Too Late for Sorry...
Author :
.
Deer Luvian
.
Main Cast:
.
Byun Baekhyun (GS)
Park Chanyeol
.
Other Cast:
.
Lu Han (GS)
Kim Jongin
Do Kyungsoo (GS)
Kim Joonmyeon
Byun (Jung) Daehyun
Jung Ilhoon
.
Genre:
.
Hurt/Comfort, drama, angst
.
Rated:
.
T-T+
.
Lenght :
.
multi chapter
.
*Disclaimer:
Semua cast yang saya pakai sepenuhnya milik Tuhan Yang Maha Esa. Dilahirkan oleh kedua orang tua masing-masing dan dibesarkan oleh agensi mereka. SM Ent, maupun yang lainnya. Jalan cerita, ide cerita dan segalanya yang berkaitan dengan cerita sepenuhnya milik author. Kalaupun ada kesamaan cerita saya mohon maaf sebesar-besarnya.
This original stories is mine with pairing before WooGyu and I posted on Asianfanfics so If u feel that u've been read it, please bear it! I just re-make my own stories. Thanks for your attention..
This is genderswitch for several cast.
With pairing ChanBaek slight! KaiBaek, ChanLu, HunHan.
Please don't bash! Don't plagiat!
DLDR
.
AU! OOC! GS!
.
Thanks!
.
Summary:
Baekhyun hanyalah seorang istri yang terlalu lama merasakan gerusan di hati. Beberapa saat ia tahan dengan sikap Chanyeol yang terus mengumbar kemesraan dengan Lu Han. Awalnya ia sanggup menahan namun lama kelamaan ia memilih mengakhiri semua. Bagaimana dengan Chanyeol? Apa dia akan tetap sama setelah kepergian Baekhyun?
.
.
Happy Reading ^^,
.
.Chapter 10.
.
.
"Eung..."
Ia menguap sesaat mata sipitnya terbuka. Sebentar ia mengerjab pelan kedua matanya mencoba menghilangkan rasa kantuk yang seolah menyihirnya untuk tetap terlelap. Setelah mata sipitnya membuka sempurna, ia mengedar dalam ruangan besar itu. Ada sesuatu yang aneh disini. Ia melirik benda bundar tergantung didinding dengan dua jarum yang mengarah ke angka sepuluh dan angka sebelas. Rupanya pagi telah lama menggantikan malam. Lantas ia bangkit dari tempat tidur.
Lagi, ia merasa aneh. Ada sesuatu yang terlewat. Ah... ia ingat. Kali ini tidak ada yang membangunkannya. Kemana semua orang di rumah ini? Tidak biasanya ia tak dibangunkan. Setiap pagi ada saja yang bergilir keluar masuk kamar Baekhyun dengan tangan membawa makanan memaksa Baekhyun untuk menelan semua.
Penasaran dengan keanehan ini, Baekhyun memilih untuk keluar kamar. Kali pertama ia menginjakkan kaki di ruangan itu setelah hampir sebulan lebih mendekam di kamar tanpa ada niatan untuk menjenguk ruangan lain. Mata sipitnya menyapu ruangan besar itu. Sepi... Kemana tiga orang lainnya? Kalau Daehyun ia tahu, Daehyun telah kembali ke Jeonju. Tapi Nam Jihyun? Nam Taehyun? Dan si bungsu Byun Taehyung? Kemana mereka?
Langkahnya membawa Baekhyun memasuki ruangan penuh dengan perabotan masak. Sebuah ruang didesain elegan dengan keramik berwarna abu-abu. Tangan halusnya membuka lemari pendingin mencari sebuah makanan yang mampu mengganjal perutnya. Ia mengambil sebuah roti yang kebetulan ada di dalam dan sebotol air putih dingin. Lalu membawa ke meja makan dan menikmatinya.
"Eoh, Baekhyun noona... Apa yang kau lakukan disini?" seru pemuda berkulit pucat terkejut dengan kehadiran sosok yang ia tahu tak pernah keluar kamar.
Baekhyun menoleh, wajahnya berubah masam. "Kalian kemana saja? kenapa sepi sekali?" tanya Baekhyun sedikit kesal.
Pemuda itu tertawa pelan. "Aku baru mandi noona... Maaf kalau belum sempat membangunkanmu." Jawabnya.
"Lalu, Jihyun unni? Taehyung? Kemana mereka?"
Taehyun mengambil botol minum di lemari es. "Mereka sedang ada urusan. Jihyun unnia sedang ke kantor kalau Taehyung dia menemui temannya.." balasnya lalu meneguk air yang ia pegang.
"Ahh, lalu kau akan pergi kemana?" tanya Baekhyun heran. Ia tahu, pemuda di depannya ini jarang mandi kalau memang tidak akan keluar.
Sebuah cengiran diukir dari bibirnya. "Aku akan ke rumah teman, ada tugas kuliah yang harus aku salin darinya."
Sekejap, ekspresi kecewa Baekhyun terlihat jelas di wajahnya. "Kau akan meninggalkanku sendiri?" tanyanya sedih. Baekhyun mengerucutkan bibirnya lucu.
Taehyun mendekati Baekhyun kemudian duduk disebelahnya. "Maaf noona... Ah... Bagaimana kalau aku panggilkan Chanyeol hyung?" ujar Taehyun sedikit menggoda. Pasalnya ia tahu, hyung satunya itu sering datang kemari dan pasti akan siap sedia kalau dipanggil sewaktu-waktu.
"Yaaa! Nam Taehyun..." seru Baekhyun tak suka. Walau ia menolak namun pipinya bersemu merah.
Lelaki lebih muda lima tahun dari Baekhyun ini tetap menggodanya kala melihat wajah Baekhyun memerah. "Kenapa noona? atau mau aku panggilkan Ilhoon? Mungkin dia mau menemanimu.."
"Eum." Baekhyun mengangguk.
Detik berikutnya, Taehyun mengambil ponselnya dan menelpon orang yang dimaksud.
"Eoh, Ilhoonie.. Apa kau sedang sibuk?"
"..."
"Ahh, kau ada kuliah yaa? Tidak, ini di rumah tidak ada orang dan Baekhyun tidak punya teman. Dia memintamu untuk menemaninya.."
"..."
Taehyun mendesah pelan, "Yaa sudah... Sukses buatmu yaaa.."
"Okee.." lantas Taehyun memutuskan sambungan teleponnya. Ia memandang wajah Baekhyun yang tampak kecewa saat mendengar jawaban Ilhoon.
"Bagaimana noona? Ilhoon juga tidak bisa, aku panggilkan Chanyeol hyung saja yaaa..." tutur Taehyun lalu ia menatap Baekhyun dalam. "Tidak apa-apa noona... dari pada kau harus sendirian... Belum tentu mereka datang cepat noona..." lanjutnya mencoba meyakinkan Baekhyun.
Baekhyun hanya menggigit bibirnya, ia bingung. Sebentar ia berpikir kalau ia hanya sendiri nanti ada apa-apa malah membuatnya takut. Mau tidak mau ia mengangguk.
"Asa... Tunggu nooa, aku akan menelpon Chanyeol hyung..."
Beberapa detik berikutnya..
"Chanyeol hyung... Ini Taehyun, hyung kau tidak sibuk kan? Bisa hyung temani Baekhyun noona? benarkah? Oke... Akan ditunggu Baekhyun.. Aku akan pergi sekarang.."
Setelah itu Taehyun memandang kembali wajah Baekhyun. Ia ingin tahu bagaimana ekspresi Baekhyun. Benar seperti dugaannya, Baekhyun tertunduk malu dan sedikit cemas. Mungkin di pikirannya bergelayutan hal-hal aneh yang akan terjadi kepadanya.
Sebentar ia memandang mata sipit Baekhyun intens. "Apa kau masih mencintai Chanyeol hyung?" tanyanya serius.
Baekhyun terhenyak kaget mendengar pertanyaan ini. Ia menunduk lalu mengalihkan pandangannya.
"Noona... Kau masih mencintai Chanyeol hyung kan?" tanyanya lagi.
"Taehyun..." Baekhyun mengangkat kepalanya lalu menggeleng.
Taehyun memicingkan matanya. "Bohong..."
Kedua mata wanita sipit itu memicing semakin sipit. "Aku bohong apa Taehyun?" tanyanya bingung.
"Aku tahu kau bohong noona... hahahahah.." gelaknya kemudian. Lantas ia beranjak dari duduknya dan hendak meninggalkan Baekhyun.
Sedang wanita bermata sipit ini hanya menatapnya dengan pandangan penuh tanda tanya. Pikirannya bercampur, ia bingung dengan kata-kata Taehyun. Selain itu, ia sendiri juga bingung saat ditanya apakah ia mencintai Chanyeol atau tidak... Ia masih ragu... Ia tak yakin... Namun... Entahlah...
Beberapa saat kemudian, Baekhyun telah kembali ke kamar. Taehyun juga sudah keluar meninggalkannya sendiri. Di dalam kamar Baekhyun hanya berdiam diri. Menatap bingung jalanan yang ramai dengan lalu lalang mobil. Banyak pikiran yang menghantuinya, terutama tentang keadaannya setelah ini. Dimana Chanyeol akan datang kerumah yang hanya meninggalkan dia sendiri.
Dadanya bergemuruh tak tenang, darahnya mendesir. Detak jantungnya berdetak lebih cepat. Apa ini? apa yang ia rasakan saat ini? kenapa ia begitu gelisah dan tak tenang seperti ini?
Demi membunuh perasaan tak bersahabat dengan dirinya, Baekhyun memilih pergi ke kamar mandi dan mengguyur tubuhnya. Ia ingin lebih segar dan terlihat lebih menarik. Entah apa yang membuatnya seperti ini? Atau karena ia akan bertemu dengan Chanyeol? Mungkin saja..
Sejam sudah Baekhyun selesai mandi dan berdandan. Ia berpakaian lebih 'menarik' daripada biasanya. Bahkan ia memperhatikan wajahnya apakah wajahnya terlihat buruk atau tidak. Setelah dirasa cukup, ia turun ke bawah menuju ruang TV. Menunggu kedatangan Chanyeol membuatnya sedikit tegang dan gelisah. Sampai-sampai ia tak fokus melihat acara yang muncul di kotak kaca depannya. Berulang kali ia mendesah pelan. Lama... terasa lama sekali seolah jarum jam tak beranjak dari tempatnya dan waktu berhenti seketika.
Namun, beberapa menit berlalu...
Ting...Tong...Ting...Tong...
Baekhyun segera beranjak dan membuka pintu kayu itu. Sesosok manusia tampan dengan wajah ceria menyunggingkan senyum seketika pintu itu terbuka.
Baekhyun hanya memandang Chanyeol datar. Bibirnya serasa berdarah karena terlalu keras ia menggigitnya.
"Apa kabar Baek?" sapa Chanyeol sumringah.
Sedikit bibir Baekhyun tertarik kedua sisinya. "Baik..." jawabnya lirih.. "Masuklah..." lanjutnya lagi.
Chanyeol mengikuti Baekhyun dari belakang. Sedikit aneh saat Baekhyun menyambutnya karena biasanya saudara Baekhyun yang menyambut pertama kali. Ia merasa saat ini layaknya ia masih berumah tangga. Sekilas ia terkekeh dalam pikirannya membayangkan hal itu.
Kali ini, hati Chanyeol tak lagi harus merasa pedih ketika melihat Baekhyun. Sosok yang bersamanya saat ini telah mengembangkan senyum kepadanya kala ia bertamu ke rumah ini. Tidak seperti beberapa saat yang lalu. Bahkan pikiran Chanyeol telah berani berpikir ekstrim jika Baekhyun mulai membuka hati untuknya. Tak ingin terlalu percaya diri namun setidaknya ada sedikit harapan baginya bukan?
Kedua lensa beningnya menyapu bersih rumah ini, benar sepi dan tak berpenghuni. Seperti apa yang dikatakan Taehyun. Kakinya masih mengikuti Baekhyun yang melangkah menuju dapur. Kontan Baekhyun terkejut saat tiba-tiba ia berbalik dan mendapati Chanyeol memamerkan giginya lebar-lebar.
Baekhyun mendesah, "Kenapa kau mengikuti sampai sini?" tanyanya lirih.
"Hehehe, kau sih tidak memberikanku aba-aba untuk tetap di ruang tamu..." kilahnya masih dilengkapi cengiran.
Baekhyun hanya menggelengkan kepalanya. "Duduklah, aku akan buatkan minum..." ujarnya pelan. Kala tangannya akan meracik minuman untuk Chanyeol namun ditahannya.
Baekhyun menoleh, pandangannya seolah bertanya.
"Kajja ikut aku Baek... Kau tak bosan di rumah terus?" tanya Chanyeol dengan nada penuh harap.
Lagi-lagi Baekhyun menggeleng menolak ajakan Chanyeol.
Sontak hal itu membuat Chanyeol mengerucutkan bibirnya. "Baek... Sampai kapan kau menolakku? Ayolah... Ini sudah ke lima kalinya kau menolak ajakanku..." rajuknya.
Ia masih tak menjawab dan mengalihkan diri untuk membuatkan minum. Lelaki berbibir tebal itu mengerucutkan bibirnya sebal. Tangannya segera menggenggam tangan Baekhyun memaksa si empunya untuk melihatnya yang telah memasang wajah memelas.
Baekhyun tak peduli, ia kembali mengaduk minuman yang sempat tertunda.
"Ayolaah Baek... Kita jalan-jalan... Kau benar-benar tidak bosan? Di dalam rumah terus?"
Sebentar keheningan melewati mereka.
"Kau mau mengajakku kemana?" tanya Baekhyun pelan.
Chanyeol menjerit mendengar pertanyaan Baekhyun. "Kau mau kan jalan-jalan denganku? Terserah kau maunya kemana.. Aku akan siap mengantarkannya.." jawab Chanyeol antusias.
"Aku tidak mau kemana-manaYeol..." balas Baekhyun masih dengan nada yang sama, pelan.
"Ahhh BAek~~~..." Rajuk Chanyeol semakin kesal dengan Baekhyun. "Ayolah.. Oke aku akan mengajakmu ketempat yang kau sukai. Aku tahu dimana itu.. Dan ini waktu yang pas untuk kesana.."
Baekhyun menoleh kearah Chanyeol dengan pandangan penasaran. Sosok yang dipandang itu hanya mengulas senyum manis lalu menggandeng tangan Baekhyun agar mengikutinya. Tak bisa menolak atau memang penasaran dengan kata-kata Chanyeol, ia hanya menurut kemana setiap langkah Chanyeol menjejak.
.
.
.
.
.
Ratusan bunga bahkan ribuan bunga tampak berjejer indah di setiap sisi taman itu. Kelopak warna-warninya telah sempurna terbuka memberikan keindahan yang tiada tara. Harum khas musim semi yang tercipta dari aroma menenangkan puluhan bunga itu menyentuh indera penciumannya dengan sangat kuat. Sampai-sampai tak ada aroma lain selain keharuman semerbak bunga-bunga itu.
Langkah kakinya tercipta di setiap jalur setapak yang disiapkan khusus untuk pejalan kaki. Mata sipitnya mengedar sejalan pandangan indah yang tak pernah lepas dari jejeran bunga-bunga itu. Berulang kali bibir merah muda menggoda miliknya tak berhenti merekah layaknya apa yang tengah ia lihat.
Hatinya begitu senang melihat semua ini. Sudah lama, ia tak menikmati hal-hal yang menjadi kesukaannya bercengkrama dengan makhluk hidup serba indah ini. Segera saja ia duduk di salah satu bangku panjang diikuti lelaki tampan yang sedari tadi hanya mengekor di belakang.
"Kau suka kan Baek..." ucapnya kala tangan halus milik wanita bersurai cokelat terang itu menyentuh sayang tanaman itu.
Baekhyun tersenyum manis. "Eum, sudah lama aku tidak melihat bunga-bunga ini... Kau benar ini sangat indah..." tuturnya lirih. Pandangan matanya masih fokus pada objek di depannya.
"Syukur kalau kau menyukainya... Kembalikan suasana hatimu dengan melihat ini Baek.. Jangan selalu berdiam diri di dalam rumah. Itu tak akan membuatmu kembali ceria..." celoteh Chanyeol panjang lebar. Baekhyun hanya tersenyum tipis.
"Baek... Apa kau mau ice cream? Kalau mau aku akan belikan untukmu..." tawar Chanyeol ketika lensa kembarnya menerkam penjual ice cream yang terlihat menggodanya.
Baekhyun mengangguk kecil, matanya menyipit menanggapi tawaran Chanyeol. Langsung Chanyeol beranjak dan menghampiri penjual ice cream itu.
Baekhyun masih menikmati aktivitasnya membelai sayang tanaman yang selalu menemaninya dulu. Sungguh, memperhatikan kelopak bunga itu membuatnya bersemangat. Dalam hati ia berterima kasih dan bersyukur atas apa yang dilakukan Chanyeol kepadanya.
Perhatian Chanyeol seolah tak pernah berhenti mengalir kepada Baekhyun. Sudah sejak beberapa hari yang lalu Chanyeol rajin mengunjungi Baekhyun. Berbagai cara Chanyeol gunakan untuk menarik perhatian Baekhyun, dari memberi boneka, kue ataupun barang-barang lainnya. Sama sekali Chanyeol tak pernah lelah untuk merebut kembali hatinya, ia berusaha sepenuh hati. Hal itu sedikit membuat Baekhyun untuk 'menerima' kehadiran Chanyeol kembali, menerima sikap-sikap Chanyeol, perhatian Chanyeol dan cinta Chanyeol. Terkadang pikirannya menolak, namun...
Setengah jam lebih Chanyeol belum juga kembali. Baekhyun sedikit gelisah, pasalnya ia tak melihat Chanyeol berada dipenjual ice cream yang tak jauh dari mereka. Pikiran Baekhyun berputar kalut. Kemana Chanyeol? Kenapa ia meninggalkannya? Tak mau berpikiran buruk, Baekhyun mencoba mencarinya. Ia melangkah menjauh dari tempat semula.
Dari jauh, lensa kembarnya menyorot penuh tanda tanya kerumunan yang ada di seberang jalan. Ada apa ini? Ia mendekat, beberapa orang berkumpul dengan ekspresi penuh rasa kasihan. Ia sempat bertanya namun orang yang ditanya malah bergidik ngeri, semakin membuat Baekhyun bingung.
"Waahh, kasihan sekali dia... Dia tampan... Tapi kenapa harus seperti itu..." kalimat-kalimat seperti itu terus menyerbu pendengarannya.
"Yeobo... bangun sayang... Yeobo... Bangun..." teriakan itu memancing sosok bermata sipit itu mendekat.
Ia masih tak tahu dengan apa yang terjadi, entah karena ia terlalu lambat berpikir atau karena memang ia tak mampu membaca situasi ia masih tak paham. Sedikit ia mendekat, iris segaris miliknya menangkap sosok yang ia cari. Ia tengah melongok melihat apa yang terjadi.
"Chanyeol.. Ada apa?" Tanya Baekhyun seraya melonggokkan kepalanya, berharap dapat jawaban dari rasa penasaran itu, sosok di depannya berbalik dan mendapati Baekhyun mencoba mencari tahu sesuatu namun reflek Chanyeol menutup telinga Baekhyun dan mengarahkan pandangan Baekhyun agar melihat ke arah bola matanya.
Baekhyun tak mengerti apa maksud Chanyeol melakukan itu, ia penasaran dan heran. Namun, tubuhnya seakan tak menolak itu, ia tak berontak dan tak memaksa Chanyeol untuk melepaskannya. Mata sipitnya hanya menyorot penuh tanda tanya dengan sesekali mengerjab bingung. Sedang Chanyeol hanya menggelengkan kepalanya memberikan isyarat untuk tetap berada dalam posisi itu dan jangan pernah menoleh kearah lain. Hanya ke wajahnya dan ke matanya. Tatapan tulus Chanyeol meluluhkan Baekhyun. Tak pelak hal itu membuat jantung Baekhyun berdetak lebih cepat tak karuan dan darahnya mendesir perlahan. Jika saja mungkin, nafasnya telah tersengal-sengal.
"Yeobboo... Bangun... Jangan pergi.. Ahh... Jangan Pergi..."
"Kasian dia, dia tampan dan masih muda tapi harus meninggal dalam kecelakaaan.."
"Iyaa, apalagi lihat! Istrinya sedang mengandung... Ah kasihan sekali..."
Sayup-sayup suara itu tak mampu menembus dinding tangan Chanyeol, sengaja Chanyeol melakukan itu. Ia hanya tak mau, kejadian yang baru saja terjadi ini akan menggoyahkan hati Baekhyun dan mengingatkan Baekhyun pada Jongin yang mengalami hal sama. Ia tak mau, Baekhyun kembali menjadi sosok pemurung dan sedih berkelanjutan. Chanyeol tak ingin sosok di depannya ini menghilangkan senyumnya karena teringat kejadian naas itu.
Untuk beberapa menit, waktu seolah berhenti berputar. Keduanya tetap dalam posisi yang sama. Berdiam diri dengan wajah saling bertatapan dan kedua tangan Chanyeol menutup rapat pendengaran Baekhyun. Mereka tak memperdulikan orang yang berlalu lalang di hadapan mereka. Ah bukan mereka, hanya Chanyeol yang tak peduli. Sedangkan Baekhyun mencoba melepaskan tangan Chanyeol setelah merasa ada yang aneh dengan Chanyeol.
"Chan-..." Ucap Baekhyun seraya menarik tangan Chanyeol agar turun. Alih-alih tangannya turun menjauh, Chanyeol malah menarik tubuh Baekhyun untuk mendekat dan jatuh ke dalam pelukannya. Lagi-lagi Baekhyun tak mengerti dengan sikap Chanyeol, lagi-lagi Baekhyun harus mengontrol detak jantung yang berpacu lebih cepat. Apa yang terjadi? Bibir tipis Baekhyun akan membuka. Tetapi...
"Biarkan seperti ini Baek... Jangan melihat kemanapun.. tetap di pundakku hingga aku melepaskannya..." ucap Chanyeol tegas.
Baekhyun menggigit bibir bawahnya bingung. "T-tapi Yeo;... Mereka melihat kita... Aku malu..." jawab Baekhyun lirih.
"Biarkan saja... Jangan pedulikan orang lain..." tanggap Chanyeol.
Wanita bersurai cokelat terang itu mengikuti kata-kata Chanyeol. Tak tahu Chanyeol menggunakan sihir apa sehingga untuk kesekian kalinya hari ini Baekhyun mengikuti tanpa memberontak.
Beberapa saat berlalu hingga Chanyeol melepaskan pelukannya dan kembali menatap sayang mata sipit Baekhyun.
"Ma-maaf Baek... Aku melakukan ini untukmu..."
Baekhyun mengernyitkan dahinya. Ekspresinya memaksanya untuk bercerita.
Senyum tipis mengulas dari bibir Chanyeol. "Ini bukan sesuatu yang harus dan boleh kau lihat Baek... Ah iya, maaf kalau aku meninggalkanmu terlalu lama dan membuatmu harus mencariku.. Ayo, kita cari ice cream seperti janjiku.." Tangan Chanyeol menggandeng Baekhyun dan menyeret paksa Baekhyun.
Lagi dan lagi, untuk berulang kalinya Baekhyun hanya menurut saja. Seolah dirinya telah dikendalikan oleh Chanyeol.
Keduanya berjalan menuju penjual ice cream. Lantas Chanyeol memesan ice cream, satu ice cream coklat untuknya dan stoberi untuk Baekhyun. Setelah mendapatkan apa yang diinginkan, mereka duduk di taman seraya menikmati ice cream. Baekhyun tersenyum manis sekali seraya mengucapkan terima kasih kepada Chanyeol. setidaknya, Chanyeol telah membawanya untuk 'terbuka' dengan dunia. Tidak hanya berdiam diri di dalam kamar seperti selama ini.
Setelah langit mulai sedikit menggelap, Chanyeol mengajak Baekhyun untuk pulang. Baekhyun menurut saja karena memang ia juga telah merasa lelah. Keduanya masuk ke dalam mobil Chanyeol dan segera Chanyeol melajukan mobilnya kencang-kencang.
Sejam kemudian, Baekhyun telah berada di depan rumah. Sang tuan rumah, Nam Jihyun juga sudah menunggu Baekhyun karena hari telah berganti malam. Lelaki tampan itu pamit pulang. Ia mengulas senyum manis dan mengucapkan terima kasih kepada Baekhyun. Hal itu dibalas sama pula oleh Baekhyun, ukiran senyum yang mengembang dari bibir tipisnya. Dan senyum kali ini bukan sekedar senyum, melainkan sebuah senyum tulus yang ia berikan kepada Chanyeol setelah sekilan lama tak Chanyeol dapatkan.
Baekhyun melambaikan tangannya seiring berjalannya mobil Chanyeol. Mata sipitnya tak berhenti mengikuti gerak mobil itu hingga menghilang dari pandangannya. Detik berikutnya, senyum manis kembali terukir dan ekspresi bahagia tergores indah diwajah manisnya.
Baekhyun mulai merasakan kembali perasaan lain yang telah lama pergi, semenjak kehilangan Jongin. Namun, ia masih belum berani untuk mengungkapkan dan berharap lebih karena ia takut hal itu akan menghancurkannya kembali untuk ketiga kali dalam hidupnya.
.
.
.
.
.
.
TBC
