Don't Say No

.

.

.

Chapter 2

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Rated : T

Indonesian

Genre : Romance, Friendship, Humor, dll.

(Maaf jika tidak sesuai karena saya tidak terlalu bisa nentuin genre)

Cast : Sakura H., Sasuke U., Shikamaru N., Gaara S., and other (Belum Muncul).

.

Semua karakter yang ada disini milik MK.

Saya cuma minjem bentar.

.

WARNING : OOC, AU, CERITA ABAL, GAJE, NGEBOSENIN, TYPOS, DKK (Semoga aja ngak).

.

.


Hai, ketemu lagi sama author yang satu ini. Saya tekankan lagi bahwa di fic ini akan terjadi yang namanya SAKURA harem /PlokPlokPlok/ dan saya masih belum menentukan siapa nanti pasangan Sakura. Karena saya akan membuat fic ini seperti air, mengalir dengar sendirinya (?). TAPI JANGAN TERLALU BERHARAP PAIRNYA CANON, karena akan banyak pemeran character cowok tak terduga(BisaJadi). Dari pada author banyak bacot mending langsung aja ke ceritanya. Eits... tapi tunggu dulu karena saya akan membalas reviews para readers sekalian, makasih udah menyempatkan mereview ^.^ .

KET: KALIMAT YG DI BOLD SERTA DIBERI TANDA KURUNG ADALAH BALASAN DARI SAYA

cihuyy93 chapter 1: Like ! (Arigatou ^.^)

Raisa570 chapter 1: Author sukses bikin ane penasaran :3 (Alhamdulillah*NiruGayaBangSopodiCartoonAditdanSopoJarwo*) ok lanjutttt (Sippp) *semoga banyak adegan shikasakunya aminnn :3 whehehe (Amin*ikutberdoajuga* #Plaaak)

Pembaca Terang chapter 1: Si author baliikk lagii yaayyy (Alhamdulillah*NiruGayaBangSopodiCartoonAditdanSopoJarwo*) Keren nii ceritanyaa (Alhamdulillah*NiruGayaBangSopodiCartoonAditdanSopoJarwo* /NihOrangLamaLamaNgeselinJuga/) LAnjut fic yang lain donggg yang shikasaku (Sip (y) Fic aku yang pairingnya ShikaSaku udah ada yang lanjut kok :D) okee ya thor? (Oke) Ganbatte ne~ (Arigatou ne~)

hanazono yuri chapter 1: Lanjuuuuuuut... (Iyaaaaaaaaaaaaa... /DasarNihAuthorGakMauKalah/)

zeedezly clalucindtha chapter 1: ya masih belum Jelas sii ceritanya, terlalu pendek... (Hehehe gomen-gomen.) Mungkin di chapter berikut nya udah bisa tau arah ceritanya (Semoga saja.)

Yosh, udah di balas semua reviewsnya sekarang waktunya...


HAPPY READING ^_^ .

.

.

.

.

.

.

.


SAKURA POV.


Tiba-tiba angin berhembus lagi sedikit kencang. Membuat tengkukku sedikit kedinginan karena model baju yang kupakai. Ditambah lagi aku sedang di dalam situasi yang tak mengenakkan, yaitu telah membuat seseorang tersedak karenaku—e'hem—pastinya dengan tidak sengaja.

"KAMU."kata kami bersamaan setelah melihat satu sama lain.

Sang korban yang lebih tinggi dan juga berbeda jenis kelamin ini malah menyeretku ke tempat yang lebih sepi. Aku yang diperlakukan seperti ini hanya bisa pasrah dan diam, takuk-takut dia malah semakin marah dan menjadi brutal (?).

"Kau membuatku sial dalam sehari ini, kau tahu?"katanya marah, terlihat jelas dari ekspresinya. Membuatku hanya bisa menunduk menyesal.

"Gomennasai."kataku pelan.

"Dan... Hah, sudahlah."kata korban tersebut mulai meredakan emosi yang telah mencapai ubun-ubun kepalanya.

Hah, Sakura baka...baka...baka.

Kenapa dari tadi kau hanya terus menimbulkan masalah, apalagi dia PRIA YANG TADI TERKENA TENDANGAN KALENG OLEHMU. Karena itu aku terus berdoa agar dia tak melahapku hidup-hidup (?). Tapi tidak hanya dia saja yang merasakan hari ini begitu sial aku pun juga merasakannya.

"Kau harus membayar ini semua."

"Tunggu, apa maksudmu?"tanyaku super duper kaget. Reflek membuatku mendongakkan kepalaku dan menatapnya seakan tak terima.

Sial.

Setelah melakukannya aku malah merutuki kelakuan bodohku. Aku mulai lagi menundukkan kepala dan merendahkan nada bicaraku.

"Baiklah."kataku amat sangat pasrah karena kesalahan berada di pihakku sekarang. "Berapa yang ingin kau minta?"sekarang aku mulai membuka tasku. Pasti dia akan meminta ganti rugi yang sangat banyak. Seratus ribu kah? Mungkin kurang. Lima ratus ribukah? Hah, sepertinya masih kurang. Habislah sudah uangku.

"Bukan dengan uang, tapi kau harus berpura-pura menjadi kekasihku di depan orang tuaku."

"APA?"tanyaku kaget. Aku kembali mengangkat kepalaku dengan mata yang sudah membulat sempurna.

Aku hanya dapat melihatnya menyeringai dan itu sungguh menakutkan. Dia seakan memiliki sejuta kejahatan yang ingin dia lakukan dan yang akan menjadi korbannya adalah aku—iya aku. Apakah sekarang aku sedang tertidur dan ternyata semua kejadian ini HANYA MIMPI belaka. Aku mulai menepuk-nepuk pipiku agar aku terbangun dari tidur nyamanku di atas kasur tapi tak ada sesuatu yang terjadi alias nihil.

"Ta-tap-tapi..."kataku tergagap.

"Tak ada tapi-tapian, ini kartu namaku dan mana ponselmu."katanya menyerahkan sebuah kartu tanda pengenal yang tak kunjung ku ambil karena aku masih syok dengan keadaan ini. Masih SANGAT SYOK. "Ini."katanya sedikit menaikkan nada bicaranya lalu menarik tanganku dan langsung menaruhnya di telapak tanganku dengan sedikit kasar. Dasar lelaki tak tahu sopan santun kepada seorang wanita sama seperti SASUKE UCHIHA itu. "Sekarang serahkan ponselmu."

"I-ini."kataku sedikit tak rela namun apa boleh buat akulah tersangka di sini.

Aku mulai membaca kartu namanya.

SHIKAMARU NARA.

"Ini, nomor ponselku. Simpan."katanya lalu memberikan ponselku kembali dan mengambil ponselnya di saku celananya. Sedangkan aku hanya terus diam dan diam, memperhatikan gerak-geriknya.

"Siapa namamu?"tanyanya.

"Sakura."jawabku cepat namun pelan.

"Aku akan menghubungimu besok dan ingat kau harus datang, jika tidak kau akan tahu akibatnya."ancamnya lalu melangkah pergi meninggalkanku.

Aku hanya terdiam.

1 detik.

2 detik.

3 detik.

"Tunggu."teriakku ingin protes setelah sadar akan perkataannya.

"Sakura."

Glek.

Aku langsung menelan air liurku dengan susah payah. Seseorang ini tiba-tiba memegang bahuku.

Apa dia Sasuke? tanya innerku khawatir. Walau aku sangat hapal suara Sasuke tapi tetap saja aku merasa sangat kaget tadi dan pikiranku kacau berantakan. Faktor belum minum lagi, jadi aku kurang bisa konsentrasi. Lupakan.

Aku mulai menolehkan kepalaku ke belakang dengan gerakan lamban, bahkan selamban-lambannya seperti di acara sinetron.

Mata kami bertemu.

Dan seketika itu, aku ingin langsung bersujud syukur karena seseorang yang ada di hadapanku bukanlah Sasuke melainkan sepupuku. Tunggu mungkin bukan sepupu, seperti kerabat, ah, aku tidak tahu, yang jelas kami masih ada hubungan keluarga.

Dia.

Gaara Sabaku.

"Kenapa ekspresimu seperti itu?"tanyanya walau nada bicaranya terkesan angkuh, cuek—dingin pula.

"Ti-tidak."kataku menyangkal sembari menggelengkan kepalaku pelan.

"Sasuke?"

"Maksudmu?"tanyaku tak mengerti.

"Sudahlah, dia telah pergi dengan teman-temannya sekarang. Dan dia menyuruhku untuk mengantarmu pulang."

"Apa? Bagaimana itu bisa terjadi?"tanyaku sedikit berteriak tak terima.

Dasar UKE SIALAN.

Dia selalu saja seenaknya sendiri.

Kenapa aku harus sayang kepadanya?

Kenapa aku harus cinta kepadanya?

Dan kenapa aku harus bertemu dengannya?

Kenyataan itu memang begitu pahit, tak seperti kisah princess yang happily ever after.

"Sudahlah, ayo."kata Gaara sembari menyeretku pergi.

Tapi aku masih bingung, bagaimana dia bisa berada di sini? Kebetulankah atau... Ah, sudahlah, aku tak ingin menambah beban fikiran yang lebih berat dari pada badanku ini.

"Hei, bagaimana Hinata?"tanyaku sembari mengikutinya berjalan dari belakang. Tapi tiba-tiba saja dia berhenti membuatku berhasil menabrak punggungnya.

"Hei, jangan berhenti mendadak."protesku tak terima, sambil melangkah mundur.

"Jangan bahas dia lagi."ucapnya super dingin.

"I-iya."kataku pelan. Jika dia sudah seperti ini, membuatku sangat takut berada di sekitarnya. Membuat bulu kudupku berdiri karena merinding.

Ku lihat Gaara mulai berjalan lagi dan sekarang aku mulai melihat seorang wanita yang sedang berdiri di depan mobil Gaara. Aku mulai memincingkan mataku untuk terus fokus melihatnya, apalagi melihat wajahnya yang ditutupi helai-helai rambutnya.

"Hinata."ucapku pelan ketika kami telah tepat berada di depan gadis bersurai indigo ini.

"Sensei."katanya lirih sambil menerjang untuk memeluk Gaara. Ku lihat dia mulai terisak di pelukan Gaara sekarang.

Cinta Terlarang.

Itulah dua kata yang pas untuk mendeskripsikan mereka. Kenapa aku bilang cinta terlarang? Karena Hinata merupakan murid Gaara dan apabila seorang guru ketahuan berkencan dengan muridnya itu akan menjadi masalah yang fatal. Sudah beberapa kali mereka diberi peringatan oleh kepala sekolah sehingga membuat Gaara mengambil tindakan tegas untuk menjauhi Hinata. Tapi nyatanya, Gaara juga mencintai Hinata dan... Kalian bisa memikirkannya sendiri.

Tapi, tunggu.

Kenapa mereka semua bisa berkumpul di sini? Di tempat ini? Sebenarnya ini mansion siapa?

Hah, aku benar-benar bingung. Dan sekarang, aku harus menjadi obat nyamuk bakar. Benar-benar terbakar. Adengan mereka berdua sungguh membuatku—membuatku—lupakan.

"Hei... Kalian berdua, aku pamit pergi dulu."kataku setelah jengah menunggu mereka berdua yang sangat lama, lebih baik aku tidur sekarang. Tapi, baru saja aku ingin melangkah, pergelangan tanganku telah ditarik seseorang.

"Hinata, sudah ku bilang jangan dekati aku lagi. Sekarang aku telah memiliki seorang pacar."kata Gaara tegas sambil menarikku untuk mendekat.

"Ta-tapi, sensei. Aku tahu sensei juga mencintaiku."kata Hinata lirih, tangisnya telah keluar lagi sekarang.

"Mencintaimu yang benar saja, dari dulu aku hanya menganggapmu sebatas muridku."kata Gaara sembari menyeringai meremehkan.

"Tidaaaak... Aku tidak... Percaya."teriak Hinata, sekarang air matanya mengalir dengan sangat deras.

"Kau tidak percaya."tantang Gaara. Dan hal selanjutnya yang Gaara lakukan membuat mataku membulat sempurna.

Benarkah ini kenyataan?

Ini mimpikan?

Aku mulai memberontak atas perlakuannya. Tapi dia malah terus menahanku untuk tak bergerak sampai Hinata pergi menjauh meninggalkan aku dan Gaara sendirian.

Plaaaak...

"Apa yang kau lakukan?"teriakku setelah berhasil melepaskan diri. Dan itu adalah suara tamparan yang kulayangkan di pipi Gaara, membuat pipinya semerah rambutnya dengan jejak tangan di sana.

"Aku minta maaf."katanya pelan, namun detik berikutnya dia malah memelukku kencang.

Oy, nafas-nafas, oy.

Aku kembali memberontak lagi kali ini, tapi tetap saja gagal.

"Hey, aku tak bisa bernafas."kataku sambil terus mencoba melepaskan pelukan mautnya. Ku rasakan pelukannya semakin melonggar sampai terlepas malah. Dia malah pergi meninggalkanku sendirian—menaiki mobil—dan wuuussh—dia benar-benar pergi.

Apa? Aku ditinggal sendirian? Dasar para lelaki merepotkan!

Kenapa juga aku harus terjebak di sekeliling mereka?

Aku mulai menghela nafas pasrah dan selanjutnya yang kulakukan adalah mengecek isi tasku—terus ke dompet—menuju uang.

Malam ini sudah tak ada bus dan itu artinya aku harus naik taxi dengan tarif yang lebih mahal.

"Aaa... Apa salahku God."gumamku frustasi.

.

.

.


Terik matahari, bunga bermekaran, air bercucuran. Dan sekarang aku sedang berada di halaman rumahku dengan memegang sebuah selang yang dialiri air, menyiram semua jenis tanaman yang berada di sini.

Terik matahari sangat panas hari ini, membuat kepalaku dipenuhi keringat apalagi bagian pelipisku. Dengan gerakan lamban aku menghapusnya menggunakan sebelah tanganku yang bebas.

"Cuaca hari ini begitu panas."gumamku tanpa sadar.

"Oy, Sakura."tiba-tiba ada seseorang memanggilku dari arah belakang, maklum aku sekarang sedang berada di halaman belakang rumahku—lebih tepatnya orang tuaku.

"Ternyata kau masih berani datang kemari."kataku angkuh sambil terus melakukan kegiatanku menyirami tanaman tanpa mau bersusah payah menoleh kepadanya.

"Ah, kau masih marah dengan kejadian semalam."

"Banget."

"Aku minta maaf Haruno-san, benar-benar minta maaf. Hanya saja jika tak terpaksa aku takkan melakukannya. Lagi pula ketika kita masih kecil aku sering sekali mencium jidat lebarmu itu."

Apa katanya jidat lebar?

Cih, dia selalu saja seenaknya terhadapku sama seperti si UKE itu. Kenapa mereka berdua selalu saja bergantian menyusahkanku. Jika bukan Sasuke ya Gaara, dan itu selalu terjadi seperti siklus yang tak pernah putus.

Tapi memang tak ku pungkiri. Dulu, ingat dulu, ketika aku dan Gaara masih kecil kami sangat akrab—benar-benar akrab. Mulai dari mandi berdua, bermain berdua, makan berdua, tidur berdua semuanya serba berdua. Bahkan aku dulu sampai mengatakan ingin menjadi istri Gaara. Tapi itu hanyalah masa lalu yang kelam, masa di mana seorang anak kecil tak berdosa dan masih polos tak tahu apa-apa. Dan itu merupakan masa yang sangat memalukan jika aku mengingatnya kembali. Apalagi semua masa kecilku dipenuhi dengan si rambut merah—Gaara.

"Kau ingin terus jadi anak kecil, HAH?"kataku tak terima sambil mengarahkan selang yang semula membasahi tanaman berubah membasahi tubuh Gaara.

"Hei Sakura hentikan, aku bisa basah kuyup. Hei...hei..."protes Gaara sembari terus menghindar dengan tangannya yang dijadikan tameng walau tak berpengaruh banyak.

"Syukurin, wek. Hahahaha."kataku sangat bahagia, puas dan senang. Hah, karena mengerjai Gaara merupakan kepuasan tersendiri untukku, apalagi tadi malam dia malah meninggalkanku sendirian jadi rasakan.

Tapi itu tak berlangsung lama, aku mulai menyiram lagi tanaman lalu mematikan air kerannya. Pekerjaanku sudah beres, bersih-bersih sudah kulakukan dan waktunya istirahat. Aku mulai berjalan ke dalam rumah—kamar—dengan diikuti Gaara.

"Mau kemana kau?"kataku risih saat dia malah mengikutiku.

"Curhat."katanya lalu mendahuluiku pergi ke kamar. Hah, bahkan rumahku—orang tuaku—sudah dianggap seperti rumahnya, bahkan dia bisa masuk dan pergi seenak jidatnya di sini.

"Apalagi?"tanyaku setelah sampai di dalam kamarku, tepatnya aku sudah duduk di atas kasur dengan memegang bantal.

"Hinata."katanya singkat. Sedangkan dia telah duduk di kursi yang terbuat dari kayu dekat meja belajarku.

"Ada apa dengannya?"tanyaku lagi. Pasti setiap kali dia curhat selalu aku yang mengeluarkan banyak kata-kata, sebenarnya dia yang curhat atau aku sih?

"Aku bingung harus seperti apa."

"Memangnya kamu bingung karena apa? Hah, yang jelas dong curhatnya."kataku mulai kesal.

Drrtttt... Drttt...

Getar ponselku. Menandakan adanya sms.

Nanas.

Lalu ku buka pesannya.

'Aku menunggumu di Coffe Late.'

Singkat, padat dan jelas... Sangat singkat malah... Huh, dasar menyebalkan. Kenapa aku malah di kelilingi cowok-cowok aneh, bertambah pula.

"Gaara aku harus pergi."

"Kemana?"tanyanya.

"Aku ada janji dengan Ino, dia sekarang telah menungguku."kataku cepat. "Cepat keluar, aku ingin ganti baju."kataku sembari berdiri. Ku lihat Gaara mulai keluar dari kamarku dengan wajah yang sangat aneh, benar-benar aneh. "Baiklah, nanti malam kau boleh sepuasnya bercerita kepadaku."kataku akhirnya ketika melihat wajah anehnya itu. Yang jelas aku benar-benar tak tahan.

"Hn." hah, dia sungguh menyebalkan.

.

.

.


Sekarang aku telah berada di Coffe Late karena tempat ini cukup terkenal jadi aku langsung bisa tahu. Aku telah duduk di salah satu tempat—pojokan.

"Di mana dia."gumamku malas dengan kepalaku yang bertumpu salah satu tanganku.

"Aku di sini."katanya tiba-tiba sembari duduk di depanku.

"A... Rupanya kau sudah datang. Jadi apa rencananya?"kataku to the point.

"Rencananya kau hanya perlu menjadi kekasih palsuku, ingat palsu. Dan setelah itu, akan ku perkenalkan kau kepada ke dua orang tuaku. Ingat kau harus terlihat sangat buruk di depan mereka."jelasnya panjang dan lebar, menurutku.

"Apa? Buruk? Kau ingin merusak reputasiku, tidak."kataku tegas.

"Kau ingin benar-benar menikahiku atau jangan-jangan kau sudah menyukaiku dari pandangan pertama."katanya mencoba menggodaku walau nada bicaranya sangat datar.

"Mana mungkin, baiklah aku lakukan."kataku akhirnya. "Kalau bukan karena aku merasa bersalah dan juga ancaman darinya, mana mau aku melakukan hal itu, ogah."gumamku pelan.

"Apa katamu?"tanyanya sinis.

"Hahahaha, tidak. Jadi kapan kita akan menemui orang tuamu? Dan juga aku sangat penasaran kenapa kau harus berbuat seperti ini?"

"Sekarang. Dan jangan pernah bertanya mengenai urusan pribadiku. Di sini kita hanya sebagai patner menguntungkan."katanya dingin sembari berdiri.

"Menguntungkan apanya? Malah enak ke dianya."gumamku kesal, aku hanya terus duduk di tempat sedangkan dia telah melangkah pergi keluar. "Bahkan aku tak dibelikan minuman olehnya, hah."aku mulai beranjak pergi mengikutinya.

Tunggu? Bagaimana dengan Sasuke? Hah, bisa-bisa aku dipanggang hidup-hidup olehnya jika ketahuan bersama lelaki lain. Jadi aku harus apa? Pikir Sakura, ayo pikir. Aku mulai mencoba berfikir keras akan solusi dari semuanya. Mencoba cara demi cara apa yang harus ku lakukan.

"Aha."kataku ketika telah mendapat ide, diikuti seringai lebarku.

.

.

.


Aku telah berada di mansion keluarga Nara yang sangat besar. Ternyata orang kaya memang berbeda sekali ya? Baru sadar? Ah, tidak.

Bahkan di sini ada banyak pintu, untungnya mereka semua tak tersesat, jika itu aku jangan ditanya lagi pastinya aku sudah tersesat dari tadi. Pelayannya juga sungguh banyak, mereka juga memakai baju serba hitam-putih. Padahalkan uangnya bisa ditabung dari pada seperti ini. Dasar orang kaya berlimpah harta.

"Hei, kita sudah sampai."katanya memperingatkanku. "Kau siap."dengan anggukan kecil aku menjawab. Kemudian ku lihat dia mulai memegang sang kenop pintu untuk membukanya lebar-lebar.

Di sana, hanya terlihat seorang wanita paruh baya tengah duduk tenang. Dia sedang meminum tehnya dengan anggunnya, sangat berwibawa bahkan kharismanya sungguh mengagumkan.

Aku mulai mengikuti Shikamaru untuk duduk di sampingnya.

"Ini pacarmu? Salam kenal."katanya ramah sambil sedikit membungkukkan badan. Membuatku juga reflek membungkukkan badanku dan berkata "Iya."

"Langsung ke intinya saja."kata Shikamaru dingin tak ada hormat-hormatnya dengan ibunya sendiri. Aku mulai menyenggolkan lenganku ke badannya. Membuatnya menoleh kepadaku.

"Kau harus sopan kepada kaasanmu."bisikku pelan.

"Aku tak mau."tolak Shikamaru.

"Ah, sudah tak apa nak..."katanya memberi jeda membuatku langsung mengerti.

"Siuki baasan."kataku cepat.

"Ah, Siuki, nama yang bagus. Bagaimana dengan margamu?"tanyanya lagi sambil terus tersenyum.

"Hahahahaa... Kalau itu baasan tak perlu tahu."jawabku sembari tersenyum juga.

"Baiklah. Jadi sampai di mana hubungan kalian?"tanyanya lagi, sekarang raut wajahnya mulai serius.

"Sampai di mana ya, aku bingung. Yang jelas kami saling mencintai, benar kan Shika-kun?"kataku yang awalnya menatap sang ibu sekarang berbalik arah untuk menatap sang anak sambil tersenyum kaku dan berkata manja.

"Hn."hanya itu, dia benar-benar serius tidak sih. Hah, apa hanya aku saja di sini yang terlalu menjiwai peranku.

"Wah, makanan telah tiba."kataku dengan wajah berbinar-binar. Sekarang ada seorang maid yang menaruh cemilan di atas meja bersama dengan minumannya. Langsung saja ku teguk habis isinya. "Ah, segarnya. Dari tadi aku memang merasa sangat haus."kataku setelah meminumnya sampai tandas kemudian menaruh gelas tersebut di atas meja. Ku lihat ibu Shikamaru menatap tajam ke arahku, mungkin karena kelakuanku yang sangat tak sopan tapi itulah tugas yang harus aku lakukan dengan terpaksa. Ini sama saja seperti pelecehan namanya, bagaimana tidak, dia sudah menodai citra Sakura Haruno dengan melakukan hal memalukan seperti ini.

"Shikaku-kun."ucap kaasan Shikamaru. Ku lihat seorang lelaki paruh baya dengan wajah dan model rambut persis seperti Shikamaru melangkah mendekat lalu duduk di samping sang istri.

"Kau pacar Shikamaru ya?"tanyanya lalu tersenyum.

"Hai'.."kataku mengiyakan sembari menunduk hormat kepadanya.

"Kalian sudah lama ya? Maaf aku terlambat."

"Tidak jiisan, kami baru saja datang. Tak apa, tak usah dibawa ke hati. Hahahaha."kataku sok akrab sambil tertawa kecil dengan telapak tangan kananku yang menutupi mulutku.

"I-iya."kata ayah Shikamaru mulai sedikit cengo melihat kelakuanku.

"Hn, aku hanya akan menikahi wanita ini."ucap Shikamaru tiba-tiba dengan nada datar namun serius sembari merangkulku.

"Hehehehe."tawa kaku mulai menghiasi bibir mungilku. Tak tinggal diam dengan perlakuannya aku sesekali mencoba melepas rangkulan darinya dan menatap tajam ke arahnya.

"Aku akan pergi sekarang. Selamat pagi."kata Shikamaru singkat lalu menyeretku pergi bersamanya.

.

.

.


Angin sepoi-sepoi mulai terlintas mengenai pipiku. Sekarang kami berdua telah berada di taman—duduk bersebelahan.

"Kau harus menyamar seperti itu?"tanyanya tiba-tiba. Yup, sekarang aku dalam mode penyamaran dengan menggunakan rambut palsu berwarna pirang serta mengubah warna mataku menjadi sebiru langit menggunakan sebuah lensa mata. Dan yang terakhir dandananku yang begitu norak dengan memakai lipstik berwarna merah. Cukup sudah penyamaranku.

"Harus, karena aku memiliki privasiku sendiri tak hanya menjadi pacar pura-puramu saja."kataku sedikit judes.

"Sebenarnya terserah, hanya lebih gampang untuk kita terlihat seperti kekasih sungguhan jika kau tak memalsukan identitas."

"Sudahlah."kataku sambil memalingkan muka ke arah lain, tapi sialnya...

Sasuke.

Ku lihat Sasuke sedang berjalan kemari. Uwaaa, bisa gawat jika dia mengenaliku. Dengan gerakan cepat aku menggandeng tangan Shikamaru lalu menariknya untuk melangkah mengikutiku.

"Hei, kau kenapa sih?"tanyanya tak terima menerima perlakuan mendadak dariku. Lalu ku lihat Shika malah ingin menoleh ke belakang.

"Sudah, ikuti saja."kataku pelan sembari mencegah kepala Shika untuk tak menoleh ke belakang lalu aku mulai berjalan lebih cepat lagi.

"Syukurlah aku selamat."gumamku pelan.

"Memangnya ada apa sih? Ck, dasar merepotkan. Lepaskan."katanya dingin sambil menghentakkan tangannya yang ku pegang sedari tadi.

"Kasar sekali, lagi pula aku tak sudi memegang tanganmu jika itu TIDAK SANGAT TERPAKSA."kataku menekankan beberapa kata.

"Kau boleh pulang sekarang, aku akan..."namun Shikamaru mulai berhenti berbicara.

"Ada apa?"tanyaku penasaran sambil terus melihat sekelilingku.

"Ada yang mengikuti kita."bisik Shikamaru pelan. "Lebih baik sekarang kau ikut aku."lanjutnya sambil menarik pergelangan tanganku sampai kita berdua telah berada di dalam mobil Shikamaru. Saling berhadapan.

"Bagaimana jika semuanya terbongkar?"tanyaku panik.

"Tenanglah, dari pada kau memikirkan itu lebih baik kau memikirkan bagaimana jika kau menjadi seorang maling."

"Tunggu, maling?"tanyaku tak terima.

Tapi benar juga katanya, lagi pula aku sering sekali menonton drama-drama seperti ini jadi tak perlu khawatir. Bersikap tenang dan penuh ide licik. Aku mulai menyeringai sekarang.

"Aku paham."kataku sambil menjentikkan jari.

"Lagi pula aktingmu sangat bagus. Benar-benar meyakinkan."

"Ck, menyebalkan. Seharusnya kau memberi respon yang lebih untukku."kataku kesal ketika mengingatnya.

"Sudah, lebih baik kau turun dari sini dan cepat pergi. Jangan sampai mereka mengetahui keberadaanmu."usirnya. Apa-apaan dia ini. Sebenarnya dia yang butuh atau aku sih. Hah, hidup sebagai orang yang tertindas amat sangat menyedihkan. Dengan berat hati aku mulai turun dari mobilnya lalu melambaikan tangan dan tersenyum.

"Hati-hati."kataku sebelum mobil tersebut melaju meninggalkanku sendirian. Lalu aku mulai menghela nafas panjang. "Bertindaklah seperti biasa saja, seperti kau tak diikuti."gumamku pelan untuk meyakinkan diriku bahwa aku bisa melakukannya.

Aku mulai melangkah ke arah kamar mandi umum khusus wanita. Setelah berada di dalam aku mulai menoleh ke kanan dan kiri.

"Aman."

Lalu aku pergi ke salah satu bagian kamar mandi dan mengganti penampilanku dari bawah sampai atas. Setelah itu aku berjalan menuju kaca besar di kamar mandi sambil menghidupkan kran air untuk mencuci tanganku. Ku lihat wajahku dengan teliti.

"Beres."kataku lalu mematikan kran air tersebut.

Aku mulai melangkah ke luar kamar mandi. Berjalan tenang seolah tak terjadi apa-apa.

Aku mulai berfikir untuk selalu membawa baju ganti dan peralatan menyamarku lainnya dan itu sungguh merepotkan.

Drrrrttttt...drrrrtttt...

Tiba-tiba ponselku bergetar, menandakan seseorang mengirim pesan singkatnya.

NANAS.

Dia lagi, huh menyebalkan. Sekarang apalagi. Aku mulai membuka pesannya.

'Hati-hati, besok kau ikut denganku di acara keluarga. Aku akan menjemputmu di taman tadi.'

Apa? Acara keluarga?

Dia ingin mempermalukanku di depan semua keluarga besarnya. Aaaaa, mukaku bisa tercoreng. Tidaaaak. Memikirkannya saja sudah membuat bulu kudupku berdiri. Dasar Nanas sialan, kau akan tahu rasa nanti.

Aku mulai melangkah lagi, untungnya rumahku sedikit tak jauh dari sini. Jadi aku tak perlu naik kereta atau pun bus cukup berjalan kaki saja.

Ketika aku berjalan, tiba-tiba aku mengingat Sasuke yang kulihat tadi di taman. Kira-kira dia sedang apa di sana? Bahkan dia tak memberitahuku. Aku mulai penasaran dan kembali berbalik arah ke taman.

Aku mulai mencari batang hidungnya yang belum terlihat oleh mataku. Sambil mengendap-ngendap aku mencarinya, seperti seorang mata-mata atau agen rahasia lainnya. Tapi...

Punggungku malah menyentuh punggung seseorang. Dengan gerakan lamban aku mulai berbalik arah melihatnya, kebetulan dia juga melakukan hal yang sama sepertiku. Ketika mata kami saling bertemu kami mulai terlonjak kaget dan membalikkan badan lalu sedikit menjauh. Ku lihat dia, dari bawah sampai atas.

Lelaki...

Yang sedikit mencurigakan.


END SAKURA POV.


.

.

.

.

.

.

TBC

.

.

.

.

.

.


Jika ada pertanyaan, pernyataan, kritik dan saran monggo di keluarkan. Jangan sampai anda memendamnya. REVIEW ya... Saya tunggu. Tapi jangan flame, kalau dikit-dikit boleh lah. Jangan sampai readers menjadi pembaca gelap*kedipkedip. Kalau gitu baca di tempat terang #Plaaaak.

Salam hangat,

Din-din Hasan ^.^

Janee~

.

.

.

.


THANK YOU FOR READING EVERYONE. REVIEW REVIEW! THE MORE REVIEWS I GET THE MOREDETERMINED I FEEL TO UPDATE!.


.

.

.

^.^

.

.

.