Wonderland

.

.

.

.

.

.

Disclaimer: Masashi Kishimoto

.

.

.

.

Sasuke POV

Jika kalian bertanya bagaimana kelanjutan masalah kemarin? Aku akan menjawabnya dengan benar dan tanpa paksaan sedikit pun. Kemarin itu benar-benar hal yang mengejutkan. Sebenarnya, aku berkunjung karena Itachi memaksaku setelah aku menceritakan bagaimana kejadian yang sesungguhnya pada Sasori setelah kami memiliki waktu berdua saja.

Dan Sasori dengan otak cemerlangnya langsung mengerti dan ia menyetujui untuk membantuku. Dan begitulah, aku terdampar di rumah mewah yang bisa dibilang tidak jauh berbeda dari rumah orang tuaku. Tapi yang jelas, hubungan kami masih datar.

Aku masih terus menggenggam tangannya, tapi Sakura? Dengan kasar dan tanpa berperikemanusiaan, dia melepas tanganku dan meninggalkanku begitu saja bersama Sasori dan Itachi yang bergosip masalah masa depan mereka yang terlihat buram.

Tentu saja, Konan adalah kakak ipar yang menyebalkan sekaligus menyeramkan. Sedangkan Sasori? Aku belum tahu siapa wanita yang akan dinikahi pria imut itu. Yang jelas, wanita itu pastinya seksi dan memiliki otak cemerlang sama seperti dirinya.

Oke ini bertela-tele. Yang pasti pada intinya, hubunganku dan Sakura masih biasa-biasa saja alias datar, tidak ada kemajuan yang fantastis semenjak insiden kemarin. Tapi ada satu hal yang bisa membuatku tersenyum, Ibu Sakura mengenalku sebagai kekasih putrinya dan bukan tetangga menyebalkan yang senang sekali melempari putrinya dengan plastik bekas makanan.

Apakah dia bertanya? Tidak. Dia hanya bisa menggeleng tak percaya tetapi wajahnya menyiratkan rasa putus asa. Mungkin dia bingung, kenapa putrinya harus memilih aku sebagai kekasihnya? Apa karena aku bankir yang sukses dan mempesona atau ada hal lain?

Dan untuk Rei tolol Gaara, menyingkirlah. Kasihan dia. Reputasi sebagai anak mama sudah tersebar luas seantero kota. Dia tampan, tentu saja, aku sebagai laki-laki normal mengakuinya. Tapi tetap saja, dia tidak ada apa-apanya dibanding denganku.

Kasihan sekali, kemarin dia harus berada di satu tempat yang sama dengan bankir sukses Amerika. Dan dia? Hanya duduk mengkerut di sofa dan menyembunyikan wajahnya.

Apakah dia menangis? Mungkin saja. Mimpi basahnya tidak akan pernah terwujud untuk bersama Sakura.

Mati saja kau. Dia tidak akan pernah bersama Sakura selamanya jika aku masih hidup dan bersiap untuk membunuhnya kalau ia masih bertekad untuk melanjutkan mimpinya.

Ibuku pernah bilang, kalau laki-laki haruslah tegas dan bertanggungjawab. Tidak boleh terlalu kekanakkan dan manja. Yah, jika kalian tahu, aku tidak termasuk di antara keduanya. Tapi terkadang, salah satu sifat menyebalkan itu muncul tiba-tiba dan Ibuku dengan senang hati menerimanya.

Jadi, disini yang bodoh aku atau siapa?

Pada intinya, aku yang harus berjuang untuk Sakura dan harus untuk wanita itu seorang. Mungkin kedepannya aku akan mendapati nilai lebih karena bisa menawan hatinya.

Kalian mengerti maksudku 'kan?

Aku tidak akan menjelaskannya. Kalian akan muntah lalu membuang isi perut kalian padaku. Itu menjijikan dan aku akan memukul kalian kalau itu benar-benar terjadi.

.

.

Dan disinilah aku, terdampar pada apartemen yang merangkap menjadi anak sulungku. Serius. Aku akan melakukan apa saja agar apartemenku tetap bersih dan steril dari kuman-kuman jorok seperti wajah Rei Gaara misalnya.

Tenang, man. Aku hanya bercanda.

Konan menghubungi Sai dan menyuruhku untuk menyiapkan makanan ketika ia sampai nanti. Aku tidak tahu apa yang membuat wanita menyebalkan itu berkunjung kemari. Mungkinkah karena perintah sang Nyonya besar atau dia hanya ingin menyulut api perang padaku?

Sai sudah datang sejak setengah jam yang lalu. Kami berniat pergi ke club untuk menonton Super Bowl nanti malam tanpa adanya gangguan dari orang lain. Dan Konan dengan mudahnya menghancurkan segalanya.

Aku tahu mengapa Itachi memilih untuk berpuasa berbicara ketika Konan sudah mengoceh panjang lebar hingga semalaman. Kasihan kakakku, terkadang ia juga butuh bantuan untuk menghibur hati mulianya.

.

.

"Paman Sasuke!"

Aku menoleh ketika pintu apartemenku menjeblak terbuka dan gadis kecil dengan rambut hitam indahnya berlari padaku. Aku membuka kedua lenganku, menyambutnya dan menggendongnya sebentar.

"Halo, sweetie. Apa yang membuatmu datang kemari mengunjungiku?"

Hana mengangkat bahunya, ia melirik Konan yang tengah melemparkan tas kerjanya dan menatap garang pada dapurku.

"Mama bilang dia akan mengunjungi Paman karena Nenek menyuruhnya. Aku baru saja ingin makan eskrim bersama Kakek, tapi Mama bilang itu tidak perlu dan aku diajak kemari."

Oh, bidadari kecilku yang malang. Aku akan membelikan toko eskrim itu bila perlu untuk gadis kecilku.

Aku tersenyum lebar. "Tinggalah disini sampai malam, aku akan membelikanmu eksrim yang besar dan cokelat dalam jumlah banyak."

Hanya mengangguk dengan girang dan kepala hitamnya terus bergoyang karena rasa senangnya. Aku senang membuatnya tersenyum. Dia mampu membuat suasana hatiku berubah hanya karena melihat senyum kecilnya.

Hana berlari dariku setelah aku menurunkannya menuju Konan. Aku tidak tahu apa yang Konan lakukan bersama Sai disana. Yang pasti, Sai sudah kebal dengan segala omongan Konan padanya. Ingatkan aku satu hal, hanya aku yang berani menjawab amukan Konan. Bukan Itachi, bukan Sai maupun Naruto. Mereka semua terlalu takluk dengan amukan Konan. Dan aku? Tidak akan. Aku tidak akan kalah dari wanita menyebalkan itu.

Hana mencuri dua kue panggang dari atas piring dan tersenyum malu-malu padaku. Aku mengangkat jempolku untuk memberinya pujian dan ia hanya terkikik.

Dia terlalu manis dan terkadang aku ingin sekali menyekapnya untuk diriku sendiri dan tidak akan pernah memberikannya pada siapa pun termasuk keluargaku sendiri.

Ibuku dan Konan adalah satu kubu. Mereka memiliki kecocokan yang banyak dan aku jelas-jelas mudah tersingkir dalam hal ini. Meskipun Ibuku menyayangiku, tapi tetap saja, dia bisa saja mengulitiku hidup-hidup dan menjadikanku umpan macan putih miliknya.

Ingatkan aku untuk membunuh macan putih itu jika aku sudah berubah sebesar Hulk.

.

.

Kami makan siang bersama. Naruto mengirimiku pesan kalau dia tidak bisa datang karena Ayahnya memaksanya untuk bermain golf bersama. Kasihan Minato, dia kesepian semenjak Kushina meninggal karena kecelakaan beberapa tahun yang lalu. Dan Naruto sudah bersumpah untuk selalu bisa di samping Ayahnya dimana pun pria malang itu membutuhkannya.

Aku melihat Hana yang sedang bermain boneka di ruang tengah. "Konan, kurasa Hana bisa tinggal bersamaku sampai ia dewasa nanti. Aku akan memberikannya padamu jika aku tidak sanggup lagi membiayai hidupnya."

Sebenarnya itu tidak akan terjadi, aku mampu merawatnya sampai ia menemukan pria tampan dan mapan yang tidak hanya ingin memakan bokongnya saja.

"Kalkunnya sangat berair, Sai. Kau benar-benar yang terbaik."

Sai tersenyum lebar. "Terima kasih, Konan. Ini karenamu juga."

Aku memutar mata. "Hei, aku serius nih."

"Aku bisa mengajarimu banyak resep lagi jika kau mau," Konan memotong kalkunnya dan mengabaikan ucapanku. "Kau punya bakat memasak yang luar biasa."

Sai tersenyum. Ia juga tidak menanggapi kata-kataku. Teman macam apa dia ini? Kalau kami sedang berperang, aku tidak akan mau bergabung di satu kubu yang sama. Dia tidak bisa diandalkan.

"Hana," panggilku dan gadis kecilku langsung menoleh dengan senyum.

"Kau akan tinggal bersama Paman mulai hari ini," tatapan Konan melayang tajam ke arahku. "ah, kita tidak perlu membawa baju lamamu, sweetie. Aku akan membelikan yang baru untukmu."

Dan aku menyeringai ketika napas Konan memburu layaknya serigala yang tengah mengintai mangsanya.

"Kapan aku menyetujuinya, bodoh?"

Lihatlah, wanita menyebalkan ini masih tidak mau menerima kekalahannya.

Aku memotong kalkun panggangku. "Oh?" sebelah alisku terangkat. "Kurasa pengabaian ucapanku tadi pertanda ya darimu."

Sai hanya tersenyum melihat pertikaian kami. Dia terlalu lelah membelaku di depan Konan sepertinya. Ini pernah terjadi di masa-masa Konan dan Itachi berpacaran. Aku dan Sai pernah melelang bikini milik Konan yang tidak terpakai ketika wanita itu hendak memberikan pada teman kuliahnya.

Konan tidak tahu hal itu, tapi Itachi tahu dan dia mengkhianati kami. Dan saat itu juga, aku menyadari kalau Konan menaruh bubuk kimia pada celana dalam kami berdua hingga aku tidak pernah keluar dari kamar mandi selama empat hari.

Kalian tahu apa reaksi Ibuku?

Dia hanya tertawa tapi Ayahku khawatir dan dia dengan segala kewibaannya membantuku keluar dari masa sulitku.

Jika kalian lupa aku ini siapa, aku tidak mau mengulangnya lagi.

.

.

Sakura POV

"Sakura, kurasa kau benar-benar sudah gila."

Ini Ino yang berbicara. Sebenarnya, aku berharap kalau Ibuku yang berbicara dan bukan Ino. Tapi reaksi yang Ibu berikan sangat jauh dari dugaanku. Dia tetap bersikeras untuk melanjutkan perjodohan konyol ini. Dan Rei Gaara? Bersiaplah kau pergi ke neraka. Aku benar-benar muak dengannya.

"Kalau kau tidak mendukungku, matilah saja sana kau." Aku mencibir keras ucapannya. Ino di sisi lain tidak mendukungku sama sekali. Aku butuh dukungan dari orang-orang terdekatku selain Sasori tentunya untuk mengalahkan Ibuku. Ini tidak semudah yang kubayangkan.

Aku tidak mungkin menembak Gaara di kamarnya pada malam hari 'kan? Aku akan dipenjara lima belas tahun karena kasus pembunuhan berencana.

"Oke. Dan kau akan menguburkan mayatku dimana? Dibelakang rumahmu?" tanya Ino sarkatis.

Aku tersenyum lebar. "Aku akan membuangnya di laut."

Ino menampilkan ekspresi sedih yang dibuat-buat dan memuakkan darinya. Tapi sungguh, itu cukup menghibur. Aku dan dirinya pergi keluar bersama untuk makan siang. Kami berencana akan berbelanja setelah itu makan malam dan kembali pulang.

Ibuku mungkin akan memarahiku tapi entahlah, aku benar-benar pusing. Aku secara refleks memperkenalkan Sasuke sebagai kekasihku dan coba lihat bagaimana respon Sasuke? Dia terlihat senang. Aku tidak tahu apa yang terjadi. Kurasa dia salah makan atau dia lupa meminum anggurnya.

"Ngomong-ngomong, ada keperluan apa antara kau dan Itachi?"

Ino mengangkat alisnya, "Oh itu, itu tidaklah penting. Ini masalah bisnis antara Ayahku dan dia."

Aku hanya mengangguk.

"Sakura, kurasa Shimura Sai tidak seperti yang kaukatakan padaku waktu lalu," Ino berbicara perlahan dan inilah yang aku takutkan. Entah Ino yang dipermainkan atau Sai yang benar-benar serius padanya.

"Apanya?"

Ino menghela napas. "Dia tidak sebrengsek seperti yang kau kira. Dia baik. Mungkin menurutku, tapi Ayahku kurang menyetujuinya. Kau tahu? Sai terlihat ketakutan jika bertemu dengan Ayahku."

Aku melotot. Menatap tajam pada Ino. "Kau gila? Kau mengenalkan Sai pada Ayahmu? Ino, berdoalah supaya Ayahmu tidak lagi meracik bahan kimia untuk meracuni seorang Shimura Sai," ucapku datar.

Ino terkekeh geli. "Tentu saja aku akan menyuruhnya kalau ia benar-benar hanya bermain. Aku bisa saja memotong bolanya untuk dijadikan percobaan ilmiah. Itu tidaklah sulit, Sakura."

Aku tertawa keras. Dan Ino juga ikut tertawa bersamaku. Ini menyenangkan. Aku bisa melupakan masalahku. Setidaknya untuk hari ini.

.

.

Sasuke POV

"Humble akan senang hati memakan bolamu, Sasuke!"

Masih dengan Konan dan selalu tentang wanita itu. Sebenarnya dia orang yang baik. Aku mengenalnya lebih dari separuh hidupku. Dia teman kecil yang manis. Tapi tidak ketika ia dewasa. Dia benar-benar menyebalkan. Aku tidak tahu mengapa Itachi tergila-gila pada wanita jelmaan seperti ini.

Kalian tahu siapa Humble itu? Dia adalah macan putih yang akan menjadi idola baru kalian. Aku akan menunjukkannya pada kalian ketika makan malam keluarga nanti.

Dia kesayangan orang tuaku. Aku juga mencintainya. Dia seperti anak bungsuku saat dia masih berumur tiga bulan. Tapi ketika dia dewasa? Aku akan menendang bokongnya menjauh dari keluargaku. Dia berbahaya walaupun penurut. Kalian heran 'kan? Aku juga.

Hana membenci Humble. Dia bilang Humble sering mengaum ketika Hana mencoba memberi makan dan membuat bidadari kecil itu menangis ketakutan dan berlindung di balik tubuh Itachi. Tapi ada waktu dimana Hana sering membanggakan Humble pada teman-teman TK-nya.

"Mama, bisakah aku menginap di rumah Paman Sasuke?" Hana bertanya dengan mata hitam bulatnya penuh harapan.

Konan menggeleng dengan senyum manis. Aku tahu itu adalah satu cara sang iblis untuk membujuk korbannya. Dan Hana? Dia mengangguk dan menuruti kata Ibunya.

Persetan.

Aku melanjutkan makan siangku dalam diam. Tiba-tiba aku teringat sesuatu. Aku menoleh pada Sai yang sibuk dengan salad sayurnya. "Sai, kau ingat kalau malam nanti kita akan pergi bersama Naruto?"

Sai mengangguk, ia mengambil tisu untuk membersihkan bibirnya. "Ya. Kurasa Itachi mau ikut bergabung."

Aku menyeringai dan Konan tidak mempedulikannya.

"Kurasa acara lelaki malam ini akan berjalan sempurna, honey," Konan mendesis jijik padaku dan aku masih tersenyum. "Aku akan membelikan kalian anggur nanti, man. Tenang saja."

Konan tersenyum setelah menyelesaikan suapan terakhir hidangan penutup. Ia terlihat kesal dan ia pintar menyembunyikannya dari kami. Dia mengambil tas kerjanya dan menarik Hana, bersiap untuk pergi.

"Oh, Konan. Kenapa terburu-buru sekali?" seruku.

Konan tersenyum manis. Ia menatap putri kecilnya dengan kelembutan. "Nah, Sayang. Mari kita lupakan omong kosong Pamanmu itu, okay? Mama akan belikan kau cokelat dan eskrim. Kau suka?"

Hana mengangguk. Gadis kecilku mudah sekali dimanipulasi. Jika terjadi perang, dia prioritas utama untuk dilindungi.

Sai tersenyum ketika melihat sarkasme diantara kami berdua. Dia melambaikan tangannya saat Konan menutup pintu dan berteriak lantang, "Sampaikan salam kami pada Itachi, Konan! Kami akan mengirim taksi untuknya malam ini."

Sebenarnya aku dan Sai sama-sama menyebalkan. Jadi, setelah Sai berteriak, pintuku kembali terbuka dan jari tengah Konan muncul dari sana. Kami tertawa bersama. Menyadari hal apa yang kami sukai sejak dulu.

Membuat orang lain marah.

.

.

Saat aku duduk di bangku menengah pertama, Ibuku pernah memanggilkan seorang guru les gitar dan piano. Ini sangat aneh ketika aku berusia dua belas, orang tuaku membelikanku terompet besar dan mereka tahu kalau aku tidak bisa menggunakan terompet sialan itu.

Mereka sangat senang ketika dua hari aku mengikuti pelajaran, aku bisa menguasai gitar dengan mudah. Tapi Roxy, anjing Husky peliharaan kami mengacaukannya. Dia berulang kali mengencingi gitar milik Nyonya Anko dan itu membuat Nyonya Anko marah sampai ia tidak lagi datang kerumah.

Aku berhutang pada anjing manis itu. Sekarang dia sudah besar, tingginya hampir sepinggang orang dewasa. Tapi aku tetap menyayanginya.

Dan saat itulah, aku menyadari kalau aku terlahir sebagai anak terkutuk dan menyebalkan. Ibuku sering memujiku di depan teman-teman sosialnya. Memujaku bagaikan dewa Zeus di Yunani sana. Dan aku cukup senang karena itu.

Tapi ada dimana ia sering memberikanku kata kotor karena aku yang tidak bisa menjaga sikapku pada anak lain yang notabene adalah anak dari teman sosialnya. Aku sering menjahili mereka. Membuat mereka menangis.

Dan Ibuku selalu bilang 'kau anak terkutuk.' Begitu. Tapi setelah itu dia menangis dan memelukku. Mengecup kedua pipiku dan bilang 'tidak, kau anugerah bagi kami. Kau pembawa keberuntungan kau segalanya. Kau jagoanku.' Dan segala macam lainnya.

Dan aku menjadi berbesar hati semenjak saat itu.

.

.

Sekarang latar berpindah. Aku dan Sai duduk di satu ruangan yang sama dimana ruangan ini dinamakan ruang lelaki. Berisikan majalah-majalah dewasa dan playboy, satu televisi plasma layar datang yang besar dan film-film erotis dewasa yang membangkitkan gairah laki-laki.

Ini ide Itachi dan Naruto. Mereka bersemangat sekali ketika mendekorasi ulang apartemenku. Ibuku tahu akan hal ini, dia mencoba mengacaukannya tapi tetap tidak berhasil.

Konan juga pernah melakukan hal yang sama. Mencoba membakar apartemenku tapi lagi-lagi, dia gagal.

Naruto dan Sai bersiap akan membangun tempat bagi mereka yang aman di apartemenku nanti kalau Konan benar-benar akan membakarnya. Konan tipe wanita pencemburu yang agresif dan mengerikan. Tapi ada dimana dia merasa tidak peduli dan membiarkan Itachi melakukan hal yang dia suka.

Dan Itachi akan menangis semalaman karena hal itu.

"Sasuke." Sai membuka penutup bir dengan tangan kosongnya.

Aku hanya bergumam rendah untuk menjawabnya.

"Bagaimana dengan Sakura?"

Ah ini. Sai tidak tahu apa-apa mengenai kelanjutan hubungan kami.

"Biasa saja. Apa yang kau harapkan?" tanyaku datar. Aku akan memberitahu pada mereka setelah hubunganku dan Sakura ada di titik terang. Meneriakkan pada dunia tentang hubungan kami. Tapi sebelum itu, tidak ada. Aku akan tutup mulut.

"Mungkin saja. Ada banyak kemungkinan yang bisa ditebak, Sasuke. Kau muda, bankir sukses, berpengalaman, cerdas, mempesona, dan mencintai wanita berpayudara besar dan bokong seksi. Salah Sakura jika ia tidak melirikmu sedikit pun. Dia kehilangan nilai lebih di hidupnya." Sai memujiku dengan tatapannya masih pada layar plasma. Aku tersenyum penuh arti. Kami seperti pasangan lovewins sekarang. Tapi yang jelas, aku bangga. Jadi yang aku lakukan adalah menepuk bahunya dan ia tertawa.

"Sebenarnya aku ingin muntah, Sasuke. Aku tidak benar-benar yakin saat mengucapkannya." Sai melanjutkan ucapannya dan aku benar-benar memukul punggungnya.

"Tidak apa, Sai. Kau akan menjadi satu-satunya laki-laki dimana voucher club NEM waktu lalu, akan menjadi milikmu."

Sai menoleh dengan kedua matanya berbinar penuh harap. "Benarkah? Sial, Naruto akan menangis selama satu minggu jika itu terjadi."

Kalian tahu voucher laknat apa itu? Itu adalah voucher gratis untuk satu malam yang dimana hanya tiga orang beruntung yang mendapatkannya. Aku bertaruh pada Naruto dan Sai waktu lalu untuk mendapatkannya. Dan lagi-lagi, bocah penuh keberuntungan ini mendapatkannya.

Dan isi dari club itu? Kalian bisa menebaknya sendiri.

Dahi Sai berkerut. Ia meminum bir itu langsung dari botolnya. "Aku tidak yakin," suaranya terdengar sedih. "Aku berniat untuk berkencan dengan Yamanaka Ino. Tapi kalau sampai dia tahu aku pergi ke club itu ..."

Suaranya tertelan dengan ketakutan di wajahnya.

"Ayahnya akan meracuniku diam-diam saat aku tertidur dan aku akan mati sendirian. Membusuk di kamar apartemen sampai petugas kamar datang dan menemukan mayat menyedihkanku."

Ini persis seperti kata-kata Itachi saat aku tidak memiliki pacar di usiaku yang ke dua puluh enam tahun ini.

"Biarkan aku hidup untuk menikmati hal lain bersama Ino. Lalu setelah itu, kau bisa memberikan voucher itu padaku." Sai melemparkan plastik bungkus makanan pada sudut ruangan.

"Sepakat."

Dia tersenyum lebar. "Kita sepakat."

.

.

Ngomong-ngomong tentang Sakura. Aku sama sekali tidak menghubunginya atau sekedar basa-basi menanyakan bagaimana harinya. Karena yang menjadi masalah, aku tidak punya nomor ponselnya. Aku lupa bertanya dengan Sasori. Itachi mungkin mau membantuku nanti.

Semenjak insiden pengenalan itu. Sakura menendangku untuk segera pergi dari kastil mewahnya. Ia tidak mempersilakanku untuk masuk ke dalam kamar surganya dan menyuruhku untuk pergi setelah Ibunya memutuskan untuk menyendiri di kamar dan tidak lagi keluar untuk menemui Rei tolol Gaara.

Mudahnya, kenapa Rei Gaara tidak mati saja setelah kejadian memalukan itu? Seharusnya dia tahu kalau dia benar-benar ditolak. Sakura mungkin tidak menyampaikan secara gamblang. Tapi, dari ekspresi wajah dan tatapan mata seharusnya Gaara mengerti 'kan?

Sekali lagi, Gaara memang anak mama. Dia benar-benar tidak bisa diandalkan. Lihat saja, tidak lama kemudian akan ada sekumpulan ibu-ibu sosial yang menyerbu rumah Sakura lalu apartemenku untuk meminta pertanggungjawaban karena membuat putra tampannya menangis.

Ini lucu. Dan aku membayangkan hal itu terjadi.

Jadi, ketika aku masuk ke sebuah café kecil untuk kaum kelas atas, aku menemukan wanita merah muda bersama wanita pirang yang duduk bersama dan tampak tidak terganggu dengan pandangan pelanggan pria yang mencoba menggoda mereka.

Dengan sikap jantan, aku memolototi mereka semua dan berhasil. Mereka menjaga pandangan mereka dari dua wanita itu dan perlahan-lahan menjauh.

Aku tidak menyuruh mereka untuk berhenti memolototi Yamanaka Ino, aku hanya memberi isyarat mereka untuk berhenti memandangi Sakura. Tapi sepertinya mereka tidak mengerti maksudku itu.

"Halo, ladies." Naruto, yang notabene adalah seorang penggoda wanita langsung mengambil langkah lebih dulu dari kami.

Sakura tersenyum dan Ino hanya mengangguk.

"Halo, Naruto. Lama tidak berjumpa." Sakura menoleh ke arah bunyi decitan kursi yang ditarik. Matanya berubah tajam ketika ia menangkap senyumku dari seberang mejanya.

"Sakura! Ah astaga, ingin sekali aku memelukmu." Sebelum Naruto melakukan hal itu, Sakura sudah mendorongnya dengan kedua tangannya dengan lembut dan tersenyum samar.

"Aku sedang flu, Naruto. Jangan dekat-dekat kalau kau tidak mau tertular." Jawabnya lembut.

Ah, suatu penolakan yang bagus. Aku memujinya diam-diam.

Naruto hanya tersenyum dan dia menarik kursi untuknya duduk di meja kami.

Naruto mengangkat tangannya untuk memesan dua bir anggur dengan kadar alkohol rendah. Ia sepertinya tidak ingin mabuk atau Minato akan menyeretnya ke gudang bawah tanah dan menggantung mayatnya hidup-hidup di sana.

Aku melirik Sai yang tidak fokus pada anggurnya, melainkan fokus pada sang model cantik, Yamanaka Ino di seberang sana. Ino beberapa kali melemparkan kedipan nakalnya pada Sai. Dan tentu saja, sahabat bodohku ini menanggapinya dengan senyum nakal yang seksi.

Dan aku? Berharap Sakura melakukan hal yang sama. Tapi sayang sekali, aku tidak mendapatkannya. Nol besar. Sakura bahkan tidak melirikku sama sekali.

Aku menyedihkan.

Memang.

Aku akan minum anggur banyak hari ini.

Ketika pintu café terbuka lebar, sebelah alisku terangkat untuk menikmati suguhan pemandangan dari sosok Rei Gaara yang berjalan angkuh di dalam café seakan-akan ia adalah objek yang harus diperhatikan layaknya Tom Cruise.

Jangan bermimpi. Si tolol itu berbeda jauh dari aktor idolaku. Dan aku tidak akan pernah mau membandingkannya dengan aktor idolaku.

Sakura terlihat tidak nyaman di tempat duduknya. Ia terlihat gelisah dan aku menangkap sejak tadi ia tidak henti-hentinya melirik Gaara yang duduk tidak jauh darinya sembari tersenyum nakal padanya.

Mati kau, Gaara.

Aku benar-benar akan menendang bolamu dan kau akan menangis ke pelukan Ibumu.

Sakura bangkit dari tempat duduknya disusul sang Yamanaka yang ikut bangkit dari kursi mereka. Ia meninggalkan beberapa lembar uang dan berlalu pergi. Sebelum aku melihat sosoknya keluar dari pintu café, aku melihat Sakura menatapku dengan tatapan memelas dan memohon bantuan.

Sangat jarang sekali terjadi. Ini adalah kesempatanku.

Aku ikut berdiri dan meninggalkan kedua temanku yang menatapku dengan tatapan bingung. Aku tidak peduli. Yang aku pedulikan adalah bagaimana caranya menyingkirkan Rei Gaara dari sekitar kami dan menendang jauh-jauh bokongnya itu dari hadapanku.

Si brengsek itu ikut keluar. Ia tampak kecewa karena Sakura tidak menoleh ketika ia memanggilnya dengan berteriak. Aku ikut melangkah di belakangnya. Menikmati pemandangan yang sangat sangat menyenangkan ini.

Sakura berbalik setelah Ino masuk ke dalam kursi kemudi. Mata hijaunya sempat terkejut ketika mendapatiku yang berdiri bersandar pada mobilku untuk melihat mereka berdua yang tengah memasuki babak drama membosankan.

Sakura mengusap dahinya. Ia menutup pintu mobil penumpang dengan kasar dan melangkah mendekat ke arahku dengan sedikit berlari.

Aku dengan sadar membuka kedua tanganku untuk menyambut tubuh seksinya masuk ke dalam pelukanku. Ia memeluk leherku dengan erat dan napasnya terdengar memburu di telingaku.

Dan Gaara menyaksikan kami dengan pandangan terlukanya. Sungguh menakjubkan.

Sakura masih memelukku dan aku tidak berniat untuk melepasnya barang sedikit saja. Ia terlalu berharga untuk dilepaskan saat ini. Maka ketika aku mendengar suara pintu mobil terbuka, aku melihat Ino keluar dan menutup mulutnya yang terbuka ketika melihat sahabat terbaiknya tengah berpelukkan denganku.

Gaara berusaha mendekat dan aku mengangkat tangan kananku untuk menghentikan aksi konyolnya lebih jauh lagi.

Sakura melepas pelukan kami, ia melirik Gaara dari bahunya dan mendapati kalau pria itu berdiri membatu di tempatnya. Melihatnya dengan pandangan tak percaya dan sorot mata yang menyedihkan.

Aku masih memegang lengannya, berharap agar Sakura tidak cepat lari dari pelukanku yang terasa amat menenangkan ini. Wajah wanita itu mendongak dan aku ikut menundukkan wajahku hingga dahi kami bersentuhan.

Ketika dia memejamkan matanya, aku merasakan kalau ada sentuhan lain di bibirku dan ketika aku ikut membuka mataku, aku menatap tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.

Bibir hangat itu menempel pada bibirku. Dan kalian berpikir apa yang akan aku lakukan? Tentu saja, aku dengan senang hati menerimanya. Membalas semua tindakannya dengan sama bergairahnya dengan dirinya. Ia tampak terkejut dengan reaksiku, tapi tak lama ia menikmatinya.

Sama seperti diriku.

Ini terdengar seperti siksaan yang menyenangkan. Tapi aku menikmatinya.

"Ya Tuhan!"

Itu teriakan tak percaya dari Yamanaka Ino di sebelah sana. Ia terlihat tidak percaya dengan apa yang dilihatnya dan aku masih saja tidak memedulikannya. Yang aku pedulikan adalah bibir manis yang menjadi tawanan bibirku sampai saat ini. Sakura masih belum ingin melepas ciuman kami. Begitu juga aku.

Dan ketika aku membuka sebelah mataku, pemandangan wajah Gaara yang memerah dan kedua matanya yang berkaca-kaca membuatku menang seratus langkah darinya. Mungkin setelah ini akan tersebar berita tentang kematian dari anak pengusaha sukses, Suna Group, yang menembakkan pistol ke kepalanya karena calon istrinya tengah bercumbu dengan orang lain.

Bukankah itu menyenangkan? Sangat sangat menyenangkan.

Dan untuk Ibuku? Dia akan merasa bangga pada putra bungsunya karena berhasil menaklukan wanita yang menjadi incaran nomor satu kaum adam disini.

Untuk kalian semua? Berhati-hatilah.

Permainan ini belum selesai sampai disini.

.

.

.

.

Tbc.

.

.

.

.

Author Note:

Jawab pertanyaan yang masuk dulu yaa!

Wonderland lagu siapa? Taylor Swift mba. Ada di album 1989 deluxe.

Ini sequel dari Fallen Too Far ya? Bukan. Tapi memang idenya diambil dari sana. Sequel buat itu fanfic ada lagi ntar.

Gaara kenapa jadi anak mama thor? Anak mama yang seksi. Ntar Gaara berubah kok /spoilerdikit/ ya intinya cuma beberapa chap doang dia gitu.

Sakura kok mau aja sama Sasuke padahal udah disakitin? Yah, namanya juga saling membutuhkan. Tapi ntar Sasuke bakalan dapet balasannya kok, selaw.

Nanti mereka saling jatuh cinta engga? Masih lama itu ga akan dekat-dekat chap ini. Hubungan mereka cuma saling menguntungkan aja.

Sakuranya keliatan kayak punya rencana buat Sasuke ya? Yup. Like Taylor Swift's song 'Better than Revenge' idenya juga separuh dari sana. Jadi ya, liat nanti ya.

Kenapa latarnya New York, kenapa engga yang lain? I love NY so damn much. Ngarep banget bisa kesana jadi yaaaaaaaaagituudehhhh

Okay, guys, terima kasih buat yang baca sampai sini. Maafkan typo dan teman-temannya. Saya enggak sempat ngecek lagi.

Lots of Love

Delevingne