"Nona Muda akan segera menikah! Selamat Nona Jeon, selamat!"

.

"Kenapa aku harus menikah denganmu?!"

.

"Tuan Kim adalah seorang pengusaha perabot dari perak dan emas. Ia juga sering menjual kapal-kapal dagang yang diproduksi perusahaannya. Ia sering bepergian ke luar negeri, wajahnya juga tampan, perilakunya juga sangat sopan. Yang Mulia Ratu sungguh pintar memilih menantu."

.

"Nona Jeon, asal kau tahu, aku tidak pernah mencintaimu."

.

"Tapi, kudengar selain karena bisnis, Nona Jeon dinikahkan karena adanya 'kecelakaan'."

.

"Tapi, ini anakmu Kim! Dia penerus keluarga Kerajaan!"

"Dia anak yang hadir karena kau yang menggodaku dalam kondisi mabuk! Bukan salahku, kau yang jalang!"

"Itu karena kau tidak pernah memandangku!"

"Untuk apa aku memandangmu jika aku sudah memiliki gadis lain yang kucintai?"

.

.

"Uargh!"

Wonwoo terbangun dengan badan dibasahi keringat. Nafasnya terengah. Ia menggigit bibirnya lalu meludah ke sebelah ranjangnya.

"Aah, Pangeran yang besok akan naik tahta masih suka meludah ke tempat tidurnya sendiri. Itu tidak masuk dalam pelajaran etika, bukan?"

Wonwoo menoleh cepat ke arah pintu dan menemukan sosok pemuda tinggi memegang lilin sebagai penerangan ada di bingkai pintu kamarnya. Pemuda itu tersenyum.

"Apakah ada yang membuatmu gelisah?" pemuda itu bertanya pada Wonwoo.

Wonwoo menyeringai, menatap tajam, "Satu-satunya yang membuatku gelisah adalah kehadiranmu di rumah ini, Kim Mingyu."

Pemuda dengan setelan jas hitam memandangi Wonwoo sebentar, sesaat ia tersenyum tipis dan membungkuk pelan sebelum undur diri.

"Jika kau memerlukan sesuatu, jangan sungkan untuk memanggilku. Atau jangan-jangan kau lupa kalau aku ini adalah pelayanmu—" Mingyu melirik lagi sosok Wonwoo yang masih menatapnya tajam dari tempat tidurnya, ia tersenyum lebih lebar setelahnya.

"—kakakku tersayang."


.

.

That Servant © darkestlake

Boyslove? Incest alert. Hati-hati dengan segala kekurangan fic ini karena pembuatnya hanya manusia biasa.

.

.


[[ Dari Jeon Wonwoo kepada Kim Mingyu yang menganggap dongsaeng-nya itu bisa disuruh-suruh, lalu pembicaraan kurang kerjaan saya sama temen saya mengenai anak-anak Naruto cs, kurang lebih gini, "Mukanya Boruto sama Himawari mirip Naruto semua ya." "Ya berarti pas bikinnya Naruto-nya yang niat dan nafsu." "Tapi anaknya Sai mirip Ino." "Ya berarti pas bikinnya si Ino yang nafsu." Gemblung.

Sudah lama saya pengen bikin story pelayan-majikan pakai pair meanie tapi pelaksanaannya saya selalu males. Terima kasih sekali lagi kepada Kagamine Len dan Sebastian Michaelis yang jadi inspirasi karakter servant!Mingyu disini. ]]

.

1/2

.


Gorden jendela disibak. Cahaya matahari pagi lancang menerpa lapisan tipis kelopak mata Jeon Wonwoo, Pangeran itu sedikit kaget dan kemudian membuka matanya perlahan.

"Oh, Anda sudah bangun sendiri?" Kim Mingyu menyapa sambil mengikat tali di gorden yang baru disibakkan. Senyumnya yang mengembang diiringi terpaan matahari mungkin bisa membuat maid kerajaan mimisan pagi-pagi. Wonwoo mendengus, beringsut sedikit untuk duduk di tempat tidur.

"Anda ingin teh atau mandi dahulu?" Mingyu masih bertanya dengan sopan seraya mendekati pangeran muda. Wonwoo mengucek matanya sebentar dan Mingyu merapikan rambut khas bangun tidur Wonwoo, tertawa geli diam-diam. Wonwoo memang paling lucu di pagi hari.

"Mandi dulu." Ucap Wonwoo dingin. "Aku ingin berendam air hangat karena ini hari spesial."

"Dimengerti."

Mingyu berjalan kepada Wonwoo yang menunggu di pinggir tempat tidur. Menyentuh kancing kerah piyama tidur Wonwoo. Melepasnya, bergerak menuju kancing yang ada dibawahnya, kemudian yang dibawahnya lagi hingga kemeja Wonwoo bisa ditanggalkan. Mingyu melirik bahu pemuda di depannya lalu tersenyum. Tidak bisa dipungkiri kalau calon raja di depannya ini punya kulit terlampau halus, baik dari warna maupun rasanya ketika disentuh.

Selesai dengan pakaian, Mingyu memakaikan jubah mandi. Adalah pemandangan yang sangat jarang melihat Wonwoo berjalan dengan kaki telanjang, Mingyu hanya bisa melihatnya ketika pemuda itu ingin mandi dan ketika selesai mandi.

"Di dalam sudah saya siapkan air hangat dengan tetesan minyak mawar. Nikmati waktu mandi Anda, saya akan menyiapkan pakaian dan sarapan Anda."

Mingyu keluar dari kamar Wonwoo, sementara pemilik kamar masih menatapnya. Wonwoo menggertakkan gigi lalu meninju dinding di depannya.

"Sialan."

.

.

Jeon Wonwoo. Usianya 20 tahun. Putra tunggal dari Putri Jeon—yang juga adalah Putri dari Ratu saat ini. Hari ini dijadwalkan naik tahta menjadi raja setelah kemarin lusa neneknya meninggal karena sakit di usia yang cukup tua—85 tahun.

Ratu batal melepaskan tahta setelah Putri Jeon meninggal karena sakit asma saat usia Wonwoo baru sepuluh tahun. Ayah Wonwoo—seorang bangsawan dari keluarga Kim—meninggalkan ibunya setelah tujuh tahun usia pernikahan mereka. Wonwoo hanya hidup bersama nenek dan dirawat oleh para maid dan pengasuh kerajaan.

Wonwoo berpikir semuanya akan baik-baik saja dengan melupakan kejadian yang menimpa masa kecilnya. Keluarga kerajaan yang hancur adalah sebuah aib yang harus ia emban bersama takdirnya untuk menjadi seorang penerus, seorang raja. Wonwoo berpikir semuanya tidak akan lebih buruk.

Hingga Kim Mingyu datang dalam kehidupannya.

Mingyu datang ke istana dengan tubuh penuh lebam, kentara sekali ia baru saja dipukuli. Dengan kondisi setengah hancur, anak itu membungkuk layaknya pelayan ketika dihadapkan dengan Wonwoo.

"Izinkan aku memperkenalkan diriku Yang Mulia, namaku Kim Mingyu. Usiaku dua belas tahun. Ibuku bernama Henrietta Blankeim, seorang keturunan Inggris, ia baru saja dibunuh kemarin malam oleh para pesuruh Ratu." Anak itu menatap Wonwoo, melanjutkan tanpa suara yang bergetar. "Nama Ayahku adalah Kim. Ibuku tidak pernah memberitahuku nama depan ayahku, tapi yang aku tahu, Ayahku dulunya adalah seorang bangsawan yang memiliki perusahaan perabot perak dan pelayaran, dan ia pernah menikah dengan Yang Mulia Putri Jeon sebelum pergi meninggalkan ibumu demi ibuku."

Wonwoo reflek melompat dari kursi yang diduduki dan menendang muka Mingyu dengan keras. Mingyu menatap Wonwoo, menyeringai sambil menjilat darah di sudut bibir.

"Sambutanmu sangat luar biasa, seperti yang sudah kuduga."

Wonwoo menginjaki tubuh Mingyu seperti para pengrajin wine yang menginjaki anggurnya. Mingyu malah tertawa-tawa sementara Wonwoo meneteskan air mata seperti air terjun.

"Luar biasa! Luar biasa! Lakukanlah, Yang Mulia! Lakukanlah apapun kepada budakmu ini! Lakukan apapun dan bunuhlah aku agar aku cepat mati dan menyelesaikan penebusan dosa ayah kita! Hahahahaha! Lakukan Yang Mulia! Lakukan—"

"—coba lakukan pidato ini, Yang Mulia?"

Wonwoo terkejut sebentar, menatap secarik kertas yang disodorkan Mingyu padanya, "Pidato… apa?"

"Pidato kenaikan tahta, jangan bilang Anda melupakannya." Mingyu melepaskan ujung kertas ketik Wonwoo sudah mengambilnya. "Kita membuatnya bersama-sama kemarin. Aku sangat salut kepadamu yang dengan cepat melupakan kesedihan akibat kehilangan nenekmu tercinta."

"Diamlah, Mingyu. Cepat urus rambutku." Wonwoo kembali melirik tajam dan Mingyu tersenyum.

"Dipahami, Yang Mulia."

Pemuda itu berputar ke belakang Wonwoo dan mulai mengeringkan rambutnya yang basah. Menyisirkannya dengan mempertimbangkan apakah hasil sisiran itu akan rusak atau tidak jika dipakaikan mahkota. Wonwoo masih sibuk membaca dan berusaha menghapalkan isi teks pidato sementara Mingyu membawakannya jubah kerajaan.

Diam-diam Wonwoo melirik Mingyu yang sedang menyiapkan teh di meja.

"Mingyu." Wonwoo memanggilnya. Yang dipanggil meletakkan kembali teko teh dan kembali menghadap Wonwoo.

"Ya?"

"Kenapa kau secara sukarela melakukan semua ini?"

Mingyu terdiam, menghela nafasnya lalu berjalan mendekat pada Wonwoo. Membenarkan pita di jubah calon raja.

"Asal Anda tahu, saya sama sekali tidak pernah berpikir untuk menjadi seorang pelayan. Saya hanya ingin tumbuh sebagai penerus keluarga bangsawan Kim. Sayangnya ayah saya itu terlalu bodoh, membiarkan saya lahir dari rahim wanita asing selingkuhannya yang ia bawa ke Seoul. Meskipun akhirnya mereka menikah, tapi saya tidak bisa memaafkan ayah saya yang telah membawakan saya seluruh aib sejak saya dilahirkan. Ketika aibnya sendiri terbongkar, ia kabur, ibu saya terbunuh, dan seluruh dosa mereka ditimpakan kepada saya."

Ruangan mendadak sangat hening. Mingyu selesai membenarkan pita dan kembali ke samping meja guna menuangkan teh untuk Wonwoo.

"Itu teh plum dari Jepang, aromanya khas dan mungkin akan sedikit terasa asam segar bawaan dari buah tersebut. Ini supaya Anda tidak tegang ketika akan memberikan pidato."

Wonwoo menerima secangkir teh, mencium aromanya dan menyeruputnya sedikit.

"Tidak buruk." Komentarnya.

Mingyu tersenyum, "Terima kasih."

"Apa kau ada alasan lain? Apa kau masih ingat ketika pertama kali kau dihadapkan kemari?"

Mingyu masih tersenyum, "Tentu saja, hari itu Anda seperti orang kerasukan."

Wonwoo menyeruput teh hingga tetes yang terakhir, "Bicara apa kau, yang kerasukan itu adalah dirimu."

Mingyu mengambil cangkir dan meletakkannya kembali ke meja, "Mental saya ini sudah rusak, jadi kalaupun mengamuk orang hanya akan menganggap saya gila. Saya pikir saya tidak punya kenangan yang patut untuk diingat selain hari dimana hukuman saya diringankan dan saya berjanji akan menjadi pelayan Anda hingga berumur dua puluh tahun, selanjutnya saya akan dihukum mati sebagai tebusan dosa keluarga bangsawan saya."

Wonwoo menggigit bagian dalam bibirnya.

"Ucapanmu menjijikkan."

Wonnwoo berdiri dari kursinya dan Mingyu memakaikannya jubah kerajaan.

"Semuanya akan berakhir tahun depan, Yang Mulia, semua penghinaan kepada saya akan berakhir di tahun depan."

Menatap Mingyu yang masih tersenyum membuat Wonwoo muak. Kenapa bajingan itu masih tersenyum saat mengingat semua penderitaannya? Apa baginya semua penghinaan itu hanya permainan anak kecil? Kemanakah harga dirinya? Bukankah ia juga keturunan bangsawan? Kenapa ia mau jadi pelayan—meskipun adalah pelayan kerajaan, pelayan tetaplah pelayan.

Wonwoo berjalan meninggalkan Mingyu, sementara pelayan—sekaligus adiknya itu bicara.

"Jangan tegang, Yang Mulia. Sifat Anda sangat persis seperti ayah saya, kaku dan tegang."


.

.

"Kim Mingyu terlalu kecil untuk dihukum mati, seharusnya kita tidak melakukannya pada anak sekecil itu."

"Tapi apa boleh buat? Ibunya sudah dibunuh dan ayahnya kabur. Sesuai dengan peraturan kerajaan ini, siapapun yang menimbulkan aib harus dihukum mati. Dia ada untuk melaksanakan upacara eksekusi itu, menggantikan ayahnya."

Mingyu sama sekali tidak bisa tidur. Sipir yang menjaganya hanya terus bercerita ceriwis mengenai dirinya. Padahal menggosip adalah kerjaan perempuan, tapi, jika laki-laki yang melakukannya itu terdengar lebih parah dari yang biasa wanita lakukan. Sipir adalah hal pertama, hal kedua yang membuatnya tidak bisa tidur adalah dipan yang sungguh keras tanpa kasur. Ia juga tidak diberi selimut apalagi bantal.

Aku malah ingin mati sekarang juga daripada merasakan sakit karena kalian pukuli di sekujur tubuh. Lagipula aku sudah tidak punya alasan untuk hidup.

Mingyu membatin.

Ibunya sudah pernah mengatakan padanya bahwa mereka berdua tidak seharusnya ada. Ayahnya adalah seorang Bangsawan yang menikah dengan putri tunggal Ratu dan ayahnya pun sudah memiliki seorang putra yang kelak akan jadi penerus kerajaan. Calon Raja. Saat itu Mingyu melongo saking heran dan takjubnya. Apa benar ia punya saudara seorang Pangeran?

"Bu, apakah suatu saat aku bisa bertemu kakak? Aku sangat ingin mengajaknya bermain dan aku ingin tahu apa saja yang dipelajarinya di istana. Membicarakannya membuatku berdebar-debar." Mingyu kecil terlalu polos. Ia memegangi dadanya ketika mengatakan berdebar dan pipinya merona karena senang. Henrietta Blankeim mengelus rambut putranya lalu memeluknya.

"Ya, suatu hari kau pasti akan bertemu. Dan ibu mohon, ketika kau bertemu dengannya, jangan sekalipun kau menangis."

Itu terngiang hingga sekarang. Tapi, ketika bertemu dengan kakaknya, sang Pangeran, mereka dihadapkan dengan masing-masing amarah. Sudah jelas, Mingyu tidak akan pernah bisa mengajaknya bermain.

Kendati perasaan berdebar-debar itu masih ada.

Dua sipir penjara tempat Mingyu dikurung masih berbincang asik. Kali ini pembicaraan mereka beralih kepada Wonwoo.

"Lalu, bagaimana pendapatmu tentang Pangeran?"

"Ah, sebetulnya dia adalah simbol kotornya kerajaan ini. Putri Jeon telah mengandungnya sebelum sempat menikah dengan Tuan Kim dan kudengar, Putri Jeon yang telah menggodanya dalam keadaan mabuk. Sepupuku yang bekerja jadi pelayan Putri pernah bercerita bahwa Tuan Kim pernah menampar Putri sambil mengatakan bahwa ia membenci Putri."

"Jadi semua kemesraan yang mereka pamerkan di publik itu adalah palsu?"

"Semuanya palsu. Sejak awal, Tuan Kim memang tidak berniat ingin menikah maupun jatuh cinta pada Putri." Salah satu sipir menoleh ke belakang untuk mengecek Mingyu dan Mingyu langsung memejamkan matanya kembali.

Sipir itu kembali bicara pada temannya setelah memastikan bahwa Mingyu masih tidur.

"Tuan Kim jatuh cinta pada ibu bocah di dalam sini. Dia seorang keturunan Inggris dan ia sudah dipersunting sebelum tiba-tiba Putri mengaku bahwa ia sedang mengandung anak Tuan Kim—yaitu Pangeran."

Mingyu mengeratkan pegangan di ujung bajunya.

"Heh, pantas saja banyak yang memandang remeh dirinya. Dia hanyalah anak yang dilahirkan dan dibesarkan tanpa cinta, dia bahkan tidak diakui oleh ayahnya sendiri."

Kenapa? Kenapa Pangeran juga memiliki kisah yang menyedihkan? Mingyu sudah sangat marah padanya, rasanya ia ingin mati saja. Tapi, mendengar tentang Pangeran—kakaknya—yang juga kehilangan ibunya.

Mereka sesungguhnya sama.

Dia hanya alat untuk memenuhi keinginan ibunya. Dan ketika ia lahir, ia sudah membawa seluruh aib keluarga yang akan terus mengekorinya seiring ia tumbuh.

Apakah tidak ada cara untuk menyelamatkan Pangeran muda?

"—ibu mohon, ketika kau bertemu dengannya, jangan sekalipun kau menangis."


.

.

"Melelahkan."

Wonwoo berjalan menuju kamarnya setelah menyelesaikan rangkaian upacara kenaikan tahta. Pidato yang ia bacakan sepertinya mampu menggerakkan hati seluruh rakyat yang berkumpul. Mereka bersorak sorai menyambut Raja muda baru yang dianggap akan membawa Negara mereka menuju ke arah yang lebih baik.

Mingyu menangkap jubah yang dilemparkan Wonwoo begitu saja, "Setelah ini Anda akan melaksanakan jamuan makan dengan para petinggi Negara sahabat."

Wonwoo menghela nafasnya. "Ambilkan aku air minum. Berpidato dengan semangat palsu membuat tenggorokanku kering."

Mingyu berjalan ke meja nakas, menuangkan air dari teko keramik ke gelas dan memberikannya pada Wonwoo. "Rakyat Anda terlihat sangat senang, mereka sangat mencintai Anda."

Wonwoo meneguk dengan cepat air yang diberikan Mingyu lalu menyeringai, "Cinta? Hmph, apa yang mereka harapkan dariku? Aku hanyalah kotoran di istana ini. Setelah aku naik tahta, akan ada banyak sekali kudeta. Aku yakin akan hal itu."

Gelas kosong dikembalikan pada Mingyu, "Bukannya tadi Anda bilang hari ini adalah hari istimewa?"

Bibir tipis kembali menyeringai, "Memang, karena ini adalah hari dimana akhirnya aku yang berkuasa. Kau paham maksudku kan, Mingyu?"

Mata Mingyu menyipit sedetik sebelum ia kembali tersenyum seperti biasa.

"Dipahami, Yang Mulia."


.

.

"Kim Mingyu, kau benar-benar mirip ayahmu—" Ratu malam itu mendatangi sel yang ditempati Mingyu sendirian. Bocah umur dua belas sama sekali tidak menunjukkan reaksi berarti. Ia menatap kehadiran Ratu seperti menatap roti yang sudah berjamur. "—warna kulit, lalu mata itu. Tatapannya lembut seolah tidak pernah bersalah, padahal dia sudah menghancurkan masa depan putriku."

Mingyu ingin sekali menjawab fakta yang sebenarnya—yang ia dengar dari sipir penjara—bahwa yang hancur sebenarnya adalah masa depan ibunya, lalu ia dan kakaknya, sang Pangeran.

"Jika aku menghukummu sekarang, kerajaan ini pasti akan dikecam." Ratu memegang jeruji lalu meneruskan bicara, "Jadi, mari kita buat sebuah penawaran."

Mingyu mengangkat kepalanya—mendengarkan.

"Aku akan menunda untuk pelaksanaan hukuman itu saat usiamu dua puluh, dan selama itu—" Ratu melepaskan jeruji, tersenyum pada Mingyu dengan senyum yang setengah-setengah—entah setengah betulan atau setengah palsu, "—kau harus menjadi pelayan bagi cucuku, Jeon Wonwoo, sampai hari eksekusimu tiba."

Sel Mingyu tiba-tiba dibukakan oleh sipir penjara. Seorang pria berambut panjang dengan setelan jas hitam ala pelayan datang dan memberi hormat pada Ratu ketika berpapasan. Ratu segera beranjak begitu Mingyu dikeluarkan dari sel.

"Namamu Kim Mingyu, bukan?" pria dengan setelan pelayan tersenyum ramah pada Mingyu, "Namaku Yoon Jeonghan, aku akan jadi tutor untuk mengajarimu menjadi pelayan pribadi pangeran mulai besok. Aku akan menunjukkan kamarmu, ikutlah denganku, nak."

Mingyu mengikuti kemana Jeonghan melangkah, ia diantarkan ke sebuah kamar pelayan yang kelihatan masih berdebu, namun ada ranjang yang lengkap dengan selimut, bantal dan kasur. Di sudut kamar ada perapian dan sebuah lemari kecil. Di sudut yang lain ada meja kecil yang diatasnya sudah diletakkan cermin kecil, lalu kursi di sampingnya. Dilihat dari bagian manapun, kamar ini jauh lebih baik daripada di sel penjara.

"Maaf, aku tidak sempat menyuruh orang untuk membersihkan kamar ini. Ratu memberi perintah mendadak, jadi yah… kuharap kau bisa bersihkan sendiri?"

Jeonghan menyerahkan satu kemoceng, disusul sapu dan kain pel.

"Bersihkan sendiri kamar ini lalu segera mandi dan tidurlah. Pakaian ganti sudah ada di lemari, jangan lupa bahwa kau besok harus siap pagi-pagi." Jeonghan berpesan dengan lembut, "Selamat malam, Kim Mingyu."

Mungkin ini hanya perasaan Mingyu saja atau memang benar kepala pelayan kerajaan adalah seorang yang sangat muda? Itu cukup aneh. Setidaknya kepala pelayan ini harus seusia dengan Putri Jeon jika saja ibu dari Pangeran itu belum meninggal.

Mingyu mendengus, membulatkan tekadnya. Berusaha dengan segenap tenaga untuk mempercayai tujuannya yang baru.

"Aku ingin menyelamatkan Pangeran, aku ingin menyelamatkan kakakku—

karena kami ini… sama."

Pagi-pagi sekali pipi Mingyu sudah ditepuk-tepuk. Jeonghan datang sambil mengerutkan dahi dan menggeleng-geleng, "Ah, padahal sudah kuberitahu untuk sudah siap di pagi hari, tapi kau masih tidur. Cepatlah sedikit bersihkan dirimu, ganti baju dan sarapan pagi. Hari ini pelajaran pertamamu sebagai pelayan akan dimulai, sayang."

Mingyu mengerang—kebiasaan manja saat dibangunkan ibunya, "Lima menit lagi, Bu…"

Malah mengigau.

Jeonghan mendengus. Berpikir apa yang harus ia lakukan untuk membangunkan si anak manja. Namun, matanya menangkap sesuatu di ruangan ini. Bibir Jeonghan tersenyum tipis.

"Yah, baiklah, lanjutkan saja tidurmu hari ini sepuasnya. Kau sudah lulus pelatihan pertama kita, Kim Mingyu—"

Jeonghan menoleh lagi ke belakang ketika ia hampir menutup pintu, "—ruangan yang sangat kotor jadi sebersih ini. Kupikir kau tidak semanja kelihatannya."

Ketika Mingyu bangun di sore hari, ia melihat semangkuk bubur yang mendingin dengan segelas air lalu secarik kertas diatas meja.

Kau lulus untuk ujian kebersihan. Aku sudah melindungimu untuk hari ini, tapi malam nanti akan ada pelajaran. Jangan lupa untuk mengikutinya. –Jeonghan

Mingyu kaget, segera melihat jam. Ia kemudian baru sadar bahwa ini sudah jam enam sore, bukan jam enam pagi.

Bocah dua belas tahun akhirnya mengikuti pelajaran Jeonghan di malam hari.

"Kau sudah sangat rapi dalam hal berpakaian, apakah Ibumu memang mendidikmu untuk mandiri?" Jeonghan berkomentar ketika Mingyu sudah duduk di kursi, "Padahal kau adalah putra bangsawan."

Mingyu masih tidak bicara. Jeonghan menghela nafasnya dan mulai menuliskan sesuatu di papan tulis.

"Ini adalah hal-hal dasar yang akan kuajarkan secara teori padamu—hal yang berkaitan dengan tugas dan pandangan kita sebagai seorang pelayan. Terutama untuk menjadi seorang pelayan pribadi."

Jeonghan menuliskan angka satu dan kalimat yang pertama.

"Seorang pelayan seperti namanya, ia harus melayani Tuannya dan melaksanakan perintahnya. Melayani adalah sebuah kebanggaan dan melaksanakan perintah adalah sebuah kehormatan. Hal ini adalah mutlak, sebagai pelayan kita juga harus memiliki wawasan yang luas agar tidak mempermalukan Tuan kita. Ketika melaksanakan perintah kita tidak boleh gagal karena juga akan mempermalukan Tuan kita. Tidak melayaninya sama dengan tidak memiliki kebanggaan, seperti sampah." Jeonghan menekan kapur di kata terakhir yang ia tulis lalu berbalik untuk menatap Mingyu, "Menjadi pelayan kerajaan adalah sebuah kebanggan dan tidak sedikit yang menginginkan posisi ini, sebuah keberuntungan bagimu karena hukumanmu diringankan dan kau diberikan kebanggaan, Kim Mingyu. Apa kau mengerti?"

Mingyu tidak memiliki pilihan lain kecuali mengangguk.

"Selanjutnya." Jeonghan menulis angka dua dan kalimat kedua.

"Seorang pelayan harus melindungi Tuannya, apapun yang terjadi. Pelayan pribadi juga harus menguasai banyak hal termasuk bela diri. Kemudian, camkan dan ingatlah hal ini dalam pikiranmu, Mingyu."

Jeonghan melanjutkan menulis di papan hitam dan ia menoleh kepada Mingyu begitu sudah selesai.

"Nyawa Tuanmu adalah nyawamu, membiarkan nyawa Tuanmu direnggut sama saja dengan bunuh diri. Tapi, jangan pernah pula dengan cerobohnya mengorbankan dirimu sendiri. Pelayan tidak boleh mati sebelum Tuannya. Itulah aturan yang ada karena pelayan sendiri ada karena Tuannya."

Mingyu menatap Jeonghan dengan mata yang terheran-heran saat pria itu mengelus kepalanya sambil tersenyum.

"Tolong lindungilah Pangeran apapun yang terjadi, Mingyu—"

"—bahkan jika sekalipun harus menantang takdirmu yang akan dieksekusi saat berumur dua puluh tahun."

Yoon Jeonghan ternyata adalah pelayan pribadi dari Putri Jeon—ibu dari pangeran dan juga sepupu dari sipir penjara waktu itu. Ia diberhentikan dari tugasnya setelah dianggap gagal untuk menjaga Putri yang sakit. Kematian Putri dianggap sebagai kecerobohannya, meskipun begitu, Ratu sebenarnya cukup menaruh kepercayaan padanya karena Jeonghan masih dipekerjakan untuk menjadi pelayan Pangeran dan melatih pelayan muda hingga ia benar-benar diusir dari lingkungan istana.

Mingyu baru mengetahui itu setelah Jeonghan tidak lagi datang untuk mengajarinya. Saat itu usia Mingyu baru menginjak lima belas tahun.

Pangeran Jeon tumbuh sebagai bocah yang angkuh. Ketika mengetahui bahwa pelayan pribadinya adalah Mingyu yang dulu pernah ia tendangi hingga sekarat, hasrat ingin melancarkan tendangan itu sekali lagi timbul. Amarahnya masih sama seperti dulu, tapi, mengingat usianya yang sudah lebih dewasa, Wonwoo hanya membuang nafas.

"Lama tidak berjumpa, Yang Mulia. Mulai hari ini, saya akan menggantikan Yoon Jeonghan untuk menjadi pelayan pribadi Anda. Nama saya Kim Mingyu."

Satu lutut menyentuh lantai, Mingyu menundukkan kepalanya di hadapan Wonwoo dan sosok yang lebih tua setahun diam-diam menahan sekuat tenaga keinginan untuk menapakkan kaki di ubun-ubun pelayan baru.


.

.

Jamuan makan terasa begitu membosankan bagi Jeon Wonwoo. Ia memang banyak tersenyum kepada para petinggi Negara sahabat dan para kerabat kerajaan, tapi ia lebih sering mendecih dalam hati. Terlalu banyak penjilat. Terlalu banyak yang mencari perhatian padanya. Ada juga yang meremehkannya.

"Ratu Jeon sudah memerintah selama lebih dari setengah abad dan kerajaan ini sangat sukses karena Ratu berhasil membawanya hingga ke puncak dunia. Kira-kira apa yang akan dilakukan cucunya yang baru menginjak dua puluh tahun untuk melanjutkan apa yang sudah ia lakukan? Aku akan benar-benar menantikannya, Yang Mulia."

Wonwoo tersenyum, "Saya memang belum memiliki pengalaman dalam memerintah, tapi, saya memiliki darah keturunan Jeon dalam diri saya. Akan sangat memalukan jika saya tidak dapat melanjutkan kejayaan yang sudah dibawa oleh nenek saya dalam kurun lima puluh tahun. Saya lebih baik mati daripada membiarkan hal itu terjadi."

Salah satu petinggi nyeletuk iseng, "Apakah Yang Mulia sudah memiliki seorang gadis yang disukai? Apakah Anda sudah memiliki keinginan untuk menikah? Kebetulan saya memiliki seorang anak gadis yang seusia dengan Anda!"

"Hei, kau mencuri kesempatan ya?! Yang Mulia, saya juga memiliki seorang anak gadis, saat ini ia sedang menjalani pendidikan untuk menjadi dokter!"

Suasana mendadak gaduh dengan pembicaraan anak gadis. Mingyu yang berdiri di sebelah tempat duduk Wonwoo menahan tawa melihat ekspresi Raja muda yang terlihat sangat terganggu.

Satu buah tepukan keras membuat hening ruangan. Para petinggi dan kerabat kerajaan menoleh kepada si pelayan yang baru saja menepukkan kedua tangannya.

"Maaf atas kelancangan saya, tapi, Yang Mulia harus segera memeriksa berkas yang belum sempat ditandatangani mendiang Ratu sejak beliau sakit."

Wonwoo berdiri sambil tersenyum, "Silahkan nikmati jamuan makannya, saya pamit terlebih dahulu."

Wonwoo membungkuk sesaat lalu berjalan keluar ruang makan diikuti oleh Mingyu di belakangnya.

Wonwoo melirik ke belakang, "Kau melakukan hal yang tepat."

Mingyu tersenyum, "Sungguh, melihat raut wajah Anda yang terlihat sangat terganggu sebenarnya cukup menyenangkan. Tapi, saya pikir Anda harus istirahat sekarang juga. Apakah ada yang Anda inginkan untuk diminum?"

Mingyu membukakan pintu kamar Wonwoo dan membiarkan Raja muda masuk terlebih dulu. Wonwoo melepas jas pas badan yang ia pakai dan dibantu oleh Mingyu, "Aku ingin minuman yang dingin dan terasa sedikit asam."

Mingyu melipat jas Wonwoo, "Dimengerti, Yang Mulia."

Pelayan keluar sebentar untuk membuatkan minuman.

Wonwoo membuka sebuah kotak yang tergeletak di meja. Mingyu bilang isinya adalah surat-surat ucapan atas diangkatnya dirinya menjadi Raja. Surat itu jumlahnya puluhan ribu karena ditulis oleh seluruh rakyat di negaranya, jadi Mingyu merangkumnya menjadi dua puluh surat entah bagaimana caranya. Apakah ditulis ulang atau dibundel menjadi satu dengan tulisan teramat kecil, Wonwoo juga tidak tahu.

'Yang Mulia Jeon Wonwoo, selamat atas kenaikah tahtamu. Aku sangat senang mendengar bahwa akhirnya kau telah menjadi Raja. Meskipun begitu, aku juga mengucapkan turut berduka cita sedalam-dalamnya atas kematian Ratu, saya harap hal itu tidak akan mempengaruhi pemerintahan yang sudah harus segera Anda lanjutkan. Saya percaya kepada Anda.'

"Jadi ada seribu orang yang menulis surat dengan isi yang kurang lebih seperti ini, Mingyu?"

Mingyu yang baru saja masuk tersenyum pada Wonwoo, "Ya, karena itulah sudah saya rangkumkan dengan bantuan beberapa pelayan lain supaya Anda tidak kerepotan membaca satu per satu."

Wonwoo tersenyum bangga, "Ah, kau benar-benar pengertian."

Mingyu meletakkan minuman perasan jeruk yang dicampur es dan sepiring kraker beras gurih yang terasa manis dan juga asin namun tidak tajam. Wonwoo memakannya dua buah dan meminum perasan jeruk itu separuh gelas.

"Omong-omong, Yang Mulia, sudah ada banyak jadwal yang menunggu Anda. Untuk besok akan ada pertemuan blabla kemudian blalabla—"

"Kim Mingyu! Aku masih lelah dan kau sudah mengingatkanku akan hal-hal itu, sialan." Wonwoo bicara ketus, "Kau sama sekali bukan pelayan yang pengertian ternyata."

"Ah." Mingyu membungkuk, "Maafkan kelancangan saya."

"Dibanding bicara seperti itu, aku ada tugas untukmu."

Mingyu menegakkan kepalanya kembali dan Wonwoo memberinya secarik kertas. Mingyu membacanya sesaat kemudian melirik kembali kepada Wonwoo.

"Apakah Anda yakin?"

Wonwoo menatapnya sinis, "Apa kau baru saja meragukanku, Mingyu?"

"Tidak, hanya saja—" Mingyu menyeringai, "—saya mengingat saat-saat saya diajarkan banyak hal olehnya."

Wonwoo berjalan mendekat pada Mingyu, tanpa segan mengalungkan lengan di leher pelayannya, "Kalau begitu lupakanlah, kau adalah kesayanganku jadi kau pasti akan melakukan apa saja bukan?"

Jemari kurus milik Wonwoo terasa dingin di pipi Mingyu. Menatap Wonwoo yang sedang tersenyum lebar saat ini membuatnya tidak punya pilihan lain.

"Aku tidak memiliki siapapun, Mingyu. Aku hanya memilikimu, dan cukup kau saja hal yang membuatku kesal mulai sekarang." Wonwoo masih tersenyum.

Mingyu menggenggam tangan Wonwoo yang masih menangkup pipinya. Bibir mereka bersentuhan saking dekatnya kemudian Mingyu berbisik.

"Dimengerti, Yang Mulia."

.

.

Angin berhembus cukup kencang, mendung menggantung hitam di langit, hujan sepertinya akan turun dengan deras beberapa saat lagi.

Lonceng angin di sebuah rumah kayu di pinggir area perkebunan jagung berbunyi nyaring diterpa angin. Angin masuk ke dalam rumah melalui jendela kamar, menerpa tubuh sosok yang tengah tertidur di dalam rumah. Rambutnya yang panjang diterbangkan angin, Yoon Jeonghan merasa terganggu dan akhirnya membuka mata. Terpaksa beranjak dari kasur dan menutup jendela.

Jeonghan mengecek jam yang ia simpan di laci nakas. Ini baru jam lima sore tapi seperti sudah jam setengah tujuh menjelang malam. Sepertinya akan ada badai yang cukup besar.

Jeonghan mulai menutupi jendela dan ia baru saja ingin mengunci pintu depan rumahnya ketika pintu itu diketuk. Jeonghan mengurungkan niatnya dan membuka pintu itu untuk melihat siapa yang bertamu ke rumahnya di saat akan datang badai seperti saat ini.

"Permisi, Tuan. Bolehkan saya menumpang sebentar disini, saya pikir sebentar lagi akan ada badai tapi saya bingung mencari tempat bernaung."

Jeonghan segera minggir dari bingkai pintu, "Silahkan masuk, anak muda."

Sosok itu mengucapkan permisi dan terima kasih sebelum masuk ke dalam rumah Jeonghan. Jeonghan kembali menutup pintu dan kali ini mengunci pintunya.

"Kenapa Anda mengunci pintunya?" sosok tamu itu bertanya.

Jeonghan tersenyum, "Jika tidak dikunci, pintunya bisa terbuka sendiri kalau tertiup angin terlalu kencang. Tapi, jangan khawatir, rumah ini cukup kuat untuk bertahan dalam gempuran badai."

Sang tamu kemudian melepaskan topinya, "Sekali lagi terima kasih sudah mau menampung saya disini."

"Tidak masalah." Jeonghan berbalik begitu selesai mengunci pintu, lalu ia menatap tamu itu lekat-lekat.

"Kenapa Anda memperhatikan saya seperti itu?"

Jeonghan tersenyum tipis, "Ah, tidak. Kupikir kau mirip dengan seseorang yang pernah ku jumpai. Kami cukup dekat saat itu, boleh aku tahu siapa namamu, nak?"

Wajah Jeonghan tidak lagi sekencang dulu. Ada sedikit kerutan di ujung matanya dan ada kerutan lain yang terlihat di sekitar bibir ketika ia sedang tersenyum, tapi kenyataan bahwa pria itu memiliki wajah yang elok tidak bisa dipungkiri. Wajahnya tidak berubah banyak dari empat tahun lalu dan suaranya masih tidak seberat bapak-bapak tua beranak banyak.

Sang tamu terlihat kaget, "Astaga, maafkan saya yang lupa memperkenalkan diri. Nama saya Kim Mingyu, siapa nama Anda?"

Jeonghan terlihat lebih kaget setelahnya, ia terbata bertanya balik, "Mi-Mingyu? Anak yang dipenjara waktu itu?"

Mingyu tersenyum lalu membungkukkan badannya, "Ternyata Anda masih mengingat saya, Tuan Yoon. Saya kemari karena ada sesuatu yang ingin saya sampaikan dari Yang Mulia kepada Anda."

Jeonghan menghembuskan nafas pelan-pelan kemudian tertawa sedikit, "Ah benar, kau sudah jadi pelayan rupanya. Tapi, siapa itu 'Yang Mulia'? Pangeran?"

"Beliau sudah naik tahta sehari yang lalu."

Jeonghan kembali terlihat terkejut, "Aku tidak menyangka dia naik tahta semuda ini. Pasti sulit baginya, ah, omong-omong duduklah Mingyu. Mari bicara sambil duduk saja?"

Mingyu mengangguk, "Dengan senang hati."

Jeonghan masuk ke dapur hanya untuk mengambilkan botol air dan gelas untuk Mingyu. Mereka berdua duduk berhadapan di kursi jati ruang tamu.

"Aku mendengar berita bahwa Ratu sakit, tapi, aku tidak menyangka beliau akan meninggal secepat ini juga." Jeonghan mulai bicara setelah baru saja selesai membaca surat dari Wonwoo yang diberikan Mingyu, "Dan Tuan Wonwoo sepertinya bisa menerima kepergian neneknya dengan mudah."

"Saya juga terkejut akan keteguhannya." Mingyu menimpali, "Dia sudah berubah menjadi lebih kuat."

"Benar." Jeonghan meletakkan surat yang baru saja dibacanya, "Lalu ada apa lagi? Aku yakin seorang pelayan Raja sampai repot-repot untuk datang sendiri kemari bukan hanya untuk memberikan surat saja."

Mingyu tertawa pelan, "Anda memang mengetahui seluk-beluk pelayan lebih dari apapun. Sebenarnya ada permintaan khusus dari Yang Mulia untuk Anda." Pemuda itu menyerahkan satu surat lagi dengan cap kerajaan.

Jeonghan membuka surat itu, perlahan bibirnya membentuk senyum tipis.

"Jadi bagaimana menurut Anda?"

Jeonghan tersenyum lembut, melipat kembali surat yang terakhir dan menyalakan pemantik api untuk menyulut ujungnya.

"Yah, akan aku beritahukan semua informasi yang kuketahui. Selama Jeon Wonwoo masih hidup, aku masih menjadi pelayannya juga."

Mingyu balas tersenyum, "Kami akan dengan senang hati menunggu semua informasi dari Anda. Kalau begitu saya ingin segera pamit. Saya harus menyiapkan makan malam untuk kakak saya tersayang."


.

.

-to be continued

;; hai ketemu lagi nih ama saya. awalnya ga niat publish ini tapi sebagai selingan boleh juga sejak saya belum selesai nulis chap baru untuk two different ama open you. ini cuma twoshot, dan saya kangen nulis AU dan saya kangen meanie aheu. open you ama two different masih separuh jalan. saya pengen cepet tamatin two different makanya berusaha panjangin chapter chapter yang akan datang, jadi saya mohon sabar untuk yang itu. btw, seokmin soonyoung gemesin ya di v app andromeda svt yang baru. hoshi cute tiap dia bersanding dengan seokmin, okno. ;;

Tamban, 09 Februari 2016

darkestlake