Chapter I


Make You Miss Me.

Hurt/Comfort

R-16

For Hunkai in Luv Challenge event

Sorry for typo.


Jongin mengelap gelas-gelas dan menatanya dengan rapi, telinganya tidak mengurusi kebisingan tempat dirinya bekerja. Suara musik memenuhi ruangan, lantai dansa didepan sana terlihat telah penuh disesaki para pemabuk juga penari. Seorang Dj, di satu tingkat atas, berteriak menyoraki pengunjung bar dengan semangat.

Suasana semakin panas di pusat ruangan, para wanita berpakaian kurang kain menari tanpa peduli banyak tangan yang menjamahi. Ada juga beberapa pasang sesama jenis yang berciuman tak tau tempat. Entah itu sesama perempuan atau lelaki, bar ini memang membebaskan semua jenis pasangan dan segala lapisan masyarakat. Jongin menatap Jengah kedepan, kaki nya gatal ingin segera keluar dan pulang.

Tapi ini pekerjaannya, dia melirik arloji yang terpasang di pergelangan tangannya. Jam setengah sebelas malam, masih terlalu awal jika hanya untuk pulang. Jongin menghela nafas gusar berusaha menaikkan kesabarannya. Sebentar lagi, jam dua belas nanti.. Yah setengah jam lagi.

"Hai, Kai? Keluarlah dan layani saja orang ini."

Jongin menoleh kebelakang, merasakan tubuhnya dipeluk dari belakang oleh seseorang. Tapi dia segera melanjutkan pekerjaan mengelap gelas, berusaha mengabaikan Boss nya, sekaligus pemilik Club ini. Dia hanya diam membiarkan lengan-lengan kekar boss-nya memeluknya semakin erat. Jongin juga membiarkan saat tangan itu mulai mengusap bagian ter-privat nya.

"Kris, Jangan." ucapan datar Jongin membuat usapan itu terhenti, Kris—boss nya terkekeh mengecup pipi nya lalu pergi tidak lagi mengganggu salah satu pekerja pentingnya. Dia terlalu takut, salah satu sumber uangnya akan pergi dan membuatnya rugi.

"Baiklah, bekerjalah dengan baik sayang."

"Hm."

Setelah boss nya pergi, seorang pria datang dan duduk didepannya dengan wajah kusut. Jongin memasang wajah datarnya mengetahui siapa. Pria itu mengangkat wajahnya, lalu tersenyum lega saat mendapati Jongin berdiri di balik meja bar. Pria itu melonggarkan dasinya, lalu menegakkan punggungnya saat fokus Jongin beralih padanya.

"Apa?"

"Seperti biasa, Red Wine."

Jongin membalikkan badannya mengambil sebotol wine tua, dia menuang nya pada gelas yang disuka pria itu. Sedangkan pria dibelakangnya sedikit bersiul menatapi pakaian Jongin yang sedikit 'mengundang' dari biasanya. Jongin malam ini memakai celana jeans yang terlihat ketat, bukan celana kain yang membosankan. Lekuk kaki Jongin, hampir sama dengan perempuan-perempuan di lantai dansa tapi bedanya hanya terlihat menggoda saja.

Pemuda tan itu sadar tubuhnya ditatapi sebegitu intens oleh salah satu pelanggan tetapnya, tapi rasa gelisah sudah dilupakannya karena mulai terbiasa. Dia berbalik menyodorkan segelas Wine seperti yang diminta. Wajah Jongin yang tanpa Senyum itu sekali lagi membuat pria itu ingin menculiknya ke mobil. So sexy..

"Chanyeol, Ingatlah Baekhyun. Bukan cara meniduriku."

"Sial, kau merusak moodku. Kai."

Pria yang di sebut Chanyeol itu mengerang kesal mendengar nama kekasihnya disebut oleh Jongin, membuat perasaan panas tadi hilang dan tiba-tiba menjadi hambar. Jongin tertawa datar, dia beralih melayani orang lain dan mengabaikan dengusan Chanyeol.

"Pes—"

Seorang gadis berseragam sekolah SMA, menarik dasi Jongin yang tergantung rapi ke depan. Gadis itu mendekatkan wajahnya pada Jongin yang sama sekali tidak berminat dengan wajah cantik yang dimilikinya.

"Oppa.. Ayolah, sekali aku?"

Jongin melepaskan dasinya yang ditarik gadis itu untuk menjauhkan diri, wajah datarnya menatap datar langsung ke mata gadis itu.

"Krystal, pulanglah kau sudah mabuk."

"Ah, Oppa. Sekali saja."

Jongin menggeleng, diisyaratkannya salah satu security—yang kebetulan adalah tetangga gadis didepannya. Dia menyuruhnya untuk mengantar pulang gadis pemabuk didepannya. Security itu mengangguk lalu menggendong tubuh Krystal dengan mudah.

"Ah, tidak. Kai oppaaa.."

Itu adalah Krystal Jung, putri seorang mentri. Jongin mengenalnya baru beberapa bulan yang lalu saat gadis itu tengah menangis di meja bar setelah meneguk beberapa gelas minuman keras. Gadis itu seumuran dengan Sehun. Kelas tiga SMA dan dirinya sendiri yang berkuliah memasuki semester kedua. Gadis itu mengaku menyukainya seminggu yang lalu sampai setiap hari ini tidak pernah absen mencoba menggodanya.

Tapi percuma. Dia tidak tertarik dengan lekuk tubuh dan dada menggembung itu. Jongin lebih menyukai sesuatu yang datar, bidang, dan tinggi. Yah, dia menyukai lelaki.

.

.

Jongin mengeluarkan Kemejanya dari celana, melepas Rompi lalu menyambar topi hitam di loker. Sudah jam dua belas kelewat, waktunya untuk pulang dan berganti shiff dengan temannya.

"Hei, Kai? Tertarik menginap ditempatku?"

Sebuah pelukan lagi, Jongin memutar bola matanya malas seraya melepaskan pelukan di pinggangnya. Dia berjalan melewati Kris—boss nya setelah mengenakan topinya.

"Never."

Kris tertawa pelan membiarkan Jongin pergi. Jongin mendengus mempercepat langkahnya untuk segera pulang.


Jongin melewati sebuah gang sempit menuju apartemen nya, menemui beberapa pemabuk yang merancau tidak jelas juga beberapa pria tambun yang tengah memperkosa seorang wanita bergaun merah di dekat bak sampah. Wanita itu menatap Jongin memohon untuk ditolong, tapi Jongin hanya meliriknya sekilas melanjutkan langkahnya.

Dia melewati toko kaset bergaya klasik berkaca gelap, Jongin dapat mendengar bunyi bantingan yang cukup keras. Dia sedikit mengintip pada kaca, mendapati beberapa pencuri bertopeng badut tengah membongkar meja kasir.

Jongin melanjutkan langkahnya, dia tak mau mendapat repot dengan masuk ke toko itu dan berlagak pahlawan. Pemuda itu tidak berotot, jadi jika di masuk maka jelas akan pulang dengan luka.

"Kantor polisi? Saya hanya ingin melapor tentang perampokan si toko kaset klasik di gang XI. Hm sama-sama."

Jongin mematikan ponselnya, Dia baru saja menelpon polisi terdekat dan kebetulan beberapa blok dari tempat tadi. Tak lama suara sirine terdengar, dia berbalik hanya sekedar memeriksa. Beberapa pria dan wanita berseragam kepolisian bersenjata keluar dari mobil.

Dengan itu, Jongin segera berbelok ke perumahan bangunan khusus apartemen. Dia menggeleng pelan tanpa sebab, teringat sesuatu. Dunia ini sudah dipenuhi kejahatan..juga manusia yang bertambah tua semakin berpola pikir sempit dan anak muda yang cukup bejat.

-H U N.K A I IN LU V -

Jongin merebahkan diri di ranjang buluk berwarna biru kusam miliknya, punggungnya terasa remuk dan kaki-kaki nya terasa lemas tidak bertulang. Berdiri dibalik meja bar berjam-jam sebenarnya mudah tapi cukup melelahkan.

Ting tong

Jongin beranjak menuju pintu, menebak siapa tamu nya di larut malam ini. Baru saja pintu dibuka, Jongin dikejutkan dengan Sehun yang langsung masuk tanpa memberinya salam. Dia menutup pintu lalu menyusul Sehun yang sudah terduduk di karpet bulu miliknya.

"Kau belum tidur, Sehun?"

Sehun tidak menjawabnya, dia memilih mengeluarkan beberapa buku tugasnya dari tas. Jongin tersenyum, mendudukkan diri disamping Sehun.

"Kau menungguku ya?"

Jongin kembali bertanya, tapi tidak mendapat jawaban yang di minta. Tapi pemuda itu hanya tersenyum seperti biasa saat didepan Sehun, berbeda dengan sosok datarnya di tempatnya bekerja. Sehun melempar buku paket kimia pada Jongin, hampir mengenai kepala namja yang lebih tua tiga tahun darinya. Terserah, jika mengenai juga bukan urusannya. Bukan dia yang merasa sakit nanti.

"Kerjakan tugasku. Aku mau tidur, sekitar jam 5 antarkan ke kamarku."

Sehun mengambil tasnya lalu beranjak pergi kembali ke kamarnya, tak ada selamat malam. Dia terlalu enggan sekedar bersuara disini, tak perduli kelelahan yang tergurat di wajah Jongin Sehun memberi Jongin semua pr sekolahnya. Jongin berdiri mengambil bulpoin dan pensil, Dia mengikat poni panjangnya ke atas supaya mempermudah mengerjakan. Pemuda itu merenggangkan sedikit bahu nya, lalu mengangkat buku-buku itu ke atas meja. Dia mulai mengejakan semua tugas itu dengan mudah tanpa gerutuan kesal atau apapun.

Dia telah menyukai Sehun satu tahun ini, mereka berdua selalu bersama saat pergi kemana-mana. Dia akan berangkat bersama dan menjemput Sehun setiap harinya.

"Hahh.."

Jongin menghela nafas, dia melirik jam di dinding. Sepertinya dia tak punya waktu banyak. Jongin harus mengerjakan semua ini dengan cepat, dia tentu tak mau membuat Sehun semakin membencinya.

Tak ada waktu untuk tidur, Jongin mengabaikan kantuknya. Meminum kopi belasan gelas dan tidak perduli dengan persendiannya yang kaku karena lelah. Sebuah nama terlintas, membuatnya kembali semangat dan memulai lagi pekerjaannya.

'Oh Sehun..'

.

.

Tok-Tok

"Sehun?"

Cklek.

"Sudah selesai, jika ad—"

"Hm."

Jongin tersenyum saat pintu didepannya terbuka, netra nya mendapati Sehun yang sudah rapi dengan seragam dan tas nya. Sehun menatapnya datar, tapi Jongin menganggapnya sebuah ucapan terima kasih dan selamat pagi. Dia memberikan tumpukan buku yang dibawanya pada Sehun tidak berharap diberikan segaris senyum dari pemuda yang disukainya.

BLAM

Sehun menerima buku itu dan langsung menutup pintu, dia tidak ingin berangkat sekolah dengan Jongin hari ini karena dia mempunyai teman kencan yang lebih baik dari pada hanya berjalan disamping pemuda gay tetangga nya. Sehun mengutuk hari dimana mereka bertemu. Kenapa dia bisa mengenal orang tak tau malu seperti Jongin? Css, Sial.

Jongin menatap sayu pintu didepannya, dia menyandarkan kepalanya pada pintu kamar Sehun. Memejamkan mata nya dan beberapa kali menghela nafas.

"Aku menyukaimu.. Sehun."

Pikiran Jongin melayang ke beberapa waktu yang lalu, mengingat setiap detail kebodohannya.


Flashback


5 years ago,


Jongin masih duduk dikelas dua SMP saat itu, dia adalah siswa teladan yang cukup pintar dan dikenal baik terhadap yang lain. Teman-temannya sering mendapati Senyum Jongin yang selalu terpasang di wajahnya, tapi mereka tak mengetahui yang sebenarnya.

Jongin sering menyendiri di balik rak-rak usang perpustakaan sekolah, mengasingkan diri dari yang lain. Saat itu dia sering memperhatikan seseorang dari celah buku-buku yang tertata. Dia menyadari kemana perasaannya saat memperhatikan namja yang tengah terduduk di jendela perpustakaan sedang membaca buku sastra lama.

Dia jelas menyadari bahwa menyukai seorang yang sama dengannya,tapi sudah dua tahun lama nya dia terus berganti-ganti sosok untuk disukainya tanpa bisa berhenti. Akhirnya, Jongin menyatakan perasaannya pada seseorang yang disukainya, seorang kakak kelas tampan dan cukup baik. Kakak kelasnya itu mengajaknya berkunjung ke rumahnya, dan Jongin jelas mengiyakan.

Esoknya, Jongin pulang ke rumah dengan keadaan berantakan. Bau sperma di sekujur tubuh dan wajah sembab, sorot matanya kosong. Kedua orang tuanya mendesak Jongin untuk bicara siapa pelakunya. Tapi Saat Jongin berkata jujur, sang ayah menampar kedua pipinya hingga lebam.

"Aku menyukai lelaki."

PLAKK

Makian ayahnya dihiraukannya, dia terfokus pada ibu dan adiknya yang menangis tanpa suara. Sekali lagi, ayahnya memukul wajahnya. Dia tidak melawan atau membantah saat ayahnya sendiri memandangya rendah dan mengolok betapa menjijikkannya dia.

Dia diusir begitu saja, semua barang-barangnya sudah dikepak ke dalam koper oleh ibunya. Jongin menatap ibunya terakhir kali, dan melangkahkan kakinya pergi. Sebelum itu, dia mengusap beberapa tetes airmata di pipi ibunya.

"Sudahlah nyonya Kim, jangan menangis."

Setelah itu semua, dia meninggalkan marga Kim, dan merubah namanya menjadi Kai. Jongin yang saat itu tidak sengaja melewati sebuah bangunan tinggi memasang sebuah pengumuman pencarian pegawai, seperti pelayan dan bartender. Dia bertemu Kris yang menempatkannya pada tempat bartender, pria itu juga yang membeli dan mencarikan apartemen untuknya. Dan selama itu juga, Kris bersedia menjadi wali nya saat masih bersekolah di JHS sampai SHS.

"Terima kasih."

"Sama-sama."

Dan dia bersyukur, masih ada beberapa orang lainnya yang berpengaruh pada alur hidupnya sekarang.


"Kau masih disini?"

Pintu terbuka, dan Jongin sedikit terhuyung ke depan tapi didorong kasar oleh Sehun. Menegakkan kepalanya, Jongin tersenyum pada Sehun yang menatapnya jengah.

"Maaf, hehe. Ay—"

"Aku berangkat sendiri."

Jongin terdiam, dibawah sana dia memainkan ujung kemeja yang masih dipakainya sedari tadi malam. Sehun berbicara dingin seperti biasa, dan tatapan itu semakin membuatnya ciut.

Jongin mengangguk, lalu tersenyum lebar dia menepuk-nepuk senang Bahu Sehun tapi segera ditepis oleh si pemilik.

"Baiklah, nanti kau pulang jam berapa? Akan kujemput."

"Tak perlu."

Sehun berjalan melewati Jongin yang masih tersenyum hambar, dia benar-benar tak ingin Jongin mengganggu acara kencannya.

"Oh baik, tapi nanti tetap ku jemput ya?"

"Dasar bodoh. Terserah."

"Sampai jumpa! Hati-hati, jangan melirik yang lain ya?! Aku menyukaimu."

"Tsk, menjijikkan."

Jongin berseru dengan semangat masih dengan senyum terbaiknya. Sehun mengerang dalam hati, percuma saja berbicara dengan orang seperti Jongin. Hanya membuang waktu. dia segera pergi tak ingin mendengar suara jelek itu masuk ke telingannya.

Setelah Sehun pergi, raut wajah Jongin mengendur. Senyuman nya sudah luntur beberapa detik yang lalu. Dia mengehela nafas kesekian kali, tubuhnya perlahan merosot kebawah hingga terduduk di lantai depan pintu kamar Sehun. Pemuda tan itu menenggelamkan kepala di lututnya.

"Sehun.."


".. It hurts, but I remember every scar

And I've learned. But living is the hardest part, Passionately burning to flames. Stitch myself up, then I do it again

I can't believe what I did for love.."


Sepanjang Jalan, Jongin terus menunduk lesu. Salah satu tangannya memijat bahu yang entah kenapa terasa kaku. Jongin merenggangkan lagi lengan dan lehernya, dia mulai berfikir mengambil cuti satu-dua hari dari club.

Jongin menghentikan langkahnya, menatap kesal pada sesuatu didepan. Dia melirik arloji, ini memang waktu para anak SMA pulang. Dengan cepat dia melangkah mendekati Sehun yang tengah bercanda dengan beberapa gadis. Ada bagian dari diri Jongin yang seperti marah. Jongin mendorong gadis itu sedikit menjauh dari Sehun, tanpa perduli dia mengapit lengan Sehun erat menegaskan Sehun miliknya.

Dia bahkan tak segan menatap tajam para gadis itu, Jongin melewatkan tatapan jijik dari orang sekitarnya. Sehun mengepalkan tangannya erat, berusaha tidak menghajar orang disebelahnya ini. Benar-benar tidak tau malu..

"Apa yang kau lakukan?!"

Suara dingin menyapa pendengaran Jongin tapi tak membuat pemuda itu melepaskan lengannya. Sehun mencengkram bahu Jongin, mendorong kuat segera agar terlepas. Tapi Jongin terlalu keras kepala. Dia berjalan cepat seraya menarik lengan Sehun pergi.

"Hyung!"

Jongin menulikan pendengarannya, tak tahu mengapa dia marah. Dia hanya tak suka melihat Sehun tersenyum pada gadis lain. Mereka melewati sebuah Tamam bermain yang Sepi, Sehun yang sudah tidak sabar pun benar-benar menghajar rahang Jongin kesal.

BUGH

Jongin menunduk memegangi rahangnya, dia menatap datar tanah dibawahnya seolah pukulan tadi tidak benar-benar sakit. Sehun menghembuskan nafas gusar, dia sungguh tak mengerti sebenarnya apa kesalahannya hingga tuhan mempertemukannya dengan orang bodoh berwajah jelek aneh dan tak tau malu macam Jongin. Berani nya, dia membuat nya Malu dipandangi jijik oleh adik-adik kelasnya yang cantik tadi. Bagus, kencannya hancur.

"Apa kau tak punya rasa malu, Hyung? Aku tau kau menyukaiku, Jerk. Tapi jangan membuat ku ikut menanggung malu mu."

Sehun memandangi Jongin yang masih menunduk dengan rasa benci yang meluap. Pemuda Pale itu dengan gusar melangkahkan kakinya pergi. Kemana lagi, pulang. Bukankah Jongin dibelakangnya sudah membuat hancur rencana nya. Sehun benar-benar menyayangkan tubuh para gadis tadi, masih dalam pertumbuhan dan itu seksi. Tapi terima kasih pada Jongin yang seolah membuatnya takkan berani mendekati mereka lagi.

Jongin menjongkokkan badannya, masih menunduk memegangi rahangnya yang terasa nyeri. Dia menatap kosong kebawah, tanpa niatan ingin menyusul Sehun.

"Sakit.." gumamnya pelan.


Malamnya Ponsel diatas buku itu berdering, Sehun mengangkatnya malas. Seorang teman menelponnya dengan semangat membuatnya kesulitan untuk menolak tawaran.

'Sehun..angkat bokongmu dan datang kesini. Banyak gadis tipemu yang sangat sexy, oh dude.. Kau akan menyesal jika menolak. Dan kau tau? Mereka agresive'

Sejujurnya, Sehun cukup tergiur mendengarnya. Dari sebrang dia dapat mendengar bunyi kecipak saliva, dan erangan samar. Sial, teman-temannya ini senang sekali membuatnya turn. Ck, Sehun melirik sekilas beberapa buku tugas di meja lalu menyeringai.

"Bastard, kalian memulainya duluan. Ok aku datang."

Sehun tertawa mendengar sorakan ramai di sebrang, teman-temannya memang berisik. Sambungan dimatikan, pemuda itu mengganti kaosnya dengan kemeja hem kotak-kotak warna navy blue. Dia menyisir rambutnya, menatanya agar seolah tidak terlihat seperti murid SMA. Penyamaran yang sempurna..

.

.

"Kai?"

"Hm?"

Jongin menoleh kesamping, mendapati Taemin berdiri ikut mengelap botol-botol minuman alkhohol. Perutnya disikut pelan dari samping, Taemin menatapnya Jahil.

Taemin melirik ke belakang dengan senyuman lebar, Jongin mengerti. 'Sumber uang' mereka datang,

"Hai tuan Choi, mau kutemani atau di temani beruang disampingku ini?"

Jongin melirik temannya yang sedang menggoda Choi Siwon, sumber uang mereka. Dia pengusaha elektronik yang sukses, sekitar lima tahun lebih tua dari mereka berdua. Setiap sebulan sekali, president Choi akan mendatangi bar nya dan meminta pelayanan privat secara acak. Setiap pelayanan itu, dia akan membayar sepuluh kali lipat dari biaya asli ditambah sebuah tip kecil yang sangat banyak. Yang paling banyak mendapat perhatian adalah Jongin, meskipun dirinya bukan salah satu penari maupun penggoda di sini. Tuan Choi sering berkunjung hanya untuk sekedar mengobrol dengan brown bear sang bartender.

Jongin membalikkan badan, menyuguhkan minuman yang biasa diminum tamunya. Tuan Choi tersenyum mengisyaratkan bahwa dia menginginkan Jongin. Taemin berdecak kesal, tapi segera pergi setelah mengecup pipi Jongin dan mencuri cium di bibir sang tamu. Terdengar kekehan dari bibir Taemin, membuat Jongin dongkol luar biasa. Dasar..

"Jadi tuan Choi, silahkan pergi ke ruang VVIP di atas. Aku akan segera menyusul."

Tuan Choi mengangguk, menuruti untuk pergi. Sebelum itu dia menarik dagu Jongin dan menciumnya sekilas. Jongin hanya diam beraut biasa, dia memperhatikan punggung atletis itu menaiki tangga. Jongin menghela nafas, tubuhnya bergetar mengepalkan tangan. Pemuda itu sedikit merasa takut, sebuah trauma masa lalu yang disembunyikannya.

Dia meneguk air putih dengan cepat, sejenak Jongin diam memejamkan mata berusaha menenangkan diri. Tak lama dia berjalan cepat menyusul sang tamu menaiki tangga.


Sehun memasuki sebuah Club untuk pertama kali, dia bersiul dalam hati setiap bertemu beberapa wanita berdada besar yang diyakini benda itu terlalu banyak diremas atau mungkin disuntik. Dia tertawa akan pikiran kotornya, dia berjalan melewati lantai dansa—pusat area Club. Dia memperhatikan sekeliling dan tak sulit menemukan bilik bersofa teman-temannya duduk.

Dia berjalan cepat kesana tapi terhenti saat mata nya melihat seorang yang familiar, itu Jongin dibalik meja bar dengan seorang pria yang tampaknya super kaya. Sehun menyeringai bahwa mungkin Jongin akan menjual tubuhnya, dia terkekeh merendahkan. Tapi maniknya kembali membulat bingung sesaat setelah pria kaya itu menarik dagu Jongin dan menciumnya.

"Che, dia gay murahan."gumam Sehun remeh.

Sehun menghampiri teman-temannya, berhigh-five dengan beberapa, setelah duduk dia sudah dikelilingi banyak wanita dan para gadis cantik. Teman-temannya bersorak tak terima, tapi Sehun hanya menyeringai.

"Heu, kalian. Tak adil."

"Sorry guys."

Pikiran Sehun melayang ke beberapa saat yang lalu, raut wajahnya mendatar. Dihiraukannya dua orang gadis yang duduk mengapitnya dengan payudara mereka. Sehun meneguk sekaleng bir pertama dengan mata yang tak pernah terlepas dari sosok Jongin yang kini menaiki tangga tergesa.

'Baiklah..'

Dan pemuda bermarga Oh itu menyeringai.


Dilantai dua, berisi banyak sekat dan sofa empuk yang berjejer, di pojok sana terdapat mini bar antik. Ada satu-dua pelayan khusus untuk kelas VVIP, satu waitress dan satu bartender. Tapi tamu kali ini adalah Choi Siwon, presdir yang sekarang melambung namanya. Terkenal dikalangan para gadis remaja karena pegunungan harta nya.

Pria itu tidak memesan dua pelayan, selalu hanya satu. Cukup Jongin, menurutnya pemuda tan itu sudah sangat menarik walau jarang tersenyum dan sedikit pendiam. Dia selalu membayar lebih walau yang dilakukannya di lantai dua ini hanya minum dan mengobrol biasa dengan Jongin.

Tuan Choi sering mendengar para pria yang sering kesini datang hanya untuk melirik sosok di depannya ini. Sangat disayangkan, Jongin bukan salah satu 'flower' disini. Flower sebutan untuk pelacur di Club ini. Tapi tidak apa, sangat disayangkan juga jika Jongin melakukan itu. Sejauh ini, Tuan Choi mengenal Jongin sebagai pemuda manis yang baik.

"Tuan Choi?"

Sang pria tertawa, dia menatap geli pada Jongin yang melihatnya denga wajah datar.

"Tidak, panggil aku Siwon. Kau terlalu formal."

Jongin membuang muka, membalikkan badan berniat mengambil sebotol anggur mahal. Dia tak mau ditatapi lebih lama dengan orang yang mengaku tamunya. Setelahnya, dia menyuguhkannya di meja. Jongin melirik Pria itu jengah secara diam-diam, menoleh kesamping menengok jam.

Pukul sebelas malam.

'Shit..'

Jongin hanya tidak mau berlama-lama di tempat ini. Dia ingin pulang.


TBC


Sorry for late update ya.. ^^

Sepertinya hanya sampai 4 chapter ah gk sabar buat fin nya. Sebenarnya mau aku tambahin smut, tapi pas inget masih puasa daripada batal dan dosa/? mungkin di chapter depan aku ngambil adegan smut sedikit kok.

Ok,

Thanks for reading^^)/