Too Late for Sorry...
Author :
.
Deer Luvian
.
Main Cast:
.
Byun Baekhyun (GS)
Park Chanyeol
.
Other Cast:
.
Lu Han (GS)
Kim Jongin
Do Kyungsoo (GS)
Kim Joonmyeon
Byun (Jung) Daehyun
Jung Ilhoon
.
Genre:
.
Hurt/Comfort, drama, angst
.
Rated:
.
T-T+
.
Lenght :
.
multi chapter
.
*Disclaimer:
Semua cast yang saya pakai sepenuhnya milik Tuhan Yang Maha Esa. Dilahirkan oleh kedua orang tua masing-masing dan dibesarkan oleh agensi mereka. SM Ent, maupun yang lainnya. Jalan cerita, ide cerita dan segalanya yang berkaitan dengan cerita sepenuhnya milik author. Kalaupun ada kesamaan cerita saya mohon maaf sebesar-besarnya.
This original stories is mine with pairing before WooGyu and I posted on Asianfanfics so If u feel that u've been read it, please bear it! I just re-make my own stories. Thanks for your attention..
This is genderswitch for several cast.
With pairing ChanBaek slight! KaiBaek, ChanLu, HunHan.
Please don't bash! Don't plagiat!
DLDR
.
AU! OOC! GS!
.
Thanks!
.
Summary:
Baekhyun hanyalah seorang istri yang terlalu lama merasakan gerusan di hati. Beberapa saat ia tahan dengan sikap Chanyeol yang terus mengumbar kemesraan dengan Lu Han. Awalnya ia sanggup menahan namun lama kelamaan ia memilih mengakhiri semua. Bagaimana dengan Chanyeol? Apa dia akan tetap sama setelah kepergian Baekhyun?
.
.
Happy Reading ^^,
.
.Chapter 14.
.
.
Kehadiran Junmyun dan Kyungsoo secara tiba-tiba di tengah keluarga Nam itu memberikan semangat tersendiri bagi Baekhyun. Ia memiliki teman berbicara saat kedua Nam bersaudara tengah sibuk dan si adik kecil Tae kuliah. Meskipun kedua teman sekaligus adiknya itu tak akan lama di Seoul namun cukup memberikan kebahagiaan bagi Baekhyun. Bukan hanya Baekhyun, keduanya juga merasa senang bisa kembali bertemu dengan orang tercintanya itu. Mereka memang sengaja datang ke Seoul selain memberikan informasi bahwa mereka akan menikah, mereka juga ingin membantu Baekhyun 'kembali' seperti apa yang diminta Daehyun dan keluarganya.
Kyungsoo dan Junmyun selalu meyakinkan Baekhyun untuk membuka lagi hatinya, menatap masa depan yang masih panjang dengan hati senang. Bukan maksud mereka untuk memaksa Baekhyun melupakan Jongin, bukan. Mereka hanya ingin membuat Baekhyun lebih bisa melepas kepergian Jongin tanpa ada rasa ingin bersamanya kembali. Mengharapkan kehadirannya kembali yang sangat tidak mungkin terjadi.
Tak lupa juga, sepasang kekasih ini terus menghasut Baekhyun untuk mengikuti kata hatinya. Mereka tahu, sangat tahu bahwa wanita bersurai cokelat tua ini masih memiliki atau mungkin menumbuhkan kembali benih cinta kepada Chanyeol. Bukan hanya wanita ini, mereka juga tahu bagaimana rasa cinta Chanyeol kepada Baekhyun. Awalnya, kedua sosok ini sangat membenci Chanyeol ketika mengetahui apa yang telah dilakukan Chanyeol kepada Baekhyun beberapa waktu yang lalu. Namun, mereka mulai menghilangkan kebencian itu saat mengetahui bahwa Chanyeol benar-benar bersungguh-sungguh dan rasanya, Chanyeol akan mampu membawa Baekhyun lebih baik dari sekarang.
Pagi ini, suasana dapur telah gaduh. Beberapa alat-alat dapur berserakan tidak seperti biasanya. Kali ini dua orang menangani masalah sarapan pagi. Ah bukan dua orang, tapi tiga orang. Baekhyun dan Jihyun dibantu oleh Kyungsoo menyiapkan sarapan pagi bersama. Ketiganya tampak begitu sibuk memasak makanan yang sekiranya enak dan membuat rasa puas untuk keluarga ini.
Tak butuh waktu lama, hanya beberapa menit berlalu beberapa mangkuk telah siap diatas meja. Ketiganya segera menata cepat beberapa piring dan Baekhyun mulai memanggil anggota keluarga lainnya. Setelah mereka berkumpul, sarapan pagi dimulai.
Rupanya keluarga Nam ini menghabiskan makan pagi dengan cepat. Belum ada satu jam, Taehyun lebih dulu meninggalkan meja makan disusul dengan Taehyung yang memang akan segera berangkat kuliah. Lalu Jihyun, setelah ia membereskan piringnya ia melangkah pergi. Ketiga saudara Baekhyun itu tengah terburu-buru.
Meninggalkan tiga orang yang sedang menikmati makan pagi. Tak lama, Baekhyun selesai dengan sarapannya.
"Baek, ayo kita jalan-jalan.. Aku ingin menikmati Kota Seoul bersamamu.." ajak Kyungsoo seraya membereskan piring diatas meja.
Baekhyun mengulas senyum lalu mengangguk. "Eung, aku akan mandi dulu. Kalian juga..." sahut Baekhyun. Keduanya mengangguk lalu meninggalkan ruang makan bersama.
.
.
.
.
Pusat perbelanjaan di tengah Kota Seoul menjadi pilihan Baekhyun dan kedua tamunya itu untuk menghabiskan hari ini. Selain untuk jalan-jalan, Junmyun dan Kyungsoo berniat mencari perlengkapan pernikahannya yang kurang. Mungkin saja ia bisa menemukan kekurangannya di Seoul. Dengan senang hati Baekhyun membantu kedua sahabat kesayangannya ini.
Ketiga sosok itu berjalan menyusuri setiap toko yang berjejer di pusat perbelanjaan di Kota Seoul. Mata mereka tak berhenti memperhatikan setiap isi toko. Mungkin saja, ada sesuatu yang menarik hati mereka.
Lama mereka berjalan, satu toko memaksa Baekhyun untuk berhenti sejenak. Sebuah toko boneka yang menyediakan banyak sekali jenis boneka. Lantas Baekhyun masuk kedalam toko itu diikuti oleh kedua orang lainnya dengan heran.
"Kau mau mencari apa disini?" tanya Kyungsoo bingung.
"Kau mau mencari boneka apa?" tambah Junmyun juga bingung.
Alih-alih menjawab, Baekhyun hanya mengulas senyum manis. Tubuhnya melenggang di antara rak-rak tinggi berisikan macam-macam boneka. Tangannya sibuk mengambil satu persatu boneka yang menyihirnya itu. Bukan semua disukai Baekhyun, ia hanya sedang mencari boneka yang mirip dengan dirinya. Sebuah boneka yang sedikit memberikan andil dalam mengembalikan rasa cintanya kepada Chanyeol. semua tahu bukan boneka apa itu?
Ya, Byun Baekhyun tengah mencari boneka kelinci. Namun kali ini ia ingin mencari boneka kelinci yang sedang tersenyum bukan cemberut seperti saat itu. Bibirnya melengkung kala ia menemukan apa yang ia cari. Sebuah boneka kelinci sangat lucu sekali berada ditangan Baekhyun.
"Oh Baek, kau mencari boneka kelinci? Buat apa?" tanya Junmyun heran.
Wanita bermata sipit itu menunjukkan boneka hamster yang ia pegang kepada Junmyun. "Ini mirip denganku tidak?" tanya Baekhyun polos.
Junmyun mengernyitkan dahinya. "Iya, ini mirip denganmu... Apalagi kalau kau tersenyum, sangat mirip Baek.." jawab Junmyun disertai cengiran lebar.
Baekhyun mengangguk paham lalu membawanya ke kasir. Sedang Junmyun masih tak mengerti dengan jalan pikiran Baekhyun. Kenapa dia mencari boneka yang mirip dengannya?
Sesaat Baekhyun akan membayar boneka itu, seseorang memanggilnya dari belakang. Ini bukan suara Kyungsoo ataupun Junmyun, melainkan...
"Baekhyun..." suara cempreng sedikit tercekat itu terdengar di telinga Baekhyun. Kontan ia berbalik dan melihat siapa yang memanggilnya.
Baekhyun membelalakkan mata sipitnya. "Lu-Luhan-ah.." sahut Baekhyun pelan.
Entah apa alasannya dan mengapa ia melakukan ini, Baekhyun tak tahu. Yang jelas saat ini Luhan memeluk Baekhyun dengan sangat erat. Baekhyun terkejut, Baekhyun bingung, Baekhyun heran. Namun Baekhyun membalas pelukan wanita bertubuh buncit ini.
Bahkan, Baekhyun merasakan tubuh ini bergetar di pelukannya. Ia merasakan ada sesuatu yang membasahi pundaknya. Apa ini? Ah..
Luhan menangis di pelukan Baekhyun. Tapi mengapa?
"Lu-Luhan-ah..." panggil Baekhyun lirih seraya melepas pelukan Luhan. "Kenapa?"
Luhan masih terisak dalam tangisannya yang tersisa. "Aku minta maaf... Aku merasa sangat bersalah kepadamu Baek..."
Dahi Baekhyun mengerut. "Salah apa?" tanya Baekhyun bingung.
Luhan menatap mata sipit Baekhyun lembut. Kedua mata rusa itu menyorotkan pandangan sendu. "Semua, semuanya... Kau seperti ini penyebabnya juga aku salah satunya.. Aku minta maaf Baek..."
Baekhyun tersenyum hangat. "Tidak ada yang perlu disalahkan disini Luhan-ah... Aku sudah memaafkanmu.. Aku juga minta maaf kalau aku menyakitimu..."
"Baek... Kau tidak menyakitiku... Justru aku Baek..."
"Luhan... Aku tidak tersakiti..." ucap Baekhyun lembut. Sungguh, saat ini Baekhyun bagaikan seorang malaikat. Meskipun kenyataannya ia tersakiti, namun ia mengatakan sebaliknya.
Pernyataan yang keluar dari Baekhyun mengundang tanda tanya dan rasa kagum dalam diri Kyungsoo maupun Junmyun. Mereka tak menyangka jika Baekhyun memiliki hati begitu baik. Kenapa ia bisa begitu mudahnya mengatakan hal itu kepada orang yang jelas-jelas telah menghancurkan hidupnya? Tapi, bagi keduanya itu bukan masalah. Mungkin Baekhyun hanya lelah terus memendam kebencian atau memang Baekhyun memiliki hati selembut malaikat.
Luhan memeluk Baekhyun sekali lagi dan jauh lebih erat. Ia merasa sangat bersalah. Ia dengan teganya menyakiti orang yang begitu baik kepadanya. Tapi ia bersyukur, ternyata sosok dipelukannya ini tak menyimpan dendam dan mau memberikan maaf kepadanya.
.
.
.
.
.
"Aku sangat senang bisa bertemu dengan Baekhyun disini.." ucap Luhan dengan suara cempreng khasnya.
Baekhyun tersenyum lalu menyeruput Americano di tangannya.
"Sebenarnya aku ingin ke rumahmu, tapi aku takut.." lanjut Luhan.
"Takut apa?" tanya Baekhyun pelan.
Luhan terkekeh pelan. "Aku takut kalau para penjagamu akan memaki dan mengusirku. Aku dengar kau dijaga oleh empat orang.." canda Luhan dengan sedikit wajah gemas.
Baekhyun ikut terkekeh. "Mereka saudaraku, mana mungkin akan memaki dan mengusirmu?"
"Siapa tahu Baek..." timpal Luhan diiringi tawa kecil.
"Ah, iya.. kau sedang hamil bukan? Wah, pasti senang rasanya kalau punya anak..." ujar Baekhyun tiba-tiba. Baekhyun tak sadar dengan apa yang dikatakan saat mata sipitnya menangkap perut buncit Luhan.
Luhan tersentak namun ia tersenyum lebar. "Pasti... Akan sangat menyenangkan kalau punya anak." Tanggap Luhan.
"Iyaa.. Aku juga ingin cepat punya anak..." timpal Kyungsoo yang sontak membuat sekelilingnya memasang wajah penuh tanda tanya.
Kyungsoo memadang satu persatu wajah mereka. "Salah yaa?" tanyanya polos.
"Tidak... Tidak ada yang salah kok..." sahut Luhan. "Ah kalian akan menikah bukan? Semoga cepat dapat keturunan dehh..."
Kyungsoo menunduk, semburat merah terlebih dulu muncul di pipinya.
"Nah, kalau Baekhyun? Kau juga tidak ingin punya anak? Membahagiakan loh Baek punya anak itu..." Tanya Luhan kepada Baekhyun. Secara tidak sengaja, Luhan ingin mengungkit masalah Chanyeol dan meyakinkan Baekhyun dengan Chanyeol.
Baekhyun menunduk malu, ia hanya terdiam tak menjawab.
"Yaa! Memang kau sudah punya anak? Bilang itu membahagiakan?" celetuk Junmyun.
Luhan mendengus. "Pasti membahagiakan oppa... Jangankan sudah ada anaknya, masih hamil saja rasanya menyenangkan kok..." kukuh Luhan.
"Iya, rasanya pasti menyenangkan mengandung seorang bayi..." sahut Baekhyun lirih.
Luhan tersenyum. "Kau bisa memilikinya Baek..."
Wanita sipit di depannya itu tampak begitu murung mendengar kata-kata Luhan terakhir. Mengerti dengan kemurungan sang teman, Luhan melanjutkan kata-katanya.
"Kau akan memilikinya bersama Chanyeol.. Terima Chanyeol jadi suamimu lagi... Pasti dia akan membahagiakanmu.."
Sontak Baekhyun mendongakkan wajahnya. Sorot mata penuh tanda tanya menghujam lembut kepada Luhan. Meminta sang empunya menjelaskan. Meski sebenarnya itu sudah sangat jelas.
"Harus aku mengatakan kepadamu Baek? Ku pikir semua orang akan mengatakan hal yang sama seperti kata-kataku ini.." ujar Luhan ambigu.
"Chanyeol sangat mencintaimu Baek... Dia sangat menginginkanmu... Bahkan ia membuangku dan anakku..." lanjutnya disertai tawa pelan.
Baekhyun tertegun sejenak. Memang, ini bukan kali pertama ia mendengar kata-kata bahwa Chanyeol mencintainya. Namun mendengar perkataan dari Luhan membuatnya semakin...
"Apa yang harus kau pertimbangkan lagi? Aku yakin Chanyeol akan sangat membahagiakanmu.. Dia tidak akan menyakitimu untuk kedua kalinya.."
"Benar, aku setuju dengan Luhan..." timpal Kyungsoo penuh semangat.
Junmyun mengangguk mantap. "Aku juga..."
Sekilas, senyum tersungging di wajah manis Luhan.. "Semua sudah merestuimu Baek... Tinggal keputusanmu.. Apa kau akan hidup seperti ini terus atau mulai menerima Chanyeol di hidupmu lagi?"
Diam. Baekhyun masih terdiam. Sepertinya ia tengah memikirkan kata-kata Luhan. Ia tidak ingin membohongi hatinya. Bahwa sebenarnya ia juga menginginkan hal itu.
Baekhyun menghela nafas lirih. "Aku akan mencobanya..."
"Sungguh?" sahut Luhan antusias. Jawaban Baekhyun membuat lainnya tersenyum senang.
"Tenang Baek, kami bisa menjamin kalau kau akan bahagia dengan Chanyeol..." yakin Luhan kembali.
Baekhyun mengangguk. "Eum, aku akan mencoba menerima Chanyeol lagi..."
Sontak ketiga orang lainnya itu memeluk Baekhyun erat. Mereka sangat senang dengan kata-kata Baekhyun. Ini akan memudahkan ketiganya menyatukan Chanyeol dan pastinya Baekhyun tidak akan sedih lagi. Sedang Baekhyun, wanita bermata segaris ini memang sedikit menerima Chanyeol, namun dengan keyakinan yang ditujukkan oleh orang-orang disekitarnya semakin menguatkan dirinya untuk menerima Chanyeol kembali. Selain itu, ia juga merasa jika Chanyeol memang benar-benar serius dengan dirinya. Tidak ada yang salah jika mencoba membuka kembali, walaupun ia masih takut jika akan terjadi seperti yang lalu-lalu.
.
.
.
.
.
Hari semakin berlalu, setelah menghabiskan sebagian waktu untuk jalan-jalan ketiganya memilih pulang dan istirahat. Wanita bermata sipit ini memutuskan untuk mandi terlebih dahulu sebelum ikut berkumpul dengan keluarga kecilnya di ruang tengah.
Tak lama ia selesai mandi, Baekhyun pergi ke ruang tengah untuk ikut bergabung dengan yang lain menonton televisi.
Namun, ada sesuatu yang menarik matanya dan membuatnya heran.
"Loh? Kau? Sejak kapan ada disini?" tanya Baekhyun heran kepada sosok tampan yang tak lain adalah Park Chanyeol.
Lelaki bermarga Park itu hanya terkekeh. "Sejak kau pergi mandi.." gigi putihnya terpampang jelas di antara bibir tebalnya.
Baekhyun mengangguk paham lalu duduk di sebelah Jihyun.
"Ah Baek, aku membawakanmu strawberry cake kesukaanmu, juga moccachino cake.." ujar Chanyeol.
Baekhyun menoleh ke arah Chanyeol tapi tak menemui apa-apa.
"Tapi maaf noona, kita sudah menghabiskannya... hahahahaha..." celetuk Taehyung dengan wajah tak berdosa.
Baekhyun hanya mendesah pelan. "Huftt, kalian ini..."
Kemudian, mereka menikmati tontonan bersama. Terkadang celotehan-celotehan riang keluar dari bibir mereka. Sesekali tawa menggelegar diantara mereka. Tak jarang pula, Baekhyun ikut melontarkan candaan dan tawa yang membuat Chanyeol tersenyum senang. Senang, iya senang.. Chanyeol senang melihat Baekhyun bisa lepas seperti ini. Rasanya lama sekali ia tak melihat tawa semanis ini dari Baekhyun. Bahkan sejak pernikahannya beberapa tahun yang lalu.
Malam semakin larut, Chanyeol berniat untuk pulang. Sebentar ia melirik jam ternyata sudah menunjukkan pukul 10.00 P.M KST.
"Ahh, aku akan pulang sekarang..." Pamit Chanyeol seraya berdiri.
"Kau akan pulang sekarang? Ini hujan lebat Yeol. Akan sangat berbahaya.." Tanya Jihyun.
Chanyeol memandang jendela yang mampu menembus keadaan luar. Benar, di luar sana sedang hujan lebat. Bukan saja hujan lebat, petir dan angin kencang bersatu, berbaur dan seolah akan menghancurkan bumi ini.
"Tapi..."
"Kau tidur saja disini hyung..." celetuk Taehyung memberikan ide.
Yang lain mengangguk menyetujui.
"Iyaa, tidur saja disini Chanyeol..." kali ini Junmyun menghasut Chanyeol.
"Baiklah, tapi aku tidur dimana?" tanya Chanyeol bingung.
Keluarga Nam tampak berpikir. Namun Baekhyun lebih dulu membuka suara. "Kau tidur di kamar Taehyung saja. Biar Taehyung tidur denganku.." ujar Baekhyun memberikan saran.
Sontak Taehyung membelalakkan mata besarnya. "He? Tidur di kamarku? Tidak-tidak tidak... Aku tidak mau tidur denganmu noona.. Aku inginnya tidur sendiri..." ujar Taehyung menolak ide Baekhyun.
"Lalu?" tanya Baekhyun bingung. Tatapannya memandang penuh harap ke arah Taehyun.
"Apa noona? kau tidak berniat menyuruh kita tidur bertiga kan? Aku sudah memberikan kamarku ke Junmyun hyung dan Kyungsoo noona.. Lalu kau ingin kita tidur bertiga?" cerocos Taehyun sebelum didahului Baekhyun. Tampaknya, adik Baekhyun paling nakal ini telah mengetahui jalan pikiran Baekhyun.
"Kau bisa tidur denganku Taehyunnie.." Balas Baekhyun.
Jongin menggeleng kuat. "Tidak..Tidak... Ah, lebih baik Chanyeol hyung tidur denganmu saja noona... Bagaimana? pasti Chanyeol hyung juga mau.. Iyakan hyung?" usul Jongin dengan nada menggoda. Bisa ditebak bagaimana reaksi Baekhyun setelah ini.
Yaps, Baekhyun menunduk malu. Ia ingin menolak namun rasanya ada yang menahan.
"Tidak usah, aku tidur disini saja..." ucap Chanyeol ingin menengahi semuanya.
"Jangaan.. Disini dingin hyung... Ayolah Baekhyun noona..." cegah Taehyung.
Mau tak mau Baekhyun mengalah. Ia juga tidak tega jika melihat Chanyeol tidur kedinginan di ruangan ini. Apalagi keadaan luar sepertinya memang tidak bisa ditolerir jika ingin memaksa pulang.
"Baiklah, kau bisa tidur denganku.." jawab Baekhyun lirih seraya membalikkan badan. Ia tengah menahan sesuatu yang telah mengubah warna mulus pipi Baekhyun.
Kontan, anggota keluarga yang lain bersorak riang. Akhirnya, ide dadakan untuk menyatukan mereka berhasil juga. Bukan hanya anggota keluarga saja yang senang. Dalam hati Chanyeol sangat-sangat berterima kasih kepada hujan lebat dan juga para supporternya. Apa yang diharapkan Chanyeol untuk bisa lebih dekat dengan Baekhyun akan terwujud dalam hitungan detik.
.
.
.
.
.
Rasanya ada yang aneh dalam diri Baekhyun kala mengetahui Chanyeol berada dalam satu kamar dengannya. Ini kali pertama mereka dalam satu kamar dengan keadaan seperti ini. Dulu, sewaktu mereka masih sepasang suami istri, Chanyeol tidak pernah menjejakkan kaki di kamar Baekhyun untuk tidur. Begitu pula Baekhyun, mungkin mereka masuk ke kamar masing-masing hanya sekedar kalau ada urusan ataupun sesuatu yang mereka cari.
Tapi saat ini? Keduanya dalam satu kamar dan akan tidur seranjang pula. Sontak pikiran macam-macam sudah menggelelayuti otak Chanyeol. Sedang Baekhyun, ia hanya mencoba menetralkan kembali detak jantung yang entah kenapa tak karuan.
Sebentar Baekhyun melihat ke arah Chanyeol yang telah melepaskan jaket. Ia menggigit bibir tipisnya lalu berucap. "Kau tidak ingin mandi dulu Chanyeol-ah? Kau bisa menggunakan piyama ini sebagai pakaian ganti.." ucap Baekhyun seraya memberikan pakaian yang ia bawa.
Chanyeol mengangguk. "Eung, aku akan mandi dulu.. Tidurlah Baek kalau kau sudah lelah.." jawab Chanyeol lalu ia beranjak ke kamar mandi.
Baekhyun mencoba memejamkan matanya setelah tubuhnya terbaring sempurna. Namun bukan mata terpejam malah rasa gelisah yang menghampiri. Tubuhnya terus-menerus menggeliat ke kanan dan ke kiri sejalan kepergian Chanyeol untuk mandi. Baekhyun masih mencoba memejam namun hasilnya masih sama. Ia tetap tak tenang diatas tempat tidurnya.
Hingga Chanyeol selesai mandi, Baekhyun pura-pura tidur dengan posisi membelakangi Chanyeol.
Chanyeol menyunggingkan senyumnya kala melihat tubuh Baekhyun telah terbaring dan melayang ke dunia mimpi. Ia tidak tahu jika Baekhyun tengah menetralkan gemuruh di dadanya dan berusaha mati-matian untuk tetap tenang.
Segera ia meraih bantal di sebelah Baekhyun dan berniat untuk tidur di bawah. Baekhyun mengetahui ada yang aneh, ia tak merasakan tubuh Chanyeol terjatuh di atas ranjang. Lalu dia kemana? Lantas ia membuka kembali matanya dan mendapati lelaki itu membaringkan dirinya di atas lantai dingin dengan beralaskan selimut.
"Chan-Chanyeol... Kenapa kau tidur disini?" seru Baekhyun.
Kaget dengan suara Baekhyun, Chanyeol membelalakkan matanya. "Tidak apa-apa Baek, kau kembalilah tidur.." jawab Chanyeol seraya memejamkan matanya kembali.
Baekhyun turun dari ranjangnya dan menghampiri Chanyeol. "Jangan tidur disini.. Sama saja kau tidur di luar Chanyeol.. Ayo naik, tidur diatas.." ajak Baekhyun seraya menarik tangannya.
"Eh? Benar tidak apa-apa Baek?..."
"Chanyeol! Ayoo... Aku sudah mengantuk... Aku tidak mau melihatmu sakit... Lebih baik kau pulang saja kalau kau masih tidur di bawah..." ujar Baekhyun lalu bangkit dan tidur kembali di ranjangnya.
Mau tak mau Chanyeol menurut kepada Baekhyun. Ia mengikuti Baekhyun tidur di sebelah Baekhyun. Bisa ditebak bagaimana perasaan Chanyeol. Dadanya bergemuruh tak karuan. Sama seperti Baekhyun, ia gelisah, wajahnya memerah. Bahkan dalam keadaan seperti ini ia masih sempat berpikir macam-macam.
Lama waktu berlalu, keduanya telah terlelap dan berenang dalam mimpi masing-masing.
Hingga suatu suara memanggil nama Baekhyun.
"Baekhyun ah..." panggil suara itu.
Baekhyun menggeliat dalam tidurnya..
"Baekhyun ah... Kau apa kabar? Apa kau bahagia didunia?" Suara itu masih memenuhi otak Baekhyun.
"Aku dengar kau tak bahagia di dunia. Apa itu benar?"
"Baekhyun... Dengarkan aku.. Aku sudah bahagia disini.. Aku bahagia bersama malaikat Tuhan.. Apa kau tahu?"
"Aku bahagia disini.. Jadi kau harus bahagia didunia.. Aku mengawasimu dari sini.. Aku tahu kau tak bahagia bukan?"suara itu terus mengaung-ngaung dipikiran Baekhyun.
Baekhyun terkejut, dalam tidurnya ia tahu siapa yang berbicara. Ini suara Jongin, ia ini Jongin...
"Baekhyun-ah... Jangan terus kau pendam rasa cintamu kepadaku... Aku senang kau mencintaiku, tapi jangan terus berharap kau bisa bersamaku.. Kita sudah berbeda dunia Baekhyun..."
Semakin lama semakin membuat Baekhyun gelisah, ia menggeliat ke kanan ke kiri semakin hebat. Suara ini suara sosok yang dirindukannya..
Dalam mimpinya ia tahu bertanya, kenapa ia datang dan mengatakan ini?
"Baekhyun-ah.. Aku ingin kau bahagia di dunia, tapi bukan dengan menutup dirimu dan berharap kita bisa bersama.. Hidup kita sudah tak sama Baekhyun.. Aku bahagia disini dengan malaikat Tuhan. Jadi kau harus bahagia di dunia dengan orang yang menyayangimu.."
Suara itu sangat jelas berceloteh dalam mimpi Baekhyun. Tanpa sadar Baekhyun memanggil pemilik suara itu dengan suara parau.
"Jong-Jongin-ah... Jongin-ah..."
"Baekhyun, kau harus berjanji kepadaku untuk bahagia, kau harus bisa melepaskanku dan hidup dengan orang lain yang akan membahagiakanku..."
"Jongin-ah... Ke-kenapa kau meninggalkanku?"
Suara Baekhyun terdengar bergetar. Ia menangis meskipun itu hanya mimpi.
Keadaan Baekhyun mengagetkan Chanyeol. Langsung ia terbangun dan berusaha membangunkan Baekhyun.
"Baek... Baekhyun..." panggil Chanyeol pelan.
Baekhyun masih larut dalam mimpinya.
"Baekhyun-ah... Maafkan aku yang meninggalkanmu tiba-tiba.. Tuhan sayang kepadaku sehingga ingin aku lebih dulu menghadapnya..."
Saat Baekhyun akan meneriakkan namanya sekali lagi bayangan serta suara itu menghilang. Dan tanpa sadar Baekhyun membuka lebar mata sipitnya. Entah karena ia merasa Jongin benar-benar menemuinya atau karena goyangan yang diciptakan Chanyeol sedari tadi.
Kala matanya membuka, tetesan air hangat mengalir deras dari sudut matanya.
"Jong-Jongin-ah... Kim Jongin..." Baekhyun masih memanggil nama Jongin meskipun suara itu telah menghilang.
Chanyeol mencelos mendengar Baekhyun memanggil nama Jongin. Ia menebak jika Jongin barusaja menemuinya didalam mimpi.
"Baek... Baekhyun..." suara Chanyeol lirih namun sampai ditelinga Baekhyun.
Reflek Baekhyun menoleh kearah Chanyeol dan bangkit dari tidurnya.
"Baek... Ada apa denganmu Baek?" tanya Chanyeol.
Baekhyun menatap lembut Chanyeol lalu kembali menunduk dan menangis.
"Baek..." panggil Chanyeol seraya memeluk Baekhyun erat.
"Jongin, Chanyeol... Jongin..." jawab Baekhyun lirih.
"Ada apa dengannya Baek? Ada apa dengan Jongin? Apa kau bermimpi bertemu dengannya?" tanya Chanyeol dengan hati menahan perih. Bagaimana tidak sosok dipelukannya ini menangisi orang lain.
Baekhyun tak menjawab, ia hanya mengangguk dalam pelukan Chanyeol.
"Lalu kenapa kau menangis Baek? Kenapa?"
"Jongin... Jongin bilang kalau aku harus melepaskan dan melupakannya.." jawab Baekhyun bergetar dalam tangisannya.
Chanyeol melepaskan pelukannya lalu menangkup wajah Baekhyun.
"Baek... Apa yang dikatakan Jongin benar.. Kau harus bisa melepaskannya.. Dia sudah bahagia disana bukan?"
Baekhyun hanya mengangguk pelan.
"Baek... Tak bisakah kau membuka hatimu untukku?" tutur Chanyeol lembut. Pandangannya menyorot intens kedua mata sipit itu.
Baekhyun menurunkan pandangannya, mengalihkan pada lantai.
"Baek... Aku mohon... Apa kau benar-benar tidak bisa melepas Jongin dan memberikanku kesempatan?" Chanyeol meneteskan air mata yang ia tahan sedari tadi.
Baekhyun masih terdiam, ia tak menjawab. Pikirannya masih berkecamuk. Sesekali ia menggigit kasar bibir bawahnya.
"Baek..." panggil Chanyeol berharap Baekhyun memandangnya kembali.
Benar, Baekhyun menatap kearah Chanyeol. Sepertinya ia akan menjawab pertanyaan Chanyeol.
"Chanyeol.. Ak—hmmpppthhh..." belum sempat Baekhyun meneruskan perkataannya, Chanyeol lebih dulu melumat bibir Baekhyun.
Baekhyun tercengang dengan kelakuan Chanyeol. Ia hanya bisa membelalakkan matanya lebar dan tak ia sadari setetes air hangat turun dari mata sipitnya.
Sedang Chanyeol, ia melumat dan menyapu bersih bibir Baekhyun diiringi lelehan air mata yang telah terjun sejak beberapa detik yang lalu. Meski tak ada perlawanan maupun balasan dari Baekhyun, ia masih mengecup lembut bibir Baekhyun. Kecupan itu sangat lembut jauh dari kata nafsu. Chanyeol hanya ingin mengungkapkan dan membuktikan perasaannya lewat kecupan itu.
Untuk pertama kalinya, Chanyeol merasakan bibir manis Baekhyun. Untuk pertama kalinya ia menyapu dan melumat hangat bibir tipis itu. Untuk pertama kalinya ia mengecup bibir tipis milik Baekhyun. Chanyeol sangat menyesal telah menyia-nyiakan hidup Baekhyun selama ini. Kenapa ia begitu bodoh telah meninggalkan sosok baik seperti Baekhyun hanya karena nafsu dan rasa egoisnya? Kenapa?
Baekhyun masih menangis dalam kecupan Chanyeol, ia tak tahu harus melakukan apa. Ia hanya bisa membiarkan bibir tebal Chanyeol bergerak lincah diatas bibir tipisnya. Dapat ia rasakan, Chanyeol benar-benar melakukannya dengan penuh rasa sayang. Kecupan ini lembut, sangat lembut dan membuatnya semakin meneteskan air matanya lebih deras. Apalagi ketika menyadari Chanyeol juga menangis dalam kecupan ini.
Masih, Baekhyun masih membiarkan Chanyeol bermain dengan bibirnya hingga Chanyeol melepaskan sendiri kecupan itu.
Dalam kecupan itu Chanyeol bergumam lirih..
"Saranghaeyo Byun Baekhyun..."
.
.
.
TBC
.
.
.
Review Juseyoo~
