Too Late for Sorry...

Author :

.

Deer Luvian

.

Main Cast:

.

Byun Baekhyun (GS)

Park Chanyeol

.

Other Cast:

.

Lu Han (GS)

Kim Jongin

Do Kyungsoo (GS)

Kim Joonmyeon

Byun (Jung) Daehyun

Jung Ilhoon

.

Genre:

.

Hurt/Comfort, drama, angst

.

Rated:

.

T-T+

.

Lenght :

.

multi chapter

.

*Disclaimer:

Semua cast yang saya pakai sepenuhnya milik Tuhan Yang Maha Esa. Dilahirkan oleh kedua orang tua masing-masing dan dibesarkan oleh agensi mereka. SM Ent, maupun yang lainnya. Jalan cerita, ide cerita dan segalanya yang berkaitan dengan cerita sepenuhnya milik author. Kalaupun ada kesamaan cerita saya mohon maaf sebesar-besarnya.

This original stories is mine with pairing before WooGyu and I posted on Asianfanfics so If u feel that u've been read it, please bear it! I just re-make my own stories. Thanks for your attention..

This is genderswitch for several cast.

With pairing ChanBaek slight! KaiBaek, ChanLu, HunHan.

Please don't bash! Don't plagiat!

DLDR

.

AU! OOC! GS!

.

Thanks!

.

Summary:

Baekhyun hanyalah seorang istri yang terlalu lama merasakan gerusan di hati. Beberapa saat ia tahan dengan sikap Chanyeol yang terus mengumbar kemesraan dengan Lu Han. Awalnya ia sanggup menahan namun lama kelamaan ia memilih mengakhiri semua. Bagaimana dengan Chanyeol? Apa dia akan tetap sama setelah kepergian Baekhyun?

.

.

Happy Reading ^^,

.

.Chapter 19.

.

.

Suara dentingan garpu yang beradu dengan piring kaca itu terdengar mendominasi ruang makan ini. Sepasang suami istri yang tengah menikmati makan pagi hanya diam dan terus mengunyah makanannya. Tak ada kata yang keluar.

Beberapa menit berlalu, salah satu dari kedua orang itu mengalah. Ia membuka mulutnya dan melontarkan pertanyaan kepada sosok lainnya.

"Yeolie.." panggilnya pelan. Pemilik nama mendongak.

"Apa kau akan bekerja di hari natal?" tanyanya dengan raut kecewa. Suaranya melemah di akhir. Memang ia sedang sedikit kecewa karena sang suami memilih bekerja daripada menghabiskan natal bersamanya.

Lelaki tampan itu meletakkan sumpitnya. Tangannya dilipat dan mata tajamnya menyorot lembut sosok yang tengah kecewa itu. "Maafkan aku Baekie... Ada klienku yang tidak mau mengganti hari pertemuannya. Karena besok dia harus kembali ke Jerman." Sahutnya.

"Tidak bisa ya?" desahnya pelan.

Lantas Chanyeol mendekat ke arah Baekhyun. Diusap pelan rambut Baekhyun lalu dikecupnya. "Aku minta maaf eum. Tapi aku janji akan pulang lebih awal nanti." yakinnya.

Baekhyun menatap penuh harap suaminya. "Kau yakin?"

"Pasti, aku akan pulang lebih awal nanti. Kau bisa menanyakan kepada Sungyeol jadwalku hari ini."

Baekhyun menggeleng kecil. "Tidak perlu, aku percaya. Jangan terlalu lama di luar eum, jaga kesehatanmu. Di luar dingin nanti kau sakit." oceh Baekhyun seraya memainkan ujung hidung suaminya.

"Yaa! Baekie, kau yang harusnya jaga kesehatan. Aku dengar dari Luhan kau mual-mual. Kenapa? Apa kau masih mual saat ini?" Ingin Chanyeol membalikkan ocehan Baekhyun malah terdengar khawatir kepada istrinya.

Baekhyun terkekeh pelan. "Eum, aku mual beberapa hari ini." sahutnya kemudian.

"Apa ingin aku antarkan ke rumah sakit? Kita bisa kesana sekarang." Ucap Chanyeol.

"Tidak, kau bekerja saja. Aku akan ke rumah sakit bersama Ilhoonie. Lagian ini hanya masuk angin biasa kok." Tolaknya lembut.

Tangan halus Chanyeol membelai pelan kedua pipi Baekhyun lalu mengecup bergantian. "Jaga kesehatanmu sayang, kau tahu kan betapa berharganya kau untukku?" mata tajam Chanyeol menyorot lembut manik sipit itu.

Kepala Baekhyun mengangguk disertai senyum manis mengembang. "Aku tahu Yeolie, aku akan jaga kesehatanku. Kau juga! Kau tahu kan betapa berharganya kau untukku?" cengiran lebar diberikan oleh Baekhyun.

"Ck, kau ini Baek!" lantas Chanyeol menarik tubuh Baekhyun dan membawanya ke dalam satu pelukan hangat. Baekhyun tersenyum bahagia di dalam pelukan sang suami. Rasanya memang nyaman saat berada di dada bidang sang suami.

Beberapa detik berlalu, Chanyeol melepaskan pelukannya kemudian mengecup lembut kening, kedua pipi dan terakhir bibir sang istri. Baekhyun tersipu malu, pipi mulusnya telah berwarna merah di sekitarnya.

Chanyeol terkekeh kecil melihat wajah Baekhyun. "Oh Baekkieku sayang! Wajahmu memerah eum. Kenapa kau masih malu saja? Kita sudah melakukannya berulang kali loh." Goda Chanyeol seraya mengerlingkan sebelah matanya.

Reflek, tangan Baekhyun memukul pelan lengan Chanyeol. "Hentikan sifat grease-mu itu Yeolie, kau ini pandai sekali menggoda! Jangan-jangan kau sering menggoda orang lain selain aku." Gerutu Baekhyun diiringi bibir tipis yang mengerucut lucu.

"Iya memang! Buktinya sekertarisku juga pernah jatuh cinta kepadaku!" canda Chanyeol.

Baekhyun semakin memerah entah marah atau bagaimana. "Ya! Park Chanyeol! kau ini, dasar pemain perasaan orang." Omelnya menggemaskan.

Chanyeol terkekeh pelan. Kedua telapak tangan Chanyeol menangkup pipi Baekhyun. "Hey Baek, hey Baekkieku sayang, hey nae yeobo! Aku memang mempesona untuk semua orang. Memang banyak yang menyukaiku di luar sana. Memang tak hanya satu dua orang yang jatuh cinta kepadaku. Tapi asal kau tahu, bagiku hanya satu yang mempesonakanku, hanya satu yang aku sukai, hanya satu yang bisa membuatku jatuh cinta sepenuh hati dan aku cintai dengan tulus. Hanya satu.." mata lembutnya tersenyum ketika menatap mata sipit Baekhyun yang terlihat bingung namun penuh harap. Tiba-tiba Chanyeol mengecup kedua kelopak mata Baekhyun.

"Kau Byun Baekhyun, ah bukan Kau Park Baekhyun, kau Nae Baekie, kau Yeobo. Hanya kau yang ada di hatiku. Bukan orang lain, bukan juga Luhan, kau tahu kan? Hanya kau." Ucapnya lembut.

Tak tahu mengapa mendengar kata-kata Baekhyun mampu meluluhkan segalanya yang ada dalam diri Baekhyun. Bahkan embun hangat yang bersembunyi di sudut mata Baekhyun tak mampu di bendung oleh kelopak mata untuk tidak meleleh. Baekhyun begitu terharu dengan kata-kata Chanyeol. Hatinya bagaikan di beri sesuatu yang mampu membuatnya tak karuan.

Chanyeol tersentak melihat air mengalir dari mata sang istri. "Hey, Kau menangis. Jangan menangis Baekkie!" ucapnya seraya mengusap air mata itu. Detik berikutnya ia membawa Baekhyun ke dalam pelukannya. Membiarkan sang istri meluapkan emosinya di pelukannya.

"Selamanya kau akan selalu di hatiku. Kau percaya kan? Kau boleh membunuhku jika aku berdusta kepadamu."

Baekhyun melepas pelukannya. "Ya! Kalau aku membunuhmu aku akan hidup dengan siapa?" sungut Baekhyun namun dengan nada yang begitu menggemaskan di mata Chanyeol.

Lagi-lagi lelaki tampan itu terkekeh geli. "Baiklah, aku anggap kau tidak bisa membunuhku!" sahutnya.

"Ya! Siapa yang tidak bisa membunuhmu?"

"Lalu? Kau akan membunuhku?"

"Pasti! Kalau kau menyakitiku seperti dulu aku akan membunuhmu!" bibir Baekhyun lebih dulu maju dengan wajah mengalih dari pandangan Chanyeol.

Chanyeol tertawa gemas. Tangannya meraih wajah Baekhyun yang telah berpaling. "Bisa dipastikan kau tidak akan melakukan itu." ucap Chanyeol lembut.

Baekhyun menatap kesal ke arah Chanyeol.

Tawa Chanyeol semakin pecah melihat ekspresi yang sangat menggemaskan dari sosok Baekhyun. Lagi dan lagi, Chanyeol merasa menyesal baru mengenal sepenuhnya Baekhyun akhir-akhir ini. Baekhyun sangat menggemaskan tidak pernah ia tahu sebelumnya.

Semakin lama detik berjalan, keduanya telah mendekat. Menatap satu sama lain dengan tatapan sayang yang terpancar. Menelisik setiap sudut mata dan hanya ditemui ketulusan disana. Tak ada keraguan sama sekali mencintai sosok di depannya saat itu. Lalu tanpa ada rambu lagi, hidung keduanya saling bersentuhan dan tergantikan oleh bibir yang telah menempel sempurna. Saling berpagutan menyalurkan rasa sayang yang ada di dalam hati. Membuktikan jika memang orang yang tengah dikecup ini memang satu-satunya pengisi relung hati, pengisi kelamnya otak, bahkan orang yang menyita seluruh jiwa yang ia miliki.

.

.

.

.

.

Udara dingin salju hari ini terasa sekali dinginnya. Sempat Baekhyun mengecek suhu di pengukur suhu, suhu mencapai di bawah minus lima. Benar-benar dingin sekali. Padahal ini masih pagi. Seharusnya ada mentari yang sedikit memberikan sinar agar makhluk di bumi tidak kedinginan.

Baekhyun mengeratkan kembali mantel yang ia pakai. Wanita kurus ini tengah menunggu kedatangan Ilhoon yang memang ia pinta untuk mengantarkannya ke rumah sakit. Cukup lama menunggu, sosok tampan itu datang dengan cengiran lebar di bibirnya.

"Noona!" serunya setaya memeluk Baekhyun.

Baekhyun cemberut. "Kau ini lama sekali! Noona hampir mati kedinginan." Keluhnya.

"Maaf noona! Aku harus mengisi bahan bakar dulu. Kajja, kita mau kemana noona? Rumah sakit? Memang noona sakit apa?" cerocos Ilhoon.

"Aku juga tidak tahu, makanya aku periksakan ke dokter. Kalau aku tahu ya tidak aku bawa ke rumah sakit." jawab Baekhyun.

Ilhoon berdecak kesal. "Terserah deh! Ya sudah ayo masuk keburu dingin nanti." Ilhoon menggandeng tangan Baekhyun agar masuk ke dalam mobil.

Lantas Ilhoon melajukan mobil itu menerjang gumpalan salju yang tersisa tipis setelah dibersihkan lebih dulu oleh para tentara.

Beberapa gedung perumahan terlampaui hingga mobil Ilhoon berada tepat di depan rumah sakit yang dituju. Segera Baekhyun turun dari mobilnya dan masuk ke dalam rumah sakit. Tujuannya kali ini adalah memeriksakan perutnya yang terasa tak nyaman beberapa hari.

Saat ini Baekhyun telah berada di depan Dokter Lee yang telah memeriksa perutnya. Ekspresi cemas dan penuh harap tergambar jelas di wajah Baekhyun. Ia sangat menanti hasil dari pemeriksaan itu. Karena ia berharap bahwa itu adalah...

"Eum, Byun Baekhyun-sshi. Saya telah memeriksa perut anda dan sepertinya anda.." Dokter menggantungkan kata-katanya semakin membuat Baekhyun penasaran.

"Saya sakit apa dok? Ada apa dengan perut saya?" tanya Baekhyun tak sabaran.

Sang dokter tersenyum kecil. "Anda tidak sakit apa-apa Baekhyun-sshi. Selamat karena anda telah mengandung seorang janin di dalam perut anda. Janin nyonya telah berusia lima minggu." Ucapnya dengan senyum yang mengembang.

Sontak Baekhyun terkejut bahagia. Apa yang ia inginkan akhirnya terkabul. Masih tak percaya ia mencoba menanyakan kembali. "Ha-hamil dok? Sungguh saya hamil?" tanya Baekhyun tak percaya.

"Iya nyonya, anda hamil. Selamat." Sahut Dokter meyakinkan. "ini beberapa resep yang harus anda minum obatnya nanti untuk mengurangi mual yang mungkin saja sewaktu-waktu muncul."

Lanjutnya seraya memberikan resep kepada Baekhyun. Rasanya Baekhyun berada dalam mimpi. Ia masih belum sepenuhnya percaya. Sedangkan Ilhoon juga merasa senang dengan kabar itu. Sebentar lagi akan ada keponakan yang diberikan Baekhyun kepadanya.

Lantas Ilhoon mengajak Baekhyun untuk keluar. Ekspresi Baekhyun masih sama saat ia di dalam ruangan sang Dokter.

"Waaahhh, noona kau hamil. Aku akan punya keponakan nih.." goda Ilhoon seraya mengusap pelan perut Baekhyun.

Merasa risih, Baekhyun menghempaskan tangan Ilhoon. "Aku risih hoonie. Ternyata kata Luhan benar kalau aku hamil." Gumam Baekhyun.

Ilhoon menautkan alisnya. "Sejak kapan noona mual-mual?"

"Beberapa hari yang lalu."

"Kenapa tidak segera diperiksakan kalau begitu?"

"Aku kira kalau hanya sakit biasa."

Ilhoon mengangguk paham dan menggandeng kembali tangan Baekhyun. Ia mengajak Baekhyun untuk pulang kerumah. Ah iya, ia ingin meminta Baekhyun untuk memasakkan makanan sebagai perayaan natal kali ini.

Baekhyun pun menyetujui hal itu. Lantas keduanya pergi ke pusat perbelanjaan untuk belanja beberapa keperluan sebelum pulang kerumah. Di saat mereka berbelanja Baekhyun mendapatkan pesan jika Junmyun dan Kyungsoo akan mampir ke rumah. Sehingga Baekhyun harus benar-benar menyiapkan makanan yang banyak untuk mereka.

Setelah berbelanja, keduanya memutuskan untuk langsung pulang. Jam yang melingkar di tangan Baekhyun sudah menunjukkan pukul satu siang. Mereka harus cepat kembali jika tidak ingin keduluan oleh Junmyun dan Kyungsoo maupun Chanyeol yang mengatakan akan pulang cepat hari ini.

.

.

.

.

.

Pukul satu lebih lima belas menit, mobil Ilhoon telah sampai di depan pelataran rumah Sungkyu. wanita sipit itu mengeratkan jaketnya dan turun dengan tangan membawa beberapa kantong plastik dibantu oleh Ilhoon di belakangnya. Mereka membawa barang belanjaan itu langsung ke dapur dan mulai bergerak memasak makanan.

Tangan Baekhyun begitu cekatan bila sudah memegang pisau. Satu persatu sayuran dan bahan makanan lainnya telah terpotong rapi dan siap untuk diolah. Ilhoon tak tinggal diam. Ia juga membantu Baekhyun menyiapkan segala keperluannya. Suasana seperti inilah yang dirindukan oleh Ilhoon. Memasak bersama dengan Baekhyun. Sudah berapa lama ia tak merasakan ini lagi setelah Baekhyun pergi dari rumah Chanyeol? Rasanya itu sudah lama sekali.

Ilhoon memperhatikan dengan baik setiap gerak tangan Baekhyun yang begitu telaten memasukkan bahan makanan dan bumbu-bumbunya agar dapat menghasilkan makanan yang mereka inginkan. Sesekali senyumnya mengembang kala mata besarnya menangkap ekspresi menggemaskan dari Baekhyun ketika makanan yang ia masak tak sesuai dengan keinginan.

"Noona.. Boleh aku coba?" tanya Ilhoon seraya menghampiri Baekhyun.

Baekhyun menoleh. "Eum, ini cobalah!" Baekhyun menyerahkan sesendok makanan kepadanya.

"Noona! Ini terlalu asin." Keluh Ilhoon seraya meludahkan kembali makanan itu.

"Eh? Benarkah?" lantas Baekhyun mencoba kembali makanan itu. Benar rasanya sedikit tidak enak. "Eishh, ada apa denganku? Kenapa malah keasinan seperti ini?" gerutunya seraya membuang makanan itu. Diliriknya sebentar jam yang menggantung. Jam setengah tiga. Ah, ia harus cepat-cepat kalau tidak ingin membuat mereka menunggu.

Namun sepertinya terlambat. Bel rumah miliknya telah berbunyi sebanyak dua kali. Menandakan jika seseorang datang.

"Ah, Hoonie. Kau buka pintunya eum?" pinta Baekhyun. Ilhoon mengangguk dan segera membuka pintu. Sedangkan ia masih berkutat dengan masakannya.

Tak lama kemudian, tiga sosok muncul kedapur. Tangan mereka penuh dengan keresek dan tempat makan. Lantas ketiganya meletakkan di atas meja. Salah satu dari mereka membuka apa yang dibawa.

"Kau tak perlu repot-repot memasak Baek. Kita sudah bawakan kau makanan. Ini cukup untuk beberapa orang." Ucap Kyungsoo seraya menata makanan yang ia bawa di atas meja.

Baekhyun mendesah. "Kenapa kau tidak mengatakannya dari tadi? Tahu begitu aku tidak akan membeli bahan sebanyak ini." gerutu Baekhyun dengan bibir mengerucut sempurna.

Kyungsoo terkekeh. "Aku lupa. Sudah, letakkan itu semua. Kajja kita makan bersama." Ajak Kyungsoo.

Junmyun dan Ilhoon mengangguk setuju. Namun sosok sipit itu hanya tertegun diam. Tubuhnya tak bergerak sedikitpun dan sorot matanya memandang aneh mereka bertiga.

"Baek! Kau tidak lapar? Ayo kita makan! Kita rayakan natal ini dengan makan-makan." Seru Junmyun kegirangan. Begitu pula Ilhoon.

Baekhyun mendengus. "Kalian tidak melupakan sesuatu? Mana kado natal untukku?"

"Baek! Kau ini bukan lagi anak kecil. Kenapa minta dibelikan kado?" sungut Kyungsoo kemudian. "Ah iya, mana Chanyeol? Kenapa aku tidak melihatnya?"

Baekhyun menghembuskan nafas berat lalu menarik kursi didepan Kyungsoo dan duduk kemudian. "Dia sedang ada meeting." Jawabnya pelan.

"Rapat? Di hari natal? Oh Tuhan! Apa yang suamimu pikirkan Baek? Bukankah ini natal pertama kalian?"

Baekhyun mengernyitkan dahinya bingung. Tangannya sibuk menyendokkan nasi. "Tidak! Sudahlah, kita makan saja."

Kyungsoo dan Junmyun hanya menggeleng-geleng kepalan saja melihat tingkah Baekhyun yang tiba-tiba berubah. Detik berikutnya, keempat manusia itu larut dalam makannya masing-masing. Sepi, tak ada suara yang terdengar selain pertemuan antara piring kaca dan sendok garpu.

Hampir setengah jam mereka selesai makan. Baekhyun dibantu Kyungsoo segera membersihkan sisa-sisa makanan yang ada. Setelahnya, mereka menuju ruang tengah untuk menikmati film yang memang menyenangkan ditonton saat natal. Natal kali ini terasa sangat dingin. Salju turun dengan lebatnya hingga mengurungkan mereka untuk pergi keluar.

Di tengah-tengah mereka menikmati film, sosok Baekhyun terasa begitu tak tenang. Sedari tadi ia gelisah, berulang kali melirik jam yang ada di dinding ataupun mengecek ponsel untuk sekedar melihat apakah ada pesan yang ia terima atau tidak. Rupanya Baekhyun tengah memikirkan Chanyeol yang tak kunjung pulang.

Waktu telah menunjukkan pukul sepuluh malam, namun sosok Chanyeol belum juga muncul. Ia menyesal mempercayai perkataan Chanyeol yang akan pulang cepat. Nyatanya lelaki tampan itu belum tampak batang hidungnya.

Rumah juga sudah sepi, Ilhoon sudah pulang. Sementara Junmyun dan Kyungsoo mungkin menikmati malam mereka di dalam kamar dengan ber-lovey dovey. Sementara Baekhyun? Ia masih terdiam di ruang tamu menunggu dengan cemas Chanyeol yang tak kunjung datang.

Sepuluh menit berlalu, pintu itu terbuka. Suara gesekan yang ditimbulkan kayu itu membuat Baekhyun membuka matanya lalu senyum mengembang di wajahnya.

"Yeolie.." seru Baekhyun seraya mengerucutkan bibirnya lucu.

Chanyeol memeluk Baekhyun erat setelah menutup pintu. "Ah, nae Baekie. Maaf eum, aku pulang terlambat. Klienku memintaku untuk menemaninya minum." Ujarnya seraya mengecup kilat bibir Baekhyun yang masih mengerucut.

"Sungguh? Kau tidak sedang berkencan dengan orang lain kan?" tuduh Baekhyun.

"Hey! Mana mungkin itu terjadi yeobo? Ayo masuk kekamar. Aku lelah sekali."

"Kau tidak lapar? Biarkan aku membuatmu makanan."

Chanyeol menghentikan langkah Baekhyun lalu menggeleng cepat. "Aku sudah makan diluar. Kita langsung ke kamar saja." ajaknya kemudian.

Baekhyun menurut dan mengikuti langkah kaki sang suami menuju kamar mereka.

.

.

.

.

.

Keduanya berada di atas tempat tidur. Chanyeol lebih dulu menutup semua jendela dengan erat. Menghalau udara dingin yang berusaha menyeruak di antara mereka. Tangan kekarnya mengusap lembut surai cokelat tua milik Baekhyun. Sesekali ia mengecup dalam puncak kepalanya.

Sementara Baekhyun menikmati belaian tangan Chanyeol yang terasa hangat di malam dingin ini. Ia hampir tertidur namun ia teringat sesuatu.

"Yeollie.." panggil Baekhyun pelan.

Chanyeol menatap wajah Baekhyun. "Kenapa sayang?"

"Ini malam natal, mana kado natalku?" tanya Baekhyun layaknya anak kecil. Lelaki tampan disampingnya itu memandang heran sosok Baekhyun. Ia tak habis pikir wanita seusianya bersikap seperti anak kecil saat mengucapkan hal itu.

Bibirnya tertarik membentuk lengkungan yang lebih tepat disebut seringaian. "Aku akan memanjakanmu dengan kenikmatan malam ini Baek." bisiknya seraya menjilat telinga Baekhyun.

Baekhyun mendesah pelan. "Ehh, Yeol.. Bukan itu.." elak Baekhyun.

"Lalu? Kau mau apa? Ah iya, aku lupa." Chanyeol bangkit dari tempat tidur menuju tas kerjanya. Ia tampak mengambil sesuatu yang berada di dalamnya. Sebuah kotak kecil berwarna merah pekat berada ditangan.

"Ini untukmu Baek." ucapnya kemudian.

Baekhyun menautkan kedua alisnya bingung. "Ini apa?" tanyanya.

"Kau ini bagaimana sih Baek? Katanya minta kado? Ya ini, kado untukmu." Desah Chanyeol.

Baekhyun menyengirkan gigi putihnya. Lantas ia mengecup lembut bibir sang suami. "Kau ingin kado dariku?" tanya Baekhyun dengan nada menggoda.

"Apa? Apa kado darimu Baek?" Tanya Chanyeol penasaran.

Baekhyun tersenyum dalam. Raut mukanya mengatakan kebahagiaan yang sangat-sangat ia rasakan saat ini. Binar matanya terpancar kuat di kristal sipit milik Baekhyun. Tangannya memeluk tubuh Chanyeol erat. Setengah berbisik ia memberi tahukan kabar membahagiakan itu.

"Aku hamil Chanyeolie.." bisiknya lirih.

Chanyeol tersentak kaget setengah tak percaya. "Ka-kau? Kau hamil Baek?" ulangnya.

Baekhyun mengangguk. "Eum, kau tak bahagia?"

"Tidak-tidak.. aku bahagia mendengarnya. Sungguh kau hamil? Waahhh, selamat datang jagoan appa di dalam perut eommamu. Sehat-sehat ya kau disana." tuturnya seraya mengusap lembut perut Baekhyun dan mengecupnya pelan.

Baekhyun tersenyum bahagia, keinginannya telah terkabul. Setelah perjuangan yang ia jalani selama bertahun-tahun akhirnya datang juga. Kebahagiaan yang tiada pernah bisa tergantikan. Baekhyun bersyukur sangat bersyukur.

Lantas Chanyeol menangkup wajah Baekhyun. Dipandangnya dengan sangat tulus mata segaris milik Baekhyun. Bibirnya terangkat tinggi hingga matanya semakin menyipit. Chanyeol mengecup dahi Baekhyun.

"Terima kasih Baek telah hadir dihidupku. Aku akan menjadi gila jika seandainya kau menghilang lagi dari hidupku."

Baekhyun menunduk malu. Pipinya memerah tersipu.

"Kau memang anugerah Tuhan yang tak bisa terganti oleh apapun. Hadirmu mengubah hidupku."

Baekhyun tak mengatakan apa-apa. Malah titik air mata turun dari sana.

"Hey! Kau selalu saja menangis. Baekieku. Dengarkan aku. Aku tidak pernah berdusta dengan kata-kataku. Aku sungguh berterima kasih atas semua yang kau lakukan."

"Yeolie... Aku juga berterima kasih kau mau menyadari semuanya. Terima kasih mau mencintaiku dengan sepenuh hatimu. Terima kasih." Baekhyun menenggelamkan kepalanya di dada bidang Chanyeol.

Chanyeol mengusap punggung Baekhyun dengan penuh sayang. Lalu ia melepaskan pelukannya. Menatap lembut kedua manik segaris itu dan mengecup dalam bibirnya. Detik selanjutnya ia melumat bibir itu. Baekhyun mengimbanginya dengan mengalungkan kedua tangannya dileher Chanyeol. Semakin memperdalam ciuman mereka.

Pemuda tampan itu seolah tak pernah merasakan adanya ketidaktulusan dari sosok Baekhyun. Semua yang dilakukan Baekhyun selalu menggunakan sepenuh hatinya. Chanyeol tersenyum didalam kecupan itu. Ia dapat merasakan betapa cintanya sosok yang tengah dikecupnya ini.

Mungkin ia memang terlambat akan semuanya. Ia terlambat menyadari cintanya kepada Baekhyun, ia terlambat mendapatkan Baekhyun. Bahkan ia terlambat mendapatkan kebahagiaan yang sebenarnya bersama Baekhyun. Namun meski ia terlambat mendapatkan itu semua. Rasa bahagia itu tetap ada untuknya. Ia merasakan betapa bahagianya hidup bersama dengan orang yang sangat ia cintai dan mencintainya dengan sepenuh hati. Menyesal, ia sangat menyesali baru saat ini mendapatkan semua ini. Padahal mereka telah saling mengenal sejak lama.

Namun, Chanyeol tak akan pernah berhenti bersyukur atas apa yang ia dapatkan saat ini. Kebahagiaan yang tiada tara. Kebahagiaan yang seolah sulit untuk ia dapatkan lagi jika ia menyia-nyiakannya. Kebahagiaan yang seakan datang hanya sekali dalam seumur hidup. Membuatnya berjanji kepada sosok manis itu untuk tidak menyakiti dan membuatnya kecewa. Ia berjanji akan selalu menjaga cinta mereka selamanya. Sampai akhir hayat dan sampai Tuhan benar-benar memisahkan mereka.

Karena cinta mereka sejati. Cinta mereka abadi. Cinta mereka selamanya.

"Aku mencintaimu Byun Baekhyun. Saat ini dan selamanya."

"Aku juga mencintaimu Park Chanyeol. Saat ini dan selamanya.."

.

.

.

.

END

.

.

.

.

Bagaimana? Semoga memuaskan yaa...

Saya ucapkan terima kasih banyak kepada kalian yang setia menunggu FF saya ini. Saya tau FF saya penuh dengan ketidaksempurnaan, tapi saya ucapkan terima kasih.

Ini FF panjang yang pertama kali saya buat sebagai debut author, saya hanya mengganti cast, jadi ya maaf kalau misal agak aneh ceritanya. Tapi saya senang dengan respon kalian. Terima kasih..

Oh ya mungkin di antara kalian pasti ada yang minta sequel? :D Ada sequelnya tapi nanti yaa saya publish.

(Kalau cerita yang lain rampung :D)

Sekali lagi saya ucapkan terima kasih banyak untuk kalian semua :* :*

Maaf tidak bisa membalas satu persatu review kalian.

Big thanks for;

.

All favoriter, follower dan reviewer.

.

Terima kasih banyak.

.

.

Best Regards

.

~Deer Luvian~