ONLY YOU
Disclaimer: Naruto and its contents only belong to Masashi Kishimoto.
Cast © Hinata Hyuuga x Sabaku no Gaara
Rate M
Warning OOC, AU, TYPO'S
DON'T LIKE DON'T READ!
.
.
.
Author note :
Pernyataan :
Maafin saya yg telah memakai hasil pemikiran dari Nadeshiko fuyumi dan Bonifacio Degaros, sekali lagi saya minta maaf kepada kalian berdua karena saya sudah seenaknya atau sudah lancang menaruhnya tanpa izin dulu. Maaf udah saya copas dan tidak memberitahu kalian sebelumnya.
Ini kata-kata yang saya copas dari Nadeshiko fuyumi.
"Siapa?"
Pemuda itu terusik dengan pertanyaan gadis yang dipeluknya dengan paksa. Siapa katanya?
Gaara menggertakan gigi. Sepasang jade menatap perak-lavender yang menantangnya. Tersirat luka dan amarah yang memenuhi jade tersebut karena si gadis benar-benar bertanya siapa eksistensi pemuda itu bagi Hinata, bukan sekadar ucapan sambil lalu karena emosi.
Gaara marah, tangannya terkepal, dan tindakan yang berikutnya dia lakukan adalah semakin menekan Hinata, mengunci gadis itu dalam hasrat mendominasi yang tak akan pernah surut.
"Aku pemilikmu. Aku berhak atas hidupmu, Hinata.
Kata" yang saya copas dari Degaros :
Gadis itu membatu, terdiam di tempat. Tak menyangka bentakan kasar keluar dari bibir Sabaku Gaara.
Hening sejenak, hanya terdengar detik waktu berjalan. Kesunyian ini membangunkan Gaara dari luapan emosi, lautan amarah yang bergejolak meruntuhkan pengendalian diri.
Gaara memijat pelipis, dalam hati merutuki kebodohannya karena hilang kendali. Helaan napas kasar terdengar. Gaara menjaga nada suara pada volume terendah.
"Terserah apa katamu. Kau adalah milikku."
Di luar dugaan, Hinata tak mau kalah. "Jangan bicara sembarangan!"
"Perkataanku adalah mutlak."
"Kau tidak bisa memutuskan—"
"Hinata..."
"Dengar! Aku bukan milikmu! Aku bukan—"
"Tenangkan dirimu."
"Jangan memerintahku! Jangan sebut namaku! Jangan pernah—"
Satu gerakan cepat. Hanya butuh dua langkah. Dalam sepersekian detik tubuh Gaara sudah berada tepat di hadapan...
Sekali lagi saya minta maaf.
Dan fic ini pun terinspirasi dari bacaan keren yang saya baca di fanfiction atau wattpad.
.
.
.
"Kenapa ada tanda merah?" gumam Temari memperhatikan Hinata dari tadi.
Ino menyeryit mendengar gumaman Temari yang duduk berhadapan dengannya di meja kantin, "Kenapa?"
"Hm, itu... Hinata, dia menggerai rambutnya," ucap Temari menunjuk leher Hinata dengan nada tak yakin.
Mendengar itu hanya membuat Ino memutar mata dengan ekspresi bosan. "Hinata memang selalu menggerai rambutnya. Memangnya kapan dia tidak menggerai rambutnya?"
Hinata yang duduk tepat di samping Ino hanya mendengus kecil dan tetap melanjutkan makan siang tanpa berminat ikut bergabung dalam pembicaraan.
"Tidak—bukan itu maksudnya. Hanya saja… aneh, aku seperti melihat tanda kemerahan di lehernya…" Temari menatap intens Hinata mencoba menganalisis penglihatannya.
Ino yang mulai penasaran akhirnya ikut memalingkan kepalanya untuk melihat langsung apa yang dimaksud Temari dengan memandang langsung ke samping, menoleh ke arah Hinata yang sedang sibuk makan.
Dan hanya butuh beberapa detik bagi Ino untuk menganalisis warna kemerahan yang tercetak jelas di leher Hinata, dengan seringai di wajah dipalingkannya kembali kepala untuk menatap Temari dengan wajah menahan tawa.
Dan setelah melakukan kontak mata beberapa saat dengan Ino, akhirnya Temari mengerti dan membelalakkan matanya, "Oh tuhan, kau bercinta dengan seseorang semalam?"
Hinata mendengus pelan, tak menanggapi.
"Apa dia tampan?" goda Ino sambil terkikik.
"Ino!" tegur Hinata cemberut.
"Pantas saja kau menggerai rambutmu." Ino menyeringai.
"Aku tidak menyangka," Temari menggelengkan kepala. "Kau akan bercinta dengan pria yang tidak kau kenal." Temari terpukau.
"Siapa yang memulai duluan?"
Hinata memutar mata bosan. Haruskah ia mengatakan kalau ia di paksa bercinta oleh pria brengsek itu? Dan menjelaskan bahwa ia sama sekali tidak menyukainya?
"Apa dia yang menggoda terlebih dahulu?" Temari semakin penasaran.
"Itu...ano. Sebenarnya aku d—" Hinata gugup, dia ingin menjelaskan alasannya.
"Emh. Jadi, kalian saling menggoda satu sama lain." Seenak udelnya Temari menarik kesimpulan.
Dan mendengar itu tawa Ino langsung meledak dan menggoda Hinata habis-habisan yang membuat Hinata hampir menjerit frustasi akibat godaan ino.
"Bi-Bisakah kita tidak membahas hal ini?" ucap Hinata frustasi dengan nada memelas dan dilengkapi wajah merona karena malu.
"Kenapa? Inikan pembicaraan yang menarik," sahut Ino dengan santai. "Senju Hinata, gadis polos dan naif, akhirnya melakukan one night stand," tambah Ino.
Hinata hanya menghela napas panjang kesal.
"Tidak kusangka, ternyata kau melakukan one night stand dengan pria yang tidak kau kenal. Kukira kau tidak akan melakukannya dengan pria manapun selain suamimu?" Temari memandang Hinata.
"..."
"Bodoh! Hinata juga gadis normal, tentu dia tidak akan tahan melihat pria tampan yang menawarkan asetnya. Dan Hinata jelas takkan sanggup menolaknya, 'kan?"
Temari terkikik geli sementara Ino menyeringai menggoda, tak mempedulikan wajah cemberut Hinata.
"Waw, hebat."
"Ck, merepotkan."
Hinata memutar lehernya menatap dua sosok familiar yang berdiri di belakangnya.
"Shika! Sai! Kalian datang di saat yang tepat!" Ino tersenyum bahagia, "Kemari, kemari," ia menepuk kursi panjang di sampingnya, "Teman kita yang satu ini sedang kasmaran!"
Hinata menatap tajam Ino.
Shikamaru dan Sai, tak memberikan perlawanan saat Ino mengundang mereka untuk duduk.
"Hei, Hinata, kau sungguh bercinta dengan seseorang yang tidak kau kenal?"
Hinata menghentikan makannya sejenak, ia memutar bola mata bosan.
"GOOD JOB," kini giliran Sai yang unjuk suara, "Kau benar-benar hebat," Sai memuji.
"Aku tidak pernah menyangka," Shikamaru memandang Hinata dari atas sampai bawah, "Kau bisa menggoda seorang pria." sahut Shikamaru cuek.
Ketiga orang yang ada disana, langsung tertawa mendengar perkataan Shikamaru.
.
.
.
Suasana tempat pertemuan sudah penuh dengan pegawai dari divisi tempat Hinata bekerja.
Hinata menghembuskan napas panjang merasa terganggu dengan bisik-bisik yang dilakukan oleh rekan kerjanya mengenai CEO baru yang akan memimpin rapat kali ini. Ia tak habis pikir. Bagaimana seorang CEO di perusahaan tempat ia bekerja mau memimpin rapat dari divisi rendah, tempat dia bekerja.
Dan anehnya lagi dari kabar yang Hinata dengar bahwa sang CEO tidak pernah mau memimpin rapat selain rapat pemegang saham.
What the hell?
Dan sekarang sang CEO justru akan memimpin rapat dari divisi ini.
God! umpat Hinata tidak percaya.
Suasana di ruang mulai gaduh karena sang CEO belum juga menampakkan batang hidungnya di halayak umum. Terdengar suara kekecewaan dari rekan kerja Hinata yang berjenis kelamin wanita karena sang CEO incaran mereke belum datang juga.
Bagi mereka yang berstatus single, ini adalah kesempatan LANGKAH karena mereka bisa melihat langsung sang CEO dan berharap keberuntungan ada ditangan mereka sehingga mereka bisa membuat sang CEO jatuh hati.
Hinata mendengus sebal dengan pikiran rekan-rekannya. Kenapa mereka sudah berkhayal dan mengeluh-eluhkan sang CEO yang wajah dan rupanya saja tidak diketahui.
Tiba-tiba saja suasana di ruang itu menjadi hening, yang terdengar hanyalah suara Shikamaru yang meminta perhatian dari rekan-rekannya. Setelah mengucapkan beberapa kata, Shikamaru pun akhirnya mempersilahkan seorang pria tinggi dan tegap masuk ke dalam ruang rapat.
Mata Hinata melotot dengan mulut mengaga, Hinata terkejut melihat pria brengsek itu ada di hadapanya. Hinata menggelangkan kepala tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Hinata bungkam, ia shock dan terpukul mengetahui fakta bahwa pria brengsek yang ada di depannya ini adalah seorang CEO di perusahaan tempat ia bekerja.
Damn! Hinata menggeram kesal mengetaui hal tersebut.
Hinata menelan ludah gugup melihat seringai yang terukir di wajah pria tersebut.
Diam-diam Gaara terkekeh melihat wajah Hinata, ia menyeringai senang melihat mangsanya ada di depan mata.
Gotca, finally. I found you.
.
.
.
