Alunan bertema klasik itu berasal dari gedung orkestra kelas dunia yang berpusat di Melbourne.

Eren Jaeger dan Levi Ackerman menjadi nama-nama cukup beruntung yang tersemat di jajaran anggota Royal Philharmonic negeri koala selama tiga semester berturut-turut. Armin Arlert juga termasuk, tapi tidak setenar dua yang baru saja disebut.

(Kalau menurut hukum sebab akibat versi Eren, itu karena pirang Arlert, menurutnya lebih banyak meniup pesawat kertas daripada flute.)

"Korespondensi. Isinya dilipat tiga presisi, lalu mengirimnya dengan bantuan burung merpati."

Armin berucap dengan muka tanpa dosa. Ujung bibir Eren berkedut-kedut.

Masih terlalu banyak bahan pembicaraan, tidak ada yang terburu-buru. Apalagi di tengah jam makan siang yang sudah sangat terlambat akibat porsi latihan yang mulai pudat. Singkatnya; konser tutup tahun sudah di depan mata. Kalau Australia tidak gencar memproduksi daging sapi, mungkin Eren dan Armin terpaksa mengunyah tumpukan partitur.

"Lalu surat-surat itu berbalas?"

"Sudah kubakar semua. Lagipula sekarang aku mulai terbiasa menggunakan app-phone."

Syukurlaaah, Eren segera memanjat puja-puji pada Yang Maha Teknologi. Setidaknya waktu lelahnya kini hanya sebatas menekan tombol pengaktif bluetooth, bukannya berlarian sepanjang jalan Swanston dalam rangka mencari kotak pos berkarat.

"Ini data apa?" mata biru memicing curiga melihat tanda pilihan terima pada bagian notifikasi. Sebuah file berjudul 'Eren tampan dan berani' baru saja menginvasi ponselnya.

"Bahan untuk konser Natal. Temanya Swan Lake. Tentang cinta segitiga memabukkan bertabur tragedi dan pengkhianatan." lembaran musik berlumur aneka toge dilempar sembarang ke atas meja, "Menggelikan."

"Tapi ini Symphony No. 4. Tchaikovsky?! Kupikir tiga bulan di London berhasil membuat para Recon muak dengan Tchaikovsky. Memang lebih baik kita kembali ke jaman Beethoven."

"Kau sarkastik, Armin?"

"Eren, hentikan. Ini sebuah saran."

"Tidak, tidak." sendok aktif di udara, si brunette lupa dirinya tengah menikmati sepiring sachertorte, "Kau sarkastik. Ini keajaiban."

"Lalu bagaimana hubunganmu dengan Levi? Ada keajaiban juga?"

Tikungannya tajam sekali, Eren mendadak tersedak ludah sendiri.

"Y-yah... lumayan. Kau tahu!? Dia memang sepuluh tahun lebih tua tapi tidak pernah memaksaku menyukai Beatles. Dia bahkan membiarkanku menyetel Megadeath keras-keras di acara setengah tahun hari jadi kami."

"Sesukamu."

"Jangan begitu, Armin. Sudah bagus Sir Erwin mau pura-pura menutup mata selama kami tidak bercinta di dalam Concert Hall atau membuat skandal yang tertangkap mata media."

Sang flautist mulai gerah. Tisu yang hendak dipakai mengelap bibir (Armin baru saja selesai menyantap seporsi kecil Napolitan, btw) beralih menyeka daerah kening, "Maaf. Terlalu banyak informasi. Cepat habiskan makananmu, kita masih ada sesi latihan malam!"

"Boleh aku bolos? Jariku lelah terus-terusan memetik biola sepanjang hari."

Terkesiap heran, "Kau baru bilang begitu sekarang? Setelah kita menjadi anggota Royal selama hampir dua tahun?"

"...Mikasa sudah menjadi contoh nyata."

Nama yang terakhir disebut seakan menjadi tombol pause mutakhir untuk membuat pemukim gedung Victoria berhenti menarik napas. Mikasa Ackerman. Sepupu jauh pacar Eren yang terkenal jenius mengeksekusi setiap biola solo di Royal dan menjadi figur bergengsi sebagai concertmaster selama enam musim berturut-turut. Salah satu member Recon elit.

"Aku hanya berpikir, Mikasa luar biasa. Kejadian itu seperti mimpi buruk. Aku masih tidak percaya kalau sekarang jarinya..." pegangan Eren pada sendok mendadak kesemutan.

"Setelah sembuh, dia akan kembali ke tengah-tengah kita lagi. Pasti."

Mengangguk setuju, Eren menusuk-nusuk lagi permukaan kue miliknya. Sudah tidak berniat menghabiskan, jadi yang dilakukannya hanya mencabik-cabik ringan lalu melemparnya keluar jendela kantin. Berusaha membidik burung kecil yang sedang bertengger di salah satu dahan pohon.

"Itu makanan. Jangan dipakai main-main!"

"Memang kau mau bantu menghabiskan?" Armin menggeleng atas tawaran Eren.

"Tapi bukan berarti kau bisa menyia-nyiakannya seperti itu. Taruh sendoknya."

"Tidak sia-sia kok, nanti juga dimakan tupai lewat." piring diangkat, hendak dihamburkan semua, "Hei, Armin, jangan menarik bajuku begitu! Iya, iya, kulempar semua langsung!"

"Bukan itu maksudnyaa!"

Eren seharusnya tahu dia pemain biola, bukan seorang pelempar bola. Niatnya mengayun piring tersebut agar isinya bebas ke udara menjadi sebuah kesalahan besar.

"AHH—" suara itu dari Armin dan Eren. Memandang ke satu arah. Berjengit.

Anak burung di dahan pohon masih bergeming damai. Hasil lemparan Eren meleset cukup jauh. Berhamburan di pakaian seseorang berambut hitam dengan antena kembar di pucuk kepalanya.


Overture

Assassination Classroom (c) Matsui Yūsei
Attack On Titan (c) Isayama Hajime

Drama. Boy x boy. Headcanon. OOC. Spesial untuk #Yuumafantasia + #DnC

.
by Ratu Obeng (id: 1658345)

.


Chapter 01


Latihan sesi malam para Recon dimulai pukul lima sore, akan berlangsung tiga jam ke depan. Masing-masing grup dipisah sesuai tipe alat musiknya. Dan sebagai pemegang alat musik berjenis senar, Eren termasuk dalam chordophone.

"Perhatikan teknik busurmu, Mr. Jaeger. Lagu ini akan banyak menggunakan spicacto untuk solo."

Eren jago spicacto. Semudah baginya menggesek layar App-phone dengan sepuluh jari aktif, bukan hanya memakai satu telunjuk seperti Armin.

Satu per satu nama dipanggil sesuai posisi untuk mengetahui letak kesalahan permainan dari enam belas bar refrain pertama. Tim chordophone dipimpin langsung oleh Mike, sang konduktor separuh baya yang selalu menebar teror sama; jangan bermain-main atau taruhannya setara dengan nyawa. Eren menguap bosan setelah selesai mendapati gilirannya. Partitur yang mulanya bersih sekarang penuh coretan keji, khususnya di empat bagian kesalahannya saat bermain tadi.

Di saat-saat begini Eren ingin sekali kembali menjadi Trainee. Bagian dari Royal untuk pemain pemula yang belum mendapatkan posisi reguler. Menjadi Recon penuh berbagai tekanan. Tidak peduli bagaimanapun cobaan dan halangannya—bahkan sewaktu gadis concertmaster utama ditemukan mengenaskan dengan jari-jari remuk dalam apartemennya—akan selalu ada cara agar pemain pengganti ditemukan segera.

Eren berjingkrak eureka ketika terpilih menjadi salah satunya.

"Mr. Isogai, tolong lebih fokus pada ketukan pertama di sini! Third bar First not. Paham maksudku!?"

Lalu satu yang beruntung lainnya. Tengah mengangguk gugup, mengangkat busur, berkonsentrasi membaca tanda dalam partiturnya yang sudah penuh coreng-moreng. Lebih parah dari milik Eren sekarang.

Isogai Yuuma. Tingginya rata-rata dengan iris mata karamel cerah sempurna dibingkai mahkota jelaga seperti penduduk Asia tulen kebanyakan. Tercatat baru dua bulan bergabung dalam Recon setelah dibawa dari negeri Sakura atas perintah Sir Erwin, pemangku jabatan tertinggi Royal Philharmonic orkestra. Tidak ada yang berani bertanya atau membantah, meski kabar-kabar sumbang santer tersiar akibat kursi nominasi dari posisi paling bergengsi dikorupsi begitu saja oleh anggota cabutan yang tidak jelas asal-usulnya.

Permainan biolanya mentah tapi piawai. Iris kehijauan Eren menyusut. Hampir lupa kakinya masih menginjak bumi, bukan surga. Pemuda itu, yang baru sore tadi mendapat sial ketumpahan satu piring sachertorte miliknya menggesek biola seakan dialah satu-satunya virtuoso pilihan Tuhan. Sesama violinis mungkin masih menertawakannya ketika sedikit-sedikit ada terdengar kesalahan, tapi telinga profesional (atau Eren menyebut dirinya begitu) tidak mungkin berbohong.

Enam belas bar. Penuh cacat dan tetap menawan.

"Terpukau, eh?"

"Armin?! Ngapain kamu di sini?"

"Tim Aerophone beres berlatih lima menit lalu. Kami sudah bisa pulang." tepukan di koper flute agar kalimatnya terkesan gagah, "Ngomong-ngomong, dia hebat."

Eren menggigit bibir, tunduk pada fakta.

"Baru bergabung tapi paling mencolok di antara wajah-wajah baru. Tidak melewati sesi karantina, langsung masuk ke dalam tim inti, bahkan direkomendasi sebagai concertmaster musim ini." Armin melanjutkan tutur tanpa melihat lawan bicara, terpaku penuh pada postur jangkung yang mengeluarkan bunyi serupa sutra melalui petikan-petikan setengah matang, "Android? Kekasih gelap Sir Erwin? Bukannya lebih masuk akal kalau menuduhnya sebagai pemain sewaan supaya kita tidak kalah dari Sidney Orkestra?"

"Kau seharusnya kenal dengannya, Armin. Kupikir setengah tahun lalu kau sempat satu konser bersama Mikasa dan anggota Royal yang ikut tur Asia?"

Armin menggeleng, "Keberadaanku bahkan di luar list cadangan. Hanya pengamat karena mau membayar lebih demi mencari pengalaman. Tapi, ya, kami sempat mengobrol sekilas."

"Terima kasih untuk hari ini. Kalian semua dipersilakan bubar." dari mimbar dirigen, Mike bertepuk tangan tiga kali tanda latihan usai setelah mengucapkan belasan patah kata. Intinya tetap sama; latihan. Belajar sendiri di Rumah. Latihan. Dan latihan.

"Mr. Jaeger. Mr. Isogai. Kuminta tetap tinggal untuk belajar solo. Kalian sudah terpilih sebagai concertmaster selanjutnya, wajib latihan dengan pianis."

Eren dan Armin berpandangan intens. Menoleh kanan-kiri, mencari sang pemegang alat musik pokok yang entah mengapa absen tanpa mereka sadari. Sementara pianis legendaris Royal diketahui hanya berjumlah tunggal, maka itu artinya—

Dugaan itu dihentikan ketuk berat sol tebal menumpu ubin. Rupa itu awalnya berbayang, kemudian fokus, berjalan mendekat diiringi aura menekan. memperlihatkan sosok rupawan terbungkus kemeja putih polos yang kancing atasnya terbuka dua, bagian lengan panjang digulung hingga menyentuh siku. Australia memang sedang di puncak panasnya, padahal pendingin ruangan seharusnya bekerja sempurna.

"Sudah kuduga. Kau tidak benar-benar memberiku libur hari ini, Mike." aksen Australia terdengar kental dari nada bicaranya yang dalam.

Shit! Makhluk Tuhan paling seksi itu datang! Ini versi Eren.

Shit! Makhluk Tuhan paling cebol itu datang! Yang ini versi Armin.

Di posisi ujung, ada Yuuma melebarkan sedikit senyum.

~xxx~

Ruang latihan dua puluh menit ke depan mendadak sepi seperti kuburan di jam malam. Meresidu hanya empat penghuni sisa dan sekarang sibuk sendiri-sendiri menjelajahi alat musiknya masing-masing. Eren pura-pura menggosok rosin pada senar sampai terlalu licin, ditemani Armin yang sok sibuk mengurutkan lembar partitur pelan-pelan. Yuuma tidak banyak bicara, hanya memeriksa baut pegbox kemudian diam di tempatnya duduk menunggu aba-aba. Masih ada canggung untuk saling menyapa, mengingat banyaknya keterbatasan di antara mereka terutama dalam hal bahasa.

"Setengah jam, tidak lebih. Aku ada acara penting malam ini."

Tanpa tegur sapa. Minus basa-basi. Semua sepenuhnya arogansi. Terlihat dari parasnya yang benar-benar tanpa ekspresi, tidak menunjukkan sedikitpun atensi. Segera Levi membuka katup depan grand piano yang permukaannya telah dibersihkan sapu tangan, sepenggal kebutuhan diri yang terlalu cinta akan kebersihan. Bagian upright dibiarkan tertutup mengingat denting yang dihasilkan tidak perlu terlalu keras.

Armin melirik Eren. Eren mengayunkan tangan, menampik. Menunjukkan tanda silang jelas-jelas di depan muka yang mendadak terbakar atas tuduhan implisit, "Malam ini jadwalnya skype dengan Mikasa. Levi terus menyemangatinya selama proses terapi." jelasnya cepat.

"Berhenti bisik-bisik, Jaeger. Lekas ambil biolamu dan angkat pantatmu kemari." buru-buru anak itu mengerjakan apa yang diperintahkan meski sambil bersungut-sungut, "Lalu kau—"

"Isogai Yuuma. Yuuma untukmu, Sir Levi." seringai manis terbit di sana, "Ini pertama kalinya kita bersapa secara langsung. Maaf, bahasa inggrisku masih sedikit kacau."

"Panggil saja Levi."

"T-tapi kau sepuluh tahun lebih tua dariku."

Eren terbahak spontan, "Dia juga sepuluh senti lebih pendek darimu, jangan cemas."

"Ah... begitu, ya...?"

"Ngomong-ngomong maaf soal bajumu. Aku benar-benar tidak sengaja." tengkuk kurus diusap kikuk. Ada cengiran bersalah.

"Tidak apa-apa...," mulut Yuuma masih membuka untuk mengatakan sesuatu, tapi akhirnya diputuskan berhenti di sana. Keduanya malah sibuk menutup mulut untuk menahan tawa, membiarkan konversasi berjalan dengan bahasa tubuh yang nyata.

BRANNGGG

Itu bunyi tuts yang digebrak sembarangan.

"Sudah menghinaku, sekarang berani mengabaikanku." pandangan Levi mengerucut drastis persis ujung stalagtit. Mengundang keringat dingin mengalir dari pelipis sampai dagu. Sepertinya bagian jasa servis harus dipanggil ulang untuk memperbaiki kondisi erkon ruangan yang sejak tadi tidak karuan. Dingin, panas, lalu kembali dingin. Ah, membingungkan.

"Enam belas bar. Setengah jam. Atau akan bilang pada Mike supaya kalian membersihkan semua lantai toilet Victoria seminggu ke depan."

Kembar violinis menenggak ludah bersamaan. Sedangkan Armin menjadi pengkhianat yang diam-diam pulang, meninggalkan dua maestro malang yang tengah disandera pianis setan.


To be continued...

.

.

.

A/N:
Ihhh, halo. Ini pertama kalinya author bikin AN di akun yang ini, jadinya malu2 gimanaaa gitu (?)
Selamat datang di salah satu entry event Yuumafantasia. Segala jenis saran hinaan akan ditampung senang hati โ๏∀๏ใ

FYI, desember di Australia emang musim panas (meski disebut bulan musim dingin), salju turunnya malah di bulan juli.

Ngomong2 banyak banget ya istilah orkestra sama alat musiknya, tapi sebisa mungkin bakal diminimalisir karena tujuan fic ini bukan buat gembar-gembor pengetahuan. Maunya nulis cerita yang sederhana asoy-indehoy aja. Terus niatnya sih bakalan tamat di 11 chapter doank... udah kelar semua draftnya juga. Wandatau deh kalau ke depannya ada perubahan rencana, nyohoho #nggakonsisten

R&R maybe? C: