Too Late for Sorry...

Author :

.

Deer Luvian

.

Main Cast:

.

Byun Baekhyun (GS)

Park Chanyeol

.

Other Cast:

.

Lu Han (GS)

Kim Jongin

Do Kyungsoo (GS)

Kim Joonmyeon

Byun (Jung) Daehyun

Jung Ilhoon

.

Genre:

.

Hurt/Comfort, drama, angst

.

Rated:

.

T-T+

.

Lenght :

.

multi chapter

.

*Disclaimer:

Semua cast yang saya pakai sepenuhnya milik Tuhan Yang Maha Esa. Dilahirkan oleh kedua orang tua masing-masing dan dibesarkan oleh agensi mereka. SM Ent, maupun yang lainnya. Jalan cerita, ide cerita dan segalanya yang berkaitan dengan cerita sepenuhnya milik author. Kalaupun ada kesamaan cerita saya mohon maaf sebesar-besarnya.

This original stories is mine with pairing before WooGyu and I posted on Asianfanfics so If u feel that u've been read it, please bear it! I just re-make my own stories. Thanks for your attention..

This is genderswitch for several cast.

With pairing ChanBaek slight! KaiBaek, ChanLu, HunHan.

Please don't bash! Don't plagiat!

DLDR

.

AU! OOC! GS!

.

Thanks!

.

Summary:

Baekhyun hanyalah seorang istri yang terlalu lama merasakan gerusan di hati. Beberapa saat ia tahan dengan sikap Chanyeol yang terus mengumbar kemesraan dengan Lu Han. Awalnya ia sanggup menahan namun lama kelamaan ia memilih mengakhiri semua. Bagaimana dengan Chanyeol? Apa dia akan tetap sama setelah kepergian Baekhyun?

.

.

Happy Reading ^^,

.

.Chapter 10.

.

.

Mentari telah menyingsing tinggi di atas Kota Jeonju. Sinarnya telah lama menyentuh bumi. Bahkan, kicauan burung telah samar-samar menjauh dan berhamburan pergi. Semerbak wangi musim semi dengan sedikit dingin yang masih bersamanya tersentuh oleh indera penciuman siapa saja. Ini memberikan semangat untuk memulai aktivitas daripada dingin yang sebelumnya menyerang.

Namun, suasana ceria musim semi tak mempengaruhi wanita ini. Wanita bersurai cokelat itu tetap dalam keadaan yang sama seperti beberapa hari yang lalu. Awan-awan hitam dan kabut kegelapan seolah mengelilingnya dengan setia. Cahaya kharisma yang selama ini terpancar darinya pun ikut tenggelam dan menghilang perlahan.

Tak ada semangat hidup, tak ada keinginan untuk bangkit dan tak ada rasa untuk melihat dunia. Apa yang masih ia punya? Cinta? Kasih sayang? Perhatian? Atau kekasih?

Semuanya menghilang. Memudar satu persatu. Kecuali rasa sedih, benci, dan kecewa yang mungkin seolah menanamkan magnet padanya sehingga ia tak berniat untuk membuangnya jauh.

Kecewa...

Pasti, siapa yang tidak akan kecewa jika kehilangan orang yang selama ini ia anggap merupakan malaikat dari Tuhan? Yang namanya malaikat Tuhan akan kembali sewaktu-waktu jika ia dipanggil. Tapi... bukan di saat seperti ini... Bukan di saat dia sangat ingin hidup bersamanya...

Sakit...

Pasti, tidak ada yang tak sakit ditinggalkan orang terkasih untuk selama-lamanya.. Orang yang ia pikir akan memberikan kebahagiaan. Namun, bukan kebahagiaan yang diterima malah kesakitan yang luar biasa.. Atau Tuhan memang memiliki rencana lain?

Entahlah...

Ia tak mau lagi berharap pada hidup. Kehidupan telah sukses menghancurkannya. Merajamnya dan menyiksanya dengan tekanan batin yang tinggi.

Ia masih berselonjor di atas ranjang, bersandarkan dinding dingin yang tak lagi terasa oleh kulitnya. Pandangannya kosong menatap jauh kedepan. Air mata itu sepertinya mulai kering. Meski ia mencoba menangis, tak ada setetespun rasa hangat yang menjalar dipipinya.

"Baekhyun noona..." Daehyun mendekatinya dengan tangan membawa nampan.

"Noona... Ayo makan dulu..." Ucapnya namun tak ada sahutan dari Baekhyun. Daehyun duduk di tepi ranjang. Meletakkan nampan yang ia bawa di atas meja lalu menggenggam tangan Baekhyun.

Dingin... tangannya dingin. Seperti bukan Baekhyun yang ada disini..

Jari-jari manis Daehyun mengusap sisa jalur air mata yang mengering. Lagi, tak ada respon yang diberikan Baekhyun atas gerakan yang diciptakan Daehyun. Ia masih terdiam dan tak bergeming.

"Baekhyun noona... Makan dulu... Kau sudah beberapa hari tidak makan..." pintanya dengan nada pilu. Memang apa yang Daehyun katakan benar.. Baekhyun tak makan apapun.. Hanya mungkin segelas susu dan air putih saja. Tapi... Itu hanya sekali dua kali..

Daehyun mengelus pelan punggung tangan Baekhyun. "Noona... Ayolah..."

"Biarkan Jongin yang menyuapiku..." sahut Baekhyun datar. Daehyun terhenyak kaget mendengar jawaban Baekhyun.

Apa telinganya salah? Tidak mungkin kan Baekhyun menganggap Jongin masih hidup lagi? Atau... Baekhyun mulai gila? Lagi-lagi ia harus mendengar Baekhyun mengucapkan kata itu..

"Noona... Jongin hyung..."

"Suruh dia kemari... Minta dia menyuapiku.. Kalau tidak aku tidak akan makan lagi..." Baekhyun berujar lagi tanpa melirik wajah keheran Daehyun. Sikap yang ditujukan Baekhyun saat ini benar-benar membuatnya khawatir. Ia tak mau pikiran buruk dan negatif yang melintas itu jadi kenyataan.

Daehyun mendesah pelan. "Noona... Kau harus ingat... Bahwa Jongin hyung sudah meninggal..." tukasnya hati-hati. Tetapi...

Brakkkk...

Baekhyun menyenggol kasar nampan dengan sengaja. Mendengar kata-kata Daehyun ternyata menyulut emosinya yang tertahan.

"Jongin tidak mati... Jongin tidak mati..." Teriaknya menyangkal kata-kata Daehyun..

Daehyun kaget, ia segera memeluk Baekhyun. "Noona..."

"Jongin hanya pergi... Jongin tidak mati... Ahhh..." Baekhyun berteriak lebih kencang dan terdengar frustasi. Hal ini semakin mengagetkan Daehyun. Batin Daehyun tercabik mendengar penyangkalan dari Baekhyun.

Dengan kasar Daehyun mencoba menahan Baekhyun yang meronta layaknya orang kesetanan. Bibir tipisnya terus berteriak dengan kalimat yang sama.

Beberapa kali teriakan terlontar dari mulut Baekhyun, menyebabkan keluarganya masuk ke dalam kamar Baekhyun dengan wajah khawatir. Eskpresi bingung, gelisah dan khawatir terlihat jelas di setiap wajah keluarganya.

"Baekhyun sayang... tenang sayang..." eomma Baekhyun –Nyonya Byun- berusaha menenangkan sang anak. Tangannya segera mendekap Baekhyun namun didorong olehnya.

"Sayang..." panggil Nyonya Byun dengan lelehan air mata. Melihat Baekhyun seperti ini jelas diluar keinginan sang eomma.

Untuk membuat Baekhyun lebih tenang, Nyonya Byun terpaksa berbohong.

"Sayang... Jongin akan segera pulang... Tapi kau tenang ya sayang... Kau mau? Dia khawatir karena kau seperti ini?" tukas Nyonya Byun sedikit tercekat.

Seketika Baekhyun lebih tenang daripada sebelumnya. Mata sipitnya memandang penuh harap kearah sang eomma. Terlihat dari sorot matanya bahwa Baekhyun berharap apa yang Nyonya Byun katakan benar.

"Sekarang kau istirahat ne, Jongin pasti pulang setelah kau bangun tidur nanti.." Walaupun menahan tangis agar tak turun, Nyonya Byun dengan lembut membantu Baekhyun berbaring dan menyelimutinya. Sebentar tangan halusnya mengusap peluh yang bercucuran dan membelai lembut pipi Baekhyun. "Tidurlah... Lihat, wajahmu sama sekali tidak cantik lagi... Bagaimana perasaan Jongin kalau melihatmu seperti ini?"

Baekhyun mengangguk. "Eum, aku akan tidur dan kembali cantik lagi..." senyum tipis ia tampakkan diantara wajahnya yang memprihatinkan.

Lantas, Nyonya Byun mengecup puncak kepala Baekhyun. Setelahnya, ia mengajak semua keluarga yang ada disana untuk keluar meninggalkan Baekhyun. Batin mereka begitu tersiksa ketika harus mengetahui bahwa Baekhyun benar-benar belum bisa menerima kepergian Jongin.

.

.

.

.

Semua keluarga berkumpul di ruang tengah. Mereka akan membicarakan tentang kondisi Baekhyun. Tidak mungkin Baekhyun dibiarkan larut terus menerus seperti ini. Menganggap Jongin masih ada dan akan kembali kepadanya. Bagaimanapun semua usaha harus dilakukan agar Baekhyun kembali pada kondisi normal. Menyadari dan mengakui bahwa Jongin telah tiada. Walaupun itu akan sangat menyulitkan, setidaknya usaha tetap harus dijalankan.

Duduk mengitari meja kayu panjang, keluarga besar Baekhyun mulai berunding dan berdiskusi. Ini harus segera dilakukan agar kondisi Baekhyun tidak semakin parah. Sebentar kesunyian melintas diantara mereka namun suara berat Tuan Byun telah menyingkapnya.

"Kita harus membawa Baekhyun keluar dari Jeonju.." tukas Tuan Byun sedikit tercekat.

Lainnya memandang heran dan penuh tanya.

"Maksud appa?" tanya Daehyun.

Tuan Byun tersenyum getir. "Kalau dia tetap di Jeonju itu akan menyulitkannya untuk lupa dengan Jongin.." sahutnya pelan. Sesaat, Tuan Byun menghirup nafas dalam sebelum melanjutkan bicaranya. "Bawa dia ke China, dia akan lupa dengan Jongin segera.." sambungnya.

Kedua mata Daehyun terbelalak. Begitu pula yang lain. Mereka tak tahu harus menanggapi bagaimana. Tetapi, putra termuda Byun bersuara. "Apa mungkin Baekhyun noona akan mau jika dibawa ke China? Selama ini noona selalu menolak tinggal di China..."

Nyonya Byun mengangguk membenarkan pernyataan anaknya. "Iyaa... Sepertinya akan sulit..."

"Lalu? Kita harus apa?" Tuan Byun meminta pendapat yang lain. Saran dari Tuan Byun disetujui yang lain, namun tidak membawa Baekhyun ke China.

"Bawa saja ke Seoul... Dia pernah hidup disana..." Ujar Daehyun yakin. "Baekhyun noona pernah di Seoul dan kehidupannya memang tidak bahagia disana. Mungkin saja hal itu membuatnya mampu melupakan Jongin hyung.."

"Maksudmu apa Dae-ya?" Nyonya Byun tak paham dengan maksud Daehyun.

Daehyun mendesah pelan, "Yaa, kita ajak Baekhyun tinggal di Seoul. Disana tempat yang pernah Baekhyun tinggali tapi tak ada sedikitpun kenangan dengan Jongin hyung..."

"Sepertinya idemu tidak buruk. Lalu, siapa yang akan menjaga Baekhyun disana? Kau?" tanya Nyonya Byun.

Daehyun sedikit terlonjak lalu menggeleng. "Aku tidak mungkin meninggalkan studyku di Jeonju.."

"Lalu siapa yang akan menjaga Baekhyun?" Tuan Byun ikut bingung mendengar penolakan Daehyun. Pasalnya, ia yang memberikan ide tetapi ia juga menolak untuk melakukan.

Lagi lagi keheningan menyerbu di sekitar ruangan tengah yang mulai sedikit lebih dingin. Angin malam yang berhembus sengaja memaksa masuk melalui celah-celah jendela kayu itu.

Taehyung mendesah pelan. Tampaknya, ia akan mengatakan sesuatu. "Aku yang akan menjaga Baekhyun diSeoul." Ia mengambil susu hangat lalu menyesap perlahan.

"Eoh? Kau akan tinggal di Seoul?" tanya Nyonya Byun mengulangi perkataan sang anak.

Taehyung mengangguk pasti. "Aku akan melanjutkan studyku di Seoul. Sekalian menjaga Baekhyun noona.. Kalian bisa kembali ke China setelah mengurus semua keperluanku dan Baekhyun noona.." sahut Taehyung terkesan menuntut. Mata besarnya memandang penuh harap kepada kedua orangtuanya.

"Baiklah... Tapi kau yakin akan menjaga noona-mu sendiri?" tanya Tuan Byun.

"Aku akan membantu selama kuliahku belum dimulai.." timpal Daehyun dengan yakin. Ia beranjak dari duduknya dan bergerak menuju kalender. "Masih ada waktu sebulan sebelum semester depan dimulai. Sepertinya itu cukup untuk membuat Baekhyun noona lebih baik."

Tuan dan Nyonya Byun mengangguk bersama. Keputusan yang diberikan Daehyun dan Taehyung tidaklah buruk. Mereka bisa melakukannya demi kembalinya Baekhyun menjadi lebih baik lagi.

Tujuan mereka sama, berharap Baekhyun menjadi lebih baik dan menyadari kenyataan yang ada. Sebenarnya Baekhyun tidak gila, tidak. Dia masih terkadang merespon kata-kata mereka walaupun itu jarang sekali, yang membuatnya sedikit terkesan gila adalah ketika ada nama Jongin yang terlintas ditelinganya ataupun saat ia teringat dengan Jongin. Ia akan mulai meneriaki nama Jongin dan meminta semuanya membawa kembali Jongin kehadapannya.

Sikap yang ditunjukkan Baekhyun saat ini belum lama terjadi. Beberapa hari setelah kepergian Jongin, namun ini bukan sekali atau dua kali. Hampir setiap kali Baekhyun diminta untuk makan, ia akan bersikap demikian. Ini jelas membuat keluarganya kebingungan. Dan tak tahu harus berbuat apa lagi hingga keputusan itu diturunkan.

.

.

.

.

.

Malam semakin menggila, gelapnya telah sempurna menutup langit biru. Dingin angin malam juga serta merta mengacaukan udara hari ini. Meski jendela telah tertutup rapat, seringaian dingin malam masih mampu menyentuh kulit Luhan dan Chanyeol yang tengah menikmati makan malam bersama.

Sudah lama, sejak kabar Luhan hamil Chanyeol lebih sering tinggal diapartemen Luhan. Chanyeol dengan sayang memperhatikan setiap gerak yang diciptakan Luhan. Ia hanya tidak mau anak yang dikandung Luhan terjadi apa-apa akibat ulah sang eomma yang kadang menurutnya tak bisa dibiarkan.

Chanyeol menegak habis susu coklat yang masih tersisa didepannya. Setelah itu, ia akan beranjak dari tempat duduk. Namun suara nyaring Luhan menghentikannya.

"Chanyeol-ah..." panggil Luhan lirih.

Chanyeol menatap Luhan penuh tanya. Ia mengangkat kedua alisnya. Tanpa harus berkata, Luhan telah tahu maksud dari tatapan dan ekspresi itu.

"Sepertinya kau mulai berbeda.." kata Luhan masih dengan nada yang sama, lirih.

"Eh? Maksudmu apa?" tanya Chanyeol tak mengerti dengan kata-kata Luhan.

Sejenak Luhan terdengar mendesah. "Kau bukan Chanyeol yang dulu.. Kau bukan Chanyeol yang maniak kerja, dan kau bukan Chanyeol yang selalu menghabiskan waktumu untuk bekerja.."

Kali ini Chanyeol hanya bisa membelalakan matanya. Konsentrasinya tak pecah sehingga ia bisa memahami apa yang dikatakan Luhan. Dan semuanya benar... Tak perlu lagi Chanyeol bertanya, ia telah paham dengan maksud Luhan.

"Aku minta maaf Luhanie.." Chanyeol mendekat ke arah Luhan lalu mengecup pipi Luhan. "Apa kau merindukanku?" gelak Chanyeol mencoba mengubah suasana yang dikendalikan Luhan.

Luhan menunduk. "Aku serius Chanyeol." Ia mendongak dan menyorot kristal kelam Chanyeol. "Kau berbeda semenjak Baekhyun menghilang. Aku mengerti itu..." Luhan menarik nafas dalam lalu menghempaskannya kasar. "Tapi, kau jauh berbeda bukan seperti Chanyeol yang aku kenal semenjak Kim Jongin calon suami Baekhyun meninggal..."

Terlihat Chanyeol mengerjabkan kelopak matanya. Otak kirinya masih belum bisa memahami kata-kata terakhir Luhan. Apa maksud Luhan?

Tangan Chanyeol menyentuh pundak Luhan, sorot matanya menelisik kedalam bola mata itu. "Apa maksudmu Luhan? Aku tidak mengerti..."

"Kau berbeda, kau menjadi lebih sibuk dengan pekerjaanmu.. Padahal dulu kau bukan orang yang terlalu menyukai pekerjaan.."

"Lalu? Hubungannya dengan kepergian Jongin apa?"

"Chanyeol..." Luhan mendesah pelan. "Kau berusaha untuk terlihat sibuk agar tidak lagi peduli dengan Baekhyun bukan?"

Chanyeol terhenyak kaget. Darimana Luhan memiliki pemikiran sedemikian rupa? Tapi...

"Aku benar kan Chanyeol? Kau ingin melupakan Baekhyun dengan cara sibuk bekerja. Padahal kau mati-matian memendam rasa cintamu kepadanya.." suara Luhan terdengar lebih berat. Nada nyaringnya perlahan memudar sejalan dengan getaran yang ditimbulkan karena isak tangis yang tiba-tiba muncul.

Dada Chanyeol mencelos mendengar itu. Apa Luhan mengetahui kalau Chanyeol memang mencintai Baekhyun? Dan Chanyeol...

"Apalagi setelah Jongin meninggal. Kau lebih sibuk dari biasanya. Kau tahu kan kalau kesempatan memiliki Baekhyun terbuka lebar... Tapi entah kenapa kau memilih untuk menghindarinya dengan menyibukkan dirimu..."

Chanyeol mendesah frustasi. "Cukup Luhan, aku tidak mau bertengkar denganmu..." Chanyeol beranjak dari duduknya lalu meninggalkan Luhan.

Seolah ingin membuat Chanyeol lebih jujur kepadanya, Luhan terus bersuara. "Kau mencintai Baekhyun kan Chanyeol? Kau mencintainya! Bahkan, kau sudah tak lagi mencintaiku..." seru Luhan disela air mata yang memaksa jatuh.

Chanyeol berbalik, sorot matanya mengatakan ia tak suka dengan kata-kata Luhan. "Luhan... Cukup.. Aku tidak mau beradu mulut denganmu.." pekik Chanyeol kesal.

"Chanyeol... Kenapa kau masih berada disini kalau kau tidak mencintaiku?" ujar Luhan seraya menahan air matanya yang semakin deras. Entah apa yang membuat Luhan menjadi seperti ini. Ia hanya ingin Chanyeol jujur, meski itu akan menyakitkan untuknya. Ia tahu siapa Chanyeol ia tahu.. Dan Chanyeol yang ada di hadapannya saat ini bukan Chanyeol yang mencintainya.

Chanyeol kembali mendekati Luhan, ia menangkup pipi Luhan lalu mengusap air matanya. "Hey, aku masih mencintaimu..."

"Bohong... Kau tak bisa membohongiku Chanyeol..."

"Baiklah... Apa kau ingin aku jujur kepadamu?"

Luhan mendongak lalu memandang Chanyeol dengan sorot mata sayu. "Eum.." sahutnya singkat.

"Aku bersamamu karena kau mengandung anakku. Apa aku tega membiarkanmu sendirian merawat anak itu? tidak... aku tidak akan tega..."

"Sudah kuduga..." sahut Luhan lirih. Detik berikutnya Luhan mengulas senyum. "Chanyeol..." panggilnya lirih.

"Eum?" tangan Chanyeol membelai lembut pipi Luhan.

"Sepertinya tempatmu bukan disini..." Lagi, kata-kata Luhan tak mampu diartikan Chanyeol. Dahinya mengerut, matanya memicing seketika.

"Kau harus kembali kepada Baekhyun... Dia lebih membutuhkanmu daripadaku Chanyeol..." Ujar Luhan sedikit bergetar. Air matanya terlihat akan merangsek turun.

"Lu..Luhan.. Kau..."

"Apa kau mengawatirkan anak ini?" sekilas Luhan mengulas senyum tipis. "Aku akan membesarkannya tanpamu Chanyeol.. Tenang saja, aku akan menjaganya..."

Chanyeol benar-benar tidak paham dengan apa yang berada didalam pikiran Luhan. Ia menyentuh pundak Luhan dengan kuat.

"Kenapa kau berkata seperti itu?"

Luhan tersenyum tipis. "Chanyeol... Aku tahu kau mulai mencintai Baekhyun dan menyesal telah bercerai dengannya. Kau ingin bersamanya namun terhalang anak ini bukan?"

"Luhan-ah... Kau..."

"Sekarang kau tahu bagaimana kondisi Baekhyun setelah ditinggal calon suaminya? Dia pasti sangat sedih dan sangat berat sekali... Dia butuh orang yang mencintainya agar dapat melupakan dan keluar dari kesedihan itu.. Chanyeolie... Aku berterima kasih kau masih peduli denganku dan anak ini... Tapi... Aku tidak suka kalau kau bersamaku bukan atas dasar cinta..."

Chanyeol tak tahu harus bersikap bagaimana lagi. Ia tak pernah menyangka jika Luhan akan memiliki pikiran seperti ini. Tak terasa air mata juga menyeruak diantara kelopak matanya. Lantas ia memeluk Luhan erat.

"Apa yang harus aku lakukan Luhan? apa yang harus aku katakan kepadamu?" Chanyeol menangis dipundak Luhan.

"Kau hanya perlu jujur kepada dirimu sendiri.. Aku baik-baik saja Chanyeol.. Lebih baik aku sendiri daripada aku harus tinggal denganmu yang tidak mencintaiku..."

"Luhan... Aku minta maaf, aku minta maaf..."

Luhan mengusap punggung Chanyeol dengan lembut. "Aku memaafkanmu dan aku tidak akan membencimu.. Sekarang kita tidur ne, aku lelah..." Luhan melepas pelukan Chanyeol lalu mengecup kilat bibir Chanyeol.

Chanyeol menatap lekat mata rusa Luhan. Sorot penuh rasa bersalah menerpa kedua kristal Luhan. Tangannya mengusap air mata Luhan lalu mengecup dan melumat hangat bibir tipisnya.

Hati Chanyeol harus kembali mencelos. Dadanya terasa sangat perih. Lagi dan lagi, Chanyeol harus menyakiti orang yang mencintainya untuk kesekian kalinya. Ia tahu jika Luhan mencintainya, tetapi dirinya? Ia juga tak membantah semua yang dikatakan Luhan. Semuanya benar. Dia berusaha untuk sesibuk mungkin agar rasa cintanya kepada Baekhyun berkurang karena ia berpikir bahwa ia harus hidup dan bahagia dengan Luhan. Tetapi setelah mendengarkan Luhan seperti ini? apa yang harus ia lakukan? Apakah ia harus kembali kepada Baekhyun seperti kata Luhan? Pikiran Chanyeol kalut dan bingung.

Chanyeol tak pernah mengerti jalan hidup yang telah dituliskan Tuhan kepadanya. Ia tak pernah tahu. Apapun yang terjadi kepadanya saat ini membuatnya bingung. Mana yang harus dipilih? Kembali kepada Baekhyun dan membuat Baekhyun melupakan Jongin atau tetap dengan Luhan? merawat bayi yang dikandung Luhan namun dengan konsekuensi hidup tanpa adanya cinta seperti dulu?

Chanyeol tak tahu, Chanyeol bingung jika harus memilih..

.

.

.

.

.

TBC

.

.

.

.

Mind to review?

Thanks.

.

.

Best Regards

.

.

~Deer Luvian~