Don't Say No
.
.
.
Chapter 6
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Rated : T
Indonesian
Genre : Romance, Friendship, Humor, dll.
(Maaf jika tidak sesuai karena saya tidak terlalu bisa nentuin genre)
Cast : Sakura H., Sasuke U., Shikamaru N., Gaara S., Sai., Hinata H., Ino Y., and other (Belum Muncul).
.
Semua karakter yang ada disini milik MK.
Saya cuma minjem bentar.
.
WARNING : OOC, AU, CERITA ABAL, GAJE, NGEBOSENIN, TYPOS, DKK (Semoga aja ngak).
.
.
Hai, ketemu lagi sama author yang satu ini. Saya tekankan lagi bahwa di fic ini akan terjadi yang namanya SAKURA harem /PlokPlokPlok/ dan saya masih belum menentukan siapa nanti pasangan Sakura. Karena saya akan membuat fic ini seperti air, mengalir dengar sendirinya (?). TAPI JANGAN TERLALU BERHARAP PAIRNYA CANON, karena akan banyak pemeran character cowok tak terduga(BisaJadi). Dari pada author banyak bacot mending langsung aja ke ceritanya. Eits... tapi tunggu dulu karena saya akan membalas review reader, makasih udah menyempatkan mereview ^.^ .
KET: KALIMAT YG DI BOLD SERTA DIBERI TANDA KURUNG ADALAH BALASAN DARI SAYA
hanazono yuri chapter 5 : Kalau bisa adegan shikasaku di kurangin dan banyakin adegan sasusaku dan GaaSaku. (Em...*Mikir) Lanjuuuuut (Sip (y))
Yosh, udah di balas reviewnya sekarang waktunya...
HAPPY READING ^_^ .
.
.
.
.
.
.
.
Keadaan di sini sungguh sangat berantakan. Dengan meja dan kursi yang berserakan di mana-mana serta beberapa makanan dan minuman yang tergeletak di lantai. Horden-horden yang mahal itu pun juga bernasib sama, terkoyak-koyak tak tentu dan sekarang terlihat seperti barang murahan yang terdapat di tong-tong sampah pinggir jalan. Sungguh terlihat mengenaskan gedung yang mewah ini, awalnya.
Kemudian terlihat beberapa pelayan yang sedang sibuk merapikan tempat yang hancur ini. Mereka berlalu lalang ke sana ke mari tak tentu arah untuk merapikan kekacauan ini, begitu pula dengan seorang gadis aneh berambut pirang yang bahkan tak memakai seragam seperti pelayan yang lainnya.
Dia, Sakura Haruno yang sedang menyamar.
SAKURA POV.
Setelah semua kekacauan yang ku buat, aku malah berakhir dengan merapikannya dan menolong para pelayan. Bukankah aku juga seorang tamu di sini, jadi wajar jika melakukan SEDIKIT kesalahan. Ah, yang benar saja.
Aku mulai menolehkan pandanganku ke arah Shikamaru yang malah duduk dengan tenangnya di atas kursi didampingi seorang gadis berambut indigo dengan mata ametysnya itu. Padahal semua kejadian ini karena perintah darinya, tapi apa sekarang? Dia hanya duduk santai tanpa memikirkanku di sini yang tengah mengepel lantai.
Aku mulai mendekatinya perlahan sambil terus mengepel lantai.
"Maaf kakinya tuan, bisa tolong diangkat."kataku kepadanya dengan wajah kesal. "Yang di sini juga."ucapku lagi untuk membuatnya kesal karena kelakuanku. Siapa suruh dia tak membantuku atau sekedar menolongku dari amukan kaasannya.
"Hn."gumannya tak jelas.
Haaah... Benar-benar. Amarahku telah di ujung tanduk sekarang. Aku mulai melempar alat pel yang ku pegang ke arah Shikamaru.
"Aku berhenti sekarang."teriakku kepadanya lalu melangkah pergi.
Setiap mata telah tertuju kepada kami berdua. Mereka seakan tertarik dengan pembicaraan yang kami lakukan. Aku mulai melewati kaasan dan tousan Shikamaru yang seakan senang dengan situasi ini, senyum kemenangan telah mereka tampakkan. Membuatku sedikit jengkel karenanya. Lihat saja, kalian berdua akan tahu siapa sebenarnya itu Sakura Haruno.
Aku mulai berbalik lagi menatap Shikamaru yang telah berdiri dari kursinya. Mungkin dia sedikit syok dengan tindakanku tadi. Seringai mulai ku tampakkan sekarang, dengan percaya diri aku mulai berbicara.
"Maksudku, aku ingin berhenti tentang hubungan kami saat ini."aku mulai menoleh ke arah tousan dan kaasan Shikamaru sekarang. "Dan menjadi bagian dari keluarga besar Nara."kulihat senyum orang tua Shika telah memudar digantikan dengan sebuah ekspresi kesal.
Saat ini, beberapa orang yang kagum melihatku bertepuk tangan, membuat semua orang yang berada di sini mengikuti mereka.
"Jadi jangan perlakukan aku dengan tidak adil. Mohon bantuannya."aku mulai menunduk hormat sembari tersenyum membuat mereka semakin bersorak-sorak menyetujui.
Setelah keadaan kembali normal dengan ruangan ini yang telah rapi, Hinata mulai mendekatiku.
"Gomennasai, ini pasti karena aku."ucapnya sedikit menunduk meminta maaf kepadaku. Tapi aku malah tak mengerti dengan kelakuan Hinata yang tiba-tiba seperti ini, memangnya ada masalah apa aku dengannya?
"Eh, ini bukan salahmu."walau aku masih terlihat bingung, tapi tetap saja aku harus menanggapi kata-katanya.
"Dia yang kuceritakan kepadamu. Hyuuga Hinata, tunanganku."tiba-tiba Shikamaru telah berada di sampingku, membuatku sedikit terkejut. Tapi tunggu, apa katanya? HAH? Tunangan? Aaah, aku mengerti sekarang.
"Jadi ini orang yang kau ceritakan itu kepadaku."ucapku dengan nada suara yang sedikit di tinggikan dari sebelumnya. Ekspresi di wajahku telah berubah, aku telah menjadi sesosok wanita yang angkuh, itu terjadi karena di depanku berdiri tunangan dari pacarku sendiri, walau dalam tahap pura-pura. Aku mulai menirukan peran-peran antagonis di dalam film, drama, maupun sinetron ketika pacarmu direbut oleh si protagonis. "Kau menyetujui pertunangan ini?"tanyaku dengan tatapan mata yang tajam ketika melihatnya.
"Go-gomennasai, aku terpaksa. Karena..."dia memberi jeda, membuatku semakin penasaran. Mungkin karena dia ditolak oleh Gaara.
"Tapi jangan ambil pacarku, kau bisa memilih lelaki manapun secara acak yang kau suka dengan wajah cantikmu itu."ucapku dengan nada sinis sembari menudingnya menggunakan jari telunjukku. Bahkan aku sedikit terkejut setelah mengatakannya, karena ini bukanlah karakterku sama sekali.
"Sudahlah, dia tak bersalah. Kalau begitu kami pergi."Shikamaru mulai menarik pergelangan tanganku untuk pergi. Dia mungkin merasa kasihan kepada Hinata yang bahkan tak tahu apa-apa. Dengan ekspresi Hinata saat ini, jelas sekali kalau dia merasa bersalah dan ketakutan. Apalagi dengan tingkahku yang sedikit keterlaluan. Hah, dia benar-benar tipikal anak remaja yang masih polos, tak tahu kejamnya kehidupan seperti apa.
Shikamaru terus saja menarikku pergi menjauh. Awalnya ku kira Shikamaru hanya menarikku untuk menjauh dari Hinata tapi dia malah menarikku untuk menjauh dari bangunan mewah itu.
"Kita sudahan?"tanyaku ambigu.
"Hn. Kau bahkan membuat situasi di sini semakin rumit. Sudah ku bilang untuk menampilkan image jelek. Kau malah membuat mereka mendukungmu. Dan apa tadi? Aku ingin berhenti dari hubungan ini dan menjadi bagian dari keluarga besar Nara. Sungguh lucu sekali."Shika mulai mengomel-ngomel memarahiku dengan ekspresinya yang sungguh menjengkelkan, dia sepertinya menganggap rendah diriku. Memangnya dia siapa? Perdana Menteri? Jendral? Pangeran berkuda? Enak saja dia memerintahku, aku ini bukan budaknya.
"Kalau begitu aku berhenti, benar-benar berhenti. Bahkan aku tak mendapatkan untung sama sekali melakukan hal merepotkan seperti ini. Kau seharusnya berterima kasih kepadaku bukannya memarahiku. Kau ingin apa? Aku haru..."
Aku benar-benar terkejut sekarang, membuat kedua bola mataku membulat sempurna. Shikamaru malah mencium bibirku, bibir yang bahkan tak pernah tersentuh oleh laki-laki yang ku kencani. Berani-beraninya dia!
Aku mulai memberontak, menjauhkan tubuhnya yang semakin mendekap tubuhku. Membuat pasokan udara yang kuterima semakin menipis sampai dada ini terasa sesak. Aku mulai memukul-mukul bahunya untuk membuatnya berhenti sekarang juga, semakin lama pukulanku semakin memelan. Membuat Shikamaru melepaskan bibirnya yang menempel di bibirku walau dekapannya semakin mengerat. Aku langsung saja mengambil pasokan oksigen sebanyak-banyaknya yang ku bisa sampai dada ini kembali normal.
"Apa yang kau lakukan?"ucapku dengan nada yang amat sangat marah karena kelakuannya ini, membuatku sangat risih. Memangnya dia siapa? Bisa-bisanya berbuat hal seperti ini kepadaku. Dadaku mulai bergemuruh, ingin rasanya aku membunuh orang ini sekarang juga. "Lepaskan."lanjutku sembari memberontak untuk bisa melepaskan genggamannya itu.
"Hanya sebentar, sebentar saja."aku mulai terdiam, membeku. Perkataannya yang terdengar lirih itu bisa membuatku berhenti bergerak, seakan tersihir. Memberinya kebebasan untuk bisa mendekapku dengan leluasa.
.
.
.
Aku telah tiba di rumah, tepatnya aku terlentang di atas kasur. Semua penyamaran yang ku pakai telah terlepas dari tubuhku, sekarang aku telah terlihat sebagai Sakura Haruno.
Aku sedari tadi hanya menatap langit-langit rumah yang begitu putih sembari mendengar deru nafasku. Keadaan yang sangat tenang ini terasa begitu nyaman. Tak ada pesta, keributan bahkan... Tak terasa aku menyentuh bibirku. Sial, aku mengingat kejadian itu lagi.
Mungkinkah Shikamaru malah menyukaiku? Yang benar saja, bahkan kami kenal tak sampai beberapa hari walau sepertinya telah bertahun-tahun aku terjebak dengannya.
Hah...
Untuk apa aku memikirkan ini. Anggap saja hal tersebut tak pernah terjadi, walau sebenarnya aku ingin membunuhnya karena berlaku tak sopan kepadaku. Aku mulai menggeleng-gelengkan kepalaku. Sudahlah, lebih baik aku melakukan hal yang lebih penting sekarang.
Aku mulai bangun dari tidurku. Melangkah pergi ke arah ruang tamu. Di sana terlihat lelaki berambut merah darah dengan santainya tidur di sofa ruang tengah sembari melihat acara televisi. Dia benar-benar menyebalkan, bahkan rumah ini bukan rumahnya.
"Hei, kau ini. Kenapa selalu terlihat berada di rumahku. Kau tak memiliki rumah?"aku mulai mendekat ke arahnya lalu duduk di sofa sehingga membuat dia mau tak mau mengganti posisinya menjadi terduduk.
"Hah, bukannya lebih gampang seperti ini. Kau bisa langsung menemuiku."
"Memangnya untuk apa aku menemuimu? Dasar."ucapku sembari mendorong tubuhnya pelan. Tawa mulai keluar dari bibir mungilku ini. "Tapi, ada benarnya. Aku ingin bicara masalah Hi-"tiba-tiba saja ekspresi Gaara berubah, matanya menatap tajam ke arahku seakan dia ingin membunuhku saat ini juga. Aku mulai menelan ludahku dengan susah payah.
"Ada apa?"
"Aah, Tidak. Tidak jadi."sambil mengayun-ayunkan telapak tanganku di depan wajah, aku mulai tersenyum kaku lalu pergi meninggalkannya ke arah dapur.
Wah... Tak ku sangka dia bisa menjadi mengerikan seperti itu, karena Gaara kecil yang kukenal selalu saja menangis ketakutan. Dia benar-benar telah berubah menjadi seorang lelaki dewasa yang angkuh, bahkan menyeramkan. Seharusnya aku menyadari hal tersebut dan tidak melakukan sebuah kesalahan. Karena hatinya saat ini sedang terluka.
Sebegitu berartikah Hinata untuknya?
"Dia benar-benar."ucapku sedikit kesal lalu meminum air yang telah kutuang ke dalam gelas sampai tandas tak bersisa.
"Kau ingin makan?"
"Hah... Gaara. Kau membuatku terkejut."sekarang detak jantungku mulai berpacu tak karuan. Membuatku menghela nafas panjang untuk bisa kembali menormalkannya. Ini semua gara-gara dia yang muncul tiba-tiba. "Tapi tunggu? Memangnya kaasan tak ada?"aku mulai bertanya setelah bisa mencerna perkataan Gaara tadi.
"Tousanmu mengajak kaasan untuk ikut dengannya ke luar kota, ada acara penting. Mereka pergi selama tiga hari. Jadi..."
"Apa? Tiga hari. Kenapa mereka tak mengatakan kepadaku yang jelas-jelas merupakan anak kandung mereka."aku memotong ucapan Gaara karena tidak terima akan hal tersebut. Seharusnya mereka mengatakan hal itu kepadaku terlebih dahulu.
Pleetakk...
"Aw."ringisku ketika Gaara malah melayangkan jitakannya di kepalaku.
"Bukankah kau hilang entah kemana tadi, kau itu seorang wanita harusnya tak berkeliaran malam-malam begini. Kaasanmu telah mempercayakan tempat ini dan isinya kepadaku termasuk dirimu. Bahkan memasak saja kau tak bisa."omel Gaara kepadaku dengan wajahnya yang menyeramkan itu. Dia malah terlihat seperti kaasanku sekarang. Memangnya kenapa jika aku tak bisa memasak?
"Aku sudah makan KAASAN Gaara, jadi tenang saja."ucapku dengan senyum jahil untuk menggodanya. Lalu pergi melewatinya ke arah kamar.
Gruukkk... Gruukkk
Aku mulai berhenti ketika suara itu berbunyi. Hah, sial. Kenapa harus berbunyi di sini? Padahal tinggal sedikit lagi aku keluar dari wilayah dapur.
"Sudah kenyang."
Perkataannya itu, membuat wajahku seketika menjadi memerah semerah tomat kesukaan Si Uke Pantat Ayam itu. Ini namanya senjata makan tuan.
"A-a..."ucapku tergagap.
"Sudahlah."
.
.
.
"Hm, memang masakan Kaasan Gaara sungguh enak."kataku sembari melahap lagi makanan di depanku ini. Memang Gaara pintar sekali memasak karena ketularan kaasan, pastinya. Kau tahu, semenjak Gaara dilahirkan dia tak memiliki seorang kaasan dan hanya tousannyalah keluarga satu-satunya Gaara. Tapi, tousan Gaara malah seakan menyalahkan Gaara sebagai penyebab kematian istrinya.
Aku mulai tersenyum lebar ke arah Gaara sampai membuat iris emeraldku tak terlihat (baca: menyipit).
"Kenapa kau tersenyum seperti itu? Ck, itu sungguh menakutkan."ucap Gaara yang risih karena senyumanku ini.
"Karena aku menyayangi Gaara-chan."
"Menggelikan."itulah perkataan terakhir Gaara sebelum dia meninggalkanku sendirian di dapur. Aku mulai melahap makananku dengan cepat sampai membuatnya tak bersisa. Senyuman terus saja mengembang di bibirku tanpa henti.
Setelah membersihkan peralatan makan yang ku pakai, aku mulai menghampiri Gaara yang kembali tiduran di sofa.
"Kau akan tidur di sini?"tanyaku untuk mengawali pembicaraan dengannya. Aku mulai duduk di atas sofa dengan kedua kakiku yang diangkat. Lagi-lagi Gaara mengubah posisinya menjadi terduduk.
"Kau menggangguku saja."ucap Gaara datar, bahkan dia tak melihatku ketika mengatakan hal itu dan terus terfokus pada acara di televisi. Sungguh tidak sopan. Inilah contoh seorang guru yang tidak bisa menjadi teladan bagi muridnya.
"Tunggu, berarti kita akan tinggal serumah? Denganmu?"ucapku yang baru tersadar, mataku mulai mengerjap beberapa kali seakan tak percaya tentang hal ini.
"Memangnya kenapa?"tanya Gaara sembari memutar kedua bola matanya bosan.
"Ja-jangan macam-macam."sekarang aku mulai meninggikan suaraku sembari mengangkat daguku sedikit ke atas, pertanda aku tak takut dengannya. Aku mulai menutupi bagian dadaku menggunakan kedua tanganku.
"Memangnya aku akan melakukan apa?"ucap Gaara semakin jengah melihat kelakuanku yang begitu menjengkelkan baginya. Dia mulai menatap tanganku yang menutupi dada lalu hal berikutnya yang ia lakukan menghela nafas sangat panjang.
"A-aku akan tidur sekarang."ucapku sembari berlari ke arah kamar. Sebuah kekehan geli mulai terdengar dari mulutnya sebelum aku benar-benar jauh darinya, membuat senyumku kembali mengembang.
'Gaara-chan, aku sangat menyayangimu. Jadi jangan bersedih, aku akan terus berada di sisimu.'
'Un. Aku mengerti Sakura-chan.'
.
.
.
Mentari masih malu-malu rupanya untuk keluar. Hawa dingin masih mendominasi cuaca pagi ini. Tetes demi tetes embun yang membasahi dedaunan mulai berjatuhan. Bunga-bunga mulai bermekaran menampakkan keindahannya walau langit masih berwarna keabuan.
"Hei, pemalas. Cepat bangun."
"Hm, kaasan lima menit lagi."gumamku ketika seseorang malah mengusik tidur nyamanku. Hawa dingin mulai menggelitik kulit membuatku semakin mengeratkan selimut, terbungkus nyaman di dalamnya.
"Aku bukan kaasanmu, jadi cepat bangun."tiba-tiba saja selimut yang menghangatkan tubuhku menghilang membuat hawa dingin sepenuhnya menjalar ke tubuh ini.
"Ah, dingin."ucapku tertahan sembari bangun dari tidurku. Hal pertama yang ku lakukan adalah melihat sekeliling ruangan ini yang pastinya merupakan kamarku. "Hoam."mulutku terbuka lebar karena menguap efek bangun tidur. Lalu aku mengangkat kedua tanganku untuk meregangkan tubuhku yang terasa kaku. Aku mulai mengedip-ngedipkan mataku yang serasa berat dan ingin lagi kembali tertutup.
"Kata muridku ketika wanita terbangun dari tidurnya dia akan seperti bidadari. Ternyata aku sedang membangunkan seekor kerbau."gumam Gaara dengan ekspresinya yang begitu datar, sedikit kesal dengan wanita di hadapannya ini. "Cepa-"
"Aku tidak seperti kerbau."teriakku menggelagar ketika mendengar perkataannya walau sedikit samar. Membuat Gaara menutup kedua telinganya agar tetap aman tak terkena masalah apapun.
.
.
.
"Iya... Iya... Dasar cerewet. Aku yang salah."dengan ekspresi kesal karena tak terima di omeli oleh Gaara aku berkata. Mulai menyantap makananku dengan brutal sebagai pelampiasan kekesalanku.
"Kau tak perlu naik kereta ke tempat kerjamu. Berangkat denganku."ketika mengatakannya Gaara menggebrak meja agar aku memperhatikannya, dan hal tersebut sukses mengalihkan perhatianku sepenuhnya.
"Baiklah kalau kau memaksa."ucapku dengan ekspresi yang sedikit dibuat kesal. Sebenarnya dalam hati aku berteriak kegirangan karena nantinya uang untuk naik kereta masih ada. Betapa beruntungnya diriku ini.
Setelah selesai sarapan dan membereskan piring serta gelas kotor saatnya aku—kami pergi untuk bekerja. Mobil Gaara telah melaju, meninggalkan rumah orang tuaku yang semakin lama semakin tak terlihat.
Dengan perasaan bahagia aku duduk di samping Gaara sembari melihat setiap pemandangan yang tersuguh di hadapanku.
Ketika ponselku bergetar aku mulai mengambilnya di dalam tas. Menampilkan sesosok nama yang kehadirannya tak pernah lagi ada setelah acara di mansion mewah itu, Sasuke Uchiha. Senyuman mulai mengembang di bibir mungilku, jantungku mulai berdegub tak karuan. Sebelum memencet tombol hijau aku menghela nafas terlebih dahulu.
"Moshi moshi Sasu-"perkataanku tiba-tiba terhenti ketika mendengar suara dari seberang.
"Ini Sakura ya?"dia siapa? Tanya innerku penasaran. Dada ini mulai bergemuruh, sekuat tenaga aku menyingkirkan pikiran negatifku untuk membuatku tetap tenang. Tapi, perkataan selanjutnya yang terdengar membuatku tak sadar menjatuhkan ponselku. Tangan ini sepertinya tak bisa menopang beratnya lagi. Nafasku mulai memburu membuat dada ini semakin terasa sesak. Aku mulai menahan bulir-bulir air mata yang telah berada di pelupuk mataku, menggigit bibirku dengan sekuat tenaga agar dia tak sampai menetes. Aku mulai merasakan asin menjalar di mulutku.
"Sakura, bibirmu berdarah."aku hanya diam ketika Gaara mulai panik saat dia melirik ke arahku untuk sekedar melihat apa yang sedang ku lakukan. Langsung saja dia meminggirkan mobilnya lalu berhenti melaju. Dia sekarang telah sepenuhnya menatapku. Mengambil saputangan yang ia punya lalu mengelap bibirku yang penuh darah. Aku hanya membeku sembari memperhatikan gerak-geriknya.
'Hikss...hikss...Kakiku berdarah.'
'Jangan menangis Gaara-chan, aku akan menyembuhkannya.'
.
.
.
"Kau membuatku takut."
"Ah, maafkan aku."responku pelan dengan senyuman getir. Aku hanya berusaha untuk membuatnya tak lagi mengawatirkanku walau mungkin tak cukup berhasil.
Kami mulai melangkah keluar dari klinik.
"Bagaimana dengan saputanganmu, aku akan mencucinya."tawarku kepadanya karena aku merasa tak enak sudah mengotori saputangan yang pastinya sangat berharga untuknya. Bagaimana bisa aku tahu? Mungkin kalian bertanya-tanya hal itu. Ketika Gaara membersihkan lukaku dengan saputangannya, aku melihat ada sebuah tulisan di sana 'Aku Mencintai Gaara-sensei' yang terletak di pojok kiri sapu tangan itu. Mungkin Hinata khusus menyulamnya hanya untuk Gaara, tapi dengan sekejap aku malah mengotorinya.
"Kau harusnya pikirkan keadaanmu. Untuk saat ini kau tak usah masuk kerja, biar aku yang izinkan. Istirahat saja, kau terlihat tidak baik-baik saja hari ini."mendengar perkataan Gaara aku hanya bisa mengangguk mengiyakan. Memang aku sedang ingin sendirian untuk hari ini, menenangkan pikiranku sebentar saja.
.
.
.
Aku telah berada di rumah, tepatnya berbaring di kasur kamarku.
"Jika kau butuh sesuatu, langsung telepon aku."ucap Gaara sebelum meninggalkanku sendirian. Aku hanya memperhatikannya tanpa berniat untuk merespon. Ku lihat punggung Gaara semakin menjauh dan terus menjauh dariku hingga hilang dibalik pintu.
Aku mulai menatap langit-langit kamarku yang begitu putih. Mengerjap-ngerjapkan mataku beberapa kali lalu menghela nafas panjang. Aku tak tahu apa yang harus ku lakukan saat ini. Fikiranku kosong, termasuk hatiku. Aku mulai tersenyum getir.
Ingin marah? Tapi kepada siapa?
Ingin menangis? Tidak ada gunanya.
Sehingga aku memutuskan untuk diam tanpa memikirkan apapun. Hingga mata ini lelah dan mulai terlelap.
.
.
.
"Hm...hm..."aku mulai merasa terusik ketika seseorang mencoba membenarkan letak selimutku. Perlahan aku membuka mataku, terlihat dengan jelas seseorang berambut raven dengan mata onixnya yang tajam. Aku sedikit kaget atas kehadirannya, tapi sedetik kemudian aku mulai berpikir bahwa ini hanyalah sebuah mimpi, sebuah mimpi yang menggelikan. Bolehkah aku tertawa sekarang juga?
"Lama tak bertemu, kau malah terlihat menyedihkan."dia berbicara tetap seperti biasanya dengan wajah datarnya serta nada bicaranya yang terdengar angkuh, seperti tak terjadi sesuatu. Memang tak terjadi sesuatu, toh ini hanyalah mimpi.
Tak ada respon. Aku hanya diam sembari menatapnya. Benar-benar sebuah mimpi buruk yang kualami setelah semua kejadian ini.
"Kenapa kau diam Haruno!"walaupun wajahnya tetap datar, tapi nada bicaranya sedikit naik. Mungkin dia merasa kesal.
Tetap tak ada respon. Aku hanya diam sembari memperhatikannya. Mungkin, ini adalah kesempatan terakhirku bisa melihatnya senyata ini.
Hening, tak ada lagi yang memulai pembicaraan. Kuputuskan untuk mengakhiri semuanya, lalu aku mulai menutup mataku kembali. Berharap mimpi buruk ini hilang menjadi mimpi indah.
"Bukannya senang, kau malah kembali tidur."tapi tetap saja. Aku malah mendengar suaranya lagi walau sedikit samar. Tolong hentikan, jangan menggangguku lagi. Setetes air mata mulai turun, aku bahkan tak menyuruh otakku untuk menjatuhkannya.
"Eh."aku terkejut ketika sebuah jari menyentuh wajahku untuk menghapus jejak air mataku. Mataku telah terbuka sepenuhnya dengan posisiku terduduk di atas kasur. Detik berikutnya mataku melebar ketika tahu siapa yang menyentuhku barusan. Dadaku mulai berdegub tak karuan membuat deru nafasku tak beraturan.
"Sasuke, kau benar-benar berada di sini."
Sakura POV END
.
.
.
.
.
TBC
.
.
.
.
.
Huft... Akhirnya chapter 6 ini berakhir dengan gajenya. Huahahahaha. (Tertawa Puas)
Readers*manggilparareaders.
Kalian sudah baca kan? Berkenan untuk review? (Readers: Ngak) *LangsungPundungDiTengahan (Nb: Sudah gak zaman di pojokan) ^.^
Aish, kalau gitu author mau berbicara apa ya? *Mikir* Mungkin readers punya ide? (Reeaders: Ngak)
Yasudah kalau begitu. Readers*Manggillagi* Jika kalian ada pertanyaan, pernyataan, kritik, saran, salam, kesan, dan pesan silahkan tulis semua di kolom komentar. Ok (y). Aku percayakan semua padamu :*.
Vye...vye...
Sangkyu
Din-din Hasan ^.^
.
.
.
.
THANK YOU FOR READING EVERYONE. REVIEW REVIEW! THE MORE REVIEWS I GET THE MOREDETERMINED I FEEL TO UPDATE!.
.
.
.
^.^
