Keputusan keluarga Baekhyun untuk membawa Baekhyun ke Seoul disambut baik oleh beberapa kerabat mereka. Terutama adik dari Tuan Byun. Dua bersaudara anak dari Tuan Nam Woohyun, yaitu Nam Jihyun dan Nam Taehyun bersedia membantu serta menjaga Baekhyun di Seoul. Sehingga itu akan memudahkan Taehyung ataupun Daehyun. Untuk sementara, Baekhyun akan tinggal bersama dua kerabatnya itu ditambah Taehyung dan Daehyun.

Semula, Baekhyun menolak dan bersi kukuh untuk tetap tinggal di Jeonju. Ia mengatakan bagaimana dengan Jongin jika ia pergi ke Seoul. Keluarga Baekhyun dengan susah payah membujuk Baekhyun, bahkan mereka harus mengatakan kepada Baekhyun jika Jongin akan menemuinya di Seoul. Meski kenyataannya, mengatakan hal itu akan menambah pesakitan yang luar biasa kepada Baekhyun ataupun keluarganya.

Waktu telah menunjukkan pukul 01.00 P.M KST, ini saatnya Baekhyun untuk menikmati makan siang. Walaupun Baekhyun masih belum sepenuhnya ada keinginan untuk makan, tetapi sedikit demi sedikit ia mulai menerima suapan dari Taehyung. Mungkin perutnya memaksa untuk diberi pasukan nutrisi. Selain itu, sikap hangat yang ditunjukan keluarga Nam memberikan kesan tersendiri bagi Baekhyun untuk sedikit 'membuka' kembali dirinya.

"Baekhyun noona..." Panggil Taehyung dari balik pintu dengan membawa sepiring nasi dan segelas susu coklat.

Baekhyun menoleh ke arah Taehyung.

"Waktunya makan..." lalu Taehyung meletakkan gelas makan dan bersiap untuk menyuapi Baekhyun.

Saat tangan Taehyung akan menyuapkan makanan kearah Baekhyun, Baekhyun menampiknya.

"Noona..." protes Taehyung. "Ayolaah makan..." dengan sangat lucu, Taehyung merajuk agar Baekhyun membuka mulutnya dan melahap makanan yang ia bawa.

Tetapi, Baekhyun hanya berekspresi datar, "Aku sudah makan tadi..."

Taehyung mendengus, "Kau makan tadi pagi noona... Sekarang makan siang..."

Baekhyun masih menggeleng dan menolak suapan Taehyung. "Benar nih? Noona tidak mau makan? Ini enak loh... Bulgogi kesukaan noona... Kalau kau tak makan, yasudah aku aja yang makan..." ujar Taehyung seraya berpura-pura memakan makanan itu.

Baekhyun tersenyum tipis. "Kau boleh memakannya Tae-yaa..."

Tak lama kemudian, Nam Jihyun masuk ke dalam kamar dengan membawa beberapa buah-buahan.

"Apa Baekhyun sudah makan?" tanya Jihyun.

Taehyung menggeleng lalu meletakkan makanan itu. "Baekhyun noona manja! Dia tidak mau disuapin Taehyung..."

Jihyun tertawa pelan. "Benarkah Baek? Kalau kau memang tidak mau makan, diminum saja susunya dan ini, aku bawakan kau jeruk manis.." tukas Jihyun seraya mengupaskan jeruk untuk Baekhyun.

Lagi-lagi Baekhyun menolak.

"Baek... Kau tidak akan seperti ini terus kan? Ayolah Baekhyun cantik..." kali ini Jihyun yang merengek.

Baekhyun masih sama, ia hanya menggelengkan kepalanya.

Jihyun mendesah perlahan. "Okee Baek, kalau kau tidak mau makan sekarang... Tapi kau harus makan nanti malam.." tukasnya pasrah.

Lengkungan tipis mengembang dari bibir merah muda Baekhyun. "Pasti..." jawabnya singkat.

Baekhyun merasa senang berada di keluarga ini. Sedikit demi sedikit ia menyadari bahwa Jongin memang telah tiada. Tetapi, semangat Baekhyun masih sama seperti saat kepergian Jongin. Ia sama sekali tak tertarik untuk keluar kamar. Sekedar berjalan di dalam rumah ataupun mencari udara segar. Kesehariannya hanya dihabiskan dalam kamar saja.

.

.

.

.

.

Siang itu, di saat Baekhyun tengah menatap pilu jendela kamar yang tak menampilkan apa-apa selain kotak kaca pintu kamarnya terbuka. Sesosok lelaki tampan yang sangat ia kenali masuk ke dalam kamar. Sejenak Baekhyun menoleh dan terkejut. Namun ia kembali mengamati jendela itu.

"Baek..." panggil sosok tampan yang tak lain adalah Chanyeol. Chanyeol mendekati Baekhyun.

Tangan Chanyeol menyentuh pundak Baekhyun. "Baek..." Panggilnya lagi. Baekhyun masih tak merespon panggilan Chanyeol, ia terus melihat ke arah jendela.

Chanyeol mendesah pelan. Ia tahu, kalau ia akan mendapatkan perlakuan seperti ini.

Lelaki tampan bersurai hitam pekat ini menyempatkan datang ke rumah Baekhyun setelah menyelesaikan pekerjaannya. Ia sengaja, menyelesaikannya dan menghabiskan waktu bersama Baekhyun hari ini. Sejak kedatangan Baekhyun beberapa hari lalu di Seoul, ia sama sekali belum menjenguk Baekhyun. Karena, selain pekerjaan yang harus ia urus ada beberapa hal yang mengganggu pikirannya.

"Baek... Apa kau tak lapar? Ku dengar dari Taehyung kau belum makan siang ini..." tukas Chanyeol mencoba berkomunikasi.

"Kau harus makan Baek, kalau kau tidak makan akan sakit..." lanjutnya.

Sesaat Chanyeol mengambil sebuah boneka yang ia bawa dari tas kerjanya. Sebuah boneka kelinci namun dengan wajah yang tak lucu seperti biasanya. Di wajah kelinci itu layaknya menyiratkan sebuah kepedihan.

"Baek... kau lihat boneka ini? umumnya, sebuah boneka itu didesain dengan wajah lucu dan menggemaskan. Tapi, satu boneka ini aku pesan dengan wajah sedih..." ucap Chanyeol tercekat. sepertinya ia menahan sesuatu.

Baekhyun masih tak tertarik, ia tetap memandang kosong objek di depannya.

"Kau tahu kenapa aku memesan boneka seperti itu?" tanya Chanyeol.

Wanita manis lawan bicaranya ah bukan lawan bicara, yang berada di depannya itu tetap tak bergeming.

"Aku memesan ini karena dia mirip denganmu..." lanjutnya..

Chanyeol menghirup nafas pelan lalu menghembuskannya kasar. "Kau sama seperti ini, wajahmu penuh dengan kesedihan dan tak ada semangat hidup. Kesan manis, lucu dan menggemaskan yang ada seolah memudar tidak bersisa..."

Kali ini, kali ini Baekhyun melirik sekilas apa yang menjadi bahan obrolan Chanyeol. Meski sekilas, Chanyeol mengetahui itu..

"Baekhyun-ah... Aku tidak mau kau terus bersedih... Aku tidak mau kau seperti ini... Mana Baekhyun yang selalu mengembangkan senyumnya? Mana gelak tawa Baekhyun yang selalu menggelegar? Mana mata sipit Baekhyun yang menyipit ketika kau tersenyum?" celoteh Chanyeol panjang lebar dengan suara bergetar. Karena Chanyeol telah melepaskan air yang sempat menggenang di pelupuk matanya.

Mungkin karena suara yang terdengar jelas bahwa Chanyeol menangis, Baekhyun menoleh. Mata sipitnya memperhatikan sosok yang tengah menangis itu dengan menggigit bibir bawahnya. Tapi, dia tidak merespon kata-kata Chanyeol.

Sedikit menahan isakannya, Chanyeol kembali berkata. "Aku merindukanmu Baek... Aku merindukan Baekhyun yang ceria... Baekhyun yang menggemaskan... dan Baekhyun yang selalu tersenyum bagaimanapun keadaanmu.." Chanyeol menunduk, dia menunduk dalam dan menangis.

Melihat Chanyeol seperti itu membuat Baekhyun menatap dengan pandangan sendu. Dari sorot matanya terlihat jelas bahwa sosok berbibir tipis ini merasa tersentuh dengan apa yang dilakukan Chanyeol. Apa yang dilakukan Chanyeol masih sama seperti saat pertama kali mereka bertemu setelah sekian lama berpisah.

Hati Baekhyun mencelos, darahnya berdesir pelan. Dadanya sedikit sesak. Ia bertanya, kenapa ia ikut menjadi sedih karena melihat Chanyeol seperti ini? Rasanya ia tak tega membiarkan Chanyeol menangis... Apalagi ia menangis karenanya..

"Chanyeol..." suara parau Baekhyun mencoba memanggil Chanyeol.

Sontak, hal itu membuat Chanyeol kembali mendongak dan menatapnya penuh harap.

"Kenapa kau menangis seperti itu?"

Chanyeol menggenggam tangan Baekhyun. Mata sendunya menatap intens iris sipit milik Baekhyun.

"Aku ingin kau kembali seperti dulu Baek... Aku ingin..."

Baekhyun terdiam, ia menggigit bibir bawahnya. Rasanya ada sesuatu yang aneh ketika tatapan mata Chanyeol menyorot tajam kristalnya.

"Baek... Aku mohon jangan siksa dirimu seperti ini... Hiduplah sebagaimana mestinya kau hidup... Kau tidak boleh hidup seperti ini..." Ucap Chanyeol ditengah tangisannya.

Lagi... Dada Baekhyun sesak mendengarnya... Ada sesuatu yang mendesir dan seperti ada sayatan yang bertabur garam.

"Yeol..."

"Baek... Jangan hilangkan sinarmu yang selalu menyelimuti dirimu... Jangan buang senyummu Baek... Karena kau terlalu berharga untuk hidup seperti ini..."

Baekhyun menggigit bibirnya lebih keras, berusaha menghilangkan gemuruh yang tiba-tiba saja menganggunya. Ia tak tahu harus berkata apa. Ia bingung, ia hanya mengatupkan bibirnya.

Chanyeol masih menggenggam tangan Baekhyun seraya menatap tulus kedua kristal kecil Baekhyun lalu mengulas senyum tipis.

"Baek, tersenyumlah... Karena kau lebih cantik dan manis ketika tersenyum..."

"Chan-."

niga isseoya man yeogi ga paradise
Eojiro neoreul gadwo beorin paradise, oh oh

Ponsel Chanyeol berbunyi di tengah-tengah panggilan Baekhyun. Sebentar ia meminta ijin Baekhyun untuk mengangkat dan Baekhyun mengangguk. Lantas ia mengangkat dengan menjauh dari Baekhyun.

"Eoh? Kenapa?" tanya Chanyeol ketus ketika mengetahui siapa yang memanggilnya di saat genting seperti ini.

"Kau dimana? Cepat kesini... Orang yang aku maksud waktu itu membuat janji denganmu.. Dia ingin bertemu sekarang jam 3 di Mango Six... Cepat kalau tidak kau akan menyesal..." dari suaranya terdengar jelas bahwa itu suara Sungyeol.

"Apa? Kau yakin? Baiklah... Aku akan kesana sekarang..." sahut Chanyeol tergesa. Kekesalannya menghilang ketika mendengar informasi dari Sungyeol. Karena hal ini menyangkut masa depan hubungannya.

Chanyeol segera kembali ke hadapan Baekhyun lalu memegang kembali tangannya. Baekhyun tak menolak, bahkan wajahnya menunjukkan wajah penasaran.

"Baek... Maaf aku harus pergi, ada pertemuan mendadak yang harus aku hadiri.. Aku akan mengunjungimu nanti malam.."

Baekhyun hanya mengangguk lalu tersenyum tipis.

"Annyeong Baek... Ah iya, jangan lupa makan... sampai jumpa Baek..."

Tanpa meminta ijin terlebih dahulu Chanyeol mengecup puncak kepala Baekhyun. Sontak hal itu mengagetkan Baekhyun. Tak tahu keberanian dari mana Chanyeol melakukan itu. Mungkin lama ia merindukan Baekhyun dan ia pikir ini kesempatan yang pas.

Baekhyun masih bingung, ia hanya memandang nanar kepergian Chanyeol yang telah berhambur dari kamarnya. Terasa setitik air mata turun pelan dari sudut matanya.

Lagi dan lagi, dadanya bergemuruh dan sesuatu membuatnya lebih deras mengalirkan air mata itu.

.

.

.

.

.

Dengan langkah tergesa ia menuju coffee shop yang dimaksud Sungyeol. Setibanya disana dia mengedarkan pandangannya. Mencari sosok yang akan ia temui. Beberapa detik berputar, satu lambaian tangan memanggil Chanyeol.

Seorang lelaki dengan wajah tampan, mata elang dan rambut coklat rapi telah menunggu Chanyeol seraya menghisap Iced Americano yang ia pegang. Chanyeol mengulurkan tangan dan lelaki itu menjabat. Ini bukan kali pertama mereka bertemu. Sebelumnya mereka pernah bertemu saat membicarakan bisnis.

"Apa kabar Chanyeol-sshi... Apa aku mengganggu waktumu?" tanya lelaki itu ramah.

Senyum lebar tergores di wajah tampan Chanyeol. "Kabar baik, bagaimana denganmu? Sudah lama kita tidak bertemu.."

"Hahaha, iyaa... Oh ya, kau sudah tahu kan maksudku mengajakmu bertemu disini?" tanya lelaki itu dengan suara sedikit serius.

Chanyeol mengangguk. "Eum, apa kau serius dengan omonganmu?" tanya Chanyeol meyakinkan kembali dengan apa yang selama ini ia dengar dari Sungyeol.

"Eum.." ia mengangguk mantap. "Aku sangat yakin akan menikahi Luhan... Bagaimana? apa kau akan memberikannya kepadaku?"

Chanyeol memicing tak percaya. "Luhan bukan barang yang bisa dipindahtangankan.,"

"Tapi kau sudah tak mencintainya kan? Kenapa kau masih mempertahankannya? Bukankah itu akan menyakitkan untuk Luhan?"

Chanyeol sedikit mendesah. "Sehun-sshi.. Aku memang sudah tidak mencintainya. Tapi dia mengandung anakku.. Apa kau akan menerimanya?"

Lelaki bernama Sehun itu mengulas senyum manis. "Itu tidak masalah bagiku.. Aku akan merawatnya dan membesarkannya seperti anakku sendiri.. Apalagi anak itu berasal dari bibit yang berkualitas. Tidak salahkan kalau aku mau menerima?" Jawab Sehun penuh percaya diri. Tak sedikitpun rasa kecewa atau tak suka yang keluar dari bibir tipisnya.

Chanyeol terhenyak kaget dengan jawaban yang baru saja ia dengar. "Ma-maksudmu?"

"Hahaha." Sehun terkekeh geli melihat ekspresi bingung Chanyeol. "Itu anakmu.. Kau bukan orang sembarang, kualitasmu sebagai manusia juga tidak diragukan.. Jadi tidak masalahkan aku menerimanya?"

"Apa kau yakin? Kau tidak takut kalau Luhan hanya akan menganggapmu pelampiasan?"

"Aku tidak peduli, asal aku bisa bersama Luhan.. Bukan masalah bagiku menjadi pelampiasan Luhan.. Aku akan senang jika dia juga senang.."

"Apa kau begitu mencintainya?"

"Sangat mencintainya.. Aku telah mencintainya sejak SMA.. Namun aku tidak pernah berani mendekatinya karena dia selalu bersamamu dan dia juga mencintaimu.."

"Lalu?"

"Lalu apalagi? Sekarang waktu yang tepat untukku merebutnya darimu.. Kau sudah tak mencintainya dan dia membutuhkan orang yang peduli kepadanya.. Apa kau masih tak akan memberikannya kepadaku?"

Satu desahan berat lolos dari bibir tebalnya. "Dia telah mengusirku dari apartemennya. Dia tahu, aku tidak lagi mencintainya.. Kalau kau memang mencintainya, bawa dia bahagiakan dia.. Maaf kalau aku menyakiti orang yang kau cintai..."

"Chanyeol-sshi... Kau tidak menyakitinya.. Setidaknya kau pernah memberikan cinta yang tulus kepadanya.. Mungkin jodoh Luhan bukan denganmu sehingga Tuhan membuatmu seperti ini.." sejenak ia menyeruput Ice Americano-nya. "Pasti.. Pasti aku akan membahagiakannya dan merawat anakmu baik-baik.. Aku akan mencintainya seperti anakku sendiri.."

Chanyeol tak pernah tahu kalau orang yang tengah berada didepannya ini sungguh-sungguh dengan perkataannya. Semula ia tak percaya dengan informasi yang dibawa oleh Sungyeol tentang hal ini. Namun setelah mendengarnya, rasanya memang sekarang saat untuk melepaskan Luhan. Daripada ia harus tersiksa dengan Chanyeol.

Beberapa hari lalu, Sungyeol bercerita kepada Chanyeol bahwa kolega Chanyeol ada yang tertarik dengan sekertaris Luhan. Bahkan koleganya meminta Sungyeol untuk menanyakan apakah Chanyeol masih mencintai Luhan atau tidak. Chanyeol juga tidak tahu, Oh Sehun koleganya ini mendapatkan berita darimana atas keretakan hubungannya dengan Luhan. Sempat Chanyeol meragukan sosok lelaki ini tapi Sungyeol meyakinkan terus sehingga ia memutuskan untuk meminta Sungyeol mengatur waktu agar bisa bertemu dengannya. Masalah ini sedikit menganggu Chanyeol beberapa hari sampai ia tak sempat menemui Baekhyun.

Mungkin karena ini juga sebagai jalan dari masa depannya dan masa depan Luhan serta sebagai jalan Chanyeol untuk bisa kembali bersama Baekhyun.

"Bagaimana? Chanyeol-sshi..." Tanya Sehun membuyarkan lamunannya.

"Eh?" Chanyeol tersentak lalu tersenyum. "Kalau kau memang serius dengan Luhan, aku akan memberikannya kepadamu.. Buat Luhan mencintaimu... Aku mengiklhaskan dia bersama orang yang mencintainya.."

"Terima kasih Chanyeol-sshi... Sungguh senang bisa mengenalmu... Tenang, aku akan mencintai kedua orang itu dengan sepenuh hati.. Luhan dan anakmu..."

Dahi Chanyeol tampak berkerut. "Tapi... Bagaimana dengan anakku jika dia sudah dewasa nanti?"

Sehun tertawa.. "Hahahaha, itu bisa kita bicarakan nanti.. Kalau kau mau, kau bisa membawanya.. Tapi kau pasti tidak tega kan dengan ibunya?" canda Sehun. "Nanti ada saatnya untuk menceritakan semua."

"Baiklah kalau begitu.. Aku memberikanmu lampu hijau .." Ucap Chanyeol dengan mantap. Ia telah memutuskan untuk melepas Luhan dan memperbaiki hubungan dengan Baekhyun.

Keduanya memutuskan untuk mengakhiri pertemuan ini. Chanyeol telah merasa tenang. Setidaknya, satu masalah telah ada jalan keluarnya. Ia berterima kasih kepada Tuhan atas semua ini. Sekarang yang bisa ia lakukan hanya mendo'akan dan membantu Sehun mendapatkan Luhan meski terkesan jahat sekali. Selain itu hal yang sangat penting baginya.. Membuat Baekhyun kembali kepadanya.

.

.

.

.

.

Warna hitam telah menghilangkan langit biru yang membentang. Bulan juga sedikit menengok kehidupan di bumi. Semilir dingin musim semi merebak hingga menyentuk kulit mulus Baekhyun yang tengah menikmati malam dari balik jendela.

Kreekkk...

Terdengar pintu terbuka, Baekhyun sudah hafal siapa yang datang. Sehingga ia tak memalingkan pandangannya dari sana.

"Baekhyun noona... Waktunya makan..."

Benar saja, itu adalah Taehyung adik tercinta Baekhyun membawa nampan seperti biasa.

"Ayo makan noona... Jangan pura-pura tidak mendengarku..." ucap Taehyung mendekat kearah Baekhyun.

Baekhyun hanya menoleh sebentar lalu kembali memandang puluhan mobil yang berlalu lalang di jalanan.

"Noona tidak berniat mogok makan lagi kan?" sindir Taehyung. Adik kecil Baekhyun ini memang suka bercanda dengan Baekhyun.

Lantas Baekhyun tersenyum lalu menggeleng. "Suapi aku..." ujarnya kemudian.

"Naaahhh... begitu dong noona... Ini baru noona-ku sayang..." Sorak Taehyung antusias. "Sekarang buka mulutmu noona... Aaaaaa..." Taehyung menyuapkan satu sendok makanan yang ia bawa.

Baekhyun melahap makanan itu dan melumatnya pelan. Beberapa suapan telah masuk kedalam perut Baekhyun. Mungkin karena lapar atau bagaimana, satu piring penuh telah habis tidak seperti biasanya.

"Waaaa... Ini hebat... Kau menghabiskan semuanya noona..." Taehyung bersorak lebih gembira. Di peluknya noonanya itu dengan erat dan penuh semangat.

Pelukan Taehyung terlepas kala dering ponsel Baekhyun berbunyi.

Please don't stay in my heart once you're gone
ajigdo naega neol wonhajanh-a
deo isang nae gwisga-e meomulji ma (because)
I wanna listen. I wanna listen your sound

"Eoh noona... Ponselmu bunyi..."

Sekilas Baekhyun melirik, nama Chanyeol muncul dilayarnya. Baekhyun tak menjawab dan membiarkannya.

"Tidak kau angkat noona?" tanya Taehyung bingung. Baekhyun menggeleng sebagai jawabannya.

"Kenapa?"

"Tidak apa-apa Tae-ya..." jawab Baekhyun lirih.

Berkali-kali Chanyeol menelpon tapi tak ada jawaban dari Baekhyun. Setelah itu tak ada panggilan dari Chanyeol lagi.

Namun...

Kreekkk...

Pintu kamar Baekhyun terbuka lagi, kali ini Daehyun masuk dengan wajah kusut seperti baru bangun.

Ia mendekat dan menyerahkan ponselnya. "Chanyeol hyung mau bicara denganmu noona... Tolong bicaralah... Aku lelah mendengarnya mengomel.." Ujar Daehyun ketus dan memaksa Baekhyun menerima ponselnya. Detik berikutnya, Daehyun keluar dari kamar diikuti Taehyung.

"Baek... Baekhyun... Apa kau mendengarku?" Suara Chanyeol jelas sekali nyaring di telepon itu.

"I-iya.. ada apa Chanyeol?" tanya Baekhyun lirih.

"Ahhh, syukurlah... Kenapa kau tak mengangkat telponku?"

"Aku baru saja selesai makan Yeol..."

"Sungguh? Kau sudah makan... Waah Baek... Kau..." Suara Chanyeol berubah gembira membuat Baekhyun bingung.

"Ah, aku mau minta maaf aku tidak jadi datang.. Karena ada urusan kantor yang harus diselesaikan.. Kau tidak marah kan Baek?" tanya Chanyeol dengan rasa bersalah.

"Ti-tidak Yeol..."

"Baguslah... Apa kau mau tidur? Tidurlah Baek... Aku akan datang besok... Aku janji..."

"Iyaa.." jawab Baekhyun singkat.

"Ya sudah kalau begitu, selamat malam Baek..."

"Malam..."

"Saranghae..." Chanyeol lantas menutup ponsel tanpa ingin mendengar jawaban Baekhyun.

"Sa-..." ucapan Baekhyun terhenti ketika mendengar bunyi sambungan terputus.

"Ranghae..." lanjutnya lirih..

Baekhyun tak tahu, ia reflek mengatakan itu. Baekhyun tak mengerti. Apa mungkin ia kembali mencintai Chanyeol? Atau sebenarnya rasa itu masih ada?

Entahlah... Baekhyun masih ragu...

.

.

.

.

TBC

.

.

.

Mind to review?

Thanks..

.

.

.

~Deer Luvian~