MAKE YOU MISS ME


.

"Se e-ehm, Sehun."

Gugup dan perasaan malu menyelimuti diri Jongin, Hanya karena tatapan Sehun yang seolah menyelami matanya. Sangat dalam hingga rasanya akan ditelanjangi.

Sehun menempatkan sudut wajahnya di dagu Jongin, bernafas sekitar dua hembusan berat yang demi tuhan.. Itu mengejutkan. Nafas itu dirasa Jongin berharap dia bisa menyelinap pergi dari situasi seperti ini. Seperti deja vu, Tubuhnya yang dihimpit Sehun saat ini tak jauh berbeda dari apa yang terjadi kemarin malam. Bedanya tak ada rasa takut.. Meskipun ada, hanya sedikit dan lebih didominasi perasaan yang menyenangkan.

"Apa kau tuli? Mana ciuman-ku?"

"U-uh, itu.. Itu."

Sehun memperhatikan wajah Jongin dari posisinya sekarang. Dia tak mengerti dengan tubuhnya, hanya tergerak secara naluri. Jujur, dirinya pun terkejut mengetahui dirinya sedikit 'melembut' pada makhluk jelek di depannya ini. Tapi sekali lagi, hanya semalam kemarin.. Mana mungkin itu bisa mengubahnya? Tidak. Pasti tidak.

"Hey, Bitch?"

Jongin menatap takut Sehun yang sudah menjauhkan wajahnya, suara itu mengingatkannya lagi pada alarm merah. Sehun sendiri terdiam beberapa saat,memperhatikan ekspresi apa yang dikeluarkan orang ini. Sesuai dugaannya, Jongin pasti ketakutan.

"Y-ya?"

"Mana ciumanku?"

Jongin kembali menatap bingung pemuda pale itu mendengar nada hangat terselip disana lalu berkedip cepat. Sehun mendekatkan wajahnya, mulai memiringkan lalu..

Kis—

Tidak, Sehun membuat jarak sekitar 3 cm dari bibir yang mencandunya sejak semalam. Jongin masih memejamkan matanya, tanpa sadar dia melewatkan senyuman tipis dari pemuda berkulit pale tetangga nya.

Srett

"Hyung, aku lapar. Buatkan aku sesuatu, seperti sup ikan misalnya. Argh, terserahlah."

Jongin membuka mata terkejut, dia berkelilibg mencari Sehun. Tapi yang didapatinya Sehun sudah berbelok ke arah balkon.

Sekali lagi pemuda yang sudah tidak bermarga itu terdiam menatap kosong kedepan. Telinganya tak mungkin salah mendengar..

Sehun.. Sehun..

Apa dia boleh berharap kali ini?


Sudah semenjak lima belas menit yang lalu, Jongin membuka tutup laci dan lemari es. Percuma, tak ada ikan atau daging bahkan secuil bawang juga tidak tersedia. Jongin meringis kecil, mendengar Sehun membanting sumpit di meja makan belakang punggungnya.

Sehun ikut membuka bahkan merasa ingin menghancurkan dapur Jongin. Menyerah, yang benar saja. Tak ada apa-apa disini. Sial. Dia pun akhirnya menatap Jongin disampingnya jengah, Yang ditatapi seperti itu kehilangan kontrol diri hingga bertindak aneh.

"Aa-aku belikan sesuatu."

DUGH!

Jongin berlari hendak keluar apartemen tapi tertahan kaki panjang Sehun yang tiba-tiba ada didepannya menghimpit Jongin diantara dinding dan lemari kayu.
Tanpa menunggu lagi, Jongin segera melayangkan tatapan bingung tapi sekali lagi dia harus meringis ditatapi Sehun datar.

"Lupakan saja. Sudah tidak lapar."

"A—tapi eh?"

Jongin mengerjap lucu saat Sehun melenggang pergi seenaknya. Setelah Sehun pergi, tubuh Jongin merosot ke lantai begitu saja lalu menatap kosong kebawah.

'Imut..'

Ini mungkin aneh, tapi prilaku Sehun hari ini.. Oh god, He's too cute. Kedua alis Jongin saling bertaut namun seulas senyum senang di bibirnya kian melebar. Plak, Jongin menutupi wajahnya dengan telapak tangan lalu mengglengkan kepala sangat cepat dan berulang.

Astaga itu—itu.. Sangat manis.

"Ahh sial-sial sial.."

Rutukkan itu deras meluncur keluar dari mulutnya, tak ada nada kesal melainkan nada gemas mengingat sesuatu. Jongin ingin sekali memeluk Sehun tadi jika tidak ingat bahwa dirinya akan ditendang Sehun. Ah yang benar saja.. Mungkin dia terlalu berlebihan. Tapi siapa peduli? Dia merasa jatuh hati kesekian kalinya pada Sehun.


Sehun melirik jam dinding, setengah tujuh malam dan dia masih enggan untuk pulang. Di tubuhnya juga masih melekat seragam sekolah lengkap dengan dasinya. Hanya perasaannya saja atau apapun itu terserah, apartemen jauh lebih nyaman dari miliknya. Walaupun rusak dimana-mana, setidaknya disini bersih dan sejuk bukan pengap karena banyaknya barang. Semua tertata rapi dan teratur hingga banyak ruang kosong.

Lima meter dibelakangnya, terdengar bunyi derit pintu. Tanpa menoleh pun dia tau, itu Jongin. Langkah kecil pemuda yang lebih tua darinya bahkan bisa didengarnya dengan jelas.

"Se-em.. Sehun?"

Panggil Jongin ragu tak membuatnya mau sedikit bergeming. Sehun hanya membalas dengan deheman rendah seperti biasa, tanpa terasa membuat Jongin menunduk.

"Kau tidak pulang?"

"Kau mengusirku?"

Jongin menggeleng gelagapan mendengar suara sanksi Sehun. Mungkin harusnya dia diam saja, bagaimana kalau Sehun membencinya lagi?

"M-maaf."

Handuk putih kecil teremas tangan tan Jongin tanpa sadar, dirinya membungkuk cukup lama agar Sehun memaafkannya. Tapi Sehun hanya mencuri pandang sekali setelahnya dia beranjak dari sofa.

Puk puk

Jongin tak berani mengangkat kepalanya seinchi pun, tangan besar Sehun menepuk pelan kepalanya seolah mengartikan sesuatu. Rasanya sangat mendebarkan sekaligus mengejutkan.

"Sebentar, Aku Mandi."

Handuk putih kecil telah berpindah tangan pada Sehun, Jongin berjingkat kedepan mendengar bunyi pintu dibanting tepat dibelakangnya. Detik berikutnya Jongin mundur dan memilih bersandar sebentar di pintu kayu itu. Terkadang sulit memahami Sehun, tapi jauh dari semua ini dia tau Sehun sebenarnya adalah anak yang baik juga manis.

Cklekk

Bruk

"Aw."

Jongin memegangi kepalanya, meringis sakit. Tubuhnya tiba-tiba saja terjengkal kebelakang dengan kepala terbentur ke lantai. Dia mendongak mendapati tatapan datar Sehun, Jongin tertegun. Pemandangan diatasnya sangat.. Urh, bagaimana mengatakannya. Sehun hanya mengenakan celana kain sekolah dan telanjang dada.

"Apa yang kau lihat,idiot?"

"Ah, maaf."

Jongin segera bangun tak mau lagi membuat Sehun marah, dia berdiri tak berani bertemu tatap lagi dengan Sehun. Pemuda pale didepannya berdecak, memperhatikan Jongin yang kian aneh. Dia baru tau, jika Jongin sangat konyol juga bodoh. Bagaimana mungkin dia bisa disukai oleh makhluk seperti ini?

"Pinjamkan aku bajumu."

Jongin menutup mata reflek bersamaan dengan pintu yang tertutup cukup kencang. Mengangkat kepala, menatapi pintu didepannya bodoh. Baju? Oh, eh.. Iya baju.

Jongin segera berlari masuk ke kamar, mencari beberapa baju terbesar yang dia punya. Tapi sepertinya dia harus berbelanja lagi, di kamarnya dia hanya menemukan celana trainning dan atasan hoodie biru. Tak ada kaos, semua kaosnya pasti kekecilan untuk bahu bidang Sehun. Atau Jeansnya, semua itu pasti kurang untuk menutupi kaki Sehun yang panjang. Dia bingung, dirinya yang lebih tua tapi lebih pendek dari Sehun.

Setelahnya Jongin kembali berlari menuju pintu tadi, dia menunggu disamping pintu dengan pandangan menunduk kebawah. Ragu apakah Sehun mau memakai pakaian nya ini. Lama, Jongin menunggu akhirnya dia mengetuk pintu.

"Sehun? Ini ba—"

"Hn, masuk."

'Eh?'

Kepalan tangan Jongin terhenti diudara, matanya berkedip aneh. Dirinya merasa gugup lagi, bagaimana kalau itu terjadi lagi. Ah tidak, Sehun takkan melakukan itu lagi.

Dari dalam, Jongin mendengar Srhun mengumpat keras menyuruh jongin masuk memberikan pakaian. Dengan segera, Jongin pun masuk terburu-buru tapi berhenti di langkah ke empat. Jongin tidak bisa menghentikan matanya untuk tidak menatap Sejun dari atas ke bawah. Rambut Sehun basah, dan airnya jatuh kebawah. Bisa kau bayangkan dia? Jongin ingin pergi dari sini.

Sehun berdecak, merebut pakaian yang dibawa Jongin dan segera memakainya. Jongin melihat itu segera membalikkan tubuh dan berlari keluar. Setelah selesai, Sehun tertawa pelan. Dia juga baru tau, kalau Jongin lucu. Kenapa harus berbalik pergi, mereka kan sama lelaki. Dasar bodoh..

"Makan?" Sehun bercermin sebentar, menyisir rambut nya dengan jari. Pikirannya tiba-tiba saja menuju Jongin dan juga perutnya yang belum makan siang. Sepertinya si bodoh itu harus keluar membeli makanan atau pilihan lain, delivery saja.


"Hyung?"

"Y-ya, Apa? Kau butuh sesuatu?"

Sehun berdecak ketiga kalinya, jelas saja dia membutuhkan sesuatu. Dia melemparkan tatapan datar, moodnya kian memburuk.

"Kau lupa? Aku belum makan."

Jongin mengangguk, berpikir dia harus melakukan apa. Dia akan beranjak dari sofa jika bukan Sehun yang langsung duduk disampingnya dan secara mendadak menindihnya. Sehun menghiraukan tatapan lucu Jongin, Tangannya terjulur meraih gagang telepon.

"Se—"

"Diam, kau mau makan atau tidak hah?

Jongin mengunci mulutnya, Sehun galak sekali. Tak ada perubahan rasanya. Ini itu pasti Sehun menyalahkannya. Posisinya saat ini sudah pasti membuatnya menatap lurus pada Rahang dan leher Sehun. Dia tersenyum, Sehun mungkin sering meminum susu kalsium tinggi. Jakun nya tumbuh sangat cepat dan rahangnya terlihat kuat.

"Sehun, kau mau pesan ap—Hahh? Ahm."

Jongin menutup bibirnya kala sesuatu mengejutkan terjadi dibawah sana. Matanya menangkap seringai tipis Sehun yang meliriknya sesekali. Sesuatu itu kian bergerak berputar dan menekan keatas.

"Hh..Nghh."

Jongin ingin melengguh, tapi tidak. Sehun sedang memesan makanan, dia tak mau pegawai di telepon itu mendengar suara nya yang memalukan. Tapi.. Tapi kenapa lutut Sehun terus menggoda miliknya. Ino terlalu..

"Ha–ahh, hngh."

Jongin menggeliat melepaskan diri, karena saat ini lutut sudah berganti dengan tangan besar Sehun. Tangannya melepas ziper celananya cepat bahkan sebelum disadari Jongin sendiri.

"Satu paha ayam, dua cola, dua dada ayam."

Tangannya menemukan sesuatu dibalik celana yang dipakai Jongin. Lebih kecil dari miliknya, tapi cukup pas digenggam. Kh, apa benar ini penis lelaki? Sehun menyeringai sambil merendahkan wajahnya. Menjilat sekilas bibir atas Jongin lalu kembali fokus bertelepon. Tapi berbeda dengan pria yang dibawahnya. Jongin sudah bergerak, menggeliat, atau bahkan berontak. Tapi sensasi dibawah sana lebih dulu melemahkan setiap sendi di tubuhnya.

Tangan Sehun meremas kepemilikan Jongin, lalu mengurutnya. Dia ingin mendengar lengguhan bahkan desahan Jongin lagi. Setelah semalam, Sehun mengerti jika dirinya kecanduan tanpa sadar. Bibir Jongin dan ya.. Ini salah Jongin.

Gagang telepon itu sudah ada ditempatnya, kini Sehun dapat terfokus penuh pada 'hidangan pembuka' dibawahnya. Badan Jongin bergetar dengan tempo yang menyenangkan. Dia hampir datang tapi Sehun berhenti. Sungguhan, ini menyebalkan.

"Hahh! A-ah?"

"Suka dengan yang kulakukan? Kau terlihat murahan. Apa kau sudah tidak virgin, hyung?"

Tanya itu terlihat sangat lancar diucapkan Sehun, tanpa memerhatikan perubahan emosi di wajah Jongin.

"Kau kasar sekali.."

Jongin merajuk pada Sehun tapi sekarang tersenyum, dia melupakan libido nya dan mengenyampingkan rasa tersinggungnya pada perkataan Sehun. Mungkin ini saatnya dia bercerita agar Sehun berhenti salah paham tentang lingkaran masalah ini.

"Aku masih Virgin? Em, Mungkin?"

Nada ragu itu membuat Sehun sepenuhnya berhenti, dia kini hanya tetap terdiam memperhatikan seksama kedua mata Jongin.

Jongin tertawa pelan, mengusak halus surai Sehun. Dia menerawang jauh ke beberapa tahun lalu.

"Aku menyukai pria, lalu mengatakannya pada ayahku lima tahun yang lalu."

"Kau gila."

Sehun menyingkir dari atas tubuh Jongin, dan wajah Shock Sehun tidak dapat disembunyikan lagi. Orang ini benar-benar tidak waras, jika Sehun jadi Jongin. Dia takkan pernah mengatakan itu pada ayahnya. Tapi Jongin justru tertawa semakin lambat, seolah gurauan yang dibuatnya sendiri sudah garing. Dia pun ikut duduk.

"Tidak, tentu saja harus. Dia orang tuaku, mereka harus tau apa yang salah dengan ku atau bahkan orientasi seksual pribadi ku." Sehun terdiam, sekali lagi Jongin mengejutkannya. Satu sisi lain ditemukannya, Jongin cukup dewasa. Dia ingin tersenyum tapi lain kali saja—memalukan.

"Aku diusir dan berakhir seperti ini, bekerja di klub itu dengan bayaran tinggi sekarang bukan secara instan. Aku bekerja keras setiap harinya, asal kau tau."

Jongin kembali tertawa tanpa beban, seolah semua masalahnya sudah terbuang. Dia menghela nafas berat lalu tersenyum kecil pada Sehun disampingnya.

"Meski begitu, trauma ku belum juga sembuh."

Sehun mendengar kata trauma dari Jongin merasa bingung, sebenarnya dia belum mengerti pribadi Jongin. Sampai sekarang, baginya Jongin tetap menjijikkan, aneh dan idiot mengingat usaha keras Jongin mengikutinya kemanapun. Tak ada dalam diri Jongin yang membuatnya berubah argumen.

"Kau belum mengerti ya? Tidak apa, hidup akan membuatmu belajar nanti hihi."

Jongin merapikan pakaiannya, lalu berdiri segera. Dia berjalan mendekati pintu apartemen kemudian menatap Sehun untuk memberitahunya agar mendekat. Sehun tidak beranjak, hanya duduk dan menunggu saja. Bel dari luar terdengar, mungkin pesanan mereka sudah datang. Lumayan cepat untuk layanan pesan antar.

Jongin membuka pintu, tersenyum ramah menerima makanan mereka. Setelah membayar, dia menutup pintu. Jongin berseru cukup keras, mengatakan dia sangat menyukai ayam.

Sehun di tempatnya hanya diam tapi matanya tak berhenti untuk mengikuti setiap ekspresi yang dikeluarkan Jongin. Dasar pria aneh, bagaimana bisa dia tersenyum begitu lebar setelah membuka aib nya pada Sehun yang notabene nya orang yang disukai.

Yah, Jongin memang aneh.

Tapi dibalik kanehan itu, Sehun mulai mengagumi dewasanya pribadi Jongin. Mungkin tidak harusnya dia mengecap jelek seseorang sebelum sepenuhnya mengenal.

"Sehun?"

Jongin mengintip dari pintu dapur, dilihat nya Sehun yang sedang duduk sila depan televisi menonton acara komedi. Tapi meski begitu, sedari tadi Jongin tak mendengar satu kali pun suara tawa Sehun. Saat dihampiri, Jongin memilih duduk disampingnya menghadap Sehun.

Mata Sehun benar memperhatikan acara TV tapi seperti melihat jauh. Jongin mengira Sehun pasti kelelahan hingga melamun seperti ini. Pemuda tan itu mendekatkan diri, memberanikan hati untuk mencoba memulai. Tangannya terulur, tapi terhenti di udara saat mata Sehun yang tajam bergulir padanya.

"Apa?"

"T-tidak."

Jongin menggeleng kaku, dia menarik tangannya kembali. Dia menoleh kebelakang mencari jam dinding, ukh tepat jam 10 malam. Kenapa Sejun tidak juga kembali ke apartemennya?

Sehun ikut memperhatikan, dia sadar ini sudah hampir tengah malam. Tapi sial sekali jika dirinya sangat nyaman disini. Kembali keapartemennya yang dingin dan gelap sejujurnya membuat dia berpikir dua kali.

"Sehun, kau tidak pulang?"

"Kau mengusirku lagi?"

Jongin menggeleng cepat, lalu menunduk lesu. Sepertinya semua yang dilakukan dan diucapkannya selalu salah dimata Sehun. Ukh menyebalkan.

Sehun tersenyum samar, lucu juga melihat tingkah Jongin seperti ini. Manis. Eh?

"Boleh menginap?"

Jongin mengangkat kepalanya cepat, dia melotot menatap Sehun terkejut. Dengan gagap dia bertanya lagi, Dan Sehun mengangguk final.

Sebenarnya Sehun ingin tertawa, wajah panik Jongin sedikit banyak sudah menghiburnya. Ekspresi nya seribu kali lebih lucu dari Kyungsoo—teman sekelasnya.

"T-tapi.. Sehun. S-sehun Ini.. Tapi."

"Haha.."

Sehun menunduk menyanggah kepala, dia akhirnya tertawa setelah kalimat random diucap Jongin. Pemuda pale itu terus tertawa, tidak menghiraukan kedipan-kedipan bingung Jongin. Acara tv didepannya bahkan terasa hambar dibanding Jongin.

Berbeda dengan Sehun, Jongin mengernyit memperhatikan bagaimana cara Sehun tertawa. Hatinya menghangat, kian berdetak cepat mendengar suara berat Sehun tertawa. Raut senang Sehun membuat Jongin ikut tertawa pelan. Hanya sekedar reflek bahagia melihat orang yang kau suka tersenyum, secara otomatis hal yang sama akan terjadi padamu.

Jongin berharap malam masih panjang, berharap hari ini bisa terjadi setiap hari. Dia ingin Sehun tersenyum karena nya. Dia tak mau Sehun terus membenci nya. Jongin sadar, kesukaannya pada Sehun sangat lah besar. Penyimpangan dirinya ini mungkin kesalahan tapi entah bagaimana Tuhan membuatnya bahagia karena ini.

"Hyung?"

Jongin berhenti melamun, dan memfokuskan diri pada Sehun. Tapi kemudian menunduk cepat, saat pandangan mereka bertemu. Sehun tak bisa menahan diri untuk tersenyum. Pemuda pale itu bergerak merangkak hingga dengan mudah dapat menindih Jongin dibawah kungkungannya.

Kedua tangan Jongin pun sudah siap menahan dada Sehun untuk mendekat. Mata Jongin bergerak panik melihat sebuah senyuman aneh milik Sehun. Dan Jongin tidak bisa tidak terpejam erat saat Sehun dengan tiba-tiba mendekatkan wajah nya.

Dalam jarak sedekat ini, Sehun dapat melihat bagaimana garis bibir penuh milik Jongin. Dia tanpa sadar menjilat permukaan bibir bawahnya sendiri. Candu yang dilupakannya mungkin datang lagi. Dia juga mulai bernafas berat, entah bagaimana ia ereksi dibawah sana.

"May i kiss you?"

Mata Jongin terbuka, mendapati Senyum mempesona Sehun. Seakan tersihir Jongin hanya terdiam memperhatikan Sehun.

"I'll Kiss you, Can i?" Sehun bertanya lagi, dan Jongin tak bisa mengatakan apapun.

Apa yang harus dilakukannya?


TBC


Hyaaaaa aaaakh! i luv this chapppppp

mian kakak, aku telat update. Ya tau kan, awal tahun pelajaran tentu banyak tugas sama kewajiban baru #Alasaaan #plak . Sekarang aku ada ulangan harian matematika. Tolong doanya ya semoga dapet nilai bagus buka kkm mulu. U,u
Btw, Jongin kayak punya beberapa kepribadian ya? Atau Sehun yang plin-plan.
Khusus Sehun aku sengaja bikin plin-plan krn masih sekolah masih labil pula. Hehe.

pendek ya? blank soalnyaa hehe lain kali tak panjangin