Don't Say No

.

.

.

Chapter 3

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Rated : T

Indonesian

Genre : Romance, Friendship, Humor, dll.

(Maaf jika tidak sesuai karena saya tidak terlalu bisa nentuin genre)

Cast : Sakura H., Sasuke U., Shikamaru N., Gaara S., Hinata H., Sai., and other (Belum Muncul).

.

Semua karakter yang ada disini milik MK.

Saya cuma minjem bentar.

.

WARNING : OOC, AU, CERITA ABAL, GAJE, NGEBOSENIN, TYPOS, DKK (Semoga aja ngak).

.

.


Hai, ketemu lagi sama author yang satu ini. Saya tekankan lagi bahwa di fic ini akan terjadi yang namanya SAKURA harem /PlokPlokPlok/ dan saya masih belum menentukan siapa nanti pasangan Sakura. Karena saya akan membuat fic ini seperti air, mengalir dengar sendirinya (?). TAPI JANGAN TERLALU BERHARAP PAIRNYA CANON, karena akan banyak pemeran character cowok tak terduga(BisaJadi). Dari pada author banyak bacot mending langsung aja ke ceritanya. Eits... tapi tunggu dulu karena saya akan membalas reviews para readers sekalian, makasih udah menyempatkan mereview ^.^ .

KET: KALIMAT YG DI BOLD SERTA DIBERI TANDA KURUNG ADALAH BALASAN DARI SAYA

Kuroko Hime chapter 2: Fict nya kereeenn~ (Arigatou ^_^) Lanjutin yaa... (Iya) #hime p.s: salam kenal (Salam kenal :D)

hanazono yuri chapter 2: Update lagi ya? (Iya)

Guest chapter 1: Sasusaku, ya? Saya kira senpai Shikasaku lovers... (Heh, aku ShikaSaku lovers kok. Kan belum tentu fic ini pairingnya apa)

akasuna maria chapter 2: lanjut kilaaat yya...kereeen crita'a (Arigatou)

cihuyy93 chapter 2: Sakura sangat beruntung dikelilingi cowok' tampan. (Hahaha... Iya) Shika resek sekali, kok malah image buruk yang harus diperlihtkan saku. Apa maksudnya coba? Up up up (Sip)

Yosh, udah di balas semua reviewsnya sekarang waktunya...


HAPPY READING ^_^ .

.

.

.

.

.

.

.


Angin...

Kembali lagi menerpa wajah seorang gadis. Gadis tersebut malah sedang memperhatikan seseorang di depannya dengan penuh curiga. Lelaki bersepatu hitam, celana hitam, kemeja hitam serta kacamata hitam yang bertengger pas di matanya.


Sakura POV.


Tunggu, jangan-jangan dia suruhan kaasan Shikamaru. Aku mulai curiga, apalagi dengan pakaian yang sangat mencurigakan seperti yang biasa ku temui di sebuah drama. Pasti dia mata-mata, aku yakin 90% benar.

Aku mulai melihat dia membungkukkan badannya hormat.

"Sumimasen."katanya.

"Ah, iya."jawabku sembari membungkuk mengikutinya. Aku mulai menghela nafas dan menyiapkan mentalku untuk tetap berekspresi biasa-biasa saja seperti bukan akulah yang dia cari.

"Sai."katanya sembari tersenyum.

Senyum palsu.

Itulah kalimat pertama yang ku fikirkan ketika melihat senyumnya, penuh kepalsuan.

"Sakura."kataku pelan memperkenalkan diri. "Tapi kenapa kau mengendap-endap seperti itu?"tanyaku mulai memastikankannya sambil mengernyitkan dahi.

"Ah... Eto... Aku sedang bertugas."katanya sembari menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal, tak lupa diikuti senyum palsunya itu. Walaupun dia sedang tersenyum palsu tapi ku pikir dia mengatakan kejujuran. Berarti benar dugaanku. Dia sedang bertugas memata-matai diriku dengan Shikamaru. Hah, bertambah merepotkan saja adegan pacar pura-puraan ini. Memang dari awal aku tak pernah menyetujuinya. Tapi yasudahlah, mungkin inilah takdirku. "Dan kau?"tanyanya balik.

"Aku sedang mencari pacarku yang ternyata sedang berada di sini juga."jawabku jujur, maklum aku sudah tak memiliki ide yang lain untuk menjawab pertanyaannya.

"Ah, selingkuh."katanya dengan polosnya. Membuat perempatan siku-siku mulai terlihat di jidat lebarku.

"Mana ada."kataku sedikit berteriak lalu pergi meninggalkannya.

Yang benar saja. Sasuke tak akan melakukannya. Aku mulai berjalan sambil mengutuk dirinya yang telah mengeluarkan kata-kata itu. Kata-kata laknat bagiku. Dengan mengembungkan pipi dan kaki yang sedikit dihentak-hentakkan ke tanah aku terus berjalan.

Namun...

Aku malah tak sengaja melihat siluet rambut pantat ayam Sasuke. Sasuke Uchiha putra bungsu Fugaku Uchiha seorang pengusaha kaya raya.

Aku mulai mengendap-ngendap di sebuah pohon yang tak jauh darinya. Tapi aku malah hanya dapat melihat punggung sang Uchiha bungsu itu, tak lebih dan tak kurang.

"Sasuke-kun."kata seseorang tiba-tiba muncul sembari terus mendekat ke arah Sasuke.

Mendengarnya aku sontak menyembunyikan diriku sehingga aku tak sempat melihat wajah sang objek yang baru saja datang tersebut. Setelah keadaan dirasa aman aku mulai melihat lagi punggung Sasuke yang telah ditemani seseorang.

Merah.

Itu kesan pertama ketika aku melihat rambut sang gadis.

Siapa dia? Tanya innerku penasaran.

Merah, merah, merah. Aku terus mengingatnya sepertinya dia...

"Hey."kata seseorang mengejutkanku sembari menepuk pundakku. "Kau sedang apa?"tanyanya polos sambil melihat sekeliling.

"Stttsss."kataku mencoba menghentikan tingkah bodoh seseorang ini.

Ketika dirasa suara dia sangat nyaring, aku mulai menariknya menjauh untuk pergi sebelum Sasuke menoleh dan menemukanku berada di sini.

.

.

.


"Maumu apa, HAH?"tanyaku kesal setelah kami menjauh dari tempat tadi. Sungguh, ingin apa dia sampai mengikutiku. Gara-gara dia aku tak bisa melihat siapa yang bersama Sasuke dan tentunya sedang apa mereka berada di sana BERDUAAN.

"Aku hanya penasaran."

"Bukankah kita tak mengenal dan baru kenal tadi, belum juga 15 menit...bla...bla..."aku mulai marah-marah, meluapkan semua kekesalanku padanya.

"Maafkan aku, aku hanya ingin..."

"Ingin apa?"tanyaku memotong perkataannya. Sungguh, jika sudah begini aku akan berubah menjadi pribadi yang tak sabaran.

"Memberitahumu bahwa kau belum mengancing semua kancing bajumu, dan itu errr sedikit..."

"Apa?"teriakku kaget lalu mulai melihat bagian dadaku yang ternyata terekspos dari tadi, dengan gerakan cepat aku mulai mengancingnya. "Dasar mesum."teriakku sambil menutupi bagian dada dengan tanganku.

"Harusnya..."

"Aku tahu, arigatou."kataku pelan sambil menunduk. Hah, aku mulai merasa bersalah padanya. Sebenarnya dia hanya ingin menolongku tapi aku sudah memarahinya.

"Sama-sama."balasnya sembari tersenyum yang pastinya palsu. Tak bisakah dia tidak usah tersenyum saja sekalian jika seperti itu. Lama-lama aku sedikit muak juga melihat senyumnya itu.

"Kalau begitu aku pamit pergi."

"Kau harus meneraktirku sebagai permintaan maafmu."

Heh? Apa dia bilang? Traktir? Aku tak salah dengarkan. "Memangnya aku punya banyak uang sehingga bisa meneraktir orang."gumamku pelan.

"Apa?"

"Ah, tidak. Baiklah."kataku akhirnya pasrah, toh aku telah habis-habisan memarahinya tadi. "Tapi tidak sekarang."lanjutku lagi.

"Baiklah, ini kartu identitasku. Kau bisa ke alamat ini jika kau ingin meneraktirku."katanya mulai menyerahkan sebuah kartu nama.

"Kenapa tidak nomor ponse..."aku mulai berhenti ketika melihatnya telah berlari pergi menjauh dariku. "Hah."aku mulai menghela nafas. "Jadi aku harus ke rumahnya... Dan itu sungguh merepotkan."kenapa juga kartu nama ini tak mencantumkan nomor ponselnya atau nomor siapa saja yang bisa dihubungi.

Benar-benar menyedihkan hidupku di kelilingi para cowok-cowok yang sukanya memerintah, bertambah pula. Oh, god. Hentikan populasi lelaki yang dekat denganku.

Aku mulai menghela nafas.

Mau tak mau, suka tak suka aku harus melakukannya.

Dan keep smile.

Aku mulai tersenyum walau sangat amat dipaksakan.

.

.

.


Sekarang aku telah berada di rumah tepatnya di kamarku. Menghempaskan tubuhku di kasur dengan posisi terlentang. Aku mulai mengatur nafasku lalu memejamkan mata.

Hening, inilah suasana yang kubutuhkan untuk merilekskan pikiran, hati serta jiwa dan ragaku. Mengubur dalam-dalam semua masalahku dan mulai melupakannya perlahan. Inilah alah satu caraku untuk tetap hidup normal. Normal dalam artian tetap bisa merasakan kebahagiaan, tertawa, dan tersenyum. Bukankah lebih baik seperti itu? Jika memikirkan semua masalah dan terus melihat ke belakang, kapan majunya? Menunggu seseorang menyeretmu untuk sadar bahwa kau harus melangkah kedepan? Sampai kapan? Mau menunggu sampai lumutan?

"Sudah selesai."

"Waaaa..."aku mulai terlonjak karena kaget. Sekarang posisiku telah berdiri dengan tangan yang menyentuh dada.

"Kau berlebihan."kata seseorang itu dengan ekspresi dingin lalu dia malah menidurkan tubuhnya di kasurku, bahkan dia tak ada ekspresi bersalah sedikit pun.

"Jangan mengagetkanku seperti itu. Kau muncul dari mana sih."amukku sembari duduk lalu menyandarkan tubuhku di kursi.

"Aku sedari tadi tidur di bawah sambil membaca beberapa novel percintaan milikmu. Dan buku apa ini 'Cara Mendapatkan Lelaki Yang Kita Sukai'"katanya dengan ekspresi datar sambil menunjukkan sebuah buku dengan sampul berwarna pink.

"Serahkan."aku mulai merampas buku tersebut dari dia yang mulai membacanya lagi.

"Hei."katanya tak terima.

"Jangan pernah mengotak-atik atau melihat-lihat barangku. Mengerti."kataku dengan wajah serius sembari menaruh buku tersebut kembali ke tempatnya yaitu rak di meja belajar.

"Apa aku juga harus membaca buku seperti itu tetapi dengan judul yang berbeda. Misalnya seperti 'Cara Membuat Seseorang Menjauh' atau 'Cara Move On'"kata Gaara pelan sembari memejamkan matanya.

Jika sudah seperti ini dia benar-benar rapuh. Hah, bisa-bisanya dia mencintai muridnya sendiri.

"Kau hanya perlu waktu. Toh, ketika dia lulus kalian bisa bebas pacaran."kataku mencoba membuat dia kembali bersemangat sembari mendudukkan lagi tubuhku di kursi kayu dekat meja belajar.

"Benar, tapi masalahnya pihak sekolah gigih sekali agar aku tak bersamanya."

"Mungkin kepala mereka terbentur sesuatu karena itu mereka melakukan hal tersebut. Lagi pula kenapa kau tak berhenti saja?"aku mulai kesal juga, maklum aku mudah terbawa suasana. Apalagi ini menyangkut sepupuku, salah kerabatku Gaara.

"Dan aku harus mengemis-ngemis belas kasihan orang tuaku? Tak sudi."

"Kau selalu seperti itu. Aku sedari dulu heran dengan hubungan antara kau dan orang tuamu. Kalian benar-benar keluarga tidak sih."semakin lama aku malah mulai marah-marah sendiri.

"..."

Tak ada respon, aku mulai memanggilnya.

"Gaara."

"..."

Tetap tak ada respon. Akhirnya aku mulai mendekatinya.

"Hah, dia malah tidur."kataku ketika melihat wajah damai Gaara serta dengkuran halus yang keluar dari mulutnya."Kau harusnya lebih menikmati hidupmu."lanjutku sembari menyelimuti tubuhnya.

"Oyasumi."

.

.

.


Karena Gaara malah tidur di kasurku, jadi aku memutuskan untuk keluar dari kamar. Awalnya aku hanya berbaring di sofa sembari menonton televisi tetapi tiba-tiba kaasanku malah menyuruhku untuk membeli bahan makanan di supermarket. Hah, memang aku tak diizinkan untuk istirahat seharian ini.

Aku mulai berjalan sembari sesekali menendang batu-batu kecil yang berada dihadapanku sambil sedikit menundukkan kepalaku dan sesekali memperhatikan jalanan yang sepi.

Namun, aku malah berpapasan dengan seorang gadis berkerudung merah—ah maksudku—bersurai indigo.

"Hinata."panggilku tanpa sadar, membuatnya menghentikan langkahnya yang telah berjarak kira-kira 1 meter denganku. Aku mulai melihat dia menoleh perlahan menghadapku.

"Kau."katanya sangat terkejut, bisa dilihat dari perubahan ekspresinya yang semula tenang menjadi membelalakkan mata lebar-lebar dengan mulut yang menganga.

"Kau masih ingat aku?"tanyaku sembari memperdekat jarak di antara kita.

"Ba-bagaimana aku bisa lupa. Ka-kau..."

Apa? Sekarang aku mulai melihat dia mengeluarkan air mata yang awalnya hanya satu tetes menjadi berpuluh-puluh tetes.

Dia menangis.

Oh, god. Aku membuat murid SMA menangis karenaku.

.

.

.


"Kau mulai tenang sekarang?"tanyaku memastikan sembari mengelus bahunya pelan.

Kami telah duduk di sebuah kursi depan supermarket, berhadapan. Segelas teh hangat dan juga segelas kopi hangat berada di atas meja untuk menemani kami. Megobrol berdua mungkin bisa membuat kami para wanita bisa saling mengerti satu sama lain.

"Ja-jadi Sakura-san bukan pacar sensei."katanya mulai berbicara yang sedari tadi hanya menangis sejadi-jadinya.

"Iya."

"Ka-kalau begitu kenapa kalian berciuman di hadapanku?"

Aku yang awalnya ingin meminum kopi di hadapanku yang dirasa telah tak panas lagi alias hangat malah langsung menyemburkan semuanya seketika pertanyaan itu keluar.

"Uhuk...uhuk..."aku mulai terbatuk kecil.

"Sakura-san baik-baik saja?"tanyanya khawatir.

"Iya tak masalah. Mungkin Gaara hanya ingin menghidarimu dengan cara men uhuk."

"Jadi Gaara-sensei benar-benar mencintaiku?"sekarang matanya mulai berbinar-binar bahagia.

"Tidak tahu. Jangan terlalu berharap."kataku pura-pura tak mengetahuinya sambil kembali mencoba meminum kopiku yang sempat tertunda.

"Hah."kulihat dia mulai mendesah kecewa, sekarang raut wajahnya mulai sedih kembali.

"Sudahlah, mungkin...aw."kataku sedikit meringis ketika seseorang menarik paksa pergelangan tanganku untuk bisa membuatku berdiri.

"Kau sedang apa?"tanya pelaku tersebut dengan mata yang melotot.

"Sensei."sekarang Hinata mulai berdiri.

"Lepaskan. Ini sungguh sakit Gaara."kataku mencoba melepaskan genggamannya yang sangat erat.

"Lebih baik sekarang kau ikut denganku."Gaara mulai melangkah pergi sembari menarikku untuk pergi mengikutinya.

"Sensei."teriak Hinata ketika melihat kami pergi menjauh. Ku lihat setetes air mata mulai mengalir lagi membasahi pipinya.

.

.

.


"Maumu apa?"

"Harusnya aku yang mengatakan hal tersebut. Lepaskan."bentakku tak mau kalah. Aku mulai melotot ke arahnya yang sedang melototiku. "Jangan libatkan aku dalam masa..."

Grep...

Dia langsung mendekapku, memelukku dengan erat namun tak sampai membuatku sulit bernafas. Tiba-tiba ku lihat punggungnya mulai bergetar.

Gaara kau menangis? Reflek aku malah ingin melepas pelukannya dan melihat wajahnya.

"Tetap seperti ini, kumohon."

Setelah dia mengatakan hal tersebut aku mulai mematung, menunggunya selesai menumpahkan semuanya. Sungguh, aku tak suka melihatnya seperti ini, benar-benar tak suka. Aku mulai mengelus punggung dan juga kepalanya pelan, berharap dia tak akan terganggu dengan perlakuanku.

.

.

.


"Sudah baikan."kataku memulai pembicaraan. Sekarang kami berdua telah berada di taman dengan posisi duduk di salah satu kursi di sana. Awalnya kami hanya terus berjalan, tak ada satupun yang memulai pembicaraan. Sampai akhirnya kami malah tiba di taman ini.

"Lupakan."katanya dingin dengan tatapan lurus ke depan, tak menoleh sedikit pun ke arahku.

"Aku akan pergi."kataku mulai berdiri. Namun pergelangan tanganku malah dipegangnya.

"Aku ikut."

"Hah."aku mulai menghela nafas pasrah. "Baiklah."lanjutku.

Kami terus berjalan menuju suatu tempat yaitu supermarket. Melangkah beriringan dengan tangan Gaara yang terus menggenggam pergelangan tanganku. Walau aku ingin melepasnya dari tadi namun apa daya aku tak ingin lagi mengganggunya yang saat ini fikirannya telah melayang entah kemana.

Aku malah mengingat ketika aku dan dia masih kecil.


FlashBack On.


"Gaara-chan tetap di sini, aku akan membelikan ice cream untukmu."kataku yang saat itu berumur 7 tahun.

Kami berdua sedang berada di taman. Dengan Gaara dan aku yang awalnya sedang bermain ayunan. Namun, Gaara malah merengek meminta dibelikan ice cream kepadaku dan aku langsung saja pergi meninggalkannya sendirian.

Namun, ketika aku kembali. Aku malah menemukan Gaara yang menangis dengan beberapa anak laki-laki seumuran dengan kami yang sedang mengganggunya.

"Kau monster berkepala merah."

"Dasar monster, lihat wajahnya sangat menyeramkan seperti itu."

"Kau setan atau apa sih? Matamu sangat menyeramkan."

Itulah kalimat-kalimat yang mereka lontarkan kepada Gaara.

Melihat hal tersebut aku langsung saja menghampiri mereka tanpa meminta bantuan orang dewasa. Melihat Gaara menangis seperti itu dan ucapan mereka yang keterlaluan membuatku sungguh sangat marah. Padahal mereka tak sebaik yang terlihat di bandingkan Gaara.

"Jangan ganggu dia. Dasar anak laki-laki tak berperasaan."teriakku kepada mereka.

"Dasar pink, kau mau apa hah?"tantang mereka kepadaku.

"Rasakan ini."aku langsung saja melempar ice cream yang ku beli barusan kepada mereka. "Hiak... Hiak..."

Ku lihat mereka malah berlari tunggang langgang menghidari lemparanku.

"Beres."kataku puas sembari membersihkan tanganku yang sedikit kotor. "Kau tak apa?"tanyaku pada Gaara.

"Sakura-chan, tetaplah bersamaku selamanya."kata Gaara lirih sembari memegang pergelangan tanganku.

"Hn. Aku akan bersamamu selamanya."kataku yang saat itu masih polos tak tahu apa-apa sembari menghapus air mata Gaara menggunakan ibu jariku.

"Benarkah?"tanya Gaara antusias.

"Benar. Aku akan menjaga Gaara-chan selamanya, bagaimana kalau kita menikah saja nanti?"kataku sambil sedikit menepuk-nepuk dadaku menggunakan salah satu tanganku yang bebas.

"Iya. Aku akan menikahi Sakura-chan."

Setelah itu kami memutuskan untuk pulang ke rumah karena hari hampir malam. Langit yang sudah berubah menjadi orange dengan matahari yang semakin tenggelam meninggalkan bumi.

Kami berdua terus berjalan beriringan dengan Gaara yang terus saja memegang pergelangan tanganku.

"Maaf ice creamnya malah ku lemparkan kepada mereka."

"Tak apa. Yang penting kita tetap bisa selalu bersama."


FlashBack Off.


Tunggu. Uwaaaa, kenapa aku harus mengingat hal seperti itu. Innerku mulai berteriak tak karuan.

"Lepaskan."kataku sembari menghentakkan tangan agar genggamannya padaku terlepas.

"Ck, menyebalkan."kata Gaara super dingin.

"Hari mulai malam aku harus bergegas pergi ke supermarket."kataku lalu berlari kencang.

"Aneh."

Aku mulai menoleh ke arahanya karena mendengarnya berbicara namun tak jelas. Tapi yang kulihat setelah itu dia malah tersenyum sangat tulus.

Gaara tetaplah seperti itu.

Tersenyum dengan tulus dan jangan bersedih lagi.

Aku berjanji...

Aku akan tetap bersamamu, menemanimu.

Bukankah itu janjiku sejak kecil?

Janji yang bahkan hampir ku lupakan.

Sakura POV END


.

.

.

.

.

TBC

.

.

.

.

.


Hiak... Gaara-chan aku juga akan melindungimu. *Teriak* /Readers: Maunya -_-/ Heh, tapikan lumayan kalau Author juga bisa dapat Gaara-kun :* . Maju... Mundur... Maju... Mundur... Cantik... Cantik...

Hehehehe...

Sekarang Author lagi waras aja ya? /Readers: Orang waras kok modelnya kayak gitu/ Hey,... Para readers semua jangan ragukan kalau saya itu adalah orang yang waras...

Readers: Bodo amat.

Author: Jahat atuh T_T

Readers: Biarin*langsungpadabubar*

Author: Tidak...*teriak* Jangan tinggalkan author sendiri. Nanti siapa yang mau review...

Gomong-gomong masalah review, ada yang berkenan untuk melakukannya setelah membaca salah satu fic buatan saya ini? Jika ya, ketik REG (spasi) Din-din Hasan kirim ke*tit*... Loh...loh... Jaringannya kok putus sih *LangsungPundungDiTengahan*

Readers: Di tengahan thor?

Author: Iya, udah bosen di pojokan jadi ganti tempat. :D

Readers: Gedubraaaak... *padasweatdropsemua*

Ne...ne... Kembali lagi masalah review. Sebagai readers yang baik hati, tidak sombong, dan suka menabung tinggalkan jejak kalian ya?*nyeringai* /Readers: Hahahaha/ Loh... Kok pada ketawa? Gak serem ya seringaian author? Apa author harus nyewa Sasuke-kun, Gaara-kun, dll yang sekiranya nyeremin kalau disuruh menyeringai. Tapi, gak punya pulsa. Mama minta pulsa #Plaaak...

Oh... Iya... Jika kalian mau kirim-kirim salam, kirim-kirim kado, kirim-kirim kesan dan pesan, kirim-kirim kritik, kirim-kirim saran langsung aja di kolom komentar. Wesss... Jangan pikir panjang langsung tekan saja tombolnya. Wisss... Mari...

Hah, dari pada author kebanyakan, gak di baca juga sama readers. /Readers: Emang siapa juga yang mau baca beginian, gak penting banget/ *AuthorLangsungTerkapar*

Sampai di sini dulu ya.

Ketemu di fic selanjutnya yooo...

Salam hangat Din-din Hasan ^.^

Jane~

.

.

.

.

.


Thank you for reading everyone. Review Review! The more Reviews I get the more determined I feel to update!


.

.

.

.

.

^.^

.

.

.

.

.