Chapter II

Make You Miss Me.

Hurt/Comfort

R-16

For Hunkai in Luv Challenge event

Oo

Tepat jam satu pagi, Jongin baru kembali ke apartemennya. Di depan pintu Jongin terus mengusap bibir dan pipi nya dengan tangan yang bergetar. Sebelum kepulangannya dari tugas melayani tuan Choi, pria itu kembali menciumnya tepat di bibir dan mengecup pipi nya berkali-kali. Dia mulai berkeringat dingin mencoba melupakan kilatan trauma yang terlintas di benak. Jongin belum memasuki apartemennya walau dia sudah memasukkan kunci ke lubang pintu, tangannya terasa kaku untuk digerakkan.

BRAKK BRAKK

"Khh."

Jongin memukul pintu apartemennya keras-keras tak memperdulikan itu akan terdengar para tetangganya. Kakinya melemas tiba-tiba, Tubuhnya hampir merosot kebawah jika bukan tangan asing menariknya berdiri dan dengan paksa menggiringnya masuk ke pintu apartemen lain. Pemuda tan itu belum sempat bersuara dan memberontak saat itu terjadi. Jongin hanya menatap terkejut pada punggung didepannya.

Jongin meringis saat permukaan keras dinding menubruk pundaknya, seseorang terkekeh merendah didepannya. Membuka mata, memfokuskan pandangan Jongin mendapati Sehun telah menghimpitnya di sudut antara pintu dan dinding. Dilihatnya kedua iris Sehun, Jongin tersenyum lega saat mengetahuinya tapi tak bertahan lama setelah Sehun menyeringai, menempatkan kaki kanannya diantara kaki Jongin. Jongin terhenyak menengadahkan kepala, lutut Sehun menekan bagian selatan dirinya. Sensasi geli mendatanginya, dan mata Jongin tak salah melihat jika mata Sehun sedilit meliar.

"E-emnh." Sadar, Jongin segera berusaha menjauhkan bahu Sehun tapi justru kaki dibawahnya semakin menekan area privasinya. Tubuh Sehun terus menghimpit Jongin, salah satu tangan Pale itu merambat melepas kancingan di kemeja putih Jongin. Setengah panik mencoba menjauhkan Sehun darinya, Jongin kembali mendorong bahu lebar didepannya. Tapi.. Tapi tangannya terlalu banyak bergetar, tak ada yang bisa dilakukannya kecuali memberontak sia-sia.

''Sebenta—Hahh! "

pekikkannya berubah menjadi engahan halus di akhir. Jongin bernafas cepat, merasakan elusan disekitar dada dan perut. Dia semakin tidak dapat mengendalikan tubuhnya sendiri, entah Sehun entah trauma nya, semua terasa mulai bercampur aduk membuat mual. Sehun menunduk melihat reaksi Jongin, bibirnya tersenyum miring. Sesuai dugaannya, dasar..murahan. Mendekatkan diri, Sehun berbisik dengan nada remeh dan kembali mengingat bagaimana cara Jongin bekerja. Pelacur? Ahah, benar. Apa lagi yang kau pikirkan?

"Kau bekerja di bar, menjual tubuhmu, meraup uang pria kaya. Kau tau? Sekarang aku bisa memberikan maumu, setelah itu kau pergi dariku bagaimana, bitch?." Sehun tertawa mengejek pada Jongin yang memejamkan matanya erat. Jongin menggeleng, menolak sudut pandang Sehun. Pemuda pale itu pasti salah paham.

"Tidak a—" dan Sehun segera membungkamnya, mendaratkan bibirnya dan memberi ciuman terkasar yang dia punya hingga tanpa sadar mulai menggores harga diri Jongin. Mulutnya terkunci, Jongin meringis tertahan merasakan bibirnya telah digigit keras oleh gigi taring Sehun.

Sehun mengerang dalam hati, tak pernah menyangka bibir Jongin—pria bisa semanis ini. Dirinya merasa kurang waras karena mulai berfikir untuk meniduri tubuh didepannya. Mata Jongin terasa basah, tapi dia tidak meneteskan satu pun. Dia terlalu shock dengan apa yang terjadi. Berbaris-baris pertanyaan terkumpul mengganggu pikirannya. Kenapa dengan Sehun? Kenapa? Ada apa? Jongin kembali panik, saat kemeja nya telah jatuh kelantai. Celana kainnya pun juga hampir terlepas, dengan sekuat tenaga dia menggerakkan kedua tangannya untuk mendorong Sehun menjauh.

Berhasil, ciuman Sehun terlepas. Pemuda pale itu mendengus keras menatap tajam Jongin. Dengan sedikit bergetar dia memungut kemejanya, lalu menatap takut pada Sehun yang kini mulai mendekatinya lagi dengan kedua mata yang menatapnya nyalang. Jongin berusaha memundurkan tubuhnya menjauhi diri Sehun. Terlambat.

"Te-tunggu, kau salah. Aku tid—"

"Diamlah, Slutty bitch." suara mengejek Sehun terasa menyakiti batinnya. Dia tidak seperti itu. Jongin terdiam meremas erat helaian kain di tangannya dan membiarkan tubuhnya kembali di monopoli. Sehun memerangkapnya lagi, Jongin memandang kosong kedepan dengan mata yang setengah membulat. Sehun berbisik lagi dengan suara rendah, dan cukup membuat Jongin sesak. Jujur, Dirinya sudah mulai lelah memberontak. Ini seperti mimpi buruk, kenapa dia harus di posisi ini lagi? Didepannya bukanlah Sehun. Bukan Sehun yang disukainya ?

"Khh.." Jongin menunduk memejamkan matanya terlalu erat, bibirnya mengatup walau lengguhannya masih terdengar. Sehun menyeringai, kembali bergerak menyentuh pinggang pemuda tiga tahun lebih tua darinya. Meremasnya lebih kuat, Jongin melengguh lagi. Tubuhnya memang sensitif, itu buruk Sehun pasti akan semakin berpikir betapa kotor dirinya. Tidak-Jangan.. Jangan buat Sehun seperti itu.

"Ha, jangan jual mahal padaku, bitch?"

Mata Jongin terbuka, dia menatap Sehun. Kedua mata itu melihatnya tajam namun tidak cukup menusuknya. Tatapan itu sudah biasa didapatkannya. Setiap hari..setiap bertemu selalu itu dan tidak berubah. Sehun mendekatkan wajahnya, namun Jongin langsung memalingkan wajahnya cepat. Tubuhnya kembali bergemetar, seluruh area kening dan punggungnya berkeringat dingin.

Jongin mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat. Sehun mendengus tertawa, merasa geli dengan Jongin. Kenapa pemuda ini menolak ciumannya padahal dengan jelas tadi dia dicium berkali-kali oleh pria kaya. Sehun menarik bahu Jongin dan menariknya paksa memasuki kamarnya. Brugh Dengan kasar menghempaskan Jongin di ranjang empuk, lalu menindihnya segera. Jongin menjauhkan bahu Sehun panik, sesuatu menyentuh gundukan privatnya.

"Ha-ahhm. Se-dengar—

"Diam dan nikmati saja,bodoh."

"Tidak t-tidak Seh—Urgh!" Jongin menggeleng cepat berulang, berusaha menjawab dengan benar tapi yang keluar dari bibirnya hanya desahan tak tau malu. Jongin ingin menangis, Sehun telah melecehkan tubuhnya juga menginjak harga dirinya.

Pemuda pale diatasnya bahkan tidak mendengarkan erangan sakit Jongin saat tiba-tiba memasukkan tiga jarinya paksa ke dalam lubang Jongin. Sehun terlalu memaksakan jarinya hingga rasa panas perih dirasakan Jongin. Tak ada perenggangan, miliknya terasa panas dan robek. Tangan Jongin meremas sprei dibawahnya guna menyalurkan betapa sakitnya dia. Hatinya, harga dirinya, sekarang.. Apa tubuhnya juga? Kenapa dia harus merasa sakit disini..

Kenapa dia begitu menyukai Sehun hingga sulit bergerak menolak. Dasar bodoh, Jong—tidak.. Kai bodoh.

"Mmnghh!"

Jongin terpejam menggigit bibir bawahnya hingga berdarah, dia beralih meremas bahu Sehun kuat. Sakit sakit dan sakit yang dipikirkannya. Pinggangnya berjengit keatas, saat jari-jari itu bergerak cepat tanpa aba-aba. Airmata lolos dari pertahanannya, merasakan kekasaran Sehun padanya. Bayangan trauma kembali menghantuinya, ketakutan tergambar jelas di raut wajahnya.

Sedangkan Sehun tengah sibuk menggigit leher dan bahu tan dengan gigi nya, memberi tanda pemilik disana. Dia tidak berusaha mengurangi tingkat kecepatan jarinya di bawah sana. Dipikirnya, kekesalan akan waktunya yang terganggu Jongin terlanjur meracuni pikirannya hingga melakukan semua ini sebagai pemuas kemarahannya.

"Nghh.. Hah a-ahhmn."

Jongin tak sengaja mengerang, titik terdalamnya telah tersentuh. Dan itu tidak sekali tapi berkali-kali karena Sehun menyadarinya. Jongin kembali menggeleng menolak semua perlakuan Sehun padanya, dia tak mau seperti ini. Sehun mempercepat tempo, tubuh Jongin semakin bergetar tangannya meremas punggung Sehun erat-erat dan setelah itu dada Jongin membusung saat klimaks mendatanginya. Tapi tidak lama setelah itu..

"Hah..nn—Ahh!"

Sehun terkekeh, mengeluarkan tangannya dari dalam Jongin. Jari-jari panjang Sehun terlumuri cairan yang menurutnya menjijikkan, jadi dia langsung mengusapkannya pada kain celana Jongin. Dalam pikiran Sehun mungkin Jongin akan menjauhinya setelah ini dan kehidupannya akan tenang seperti dulu Tapi..

"Oh hyung, Kau itu sangat mu—"

—hiks

Sehun menghentikan gerakannya, ucapan ejekan di ujung lidah juga ditelannya kembali. Dia menundukkan kepala terkejut menangkap suara isakan. Tangan Jongin yang semula memeluk punggungnya terjatuh dan beralih meremas lengan kirinya. Jongin memiringkan tubuhnya, menolak Sehun untuk melihat dirinya yang menjijikkan dan menyedihkan. Tubuh dibawahnya bergetar dengan tuannya yang menatap kosong kedepan.

Airmata menetes begitu saja tanpa suara isakan lagi. Sehun melihatnya hanya terdiam, Bibir nya yang semula selalu mencela Jongin untuk pertama kalinya terasa kaku bergerak mengucap kata kotor. Tak ada yang bisa dilakukannya, mereka berdua terdiam cukup lama untuk beberapa saat mempertahakan posisi yang sama. '

'Sial..'


Semua seperti kembali mundur ke beberapa tahun lalu, Sehun perlahan berubah menjadi bayangan seorang yang kusebut kakak kelas. Detail-detail saat itu masih tersimpan padaku. Perlakuan mereka terasa sama, sama sakitnya. Berlandaskan suka dengan mudah aku melemah, karena itu juga rasanya sangat sulit bernafas. Mereka melakukan ini atas dasar kebencian, dan rasa marah padaku. Kenapa mereka.. Begitu sulit menerima kenyataan seperti ini. Aku menyukai mereka tapi.. Ini bukan kemauanku sendiri, tuhan mungkin tidak adil hanya padaku. Dia membuatku sangat menyukai kalian hingga sulit untuk berhenti.

"Murahan.." Kata itu seakan terngiang berulang kali. Sesak kurasakan kembali hingga waktu terasa mundur lagi ke masa lima tahun yang lalu. Hitam putih kehidupanku yang dulu, ayah ku yang sangat kuhormati telah menendangku keluar dari yang dia punya. Rasa panas di pipi kiri dulu jelas masih bisa membuatku tersadar beberapa kali. Hidup mati adalah takdir. Tapi Pintar,bodoh, kaya, miskin sepertinya bukan takdir.

Lalu apa ini?

Normal atau menjadi sedikit berbeda.. Kenapa begitu buruk untuk menjawab salah satunya. Tatapan merendahkan juga aneh mereka, hingga semua celaaan yang pernah kudengar mengingatkanku pada salah satu bab fisika di masa JHS. Aku tertawa dalam imaginer.. Semua ini membuatku gila. Magnet— Kutub yang sama akan selalu saling menolak walau didekatkan sedemikian rupa. Begitu juga denganku dan semua yang pernah kusukai. Akan berakhir sama tanpa ada beda. Meskipun aku mendekatkan diri, mereka akan tetap berusaha menjaga jarak menjauh dan menolakku.

Sehun tau aku berbeda, tapi kenapa tidak mencoba menjauhiku. Kalian semua sedikit-demi-sedikit mendekat membuat harapanku semakin besar. Tapi semua sikap kalian membuatku jatuh sangat keras. Cukup dengan semua.. Ya, Cukup. Tapi kali ini sulit mengatakan berhenti.


"Sehun.."

Jongin telah berdiri dengan pakaian berantakan yang kotor dan berbau sperma nya sendiri. Wajah rapuhnya dibeberapa tahun lalu kembali ditampaknya pertama kali, tatapan teduhnya masih bertahan demi seseorang yang duduk tak jauh darinya. Kedua matanya membengkak sembab, airmata kering menghiasi pipi nya. Sehun tak menyahut, memilih terfokus pada game ponsel yang dimainkannya beberapa menit yang lalu. Setengah jam yang lalu, Jongin berhenti menangis dan melamun.

Pemuda tan itu masih sempat meminjam kamar mandi seolah semua terasa baik-baik saja. Jongin melangkah menahan perih bagian belakang, berjalan sedikit demi sedikit mendekati Sehun. Lalu terduduk beberapa centi disamping Sehun. Jongin menunduk, meremas lututnya pelan. Beberapa kali menghela nafas menenangkan dirinya.

"Maafkan aku." Sehun mem-pause permainan nya, tapi tidak menoleh memperhatikan Jongin yang berbicara padanya. Dirinya cukup hanya mendengar saja. Sedangkan Jongin sendiri memainkan jari, mencoba mengingat bagaimana detail semua nya. Keluarganya, dan hancurnya dia.

"Kau salah paham, benar aku bekerja disana. Tapi sebagai bartender bukan untuk menjual diri. Aku memang menyukaimu tapi bukan hal seperti itu alasanku."

Jongin berhenti sejenak, menatap lurus kebawah pada lantai. Sehun mengeraskan rahangnya mendengar kata suka yang lagi-lagi keluar dengan gamblang dari bibir itu. Di telinganya masih terdengar menjijikkan. Kenapa orang ini begitu bodoh untuk sadar diri?

"Aku bekerja di sana sudah lama, hanya untuk membiayai kebutuhan ku. Ak—"

"Pergilah." Sehun beranjak keluar setelah mengucap perintah bernada dingin pada Jongin yang tiba-tiba termangu diam. Dia menatapi punggung Sehun menjauh, menghela nafas Jongin pun ikut beranjak pergi kembali ke apartemennya. Dia berusaha menutup pintu sepelan mungkin yang dia bisa.

Seperginya Jongin, Sehun berada di balkon dengan putung rokok di sela jari. Menatap dingin gedung-gedung tinggi pencakar langit yang sialnya mengganggu. Dia menghisap tembakau nya, meniupnya dan menikmati asap petaka memenuhi paru-parunya. Sehun mengingat perkataan Jongin, mungkin dia memang salah paham. Dia membuang rokok utuhnya sembarang, lalu menatapi tiga jari nya. Sehun memejamkan matanya mengelak jauh dari perasaan yang menghampirinya.

Dasar bodoh ..


Sehun masuk ke dalam kamarnya, mengerang mendapati ceceran sperma Jongin di kasur kesayangan. Dia menarik sprai kasar, dan langsung membuangnya ke rak sampah ujung ruang. Menjijikkan, kamarnya berubah mengerikkan. Semuanya berantakan dan bau. Sehun menghela nafas gusar, secara penuh mulai membersihkan kekacauan.

Diatas meja belajar, ponselnya berdering nyaring. Sehun hanya melirik sekilas, melanjutkan memasang sprai baru dan bersih. Setelah selesai, dia mengambilnya mendapati satu pesan bodoh pikirnya.

'From : Slut J.

Sehun jangan marah padaku. Maafkan aku.'

Pemuda bermarga Oh itu tertawa mengejek saat membacanya, berfikir bagaimana mungkin bisa Jongin meminta maaf padanya sedangkan dirinya sendiri yang jadi korban.

Dia tak berniat membalasnya, Sehun mengalihkan pandangan pada sebuah sprai yang tadinya dibuang. Dia menyentuh bibirnya tanpa sadar, menikmati beberapa potong fantasi melintasi pikiran.

Mulai dari bibir, aroma khas, leher, dan beberapa bagian tubuh lainnya Sehun jelas mengingat bagaimana rasanya menjilati setiap jengkal.

"Hmm.." lagi, Sehun mengulum bibirnya sendiri. Dia hampir menyentuh barangnya jika bukan karna dentingan jam di ruang tengah menyadarkannya.

Sehun menatap bawahnya kesal, dan mengumpat.

"Shit Jongin"

Dirinya terangsang. Permainan solo sabun tidak akan membuat puas mungkin teman kencan nya bisa jadi pilihan. tapi pikirannya lagi-lagi teringat wajah Jongin yang kesakitan. Ah sial..

Sehun mendesah mengacak rambutnya, dia mengumpat berkali-kali tanpa alasan yang jelas. Jongin, Jongin dan Jongin.. Dia mulai sibuk memikirkannya.


Pagi nya, Jongin bangun dengan perasaan kacau. Kejadian semalam sama sekali tidak ingin diingatnya lagi, tapi sikap Sehun setelahnya malah membebani pikiran. beberapa pesan yang dikirimnya, juga diabaikan oleh Sehun. Kilatan kemarin muncul, Jongin mengusap wajahnya. Semua terasa membingungkan. Apa yang harus dilakukannya saat bertemu Sehun nanti?

tapi untuk kejadian semalam, mungkin ada sedikit kejanggalan saat Sehun menyentuhnya. Diusapnya perut, Jongin mengerang pelan. Dia jadi mengingat ciuman Sehun, Dia masih ingat jika memiliki trauma tapi untuk Sehun.. Entahlah tubuhnya dengan mudah menerimanya walau sedikit rasa takut terkadang mendominasi.

Tok Tok

Jongin membenarkan pakaiannya, dia masih menggunakan kemeja semalam Lalu beranjak membukakan pintu. Mendapati Sehun berdiri menatap nya datar. Kaki Jongin bergetar mundur, Hanya bisa mengalihkan pandangannya kaku. kenapa Sehun mendatanginya disaat yang tidak tepat?

Sehun memperhatikan pakaian yang dikenakan Jongin, Itu kemeja dan celana kain yang kemarin. Jongin terlihat seperti gelandangan di depan toko kelontong dekat gang gelap pinggir kota, Rambut kusut dengan jejak airmata yang mengering di pipi. Sehun berdecih, lantas mendorong bahu Jongin masuk kedalam. Tanpa banyak kata, Sehun mengunci pintu dibelakangnya lalu berbalik menghadap Jongin yang mencengkram kemeja nya erat.

"Kau takut?"

Sehun bertanya dengan nada yang bermain, membuat Jongin ragu untuk sekedar bersuara.

Jongin membalik tubuhnya cepat, melangkah memasuki kamar berniat mengacuhkan Sehun. Tapi tetap. Dia tidak bisa, pikirannya terus berkata untuk menatap Sehun.

Jam dinding menunjukkan pukul sembilan pagi, di hari Senin ini Sehun sengaja membolos pelajaran matematika hanya untuk datang menemui Jongin. Semalam setelah bertemu teman kencannya, dia terpikir untuk meminta maaf pada tetangga sekaligus orang yang menjijikkan bernama Jongin. Dia sadar tindakan nya yang kemarin terlalu berlebihan, dan dia jugaengaku sedikir terbawa untuk menikmati suara juga tubuh Jongin.

"Hei?"

"Kau?!"
"Jongin!"

"Kh, Sial."

Jongin tidak menyahut, Sedari tadi dia diam tapi tubuhnya bergerak melakukan aktifitas seperti biasa. membersihkan ruangan, memasak, mencuci. Semua dilakukannya seolah Sehun benar yak ada disana. Sehun berdecak, tak tahan juga menghadapi orang aneh didepannya. Namja pale itu tau, Jongin tidak marah padanya. Oh yang benar saja, dilihat dari semua yang pernah terjadi Jongin terlalu menyukainya hingga lupa cara membenci.

"Gunakan telingamu, dasar bodoh. Aku memanggilmu."

Sehun akhirnya meledak, Jongin tersentak menoleh terkejut padanya. Remaja SMA itu tidak mengerti cara meminta maaf yang benar, jadi dia akan memakai opsi nya sendiri. Sejujurnya Sehun muak, melihat tingkah Jongin yang biasanya berisik menjadi diam macam orang mati seperti ini. berkali lipat Sehun ingin membentaknya dibanding yang sebelumnya. Jongin selalu merepotkan.

"Terima maafku, dan selesai aku pulang."

Sehun berbalik untuk pergi, Sia-sia dia rela membolos sekolah dan mengabaikan pemandangan indah dibalik rok para kakak kelas murahan. Dasar Jongin bodoh.

Jongin memekik pelan, melangkahkan kaki nya secepat yang dia bisa untuk mengejar Sehun. Seharusnya dia tidak mendiamkan Sehun. dengan begini, Semoga Sehun tidak semakin membencinya.

Srett.

"Tunggu.."

Sehun berdecak, blazer kuning belakangnya tertarik. sudah ditebak pelakunya adalah orang bodoh pemilik kamar apartemen ini. Tangan Sehun menyentak tangan tan yang lain, Jongin mendongak menatap Sehun dalam.

"Kau tidak bekerja, pemalas? Ini hari Senin."

Sehun mengalihkan pandangannya gusar, tak mau berpandangan dengan Jongin yang mengerjap. Dia secara tidak sadar melembutkan bicaranya, itu mengejutkan Jongin. Jujur saja, Jongin ingin berharap dan senang mendengarnya.

" Aku cuti,dua hari."

Jongin tersenyum tipis, ingin mengelus surai Sehun yang sedikit lebih tinggi darinya tapi ditampik kasar oleh pemiliknya. Jongin terkekeh, Dia merasa hubungan keduanya sedikit lebih dekat. em, Bolehkah?

"Bagus, jangan terus melacur disana."

Sehun menatap dingin Jongin, tapi entah kenaoa membuat Jongin melebarkan Senyumnya. Apa Sehun mengkhawatirkannya?

"Aku bartender, Sehun."

"Bagiku sama."

Jongin terkekeh, Sehun hari ini sangat berbeda dengan sebelumnya. ada sedikit hangat dari nadanya berbicara, dia tak berharap perubahan Sehun karena dirinya. tapi mengetahui sedikit perubahan itu tak pelak membuatnya senang.

"Senyumlah Sehun, akan kubuatkan sarapan."

"Jangan mengaturku."

Jongin terkekeh lagi, dia merasa lebih gila karena dengan mudah melupakan perihal kemarin. Sehun tertegun beberapa saat melihat raut Senang Jongin. dia tak pernah detail memperhatikan Jongin, tapi jika dilihat dia baru sadar mata Jongin sangat sayu juga jernih dan bibir itu sedikit mengundangnya untuk kembali mencicipi sedikit.

Jongin berbalik mendekati area dapur untuk mulai menyiapkan makanan tapi

BRUGH

"Sehun?!"

"Cium aku."

Jongin mengerjap, kebingungan dengan pribadi Sehun yang out of character. Tapi tak ada waktu.. tatapan Sehun sangat tajam menuntutnya untuk setuju dan wajahnya mereka sangat dekat ditambah Jongin yang menahan nafas saat merasakan terpaan nafas memburu Sehun diwajahnya.

Sehun menyeringai, Jongin mulai waspada..

"Ini salahmu..Jongin."


TBC


Astaga, Aku aku aaaaaastaga apa ini? ini gaje tapi ini spontan aja keluar dari otak jadi kuketik aja yg ada. Smut nya kurang hot ya '-' maaf lho in ya aku masih belajar. Ini buat hunkai luv dan minggu ini sebelum tgl 15 adalah deadline nya. panik dimana, soalnya kuota menipis Ayahku juga gk mau nolong beliin pulsa. *eh?* pacman emotikon keliatan masih manja. hehe..

thanks for reading..