"Armin, Yuuma memang kekasih gelap Sir Erwin."
Tidak pernah dalam hidupnya sekalipun terbesit kalau Armin akan berterima kasih pada siapapun yang punya ide cemerlang mendesain kotak pizza, karena setelah boks pentagon itu terhempas ke lantai, isinya tidak banyak berubah. "I-itu berita darimana?"
Sepasang iris hijau berkilat-kilat antusias, "Menebak. Banyak yang bilang dia rajin bolak-balik ke ruangan para dewan akhir-akhir ini."
"Kalau begitu jangan gunakan kata memang!" Armin merasa cemasnya sia-sia, terutama pizza-nya, "Kau hanya sentimen karena Sir Erwin berhasil memberikan Levi tiket untuk menembus New York Philharmonic, sementara kau..." kalimat menggantung sejenak, "...masih kurang beruntung."
"Violinis negara lain pasti sudah mendapatkan tiket itu. Pengajuanku ditolak." membayangkan dirinya terpisah jarak ribuan kilo dalam hitungan tahun dari sang pujaan hati membuat Eren merosot. Kepala tergolek tanpa tenaga di sandaran sofa.
"Kenapa tidak mencurigai pemain biola Royal lain?"
"Memang ada yang kemampuannya di atasku? Aku sudah bermain biola solo di Royal selama dua musim." Eren sesumbar, Armin menggigit potongan pizza pertama. Isi jamur, keju dan paprika.
"Sekarang dobel, Eren." dua mata biru berputar emosional, "Dan kita tidak tahu apa yang terjadi di konser berikutnya. Bisa saja Yuuma menggesermu dari first seat."
"Katakan kau sedang mengadu domba. Bukan memotivasi."
"Nyatanya dia berhasil menyelamatkanmu dari bau karbol dan toilet selama seminggu. Untung saja Levi puas dengan permainan kalian." Eren mengangkat satu alis sinis sementara Armin tidak pernah menyadari kalimatnya terlampau ambigu untuk didengar.
Siang hari di bawah langit Melbourne, bernaung atap rumahnya, si pirang menyambar potongan pizza kedua. Menikmati akhir pekan berharga meskipun bahasan mereka masih saja seputaran orkestra. Rutinitasnya juga hampir sama. Eren datang semena-mena, meminjam telepon demi kepentingan delivery call, kemudian mengangkat kaki di atas dudukan empuk sembari meraup kentang goreng ukuran besar. Armin menyusul di sebelah.
"Sejujurnya, keputusan Sir Erwin terlalu aneh. Ini pertama kali orkestra kita menghadirkan dobel biola, bahkan sampai harus jauh-jauh mengambil instrumentalis dari negara lain..."
"Korea?"
"New Japan Philharmonic. Prefektur Sumida. Tokyo." kunyahan pemuda Arlert berhenti sejenak, berganti desah panjang, "Yuuma orang Jepang."
"Dan petinggi Royal punya julukan Kangaroo Jack. Kangguru raksasa berkacamata hitam memang cocok sekali melompat bersama ninja dari pohon ke pohon. Mereka bisa bulan madu di hutan Tasmania."
Potongan kentang terakhir dilempar ke muka Eren. Sayangnya meleset, "Kukatakan sekali lagi. Kau sentimen. Beliau orang yang keras."
"Karena itu kau menyukainya. Sir Erwin maksudku."
"Jangan mulai, Eren. Sudah berkali-kali kukatakan, aku hanya suka—"
Brunette mengangguk, menyatakan kesiapan untuk mendengar.
"...My little pony."
Tepukan bijak mendarat di pundak mungil, "Aku tidak akan menghakimi seleramu. Kau tetap sahabatku. Terbaik!"
(Oh, Armin ingin sekali menampar tamunya dengan meja detik ini juga.)
Dos penuh minyak akhirnya tandas. Begitu juga dengan gelas-gelas minuman berisi soda. Eren menepuk-nepuk jeans di area paha, membebaskan seratnya dari butir-butir garam dan merica, "Ngomong-ngomong sebentar lagi aku ada kencan dengan Levi. Sampai besok, Armin. Semoga sukses promosi bokongmu pada sir Erwin."
Pekikan tinggi meradang, "Kuharap pantatmu luka dan kau berdiri sendiri di tengah-tengah latihan chordophooone!"
Overture
Assassination Classroom (c) Matsui Yūsei
Attack On Titan (c) Isayama Hajime
Drama. Boy x boy. Headcanon. OOC. Spesial untuk #Yuumafantasia + #DnC
.
by Ratu Obeng (id: 1658345)
.
Chapter 02
"Apa kabar Tchaikovsky?"
"Baiiik..." sudah empat puluh menit Eren menaruh kepala di atas meja malas-malasan, menghirup nikmat uap dari kopi yang baru diseduhnya sendiri. Suhu ruangan sengaja diturunkan dua derajat, berharap mendapat kenikmatan lebih saat disesap.
"Bicara apa, bodoh? Memangnya kau sudah menguasai Fire Bird? Sepertinya ada yang malas latihan akhir-akhir ini." kontras di seberang meja, aura Levi lamat-lamat mendung. Semenjak mengklarifikasi bahwa panggilan ke rumahnya adalah untuk berlatih, bukan kencan, anak itu malah semena-mena membongkar kulkas lalu mengaku mengidap alergi temporer dengan kotak biola.
"Ini masih libur musim semi. Daripada menggesek senar aku lebih ingin menonton ikan paus di Winery."
Decak sebal, "Jangan manja anak idiot."
"Aku manja di depanmu."
"Sinting."
Usapan pipi di atas meja, merajuk nista, "Makanya berhenti dengan laptopmu, kumohon. Bibirku kering sekali." dan pantatku juga, kalau Eren boleh menambahkan.
Bunyi-bunyi meminta perhatian tak diacuhkan. Levi malah semakin sibuk menggempur ujung-ujung jarinya pada permukaan keyboard seolah-olah menekan tuts grand piano kebanggaan, sesekali memperbaiki posisi kacamatanya yang memang hanya digunakan saat berkonsentrasi membaca atau berkutat di depan layar seperti sekarang.
"Mikasa tidak menghubungiku akhir-akhir ini. Kuharap dia baik-baik saja."
Eren mengangkat kepala, kembali ke posisi duduk biasa. Memasang tampang lebih serius di luar kebiasaannya. Tapi segalanya memang berubah sama sekali semenjak kecelakaan yang menimpa sang mantan concertmaster, Armin bahkan sempat heboh bercerita kalau penyair gipsi di sudut kota melihat kesialan beruntun yang akan menimpa beberapa anggota Royal menjelang konser Natal.
Untunglah, meskipun memiliki darah Jerman, hati Eren milik Australia sejati. Dan pemukim Australia tulen seharusnya tidak percaya takhayul baik berupa horoskop maupun cocoklogi golongan darah. (Joanne Madeline Moore sang peramal profesional sendiri berkata bahwa pekerjaan melihat masa depan membutuhkan sertifikasi praktisi. Melelahkan.)
"...Bagaimana keadaan sesungguhnya?"
Dijawab Levi dengan gerakan bahu diangkat, tanda tidak tahu. Sepasang hijau kembali merenung. Memandang punggung laptop kekasihnya dengan muka masam.
"Tidak mungkin sembuh. Mikasa tidak akan bisa bermain biola lagi." sekilas seperti tampak tenang, tapi Levi saat ini tengah menahan keinginannya untuk tidak memakan siapapun hidup-hidup, "Itu bukan perampokan biasa. Aku yakin ada seseorang yang memang sengaja mengincar jari-jari Mikasa dan ingin menyingkirkannya dari first seat."
Muka Eren pucat pasi mendapati tatapan tajam yang seperti mampu mengiris seluruh permukaan kulitnya, "A-apa-apaan mata itu!? Kau menuduhku sebagai pelakunya!? Apa buktinya? Mana sidik jarinya?"
"Oh. Kau mau bermain detektif?"
"Apa roleplaying seperti itu bisa meningkatkan libidomu di ranjang?"
"Sinting."
Tawa puas di pihak Eren, setidaknya berhasil mencairkan suasana, "Iya, iya, aku sudah dengar tadi."
"Jadi," sang pianis jenius menutup laptop-nya lalu mengarahkan jari telunjuk kanan lurus ke depan. "Pintu keluarnya ada di sana, atau kau bisa memainkan Fire Bird untukku supaya tetap kuperbolehkan duduk di kursimu."
"Sekarang? Di libur musim semi ceria begini?"
"Iya, ceria sekali. Sangat cocok diiringi chorus Ode to Joy." Levi tersenyum miring. Eren menenggak ludah.
"Ku-kumohon. Berhenti dengan Bethoven." telapak tangan berdempet, mengemis, "Shuman saja. Aku suka Shuman!"
"Tidak. Ini supaya anak malas sepertimu mau latihan serius. Tidak masalah kalau kau menolak Vivaldi. Menghina Mozart. Menjelek-jelekkan Yuuma yang mungkin bisa menjadi violinis solo di konser penghujung tahun. Silakan tidur dengan beruang dalam gua sampai konser selanjutnya."
"JANGAN, TOLONG! BAIKLAH! OKE!" entah sejak kapan Eren berguling di atas karpet, menarik-narik kaki Levi dengan kelakuan kekanakan yang paling menyebalkan.
"Jangan terlalu terbuai kejayaan masa lalu, bocah! Sekarang kita tidak punya Mikasa."
"Aku hanya kurang piknik. Ada yang terlalu serius sampai tidak pernah mengajakku melihat Docklands dan Philip Bay dari atas Bianglalaaa!"
Kaki jenjang dihentak-hentak, berharap kuman yang menempel segera terlepas, "Konser Natal tinggal sebentar lagi! Kenapa kau tidak bisa serius sedikit seperti Yuuma!?"
"Kau mau bilang orang Jepang itu lebih menarik dariku?"
"Dia pendiam. Kau cerewet. Bukannya sudah jelas?"
"AKU PIKIR KAU SUKA TIPE CEREWET!" Eren mendramatisir.
Levi melepas kacamata kemudian mengurut kening. Pening. Ada rasa kurang bersyukur karena dikaruniai pendengaran terlalu normal, saat ini dia berharap tuli supaya telinganya lebih damai dari satu jenis polusi suara bernama Eren Jaeger. Kursi sedikit didorong keluar badan meja, kemudian mengubah posisi duduk menyamping. Mengangkang.
"Untuk pemanasan, mungkin ada baiknya membuatmu diam terlebih dulu."
Setelah leher kaosnya ditarik kasar, Eren dipaksa berlutut di antara sela-sela paha. Detik selanjutnya, bunyi retsleting celana yang pelan-pelan diturunkan terdengar begitu merdu.
~xxx~
Dan soal pantat terluka, ternyata memang benar adanya. Armin rela memakai kemampuan tertawanya untuk meniup flute supaya napasnya tidak sia-sia.
"Tidak duduk, Eren?"
Di kursinya, Yuuma pasang muka cemas setelah diberi cengiran tolol dari paras yang terbungkus rona, "Ini sekalian melatih ketahanan kaki saat konser, ahaha... haha... "
Permainan flute Armin semakin mengganggu konsentrasi. Eren terpaksa merelakan dompetnya supaya si pirang mau pergi mencari pelepas dahaga, kalau perlu membeli segelas mojito sekalian sampai ke Kuba. Untung saja malam itu anggota-anggota lain juga belum masuk ke ruang latihan, masih lebih ingin berkeliaran entah di mana di seputaran gedung Victoria. Menikmati udara kebebasan sejenak sebelum menghadapi neraka tiga jam ke depan.
"Akrab, ya..." si rambut antena tertawa kecil.
"Aku dan Armin? Mhh... yah, kami sudah bersahabat baik sejak sekolah menengah pertama."
Nada antusias, "Lalu Mikasa?"
Dentuman spicacto berhenti. Total. Yuuma mendekap biola di depan dada lebih erat, menebar senyum polos, "Aku pikir Armin punya sahabat bernama Mikasa. Seorang pemain biola jenius. Maaf, apa aku salah?"
"Ah, tentu saja kau tahu Mikasa... kalian pernah bertemu saat tur kemarin itu..." Eren bergumam tidak jelas, menggaruk tengkuk—menghindari pandangan yang masih setia terkunci ke arahnya, "Mikasa dan kami dekat. Kami bertiga satu kampus, tapi mulai akrab sejak tahu dia sepupu jauh Levi dan sesama anggota Royal."
"Dia cantik dan luar biasa. Kudengar dia berhasil mendapat tiket untuk menembus New York Philharmonic yang hanya bisa diperebutkan setiap dua tahun sekali,"
"HENTIKAN!"
Yuuma berjengit. Memasang tampang bingung sekaligus takut.
"M-maaf," si rambut coklat mengayunkan bow kesana-kemari, merasa bersalah pasca membentak, "Mungkin... sebaiknya kita hentikan bahasan ini. Aku tidak tahu apa-apa tentang Mikasa sekarang, dia sedang ada di Singapur. Dan tolong jangan bertanya kenapa dia bisa ada di sana! Oh, shit, tolong lupakan semuanya. Pokoknya aku minta maaf!"
Tidak lama, Yuuma hanya mengangguk singkat. Kebiasaannya jika hanya mendapati setengah-setengah dari yang dia pahami. Pucuk jelaganya kembali merunduk. Mencari-cari kegiatan tidak penting seperti mencoba-coba tekhnik petik senar ringan untuk membunuh waktu.
Eren juga.
Pemuda itu terpaksa merelakan nyeri di pinggang ke bawah semakin menusuk ketika memutuskan untuk duduk lalu menghabiskan beberapa mili rosin. Menyesal teramat sangat karena sudah mengusir Armin yang ternyata lebih piawai sebagai komunikator ulung.
(Jika bukan untuk hal-hal menyenangkan, waktu berjalan lambat sekali. Tidak adil.)
"Ngg, Yuuma..."
Sekarang giliran Pizzicato terputus di tengah. Eren lagi-lagi terlihat menggaruk tengkuk di tengah hening yang kembali menggerogoti.
"Kau tidak keberatan kalau aku bertanya sesuatu, kan? Karena ada hal penting yang ingin kutahu..."
Angguk lagi. Kali ini tajam, tanda mengerti penuh. Lensa karamel melipir, menyadari sepasang hijau yang tadinya sendu berubah menjadi berapi-api. Atmosfernya mendadak lebih serius, sampai tidak ada dari mereka menyadari sosok kuning terang sudah kembali dengan membawa plastik besar berisi kaleng-kaleng minuman dingin.
"Kudengar kau dan Sir Erwin—"
Kalimat Eren dihentikan ginger ale yang mendarat keras di kepalanya.
To be continued...
.
.
.
*Kangaroo Jack: Film komedi seru (IMO), directed by David McNally. 2003.
A/N:
Chapter dua apdet agak (SANGAT) terlambat ya, maaf author mendadak pindah fokus dulu ke RL (iДi)
Dan ini masih ngalor-ngidul seputar pembahasan kasus karena terlalu penting demi hint di chapter2 berikutnya.
Oh iya, tiket yang dimaksud di sini bukan semacam karcis bioskop literal, ya... itu cuma perumpamaan buat pemain yang direkomendasiin pihak orkestra cabang supaya bisa masuk ke areal pusat. Kalau di fandom olahraga, semacam tim perintilan yang bisa masuk ke tim gabungan negara gitulah pokoknya #RIBET
Oh, iya... soal siapa pemeran utamanya... ehehe-hehe-he-hehehehe (?), ikutin aja terus ya ꒰( `꒳´)꒱
R&R maybe? C:
