Don't Say No

.

.

.

Chapter 4

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Rated : T

Indonesian

Genre : Romance, Friendship, Humor, dll.

(Maaf jika tidak sesuai karena saya tidak terlalu bisa nentuin genre)

Cast : Sakura H., Sasuke U., Shikamaru N., Gaara S., Hinata H., Sai., Ino Y., and other (Belum Muncul).

.

Semua karakter yang ada disini milik MK.

Saya cuma minjem bentar.

.

WARNING : OOC, AU, CERITA ABAL, GAJE, NGEBOSENIN, TYPOS, DKK (Semoga aja ngak).

.

.


Hai, ketemu lagi sama author yang satu ini. Saya tekankan lagi bahwa di fic ini akan terjadi yang namanya SAKURA harem /PlokPlokPlok/ dan saya masih belum menentukan siapa nanti pasangan Sakura. Karena saya akan membuat fic ini seperti air, mengalir dengar sendirinya (?). TAPI JANGAN TERLALU BERHARAP PAIRNYA CANON, karena akan banyak pemeran character cowok tak terduga(BisaJadi). Dari pada author banyak bacot mending langsung aja ke ceritanya. Eits... tapi tunggu dulu karena saya akan membalas reviews para readers sekalian, makasih udah menyempatkan mereview ^.^ .

KET: KALIMAT YG DI BOLD SERTA DIBERI TANDA KURUNG ADALAH BALASAN DARI SAYA

akasuna maria chapter 3: next yya... (Iya) mogga aja fic'a smpe tamat hehe (Amin. Makasih sudah menyempatkan review)

Kuroko Hime chapter 3: Jadi sebenernya Gaara suka sama siapa? Hinata atau Sakura? Atau mungkin aku uhuk /abaikan/ (Mungkin saja ak- uhuk #Plaaak) Ditunggu lanjutannya Auth-san~ (Iya :D. Makasih sudah menyempatkan review)

nurr chapter 3: Krena gak mau di sebut pebaca gelap jadi review deh (Wah, arigatou*SambilPakeKacamataKarenaTerlaluTerang* #Plaaak) Din-din san ceritanya bagussssssss cepet lanjut ya (Arigatou :D)

cihuyy93 chapter 3: Senpai lucu hahaha (Wah, akhirnya *SujudSyukur* #Plaaak) penutupnya panjang (Sudah kuduga) dan dibaca kok. (Untung masih ada yang mau baca*Terharu*) Ceritanya kurang panjang, panjangin ya? (E...*MikirLama*) Up nya lebih cepat kalau bisa xixi (:D)

hanazono yuri chapter 3: Lanjuuuuuut.. (Iyaaaaaa..)

Yosh, udah di balas semua reviewsnya sekarang waktunya...


HAPPY READING ^_^ .

.

.

.

.

.

.

.


Matahari benar-benar telah meninggalkan langit sehingga membuatnya menjadi sangat gelap. Namun, di langit telah ada bulan yang menggantikannya. Walau bulan tak bisa menyinari bumi seterang matahari tapi tetap saja, keberadaannya di langit menjadi sangat indah dengan ditemani banyak bintang.

"Kaasan aku pulang."teriak seseorang menggelegar membuat rumah yang awalnya sepi lantas menjadi bising. Dia, Sakura Haruno mulai masuk ke dalam rumahnya dengan membawa dua kresek plastik penuh berisi bahan makanan yang diperlukan kaasannya.

"Okaeri. Kau lama sekali Sakura."ucap kaasannya mengomeli dia ketika telah melihatnya berada di dapur dan menaruh kresek tersebut di meja.


Sakura POV


Setelah acara pegang-pegangan tangan dengan Gaara yang sangat memalukan itu, aku langsung berlari ke supermarket untuk membeli semua bahan makanan yang disuruh kaasan. Untungnya aku mempunyai alasan untuk melarikan diri darinya.

Sebenarnya bukan gara-gara aku tak ingin berlama-lama dengannya. Hanya saja ketika aku mengingat masa-masa kecilku yang tadi sempat terlintas di kepalaku, membuatku sedikit illfeel dibuatnya. Bahkan aku ingin muntah-muntah seketika itu. Lupakan, itu bahkan terlalu berlebihan.

"Maafkan aku kaasan."kataku sambil membuka kulkas dan langsung mengambil botol yang berisi air dan meminumnya tanpa menyentuh bibir botol.

"Mana Gaara-kun? bukannya dia menyusulmu. Ku kira dia ingin menginap di sini."

"Tunggu-tunggu. Menginap? Memangnya dia akan tidur di mana?"tanyaku bertubi-tubi sedikit tak suka, masalahnya di rumah ini hanya ada dua kamar, yaitu kamarku dan juga kamar tousan kaasan. Lalu aku mulai duduk di kursi dekat meja makan setelah menaruh botol tersebut ke tempatnya dan menutup kulkas.

"Dia kan bisa tidur di kamarmu."kata kaasan sembari terus melakukan aktivitasnya yaitu memasak, tanpa menoleh sedikit pun kepadaku.

"Tunggu-tunggu, apa? Di kamarku. Tidak bisa, memangnya nanti aku akan tidur di mana kaasan?"ucapku protes.

"Kau bukankah bisa tidur di sofa Sakura."

"Ck, kaasan, kaasan. Seharusnya Gaara yang tidur di sofa, aku ini perempuan kaasan."

"Aku bahkan bingung mempunyai anak perempuan atau laki-laki."

Setelah mendengar perkataan kaasan barusan, perempatan siku-siku mulai muncul di jidat lebarku. Bingung memiliki anak laki-laki atau perempuan? Oh, ayolah aku ini perempuan, tunggu-tunggu sepertinya aku lebih pantas dibilang laki-laki. Tapi, jenis kelaminku perempuan dan aku seratus persen mencintai seorang laki-laki. Ah, tidak. Bahkan kepribadianku mirip laki-laki dan aku tak suka jika disamakan dengan perempuan-perempuan yang lemah itu.

Tunggu? Bahkan aku sendiri memiliki pemikiran yang sama dengan kaasan. Oh, malangnya nasibku. Aku mulai menghela nafas pelan.

"Baiklah, aku mengalah. Karena dari dulu Gaara memang terlihat lebih lemah dariku jadi tak apa-apalah."

Grep...

Tiba-tiba saja ada seseorang yang memegang bahuku. Dengan gerakan lamban aku mulai menoleh sembari menelan ludah dengan susah payah. Bahkan perasaanku saat ini sungguh tidak enak.

"Gaara, kau kembali."kataku sembari tersenyum sangat kaku.

"Iya, apa yang kau katakan tadi? Lemah?"nada dingin serta ekspresi tajam yang keluar dari mulut dan wajah Gaara.

"Hahahaha, bukan apa-apa. Kaasan tolong aku."

"Itu salahmu sendiri."kata kaasan tenang.

Dasar, kaasan memang selalu seperti itu. Lebih menyayangi Gaara daripada aku. Uwaaa... Siapa saja tolong aku sekarang.

Aku mulai menurunkan tangan Gaara dari bahuku pelan lalu...

"Kabur."teriakku sembari berlari untuk bisa menghindar darinya.

"Awas kau jangan pergi."

Kami berduapun akhirnya malah berlarian mengelilingi meja.

"Kalian tetap saja seperti anak kecil."kata kaasan menimpali kelakuan kami. Namun tak ada satupun dari kami yang merespon perkataan kaasan karena aku sibuk menghindari kejaran Gaara dan Gaara sibuk mengejarku. "Dan satu lagi kalian sangat cocok, kalian harus menikah. Kaasan akan merestuinya."

"APA?"seketika itu aku langsung berhenti berlari lalu berteriak sekencang-kencangnya.

"Kau memang sangat lebay."kata Gaara sembari menutup telinganya.

"A-aku tak pernah cocok dengan Gaara kaasan. Apalagi kami selalu bertengkar. Dari mana kecocokan kami? Di lihat dari sisi manapun kami tidak ada cocok-cocoknya."kataku panjang lebar.

Pletak...

"Aw."ringisku ketika mendapat hadiah jitakan dari Gaara yang telah berada di sampingku. Sejak kapan?.

"Bukankah waktu kecil kau yang terus menawariku untuk menikah denganmu."

"Mana ada."sergahku tak terima. "Aku tak pernah ingat."lanjutku lagi mengelak, lagi pula aku tak sudi mengakuinya. Tidakkkk, itu adalah masa-masa kelam yang bahkan aku sendiri tak sadar telah mengatakannya.

"Dasar."dengus Gaara.

"Atau jangan-jangan sekarang kau mulai menyukaiku ya?"godaku tanpa sadar, habis dari tadi selalu saja aku yang digoda sekali-sekalikan tak apa menggoda.

"Mana ada, kau sedang bermimpi hah?"respon Gaara yang menurutku terlalu berlebihan. Iya aku tahu hal tersebut, tapi tetap saja jangan seperti itu mengatakannya. Dia sungguh menjengkelkan.

"Ck, iya aku tahu. Lagi pula aku punya Sasuke-kun. Wekk..."kataku sembari menjulurkan lidah mengejeknya lalu berlalu pergi ke kamar meninggalkan kaasan dan Gaara di sana.

.

.

.


Aku telah berbaring di kasur dengan posisi terlentang.

Sasuke.

Satu kata itu membuatku ingat kejadian tadi ketika aku menemukannya di taman kota bersama seorang wanita. Apalagi wanita itu... Aku seperti pernah melihatnya di suatu tempat, tapi aku malah lupa.

"Hah."kataku kesal sembari mengacak-ngacak rambutku.

Aku bahkan tak ingat. Sakura... Coba ingat lagi.

Aku mulai berusaha mengingatnya, terus dan terus. Tapi hasilnya tetap nihil.

Aku mengambil ponselku yang masih berada di dalam tas yang ku bawa tadi pagi. Tak ada pesan atau pun panggilan darinya.

Bahkan dia tak mencoba menghubungiku, biasanya dia selalu menelpon atau sekedar mengirim pesan untukku jika dia pergi dengan temannya apalagi seorang perempuan, dia bilang agar aku tak berburuk sangka kepadanya. Tapi sekarang? Dasar Uke pantat ayam, awas saja aku akan membalasmu.

Tiba-tiba saja ponselku berdering ketika aku ingin menaruhnya di atas meja belajarku.

NANAS.

Kenapa selalu dia. Aku mulai menghela nafas lalu memencet tombol hijau.

"Iya?"kataku mengawali pembicaraan.

"Kita kencan sekarang."

"Tung-tung..."

"Aku tunggu di taman tadi."

"Ta-tap..."

Tut... Tut... Tut...

Uwa... Dasar nanas menyebalkan, bahkan dia tak membiarkanku bicara. Tapi yasudahlah, aku harus bergegas takutnya dia akan berubah menjadi monster dan mengamuk nantinya(?).

Aku mulai mengambil semua peralatan menyamarku serta baju ganti dan langsung menaruhnya di dalam tas selempanganku. Aa, aku hampir lupa membawa sebuah benda canggih—ponsel. Setelah semuanya dirasa lengkap aku mulai melangkah pergi meninggalkan kamar.

Tunggu...

Tiba-tiba aku mengingat sesuatu. Nantinya aku harus beralasan apa kepada kaasan dan Gaara. Aku mulai berfikir keras untuk memikirkannya, mulai dari mengingat adengan dari drama-drama yang ku tonton bahkan mengingat beberapa novel yang sudah ku baca.

"Ah, aku tahu."gumamku pelan ketika telah mendapatkan ide cemerlang. Ternyata ada gunanya menonton dan membaca yang begituan. Langsung saja aku mengambil ponselku di dalam tas lalu menelpon seseorang.

"Moshi moshi."kataku ketika telah tersambung.

"Ada apa?"

"Aku akan menginap di rumahmu. Tunggu aku."

"Baiklah."

"Arigatou, kau memang temanku yang sangat baik."

Tut... Tut... Tut...

Dasar, dia malah mematikan sambungan teleponku. Tapi tak apa-apa, yang jelas aku sudah memiliki alasan yang kuat.

Aku mulai menuju dapur, ternyata di sana masih ada kaasan dan juga Gaara yang mengobrol entah tentang apa.

"Kaasan aku akan menginap di rumah Ino."

"Tung..."

"Aku pergi."kataku langsung bergegas keluar rumah takut-takut kaasan tak memperbolehkanku.

.

.

.


Berjalan menuju taman kota. Yup, taman dekat rumahku itu merupakan taman kota Tokyo yang selama ini selalu ku kunjungi bersama para lelaki yang selalu seenaknya itu kepadaku.

Setelah sampai di taman, aku langsung melangkah pergi ke kamar mandi umum. Walaupun sudah malam tapi taman ini tetap saja ramai di kunjungi para pemuda dan pemudi yang ingin berpacaran atau sekedar keluar dengan keluarga yang ingin menghabiskan waktu bersama. Maklum, namanya juga taman kota.

Setelah ku rasa penampilanku sudah pas dari ujung rambut sampai ujung kaki aku mulai melangkah keluar kamar mandi.

"Kau sudah siap."kata seseorang tiba-tiba. Membuatku terjungkal ke belakang karena kaget.

"Kau membuatku kaget. Astaga."kataku kesal, dia hanya berekspresi tenang dengan tubuhnya yang disandarkan ke tembok dan kedua tangannya yang disilangkan di depan dada.

"Kita akan kencan kemana?"

"Mana aku tahu, bukankah kau yang mengajakku."kataku sambil mendengus sebal.

"Kalau begitu aku ingin membelikanmu sesuatu. Ikuti aku."katanya mulai berjalan mendahuluiku.

"Kita sedang diikuti ya?"tanyaku setelah mensejajarkan langkahku dengannya. Tapi aku tak berniat untuk mengecek sekelilingku takut-takut orang yang mengikuti kami malah curiga bahwa kami telah mengetahui hal tersebut.

"Sudahlah, bertindak seperti kita tak sedang diikuti dan ingat kau harus berpura-pura bahagia."

"Iya...iya. Dasar cerewet."

.

.

.


"Kau ingin beli yang mana?"tanya Shikamaru kepadaku.

Kami telah sampai ke tempat tujuan, di sebuah toko perhiasan. Aku juga bingung untuk apa dia sampai ingin membelikanku salah satu dari barang mahal itu. Bahkan, kita berdua hanya sedang bermain sandiwara-sandiwaraan.

"Pilih."katanya lagi sedikit menyentak karena aku tak meresponnya.

"Kau saja yang pilih."kataku dengan nada yang cuek.

"Ck, merepotkan. Saya ingin lihat yang ini."tunjuknya pada salah satu cincin.

"Baik pak."kata sang petugas perempuan dengan warna rambut pirang menaruh cincin tersebut di atas kaca penghalang.

"Eh. Mau apa?"tanyaku tak terima sembari melotot. Tapi tetap saja tak ada jawaban, dia malah terus menarik tangan kiriku dan menaruh cincin tersebut di jari manisku.

"Cocok."katanya puas.

"Aku tak mau."sergahku lalu melepaskannya. "Aku tak suka dengan hal seperti ini, jika tak ada lagi aku akan pulang."lanjutku sembari melangkah pergi, tapi tak sempat lebih jauh lagi darinya karena dengan cekatan dia langsung menarik pergelangan tanganku.

Sebenarnya sebagai seorang wanita aku suka sekali dengan barang-barang tersebut. Tapi, aku tahu diri. Tak mungkin aku mengambil kesempatan dalam kesempitan atau sambil menyelam minum air.

"Oh, ayolah. Ini hanya..."

"Karena ini hanya... Aku tak mau."

"Kau ingin apa? Kalung?"

"Tidak."kataku sembari menggeleng-gelengkan kepalaku.

"Gelang?"

"Tidak."

"Anting?."

"Tidak."

"Jadi?"

.

.

.


Pletak...

"Aw."ringisku ketika dia tiba-tiba menjitak kepalaku lalu aku mulaai mengelus-elusnya. Hah, bahkan kepalaku sepertinya sudah menjadi bahan jitakan. Enak saja mereka menjitak kepalaku seenak udel mereka, begini-begini kepalaku juga berharga.

"Dasar."dengusnya.

Kami berdua sedang berjalan-jalan sambil menikmati indahnya bunga sakura, kelap-kelip lampu, pasangan yang berlalu lalang, toko-toko dan lain-lain. Sungguh, ini keadaan yang lebih baik daripada di toko perhiasan tadi. Bahkan sampai sekarang wajah Shikamaru masih terlihat kesal karenaku.

Angin mulai tertiup, walau tak kencang tetap saja membuatku sangat kedinginan, apalagi dengan cuaca yang sudah dingin ditambah angin bertiup bisa-bisa aku membeku di tempat ini sekarang.

"Dingin."kataku sembari mengeratkan jaket tebal yang menyelemuti badanku.

"Jadi? Kita hanya berjalan-jalan."

"Yup, begitulah."

Namun, ketika aku mulai melihat sekelilingku aku malah menemukan rambut pantat ayam Sasuke. Tapi dia tak sendirian malah bersama wanita merah yang kemarin ku lihat bersamanya di taman. Mereka sedang menuju sebuah kedai makanan. Mereka sedang apa? Tanya innerku curiga.

"Ayo."tanpa pikir panjang aku langsung menggenggam tangan Shikamaru lalu menariknya untuk mengikutiku.

"Hei."protesnya namun tetap saja dia pasrah menerima perlakuanku.

Tiba di depan pintu kedai, aku mulai menghela nafas lalu meyakinkan diriku bahwa dia tak akan mengenaliku dengan penampilan seperti ini.

"Kau ingin makan?"tanya Shikamaru.

"Iya."jawabku mantap lalu melangkah kedalam.

Aku mencari tempat duduk pas di belakang mereka, bahkan aku dapat melihat punggung Sasuke dan wajah gadis merah tersebut. Sekarang aku bisa melihat wajahnya dengan jelas, oh god bahkan dia lebih cantik dariku. Uwaaa... Pantas saja Sasuke mendekatinya.

Aku mulai mencabik-cabik makanan yang sudah ku pesan lalu memakannya dengan brutal. Melampiaskan semua kekesalanku kepada makanan ini. Shikamaru malah terus memperhatikan tingkah lakuku.

"Ada apa?"tanyaku mulai risih.

"Kau sangat lapar, sampai-sampai makanmu seperti itu? Atau kau sangat rakus?"setelah mengatakannya Shikamaru malah tertawa kecil.

"Ck, memangnya kenapa? Tak boleh?"kataku tak terima.

Aku benar-benar sangat kesal sekarang. Apalagi ketika aku melihat gadis merah tersebut tertawa atau pun tersenyum, membuatku semakin brutal melampiaskannya kepada makanan yang malang ini. Sangat berguna bukan? Dari pada aku memarahi orang yang tak bersalah.

"Terserah, hanya saja..."katanya sembari mendekatkan tangannya yang telah memegang tissu ke wajahku.

Melihat hal tersebut membuat atensiku berpaling kepada Shikamaru, lalu aku terus memperhatikan tangannya. Yang benar saja, apa yang dia ingin lakukan? Membuatku menjadi curiga terhadapnya atau jangan-jangan dia menyukaiku. Mana mungkin dengan sikap Shika yang seperti itu kepadaku—hahahaha—lagi pula ini hanya sandiwara dan aku telah memiliki Uke pantat ayam itu sebagai kekasihku.

Tak terasa tangannya hampir sampai menyentuh bibirku, dengan gerakan cepat aku menghindarinya, lalu mengambil tissu tersebut dari tangannya.

"Romantis."tiba-tiba saja dia mengatakan hal tersebut sembari melototiku. Dengan gerakan reflek aku menaruh tissu tersebut kembali ke tangannya dan memajukan wajahku sedikit agar bisa diraihnya dengan mudah lalu mulai tersenyum.

Ah, aku lupa. Kita bahkan harus terlihat sangat romantis karena sedang diikuti. Bisa gawat jika semuanya terbongkar dan yang akan celaka pastinya aku. Aku terus saja tersenyum sembari menunggu tangan Shikamaru mendekat lagi ke arahku.

"Tak jadi."katanya lalu menurunkan kembali salah satu tangannya tersebut dan kembali tertawa kecil mengejekku.

"Dasar."dengusku lalu melanjutkan makanku.

"Kau ke sini bukan ingin makan kan?"tanya Shika tiba-tiba.

"Uhuk...uhuk...uhuk..."membuatku langsung terbatuk seketika mendengar perkataannya. Ku lihat dia mulai menyodorkan air kepadaku yang langsung ku terima dengan senang hati dan meminumnya.

"Dasar."

Pletak...

"Aw."ringisku ketika mendapat hadiah jitakan darinya lagi dan lagi. "Hehehehe, gomennasai."kataku sembari tersenyum kaku. Ku lihat dia malah memalingkan wajahnya menatap jendela.

"Dia pacarmu kan?"

"Siapa?"tanyaku cepat, untung saja aku tak cepat-cepat memakan lagi makananku kalau tidak aku akan kembali tersedak karena pertanyaan Shikamaru barusan.

"Itu di belakang."ucapnya pelan.

"Ba.."

"Bukankah dulu dia yang memukul pipiku, tentu saja aku ingat."katanya memotong ucapanku lalu seketika berbalik arah menatapku dengan sangat tajam.

Oh, god tolonglah aku.

"Gomennasai, dia hanya..."

"Kau bahkan tak ingin melabrak mereka berdua."

Lagi-lagi dia memotong pembicaraanku dan itu membuatku sedikit kesal. Namun ketika ucapannya selesai aku malah menundukkan wajahku dalam, memikirkan ucapannya.

Melabrak ya?

Hah, mana bisa ku lakukan. Bukannya aku yang melabrak mereka malah si Uke pantat ayam itu yang akan memarahiku dengan berjuta pertanyaan.

Tapi aku sangat ingin melakukannya, mendapat kejelasan darinya. Bahkan kalau perlu aku ingin menampar si Uke itu lalu menyiraminya dengan minuman.

Pluk...pluk...pluk...

"Sudahlah, jangan terus bersedih."kata Shikamaru sembari menepuk-nepuk kepalaku.

"Hei, bukannya membuat seseorang merasa lebih baik kau malah memperparahnya."kataku kesal dengan perlakuannya ini lalu menjauhkan tangannya di kepalaku. Bukannya kenapa? Tepukannya itu loh, membuat kepalaku sedikit sakit.

"Benarkah?"

Aku mulai mengerjap-ngerjapkan mataku berkali-kali pasalnya aku tak percaya dengan apa yang ku lihat saat ini.

Dia...

Shikamaru...

Tersenyum di depanku dengan tulus.


Sakura POV END


.

.

.

.

.

TBC

.

.

.

.

.


Huah... Akhirnya chap ini berakhir dengan gajenya. Hehehe... Siapa dulu... Author pembuat fic gaje. /Readers: Gaje kok bangga-_-/Biarin... Wek... Dari pada gak punya gelar... \ _ /. /Readers: Mending gak punya/.

Yare...yare... Sudahlah, mending ganti topik pembicaraan aja. Gimana?

Krik...krik...krik...

Yosh... *SemangatAlaNaruto* artinya kalian setuju. Hahahahahaaha. *MenaruhKeduaTanganDiPinggangSambilTertawa*.

Oh iya. Maaf jika di sini saya membuat karakter Sasuke yang posesif (KarenaSayaPengenCobaSekaliKaliMenciptakanKarakterSepertiItu). Di sini juga tidak ada unsur menjelek-jelekkan pair yang sudah canon atau apalah... apalah ya... ^.^. Jadi Gomennasai jika ada yang tidak terima. Karena author sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menciptakan fic ini dengan segala kegajeannya.

Apakah kalian para readers masih berkenan mereview fic ini? Setelah membaca budayakan Review ya... Ya...ya... *PuppyEyes*

Jika ingin memberi kado, merberi salam, memberi kesan dan pesan, memberi kritik, memberi saran atau pun memberi doa silahkan saja... Saya terima semuanya... Jadi silahkan ke kolom komentar ya... Saya tunggu.

Flame? Bolehlah tapi tolong dengan bahasa yang halus sehalus-halusnya ya seperti mahluk halus #Plaaaak. /Readers: Namanya bukan flame itu author:3/ Ya... Kalau begitu memang bukan :D.

Gedubraaaak...

Dan jangan lupa readers sekalian jangan jadi pembaca gelap sekali-kali jadi pembaca terang... Biar... silau... /Readers: Apa hubungannya?/ Gak ada...

Gedubraaaak...

Sekian dulu deh dari author. Jangan banyak-banyak ah nanti kalian malah muntah-muntah(?).

Salam hangat Din-din Hasan ^.^

Jaa~


.

.

.

.

.

.

.

.


Thank you for reading everyone. Review Review! The more Reviews I get the more determined I feel to update!


.

.

.

.

.

^.^

.

.

.

.

.