Too Late for Sorry...

Author :

.

Deer Luvian

.

Main Cast:

.

Byun Baekhyun (GS)

Park Chanyeol

.

Other Cast:

.

Lu Han (GS)

Kim Jongin

Do Kyungsoo (GS)

Kim Joonmyeon

Byun (Jung) Daehyun

Jung Ilhoon

.

Genre:

.

Hurt/Comfort, drama, angst

.

Rated:

.

T-T+

.

Lenght :

.

multi chapter

.

*Disclaimer:

Semua cast yang saya pakai sepenuhnya milik Tuhan Yang Maha Esa. Dilahirkan oleh kedua orang tua masing-masing dan dibesarkan oleh agensi mereka. SM Ent, maupun yang lainnya. Jalan cerita, ide cerita dan segalanya yang berkaitan dengan cerita sepenuhnya milik author. Kalaupun ada kesamaan cerita saya mohon maaf sebesar-besarnya.

This original stories is mine with pairing before WooGyu and I posted on Asianfanfics so If u feel that u've been read it, please bear it! I just re-make my own stories. Thanks for your attention..

This is genderswitch for several cast.

With pairing ChanBaek slight! KaiBaek, ChanLu, HunHan.

Please don't bash! Don't plagiat!

DLDR

.

AU! OOC! GS!

.

Thanks!

.

Summary:

Baekhyun hanyalah seorang istri yang terlalu lama merasakan gerusan di hati. Beberapa saat ia tahan dengan sikap Chanyeol yang terus mengumbar kemesraan dengan Lu Han. Awalnya ia sanggup menahan namun lama kelamaan ia memilih mengakhiri semua. Bagaimana dengan Chanyeol? Apa dia akan tetap sama setelah kepergian Baekhyun?

.

.

Happy Reading ^^,

.

.Chapter 15.

.

.

"Eung..."

Kepalanya terasa pening dan berputar. Kekurangan tidur nampaknya berpengaruh di saat bangun pagi. Bukan ia lebih segar malah pusing menyerangnya pagi ini. Sebentar ia mengucek kedua matanya sebelum menyadari keadaan sekitar.

Matanya mengedar dan mulai menyadari bahwa ada yang berbeda dari kemarin malam.

"Eoh? Kemana Chanyeol?" gumam Baekhyun pelan. "Apa Chanyeol sudah pulang? Huftt..." desahnya sedikit kecewa.

Tak tahu apa alasannya, Baekhyun merasa kecewa kala mata sipitnya tak menangkap sosok Chanyeol di sebelahnya. Ia ingin berterima kasih kepada Chanyeol telah menemaninya semalaman tadi dan menenangkannya. Bahkan semalaman tadi (Baekhyun juga tidak yakin dengan ini) Chanyeol terus meninabobokkannya dengan tangan menepuk-nepuk pelan sampai ia tertidur. Baekhyun sedikit meyakini bahwa Chanyeol tidak cukup tidur karenanya.

Sesaat ia akan bangkit dari tidurnya, tangannya memegang bibir tipisnya dengan reflek. Ia teringat kejadian malam itu. Kejadian dimana Chanyeol tiba-tiba menciumnya dengan penuh perasaan. Hanya mengingat itu membuat pipi Baekhyun merona merah. Ia merasa senang dengan ciuman itu. Ada emosi tersendiri saat merasakan bibir tebal Chanyeol menyentuh lembut bibirnya. Hal ini semakin meyakinkan Baekhyun betapa tulusnya rasa yang diberikan Chanyeol kepadanya.

"Chanyeol-ah... Maafkan aku..." gumamnya lirih.

Kaki Baekhyun hendak menjejak di lantai kamar, namun pintu lebih dulu terbuka dan mengalihkan pandangannya. Sosok tampan yang semula dikira Baekhyun telah pulang, muncul dengan tangan membawa nampan. Baekhyun yakin sosok ini akan memaksanya makan sepagi ini.

"Baekhyun... Kau sudah bangun? Baru saja aku akan membangunkanmu..." ucapnya dengan senyum mengambang. Dapat dilihat jelas jika Chanyeol sangat senang dan bahagia sepagi ini.

Baekhyun mengerucutkan bibirnya lucu. "Apa kau membawa makan untukku?" tanya Baekhyun dengan polosnya.

"Eoh! Aku memasak ini sendiri loh Baek..." jawab Chanyeol seraya meletakkan makanan itu di atas ranjang. Lalu ia duduk di sebelah Baekhyun.

"Ayo dimakan Baek..."

Baekhyun menggeleng pelan.

Sontak desahan kecewa menghujani bibir tebalnya. "Kenapa? Apa kau tak yakin kalau makananku enak?"

Lagi, Baekhyun menggeleng pelan.

"Lalu?"

"Suapi aku Yeol..." rajuk Baekhyun dengan wajah telah memerah. Ia sedikit menunduk untuk menutupi semu-semu itu.

Chanyeol melongo. Pikirannya seolah tersihir mendengar pernyataan dari Baekhyun. Oh apa yang terjadi dengan Baekhyun?

"Kau tidak mau yaa? Yasudah tidak apa-apa.." tukas Baekhyun kala mata sipitnya menyorot wajah bingung Chanyeol.

"Ahh, tidak Baek tidak.." reflek, tangannya mengambil piring makanan dan mulai menyendokkan kepada Baekhyun.

Satu sendokan sukses masuk kedalam mulut Baekhyun. Sebentar ia mengunyah makanan itu. Setelahnya, sebuah ekspresi puas muncul dari wajah manis Baekhyun.

"Chanyeol-ah... Ini sangat enak.." Puji Baekhyun. "Sungguh, aku baru mengetahui kalau kau bisa memasak seenak ini..."

Senyum lebar terlempar dari bibir tebal Chanyeol. "Sungguh? Ah, aku senang kalau kau menyukainya.. Ayo dihabiskan ini makannya.."

Baekhyun mengangguk lalu menerima suapan Chanyeol kembali.

Beberapa suapan telah diterima Baekhyun, menyebabkan perut datarnya merasa kenyang. Lantas ia menghentikan gerakan tangan Chanyeol yang akan menyuapkan lagi sisa makanannya. Baekhyun menggeleng memberikan tanda bahwa ia telah kenyang.

"Chanyeol-ah..." panggil Baekhyun saat lelaki tampan itu hendak membawa piring keluar kamar. Ia berbalik ketika panggilan itu didengarnya.

"Ada apa Baek?"

Sejenak, Baekhyun menarik nafas dalam menghembuskannya pelan. "Apa kau benar-benar mencintaiku?" tanya Baekhyun pelan, sangat pelan.

Chanyeol membelalakkan matanya, otaknya masih mencoba menebak apa yang dikatakan Baekhyun. Pendengarannya sedikit tak peka dengan suara pelan yang dikumandangkan Baekhyun.

"Apa?" tanyanya.

Baekhyun menatap lembut Chanyeol. "Apa kau mencintaiku?"

Reflek, senyuman mengembang manis diwajah Chanyeol. Ia mendekat lalu menggenggam tangan Baekhyun erat dan mengecup hangat. "Aku mencintaimu Baek... Aku sangat mencintaimu..."

"Apa kau akan membahagiakanku?" tanya Baekhyun dengan nada datar namun penuh harap.

"Baek..." Chanyeol menatap lekat mata sipit Baekhyun. "Aku berjanji akan membahagiakanmu jika kau memberikanku kesempatan.." sahut Chanyeol mantap.

"Aku tidak mau janji Yeol..." Masih, Baekhyun masih mengatakan dengan nada datar.

Chanyeol tersenyum. "Baiklah, aku tidak janji.. Aku akan membuktikannya.."

"Apa kau yakin?"

"Eum, sangat yakin... Aku akan membuktikan kepadamu bahwa kau akan bahagia bersamaku.. Apa kau belum bahagia bersamaku saat ini?" tanya Chanyeol.

Baekhyun menunduk sejenak. Detik berikutnya, kepalanya terangkat lalu menggeleng pelan.

"Huftt... Benarkah aku belum bisa membahagiakanmu selama in?" tanya Chanyeol kecewa.

Namun, sebuah senyum tersungging manis di wajah Baekhyun. "Kau memang belum bisa membuatku bahagia sepenuhnya, tapi aku merasakan ketulusan dari perhatianmu selama ini..."

Chanyeol melebarkan bola matanya. "Baek..."

"Chanyeol..."

"Eung?"

"Aku telah memikirkan kata-kata Jongin di dalam mimpiku kemarin..." ucap Baekhyun pelan.

Chanyeol hanya diam, ia tengah menunggu kata-kata selanjutnya yang akan keluar dari bibir Baekhyun.

"Sepertinya aku memang harus kembali menatap dunia..."

"Baek..."

Sebelum Baekhyun melanjutkan apa yang ingin ia katakan, tangannya lebih dahulu menangkup wajah Chanyeol. Sontak hal itu menggetarkan tubuh Chanyeol. Lalu senyum mengembang di antara raut sendu wajah Baekhyun.

"Chanyeol...Aku ingin kau bisa membahagiakanku.. Aku akan memberikanmu kesempatan Yeol..." ucap Baekhyun yakin seraya menatap lembut mata Chanyeol.

Chanyeol mengerjab pelan, hatinya bagaikan dilempar petasan yang sangat keras. Meledak dan berterbangan. Apa ini? Apa Baekhyun bersungguh-sungguh dengan ucapannya? Dari sorot sendu mata Baekhyun, bisa dilihat sosok ini benar dengan kata-katanya.

"Baek... Kau? Kau akan memberikanku kesempatan? Kau membuka hatimu untukku? Sungguh?" ucap Chanyeol tak percaya.

Baekhyun mengangguk pasti. "Eum, aku memberikanmu kesempatan untuk mengisi hatiku kembali Chanyeol.."

Sontak Chanyeol terlonjak senang dan langsung saja memeluk Baekhyun. Ia sangat senang, ini adalah moment paling indah dalam diri Chanyeol saat Baekhyun mau kembali bersamanya setelah apa yang ia lakukan selama ini. Perjuangan yang terus ia gencarkan untuk mendapatkan Baekhyun berbuah manis. Dalam hati ia juga berterima kasih kepada Jongin yang telah meyakinkan Baekhyun.

Sedang Baekhyun, ia mulai meyakini bahwa Chanyeol adalah orang yang tepat untuknya. Ia yakin bahwa Chanyeol akan membahagiakannya. Baekhyun mencintai Chanyeol, namun masih belum sanggup melepas Jongin. Tetapi setelah Jongin mengatakan bahwa Jongin telah bahagia disana, Baekhyun juga harus bahagia dengan orang yang ia cintai. Rasa cinta yang pernah memudar namun kembali bersemi saat sosok yang dicintainya berjuang mati-matian untuk membuat rasa itu kembali datang.

Baekhyun merasa hangat dalam pelukan Chanyeol. Tubuhnya bergetar dipelukan itu. Ternyata tangisan mengiringi pelukan itu. Baekhyun merasa lebih nyaman mampu membuka hati sepenuhnya untuk Chanyeol. Ia akan berjanji kepada dirinya sendiri juga Jongin bahwa ia akan bahagia bersama Chanyeol. Ia tidak akan memperlakukan Chanyeol sebagai pelampiasan, melainkan sebagai sosok yang benar-benar ia cintai seperti sesungguhnya.

Chanyeol melepas pelukannya lalu menyorot lembut mata sipit itu.

"Terima Kasih Baek telah mau membuka hati untukku.. Terima Kasih.." tuturnya penuh rasa bahagia.

Baekhyun tersenyum lembut lalu mengangguk. "Tapi..."

"Tapi?"

"Jangan pernah meninggalkan aku lagi Yeol... Aku tidak mau ditinggal berulang kali..." ucap Baekhyun dengan nada polos menggemaskan namun penuh harap.

Bibir tebal Chanyeol melengkung. "Tidak... Aku tidak akan meninggalkanmu... Aku janji, apa harus aku tinggal bersamamu?" tanya Chanyeol dengan nada menggoda seraya mengedipkan sebelah matanya.

"Yaa! Chanyeol-ah.. Aku serius.." gerutu Baekhyun dengan bibir mengerucut lucu.

Chanyeol tertawa pelan melihat ekspresi Baekhyun. "Aku serius Baek... Aku janji tidak akan meninggalkanmu..." tutur Chanyeol meyakinkan Baekhyun.

"Baek..." panggil Chanyeol pelan.

Baekhyun mengerutkan dahinya.

"Apa aku boleh minta seseuatu?" tanya Chanyeol dengan mengerlingkan matanya.

Bibir Baekhyun mengerucut, dahinya semakin mengerut tak paham. "Apa Yeol?"

"Eum, boleh aku menciummu?" suara Chanyeol terlihat malu-malu.

Baekhyun mengangguk mengiyakan permintaan Chanyeol.

Tanpa babibu, Chanyeol langsung meraup bibir tipis Baekhyun tak kalah lembutnya. Kali ini Baekhyun tak terkejut. Ia merasakan kelembutan bibir Chanyeol membelai hangat bibirnya. Baekhyun mengimbangi kecupan itu, sontak Chanyeol memperdalam lumatan itu dengan menekan tengkuk Baekhyun.

Pagi ini...

Di pagi awal musim panas ini, menjadi pagi yang indah untuk kedua insan ini...

Terutama Chanyeol...

Ia merasa sangat bahagia, ini baru awal ia telah bahagia bagaimana dengan akhir nanti? Semoga apa yang ia harapkan terjadi kepadanya.

.

.

.

.

.

Di ruang kamar milik Taehyung, mata Baekhyun harus terlihat sembab setelah menangis. Berbeda dengan beberapa saat yang lalu, kali ini Baekhyun bersedih karena akan ditinggal dengan dua teman tersayangnya. Baekhyun sempat meminta mereka untuk tinggal lebih lama namun pernikahan mereka hanya dalam hitungan hari. Mau tak mau keduanya tak mengabulkan keinginan sosok tersayangnya itu.

"Baek... Kita pergi dulu ne..." ucap Kyungsoo seraya memeluk tubuh Baekhyun.

Bibir tipis Baekhyun mengerucut sedih. "Kenapa pulang sekarang sih? Pulanglah besok saja... Aku tidak mau kalian tinggal.." keluh Baekhyun.

Kyungsoo tersenyum simpul. "Baek, kita ingin menyiapkan pernikahan kita.. Kalau kita terus disini siapa yang akan menyiapkannya?" sahut Kyungsoo lembut.

"Baek... Kita pasti akan main lagi ke Seoul... Atau kau saja yang ikut dengan kita ke Cheonjoo?" tawar Junmyun.

Baekhyun menggeleng. Ia tidak mau ke Cheonjoo. Tinggal di Cheonjoo akan mengingatkannya kepada Jongin. Apalagi jika nanti ia tinggal dengan Junmyun, rumah Junmyun juga rumah Jongin.

"Aku akan kesepian tanpa kalian..." ujar Baekhyun pelan.

Junmyun terkekeh tiba-tiba. "Mana mungkin? Disini ada Chanyeol, kau tidak akan kesepian.." goda Junmyun. Dua orang ini sudah tahu jika Baekhyun telah membuka hati dan memberikan kesempatan kepada Chanyeol untuk menjadi pendampingnya.

Baekhyun hanya mengerucutkan bibirnya sebal.

"Hahaha, tenang saja. Kita akan kembali ke Seoul setelah menikah. Tapi tidak janji juga sih.." goda Junmyun.

"Yaa! Yasudahlah.. aku akan ke Cheonjoo saat pernikahan kalian.."

Junmyun dan Kyungsoo mengangguk paham. "Kita pergi dulu Baek.. Jaga dirimu baik-baik.. Jangan kembali murung. Selalu tersenyum biar kau tambah cantik..." tukas Kyungsoo seraya memeluk kembali Baekhyun.

"Pasti... Terima kasih telah menyempatkan datang ke Seoul. Apa perlu aku mengantarkanmu ke stasiun?" tawar Baekhyun.

Kyungsoo menggeleng. "Tidak usah Baek.. Kita akan berangkat sendiri kesana..." tolak Kyungsoo lembut.

"Baiklah..."

Junmyun mengangkat kopernya. Sebelum ia benar-benar pergi ia teringat sesuatu.

"Ah iya... Jihyun, Taehyun terima kasih atas kesediaan kalian menampung kita beberapa hari ini. Jangan lupa jaga Baekhyun. Jangan biarkan dia terus bersedih dan cemberut seperti sebelumnya.." tutur Junmyun panjang lebar.

Jihyun dan Taehyun mengangguk paham. "Eum, pasti hyung.. Kita akan selalu menjaga Baekhyun noona.. Dan dapat dipastikan jika Baekhyun noona tidak akan mengenal kata cemberut lagi." Balas Taehyun dengan semangat empat lima.

"Kita selalu ada di sisi Baekhyun..." tambah Jihyun.

Junmyun dan Kyungsoo mengangguk-angguk paham. "Aku senang kau di kelilingi dengan orang-orang yang menyayangimu..." ucap Junmyun.

Sekali lagi tubuh Junmyun memeluk Baekhyun erat. Lalu melepaskannya.

Lantas keduanya melangkah keluar rumah diiringi Baekhyun dan Jong bersaudara.

"Hati-hati..." ucap Baekhyun sedikit bersedih.

Kyungsoo mengangguk. "Eung, kita berangkat dulu ne..." seru Kyungsoo seraya melambaikan tangan. Baekhyun membalas lambaian itu.

Tak lama keduanya menjauh dari rumah Baekhyun dengan taksi yang membawanya.

Rumah besar keluarga Nam kembali sepi, hanya meninggalkan Baekhyun dan Nam bersaudara. Namun tampaknya Taehyun juga akan meninggalkan rumah untuk urusan kampus. Padahal ini musim panas, liburan sudah tiba tapi kenapa Taehyun dan Taehyung masih sibuk dengan kuliahnya. Baekhyun hanya menggeleng tak mengerti urusan mereka.

Mengetahui akan membosankan jika hanya menatap datar layar televisi, Baekhyun memilih pergi ke dapur. Setidaknya menghabiskan waktu di dapur akan jauh lebih menyenangkan daripada hanya duduk bermalasan seraya menonton acara televisi yang tak menariknya.

Tangannya telah memegang pisau dan siap merajang kasar sayuran yang ada di depannya. Rencananya Baekhyun ingin membuat masakan yang enak, mengantisipasi kedatangan Chanyeol yang sering tiba-tiba muncul. Kasian kan kalau Chanyeol datang tapi tidak disuguhi makanan? Sesekali bibirnya bernyanyi riang seraya tangan gencar memainkan pisau itu.

Seperti sebelumnya, memasak makanan bagi Baekhyun tak membutuhkan waktu lama. Saat ini di hadapannya telah tersaji beberapa piring makanan. Akan cukup bahkan lebih jika hanya dinikmati lima orang saja. Setelah selesai Baekhyun kembali ke ruang tengah dengan membawa dua buah minuman dan satu toples kue kering untuknya dan Jihyun yang kebetulah berada di rumah.

Baekhyun meletakkan bawaannya di depan Jihyun.

"Baek... Kau tahu saja kalau aku sedang lapar..." ujar Jihyun seraya meraih toples itu.

"Kau lapar? Aku sudah selesai memasaka. Makanlah dulu unni..." sahut Baekhyun.

Jihyun menoleh sekilas kearah Baekhyun lalu menggeleng. "Tidak, aku akan makan bersama nanti.."

Baekhyun mengangguk pelan. "Habiskan saja itu, nanti kalau habis aku ambilkan lagi..." tukas Baekhyun.

"Eum, terima kasih Baekiku sayang~~..."

Detik berlalu berganti menit..

Menit berlalu berganti jam..

Jam telah berlalu hingga mentari telah menyingsing di ufuk barat dan siap menenggelamkan diri.

Di depan balkon kamarnya, sosok manis bermata sipit ini tengah menikmati pemandangan kota yang menurutnya cukup menarik. Keramaian kota dengan puluhan kendaraan berlalu lalang bermandikan cahaya mentari senja. Namun satu mobil membuatnya terus menggerakkan kepalanya seiring laju mobil yang mulai masuk kedalam halaman rumahnya.

Ia tahu siapa pemilik mobil itu. Sekilas, senyum tipis mengulas dari bibir tipisnya. Sosok yang ditunggunya datang juga. Lantas Baekhyun segera bergerak dari balkon untuk menyambut tamu spesialnya itu.

Sesampainya di depan pintu, Baekhyun langsung membuka pintu.

"Annyeong Baekhyun... Apa kau sudah tahu kalau aku akan kemari?" tanya Chanyeol dengan senyum lebarnya.

"Tidak, aku melihatmu dari balkon.." tuturnya.

Chanyeol mengangguk-angguk paham.

"Kajja masuk, apa kau sudah makan? Aku sudah memasak banyak makanan untukmu.."

Chanyeol berhenti sebentar.

"Ada apa?" tanya Baekhyun bingung.

"Aku ingin mengajakmu makan di luar Baek..." ajak Chanyeol.

"Tapi? Makananku?" tanya Baekhyun bingung.

"Biar dimakan sama yang lainnya.. ayolah Baek..." paksa Chanyeol.

Baekhyun mengangguk mengiyakan lalu masuk ke dalam untuk bersiap-siap. Chanyeol menunggu Baekhyun di ruang tamu dengan sesekali menggumam lirih dan memandang kamar Baekhyun. Bibirnya mengerucut saat Baekhyun tak kunjung muncul.

Namun seulas senyum ia berikan kepada sosok manis kala sosok itu berdiri dengan wajah cerah. Sempat Chanyeol terpukau dengan penampilan Baekhyun. Sungguh, siapapun yang melihat Baekhyun saat ini pasti akan berpikiran sama dengan Chanyeol. Cantik dan manis..

.

.

.

.

.

Sebuah cafe terbuka di pinggiran sungai han menjadi tempat pilihan Chanyeol mengajak Baekhyun makan malam. Pemandangannya indah, kedua mata sipit Baekhyun tak berhenti menyorot kagum hingga hampir saja lupa dengan tujuan mereka datang kemari.

Chanyeol hanya mendesah saat mengikuti arah sorot mata sipit Baekhyun. Kenapa Baekhyun jadi asyik sendiri?

"Baek..." panggil Chanyeol pelan.

Baekhyun masih berada dalam kenikmatan memandang lukisan Tuhan yang indah.

"Baek..." panggilnya lagi.

Kali ini Baekhyun menoleh. "Eh Yeol? Maaf, aku terlalu menikmati pemandangan sungai han yang selalu bisa menyihirku..." tutur Baekhyun dengan imutnya.

Chanyeol memanyunkan bibirnya.

"Oh ya Yeol, kenapa kau mengajakku makan malam?" tanya Baekhyun.

"Aku ingin kencan denganmu Baek..." jawab Chanyeol dengan cengiran khas miliknya.

Baekhyun melengos. "Kau ini..."

Tiba-tiba Chanyeol jongkok di depan Baekhyun. Baekhyun tersentak saat melihat perilaku Chanyeol. Ia tak mengerti maksud Chanyeol.

"Kenapa Chanyeol? Kenapa kau berjongkok?" tanya Baekhyun bingung. Lebih bingung lagi kala beberapa pasang mata mulai terpaku kepada mereka. "Chanyeol-ah... Bangunlah, aku malu dilihat mereka.." ucap Baekhyun lirih.

Alih-alih menjawab, Chanyeol mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna merah. Tangannya membuka kotak itu dan muncul sebuah benda berkilauan. Bisa ditebak, sebuah cincin emas bermatakan berlian kecil. Tidak berlebihan, sederhana namun sangat manis. Sontak hal itu semakin membuat Baekhyun tak mengerti.

"Baek..." panggil Chanyeol.

Baekhyun menatap bingung wajah Chanyeol.

"Chan-Chanyeol..."

"Aku ingin mengatakan kepadamu... Maukah kau menikah denganku?" tanya Chanyeol serius.

Baekhyun masih bingung, bukankah ia telah mengijinkan Chanyeol memilikinya? Kenapa Chanyeol harus melakukan ini? Hatinya terus bertanya.

"Aku.. Aku sudah milikmu... Kenapa kau mengatakan ini?" tanya Baekhyun bingung.

"Memang, tapi aku belum resmi memintamu kan? Ini saatnya aku meminta kau menikah denganku..." tutur Chanyeol.

Belum sempat Baekhyun menjawab, Chanyeol meraih tangan Baekhyun dengan tangan kanannya lalu dikecup pelan.

"Maukah kau menikah denganku Byun Baekhyun?" tanya Chanyeol sekali lagi.

Baekhyun tersenyum. Ia mengerti maksud dari Chanyeol. Ia tak menjawab, ia meraih wajah Chanyeol lalu menangkupnya lalu mengangguk. Chanyeol tersentak senang. Saat akan mengecup bibir Baekhyun, ternyata lebih sulu Baekhyun menempelkan bibirnya. Sontak Chanyeol tercengang tak percaya.

Namun hanya sebentar, Baekhyun melepaskan bibirnya.

"Baek..." panggil Chanyeol seraya mengerucutkan bibirnya.

Baekhyun terkekeh geli. "Maaf, eum.. Aku mau menikah denganmu..." jawab Baekhyun yakin.

"Aahhhh, Terima Kasih Baek..."

Chanyeol bangkit lalu memeluk Baekhyun. Ia tak memperdulikan beberapa pasang mata yang telah bertepuk tangan atau sekedar berdecak. Tanpa ada aba-aba, Chanyeol meraup bibir tipis Baekhyun. Dikecup pelan lalu dilumat. Baekhyun tersenyum di antara belaian bibir tebal Chanyeol. Lantas ia membalas dengan mengalunkan kedua tangannya. Mereka saling berpagutan dalam sorotan mata orang sekitar. Mereka tidak peduli asal mereka bahagia.

.

.

.

TBC

.

Mind to review?

Terima kasih~