Tok...
"Aw, apa yang kau lakukan."ringis seseorang kesakitan karena baru saja kepalanya dipukul menggunakan sebuah sendok.
"Apa yang sedang kau lihat?"
"Tidak ada."
"Benarkah?"
"Sungguh tidak ada."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Don't Say No
.
.
.
Chapter 5
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Rated : T
Indonesian
Genre : Romance, Friendship, Humor, dll.
(Maaf jika tidak sesuai karena saya tidak terlalu bisa nentuin genre)
Cast : Sakura H., Sasuke U., Shikamaru N., Gaara S., Hinata H., Sai., Ino Y., and other (Belum Muncul).
.
Semua karakter yang ada di sini milik MK.
Saya cuma minjem bentar.
Tapi
Cerita punya saya.
.
WARNING : OOC, AU, CERITA ABAL, GAJE, NGEBOSENIN, TYPOS, DKK (Semoga aja ngak).
.
.
Hai, ketemu lagi sama author yang satu ini. Saya tekankan lagi bahwa di fic ini akan terjadi yang namanya SAKURA harem /PlokPlokPlok/ dan saya masih belum menentukan siapa nanti pasangan Sakura. Karena saya akan membuat fic ini seperti air, mengalir dengar sendirinya (?). TAPI JANGAN TERLALU BERHARAP PAIRNYA CANON, karena akan banyak pemeran character cowok tak terduga(BisaJadi). Dari pada author banyak bacot mending langsung aja ke ceritanya. Eits... tapi tunggu dulu karena saya akan membalas reviews para readers sekalian, makasih udah menyempatkan mereview ^.^ .
KET: KALIMAT YG DI BOLD SERTA DIBERI TANDA KURUNG ADALAH BALASAN DARI SAYA
Seiyura Uchiha chapter 4 : Uwaaaa! Entah kenapa adegan ShikaSakunya sweet banget... Greget... (Benarkah? Hahahaha... berarti aku berhasil. Gak sia-sia *TibaTibaNangis* :'( ) Next senpai! (Iya, arigatou udah menyempatkan review)
Kuroko Hime chapter 4 : Akhirnya di update juga nih cerita *terhura/?* . (Iya, akhirnya. *IkutTerhura*) Ceritanya keren tapi masih ada sedikit-sedikit typo. (Hehehe makasih. *GarukGarukKepalaYgGakGatal) Misalnya di kalimat pertama "Matahari benar-benar telah meninggalkan langitnya sehingga membuatnya menjadi sangat gelap." Itu kurang enak dibaca, harusnya yang bagian "langitnya" diubah jadi "langit" aja. Terus "Walau bulan tak bisa menyinari bumi bahkan sinarnya merupakan sinar matahari karena pantulan tapi tetap saja..." itu agak bingung bacanya. Menurut aku sih bisa diganti jadi gini "Walau bulan tidak bisa menyinari bumi seterang matahari tapi tetap saja..." biar lebih simpel. (Arigatou, sarannya sangat membantu saya. Jangan sungkan-sungkan kasih saran lagi ya :D) Eh udah deh kayaknya segitu aja /takut kepanjangan/plakk/ Oke~ Keep writing ya (Hm... *Ngangguk)
hanazono yuri chapter 4 : Lannjuut (Iyaaa)
echaNM chapter 4 : Rumit jga sihh hdupnya sakura hehehe, iyahhh penasarn siapa yg nntnya bkal jdi sma si sakuraaa (Kalau begitu ikuti terus ceritanya sampai tamat :D)
Guest chapter 4 : Lanjut (Iya)
Richan chapter 4 : Sasuke nya selingkuh yah? (Hmmm... kasih tahu ngak ya :D)
cihuyy93 chapter 4 : Sasuke selingkuh beneran? (Hmmm... kasih tahu ngak ya :D) Shika memang suka seenaknya sendiri huu kan kasian sakura sabar ya saku. Shikasaku kurang romantis bikin yang romantis lagi ya senpai bikin sasuke cemburu juga oke ! (Hahahaha, gimana ya? *Mikir) Married? Kapan di up? (Ngak tahu *MukaVolos)
ruru kazeharu chapter 4 : Walau ru2 berkulit gelap.. ru2 bkal jd pembaca terang kok.. lanjut ya.. (Wah... kalau begitu ru2 anak baik kayak Tobi dong *ApaHubungannya?)
Yosh, udah di balas semua reviewsnya sekarang waktunya...
HAPPY READING ^_^ .
.
.
.
.
.
.
.
Makan, itulah salah satu kebutuhan pokok yang harus dipenuhi oleh semua mahluk hidup. Jika tidak? Gampang saja, kau akan meninggal.
Terlihat salah satu kedai makanan telah ramai dikunjungi para pembeli yang kelaparan. Membuat tempat ini sedikit bising karena selain makan mereka juga mengobrol, menggosip, curhat dan sebagainya. Sama seperti seorang gadis dan seorang laki-laki yang sedang berdebat karena suatu hal.
"Bohong."
"Tidak, untuk apa aku bohong. Wek."kata sang gadis sembari menjulurkan lidahnya membuat dia semakin terlihat imut. Dia adalah Sakura Haruno.
SAKURA POV.
Hah, apa yang hampir saja terlintas di otakku. Menyebut dia ganteng? Hahahaha, yang benar saja. Bahkan aku hanya sedikit syok melihatnya tersenyum, karena ku pikir orang sepertinya tak akan bisa tersenyum tulus dan hanya tawa ledekan yang bisa dia keluarkan. Untung saja aku tak meneruskan pemikiran miringku, jika tidak aku takut otakku akan konslet seketika. Dan... pikir saja sendiri.
Tunggu, Sasuke. Tiba-tiba aku mengingatnya, langsung saja aku melihat keberadaannya. Kosong. Kemana dia? Aku mulai sedikit menolah-nolehkan kepalaku mencarinya di seluruh ruangan ini.
"Dia sudah pergi dari tadi."dia menjawab seakan tahu apa yang sedang ku cari. Siapa lagi kalau bukan Shikamaru.
"HAH, SEJAK KAPAN?"kataku sedikit berteriak kaget, cukup tersentak ketika mendengar omongannya itu.
"Semenjak kau terdiam karena terpesona olehku."
Blusshh...
Aku mulai memalingkan wajahku. Aaaa, tidakkkkk. Wajahku akan ditaruh di mana sekarang?
"Kalau begitu ayo cepat kita mengejar mereka."kataku sembari mengambil tas dan menggenggam tangan Shika. Seakan teringat akan tujuanku berada di sini, sekaligus mengalihkan perhatian Shikamaru dari pembicaraan yang bisa membuatku awake. Lagi pula aku juga masih penasaran dengan wanita yang bersama si Uke itu.
"Tu-tunggu."katanya sembari bergegas mengambil uangnya di dalam dompet lalu menaruhnya di atas meja sebelum aku menariknya pergi lagi.
Setelah kami berada di luar kedai, aku mulai menolah-nolehkan kepalaku lagi. Mengedarkan pandanganku keseluruh penjuru tempat ini untuk mencari Uke si pantat ayam itu berada.
"Sudahlah, dia telah pergi."
"Tidak. Aku harus mencari tahu terlebih dahulu kebenaran di antara mereka."aku terus saja mencoba mencarinya sembari melangkah perlahan dengan menoleh-nolehkan kepalaku ke kanan dan ke kiri. Ada sedikit perasaan khawatir yang menyelimuti diriku. Seakan dirinya semakin jauh dan tak akan bisa untukku gapai suatu saat nanti.
"Ck, merepotkan. Kau tak ingin pulang?"
"Nanti saja."ucapku cepat karena aku sedang berkonsentrasi mencari keberadaan Uke pantat ayam itu.
Sial. Kemana dia? Umpatku kesal.
.
.
.
Tap.
Tap.
Tap.
Aku terus berjalan mencarinya, menyusuri setiap tempat yang mungkin saja dia kunjungi. Bahkan aku tak memikirkan keadaan Shikamaru yang sedari tadi ku tarik-tarik sambil menggenggam tangannya, takut-takut aku malah terpisah darinya. Apalagi dia tak berbicara satu patah kata pun kepadaku, jadi aku mengambil kesimpulan bahwa dia bersedia saja ku tarik kemana-mana.
"Itu dia."kataku senang ketika tak sengaja melihat rambut pantat ayam si Uke itu. Aku langsung berlari untuk mengejarnya agar tak kehilangan jejak.
Sedikit lagi.
Sedikit lagi.
Sedikit lagi.
Tinggal melewati zebra kros dan...
Lampu merah.
Aaaaah, sial-sial. Aku mulai menghentakkan kakiku kesal. Padahal tinggal sedikit lagi aku bisa berhasil. Dia, si Uke terus menjauh dan akhirnya tak terlihat oleh penglihatanku. Tak tahu kenapa aku mulai tersenyum getir, hal yang kupikirkan tadi benar-benar terjadi. Ah, mungkin ini hanya perasaanku saja yang terlalu sensitif. Mungkin, mungkin saja...
"Aaa."ucapku saking kesalnya, ingin rasanya aku meluapkan semua emosi di dadaku ini yang telah menumpuk.
"Sudahlah aku capek, ku antar pulang."
"Ta-tapi..."
"Sudah."katanya menarikku untuk mengikutinya. Namun aku mencoba untuk diam tak bergeming apalagi berjalan. Aku tetap kukuh dengan pendirianku untuk mengikuti Sasuke. Tapi, apa daya aku hanyalah seorang wanita, dengan mudah dia dapat menarikku sehingga aku berjalan sedikit demi sedikit dengan sangat terpaksa karena terjungkal.
.
.
.
"Kalau begitu aku pulang."katanya yang tetap berada di dalam mobil sedangkan aku telah berada di luar mobil.
Kami telah sampai di taman kota Tokyo. Seperti biasanya dia hanya mengantarku sampai di sini dan menurunkanku seenak jidatnya.
"Ini sudah malam, kau tak mengkhawatirkanku? Tak ingin mengantarku pulang?"aku mulai mencoba membujuknya untuk mengantarku pulang. Sebenarnya aku tak butuh itu jika tak terpaksa, salahkan saja badanku yang telah lelah karena mencari Sasuke. Jika aku bertemu dengan preman jalanan—maksudku preman di jalan—aku akan bertambah lelah.
"Benar juga, jika terjadi sesuatu denganmu aku yang akan celaka."
"Jadi kau ingin mengantarku pulang."ucapku bahagia dengan mata yang telah bersinar dipenuhi bintang. Tak ku sangka dia akan mengantarku pulang.
"Tapi tetap saja tidak, bagaimana jika penyamaran kita terbongkar. Dari pada kau berlama-lama di sini cepat sana pergi."usirnya.
"Haaah."menghela nafas pasrah. Memang harusnya aku tak berharap banyak padanya. "Aku pulang."ucapku lesu lalu pergi meninggalkannya ke arah toilet.
Hah, aku sudah lelah. Bahkan sekarang aku harus membuka semua penyamaranku dari ujung rambut sampai ujung kakiku. Ini sangat merepotkan, benar-benar membuatku repot. Setelah sampai di kamar mandi aku melepas semuanya dengan berat hati, lalu bergegas pergi ke rumah Ino.
Tunggu.
Bukankah tadi pagi aku seperti memiliki sebuah janji. Kepada siapa ya? Pikirku sekeras mungkin. Bahkan sekarang aku mulai menjadi pelupa.
"Gaara, iya aku janji untuk mendengarkan curhatnya."gumamku ketika ingat sembari menepuk jidat lebarku. Aku terus berjalan meninggalkan taman, namun...
Grep.
Seseorang malah memegang bahuku, reflek membuatku memegangnya dan memelintir tangan orang tersebut.
"Aw. Ini aku."ucapnya karena merasa kesakitan dengan perlakuanku. Suruh siapa dia mengejutkanku malam-malam begini, ku kira dia orang mesum atau sejenisnya.
1 detik.
2 detik.
3 detik.
"Sai."ucapku terkejut sembari melepaskan tangannya yang sempat ku belokkan. "Kenapa kau bisa berada di sini?"tanyaku reflek, bahkan aku sangat syok ketika tahu dia malah mengikutiku.
Dia seorang mata-mata yang dikirim untuk mengikuti aku dengan Shikamaru, membuatku menjadi sedikit kesulitan dengan acara sandiwaraan kami. Dan aku masih memiliki sebuah hutang kepadanya. Sungguh merepotkan.
"Aku mengikutimu ketika melihat rambut pinkmu itu."
"Aaa, kau benar. Rambutku ini sangat langka sehingga mudah sekali kau menemukanku di tengah kerumunan sekalipun."
"Kau ingin kemana?"sekarang senyum palsu telah kembali menghiasi wajahnya.
"Pulang."aku mulai sedikit melangkah melewati jalan setapak menuju rumahku. Biarkan saja dia mengikuti, toh dia bisa menjadi bodyguardku sekarang.
"Ku antar."sudah ku duga, memang instingku terkadang bisa berguna juga dikeadaan seperti sekarang ini. Dia mulai mensejajarkan langkahnya denganku.
"Kau dari pulang kerja? Lembur?"
"Tidak, hanya dari rumah teman saja tadi. Mampir ke taman kota karena aku butuh pergi ke toilet."ternyata aku pintar sekali mencari alasan, bahkan semua yang terlintas di otakku ku keluarkan dengan lancar. Tapi semua butuh pertimbangan untuk mengurangi kadar kebohonganku yang suatu saat akan terbongkar karena mulut.
"Kau masih ingat."
"Iya, mentraktirmukan?"
"Hm."angguknya.
"Tapi kau sedang apa malam-malam begini? Bertugas?"tanyaku kepo, siapa tahu dia malah memberitahuku semua. Bukankah itu namanya sekali mendayung dua pulau terlampaui.
"Iya... Mau bagaimana lagi, inilah pekerjaanku."ucapnya sembari menatap langit yang hitam nan gelap.
"Tetap semangat."tak terasa aku mengucapkannya sembari tersenyum lebar. Sepertinya perkataan yang kuucapkan lebih mengarah kepada diriku sendiri.
"Jelek."
Hah? Tiba-tiba saja senyum yang ku tampilkan telah musnah. Sekarang aku malah mengerjapkan mataku beberapa kali karena masih syok dengan pernyataannya. Tunggu...
1 detik.
2 detik.
3 detik.
Dia mengataiku jelek!
Seketika saja perempatan siku-siku mulai muncul di dahi lebarku. Seperti gunung meletus aku hampir saja menyemburkan lahar kemana-mana sebelum dia mulai berbicara lagi.
"Dari buku yang ku baca. Jika seseorang ingin lebih akrab lagi maka mereka mempunyai nama sebutan untuknya. Nama itu bisa didapat dari kepribadian atau ciri fisik orang tersebut."sekarang dia malah menunjukkan senyum palsunya itu, membuat kedua matanya menyipit.
"Dan kau ingin memberiku julukan JELEK."ucapku menahan amarah. Untung saja aku masih bisa mengontrolnya walaupun sedikit.
"Iya, karena kau jelek."
Dan seketika itu dia berakhir dengan mengenaskan. Sayonara, sampai jumpa.
.
.
.
"Siapa dia?"
"Astaga kau mengejutkanku saja."ucapku sedikit terkejut. Awalnya aku sedang menutup pintu dan ketika aku berbalik Gaara tepat berada di depanku.
"Teman."ucapku singkat, padat, dan jelas. Ketika menjawabnya aku tenang-tenang saja karena aku dan Sai bukanlah dua orang yang sedang kepergok selingkuh dan hanya sebatas teman saja, tak lebih.
"Kau masih ingat."ucap Gaara mencibirku sembari melangkah pergi. Ck, ingat? Tentu saja.
"Hei."ujarku sembari bergegas menyamakan langkah kami. "Kelihatannya kau baik-baik saja."kataku ketika telah berjalan di sampingnya sembari memperhatikan raut wajah angkuhnya itu. Bahkan dia tidak terlihat seperti seseorang yang sedang patah hati. Aneh.
Tapi... Sepertinya aku melupakan sesuatu. Aku mulai berfikir untuk mengingat sesuatu tersebut sampai...
"Aw."ringisku kesakitan sembari mengelus-ngelus kepalaku yang sakit. "Kenapa kau menjitakku, dasar."protesku pada mahluk merah di depanku yang telah seenak dengkulnya melukai kepala berhargaku ini. Memangnya kepalaku tempat melampiaskan sesuatu apa. Gemar sekali laki-laki menyebalkan itu terus-terusan menjitak kepalaku.
"Kau dari mana? Pergi tergesa-gesa."ucap Gaara sembari mendelik tajam ke arahku.
"Hehehehe, keluar. Ada urusan penting."
"Bersama lelaki itu?"
"Tentu saja tidak."bersama lelaki lain yang lebih menyebalkan. Lanjutku dalam hati. Aku mulai tersenyum lebar.
.
.
.
Tak seperti pagi kemarin yang cerah sekarang langit malah mendung. Membuat keadaan tak sepanas dan tak sedingin biasanya. Namun, sedari tadi awan masih belum mau menangis, membasahi belahan bumi bagian Tokyo ini.
"Em."gumamku tanpa sadar sembari menggaruk-garuk kepalaku lalu aku mulai memutar tubuhku, mengatur tempat yang nyaman untukku melanjutkan tidur, tapi...
Bruuuggghhh...
"Aw."ringisku tertahan sembari memegang kepalaku yang terbentur sesuatu. "Aku terjatuh, aku di mana?"tanyaku linglung yang masih belum tersadar sepenuhnya. Aku mulai membuka mataku perlahan, mengedarkan pandanganku ke seluruh penjuru ruangan ini. Ku lihat meja dan sofa berada tepat di kanan dan kiriku. "Heh, aku tidur di sofa?"ucapku kaget.
"Kau tak ingin bangun? Tak bekerja?"ucap Gaara tiba-tiba datang dengan santainya. Dia malah seenak jidatnya melangkahiku untuk duduk di sofa dengan membawa sebuah roti dan juga secangkir kopi hangat.
"Memangnya sekarang jam berapa?"tanyaku sembari beranjak bangun lalu duduk di samping Gaara. Tanpa sadar aku malah menyandarkan kepalaku pada pundaknya. "Hoam. Aku ngantuk sekali."
"Cepat bangun. Kau bisa terlambat. Sekarang sudah pukul 08.00."setelah mengatakannya Gaara mulai meminum kopinya perlahan.
"Aaa... Jam delapan."hanya itu respon yang kukatakan sampai... "APA?"teriakanku mulai menggelegar keseisi rumah ini. Benar-benar pagi yang begitu merepotkan.
.
.
.
"Aah... Fokus...fokus... Sakura."
Aku mulai menggeleng-gelengkan kepalaku untuk membuatku tetap tersadar, lalu hal berikutnya yang ku lakukan adalah memukul-mukulnya pelan.
"Ah... Fikiranku kacau."ucapku frustasi sembari menarik-narik rambut berwana pinkku ini.
"Kau sedang sakit Forehead?"aku mulai menoleh kearah suara tersebut yang terdengar tepat di belakangku. Aku mulai melihat wajah Ino di sana yang semakin mendekat ke arahku. "Kenapa kau menatapku seperti itu? Ah, ya. Kemarin kau tak datang, kau bilang ingin menginap?"sekarang Ino telah berada di dekatku, tepatnya duduk di sampingku.
Dia, nama lengkapnya adalah Ino Yamanaka. Wanita cantik yang memiliki iris berwarna biru dengan rambut pirangnya. Kami bekerja di kantor yang sama sebagai pegawai biasa yang setiap hari berhadapan dengan komputer mengurus berkas-berkas yang ada. Benar-benar pekerjaan yang membosankan.
"Tidak ada."ucapku cepat. "Ah, itu karena aku lupa sudah memiliki sebuah janji. Maafkan aku tidak mengabarimu."
"Tung-tunggu tunggu, kau sedang sakit Forehead? Atau jangan-jangan... Aku harus memanggil dokter."ucapnya sembari memegang keningku lalu dia terlihat seperti seseorang yang sedang panik.
"Apa maksudmu Pig?"aku mulai menatapnya tajam menggunakan ujung mataku.
"Hah, kupikir kau sakit. Ternyata tidak."ucapnya lega sembari menurunkan tangannya dari keningku. Pig, dia benar-benar menyebalkan, memangnya aku kenapa?
Drttt...drrrt...
"Un, handphonemu berbunyi Forehead."aku mulai memutar bola mataku bosan. Ino-pig, Ino-pig, pendengaranku masih jelas. Jadi aku masih bisa tahu itu bunyi handphoneku sendiri.
Tanpa merespon perkataannya aku mulai mengambil handphoneku yang terletak di atas meja samping komputer. Lalu ku lihat si penelpon sebelum mengangkatnya.
NANAS.
Dia lagi, dia lagi. Sepertinya kehidupanku ke depan akan terus dipenuhi oleh keberadaannya.
Aku mulai melirik ke arah Ino yang sedang memperhatikan gerak-gerikku.
"Aku pergi dulu."kataku sembari menggeser pelan kursi ini lalu berdiri. Setelah itu aku mulai melangkah ke luar, mencari tempat yang sepi untuk mengangkat telepon dari Shikamaru.
"Ada apa?"tanyaku to the point setelah memencet tombol hijau untuk mengangkat teleponnya. Dengan nada pelan aku berbicara, agar tak ada seorang pun yang akan bisa mendengarnya.
"Kau tak lupa kan? Pertemuan keluargaku."
"Aa... Iya aku ingat."ucapku sembari menggaruk-garuk keningku menggunakan jari telunjuk. Sebenarnya aku melupakan hal tersebut, tapi yasudahlah bukannya dia telah mengingatkanku sekarang. "Acaranya akan di mulai jam berapa?"
"19.00, di tempat biasanya."
"Iy-"
Tut...tut...tut...
Dasar, Shikamaru. Dia salah satu pria yang sangat menyebalkan yang berada di sekitarku.
.
.
.
Keadaan di bumi bagian Tokyo ini sudah mulai menggelap. Matahari perlahan mulai tenggelam meninggalkan bumi. Kerlap-kerlip bintang mulai bermunculan satu persatu ditemani sinar rembulan yang sangat indah.
Namun, aku tak memiliki waktu untuk sekedar melihat langit malam saat ini yang begitu indah. Karena sedari tadi—sepulang kerja—aku malah sibuk mencari pakaian yang tepat dengan segala pertimbangannya. Untuk apalagi kalau bukan ke acara keluarga Shikamaru.
Sekarang bagaimana? Haruskah aku berpakaian jelek dan memalukan untuk membuat keluarga Shika tidak menyukaiku ataukah aku harus berpakaian sebagaimana mestinya datang ke pertemuan keluarga tapi berprilaku aneh? Ah... benar-benar, aku bingung sekarang.
Aku mulai membaringkan tubuhku di atas kasur dengan posisi terlentang agar aku bisa lebih tenang. Mulai berfikir kembali, dengan segala macam risiko dan juga dampak kedepannya. Tapi aku harus ingat, ujung-ujungnya keluarga besarnya tidak menyetujuiku menjadi menantu mereka.
Seperti ada lampu bohlam 5 Watt di dekat kepalaku, akhirnya aku mendapatkan sebuah ide yang cemerlang. Aku mulai menyeringai bangga kepada diriku sendiri. Permainan di mulai.
.
.
.
"Kau sangat lama."Shikamaru mulai berbicara dengan aura gelap di sekitarnya.
"Bukankah terlambat di acara penting seperti ini akan membuat mereka tak suka denganku?"ucapku dengan bangganya sembari mengangkat sebelah alisku ke atas.
Aku telah merubah penampilanku, dengan rambut yang telah berwarna pirang serta iris mataku yang sebiru langit lalu dandanan norak, pastinya. Sedangkan pakaianku saat ini menggunakan dress selutut lengan panjang berwarna abu-abu dengan menggunakan flat shoes berwarna kuning tak lupa tas gendong berukuran kecil berwarna kuning.
Aku mulai menaiki mobil Shikamaru lalu setelah itu mobil mulai melaju kencang.
"Jika kau ingin melakukannya, kabari aku. Kalau begitu aku masih berada di kasur nyamanku. Dasar merepotkan."omelnya sembari terus berkonsentrasi menyetir.
Bukannya merasa bersalah, aku malah tertawa kecil karena berhasil membuatnya kesal. Hal tersebut merupakan kepuasan tersendiri untukku, toh dia selalu semaunya sendiri. Tapi tunggu, kenapa juga aku mau mengikuti semua kemauannya? Hah, dasar Sakura bodoh, maunya ditipu.
Tak terasa kamipun telah sampai di sebuah gedung mewah yang dipersiapkan untuk pertemuan keluarga besar Shikamaru. Hah, haruskah mereka menyewa gedung mahal seperti ini? Aku memang tidak pernah mengerti jalan pikiran orang kaya yang hanya membuang-buang uangnya untuk kesenangan pribadi. Mungkin karena uang mereka yang terlampau banyak, karena itu mereka bingung menggunakannya untuk apa.
"Ayo cepat turun."ucap Shika dengan wajahnya yang horror itu dan dia semakin terlihat horror karena kesal menungguku.
"Iya... Iya..."ucapku sedikit kesal dengan bibirku yang telah mengerucut.
Setelah aku tepat berada di sampingnya, dengan santainya dia malah menggandeng lenganku seperti seorang pasangan yang sebenarnya. Tunggu, bukankah kita berdua memang pasangan, walau pura-pura. Jadi tetap saja harus terlihat semesra mungkin.
Kami berdua mulai melangkah ke dalam. Seketika semua orang yang sibuk dengan urusan mereka masing-masing malah berhenti hanya untuk sekedar melihat kami berdua, sebegitu pentingkah? Aku mulai merasa risih dengan tatapan-tatapan mereka yang seakan menyuruhku untuk pergi. Kehadiranku di sini bahkan sangat tidak diharapkan sepertinya. Tak tahu kenapa hatiku merasa sedikit sakit, padahal aku dan Shikamaru tak benar-benar saling mencintai. Tapi tetap saja, menjadi seseorang yang tak diinginkan oleh siapa pun merupakan sesuatu yang sangat berat.
"Kalian sudah datang."ucap tousan Shikamaru yang bernama Shikaku menyambut kami berdua dengan senyum yang mengembang di wajahnya. Namun, detik berikutnya dia menatap tajam kearahku seakan menyuruhku untuk pergi sekarang juga. "Tousan ingin memperkenalkanmu kepada teman bisnis tousan, ayo."
Sebenarnya ini pertemuan keluarga besar Nara atau apa sih? Aku tak mengerti. Namun yang pasti hal tersebut hanya sebuah akal-akalan saja. Yang sebenarnya tousan Shikamaru inginkan hanya untuk memisahkanku dari Shikamaru agar aku merasa tak diinginkan di sini lalu menyerah dengan hubungan kami. Lihat saja nanti, akan ku buat pesta ini hancur.
"Tidak apa-apa jika ku tinggal?"bisik Shikamaru kepadaku, sepertinya dia juga menyadari akan hal ini.
"Tentu saja."ucapku mantap dengan menunjukkan senyum manisku.
Mereka berdua mulai melangkah pergi meninggalkanku. Tapi sebelum itu, tousan Shikamaru malah menatapku dengan tatapan meremehkan. Diam, tentu saja tidak. Aku mulai membalas tatapannya dengan seringaian menantang. Seakan aku menerima tantangannya.
.
.
.
Sendirian.
Sendirian.
Aku benar-benar sendirian sekarang. Aku mulai menolah-nolehkan kepalaku, mencari siapa pun yang ku kenal di antara kerumunan ini. Hah, sial. Bukankah aku terlalu berlebihan? Seharusnya aku tak boleh membiarkan Shika pergi. Hei, apa yang sedang kau fikirkan, yang terpenting sekarang adalah bagaimana cara mempermalukan diriku di pesta ini. Itulah misiku karena itu aku berada di sini. Memangnya aku seorang detektif? Lupakan.
Aku mulai lagi mengedarkan pandangan ke sekelilingku. Makanan, tak sengaja aku malah melihat sebuah tambang emas di sana. Aku bergegas untuk bisa menyantapnya, sebelum itu aku mengambil sendok dan piring.
"Sepertinya enak."ucapku dengan mata yang berbinar-binar. Aku ingin makan yang mana ya? Pikirku bingung karena semua makanan yang ku lihat terlihat sangat menggairahkan. "Yang ini saja."aku mulai ingin mengambilnya, tapi...
"Maaf nyonya. Makanan ini sudah dipesan. Anda bisa mengambil makanan yang berada di ujung sana."
Heh, di pesan? Haaah, mereka benar-benar. Bahkan aku tidak boleh menyantap makanan yang enak-enak ini. Dasar orang kaya pelit.
Aku mulai kearah makanan yang ditunjuk pelayan tadi. Apa ini? Terlihat sebuah sup berwarna hijau yang mengeluarkan gelembung-gelembung. Ini benar-benar sebuah makanan? Tanya innerku ragu. Tapi, mungkin makanan orang kaya memang seperti ini, aneh-aneh. Aku mulai mengambil sup tersebut menggunakan sendok, mungkin bisa ku cicipi terlebih dahulu sebelum mengambilnya dalam porsi yang banyak. Takut-takut sup ini memiliki rasa yang mengerikan seperti bentuknya itu.
Ketika sup itu telah berada di mulutku, seketika lidahku seakan terbakar. Hah, sial. Mereka menipuku. Aku mulai mencari-cari air atau sesuatu yang bisa meredakan panas di bibirku ini. Itu dia. Aku mulai mendekat ketika sebuah pelayan terlihat memegang minuman. Tapi, seseorang gadis malah juga mengincarnya membuatku sedikit berlari lalu menyenggol orang tersebut dan berhasil meminumnya. "Sumimasen."ucapku sebelum mendorong gadis itu.
Bruuuggghh...
"Haaah."ucapku merasa lega. Namun ketika aku menoleh, tempat ini malah sudah berantakan. Meja-meja yang telah ambruk dengan semua makanannya yang berserakan di atas lantai. Beberapa kursi yang telah berjatuhan tak karuan dan horden di beberapa jendela yang sobek. Namun yang terpenting sekarang, bagaimana bisa beberapa orang bernasib sama seperti makanan malang itu? Padahal aku hanya menjatuhkan satu orang. Ups, aku membuat sebuah...
Ku lihat Shikamaru yang menatapku, membuatku reflek meminta maaf dengan isyarat tubuhku. Tiba-tiba saja Shikamaru malah terkikik geli karena kelakuanku, dasar menyebalkan. Tapi, kemudian aura menyeramkan mulai muncul. Oh tidak, itu pasti tousan dan kaasan Shikamaru. Dan yang benar saja, sekarang mereka malah menatapku dengan pandangan mata yang sangat mengerikan.
"Ah, ada apa ini?"tiba-tiba terdengar suara dari arah pintu. Aku langsung mengubah atensiku untuk melihatnya. Heh! Dia, kenapa bisa dia berada di sini.
"Hinata."ucapku tanpa ragu.
SAKURA POV END
.
.
.
.
.
.
TBC
.
.
.
.
.
.
Hay... Hay... Bagaimana jalan cerita di fic ini menurut readers sekalian? Garingkah? Serukah? Membingungkan? Atau biasa saja?
Sesuaikan dengan hati kalian masing-masing, karena setiap orang memiliki kesukaan, pendapat dan selera masing-masing.
Jadi? Berkenankah anda mereview fic ini? Jika iya langsung ke kolom komentar ya. Terserah readers ingin menyampaikan apa saja ke saya, bisa saran, kritik, kesan, pesan, doa, kado juga boleh. (Readers: Maunya -_-)
Hehehehe...
Jika readers menjadi pembaca yang baik dan mereview, saya lanjutin fic ini deh. (Tapi gak tahu kapan) #Plaaak
Kalau saya sih terserah, tergantung para readers sekalian. Hahahahahaha (Readers: ngancam nih ceritanya? #PadaMegangKapak)
Eh... Ngak... /TersenyumManisMembuatReadersMuntahMuntah/
Sekian dari saya, takutnya malah kepanjangan.
.
.
.
Salam hangat. ^.^
Din-din Hasan.
See you next fic.
Thank you for reading everyone. Review Review! The more Reviews I get the more determined I feel to update!
.
.
.
.
^.^
.
.
.
.
