Wonderland

.

.

.

.

.

.

Disclaimer: Masashi Kishimoto

.

.

.

.

Sakura POV

Aku bersiap-siap untuk pergi bersama Ino menuju tempat yang masih dirahasiakan wanita itu. Ino hanya mengirimkan pesan yang bertuliskan kalau aku berkewajiban untuk mengantarnya ke suatu tempat dan kami akan pergi untuk berbelanja setelahnya. Hanya itu.

Ino dan aku ada di bawah naungan agensi yang sama. Setelah tiga tahun memapaki dunia model, kami memiliki ikatan pertemanan satu sama lain yang cukup erat. Hanya Ino yang selama ini mengerti betul bagaimana kehidupan percintaanku yang selama ini digosipkan media yang tidak-tidak.

Saat aku keluar pintu dan pergi menuju garasi, aku melihat Ayahku mengumpat dan dia sedang berbicara agak marah dengan Sasori. Aku tidak tahu apa yang membuat perasaannya berantakan hari ini. Biasanya, Ayah memiliki pekerjaan yang terlalu banyak atau mendengar ocehan Ibuku yang berlebih di pagi hari cukup membuat darah tingginya naik dan ia melampiaskannya pada anak pertamanya.

"Sakura, tidak bisakah kau membuang truk tuamu itu?" seru Ayahku ketika aku mendekat dan berpura-pura tidak melihat mereka.

Aku mendesah berat, bergerak mendekati truk kesayanganku dan memeluknya. "Tidak. Salahkan Sasori yang memberikan ini ketika aku berulangtahun ke tujuh belas waktu lalu."

Sasori memutar matanya dan terlihat tidak suka dengan jawaban yang aku berikan. Kedua tangannya berada di pinggang, ia menatap truk milikku dengan datar dan bergantian pada mobil lain yang terparkir bersama trukku.

"Ini tidak semudah yang kau lihat, ini menjijikan, Sakura," Sasori berdecak ketika aku melayangkan tatapan marah padanya. Aku mendengus dan kemudian berdiri untuk melihat deretan mobil bagus lain yang terparkir di samping truk milikku.

"Aku punya satu mobil mewah dan satu truk. Kenapa kalian tampak marah?"

Ayahku mendesah sembari memegang pelipisnya. Dia akan mati muda jika terus seperti ini. "Aku berpikir untuk membuangnya. Lihatlah, ini tampak mengotori garasi indahku."

Aku memutar mataku dan Sasori tampak mengulum senyumnya. Ia terlihat setuju dengan kata-kata Ayahku kali ini.

Aku mengambil langkah mendekati mobil mewahku. Memindahkan peralatan dari dalam truk ke dalam jok belakang mobil. Ino bilang, ia akan membawa mobil sendiri dan kami bertemu di persimpangan jalan New York satu jam dari sekarang.

Sasori terlihat terkejut ketika aku memindahkan senjata laras panjang ke dalam jok belakang. Ia masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Dan yang bisa ia lakukan hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkahku.

"Aku pergi!" Aku mencium kedua pipi Ayahku dan bergantian mencium pipi kanan Sasori yang dibalas dengan pukulan ringan di bahuku. Ini yang biasa ia lakukan jika kami dalam proses persaudaraan yang baik. Jika tidak? Jangan harap aku bisa lolos tanpa meninggalkan bekas di tubuhku.

.

.

"Kau tidak bilang kita akan pergi kemari. Kau sengaja?" Aku melangkah hendak masuk ke dalam mobil lagi jika Ino tidak menarik tanganku dan memaksaku masuk ke dalam dengan wajah marah.

"Hei, Sakura. Aku harus benar-benar bertemu dengan Uchiha Itachi. Apa kau tidak mau menemaniku?" Ino mulai tampak menyebalkan saat ini.

Aku berdecak sebal dan hanya bisa mengunci bibirku rapat-rapat ketika kami menginjakkan kaki ke lantai sialan gedung milik Uchiha. Ini adalah kali pertama aku datang setelah sekitar enam belas tahun aku tidak pernah lagi melihat wajah menjijikan dari putra sang miliyuner Uchiha Fugaku.

Sang sekretaris tampak tidak suka melihat kedatangan kami. Tentu saja, mereka mengenal dengan baik siapa kami. Aku tidak ingin menambah masalah yang justru membuat kepalaku semakin pusing.

Kami diberitahu untuk pergi ke lantai empat puluh dimana ruangan Uchiha Itachi berada. Aku berharap Ino hanya bertemu dengannya selama lima menit lalu aku bisa pergi dari sini secepatnya.

Ini tidak semudah yang dia pikirkan. Atau ini hanya jebakan? Kurasa Ino tidak berpikir sejauh itu untuk menyakiti hatiku. Ia memang terkenal jahil, tapi ia tidak pernah bermaksud untuk menyinggung perasaanku atau yang berkaitan dengan masa laluku.

Dan beginilah kami. Terdampar di depan sebuah pintu utama yang bertuliskan nama Uchiha Itachi dengan tebal dan jelas. Aku bersandar pada tembok di sana. Kami berada di koridor lantai empat puluh dimana tidak hanya ada ruangan Uchiha Itachi saja di sini.

Kalian tahu siapa yang menempati lantai ini selain Uchiha Itachi? Tebak sendiri kalau begitu, okay?

.

.

Sasuke POV

"Mungkin kau hanya memanipulasi kami hanya karena kau tidak ingin dijodohkan dengan Karin," Konan berbicara setelah memakan separuh dari kentang rebus berlapiskan keju bakar yang dipesannya.

Sai tampak tidak tertarik dengan pembicaraan kami karena ia tahu betul apa yang sedang kumainkan saat ini. Dan Itachi yang biasanya paling hiperaktif diantara kami terlihat tidak ingin membahas hal itu lebih lanjut.

Konan tertawa kemudian. "Haha. Jangan konyol, Sasuke. Kau tidak akan selamat dari Mama."

Aku mengangkat alisku. Meresponnya dengan sebuah delikan tajam dan Konan hanya bisa tersenyum masam. Ia terlihat tidak mau berdebat lebih jauh lagi.

Sedangkan aku sendiri masih berpikir bagaimana caranya agar aku bisa bertemu Haruno Sakura secepatnya dan membicarakan ini dengan bertatapan langsung padanya. Dan juga … ada beberapa bagian dimana aku tidak mengerti dengan semuanya.

Ia terlihat benar-benar wanita idaman kaum adam seperti kami. Aku tidak bisa melepas pandanganku dari majalah sialan itu ketika dirinya yang menjadi model majalah itu.

Ini sangat berbeda dengan apa yang terjadi saat kami masih kecil dulu. Aku menyebutnya begitu, aku sudah menganggap diriku besar dan ia masih anak-anak. Anak perempuan menyebalkan yang berwajah jelek dan bertubuh besar bagaikan galon penyimpanan air milik Ibuku.

Kami tumbuh bersama di Alabama. Seingatku, Sakura berasal dari Midwestern dan pindah ke Alabama karena pekerjaan orang tuanya yang membuatnya harus angkat kaki dari tanah kelahirannya dan pindah ke Alabama untuk beberapa lama.

Aku terlahir di kota klub besar, Las Vegas. Ayahku senang berjudi semasa muda dulu. Ibuku yang menceritakan ini padaku saat aku mulai tumbuh dewasa. Ia menceritakan bagaimana kerasnya kehidupan mereka sebelum mereka bisa menikmati arti hidup yang sesungguhnya.

Semua kebutuhannya kini tercukupi karena finansial mereka menunjang semuanya. Ibuku lebih sering bergabung pada acara sosial dan menenggelamkan diri disana bersama kalangan sosialitasnya ketimbang menghabiskan waktu dirumah seorang diri dan mati disana tanpa melakukan apa-apa.

Kami pindah ke Alabama karena Ayahku sempat menjalani rehabilitasi disana karena desakan Ibunya sebelum meninggal karena sakit dulu. Ibuku dengan senang hati membawa Ayahku pergi ke Alabama untuk berobat dan menyekolahkan aku dan Itachi di sana sampai umur kami genap sepuluh tahun.

Lalu, setiap satu minggu sekali Naruto dan Sai akan datang berkunjung dan menginap selama beberapa hari untuk menemaniku yang kesepian dan butuh teman. Selama musim panas, Ibuku selalu membuat acara perayaan di taman belakang rumah untuk kami semua agar tidak bosan dan selalu mengeluh tentang Alabama yang jauh dari perkotaan.

Dan ya kalian tahu? Aku hampir saja membakar rumah tetanggaku karena mereka selalu menyalakan musik ballad setiap malam dengan keras dan berhasil membuatku tidak bisa tidur. Hingga suatu malam ketika mereka sedang memutar musik itu, aku menyalakan korek dan melemparkan tiga buah petasan lempar yang Sai belikan padaku ketika ia berada di Las Vegas.

Menyenangkan bukan? Semenjak itu mereka tidak berani mengusikku lagi. Bahkan Ibuku yang notabene membenci anaknya membuat ulah malah berbalik dan mendukung perbuatanku yang nakal. Menarik sekali.

.

.

"Aku merasa kalau Hana harus dibimbing oleh orang lain untuk menyempurnakan proses pertumbuhannya. Aku benar-benar tidak bisa menjalaninya."

Benar 'kan kataku? Konan mengalami krisis percaya diri yang sedang tidak stabil. Terkadang ia terlalu menggebu-gebu untuk melakukan segalanya dan terkadang ia berubah putus asa dan frustrasi dengan apa yang dia lakukan.

"Halo, aku pernah mengajukan diri untuk mengajak Hana tinggal bersamaku. Tapi kalian malah memolototiku." Jawabku yang diberi delikan tajam Itachi. Tapi sekali lagi, itu tidak berguna.

Konan tampak putus asa dan wajahnya terlihat sangat pucat dan tidak bersemangat. Ini berbeda sekali dari Konan sepuluh menit yang lalu ketika ia dengan gembiranya mengejek dan menghina diriku di depan teman-temanku.

Itachi mengambil tangannya, menggenggamnya dengan erat seakan ada gempa yang siap menghantam kantin ini dan memisahkan mereka berdua dalam sekejap. Ini membosankan.

Sai hanya bisa menggelengkan kepalanya ketika aku menoleh ke arahnya. Ia terlihat bosan di sini. Sejak tadi yang ia pikirkan hanyalah bagaimana ia bisa bertemu dengan Yamanaka Ino dan mengajaknya ke tempat tidur.

Oh, maksudku mengajaknya berkencan.

"Jangan begitu, Sayang," aku memutar mataku dan menyesap lemon dinginku dengan keras melalui sedotan. "Kau adalah panutan yang baik untuk putri kita."

Sekedar informasi untuk kalian. Itachi bergabung di klub The Dark Side bersama Ayahku. Kalian tahu apa itu? Klub yang aku buat dimana para lelaki menjadi lemah dan tidak berdaya di depan wanita yang mereka cintai atau sekiranya begitu. Mereka dengan sangat mudah bertekuk lutut dan menyerah. Menerima dengan lapang dada apa yang akan dilakukan oleh sang wanita dengan penuh cinta dan kasih sayang.

Aku membuatnya, tapi aku tidak ikut bergabung ke dalamnya. Itu menjijikan. Ayahku selama ini terlihat menyeramkan dan tidak begitu bersahabat. Tapi jika ia melihat Ibuku yang mengamuk dan melemparkan sendok makannya, Ayahku akan bertekuk lutut dan menangis agar Ibuku tidak melakukan hal lain yang membahayakan mereka berdua.

Benar 'kan? Dan Itachi juga melakukan hal yang sama jika Konan dalam masa-masa tertentu. Seperti yang terjadi di awal bulan dan yah, Itachi dengan lapang dada dan penuh kesabaran menikmati semua perlakuan istri tercintanya dengan senyuman yang merekah di bibirnya ketika Konan sering melemparinya dengan benda-benda di sekelilingnya.

Ini menyeramkan. Aku berharap tidak bergabung bersama mereka selamanya.

Sai mendesah. "Jika Konan adalah Ino, mungkin aku akan melakukan hal yang sama."

Aku memutar mataku untuk memandangnya. Sai benar-benar mabuk dengan pesona seorang Yamanaka Ino. Lihatlah! Ia akan menjadi anggota terakhir yang bergabung bersama Itachi di klub nyata itu.

Selamat, bung. Kau akan tahu bagaimana pahitnya The Dark Side yang sebenarnya.

"Aku tidak bisa meninggalkan pekerjaanku. Tapi jika Hana terluka, aku akan langsung pergi untuk menyelamatkan putriku." Lirih Konan dengan mata berkaca-kaca.

Aku mendorong piringku dan meminum sebotol anggur. "Jangan terlalu banyak menonton drama, Konan. Itu tidak baik," sahutku.

Konan melemparkan tatapan sinisnya padaku dan aku hanya bisa membalasnya dengan senyuman manis. Aku sudah bilang pada kalian, aku siap berperang hidup dan mati melawannya. Konan lebih menyeramkan dibanding kakakku sendiri.

.

.

Itachi melirik jamnya. Ia langsung beranjak ketika ia memberitahu kami kalau ia memiliki janji dengan seseorang. Sai ikut berdiri dan aku mau tak mau harus segera pergi dari sini. Aku tidak terbiasa makan seorang diri di kantin kantor. Terasa membosankan tanpa seorang teman yang menemani.

Konan masih setia bergelayut manja di lengan suaminya. Aku dan Sai hanya bisa melihat tingkah membosankannya dari belakang. Mereka sering sekali pamer kemesraan di depan para pegawai seolah memberi pelajaran bagi mereka yang berani bermain mata dengan suaminya.

Ketika kami naik ke lantai atas, perasaanku sedikit tidak enak. Aku tidak tahu siapa tamu yang akan ditemui Itachi hari ini. Tidak mungkin Ayahku. Ia akan memberitahu kami sebelumnya ketika akan berkunjung.

Saat pintu lift terbuka. Aku melihat sosok Yamanaka Ino yang bersandar pada tembok dengan rambut pirang panjangnya diikat ekor kuda. Dan tunggu dulu …

Haruno Sakura ikut menemaninya? Sial. Aku sepertinya terlalu banyak minum anggur sampai melantur begini.

Wajah Sai yang semula tidak bersemangat langsung berseri-seri ketika ia melihat Yamanaka Ino tersenyum dari kejauhan. Yah, meskipun senyum itu bukan untuknya, tapi Sai merasa kalau senyuman itu untuknya.

Jatuh cinta memang menyebalkan.

"Halo, Ino, apa kau menunggu lama?" tanya Itachi basa-basi.

Ino menggeleng dengan senyum. Aku melihatnya menyikut wanita berambut merah muda yang sengaja membiarkan rambutnya terurai indah begitu saja dan sial, aku mendapati diriku sendiri tidak bisa berpaling darinya. Dia benar-benar nyata.

"Halo, Sakura." Sapa Itachi.

Sakura hanya membalas dengan anggukan dan membiarkan Ino pergi bersama Itachi. Meninggalkan aku, Sai dan Konan dalam kebisuan yang terasa menyakitkan. Aku berulang kali melirik Sakura yang tampak tidak tertarik ketika melihatku. Setidaknya, ini pertama kali pertemuan kami setelah sekian lama tidak berjumpa.

Konan menggelengkan kepalanya tidak percaya. Tetapi ia tersenyum lebar. "Haruno Sakura? Apa itu benar-benar kau?"

Sakura terlihat terkejut, namun ia menyembunyikannya dengan baik. Ia sama sekali tidak melihat ke arahku. Bagus.

"Tentu saja, Konan. Apa kabar? Bagaimana keluargamu? Apa mereka masih di Alabama?" tanya Sakura.

Konan mengganguk dengan senyum. Ia tampak bahagia ketika melihat wajah Sakura yang terlihat sangat sempurna. Sangat berbeda dari wanita itu ketika berusia lima tahun.

"Aku sangat terkejut. Untuk apa kau datang kemari?"

Sakura memutar matanya. "Ino memintaku menemaninya," jawabnya singkat. Matanya beralih menatap Sai yang melemparkan senyum samar padanya dan Sakura hanya membalas dengan anggukan kecil.

Jadi, ketika iris hijau berkilau itu beralih memandangku dan seolah aku terhipnotis dengan mata itu, aku tidak sanggup untuk memalingkan wajahku. Masalahku terlupakan sejenak ketika mendapati senyum yang tidak pernah aku lihat, tergambar di wajahnya.

Konan yang sejak tadi melihat adegan menyenangkan ini hanya bisa mendesah berat. Ia segera beranjak dari tempatnya menuju ruang Itachi setelah berpamitan pada kami.

Pandangan kami terlepas. Sakura menatap Sai dengan pandangan menelisik seolah Sai akan menjadi santapan selanjutnya.

"Sai? Sudah lama sekali. Bagaimana kabarmu?"

Aku tidak mengerti mengapa Sakura hanya menanyakan kabar pada Konan dan Sai. Kenapa tidak denganku?

Sai tersenyum manis. "Aku baik-baik saja, Sakura. Apa kau masih tinggal di Alabama bersama orang tuamu?"

Sakura menggeleng. Dan ini terdengar bagus untukku.

Ia sempat melirikku, namun sebuah senyum simpul ia berikan untuk Sai. "Itu akan tetap menjadi rahasia, Sai. Jangan buat aku bicara di sini."

Lihat 'kan? Sekarang Haruno Sakura berubah menyebalkan. Sangat menyebalkan. Ini akan menjadi lebih sulit dan Ibuku dengan sukarela akan memberikanku pada macan putih kesayangan mereka untuk dijadikan makan malam jika aku masih menolak perjodohan ini karena membohongi mereka semua.

Atau dia akan menendang bokongku keluar dari rumah mewah mereka untuk selamanya.

Penampilan Sakura hari ini terbilang sempurna. Seperti yang dilakukan kebanyakan model lainnya, ia memakai pakaian yang bagus untuk menyempurnakan penampilan dan bentuk tubuhnya. Dia benar-benar ideal untuk masalah ini. Karin akan langsung mundur menjauh dari kehidupanku karena ia kalah telak dengan Sakura. Tapi yang masih menjadi masalah adalah aku yang tidak bisa melakukan apa-apa ketika berada di dekat wanita ini.

Pintu ruangan terbuka dan Yamanaka Ino dengan anggunnya keluar dari ruangan Itachi. Senyum yang tadi ditampilkan wanita itu tidak lagi ada. Sakura yang sejak tadi terlihat tidak berselera bergabung dengan kami tampak lega ketika Ino datang dan menghampirinya.

"Uhm, bolehkah aku meminta nomor ponselmu?" Sai berkata dengan suara yang cukup keras dan berhasil merebut perhatian kami semua.

Aku mengangkat alisku, ingin tahu bagaimana reaksi Yamanaka Ino untuk hal ini. Maka, ketika wanita itu tersenyum dan merobek kertas dari dalam tas kecilnya. Aku merasa kalah dan menyedihkan.

Ayo bung, jangan tertawakan aku.

Sai tersenyum lebar dan semakin lebar seiring langkah Yamanaka itu semakin menjauh. Dan wajahnya yang penuh berbinar kebahagiaan tampak terlihat menyedihkan di mataku. Dan Haruno Sakura yang sejak tadi diam saja, tampak tidak tertarik dengan apa yang terjadi. Dia benar-benar berubah.

Saat pintu lift menutup sempurna, suara desahanku yang keras bisa membuat Sai kembali sadar dari zona kebahagiaan menggebunya dalam waktu singkat. Ia memandangku dengan wajah sedih sekaligus prihatian dalam waktu bersamaan.

"Ada dua alasan mengapa Sakura tidak ingin dekat-dekat denganmu," Sai mulai bersandar pada tembok lorong, "satu; karena dia punya kekasih dan mungkin mereka akan segera menikah," aku mendesah dalam ketika Sai yang terlihat yakin itu membuat semangatku runtuh. Aku terlihat sangat menyedihkan sekarang. "dua; dia membencimu karena kau sering mengejeknya dulu."

Dan diantara salah satu alasan itu, aku berpikir kalau alasan kedua yang paling tepat dan logis menggambarkan kejadian tadi.

"Aku tidak melihat adanya cincin di tangannya," jawabku sok kuat. "Tapi aku merasa kalau alasan keduamu itu benar-benar akurat." Aku menyerah pada keadaan. Rasanya sedikit mustahil bisa mendekatinya dalam waktu dekat ini. Di saat terhimpit kondisi Ibuku, Sakura yang notabene akan menjadi pahlawanku berbalik menjadi lawanku.

Aku benar-benar akan menangis sepertinya.

.

.

Sakura POV

Ketika aku sampai di rumah dengan perasaan campur aduk tak menentu, aku segera pergi ke kamar dan mencuci muka. Aku benar-benar tidak terkejut dengan apa yang aku alami hari ini. Hanya saja … semuanya terasa rumit.

Aku tidak tahu kalau Uchiha Sasuke sudah bertumbuh dengan pesatnya dan juga perubahan di seluruh bagian tubuhnya yang membuatku bisa menahan napas ketika melihatnya. Dan dari itu, aku menghindarinya. Dikarenakan banyak alasan yang membuatku harus melakukannya.

Mungkin saja dia masih menganggapku sebagai gadis gendut yang menyebalkan dan selalu mengganggunya setiap waktu sampai ia dengan tiba-tiba pindah dari Alabama menuju entahlah, aku tidak tahu.

Mau bagaimana lagi. Aku ini terlahir dengan gangguan metabolisme sejak kecil dan harus melakukan banyak terapi sampai akhirnya dokter menyatakan aku sembuh total dan bisa berlaku sewajarnya seperti anak gadis lainnya.

Dan karena itu Sasuke tidak pernah mau bermain denganku. Ia, Sai dan Naruto suka mengejekku. Menghindariku ketika aku ingin bergabung bermain bersama mereka. Dan yang kudengar, mereka malu jika bermain bersamaku.

Hanya Itachi dan Konan yang mau menerimaku. Meskipun usiaku berbeda lima tahun dari mereka. Setidaknya mereka mau bermain bersamaku. Mengajakku untuk membeli es krim dan cokelat dan makan bersama di bawah pohon apel depan rumah.

Terlalu pahit. Aku menghabiskan masa kecil di Alabama dengan bermain seorang diri disaat Sasori mulai sibuk dengan teman-teman dan sekolahnya. Terkadang Ayah menemaniku bermain dan Ibu juga berlaku hal yang sama. Tetapi lebih sering aku menghabiskan waktu seorang diri untuk bermain.

Menyedihkan. Tapi aku tidak ingin dikasihani.

Ini hidupku dan aku harus terus berjalan maju agar bisa melewati segalanya. Tanpa masa lalu, aku tidak akan menjadi seperti ini sekarang.

Saat aku keluar dari kamar mandi untuk mencuci muka, aku menemukan selembar foto yang terjatuh dari nakas samping ranjang. Aku meraihnya, melihat foto itu dalam-dalam.

Ada Uchiha Sasuke sedang berpose bersama Uchiha Itachi dan Sasori juga bergabung bersama mereka. Sepertinya Konan yang mengambil gambar di sini. Dan lihatlah, Uchiha Sasuke terlihat tampan di sini.

"Menyebalkan." Aku meremas foto itu dan membuangnya ke tempat sampah. Memori tentang dirinya yang terus mengejekku dan melakukan kekerasan fisik padaku membuatku harus menjauhkan segalanya yang berbau dengan dirinya.

"Sakura!"

Sasori membuka pintu tanpa perlu aku menjawab panggilannya. Ia memakai jaket kulit dan kaus polos panjang serta celana jins hitam ketat. Mungkinkah ia akan kencan? Kurasa tidak.

"Apa?"

Sasori tersenyum simpul. "Mari kita bermain. Aku akan mengajakmu pergi bersamaku."

"Kemana?"

Sasori mendengus. "Aku ingin bermain bersama mobil balapku. Ayolah, kau sering sekali menangis agar aku mengajakmu pergi. Ini kesempatan yang bagus bukankah?"

Aku berpikir beberapa saat. Lalu, ketika melihat senyum Sasori yang begitu meyakinkan membuatku luluh. Ini kesempatanku untuk menjauh dari segala kekacauan yang bernama perjodohan. Ibuku mungkin akan luluh jika aku membawa pria tampan nan mapan ke rumah dan ia akan mudahnya membatalkan perjodohan ini.

Ini sangat mudah.

.

.

Sasori membawaku menuju tempat balap bagi kalangan atas untuk dirinya bermain. Aku tidak tahu definisi bermain menurutnya. Sasori sudah memiliki tiga mobil balap yang ia modifikasi menjadi mobil mewah di garasi. Dan ia berniat untuk menambah dua lagi, dan garasi kami akan benar-benar penuh oleh mobilnya.

Orangtuaku tidak pernah memusingkannya. Selama Sasori membeli tidak dengan memakai uang mereka, ini sah-sah saja. Sasori selama ini bekerja sebagai anak emas dari Perusahaan properti milik Ayahku. Dia sudah diwariskan untuk memegang Perusahaan itu selama aku bersikeras untuk menjadi seorang model. Dan aku tidak keberatan. Sasori bekerja dengan baik selama bertugas.

Jadi pada intinya, kami berempat memiliki pekerjaan masing-masing yang menghasilkan finansial sendiri. Ini mudah, aku tidak perlu khawatir akan menghabiskan uang orangtuaku. Mereka selalu memberikanku uang dalam jumlah lebih dan aku selalu menabungnya selama aku tidak menggunakan uang itu. Bayaranku sebagai model tidaklah sedikit. Ini bisa membeli setidaknya dua apartemen untuk diriku sendiri tinggal.

Aku mempunyai satu apartemen di Los Angeles dimana hotel milik keluargaku tidak jauh dari sana. Aku membelinya ketika aku benar-benar butuh udara untuk pergi dari rumah. Hanya membutuhkan waktu satu minggu dan aku kembali pulang karena Ibuku yang menangis merindukanku.

"Kau benar-benar pergi dengan itu?" Iris Sasori mengarah pada trukku. Aku mengangguk dengan senyum dan justru dibalas dengan desahan panjang.

"Untuk apa kau membeli mobil lain jika kau lebih mencintai trukmu?"

Aku mengangkat bahu. "Hanya untuk kesenanganku. Ayolah, truk ini masih terlihat baik, Sasori. Jangan membuatku kesal."

"Mau bagaimana pun juga itu hadiahku," Sasori sedikit bersungut kesal dan membuatku tertawa karena wajahnya yang lucu ketika mengekspresikan kekesalannya. "Kau pergi lima belas menit setelah aku pergi." Perintahnya.

Aku mengangkat alisku, ingin menolak permintaannya namun ia menyuruhku untuk tetap diam dan tidak membantah atau ia mengancam akan merusak segalanya.

Ini menyebalkan. Sasori lebih dulu tancap gas pergi keluar dari halaman dan meninggalkanku bersama truk.

.

.

Sasuke POV

Ini membosankan. Sangat-sangat membosankan. Meskipun aku rutin melakukan hal ini setiap minggunya. Tetap saja membosankan. Tidak ada wanita seksi penjual minuman yang berkeliling dan sesekali menggoda kami para lelaki dengan bokong seksi dan payudara besarnya.

Semenjak peraturan ketat dibuka oleh pemilik arena. Ini terasa menyulitkan bagi kami, termasuk aku salah satunya. Aku merasa sangat bosan dan memilih untuk kembali ke rumah dan bermain bersama samsak milikku.

Memikirkan kalau itu adalah wajah menyebalkan si bajingan ehem kekasih Sakura.

Tapi aku sendiri tidak yakin kalau Sakura benar-benar memiliki kekasih. Hati kecilku yang paling dalam berusaha menolak kenyataan itu keras-keras.

Tapi ketika logika berbicara, aku mempercayainya. Mana mungkin wanita secantik itu tidak memiliki seorang kekasih? Ini konyol. Zaman sudah tidak sekuno dahulu jika wanita cantik hanya boleh dijodohkan oleh orang tua mereka karena laki-laki mana pun tidak akan pantas bersamanya.

Sai datang bersama Naruto dengan dua botol anggur besar untuk menemani kami. Hari ini Itachi akan ikut bergabung dan tentu saja setelah mendapat ocehan panjang lebar dari sang ratu, Konan.

Ibuku tidak pernah memusingkan kedua anak laki-lakinya yang gemar memacu tingkat kelakian mereka di arena balap. Bahkan Ayahku yang notabene tidak menyukai balapan, justru berbalik untuk mendukung kami. Dan hasilnya? Seperti inilah. Kami tidak takut jika memacu mobil diatas rata-rata jika diluar arena. Ini menyenangkan. Jika kami kecelakaan, itu beda cerita.

"Siapa yang akan bertanding?" tanya Sai ketika ia membuka penutup botol anggur dengan tangan kirinya.

"Anak baru mungkin," jawabku asal. "Tidakkah kalian bosan di sini?" Aku melirik satu persatu sahabatku. Mereka hanya mengangkat bahu dan menyesap segelas anggur sembari memandangi mobil-mobil mewah untuk diadu nanti.

Ketika aku menoleh ke arah pintu masuk, aku menemukan Sasori sedang berjalan beriringan bersama Sakura dan Itachi di sana. Sontak aku berdiri untuk menghampiri mereka namun dicegah Sai ketika ia menarik lenganku untuk kembali duduk.

"Jangan lakukan hal bodoh, Sasuke. Sakura muak denganmu," katanya datar. Ia masih tidak melepaskan pandangannya pada mobil mewah yang aku sendiri tidak tahu milik siapa saja di sana.

"Ini tidak seperti yang kau bayangkan, man." Jawabku masam.

Sai mendecih dan Naruto hanya tertawa samar. Mereka menyebalkan. Ini waktuku untuk mendekatinya dan tidak ada waktu luang lagi jika aku sampai gagal mendapatkannya. Ibuku akan beanr-benar mengikatku di gudang bawah tanah agar aku tidak lagi bisa membantah perintahnya.

Aku memandangi pintu masuk sekali lagi. Sakura pergi keluar dan Sasori bersama Itachi masuk ke dalam. Aku mengerutkan dahiku, mengapa Sakura tidak ikut bersama mereka masuk ke dalam?

Sepuluh menit berlalu, Itachi datang bersama Sasori di sampingnya. Mereka menyapaku dan aku membalasnya dengan gumaman. Di samping itu, mereka juga mengambil tempat untuk duduk dan saling berbicara satu sama lain.

Ini kali pertama aku melihat Sasori di sini. Sebelumnya, Sasori tidak bergabung bersama kami. Ia pindah ke klub balap lain dan baru bergabung hari ini bersama kami.

"Sasuke, kau tidak ingin menyapa teman lamamu? Sasori juga tetangga kita, bukan?"

Aku tersenyum dan Sasori membalasnya dengan tawa. Mungkin dia juga merasa dendam padaku karena pernah menyakiti hati adik perempuan yang dicintainya.

"Bisakah kita membeli air putih? Aku benar-benar haus," Naruto bergumam keras di belakangku. Aku menoleh dan mengajaknya turun untuk membeli minuman di kantin dekat pintu masuk. Disana mereka menjual lengkap minuman dingin dengan harga yang terbilang masuk akal juga.

"Hei, bodoh. Kau seharusnya tahu diri untuk tidak membawa truk menjijikanmu itu kemari!"

Aku mengerutkan dahiku sembari memandang Naruto yang tampak bingung ketika mendengar suara teriakan wanita dari halaman parkir.

Suara yang terdengar tidaklah asing. Aku pernah mendengar suara ini. Maka ketika Naruto berlari menuju halaman, aku melihat sosok Karin yang tengah memukul bagian depan sebuah truk merah tua dengan salah satu teman wanitanya bersama wanita berambut merah muda lainnya yang tengah melindungi truk merah itu.

Sebentar…

Merah muda?

"Sakura?"

Aku mendekat dan Naruto mengekoriku dari belakang. Ketika jarak kami tidak terlalu jauh dari mereka, aku mendengar Karin berteriak sekali lagi dan suara teman wanitanya yang tertawa membuatku ingin memukulnya dengan sebongkah batu yang ada di halaman ini.

Ketika terdengar suara pintu truk membuka, aku segera mendekat. Mungkin saja Sakura membutuhkan bantuan dan ia tidak bisa menangani Karin sendirian.

Hei, bung. Aku serius ingin membantunya menjauhkan dari jangkauan si jalang Karin atau dia benar-benar akan mendapat masalah yang serius dariku jika berani melukai Sakura sedikit saja.

"Ya Tuhan!"

Aku benar-benar berlari ke arah mereka. Karin berteriak sangat kencang bersamaan dengan teman wanitanya yang ikut berteriak dan berlindung di balik mobil mereka.

Aku menutup mulutku yang terbuka dan Naruto yang ikut menutup wajahnya ketika pemandangan yang kulihat benar-benar menakjubkan.

Sakura menodongkan sebuah pistol laras panjang ke arah kepala Karin dan wanita itu jelas saja berteriak kencang karena takut peluru dari pistol itu menembus kepalanya.

"Jangan macam-macam, bodoh. Kaupikir kau siapa bisa merusak trukku seenaknya?" Sakura sekali lagi mendekatkan pistol itu ke arah pelipisnya dan Karin masih berdiri bergetar di sana. Yang bisa aku lakukanya hanya diam dan berdoa semoga pistol itu tidak berpindah mengarah padaku.

Seketika aku teringat dosaku pada Sakura di masa lampau. Menghinanya, mengejeknya, melakukan kekerasan fisik hingga wanita itu terluka membuatku tersadar kalau waktu bisa menyembuhkan segalanya. Dan aku merasa tertampar akan hal itu.

Lihatlah! Dia tumbuh menjadi wanita dewasa yang kuat dan tangguh dan juga menarik. Ohya, dan cantik.

"Turunkan itu, Sakura."

Suara Sasori yang tegas nan dalam berhasil membuat kondusif suasana. Sakura kembali memasukkan pistolnya ke dalam truk dan melemparkan tatapan tajam pada Karin yang masih berani memandang matanya.

"Dia menjijikan, kau tahu?" Sakura berhenti di depan Sasori dan segera beranjak pergi masuk ke dalam truk dan memacu truk tua itu untuk keluar dari tempat parkir.

Aku memandang dirinya yang keluar dari halaman parkir dengan wajah penuh bangga. Sial, dia benar-benar wanita yang tepat dan harus segera kubawa untuk menghadapi sang nyonya besar. Tentu saja, mereka akan terkejut.

Sasori menghela napasnya. Ia melirik Karin yang masih bergetar dengan bersandar pada mobilnya dengan tajam. Sepertinya Sasori sangat marah pada wanita itu karena mengganggu Sakura hingga ia berani mengeluarkan pistol berbahaya itu.

"Sakura sudah mendapatkan surat izin memegang senjata, kalian harus tahu itu. Jika dia memegang senjata, dia legal. Dia tidak akan ditangkap. Lagipula, Sakura akan menggunakannya jika terdesak dan ada bahaya yang akan mencelakainya." Tatapan Sasori begitu menusuk pada Karin. Wanita itu hanya bisa menunduk dan tidak berani menatap mata kakak laki-laki Sakura itu.

Good man, ini pria idaman wanita di dunia. Melindungi mereka dari segala ancaman menyebalkan seperti ini misalnya.

.

.

Sakura POV

Hari ini rumahku akan kedatangan tamu yang penting, itu yang dikatakan Ibuku saat kami selesai sarapan bersama. Aku tidak tahu siapa yang datang dan tidak mau peduli. Asalkan mereka tidak membuat keributan di sini, itu tidak menjadi masalah.

Aku sedang duduk bersama Sasori di taman belakang rumah dengan memandangi kolam renang besar dimana kami sering menghabiskan waktu bersama dulu. Aku sudah besar dan Sasori pun sama. Kami tidak mungkin berenang bersama seperti yang kami lakukan dulu.

Ayunan bergoyang seiring pijakan kaki Sasori yang mulai mendorongnya.

"Sakura, kenapa kau tidak ingin berbicara dengan Sasuke? Sepertinya dia ingin sekali dekat denganmu lagi seperti dulu," Sasori membuka pembicaraan yang sebenarnya tidak ingin aku bahas seperti kemarin malam. "Apa karena kau membencinya?"

Aku menggeleng kecil. Aku tidak tahu harus menjawab apa kali ini. Jadi, aku membiarkan pertanyaan itu menguap bersama udara yang kuhembus.

"Dia benar-benar ingin menyapamu," tambahnya lagi.

Aku menoleh, memperhatikan majalah politik yang Sasori baca pagi ini. "Tidak ada gunanya membahas Sasuke lagi. Aku tidak membencinya, itu poin terpenting. Dan bisakah aku mendapatkan kekasih palsuku dalam waktu dekat?"

Sasori menghembuskan napas panjang. Ia terlihat lelah jika sudah berbicara denganku. "Aku bingung. Kemarin benar-benar mengejutkanku. Aku ingin memperkenalkanmu dengan salah satu temanku, tapi kau sudah pulang dan membawa trukmu pergi dari sana."

Aku tersenyum lebar. "Benarkah?"

Sasori mengangguk mantap. "Yah mungkin kau tidak menyukainya. Tapi setidaknya masalah kalian benar-benar sama. Setidaknya ini akan berjalan lancar, Sakura."

Aku tersenyum manis. Lenganku bergerak untuk memeluk pinggang besar Sasori erat dan ia hanya bisa mendesah. Tapi kemudian balas memelukku.

Ibuku datang dengan senyum lebarnya. Sepertinya tamu yang ditunggu-tunggunya sudah datang dan itu jelas sekali terlihat di wajahnya.

"Sayangku, Gaara sudah datang!" Pekiknya girang.

Ibuku gila. Dia benar-benar gila. Aku serius.

Sasori hanya tersenyum sabar dan aku memasang wajah masam yang membuat senyum Ibuku luntur seketika. Benar 'kan? Aku sangat berpengaruh untuk kelangsungan hidupnya di masa mendatang.

"Frankly, Mom," aku menghela napas panjang, "I don't give a damn."

Ibuku memasang wajah sedih dan merajuk secara bersamaan. Ia segera pergi dari taman untuk kembali bergabung bersama tamu menyebalkannya. Aku menutup wajahku dan rasanya ingin menangis saat ini juga. Ayolah, aku sekarat sekarang.

Ponsel Sasori berbunyi nyaring dan ia langsung mengangkatnya di dering kedua. Ia mengangguk dan segera pergi dari taman dan meninggalkanku sendirian.

Aku memutuskan untuk mengikutinya pergi. Dan ternyata Sasori juga mempunyai tamu yang lain untuk berkunjung ke rumah. Ini menyenangkan. Mungkin saja Sasori ingin membantuku agar selamat dari masalah ini secepatnya.

"Apa kami datang terlambat?"

Kami?

Aku mengintip dari balik tangga dan menemukan Sasori sedang tersenyum sembari memukul bahu Itachi agak keras. Ketika aku memandangi dua pria itu sekali lagi, aku menemukan ada satu sosok lain yang bersembunyi di balik punggung Itachi.

"Sakura!" Sasori berteriak memanggilku.

Aku segera turun dari tangga dan pergi menemuinya. Aku memberikan senyum samar pada Itachi dan ia membalasnya dengan senyum lebar yang biasa ia berikan dulu ketika bermain bersamaku.

Lalu, tidak lama sosok Sasuke muncul dari balik punggung sang kakak dan dengan berani ia menatapku. Iris gelapnya masih sama seperti dulu, memukau dan menghipnotis siapa saja yang melihatnya.

Aku menoleh pada Sasori untuk memutuskan pandangan kami berdua. Aku tidak akan bisa bertahan lama jika terus berdekatan dengan pria seribu pesona ini yang sialnya semakin mempesona ketika beranjak dewasa.

Sasori tersenyum manis padaku. "Sakura, aku bisa jelaskan—

"Sakura!" Ibuku memanggil namaku dan pikiranku kosong seketika. Wajahku memucat dan tidak ada lagi yang bisa kupikirkan selain menyelamatkan diri dari sini.

"Ya, Ma. Aku datang." Jawabku singkat.

Sasori menatapku tidak percaya. Ia ingin mencegahku untuk datang ke sana dan tidak melakukan hal nekat seperti berpura-pura pingsan di tempat atau mencoba meminum racun yang larut dalam minuman yang akan dibawakan oleh pelayan.

Aku mencoba untuk tetap tenang dan berusaha terlihat tegar. Aku memandang Sasuke sekali lagi. Ia tampak tidak tertarik dengan apa yang terjadi padaku. Dan sekali lagi, ia terlihat tidak peduli. Benar-benar tidak peduli.

Aku menarik napas dalam-dalam. Sasori masih setia menatapku dan mencoba menyalurkan arti tatapan itu padaku. Tapi tetap saja, aku harus datang atau Ibuku akan mengamuk.

Aku menarik tangan Sasuke dan menyuruhnya untuk tetap diam sampai kami tiba di ruang tamu. Disana, Gaara datang bersama adik perempuannya dan ia terlibat perbincangan serius dengan Ibuku yang jelas-jelas ini berkaitan denganku.

Aku menarik napas panjang dan menahannya selama beberapa saat. Sampai sebuah senyum terukir di wajah pucatku. Aku menatap iris jade Gaara dan beralih pada Ibuku ketika iris matanya terlihat terkejut saat melihat Sasuke tengah bergandengan tangan denganku.

"Mama, ini Uchiha Sasuke, kekasihku."

Dan lihatlah apa yang menjadi reaksi mereka semua selanjutnya.

.

.

.

.

Tbc

.

.

.

.

Author Note:

See u next chapter, guys!