Too Late for Sorry...
Author :
.
Deer Luvian
.
Main Cast:
.
Byun Baekhyun (GS)
Park Chanyeol
.
Other Cast:
.
Lu Han (GS)
Kim Jongin
Do Kyungsoo (GS)
Kim Joonmyeon
Byun (Jung) Daehyun
Jung Ilhoon
.
Genre:
.
Hurt/Comfort, drama, angst
.
Rated:
.
T-T+
.
Lenght :
.
multi chapter
.
*Disclaimer:
Semua cast yang saya pakai sepenuhnya milik Tuhan Yang Maha Esa. Dilahirkan oleh kedua orang tua masing-masing dan dibesarkan oleh agensi mereka. SM Ent, maupun yang lainnya. Jalan cerita, ide cerita dan segalanya yang berkaitan dengan cerita sepenuhnya milik author. Kalaupun ada kesamaan cerita saya mohon maaf sebesar-besarnya.
This original stories is mine with pairing before WooGyu and I posted on Asianfanfics so If u feel that u've been read it, please bear it! I just re-make my own stories. Thanks for your attention..
This is genderswitch for several cast.
With pairing ChanBaek slight! KaiBaek, ChanLu, HunHan.
Please don't bash! Don't plagiat!
DLDR
.
AU! OOC! GS!
.
Thanks!
.
Summary:
Baekhyun hanyalah seorang istri yang terlalu lama merasakan gerusan di hati. Beberapa saat ia tahan dengan sikap Chanyeol yang terus mengumbar kemesraan dengan Lu Han. Awalnya ia sanggup menahan namun lama kelamaan ia memilih mengakhiri semua. Bagaimana dengan Chanyeol? Apa dia akan tetap sama setelah kepergian Baekhyun?
.
.
Happy Reading ^^,
.
.Chapter 13.
.
.
Waktu masih menunjukkan pukul delapan pagi, namun sosok tampan ini telah bergelut dengan setumpuk dokumen yang seakan tak membiarkannya mengalihkan pandangan. Tangannya dengan cekatan membuka satu persatu lembaran itu, membaca dengan teliti lalu menutup. Beberapa kali bentuk wajahnya berubah-ubah. Terkadang bibirnya tertarik, terkadang dahinya mengerut bahkan tak jarang bibir penuhnya mengerucut.
Hampir sejam ia bergumul dengan beberapa file penting itu. Lama ia meninggalkan kantor untuk urusan pribadi membuatnya harus ekstra mengorbankan waktu paginya demi menyelesaikan pekerjaan.
"Yaaa! Lihatlah uri sajangnim... Masih subuh sudah datang ke kantor.." suara itu menggema kala pintu geser terbuka lebar.
"O o o , kenapa kau sibuk sekali?" tanyanya seraya mendekat ke arah meja.
Sosok yang dimaksud hanya memandangannya sekilas lalu kembali fokus kepada dokumen-dokumen itu.
"Yaa! Park Chanyeol... Jangan terlalu sibuk... Nanti kau kelelahan..." tukasnya dengan nada menggoda.
Chanyeol meletakkan dokumen yang tengah ia bawa lalu memandang sosok itu dengan sedikit desahan.
"Aku harus menyelesaikan ini semua.." balasnya pelan.
"Kenapa? Kan masih bisa dilakukan nanti Chanyeol..."
Chanyeol memutar kedua bola matanya. "Aku sibuk nanti malam..." sahut Chanyeol.
Lelaki berwajah imut itu melihat daftar jadwal rapat Chanyeol. Mata bulatnya memperhatikan betul satu persatu tanggal dan jam.
"Tidak ada jadwal rapat hari ini, lalu apa yang membuatmu sibuk?" tanyanya penasaran.
"Aku akan ke rumah Baekhyun..." jawab Chanyeol seraya meregangkan otot tangannya. "Lagi..."
"Oh, kau akan berusaha lagi?" Ia megangguk-angguk paham.
"Ah, Sungyeolie..." Chanyeol beranjak dari duduknya lalu mendekat kearah bawahannya. "Apa kau punya cara untuk menaklukkan hati seseorang?" tanya Chanyeol setengah berbisik.
"Hahahahahahahaha..." Alih-alih menjawab, Yoseob malah tertawa keras.
Sontak hal itu membuat Chanyeol melayangkan pukulan ke kepalanya.
"Auuu, sakit Yeol..." rintihnya dengan mengusap kepala. "Aku tidak pernah menaklukan hati seseorang. Malah aku yang takluk kepadanya.."
"Eoh? Bagaimana?"
"Apa yang sudah kau lakukan atau kau berikan kepada Baekhyun? Bunga? Kue? Jalan-jalan? Ciuman? Boneka?" tanya Yoseob.
Sesaat Chanyeol mengatupkan bibirnya lalu menjawab. "Hampir semua sudah aku lakukan kecuali ciuman..." jawabnya lirih.
Lelaki berparas bak anak kecil itu mendengus. "Sungguh? Kau belum pernah berciuman dengan Baekhyun?" tanya Yoseob tak percaya namun bagaikan sindiran untuk Chanyeol.
Chanyeol menggeleng.
"Kalau begitu taklukan dia dengan ciuman..." ujarnya lagi.
Sebentar lelaki tampan itu mengerutkan keningnya. "Apa bisa?" tanya Chanyeol polos.
"Chanyeol... Jangan sok polos.. Ini bukan cinta pertamamu kan? Ini bukan pengalaman pertamamu kan? Jangan bersikap seperti baru pertama kali dan terlihat bodoh..."
"Ini akan berhasil, orang akan bisa menilai apakah dia benar-benar mencintainya dengan ciuman.. Ciuman penuh rasa tulus bukan sekedar nafsu.. Atau kalau tidak tidur dengan dengan Baekhyun..."
Plettak...
Sebuah dokumen di tangan mendarat tepat di kepala Sungyeol.
"Yaaahhh! Kau gila, mana mungkin aku tidur dengan Baekhyun? Aku belum pernah sama sekali tidur dengannya..." bentak Chanyeol kesal dengan ucapan Yoseob.
"Hahahaha, sudah ku duga.. Mana berani kau melakukan itu dengan Baekhyun..."
Sekelebat bayangan tentang kata-kata Sungyeol melenggang bebas di pikiran Chanyeol. Ia merutuki dirinya sendiri, kenapa ia sama sekali belum pernah tidur dengan Baekhyun? Padahal dulu lama mereka menikah. Saat pikiran-pikiran nakal bergelayutan di otaknya reflek bibirnya tertarik hingga membuat Sungyeol menjerit antusias.
"Yaaa! Park Chanyeol! Kau sedang memikirkannya eoh? Hahahahaha..."
Kontan hal itu membuat Chanyeol malu hingga wajahnya memerah. Langsung saja Chanyeol mengalihkan pandangannya dan kembali fokus ke file-file yang ada di depannya.
Sedang lelaki berparas imut itu hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah Chanyeol. Ia hapal betul bagaimana keadaan Chanyeol. Saat ini kondisinya jauh lebih baik dan terlihat bahagia dibandingkan dengan beberapa bulan yang lalu. Bahkan, hampir setiap hari senyum selalu mengembang dengan aura cerah mengitari wajahnya.
.
.
.
.
.
Di kediaman keluarga Nam ada sesuatu yang berbeda pagi ini. Jika biasanya setiap pagi Nam Jihyun bertugas untuk membuat sarapan, rupanya sekarang Baekhyun turun tangan sendiri menyiapkan keperluan makan untuk keluarga Nam. Setelah perasaannya kembali normal dan ia mulai bersemangat untuk 'hidup' kembali, Baekhyun menggantikan tugas Jihyun untuk urusan masak memasak.
Seperti saat ini, Baekhyun tengah berada di dapur dengan beberapa alat masak mengitarinya. Tangannya begitu cekatan memotong satu persatu sayuran yang ada dan mulai memasaknya. Lama ia tak memegang pisau tak membuatnya kaku, dengan sangat tenang dan senang ia memasak sarapan pagi. Sesekali siulan ringan meluncur dari bibir tipis miliknya.
Beberapa waktu berlalu, lebih dari satu mangkuk sayur telah tersedia dan siap dinikmati di atas meja. Baekhyun telah selesai memasak. Saat ia akan memanggil keluarga untuk makan pagi, bel apartemen berbunyi.
"Eoh? Siapa itu? Taehyung-ah...! Bukakan pintunya..." Seru Baekhyun dari dalam dapur.
Taehyung dan hyungnya tengah menikmati tayangan televisi di ruang tengah. Mendengar seruan dari sang noona tak membuat Taehyung lantas berdiri dan membukakan pintu.
"Hyung... Taehyun hyung... Bukakan pintunya..." alih-alih melakukan apa yang disuruh Baekhyun, Taehyung malah menyuruhTaehyun yang berada tak jauh darinya.
"Yaa! Kau yang disuruh Tae-yaa..." protes Taehyung seraya melempar bantal ke arah Taehyung.
Taehyung mendengus, "Baekhyun noona... Taehyun hyung tidak mau membukakan pintu..." teriak Taehyung mengadu kepada Baekhyun.
Sontak hal itu mengundang Baekhyun untuk mendekat ke ruang tengah. "Yaa! Byun Taehyung! Noona menyuruhmu... Kenapa kau menyuruh Taehyun? Sana bukakan pintu..." tanggap Baekhyun sedikit menahan kesal.
Dengan hati sedikit kesal, Taehyung bangkit dari duduknya dan melangkah ke arah sumber suara. Sebentar ia mengintip layar kecil di sebelah pintu lalu membukakan pintunya. Dua orang telah berdiri dengan anggun di depan pintu menanti pintu itu terbuka. Bocah manis itu tertegun sejenak mencoba mengenali siapa yang menamu. Detik berikutnya ia teringat bahwa mereka adalah teman Baekhyun.
Lantas Taehyung mengajak mereka untuk masuk dan mempersilahkan duduk.
"Siapa Tae-ya yang datang?" tanya Baekhyun seraya membawa makanan. Belum sempat Taehyung menjawab pertanyaannya, Baekhyun lebih dulu menjerit. "Aahhh... Kyungsoo... Junmyun oppa..." seru Baekhyun lalu meletakkan makanan yang ia bawa.
"Baek..." Segera Kyungsoo dan Junmyun memeluk Baekhyun erat. Keduanya sangat merindukan sosok Baekhyun yang mereka rasa sedikit berubah daripada terakhir kali bertemu.
Pelukan ketiganya sejenak dilepas oleh Baekhyun. Mata sipitnya memandang sayang Kyungsoo dan Junmyun secara bergantian.
"Aku merindukan kalian..." tukas Baekhyun seraya kembali memeluk mereka.
Kyungsoo kembali mengeratkan pelukannya. "Sama, kita juga.. Bagaimana kabarmu Baek? Baik-baik saja kan?" tanya Kyungsoo.
"Eung, aku baik-baik saja. Kaja duduklah.. Akan aku bawakan kalian minum..." ucapnya seraya melepaskan pelukan Kyungsoo. "Ah, bagaimana kalau kalian ikut makan kita saja? Aku baru saja buat sarapan... Ayo kita sarapan.." ajak Baekhyun.
Keduanya lantas mengiyakan ajakan Baekhyun. Mereka membuntuti langkah Baekhyun hingga ke meja makan diikuti lainnya. Hanya butuh waktu semenit, ke enam orang termasuk Kyungsoo dan Junmyun telah memutari meja makan. Siap untuk menerima pasokan nutrisi pagi itu.
Setelahnya, dengan sangat perhatian Baekhyun memberikan masing-masing piring penuh nasi kepada setiap anggota keluarga. Tak lupa segelas air minum dan segelas susu juga tersedia di sebelah makan pagi.
Sebentar suasana berubah lebih tenang hanya sesekali dentingan yang beradu dari piring dan sendok yang mereka pakai. Seolah tak nyaman dengan keadaan yang hening, Baekhyun membuka suara di tengah aktivitas sarapan.
"Ada apa kalian kemari? Bukan hanya karena merindukanku kan?" canda Baekhyun seraya menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.
Kyungsoo terkekeh pelan. "Aku sangat merindukanmu Baek... Aku ingin bertemu denganmu.."
"Iya Baek... Kita merindukanmu.. Namun ada sesuatu yang ingin kita kabarkan kepada Baekhyun..." tambah Junmyun.
Kedua alis Baekhyun menaut, bibirnya mengerucut kecil. "Apa? Kalian membawa kabar apa?" tanya Baekhyun penasaran.
Sekilas sebuah senyum simpul tergores di wajah malaikat Junmyun. Seberkas raut bahagia terpancar dari sana. "Kita akan menikah Baek..." jawab Junmyun malu. Bukan hanya Junmyun, saat Kyungsoo mendengar jawaban itu sedikit rona merah membasahi pipinya.
"Waaa... Selamat... Aku tidak menyangka kalau kalian akan menikah... Sejak kapan kalian berkencan?"
Junmyun berdehem pelan. "Sejak beberapa minggu yang lalu Baek... Aku merasa cocok dengan Kyungsoo meski baru kenal sebentar.."
"Ahh.. Iyaa.. Lalu kapan kalian akan melangsungkan pernikahan?"
"Minggu depan Baek..." jawab Junmyun tanpa ragu-ragu. Sontak hal itu membuat Baekhyun terlonjak kaget.
Mata sipitnya melebar segera. "Eoh? Minggu depan? Kenapa baru sekarang kalian memberi kabar?" tanya Baekhyun seraya mengerucutkan bibirnya lucu. Seolah ia kecewa dengan kedua sahabatnya ini.
"Yaa Baek... Minggu depan itu masih lama... Maaf kita baru kemari karena kita sibuk.." sahut Kyungsoo.
Baekhyun mengangguk-angguk paham. Ia kembali menyuapkan makanan yang sempat berhenti kala bibir tipisnya terus melontarkan pertanyaan untuk tamu spesialnya. Suasana berubah hening sejenak ketika mereka kembali fokus makan. Tak lama, si kecil Taehyung beranjak lebih dulu. Mangkuk makannya juga sudah bersih kemudian disusul Jihyun dan Taehyun meninggalkan Baekhyun, Junmyun dan Kyungsoo. Ketiganya masih berada di meja makan meskipun makanan di hadapannya juga telah bersih.
Beberapa detik kemudian, Baekhyun bangkit lalu membersihkan sisa makanan dan piring-piring itu dibantu dengan Kyungsoo. Keduanya mulai mencuci piring sedangkan Junmyun membersihkan meja makan yang sedikit kotor.
"Baek..." panggil Junmyun seketika ia menghampiri keduanya.
"Eung? Ada apa?" tanyanya seraya mencuci piring satu persatu.
Sebentar terdengar desahan pelan dari Junmyun. "Baek kita akan menikah..." balasnya dengan suara yang terlihat tak senang. Kyungsoo melirik sekilas Junmyun.
"Lalu?" rupanya Baekhyun tak memperhatikan nada suara Junmyun ia masih fokus dengan apa yang ia kerjakan.
"Apa kau tak ada niat untuk menikah lagi?" tanya Junmyun dengan sangat hati-hati dan pelan namun cukup terdengar di telinga Baekhyun. Sontak hal itu membuat Baekhyun menghentikan aktivitasnya dan memandang penuh tanda tanya ke arahnya. Tapi detik berikutnya ia kembali mencuci piring yang tersisa.
"Bu-bukan maksudku menyinggungmu Baek... Hanya saja aku mendengar dari Daehyun katanya kau belum bisa melepas kepergian Jongin.. Kenapa?"
Baekhyun mendesah berat. "Aku masih mencintainya oppa.. Sulit buatku untuk melupakannya.." jawabnya tenang.
"Aku tahu, lalu apa kau tidak akan melepaskannya? Jongin sudah meninggal Baek..." balas Junmyun.
Mata sipit Baekhyun menatap dengan pandangan tak suka. "Dia memang sudah meninggal, tapi bukan berarti aku tak mencintainya lagi kan?"
"Baek... Kalau kau tetap seperti itu, kau tidak akan bisa membuka hatimu untuk orang lain.. Bukalah hatimu.. Kau masih muda.. Ini terlalu muda untuk menutup hati dan terus mencintai orang yang sudah meninggal.."
Baekhyun terdiam tak menjawab.
"Aku tak melarangmu untuk tetap mencintai Jongin... Itu hakmu Baek... Tapi jangan sampai kau menutup hati hanya karena masih mencintai Jongin... Bukan maksudku untuk menghasutmu... Aku tahu bagaimana kau mencintai Jongin juga bagaimana Jongin mencintaimu... Tapi takdir telah mengatakan hal lain..."
Masih... Baekhyun masih terdiam... Ia seolah tak mendengarkan apa yang keluar dari bibir tipis Junmyun namun dalam hatinya ada sesuatu yang berulang kali membuatnya mencelos. Sejenak hatinya perih, dadanya sesak dan sesuatu memaksanya untuk berbicara.
"Aku tahu... Tapi aku masih belum bisa membiarkan orang lain mengisi hatiku..." ucap Baekhyun pelan. Tapi tunggu.. Bukan ini yang ingin dikatakan Baekhyun. Hatinya tidak ingin mengatakan ini tetapi kenapa otaknya mengeluarkan perintah untuk mengucapkannya.
"Kau bohong..." Timpal Kyungsoo.
"Eh?" Baekhyun beralih pandang kearah Kyungsoo.
"Sorot matamu mengatakan hal lain... Baek... Benar apa yang dikatakan Junmyun oppa.. Tidak seharusnya kau menutup hatimu Baek..." Ucap Kyungsoo.
Kyungsoo memeluk tubuh Baekhyun dengan lembut. "Baek... Aku mengerti bagaimana perasaanmu kehilangan orang yang kau sayangi kedua kalinya. Namun itu bukan alasan untuk menutup hati kan dan tak merasakan cinta yang lain..." Kyungsoo menyibakkan poni Baekhyun.
"Baek... Kalau kau tetap bersikap seperti ini, Jongin juga tidak akan kembali. Kita tidak memaksamu untuk menghilangkan rasa cintamu kepada Jongin tidak.. Kita hanya mau kau tidak bersedih lagi.. Buka hati untuk orang lain agar kau bisa tersenyum kembali.."
Baekhyun mengerjab pelan, mata teduhnya memandang sayang Kyungsoo. Sedetik berikutnya tetes air mata berhasil lolos dari kelopak mata Baekhyun.
"Kyungsoo..." panggilnya lirih lalu memeluk Kyungsoo. "A-aku masih ingin bersama dengan Jongin... Aku merindukannya..." ucap Baekhyun seraya menangis dipelukan Kyungsoo.
Kyungsoo merasa bersalah telah menyinggung nama Jongin dan membuat Baekhyun menjadi seperti ini. Namun ini semua dilakukan Kyungsoo untuk membantu Baekhyun lepas dari Jongin. Bagaimanapun Baekhyun harus kembali membuka hatinya terutama untuk Chanyeol. Kyungsoo dan Junmyun juga telah mengetahui bagaimana usahanya untuk menaklukan hati sahabat tercintanya itu.
"Aku juga merindukan Jongin.." kali ini Junmyun yang bersuara kembali. "Jongin sudah bahagia disana bersama dengan malaikat Tuhan. Kalau Jongin sudah bahagia, kau juga harus bahagia Baek..."
Baekhyun melepaskna pelukan Kyungsoo, "Aku..."
"Jangan bilang kau bahagia hidup sendiri. Itu munafik Baek... Aku tahu kalau kau tidak menginginkan itu kan? Percayalah... dengan membuka hatimu kau akan bahagia menjalani hidup ini dan percayalah Jongin tidak akan marah kepadamu kalau kau memiliki cinta yang lain.." tutur Junmyun mencoba meyakinkan Baekhyun.
Baekhyun mengangguk paham dan menuangkan semua tangisannya dalam pelukan Junmyun. Ia mulai merasa nyaman. Meski perasaannya sedikit kalut dan bingung. Ia memang merindukan Jongin dan masih memiliki keinginan untuk hidup bersamanya. Namun ia harus menyadari kenyataannya serta ia ingin mendengarkan kata hatinya yang mulai mengatakan bahwa ia masih mencintai Chanyeol.
.
.
.
.
.
Dentuman musik ballad mengalun pelan sejalan hari yang mulai menggelap di sekitar coffee shop itu. Suaranya mampu menyihir siapa saja untuk terlelap dalam. Namun di tengah coffee shop itu duduk seorang wanita dengan tangan menggenggam Americano dan menyesapnya perlahan. Bibir tipisnya terkadang tampak berucap seiring lantunan musik yang menyentuh telinganya. Sesekali ia melirik jam tangan yang ia kenakan dengan wajah gusar. Sudah hampir sejam ia disana, namun seseorang yang ia tunggu tak kunjung datang.
Ia mendesah pelan lalu merogoh ponsel di sakunya. Ia berniat untuk menelpon orang itu. Tetapi tiba-tiba orang yang ditunggu telah berada di belakangnya.
"Hai... Maaf kalau aku terlambat.. Ada sesuatu yang harus aku pastikan dikantorku.." ucapnya merasa bersalah seraya mengusap pelan kedua pipinya.
wanita berparas cantik itu hanya menyunggingkan senyum simpul. "Tidak apa-apa Yeol.. Aku mengerti.."
"Ada apa?" tanya Chanyeol setelah ia duduk dihadapannya. "Kenapa kau mengajakku bertemu disini? Kenapa tidak diapartemenmu saja?"
Wanita kurus dengan perut mulai membuncit itu menyunggingkan senyum tipis. "Aku ingin mengatakan sesuatu kepadamu."
"Eoh? Apa?"
"Eum... Kau pasti sudah tahu tentang ini bukan? Rekan kerjamu yang menyukaiku?"
Chanyeol mengangguk pelan.
"Aku akan menjalin hubungan dengannya.." ucapnya lirih.
Chanyeol tersentak kaget mendengar ucapannya. "Luhanie.. Kau yakin?" tanya Chanyeol meragukan.
Luhan mengangguk ragu. "A-aku yakin.." jawabnya pelan seraya mengigit bibir bawahnya. Sikap yang ditunjukkan Luhan dapat ditebak oleh Chanyeol dengan sangat mudah.
"Kau ragu.. Kau tak yakin... Mengapa kau memutuskan seperti itu?"
"Aku hanya ingin memberikan kesempatan kepadanya. Sepertinya dia benar-benar mencintaiku. Aku akan hidup bersamanya.." jelasnya pelan.
Tangan Luhan yang semula memegang gelas kopi digenggam Chanyeol erat. Diusapnya pelan lalu di kecup. "Jangan memaksakan sesuatu yang kau sendiri ragu untuk melakukannya..."
"Aku tidak ragu Chanyeol.. Aku sungguh-sungguh..."
"Kau bilang kau tidak akan hidup dengan orang lain tanpa dasar cinta. Kau tak mencintainya, kenapa kau memutuskan hal itu?" tanya Chanyeol. Sebenarnya, keputusan Luhan ini merupakan berita baik untuknya. Luhan tidak akan hidup sendiri dan ia juga percaya bahwa Oh Sehun akan merawat Luhan dengan baik. Namun kalau Luhan ragu ia juga tak menyetujuinya. Itu akan semakin membuat Luhan tersakiti.
"Aku memang tidak mencintainya saat ini, tapi suatu saat nanti aku akan mencintainya. Cinta datang karena terbiasa..." balasnya dengan nada lebih meyakinkan daripada sebelumnya.
Chanyeol mendesah pelan. "Kau benar-benar akan melakukan itu? Pikirkan baik-baik Luhanie.."
Tangan kurusnya membelai pelan kedua pipi Chanyeol, mata rusanya menatap kristal kembar Chanyeol penuh rasa sayang. "Aku yakin... Aku tidak akan menyesal dengan keputusanku.. Aku hanya butuh persetujuanmu dan restumu Chanyeol..."
"Baiklah.. Kalau kau memang menginginkan itu aku akan memberikanmu restu.. Maaf kalau aku menyakitimu dan malah memberikanmu kepada lelaki lain.." Chanyeol menunduk dengan air mata siap untuk mengalir.
"Chanyeol... Kau tak menyakitiku... Aku sakit juga karena pilihanku sendiri.. Kalau saja aku tidak menyukaimu aku juga tidak akan tersakiti..." diusapnya pelan air mata Chanyeol yang sedikit mengalir.
"Kita sama-sama dalam posisi yang tidak menguntungkan.. Tapi aku memilih untukmu bahagia Chanyeol... Jangan kau pikirkan aku, sekarang kau pikirkan bagaimana membuat Baekhyun bahagia denganmu.. Aku hanya ingin mengatakan ini kepadamu..."
Lantas Chanyeol beranjak dari duduknya dan berhambur memeluk Luhan erat. Ia terisak dalam pelukannya.
"Sungguh, aku minta maaf Luhan.. Aku minta maaf... Aku menyayangimu, aku masih mencintaimu tapi aku hanya bisa menyakitimu..."
"Chanyeol, sudah kubilang aku baik-baik saja..."
"Aku akan mendo'akanmu semoga kau bahagia dengan Sehun.. Hiduplah yang bahagia, rawat dan jaga selalu anak kita..." ucapnya dengan rasa sakit di hatinya.
Luhan mengangguk dalam pelukan Chanyeol. "Pasti... Pasti aku akan menjaganya.."
Chanyeol semakin mengeratkan pelukannya. "Terima kasih dan maaf Luhan..."
.
.
.
TBC
.
.
Mind to review? Thanks.
