Wonderland
.
.
.
.
.
.
Disclaimer: Masashi Kishimoto
.
.
.
.
Sakura POV
Sebenarnya, kalau boleh aku mengutarakan pendapatku untuk masalah ini, aku tidak pernah ingin datang. Tidak sama sekali. Rasa ingin unjuk diri saja tidak pernah terlintas sedikit pun di kepala besar ini. Kenapa? Kalian tahu benar alasannya.
Ibuku mengajakku untuk datang pada pesta perayaan antar para pebisnis yang sekiranya dilakukan tiga tahun sekali. Memang, hanya tiga tahun sekali dan perayaan ini benar-benar akan berakhir menyebalkan.
Selama dua puluh lima tahun hidup, aku belum pernah datang sebagai tamu bersama keluargaku. Lengkap. Itu mustahil. Aku punya jadwal dan kesibukan yang luar biasa. Acara ini tidak berguna sama sekali bagi orang sepertiku. Terlihat sombong? Aku tidak peduli. Yang jelas, aku tidak pernah ingin datang atau menunjukkan diri sebagai bagian dari keluarga bankir ini.
Kenapa? Mudah sekali. Aku tidak pernah ingin bertemu dengan orang-orang kaya yang sombong yang sering sekali menggunakan uang mereka untuk melecehkan perempuan di luar sana. Aku tahu, mereka punya kebebasan untuk menggunakan hak mereka. Tapi, percayalah, banyak wanita di luar sana yang mengalami depresi berat karena anak-anak kaya ini. Dan beruntung, Sasori bukan bagian dari bajingan seperti mereka.
Jadi pada intinya, aku tetap tidak ingin datang. Sekali pun tidak.
.
.
Sasuke POV
"Kau serius? Acara itu malam ini?"
Wajah Sai yang bergerak naik turun menandakan perkataanku benar. Aku tidak tahu kalau undangan perayaan itu akan diadakan malam ini. Kupikir, perayaan itu akan berlangsung lusa.
"Apa Ino akan datang?"
Sai menggeleng singkat. Bibirnya membuka kecil untuk bersuara. "Aku sudah mengajaknya dan dia tidak mau hadir bersamaku."
"Alasannya?"
"Dia tidak mau bertemu dengan mantan kekasihnya. Dia tidak mau melihat masa lalunya," Sai mendesah berat. "Jika dia mau, aku bisa membantunya untuk mengenalkan diriku sebagai kekasih barunya."
Kasihan sekali. Sai yang malang.
"Ada gereja di persimpangan. Kau sebaiknya pergi ke sana dan menceritakan masalahmu," jawabku singkat yang berhasil membuat Sai melotot padaku. Ini serius. Aku sedang tidak ingin mendengar curahan hati orang lain. Suasana hatiku sedang buruk.
"Aku pergi."
Sai bangun dari sofa dan membawa tubuhnya keluar dari ruanganku. Ini baru jam sembilan pagi dan aku sudah membuat temanku jengkel. Bagus. Terkadang yang perlu kulakukan adalah mengutuk diriku sendiri.
.
.
"Kau akan datang?"
Aku mengangguk singkat. Berpikir bagaimana kalau aku tidak datang. Mungkin, Ayahku akan menendang bokongku dalam waktu singkat dan Ibuku yang dengan senang hati mengulitiku untuk dijadikan makanan Humble.
Naruto hanya bergumam singkat dan kembali memakan sepiring sandwich yang tersisa satu di piring besarnya. Perlu aku ingatkan satu hal, makanan penting untuk Naruto. Mata lebarnya tidak akan menoleh pada suatu hal yang lain jika ada makanan sisa yang terlihat lezat di matanya. Seperti ini misalnya. Ketika Sai mendapat telepon penting dari asistennya, Naruto dengan segala kecepatannya langsung menyambar sandwich milik Sai. Dan beruntung, Sai membolehkannya. Makanan tidak terlalu penting untuk Sai saat ini.
"Kau datang sendiri?"
Pertanyaan bodoh. Sangat bodoh.
Aku tertawa sarkatis. "Kaupikir saja sendiri," gerutuku. "Apa kau berpikir aku akan mengajak sepupumu?"
Naruto memutar matanya. Bagus sekali, dia tidak senang jika aku sudah membahas masalah sepupu menyebalkannya. "Aku bermimpi buruk jika itu sampai terjadi."
Aku memberikan jempolku padanya.
Naruto lalu bergidik ngeri. "Tapi, bagaimana jika nanti malam Karin hadir? Kau tidak bisa menghindarinya dengan mudah. Dia punya banyak koneksi penting. Termasuk Ibumu." Naruto menekankan kata Ibu dengan keras.
Seketika aku melepaskan minuman sodaku. Aku melirik Naruto yang memandangku dengan tatapan penuh iba. Dia benar. Jika, Karin hadir, aku akan mati.
"Aku tidak punya firasat Sakura akan hadir," Naruto kembali bersuara sembari mengunyah makanannya. Sebelum aku menjawab, mulut lebar itu sudah kembali bergerak. "Dia bukan tipe wanita seperti itu. Memamerkan dirinya di depan banyak umum."
Dia benar. Sekali lagi. Naruto benar.
Aku memandang sandwich yang tersisa satu potong itu dengan tatapan menjijikan. Aku tidak lagi bernapsu untuk memakan jatah makan siangku. Terima kasih untuk Naruto, berkat dirinya, aku merasa muak dengan makananku sendiri.
"Hei, Sasuke! Jangan tinggalkan makananmu!"
Benar, kan? Baru saja lima langkah aku pergi, suara keras Naruto bergema sampai menyakiti telingaku.
"Aku tidak peduli." Balasku yang diartikan sebagai tanda iya untuknya mengambil sandwich milikku.
.
.
Saat aku keluar dari dalam lift, aku bertemu Itachi yang tengah berbicara serius dengan salah satu pria yang sebelumnya kukenal sebagai pengawal pribadi untuk istrinya, Konan, yang memilih untuk pergi tanpa pengawasan. Yah, walaupun Itachi bersikeras untuk tetap meninggalkan pengawal kepercayaannya, Konan tetap saja keras kepala.
"Apa yang terjadi?" selaku di tengah-tengah pembicaraan mereka.
Itachi memberi isyarat agar pengawal itu pergi dan mengabaikan pertanyaanku. Kakakku lebih memilih untuk memutar badannya dan berjalan pergi meninggalkanku seperti orang idiot.
"Aku tidak akan datang malam ini," seruku yang berhasil membuatnya memutar tubuhnya seratus delapan puluh derajat menatapku.
"Kau sudah gila?"
Aku mengangkat bahu. "Tergila-gila lebih tepatnya. Pada seorang wanita."
Itachi memutar matanya. Dia memasang ekspresi wajah menyebalkan yang jelas-jelas mengejekku. "Terserah. Tapi, aku tidak akan membantumu mencari alasan pada Ibu nanti."
"Begitu, ya?"
Itachi mendesah. "Kau pikir saja sendiri. Gunakan akalmu untuk menghindari tendangan bokongmu nanti," jelasnya yang membuatku memutar mata dan dia tertawa.
Itachi mudah sekali tertawa pada lelucon yang tidak masuk akal dan tidak lucu sama sekali. Tidak sepertiku yang memilih untuk tetap memasang wajah biasa saja dalam situasi apa pun.
Itachi kembali melangkah menuju ruangannya. Dan aku mengikutinya untuk pergi ke ruanganku juga. Sebelum sampai di sana, aku bertemu Sai yang sedang berbicara dengan seseorang di ponselnya dan sebuah senyum lebar timbul di wajah malangnya.
"Kau kenapa?" tanyaku dengan wajah meringis.
Sai menutup teleponnya dan memasukkan ponselnya ke dalam saku celana. "Ino akan datang. Dia mau datang malam ini bersamaku."
Oh, ya Tuhan. Sai yang malang berubah nama menjadi Lucky Bi****s. Ups, aku tidak akan mengumpat lagi. Tapi, yang jelas. Julukan malang berpindah padaku.
"Aku akan berdoa untukmu nanti, Sasuke. Semoga keberuntungan akan berpihak padamu juga, man," katanya sembari menepuk pundakku agak keras. Aku hanya mengangguk dan membiarkan dia pergi sejauh mungkin. Aku akan terlihat mengenaskan sendiri nanti.
.
.
Ini benar-benar malam yang panjang. Sangat panjang. Kupikir setelah aku tertidur lama dan terbangun, aku kembali bertemu dengan sinar matahari. Ternyata tidak. Aku bertemu dengan lampu-lampu jalan yang menyala terang. Menyakitkan mata.
Jam enam tepat. Aku masih punya waktu satu jam untuk pergi ke perayaan. Ibuku mengirimi pesan suara dan pesan singkat yang bisa kalian bayangkan jumlahnya. Tidak hanya satu atau dua, tapi puluhan. Benar-benar.
Ayahku juga berlaku hal yang sama. Dia hanya mengirimiku pesan singkat yang berbunyi;
"Datanglah malam ini, atau Ibumu akan benar-benar membebaskan Humble dan membiarkannya mencari mayatmu."
Bagus. Aku terpojok.
Alasannya mudah sekali. Aku tidak ingin bertemu Karin. Klise.
Tapi, serius. Wanita itu akan berakting seolah-olah dia tercantik malam ini. Dia harus menjadi pusat perhatian. Tapi sekali lagi, itu tidak akan berguna. Terutama untukku.
Naruto sudah dipastikan hadir. Sai juga sama. Sedangkan aku, entahlah. Jiwa remajaku kembali bangkit, antara iya dan tidak.
Tahun sebelumnya, aku selalu hadir dan menjadi yang terbaik di antara semuanya. Bangga? Tentu saja. Ibuku sangat bangga. Dia selalu membanggakanku di depan teman-temannya. Dan beberapa dari mereka sangat senang jika aku mau berkencan dengan salah satu putri mereka.
Dan hari ini aku akan datang seorang diri. Bagus. Untukmu kawan? Bantulah doa untukku agar Tuhan mau memberikan keberuntungannya padaku.
.
.
19.00 PM, La Begginia. Los Angeles, United States of America.
Aku datang. Aku benar-benar datang. Dengan mobil keluaran bulan kemarin, aku datang sebagai tamu seorang diri. Keluargaku sudah lebih dulu pergi dan mungkin mereka ada di dalam. Menungguku.
Saat aku berdiri tepat di depan pintu hotel, aku melihat Naruto yang melambaikan tangannya dengan Hana yang ada dipelukannya. Gadis kecilku ikut tersenyum dan melambaikan tangannya. Aku mengangguk singkat dan mendekat ke arah mereka.
"Ah, Sasuke kita benar-benar hadir. Kupikir, aku bermimpi buruk tadi karena dirimu," kata Konan yang menjadi salam pembuka untukku malam ini.
"Berdoalah, semoga mimpi burukmu tidak beralih pada suamimu," jawabku tenang yang diberi delikan tajam Itachi. Konan hanya tersenyum masam dan dia menerima Hana dari Naruto.
"Halo, Paman Sasuke." Hana mengulurkan kedua tangannya padaku dan aku membawanya ke dalam pelukanku. Gadis kecilku yang cantik. Dia benar-benar mempesona malam ini. Kuakui, selera Konan dalam urusan pakaian memang yang terbaik. Lihatlah! Hana memakai gaun putih panjang dengan pita rambut yang senada dengan gaunnya. Dan juga sepatu mungilnya yang aku yakin kalau Konan membelinya khusus pada toko sepatu terbaik di Amerika.
Naruto menepuk bahuku sesaat setelah aku melihat keluarga Haruno datang. Tanpa Sakura. Sekali lagi, tanpa adanya Haruno Sakura. Hanya ada Sasori dan kedua orang tuanya. Tidak ada Sakura.
Sial. Benar-benar sial. Bagaimana aku bisa mengenalkannya pada Ibuku nanti? Matilah aku.
Naruto mengulum senyumnya. Dia tidak bisa menyembunyikan wajah gelinya ketika mendapati wajah masamku ketika berpandangan dengannya. Teman macam apa dia ini?
"Uh, Sai datang bersama Ino? Wah, kurasa dia benar-benar bajingan beruntung," kata Naruto setelah tak lama keluarga Haruno datang, Sai menyusul di belakang mereka bersama Ino yang tampil glamour dengan pakaiannya. Naruto benar, Sai bajingan beruntung.
Ibuku tersenyum. Dia menyenggol pundakku dengan senyum di wajahnya. "Sai akan mati bahagia mendapat cintanya, Yamanaka."
"Dia tidak benar-benar mencintainya, Ma," jawabku yang diberi dengusan Ibuku.
"Kau tidak tahu arti cinta itu sendiri, ya? Terkadang aku kasihan padamu yang tidak mengerti apa-apa tentang cinta itu sendiri, sayang," kata Ibuku yang sukses membuatku mendelik ke arahnya. Ibuku hanya tersenyum dan menepuk pipi kananku lembut.
Ayahku yang melihatnya hanya tersenyum samar. Lalu, mereka berdua kembali berbaur bersama teman mereka yang aku sendiri tidak mau tahu siapa mereka. Aku memutar tubuhku, mendapati tatapan mata Yamanaka Ino yang tertangkap basah sedang menatapku.
"Aku tidak tahu apa yang menarik darimu, Uchiha Sasuke," ucap Ino yang kuberi alis terangkat. Lalu, dia kembali bersuara. "Kau tidak pantas disebut cassanova terkadang. Julukan itu terlalu bagus untukmu." Lanjutnya yang direspon dengan senyuman geli dari Konan dan Itachi.
"Apa maksudmu?" seruku agak kesal.
Ino hanya mengangkat bahunya sembari tersenyum kecil. Sai yang melihatnya hanya tertawa. Sial, kalau saja Yamanaka Ino adalah laki-laki, jelas saja dia tidak akan selamat sampai rumah nanti.
Naruto menegak anggurnya yang diantar pelayan wanita di sekitar kami. Sepertinya malam ini dia akan mabuk.
Ino terlihat ragu-ragu dengan minumannya dan Sai dengan santainya menukar minuman itu dengan yang lain agar wanitanya merasa tersanjung dengan perlakuannya.
Geez. Shimura Sai memang pintar memainkan perasaan wanita.
"Karin datang," Naruto berbisik di telingaku. Awalnya aku berpikir dia benar-benar mabuk dan melantur, tetapi setelah aku menoleh, dia benar.
Matilah aku.
Tuhan, bantu aku.
Karin datang dengan gaun malamnya yang panjang sampai menutupi mata kakinya. Dengan sepatu berhak tinggi berwarna merah terang dan gaun tanpa tali bahu yang memamerkan bahunya. Rambut merahnya diikat tinggi. Tidak jauh berbeda dengan tinggi air mancur yang ada di depan hotel.
Tidak, aku tidak bercanda. Aku tidak sedang melucu saat ini.
Karin tersenyum lebar ketika tatapan para tamu mengarah padanya. Beberapa dari mereka memandangnya dengan pandangan memuja dan bersiul untuk menggodanya. Aku mendengus, diikuti suara seperti muntahan dari Naruto dan ringisan geli dari Sai. Mereka bertiga benar-benar sahabatku.
"Ya, Tuhan. Karin benar-benar datang malam ini," seru Ibuku yang terlihat seperti pemburu yang baru saja menemukan buruannya untuk dipanggang malam nanti. Sorot matanya yang berbinar membuatku mual. Karin dengan senyumnya melangkah mendekati meja kami.
"Bisakah aku pergi? Aku punya tugas di atas meja kerjaku," lirihku pada Itachi yang diberi delikan Ayahku.
"Tidak ada tugas untuk malam besar ini, nak," jawab Ayahku yang diberi anggukan setuju Itachi. Konan terlihat mengulum senyumnya dan Hana yang berulang kali memandang Karin dengan pandangan sinis.
Ino memandang Karin dengan pandangan merendahkan. Aku suka wanita ini. Ino terkadang seperti memihakku, tapi terkadang dia juga berbalik untuk memusuhiku.
"Nah, Sasuke, bisakah kau sapa Karin? Dia terlihat sangat cantik malam ini." Pinta Ibuku yang langsung kuberi respon decakan kecil.
"Kau seharusnya pulang dan berganti baju dengan piyama tidurmu. Jangan lupa cuci kakimu," kataku datar dan salah satu tangan Ibuku meluncur bebas untuk memutar kulit pinggangku.
Aku meringis saat putaran tangan itu terasa sakit. Ibuku tetap memasang wajah malaikatnya dan tidak terpengaruh apa pun akibat desisan sakit dariku.
Karin masih tetap memasang senyumnya yang justru membuatku mual. Aku menoleh pada Naruto yang juga memasang mimik wajah yang sama.
Aku mengambil anggur, menegaknya dalam dua kali tegakan dan habis. Satu gelas anggur telah berhasil lenyap. Aku butuh lebih banyak lagi.
"Oh, Sakura datang!?"
Pekikan suara Sai yang agak keras membuatku menoleh ke arahnya. Sai mengarahkan dagunya pada pintu utama. Aku mengikuti arah pandangnya, dan sosok Haruno Sakura datang dengan dress biru muda bertali bahu, stiletto berwarna putih menyala dengan tatanan rambut panjangnya yang bergelombang.
Kalau diibaratkan saat ini, dia benar-benar seperti malaikat yang turun dari surga.
Tuhan mengabulkan doaku. Aku berjanji akan sering datang untuk acara keagamaan.
"Sakura!"
Sasori melambaikan tangannya dari sudut kanan ruangan. Sakura memberikan senyumnya pada sang kakak. Sangat kontras dengan wajahnya ketika pertama kali datang dan berdiri di tengah pintu. Sepertinya wanita itu bernasib sama sepertiku, terpaksa.
"Sakura, kemari!"
Sakura menoleh ke sumber suara yang tak lain adalah Yamanaka Ino. Berdiri tepat di belakangku bersama Sai yang juga tersenyum ke arahnya. Sakura memasang wajah masamnya ketika kami bertemu tatap. Berbeda denganku yang memasang wajah idiot karena senang dirinya datang.
"Haruno Sakura? Itu benar-benar Sakura?" seru Ibuku tak percaya.
Aku mengangguk dengan senyum bangga. Tetapi reaksi yang diberikan Karin berbanding terbalik. Dia memutar matanya tampak bosan dengan mimik wajah yang saat ini sedang kumainkan.
Sakura menghampiri keluarganya untuk berbicara sesuatu. Baru tidak lama, dia bergerak mendekat ke arah meja kami.
"Halo, semua," sapanya ramah. Dia tersenyum pada Ibu dan Ayahku yang ikut memasang senyum terbaik mereka. Ino mendekat dan merangkul bahu kecilnya dengan senyum.
"Sangat cantik. Haruno Sakura benar-benar cantik malam ini," puji Ino yang kuberi anggukan setuju.
Sakura tersenyum samar. Tatapan matanya tidak beralih dariku. "Apa kau tidak punya kaca dirumah? Kau juga tampil memesona hari ini, Ino," jawabnya yang diberi anggukan setuju Sai.
Tak lama kami bertatapan memang, karena Sakura sudah mengalihkan perhatiannya pada Karin yang memasang wajah garang padanya.
"Oh, kau datang? Aku tidak tahu siapa dirimu. Tapi yang pasti, kau orang penting sampai bisa datang kemari?" sinis Sakura.
"Tidak sepenting dirimu, Sakura." Naruto membuka suaranya diikuti kedipan mata nakalnya.
"Mama, Sakura ini kekasih baru Uchiha Sasuke. Yang pernah membuat kita bertanya-tanya siapa wanita yang bisa menaklukan sang cassanova," kata Konan yang langsung membuat Ibuku melebarkan matanya.
Sakura memasang wajah datarnya. Berulang kali tatapan matanya melirik padaku. Sebagai seorang gentle sejati, aku mendekatinya, menarik tangannya agar aku bisa menggenggam tangannya.
"Ini kejutan untuk Mama." Serius. Aku menikmati ekspresi wajah terkejut dari kedua orang tuaku dan juga Karin. Bibir Ibuku sedikit terbuka dan sorot mata Ayahku yang berulang kali menatapku juga mengatakan hal yang sama.
"Kau sedang tidak bercanda, Sasuke?" sanggah Karin.
Aku mengangkat tangan kami yang saling bertautan. "Apa aku terlihat sedang bercanda?"
Karin terdiam. Dia menoleh pada Ibuku yang memasang wajah tak percaya, terkejut, dan masih banyak lagi yang membuatku tersenyum puas.
Sakura menarik sudut bibirnya untuk tersenyum. Memasang senyum terbaiknya, Sakura berusaha untuk melepaskan tautan tangan kami, tetapi tenaganya yang kecil tidak bisa mengalahkan kekuatan laki-laki sepertiku.
Karin perlahan-lahan mundur dan meminta izin untuk pergi ke kamar kecil. Diikuti Ibuku yang pergi setelahnya. Ayahku hanya diam, memandangi kami berdua lalu pergi. Sepertinya keputusan tetap ada di tangan Ibuku.
Sakura melepas tautan tangan kami dengan paksa. Dia memandangku dengan tatapan datarnya. Beralih pada Ino yang tersenyum lebar pada kami.
"Wah, Uchiha, babak drama baru saja dimulai, ya? Aku tidak boleh terlewat kalau begitu," Ino tersenyum lebar yang membuat Sakura harus menarik pipi kirinya agak kencang hingga memerah.
"Paman Sasuke sudah memiliki kekasih?" Hana mendekat ke arah Sakura. Mata gelapnya yang bulat dan besar menatap Sakura dengan pandangan berbinar. Sakura menoleh pada Itachi yang tersenyum.
"Itu putri pertama kami, Uchiha Hana," jawab Itachi.
Sakura tersenyum. Dia berjongkok untuk menyamakan posisinya dengan Hana.
"Halo, manis. Namaku Sakura, panggil Sakura saja."
Hana tersenyum manis. Dia memegang tangan Sakura lalu melepasnya dan kembali berlari menuju Ibunya.
"Dia sedikit pemalu," Konan menjelaskan tingkah Hana yang menggemaskan. "Kurasa dia menyukaimu."
Sakura tersenyum manis. "Oh, Konan, aku juga menyukaimu putrimu. Dia sangat cantik."
Lihat, kan? Dua wanita cantik itu saling memuji. Bukan Konan yang kumaksud, tetapi Hana dan ya, kalian tahu siapa.
.
.
Hanya butuh waktu lima belas menit setelah Sakura datang. Rei Gaara bersama Ibunya juga datang sebagai tamu. Aku memutar mataku dan menatap Sakura yang memandang Gaara dengan pandangan lelahnya. Anak mama itu datang dengan bergandengan erat bersama Ibunya.
Aku akuinya, Nyonya Rei sangat cantik. Tapi tidak untuk anak laki-lakinya.
"Kau bisa muntah kapan pun kau mau," aku berbisik di telinga Sakura. Kepala merah mudanya menoleh dan salah satu alisnya terangkat padaku. "Bisakah aku mengeluarkannya di jasmu saja? Aku malas untuk pergi ke kamar mandi," balasnya.
Aku mendengus dan dia hanya tersenyum kecil. Gaara mengambil tempat tidak jauh dari kami. Dan aku benar-benar mendapatinya tertangkap memperhatikan Sakura dari mejanya.
Sakura mengalihkan pandangannya ke arah lain. Suara langkah kaki mendekat, aku menoleh dan mendapati Sasori mendekat ke meja kami. Dengan senyum menawannya, Sasori menyapa kami dengan ramah. Menepuk bahuku bergantian dengan Itachi.
"Aku sempat berpikir Sakura tidak akan hadir. Apa yang membuatmu hadir kesini malam ini?" tanya Sasori dengan berbisik.
Sakura mengembuskan napas panjangnya. Dia melirikku sekilas lalu kembali pada Sasori. "Ino memaksaku. Kau tahu, dia selalu menggunakan kartu as-nya padaku," jawab Sakura masam yang diberi kekehan Ino.
"Lagipula, ini pertama kalinya kami berdua hadir di sini. Kurasa, bukan masalah," lanjutnya. Dan aku bermetamorfosa menjadi pendengar yang baik. Khusus untuk hari ini saja.
Sasori mengangguk. Dia berulang kali melirik Gaara yang tidak pernah melepaskan pandangannya dari Sakura. Aku sedikit bergerak untuk mentupi arah pandangnya. Dan itu berhasil membuatnya kesal.
Aku tersenyum puas. Gaara kembali memfokuskan dirinya menatap panggung yang mulai menyala terang pertanda acara akan dimulai. Sai mengambil satu gelas anggur lagi untuknya. Dan Naruto yang mengambil dua gelas untukku. Saat pelayan laki-laki itu mendekat pada Sakura, wanita itu mengangkat tangannya menolak secara halus minuman yang diantar.
Sakura sedang tidak ingin mabuk malam ini.
Beberapa gadis cantik lewat di depanku dengan kerlingan mata nakal mereka. Aku meresponnya dengan senyum samar yang sayangnya berhasil tertangkap oleh Sakura. Wanita itu tersenyum padaku, dengan langkahnya yang semakin mendekat. Aku merasa tatapan Sakura seperti merendahkanku.
"Terkadang kau terlihat seperti bajingan, Uchiha," bisiknya.
Aku mendengus. Sedikit menunduk agar bisa berbisik di telinganya. "Kalau begitu kita impas," matanya melebar menatapku. "Terkadang kau juga terlihat seperti jalang kelas satu. Namun lebih baik dan mempesona diantara semuanya."
Tuhan, cabut saja nyawaku saat ini juga.
Sakura hampir saja menyiram anggur itu padaku. Tatapan matanya nyalang dan seolah ingin mengulitiku hidup-hidup. Aku menyeringai lebar padanya, lalu mendekatkan wajahku hingga hidung kami bersentuhan.
Deru napasnya yang memburu seakan memberi kode padaku agar aku segera menciumnya. Namun sebelum itu terjadi, suara pria dari arah panggung membuyarkan suasana. Sakura menjauhkan wajahnya dan berbalik untuk menatap panggung. Kedua pipinya tampak lucu dengan warna merah yang mulai timbul. Aku tersenyum, berhasil membuatnya merona.
"Mari, kita rayakan malam ini dengan sebuah musik klasik yang menjadi kebanggaan Amerika!" seru pembawa acara itu dan tepuk tangan dari para tamu yang hadir menambah kemeriahan suasana.
Ibuku sudah kembali bersama Karin yang terus mengekor bagai anak ayam pada induknya di belakang Ibuku. Ibuku menatapku dengan pandangan datar dan juga pada Sakura. Tetapi Sakura tak gentar ketika mata cerahnya bertemu dengan mata kelam tajam milik Nyonya Uchiha. Benar-benar wanita pemberani.
"Seperti yang sebelumnya, agenda acara ini akan tetap sama seperti tiga tahun yang lalu. Dimana akan ada enam orang yang beruntung mendapat tiket gratis berlibur satu pekan ke Hawai!"
Alisku terangkat ketika suara tepuk tangan dan para pria yang bersiul meramaikan suasana. Aku menoleh ke arah Sakura yang terdiam di tempatnya.
"Yang kita tahu, tiga tahun sebelumnya berlibur ke Aspen dimenangkan oleh keluarga Uchiha Itachi dan istrinya, Uchiha Konan dan Haruno Sasori beserta Uzumaki Naruto. Saat ini panitia menambahkan jumlah penginapan dan tiket pesawat untuk para tamu terhormat kita!"
Naruto tersenyum lebar ketika dia menepuk bahuku. Untuk masalah ini, jujur saja aku tidak pernah menang. Beberapa kali aku kalah dan keberuntunganku selalu berpihak pada orang lain. Tapi entahlah untuk tahun ini.
"Kurasa aku akan mendapatkannya," bisik Ino pada Sakura yang hanya merespon dengan dengusan.
Panitia mulai turun dan membagikan selembar amplop pada tamu yang hadir. Aku dan Sakura juga mendapat amplop yang sama dan kami berdua tidak tahu apa isi amplop itu. Bisa saja salah satu dari kami akan pergi atau tidak keduanya.
"Silakan buka amplop yang diberikan," pembawa acara itu berteriak melalui microphonenya.
Aku membukanya dengan pandangan waspada. Jika saja aku dapat kartu emas ini dan Karin juga mendapat keberuntungan yang sama, aku akan angkat kaki dari Amerika dan pergi untuk mencari keberuntungan lain.
"Apa maksudnya ini?" seru Sakura ketika dia mengangkat kartu emas polosnya dari dalam amplop.
"Sial, Sakura! Kau akan berlibur ke Hawai!" Teriak Naruto girang. Para tamu langsung menoleh ke meja kami dan beberapa dari mereka mengucapkan selamat pada Sakura dari tempat mereka masing-masing. Sasori tersenyum senang, tapi tidak dengan Ibunya. Nyonya Haruno tampak tidak senang putrinya pergi berlibur.
"Oh, aku juga dapat!" Ino berteriak histeris dan diberi pelukan Sai yang juga mendapat kartu yang sama.
Sekali lagi, Sai yang beruntung. Sasuke yang malang.
Aku belum berani membuka amplop milikku. Naruto yang melihatnya hanya mendesah. Lalu, tak lama pekikan suara Gaara yang terkejut membuyarkan lamunanku. Sial, anak mama itu dapat kartu emasnya.
"Sasuke, buka amplopmu, jika ini keberuntunganmu kau akan pergi bersama Sakura," bisik Naruto.
Aku membuka amplopnya dan serius, pandangan mataku terasa terbakar ketika kartu emas itu keluar dan ada di tanganku. Sakura melihatnya dengan pandangan matanya melebar.
"Ya, ternyata tahun ini dimenangkan oleh anak pebisnis dari kalangan atas Amerika. Rei Gaara, Haruno Sakura, Yamanaka Ino, Shimura Sai, Uzumaki Karin dan Uchiha Sasuke! Selamat untuk mereka! Kalian semua akan pergi lusa. Untuk lebih jelasnya, pihak panitia akan berbicara dengan kalian setelah acara ini selesai. Terima kasih untuk malam hebatnya!"
Lalu, musik berbunyi nyaring setelah pembawa acara itu turun. Sakura menoleh ke arah Gaara yang tersenyum dan aku menoleh pada Karin yang memandangku dengan tatapan puas.
Sial, liburan macam apa ini nanti?
.
.
.
.
Tbc.
.
.
.
.
Author Note:
See you next chapter!
