta-tapi.. Ini rasanya berbeda eomma.." sahut Baekhyun dengan nada terbata. Jelas sekali rasa cemas, gugup dan tak tenang menghantui dirinya.

"Eomma tahu... Maafkan eomma dan appa yang telah memaksamu dalam perjodohan itu.. Eomma akan sangat bahagia nantinya kalau kau juga bahagia dengan Jongin. Lelaki pilihanmu.."

Baekhyun mengangguk. "Eum, aku akan bahagia dengan Jongin eomma..." Sang eomma lantas memeluk anak perempuan satu-satunya itu. Kemudian, ia meninggalkan Baekhyun bersama dengan Daehyun.

Jari-jari Baekhyun bermain sendiri. Sesekali jari jemari itu beradu menjadi satu. Pemiliknya tengah berusaha menghilangkan gemetar yang ada.

Sedari tadi, Daehyun memperhatikan noona satu-satunya itu. Bibirnya tertarik lebar kala wajah manis Baekhyun terlihat begitu lucu ketika gugup. Ekspresinya sangat menggemaskan. Mengundangnya untuk mendekat dan memeluk secara tiba-tiba.

"Dae... Kau..." protes Baekhyun saat menerima pelukan mengejutkan dari Daehyun.

Daehyun memandang mata sipit Baekhyun dengan senyum mengembang. "Aku ingin membantu menghilangkan rasa gugupmu noona..."

"Aku..."

"Noona... Jangan gugup.. Akan tidak berjalan lancar kalau kau seperti ini..." Daehyun menyentuh pipi Baekhyun lembut. Ia tahu bagaimana perasaan noona-nya ini. Meskipun kenyataannya ia belum pernah berada dalam peristiwa seperti ini.

"Sekarang kau bersiap-siap ne... Tiga jam lagi kita kan pergi ke gereja.. Pernikahanmu akan segera dimulai.." tukas Daehyun seraya mengambil pakaiannya.

"Eoh..." Baekhyun mengangguk. Lantas Daehyun meninggalkan Baekhyun. Memberikan kesempatan kepadanya untuk berganti pakaian dan bersiap-siap.

Hari ini...

Hari ini merupakan hari yang membahagiakan untuk Baekhyun. Ia akan menikah. Akan menikah dengan sosok yang ia cintai. Bukan karena perjodohan. Tapi karena dasar cinta..

Ia akan menikah dengan Kim Jongin. Lelaki yang telah meluluhkan hatinya, membuatnya kembali tertawa dan memberikan segala macam bentuk cinta. Meskipun saat ini, begitu banyak rasa kecemasan menghantui Baekhyun. Kegelisahan dan kegugupan seolah-olah menggodanya. Tak menginginkan sosok manis itu merasa tenang.

Berulang kali ia mencoba menenangkan diri. Namun tak ada hasil. Masih sama, ia masih dalam kondisi yang menyedihkan baginya. Gugup dan gelisah terlampau melekat dalam dirinya.

Pikirannya tak tenang, sungguh tak tenang. Seakan-akan ada sesuatu yang memaksanya untuk tetap mempertahankan perasaan itu. Perasaan gelisah apa lagi ketika kekasihnya tak bersamanya saat ini.

Dua jam sudah ia bersiap-siap. Gaun pengantin putih bersih dengan sedikit aksesoris bunga-bunga di bagian depan sungguh membuat sosok manis itu terlihat jauh lebih manis. Bahkan cantik. Wajahnya terpancar aura positif. Wajah tegangnya sedikit tertutup dengan sinar yang terpancar darinya.

Sebentar ia menyapu ruangan itu. Ruangan besar yang menjadi tempat berkumpul keluarga. Kepalanya tak berhenti berputar sebelum sosok itu tertangkap lensa beningnya. Sosok yang tak ada di sisinya selama ini. Seharusnya ia ada dan bersiap-siap dengannya. Namun.. ia tak ada.

"Ah, Joonmyeon oppa.. Jongin kemana? Bukannya ia harus bersiap-siap juga?" tanya Baekhyun dengan nada gelisah.

"Eum Jongin sedang mengambil cincin pernikahan kalian.. Tenang saja, ia sedang berada dalam perjalanan pulang..."

Baekhyun mengangguk paham lalu duduk di atas sofa putih bersama yang lain. Mereka tinggal menunggu Jongin sebelum berangkat bersama ke gereja. Masih ada waktu satu jam untuk pergi kesana.

Beberapa menit terlewati tetapi belum ada tanda-tanda kedatangan Jongin. Baekhyun menjadi semakin gelisah. Berulang kali mata sipitnya melirik jarum jam yang berputar lambar di tengah benda lingkaran itu. Tak jarang pula, bibir tipisnya tergigit kasar akibat rasa khawatir dan gelisah yang membumbung tinggi.

Ia bangkit dan berlari keluar. Mencoba menunggu Jongin disana. Tetapi sosok Jongin belum juga terlihat olehnya. Lantas ia kembali dan mengambil ponsel. Tak sabaran ia menghubungi ponsel Jongin.

Sekali, ia tak mendapat jawaban... Ditekan lagi nomor Jongin...

Dua kali, masih sama belum ada jawaban...

Tiga kali, ada sahutan dari seberang sana.. Namun ini bukan...

"Yeoboseyo? Jongin-ah... Kau ada dimana sekarang?" tanya Baekhyun khawatir. "Cepat pulang.. Kita kan berangkat ke gereja..."

"Ma-maaf ini bukan pemilik ponsel ini..." jawaban dari seberang terdengar aneh di telinga Baekhyun. "Saya menemukan ponsel itu terjatuh dari sakunya..."

"Anda siapa? Dimana Jongin..." tanya Baekhyun semakin khawatir. Berbagai macam pikiran negatif menggelayut di dalam otaknya.

"Dia.. dia kecelakaan.. Sekarang kondisinya kritis.. tapi pihak medis telah membawanya k erumah sakit..."

"A-apa? Kecelakaan?" bagaikan tersambar petir yang sangat dasyat tubuh Baekhyun terkulai lemas. Ponselnya terjatuh. Dadanya naik turun mengimbangi rasa sesak yang menyerang.

Joonmyeon yang kebetulan berada di dekat Baekhyun mendekat dan mengambil ponsel itu. Ia sempat mendengar percakapan mereka.

"Hallo, apa kau tahu dimana sekarang Jongin dirawat? Ah baiklah.. kita kan kesana.."

Joonmyeon segera memberi tahu kepada keluarga lainnya. Hal itu sontak mengejutkan mereka. Mereka tak menyangka, dihari yang seharusnya bahagia ini justru menjadi hari duka. Apalagi bagi Baekhyun. Ia terlihat bagaikan mayat hidup. Wajah manisnya tertutup air mata hingga menyebabkan bengkak di kedua matanya. Lantas mereka bergegas menuju rumah sakit yang dimaksud.

.

.

.

.

Kedua kristal kecil itu menatap tajam apa yang ada di depannya. Pandangannya memudar seiring lelehan air hangat yang menciptakan kabut kelam di sekitar lingkaran itu. Nanar dan pilu... Buliran-buliran bening tak berhenti turun dari sudut mata sipit itu..

Apa yang tengah ia lihat? Hanya sebuah kayu panjang persegi yang membingkai wajah manis dengan bibir tebal menggodanya. Wajahnya sangat manis, menenangkan dan meneduhkan. Namun... hanya akan dapat ia lihat dari kotak kaca itu..

Ia tak akan dapat melihatnya lagi. Tak akan bisa menyentuhnya lagi. Memeluk dan menciumnya. Karena sosok itu.. Sosok yang ia sayangi dan ia cintai telah lebih dulu meninggalkannya sendiri. Pergi untuk selamanya tanpa pernah mengucapkan kata perpisahan kepadanya terlebih dulu.

Menyakitkan.. Sungguh menyakitkan..

Apalagi saat ini cobaan yang ia terima? Apa Tuhan begitu membencinya? Hingga ia tak diijinkan untuk bahagia?

Kim Jongin.. Harus meninggalkan Baekhyun sendiri setelah melawan keadaan kritis karena kecelakaan yang terjadi. Tubuhnya tak mampu bertahan lama hingga akhirnya menghembuskan nafas terakhir. Bahkan untuk sekedar mengucapkan kata-kata perpisahan bagi Baekhyun ia tak mampu.

Musibah yang menimpa Baekhyun di waktu yang seharusnya ia merasa senang merasa bahagia harus berganti dengan kesedihan yang akan mendalam dan berbekas. Ia tak pernah tahu apa yang direncanakan Tuhan kepadanya. Tak pernah menyangka hal seperti ini menimpa dirinya. Kehilangan sosok yang ia cintainya untuk kedua kalinya.

Apa Tuhan tak pernah senang ia bahagia? Apa Tuhan begitu membencinya?

Air matanya masih menggenang bahkan tak ada niat untuk berhenti. Pandangannya kosong menatap nanar ke depan. Rahangnya sesekali menguat lalu melemah. Berulang kali nafas tak teratur menderu di bibirnya.

Ekspresinya datar, dingin dan tak bisa diartikan lagi. Menyedihkan, memprihatinkan dan menyayat hati.

Daehyun, memeluk Baekhyun dari samping. Memberikan pundaknya sebagai sandaran kepala Baekhyun. Setidaknya, ia ingin sedikit memberikan kekuatan kepada Baekhyun agar dapat melewati semuanya. Ini memang berat... Jauh lebih berat daripada melihat pasanganmu berselingkuh. Mengingat Baekhyun benar-benar menyayangi sosok itu.

Ruangan itu begitu suram, kabut hitam seolah menyelimuti semuanya. Semua orang bergelimang air mata. Ikut merasa kehilangan. Ikut berduka dan tak percaya. Tak tertinggal Park Chanyeol.. Dirinya turut serta menitikkan air mata. Hatinya mencelos, sesak dan sakit..

Bukan karena meninggalkannya Jongin...

Melainkan Baekhyun, Baekhyun tak berhenti menangis dan benar-benar hancur. Membuatnya sangat sakit hanya melihatnya dari jauh. Sangat ingin ia memeluknya, tapi pasti hanya penolakan yang ia terima.

Baekhyun terduduk sendiri di antara kursi yang membentang panjang. Lainnya telah pergi satu demi satu. Hanya tersisa Baekhyun dengan tangisan masih menemani. Daehyun, Joonmyeon ataupun Chanyeol telah keluar. Mungkin mereka memberikan waktu sendiri untuk Baekhyun bersama Jongin.

"Jongin... Jongin... Jongin..." Panggil Baekhyun lirih dengan suara memilukan.

"Jong-ah... Jongin-ah... Kenapa kau meninggalkanku?"

Kata-kata itu pertama kali terucap setelah kepergian Jongin. Selama itu Baekhyun tak mengatakan apa-apa. Hanya terdiam dan menangis.

Tak selang beberapa lama, Baekhyun bangkit lalu berlari menjauh..

Ia berlari dan terus berlari...

Bibirnya terus berucap nama Jongin. Seolah dirinya tengah mencari-cari sosok Jongin di antara puluhan orang yang berpapasan dengannya. Baekhyun terus berlari dan berlari. Suaranya pecah di antara ribuan tetes air mata yang menghujam turun. Lebih serak dan memekik tinggi. Ia tak berhenti memanggil nama Jongin.

.

.

.

.

.

Daehyun berlari tergopoh-gopoh menuju ruang tengah. Nafasnya tersengal-sengal. Tanganya memegang dada mencoba mengatur deru nafas yang keluar.

"Baek-Baekhyun noona.. Baekhyun noona..." ucapnya terputus.

"Ada apa Daehyun-ah?" tanya Kyungsoo heran dengan ekspresi gelisah yang terpampang di wajah tampannya.

"Baekhyun noona tak ada disana.. Ia menghilang..."

Sontak semuanya tersentak kaget. Tanpa ada aba-aba lebih lanjut. Semuanya lantas bangkit dan pergi mencari Baekhyun. Mereka tak mau terjadi apa-apa dengan Baekhyun.

.

.

.

.

.

Deburan suara ombak kecil yang muncul dari tenangnya air sungai menghentikan perhatiannya. Bukan, bukan karena deburan itu. Tetapi sosok yang tengah berdiri di depannya.

Sosok itu...

"Jongin-ah... Aku ingin ikut denganmu... Kenapa kau pergi tanpa mengajakku?"

"Kim Jongin... Aku ingin bersamamu..."

Segera ia mendekat sebelum sosok itu melompat.

"Baek..." tariknya cepat lalu membawa tubuh itu kedalam pelukannya.

Tubuh itu meronta keras, memintanya untuk melepaskan.

"Aku tak akan membiarkanmu nekat seperti ini..." ia semakin mengeratkan pelukannya.

Lagi, ia merasakan tubuh itu bergetar dalam pelukannya. Tubuhnya meronta-ronta, memaksa untuk dilepas. Beberapa saat tubuhnya melawan namun, lama kelamaan melemah.

Chanyeol melonggarkan pelukannya. Ia menatap pilu sosok dipelukannya. Tangannya mengusap air mata yang akan turun dari mata sipit itu.

"Baek... Jangan pernah berpikir melakukan itu lagi..."

Sosok itu, Byun Baekhyun tak menjawab. Ia masih terpengaruh dalam pikiran buruknya. Chanyeol kembali mengeratkan pelukan.

"Jongin tidak akan suka melihatmu seperti ini Baek..."

"Tenanglaah... Jongin akan baik-baik saja disana..."

Baekhyun tak merespon kata-kata yang terjuntai dari bibir tebal Chanyeol. Tangisannya semakin bertambah dalam.

"Aku akan ada disini bersamamu..."

Chanyeol membelai surai cokelat tua milik Baekhyun, menenangkannya.

Baekhyun terisak-isak lalu berusaha mengucapkan sesuatu..

"Jongin... Aku ingin ikut denganmu..."

Perkataan itu menghujam dada Chanyeol.. Ia ada di pelukannya, namun sosok itu sama sekali tak memandangnya.

"Baek..."

.

.

.

.

.

TBC

.

.

.

Mind to review?

Thanks

.

.

.

Best Regards

.

.

~Deer Luvian~