Too Late for Sorry...

Author :

.

Deer Luvian

.

Main Cast:

.

Byun Baekhyun (GS)

Park Chanyeol

.

Other Cast:

.

Lu Han (GS)

Kim Jongin

Do Kyungsoo (GS)

Kim Joonmyeon

Byun (Jung) Daehyun

Jung Ilhoon

.

Genre:

.

Hurt/Comfort, drama, angst

.

Rated:

.

T-T+

.

Lenght :

.

multi chapter

.

*Disclaimer:

Semua cast yang saya pakai sepenuhnya milik Tuhan Yang Maha Esa. Dilahirkan oleh kedua orang tua masing-masing dan dibesarkan oleh agensi mereka. SM Ent, maupun yang lainnya. Jalan cerita, ide cerita dan segalanya yang berkaitan dengan cerita sepenuhnya milik author. Kalaupun ada kesamaan cerita saya mohon maaf sebesar-besarnya.

This original stories is mine with pairing before WooGyu and I posted on Asianfanfics so If u feel that u've been read it, please bear it! I just re-make my own stories. Thanks for your attention..

This is genderswitch for several cast.

With pairing ChanBaek slight! KaiBaek, ChanLu, HunHan.

Please don't bash! Don't plagiat!

DLDR

.

AU! OOC! GS!

.

Thanks!

.

Summary:

Baekhyun hanyalah seorang istri yang terlalu lama merasakan gerusan di hati. Beberapa saat ia tahan dengan sikap Chanyeol yang terus mengumbar kemesraan dengan Lu Han. Awalnya ia sanggup menahan namun lama kelamaan ia memilih mengakhiri semua. Bagaimana dengan Chanyeol? Apa dia akan tetap sama setelah kepergian Baekhyun?

.

.

Happy Reading ^^,

.

.Chapter 18.

.

.

Beberapa bulan kemudian...

Mentari pagi sepertinya enggan untuk bersinar. Ah iya, ia tak akan bersinar di pagi ini juga beberapa pagi mendatang karena memang saat ini adalah musim dingin. Dimana hanya ada butiran-butiran kecil dingin yang berjatuhan dari atas langit.

Udaranya begitu dingin terbawa angin menyeruak masuk melalui celah-celah jendela yang tak tertutup rapat. Beruntung perapian apartemen itu berfungsi dengan baik sehingga dinginnya tak begitu menyiksa sosok yang tengah berdiri di antara perkakas dapur.

Sosok bermata sipit ini sedang memasak untuk menyiapkan makan pagi suami tercintanya, siapa lagi kalau bukan Park Chanyeol. Chanyeol masih terlelap dalam mimpinya. Hari ini hari libur jadi tak masalah bagi Chanyeol untuk bangun siang. Apalagi di musim seperti ini.

Baekhyun memotong sayuran di hadapannya dengan sesekali bernyanyi pelan. Terkadang bibirnya tertarik sebagai respon atas lirik yang ia nyanyikan. Ia membayangkan kembali pernikahannya dengan Chanyeol beberapa bulan lalu. Rasanya masih seperti mimpi.

"Yeobo... Kenapa kau tak membangunkanku?" tanya seseorang dari balik dapur dengan suara paraunya.

Baekhyun tersenyum manis. "Aku tidak tega melihatmu.. Sepertinya kau sangat kelelahan.." jawab Baekhyun mengecup pipi Chanyeol yang telah memeluknya dari belakang.

Chanyeol mengerucut manja. "Aku harus rapat nanti siang Baek. Kalau aku tidak bangun klienku akan meninggalkanku." keluhnya.

"Jam berapa kau akan rapat sayang?"

"Jam sebelas."

Sejenak Baekhyun melirik jam yang menggantung di atas lemari es. Lalu tersenyum manis. "Sekarang masih jam sembilan. Masih ada banyak waktu Chanyeol-ah. Sekarang kau mandi eum.." perintah Baekhyun.

Chanyeol menyeringai dilengkapi tatapan menggoda. "Mana morning kissku ?"

Baekhyun mengecup kilat bibir tebal Chanyeol lalu tersenyum. "Sekarang kau mandi eum."

Chanyeol menggeleng, ia meraih wajah Baekhyun dan membawanya dalam satu kecupan dalam. Bibirnya dilumat habis oleh Chanyeol bahkan Baekhyun tak diijinkan untuk sekedar menghirup udara.

Baekhyun memukul dada Chanyeol. "Chan-Chanyeol-ah.. shh..." protes Baekhyun.

Chanyeol terkekeh pelan lalu kembali meraup bibir cherry milik Baekhyun. Ia melakukan lagi dengan lembut. Baekhyun mengimbanginya dengan mengalungkan tangannya di leher Chanyeol lalu memperdalam ciuman mereka.

Cukup lama mereka bertautan panas hingga sebuah suara menghentikan aksi mereka.

"Ahhhh..." jeritnya seraya menutup kedua matanya.

Chanyeol melepaskan ciumannya dan memandang heran sosok yang menjerit itu. Dari cara menjerit ia tahu siapa sosok itu, Byun Taehyung adik bungsu Baekhyun.

"Ada apa Tae-ya?" tanya Baekhyun heran.

Taehyung mendengus. "Kalian ini seenaknya saja melakukan hal yang tidak senonoh di sembarang tempat. Kalian bisa meracuni pikiran polosku!" cerocos Teahyung menggemaskan.

Baekhyun maupun Chanyeol terkekeh geli.

"Kau ini bagaimana sih Tae-ya? Ini rumah hyung.. Jadi bebas dong hyung mau melakukan apa?" jawab Chanyeol enteng seraya mengacak kasar rambut Taehyung. Detik berikutnya ia meninggalkan Baekhyun dan Taehyung untuk mandi.

Lagi-lagi Taehyung mendengus tak karuan. Ia kesal harus melihat adegan seperti ini berulang kali.

"Kau mau mencari apa? Atau kau lapar?" tanya Baekhyun lembut.

"Eum, aku lapar nona.. Aku akan kembali ke rumah Jihyun noona nanti siang."

Baekhyun mengangguk paham. "Baiklah, noona akan buatkan kau makan dan bekal. Bawalah ke rumah Jihyun unni. Bagi dengan mereka." ucap Baekhyun dibalas anggukan senang dari Taehyung.

"Eum,.. Aku mengerti!"

Setelah semua makanan siap, keluarga kecil Baekhyun menikmati sarapan bersama. Chanyeol, Baekhyun dan Taehyung. Kedua saudara ipar itu menyantap makanan yang telah disiapkan oleh Baekhyun. Bibir Chanyeol dan Taehyung sibuk mengunyah, sedang Baekhyun hanya memandangi mereka. Entah mengapa dirinya tidak nafsu untuk makan meski Chanyeol sudah menyuruhnya bahkan menyuapinya.

Setelah selesai, Chanyeol bangkit dan beranjak untuk berangkat kerja.

"Baek, kau harus makan! Aku belum melihatmu makan pagi ini..." ucap Chanyeol.

Baekhyun merapikan kemeja Chanyeol juga dasi Chanyeol. "Eum, setelah ini aku akan makan.. Badanku rasanya tidak enak." sahut Baekhyun.

"Sungguh? Kau sakit?" tanya Chanyeol khawatir. Tangannya memegang kening Baekhyun. Sedikit panas, raut mukanya memang sedikit pucat.

"Aku tidak apa-apa Yeol. mungkin hanya masuk angin. Ah jangan lupa mantelmu, kalau berkendara hati-hati. Jalanan licin." pesan Baekhyun.

Chanyeol mengangguk lalu mengecup kening Baekhyun. "Aku mengerti Baek.. Kau juga jangan lupa makan! Aku pergi dulu."

Baekhyun melambaikan tangannya seketika Chanyeol telah berada di dalam mobil dan bersiap untuk berangkat. Setelah Chanyeol pergi dari rumah Baekhyun memperhatikan rumah besar milik keluarga kecilnya.

Rumah ini merupakan rumah yang sama ketika ia masih bersama dengan Chanyeol dalam pernikahannya yang pertama kali. Banyak sekali kesakitan yang ia terima dengan rumah ini sebagai saksinya. Baekhyun tersenyum ketika mengingatnya lagi. Ia tak pernah tahu bagaimana takdir mampu merubahnya.

Dulu, bagi Baekhyun hidup bahagia dengan Chanyeol hanyalah sebatas mimpi. Mimpi yang tak pernah orang tahu kapan akan terwujud. Namun saat ini, rasanya masih seperti mimpi. Meskipun mereka telah berbahagia bersama selama dua bulan ini dan selamanya.

Setelah cukup puas bernostalgia dengan kenangan pahitnya, Baekhyun kembali masuk ke dalam rumah. Dingin, gumpalan benda-benda putih itu sudah meruntuhkan pertahanannya untuk bertahan disana. Lalu ia mulai membersihkan rumah.

Perabot rumah tangga yang tertata rapi di rumah besar itu tampak begitu mengkilat. Dengan sangat telaten tangan Baekhyun membersihkan satu persatu. Ia merasa bosan saat ditinggal sendiri seperti ini. Chanyeol kerja sedangkan Taehyun telah kembali ke rumah Nam bersaudara. Mau tak mau ia menikmati kesendirian lagi seperti biasanya.

Jika saja ini bukan musim salju ia akan keluar rumah dan menghabiskan waktunya untuk memandang keindahan alam diluar sana. Namun sayang, hanya akan menemui gumpalan salju seandainya ia nekad untuk keluar hari ini.

Beberapa saat berlalu, Baekhyun memilih menghabiskan harinya untuk menonton televisi. Tubuhnya terasa tak nyaman untuk melakukan hal yang lebih berat lagi. Ia mengistirahatkan tubuhnya. Bekerja membersihkan rumah cukup menguras energi yang tersimpan dirinya. Apalagi ia belum makan cukup karena tiba-tiba ia merasa mual.

Ketika ia tengah hanyut dalam tontonan yang menurutnya cukup menarik, seseorang mengetuk pintu rumah Baekhyun. Baekhyun merasa aneh, kenapa orang ini mengetuk pintu bukannya memencet tombol rumah. Dengan sedikit malas, Baekhyun membukakan pintu itu. Dan..

"Baekhyuniiiiiieeeeeeee..." jeritan suara cempreng milik Luhan terdengar mendengung di telinga Baekhyun.

"Yaa! Jangan berteriak eoh! Telingaku sakit!" bentak Baekhyun menggemaskan.

Sosok yang dibentak hanya terkekeh tak bersalah. "Maaf Baek.. Aku hanya terlalu bersemangat untuk bertemu dengamu." Sahut Luhan.

"Ck, kau ini. Ayo masuk! Di luar dingin." ajak Baekhyun seraya menggandeng tangan Luhan. Wanita di sebelahnya ini tak lagi buncit. Sebulan yang lalu si jabang bayi telah keluar dan menghirup udara di dunia. Seorang bayi laki-laki imut menggemaskan menambah ramai keluarga Luhan.

Luhan segera mengikuti langkah kaki Baekhyun dan berhenti di ruang tamu. Sebentar Baekhyun meninggalkan Luhan untuk mengambilkan minuma di dapur. Tak lama, Baekhyun kembali dengan tangan membawa dua buah gelas jus jeruk.

"Kau ini baru melahirkan kenapa sudah keluyuran?" tanya Baekhyun.

"Hehehe, aku tidak keluyuran. Aku ingin memberikan undangan ini untukmu Baek." ucap Luhan seraya menyerahkan sebuah undangan kepada Baekhyun.

Baekhyun terbelalak. "Eoh? Kau mau menikah? Dengan?" Baekhyun membuka undangan itu. "Oh Sehun?" tanya Baekhyun.

"Eum, aku akan menikah dengan Sehun.." sahut Luhan senang.

"Ah, ini alasanmu menamai anakmu Oh Seyeol?" tanya Baekhyun lagi.

Luhan mengangguk mantap. "Yups.. Aku sengaja menamainya dengan marga Oh supaya tidak repot mengurusnya nanti. Yahh, walau sedikit susah sih.." jawab Luhan. "Kau datang ya Baek. Pernikahan kami akan dilakukan besok di Hotel Infinite."

Mata sipit Baekhyun melebar sempurna. "Besok? Malam natal?" tanya Baekhyun kaget.

"Eum, ada yang salah?"

"Kenapa kau baru memberi tahu? Aku belum menyiapkan kado pernikahan untukmu." ujar Baekhyun sedikit sedih.

Wanita bertangan kurus itu menyentuh pelan pundak Baekhyun. "Aku tidak perlu kado Baek. Kehadiranmu dan Chanyeol sebagai saksi sudah cukup berarti untukku."

"Benarkah? Ehm, baiklah aku akan hadir di pernikahanmu." sahut Baekhyun.

Lantas Baekhyun meraih minum di depannya dan diseruput pelan. Namun setelah itu rasa mual kembali menyerang Baekhyun. Baekhyun bergegas ke kamar mandi diikuti oleh Luhan dari belakang.

"Kau sakit?" tanya Luhan seraya menepuk-nepuk pelan punggung Baekhyun.

Baekhyun masih berusaha mengeluarkan muntahan yang mungkin memang harus dikeluarkan. Namun hanya air yang keluar dari sana.

"Apa kau masuk angin?" tanya Luhan lagi. Baekhyun menggeleng.

"Aku tidak tahu Luhan, sudah dua hari aku seperti ini.."

Luhan tersenyum, ia tahu mengapa Baekhyun seperti ini. Sepertinya anak Luhan akan mendapatkan adik baru. Lantas ia mengusap pelan punggung Baekhyun.

"Kau hamil Baek.." ucap Luhan. "Ini namanya morning sick."

Baekhyun terperangah kaget dengan kata-kata Luhan. "Ha-hamil?"

"Eum, jangan kaget! itu hal biasa apalagi kalau kalian sudah melakukan itu." Luhan mengerlingkan matanya. "Aku pernah mengalaminya juga Baek.." lanjutnya.

Baekhyun terdiam meresapi kata-kata Luhan. Mungkin saja ada benarnya. Bibirnya tiba-tiba tersenyum jika memang apa yang dikatakan Luhan itu benar. Lalu ia menunduk malu.

"Hey Baek! periksakan ke rumah sakit.. Biar kau lebih yakin. Mau aku antar?"

Baekhyun menggeleng lemah. "Tidak usah, nanti saja." ucapnya lembut.

Luhan mengangguk paham. Lantas keduanya kembali ke ruang tamu. Luhan merasa urusannya sudah selesai lantas memilih untuk pamit pulang.

Setelah kepergian Luhan, Baekhyun membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. Ia masih teringat kata-kata Luhan. Apa benar ia hamil? Ini akan sangat membahagiakan keluarganya jika memang Baekhyun dipercaya untuk mengandung seorang bayi seperti Luhan.

Esok setelah pernikahan Luhan ia akan pergi ke rumah sakit tanpa mengatakan kepada Chanyeol. Sebagai antisipasi kalau Baekhyun tidak hamil tidak akan mengecewakan Chanyeol. Senyum manis mengembang lagi di wajah manisnya. Lalu ia meredupkan pandangannya dan terlelap.

.

.

.

.

Langit biru telah menghitam beberapa jam yang lalu. Udara dingin yang ditimbulkan oleh musim salju ini semakin menambah dingin malam ini. Sedari tadi Baekhyun masih membaringkan tubuhnya diranjang. Hampir lima jam ia terlelap tanpa ada keinginan untuk bangun. Rupanya dinginnya salju telah menyihirnya untuk tetap berada diatas ranjang yang empuk dan hangat.

Merasa ada sesuatu yang berbunyi, Baekhyun membuka pelan kedua matanya. Sedikit sadar ia mengetahui bunyi itu. Bunyi yang ditimbulkan dari perutnya. Sepertinya ia butuh makan. Lantas Baekhyun bangkit menuju dapur.

Jam menunjukkan pukul delapan malam. Bibirnya tersenyum. Sebentar lagi Chanyeol pulang. Segera ia masuk ke dapur untuk membuatkan makan malam sang suami.

Seperti biasa tak butuh waktu lama beberapa makanan hangat telah tersaji di meja makan. Ia duduk didepannya menunggu sang suami pulang. Benar hanya lima menit menunggu, Chanyeol telah tiba dihadapannya.

"Baek!" seru Chanyeol saat melihat Baekhyun tersenyum di depan meja makan.

"Ayo makan.." ajak Baekhyun seraya mengambilkan piring untuk Chanyeol.

Lelaki tampan itu mengangguk antusias. Ia duduk di depan Baekhyun dan menerima uluran piring dari Baekhyun.

"Ah iya, tadi Luhan datang kemari.." kata Baekhyun membuka pembicaraan yang sempat terhenti beberapa saat.

Chanyeol mengunyah makanannya cepat. "Luhanmie? Ada apa?" tanyanya heran.

"Dia akan menikah dengan Sehun-sshi.."

"Waahhh, cepat sekali dia akan menikah. Kapan Baek?" lanjutnya seraya mengunyah kembali makanannya.

Baekhyun meneguk minum. "Besok.." jawabnya pelan.

Chanyeol tersedak makanannya. "Besok? Ya! Kenapa mendadak sekali?" seru Chanyeol.

"Ya! Kau jorok sekali eoh. Makananmu terlempar kesini Chanyeol!" pekik Baekhyun seraya membersihkan cipratan yang diciptakan Chanyeol.

"Hehehe, maaf sayang.. Aku kaget. lalu?"

"Lalu? Kita belum ada kado Yeol. Kita harus membeli kado.."

Chanyeol mengangguk setuju. "Kau benar, biar aku saja yang mencarikan kado setelah makan. Kau istirahat saja.." saran Chanyeol.

"Tapi Yoelie.."

"Sudahlah Baek. Ayo lanjutkan makanmu." Lantas keduanya melanjutkan makan malam mereka.

Cukup sunyi ketika keduanya menikmati makan malam. Kali ini perut Baekhyun tak menolak makanan yang masuk ke dalam tubuhnya. Beberepa suapan telah diterima perut Baekhyun, ia menyudahi makannya. Chanyeol tersenyum senang kala melihat sang istri selesai makan. Pasalnya, tadi pagi ia tak melihat Baekhyun menyentuh makanannya.

Setelah selesai makan, Chanyeol pamit kepada Baekhyun untuk pergi keluar sebentar mencari kado pernikahan Luhan. Baekhyun mengangguk mengijinkannya. Tak lama, Baekhyun membaringkan kembali tubuhnya di sofa demi menunggu sang suami pulang nanti. Matanya tak bisa diajak berkompromi untuk terlelap karena memang ia telah tertidur begitu lama sebelumnya.

Lama menunggu tanpa sadar Baekhyun tertidur dengan tangan membawa majalan yang jatuh didadanya. Ia terlalu lelah menunggu Chanyeol.

.

.

.

.

Pagi itu dingin begitu kuat. Semburat kuning yang telah lama hilang juga tak kunjung muncul. Gesekan-gesekan kecil diciptakan Chanyeol untuk menghalau dingin yang seolah mengajaknya untuk bertarung. Sedikit melenguh karena dingin, Chanyeol meraba sosok di sebelahnya. Niat awalnya ia ingin memeluk sosok itu namun ia tak menemukannya.

Reflek, mata Chanyeol membuka sempurna. Pandangannya mengedar tak menemui apa yang ia cari. Sosok manis itu kemana perginya?

Sedikit menahan, ia menarik selimut dan kembali terlelap. Tetapi belum lama mata terpejam, suara gesekan yang beradu antara pintu dengan lantai menyentuh telinga Chanyeol. Rupanya sosok manis itu datang dengan pakaian yang rapi.

"Yeolie! Ayo bangun! Kita harus ke pernikahan Luhan sekarang." Ucap Baekhyun lembut seraya mengusap puncak kepala Chanyeol.

Lelaki itu menggeliat kecil. "Ini masih pagi Baek!" tolaknya lalu kembali memeluk 'guling' dengan erat.

"Hey! Ini sudah jam sepuluh. Kita akan telat. Upacara akan dilaksanakan jam 11 nanti." ujar Baekhyun.

Chanyeol tersentak lalu bangkit. Diliriknya sekilas jam yang berdetak. Memang sekarang hampir jam sepuluh pagi.

"Ayo kau mandi sana." Titah Baekhyun. Diletakkan baju Chanyeol disebelahnya.

Chanyeol menyambar baju itu dan membawanya ke kamar mandi.

Beberapa saat Baekhyun menunggu Chanyeol, sosok itu telah berada di hadapan Baekhyun dengan cengiran lebar. Baekhyun tersenyum dan menarik tangan Chanyeol untuk segera berangkat. Keduanya masuk kedalam mobil. Chanyeol mulai menggerakkan mobil itu dan melaju di jalanan Kota Seoul menuju tempat pernikahan Luhan dan Sehun.

Tak butuh waktu lama, keduanya sampai di hotel Infinite. Segera mereka masuk ke sana agar tak ketinggalan upacara pernikahan sepasang kekasih itu. Benar saja, upacara itu belum dimulai.

Sebuah ruangan besar yang didesain mewah seperti keinginan Luhan membentang luas. Beberapa hiasan menggantung apik disana. Semakin menambah ramai suasana pernikahan mereka.

Namun beberapa detik berikutnya, acara dimulai.

Untuk keberapa kalinya Baekhyun meneteskan air mata ketika melihat sepasang kekasih mengikat janji suci itu? Sudah berulang kali air mata itu jatuh tanpa ijin sang empunya kala indera pendengaran Baekhyun menangkap janji-janji yang diucapkan secara bergantian oleh sepasang kekasih ini.

Ia terharu dengan suasana seperti ini. Hening nan khidmat. Pikirannya kembali memutar memori saat-saat Baekhyun dan Chanyeol juga mengalami hal ini. Mengucapkan janji suci bersama untuk hidup yang lebih bahagia.

Tes, kembali tetes-tetes air mata seolah tak mau berhenti dari sumbernya. Ia menangis melihat kedua pasangan itu saling mengecup bibir dan berpelukan. Rasanya kebahagian menyelimuti mereka.

Dalam hati Baekhyun bersyukur. Semuanya telah berakhir dengan manis. Segalanya mendapatkan kebahagiaan masing-masing. Meski awalnya mereka terluka namun akhir manis selalu menyertai. Memang benar kebahagiaan itu selalu ada di setiap umat manusia. Tinggal kita yang mengolahnya dari derita yang ada.

Senyum manis mengembang setelah tetes air mata berhenti. Rasa senang dan bahagia tercipta kala mata sipitnya memandang sosok disebelah yang tersenyum tulus untuk pasangan baru itu. Akhirnya mereka bisa hidup sesuai dengan keinginan masing-masing tanpa ada yang tersakiti lagi. Semuanya telah berakhir dengan senyum mengembang lebar dan tawa renyah menggelegar. Semoga ini akan terus sampai mereka tak ada didunia lagi.

Semoga..

.

.

.

.

.

TBC

.

Mind to review?

Thanks.