Wonderland
.
.
.
.
.
.
Disclaimer: Masashi Kishimoto
.
.
.
.
Sakura POV
Sasori benar. Diantara banyak peserta yang namanya ada di dalam kertas undian itu, beberapa dari mereka akan keluar sebagai simbolis sebuah keberuntungan. Liburan ini bukanlah main-main. Uang yang mereka keluarkan juga tidak sedikit.
Tetapi tidak dengan Ibuku. Mungkin dia senang karena nama Rei Gaara keluar sebagai salah satu dari sekian banyak peserta yang beruntung. Tapi nama lain yang tidak ingin didengarnya juga memiliki keberuntungan yang sama.
Uchiha Sasuke.
Dan beginilah nasibku. Duduk di kursi keluarga dengan Ibuku sebagai pemeran pembantu wanita yang tengah berdiri memutari kursi dengan alis bertaut. Aku bersumpah, jika Ibuku terus seperti ini, obat awet mudanya tidak akan bertahan lama.
Dan aku sebagai tokoh utamanya. Duduk berdiam diri menunggu eksekusi berat yang dijatuhkan oleh sang pelaku.
"Sakura, ini tidak bisa dibiarkan," jerit Ibuku frustrasi.
Aku memutar mataku. Memandang bosan pada Ibuku yang terus mengucapkan kalimat yang sama sejak setengah jam yang lalu. Lihatlah, Sasori juga lakukan hal yang sama.
Lalu, Ayahku memilih untuk diam seakan-akan mendengarkan padahal tidak.
"Aku harus bagaimana? Mama yang menulis namaku di kertas itu dan kesialan itu sedang berpihak padaku," jawabku yang diberi delikan tajam Sasori.
Ibuku duduk sembari mengusap dadanya yang naik turun. "Gaara ikut. Itu berita yang bagus. Tapi Uchiha Sasuke juga akan ikut bersama kalian. Bagaimana ini?"
Sasori mendengus. Ia melempar bantal sofa ke atas karpet tebal dan memandang Ibuku dalam-dalam. "Jangan terlalu dipikirkan, Ma. Sakura sudah besar, dia tidak akan macam-macam."
Aku tersenyum. Memberikan satu jempolku pada Sasori yang dibalas dengan kedipan mata darinya. Sasori adalah kakak terbaik yang pernah ada. Aku pernah katakan itu bukan pada kalian?
"Sudahlah. Sakura akan tetap pergi. Kau tidak bisa melarangnya hanya karena Uchiha Sasuke ikut. Lagipula, perjodohan itu masih berlangsung lama. Biarkan hubungan mereka berjalan terlebih dulu," Ayahku berdiri dan mengusap bahu Ibuku yang bergetar. Sorot matanya melembut ketika Ibuku menatapnya lirih.
Hening sesaat. Aku berharap jawaban yang akan keluar dari sang Nyonya besar berhasil membuatku tenang. Ayolah, aku juga ingin liburan. Yah, setidaknya ada Ino. Kami bisa pergi bersama.
"Terserah. Tapi ingat satu hal, Sakura," aku tersenyum lebar seraya menunggu dengan antisipasi. "Jangan abaikan telepon dariku."
Aku berdiri. Memberikan senyum terbaik pada anggota keluargaku lalu berlari ke kamar. Aku butuh koper besar untuk barangku nanti.
Hawai, tunggu aku di sana!
.
.
Sasuke POV
Kurasa setelah pesta tadi, telingaku mengalami gangguan kronis yang sangat parah dan mematikan. Buktinya, aku berhalusinasi seolah-olah Ibuku baru saja mengatakan hal yang sangat bijak yang jelas-jelas berpihak padaku.
Ini benar. Aku harus pergi ke dokter sebelum terlambat. Telinga adalah organ yang sangat penting. Jika mengalami gangguan, ke depannya tidak akan berjalan baik.
"Sasuke, apa kau mendengarku?"
Aku tersenyum. Menepuk bahu Ibuku agak keras sampai membuatnya mendelik.
"Mama tidak salah minum? Atau mungkin Mama keracunan vodka yang dibawa pelayan tadi?"
Anak kurang ajar. Memang. Julukanku tidak jauh dari itu.
"Sial," benar, kan? Ibuku baru saja mengumpat.
"Aku hanya terkejut, Ma," jawabku yang berhasil membuat sorot mata tajam Ibuku melunak.
Ibuku menghela napasnya. Ia memegang tanganku, meremasnya lembut. "Kenapa kau tidak bilang padaku sejak awal kalau kau berkencan dengan Haruno Sakura? Astaga, Sasuke. Mama bisa saja mati karena serangan jantung tadi. Maafkan Mama."
Sebentar lagi mungkin Ibuku akan pingsan menggelepar dengan mulut berbusa karena vodka yang diminumnya terlalu keras dan beralkohol tinggi yang jelas-jelas sangat berbahaya untuknya. Hasilnya seperti ini. Sama sekali bukan Nyonya Uchiha.
"Benarkah? Oh, ya Tuhan. Kupikir, Mama berwajah seperti itu karena tidak menyetujui Sasuke berkencan dengan wanita lain selain Karin," Konan menimpali dengan mulut terbuka. Itachi yang berdiri di sampingnya ikut mengangguk.
"Tidak, tidak. Itu adalah bagian dari pengendalian diri," sebelah tangannya yang bebas melambai di depan wajahnya. Ibuku tersenyum lebar ke arahku. "Ah, kalau begini aku akan mencari cara lain untuk membatalkan perjodohan kalian. Sasuke, kau sebaiknya kembali ke apartemenmu dan bersiap-siap. Kau bisa menghubungiku kapan saja jika kau butuh sesuatu."
Aku tersenyum lebar. Naruto dan Sai yang berdiri tak jauh dari kami memasang wajah seram tak karuan. Mulut terbuka dan mata melebar. Aku benar kan? Ibuku terkadang berhati malaikat. Dan begini jika hati malaikatnya sedang bekerja.
"Tentu saja, Ma. Aku harus kembali," aku melambaikan tanganku pada keluarga besarku yang berkumpul di taman rumah. Sebelum aku pulang ke apartemen, Ibuku menyuruhku untuk berkumpul sebentar membicarakan masalah liburan ini. Aku sudah memasang tameng yang tebal untuk melawan Ibuku. Tapi ternyata itu tidak berguna. Tidak sama sekali.
Dan Hawai? Siap-siap dengan kejutan yang terjadi di sana nanti!
.
.
LAX International Airport, 09.00 AM.
Ayahku tidak mengatakan ini sebelumnya kalau dirinya menawarkan diri untuk memfasilitasi para pemenang undian dengan pesawat pribadi miliknya. Aku terkejut tentu saja. Kupikir pihak panitia menyewa pesawat lain untuk kami. Tapi tidak. Ayahku menawarkan diri dan pihak panitia dengan senang menerimanya.
"Jadi ini pesawat milikmu?"
Sudah tertebak suara siapa yang mengalun lembut bagai melodi harpa ini. Aku menoleh. Tersenyum bangga.
Sakura mendengus. Ia membuka kacamata hitamnya dan menatap lurus ke depan. "Aku koreksi. Ini pesawat milik keluargamu, bukan milikmu. Jadi pada intinya, ini masih milik Ayah atau Ibumu."
"Keduanya."
Sakura menoleh dengan senyum manis. "Oh, berarti uangmu belum mampu untuk membeli pesawat pribadi, begitu?"
"Hanya tidak ingin saja," jawabku. Aku memasang kacamata hitamku dan menatap lurus ke badan pesawat yang perlahan-lahan mundur dan berputar.
Sakura tersenyum samar. Ia memilih untuk tetap diam.
"Sasuke!"
Ya, Tuhan. Kenapa mobil yang membawanya tidak mengalami kecelakaan? Tuhan benar-benar belum mengabulkan doaku kalau begitu.
Sakura menoleh dengan alis terangkat. Aku memandang wanita yang tersenyum lebar ke arahku itu dengan pandangan bosan. Tapi percuma saja, aku memakai kacamata. Karin tidak akan melihatnya.
"Tunanganmu datang. Aku harus pergi," Sakura melambaikan tangannya di depan wajahku dan dengan sikap gentle, aku menarik tangannya dan menggenggamnya agar tetap diam di tempat.
"Dia bukan tunanganku," aku berbisik di telinganya. Sakura menjauhkan kepalanya seraya memandangku sinis dan yang bisa kulakukan hanyalah menyeringai padanya. "Aku lebih memilih bersama kekasihku dibanding bersama wanita lain, tentu saja."
Tangan Sakura yang kecil namun memiliki tenaga yang besar itu bergerak, melepaskan tautan tangan kami.
"Ini hanya sandiwara. Jangan terlalu diambil hati, Uchiha. Tidak baik."
Sakura tersenyum menang setelah aku memberikannya tatapan seorang pecundang yang kalah.
Kalian mengira kalau aku sudah kalah? Tidak, bung. Kalian tentu pernah melihat pahlawan super selalu kalah di awal permainan dan menang di akhir permainan? Kalau begitu, kalian juga akan melihatku sama seperti mereka nanti. Kita lihat saja.
.
.
"Bangku kanan dengan nomor duduk enam. Aku tidak salah duduk."
Sakura mendengus keras. Dia benar-benar keras kepala. Menggerutu tidak jelas hanya karena aku duduk tepat di samping kursinya. Dia duduk di nomor bangku lima. Sedangkan aku enam. Apa yang salah?
"Pindahlah, Uchiha. Masih ada satu bangku kosong di belakang," dia memutar matanya. Berulang kali memainkan sabuk pengaman di pinggang kecilnya. Pesawat akan lepas landas lima menit lagi dan dia masih gelisah.
"Kau saja yang pindah," ini serius. Aku sedang tidak ingin berdebat. Kalian tahu? Terkadang aku memiliki demam pesawat yang parah. Membuatku mual ketika sampai bandara tujuan nanti. Itu rahasia. Hanya Ibuku yang tahu dan kalian tentu saja. Jangan sampai Sakura tahu, itu akan memalukan.
Sakura menoleh, mendapati sisa bangku yang kosong hanya ada di samping Rei Gaara. Dia menggigit bibirnya, antara harus pergi atau memilih untuk tinggal.
"Kau benar-benar mau duduk dengannya? Silakan saja. Aku memperbolehkanmu hanya untuk di sini saja," aku merapatkan kakiku untuk memberinya jalan. Sakura mendesah berat, ia menepuk dahinya keras dan memandangku sinis.
"Tidak perlu. Aku akan tetap di sini."
"Itu bagus." Aku kembali meluruskan kakiku dan menekan tombol bantalan kaki agar lebih nyaman. Pesawat ini sudah lulus uji yang terbaik. Ayahku bahkan berani menjamin keamanannya. Pesawat ini sudah dilengkapi beberapa peralatan canggih yang tidak akan membuat penumpangnya merasa tidak nyaman.
Termasuk aku.
Pesawat sudah bersiap lepas landas. Aku mengencangkan sabuk pengamanku setelah pramugari itu memberikan instruksi tentang pentingnya keselamatan. Selama wanita itu berbicara, aku melirik Sakura yang lebih memilih memandang ke luar jendela dibanding diriku.
Sedikit menyedihkan. Tapi tidak apa.
"Kau berpikir untuk turun? Sayangnya, sudah terlambat," celaku.
Sakura hanya melirik dan kembali menatap jendela. "Tidak. Aku hanya berpikir untuk kembali dengan pesawat komersil biasa."
"Aku akan membantumu untuk mencarikan tiket yang terbaik. Pelayanan kelas satu tentunya, kan?"
Sakura menoleh dengan senyum malas. "Kelas ekonomi juga bukan masalah."
Aku hanya tertawa rendah. Menyadari nada sarkasme yang terkandung di dalam suaranya.
Pesawat sudah mulai meninggalkan landasan. Kami sedang berada di ketinggian yang aku sendiri tidak tahu. Yang jelas, pemandangan di bawah sana mulai menghilang. Hanya tersisa awan-awan putih layaknya kapas tipis.
.
.
Ini bagus. Aku tidak mengalami mual, kepala pusing atau gejala lain seperti Ibu hamil pada umumnya. Aku turun dengan selamat. Tanpa penyakit apa pun yang tertinggal. Mungkin karena doa Ibuku atau ada hal lain?
Kami sampai di bandara Hawai dengan beberapa orang yang sudah berjaga menyambut kami. Ini lucu. Aku berlibur untuk bersantai bukan diarak seperti pawai karnaval. Dan apa pula ini? Kenapa harus ada kalung bunga?
Sakura hanya tersenyum. Ia memakai bunga di atas kepalanya yang sudah dibentuk menjadi lingkaran. Aku tidak tahu namanya. Yang jelas itu lebih baik dibanding kalung sialan ini.
Sai hanya tersenyum. Tapi itu jelas senyum palsu. Aku mengenalnya lebih dari seumur hidupku. Dia benar-benar tidak suka dengan penyambutan konyol macam ini.
Sedangkan Gaara? Aku tidak tahu dan tidak mau peduli. Mungkin sewaktu pesawat sampai di tujuan, ia berubah pikiran untuk kembali ke rumah. Bersama sang Ibu. Haha. Lucu. Aku ingin tertawa.
"Welcome to Hawai. Hope you enjoy it, Miss, Sir," salah satu pria berbadan gemuk tersenyum ramah pada kami. Aku hanya mengangguk merespon sapaannya.
Kami diantar menuju rumah-rumah yang ada di pinggir pantai. Hanya ada satu rumah besar yang terlihat mewah dibanding rumah lainnya. Jaraknya yang tidak jauh dari bibir pantai. Ini menyenangkan. Jarang sekali aku melihat laut di Amerika.
Dua petugas yang menjadi tour guide kami berpamitan mundur setelah mereka mengantar kami ke rumah besar itu. Hanya koper besar yang tertinggal.
Sakura maju, ia mencari kamar terbaik di antara tiga kamar yang lain. Tunggu, tiga?
"Kenapa hanya ada tiga kamar? Bukankah seharusnya enam!?" teriaknya.
Mata biru Yamanaka Ino melebar. Dia berlari dengan sepatu haknya ke arah Sakura yang bersandar lemas di dekat lorong. "Benarkah? Astaga."
"Tidak apa, Ino. Kau dan aku. Kita akan satu kamar bersama."
Ino mengangguk. Lalu, suara Karin yang tidak bagus itu menggema nyaring.
"Tidak bisa! Bagaimana denganku?" sama halnya dengan Sakura. Dia juga berteriak. Tetapi bedanya, teriakannya tidak bagus sama sekali. Aku tidak suka suaranya.
Sakura memutar matanya, dia menunjukku dengan telunjuk kecilnya. "Kau tidur bersama calon tunanganmu saja kalau begitu. Bagaimana, Sasuke?"
Aku tersenyum sinis. Menggeleng sebagai jawaban dan tawa Sai keluar bebas. "Tidak. Aku akan tidur sendiri."
"Sasuke akan bersamaku. Kau bersama Gaara." Sai maju untuk berusara. Pria itu mengangkat alisnya, meminta persetujuanku. Dan aku mengangguk.
"Tenang saja, Rei. Uzumaki Karin bisa menjagamu dari serangga nakal," kataku menggoda yang diberi tatapan marah Gaara. Ups. Aku sudah kelewatan, bukan? Tidak apa. Membuat Gaara menangis adalah tujuan hidupku mulai saat ini selain saham dan client tentunya.
Sakura hanya diam dan menarik kopernya masuk ke dalam kamar. Dia dan Ino memilih kamar besar di ujung lorong rumah dan aku memilih kamar kedua di dekat perapian. Hanya sepuluh langkah berbeda dari kamarnya. Dan kamar yang tersisa terletak di ujung rumah. Cukup jauh memang. Tapi biarlah. Aku tidak peduli.
"Sebenarnya aku sudah meminta Ino untuk bersamaku selama kami di sini," Sai membuka kopernya dan menatap koperku. "Dan Sakura mengacaukannya."
"Jangan salahkan dia," belaku. Terlihat gentle? "Kau kurang cepat mengatakannya."
Sai mengangguk. "Kau benar."
Aku menendang koperku menjauh dan duduk di sofa bulat yang nyaman. Bau air laut yang tenang membuatku sedikit santai. "Tapi jika kau satu kamar dengan Yamanaka itu, aku bertaruh akan terjadi sesuatu yang mengesankan nanti."
Sai menyeringai. Dan aku memasang wajah datar. Tidak terkejut.
"Bajingan memang. Kau tidur di sini saja. Tidak usah kemana-mana. Ayahmu akan terserang jantung kronis jika tahu anak satu-satunya mengalami kematian yang mengenaskan karena ulah seorang Yamanaka."
Sai mengangkat alisnya. "Maksudmu, Ayah Ino?"
Aku mengangguk setuju.
Sai memucat seketika. "Kau benar. Matilah aku."
"Kau lebih baik disini. Jangan macam-macam atau hidupmu akan berakhir tragis nanti, man," aku berteriak dari luar kamar setelah pintu tertutup. Aku butuh bir dingin sekarang juga.
.
.
Mereka benar. Yang dikatakan banyak orang benar. Kalau Hawai benar-benar surga dunia yang ada. Atau bisa dibilang, Hawai adalah serpihan surga yang ada di dunia di antara jutaan serpihan lain di dunia. Sepertinya bukan ide yang buruk jika liburan nanti aku berkunjung ke tempat lain. Yang bisa membuatku santai tentunya.
Dengan siapa? Itu bisa diatur.
Aku sudah mendapatkan bir dingin. Pihak panitia bekerja dengan baik. Mereka menyediakan segala yang dibutuhkan para pemenang. Kulkas-kulkas besar yang ada di dapur terisi penuh dengan makanan. Laci-laci yang ada terisi dengan makanan ringan. Fasilitas lain juga tidak kalah. Bayaran yang setimpal dengan yang dikeluarkan orang tua kami.
Ini beruntung. Pantas saja Konan selalu mengajak Itachi kemari untuk berlibur akhir pekan. Dia tidak bisa pindah ke lain hati selain tempat ini.
Dan Naruto yang selalu bercerita tentang pemandangannya yang membuat kau melupakan saham, seks, wanita, pekerjaan dan lainnya. Naruto benar. Aku baru sampai lima belas menit yang lalu, dan aku sudah lupa tentang saham yang menjadi tanggung jawabku.
Kalian tidak perlu khawatir. Itachi ada sebagai pangeran kudaku dan Ayah yang siap menjadi malaikat penolongku. Aku aman.
"Aku ingin tinggal di sini," Sai membuka kaleng birnya. "Aku juga ingin menikah di sini."
Benar, kan? Shimura Sai mengalami jetlag akut sepertinya. Dia mulai melantur yang tidak-tidak.
"Aku siap mendorongmu ke laut, Sai, jika itu yang kauinginkan," kataku dan Sai hanya tersenyum.
"Aku serius, Sasuke. Aku harus memikirkan soal pernikahan," jawabnya. Sai tidak pernah berbicara tentang pernikahan sebelumnya. Dia sama sepertiku. Senang bermain-main. Peduli setan dengan pernikahan. Itu tidak masuk dalam daftar.
"Ya, terserah. Kau akan menikahi siapa? Yamanaka?"
Dia mendesah berat. Ini akan berjalan sulit untuknya. Perlu kutekankan lagi satu hal kalau Yamanaka Ino bukanlah orang sembarangan. Ayahnya bekerja sebagai direktur di sebuah laboratorium kimia besar. Dan kita semua tahu bagaimana kimia itu. Kalian pernah belajar tentang kimia? Begitu intinya. Sedangkan Ibunya adalah seorang pengacara kelas senior dengan bayaran euro atau pounds setiap jamnya. Aku tidak terkejut memang. Keluarga Yamanaka bukan orang sembarangan. Mereka berbahaya.
"Dia punya Ayah yang menyeramkan dan Ibunya adalah pengacara handal. Kau ingat kasus besar yang dialami Hanako bulan lalu? Nyonya Yamanaka yang memegang kasus itu dan menang. Padahal banyak orang berasumsi kalau kasus itu tidak akan pernah berhasil," kataku.
Sai semakin cemberut. Lucu sekali wajahnya. Naruto harus tahu hal ini.
"Kau semakin menyedihkan jika memasang wajah seperti itu. Tersenyumlah."
Itu tidak berhasil. Sai memilih untuk pergi ke dalam rumah dan entahlah. Dia menghilang.
Kalian benar. Aku memang terkutuk.
.
.
"Biar kubantu, Sakura."
Saat aku memilih untuk mengacak ruang dapur dan mencari makanan ringan. Aku mendengar suara Gaara yang seolah-olah dilembutkan pada Sakura. Jelas sekali Sakura. Aku mendengar Gaara menyebut namanya.
Aku mencari sumber suara. Menemukan Gaara yang berdiri berhadapan dengan Sakura yang membawa sekardus penuh berisi bir kaleng. Sakura menggeleng dengan senyum malas dan Gaara masih bersikeras untuk menolongnya.
Dasar bodoh.
Aku datang menghampiri mereka. Dan wajah masam Gaara yang pertama kali kulihat setelah menginjakkan kaki di sini. "Biar kubantu."
Sakura memutar matanya. Tapi dia tidak menolak. Dia memberikan kardus itu padaku dan berjalan pergi.
"Kau memang pengganggu, Uchiha. Seharusnya aku mendorongmu ke laut saja tadi," desisnya.
Aku berbalik. Tersenyum ke arahnya. Ejekannya sama sekali tidak berarti untukku. "Jangan katakan seperti itu, Rei. Itu bisa saja terjadi padamu nanti."
Gaara pergi dengan wajah marah lalu apalagi ya? Intinya lelaki itu marah dan wajahnya memerah. Aku berani bertaruh, sebentar lagi dia akan menangis. Wajahnya mirip sekali seperti tanda-tanda wanita yang ingin menangis.
Aku pergi mengikuti Sakura yang berbelok ke lorong dan masuk ke dalam kamarnya. Aku tidak mengerti mengapa Sakura membawa kardus bir kaleng ini ke kamarnya.
"Taruh di sana," Sakura menunjuk tempat kosong di bawah meja dengan dagunya. Aku menaruh kardus itu di sana dan melemparkan tatapan bertanya.
"Untuk apa bir ini?"
"Bukan urusanmu."
"Seharusnya, kau berterima kasih padaku."
"Untuk apa? Aku tidak menyuruhmu untuk membantuku, kan? Kau yang punya ide itu sendiri."
"Aku menolongmu dari si bodoh itu. Kau bisa saja bersamanya saat ini." Kami masih berdebat.
"Aku sudah menolaknya tadi. Dan kau datang. Aku hanya memanfaatkan situasi seperti apa yang pernah kita lakukan sebelumnya. Bukan begitu?"
Sakura benar-benar keras kepala. Aku tidak tahu sifat keras kepalanya menurun dari Ibu atau Ayahnya. Dia tidak seperti ini saat kecil dulu.
"Ya, terserah."
Aku menyerah dan keluar dari kamarnya. Sakura tersenyum menang setelah aku berbalik pergi dan berjalan menjauh dari kamarnya. Pintu tertutup adalah suara terakhir yang kudengar.
"Pergilah, Karin!"
Aku menoleh, mendapati Sai yang berdiri di dekat pintu dan bersuara keras layaknya seorang Ayah yang membentak putrinya karena kencan dan pulang tengah malam. Begitu gambarannya. Aku masuk, menemukan Karin duduk di ranjang besar kamar kami dan memasang wajah menyebalkan.
"Aku hanya ingin menunggu Sasuke di sini. Apa tidak boleh?" serunya.
"Tidak," jawabku. Sai menoleh dramatis. Helaan napasnya yang memberat seakan menjawab segalanya.
"Seharusnya, aku yang tidur bersamamu!"
"Dalam mimpimu," kataku.
Karin berwajah sedih. Dan itu menyebalkan. Aku lebih baik tidur seranjang dengan Uzumaki Naruto yang menyebalkan dan berisik dibanding sepupunya. Itu lebih terlihat seperti mimpi buruk di siang hari.
"Aku akan melapor pada Ibumu kalau begitu!" Ancamnya.
Sai mengerutkan dahinya ketika reaksi dariku biasa saja.
"Silakan, Nyonya. Kau akan mendapatkan jawaban yang bagus nanti."
Karin memasang wajah masam dan memerah. Tidak berbeda jauh dengan Rei Gaara tadi. Aku bertaruh, sepertinya mereka berjodoh. Dan mungkin juga keduanya tidak menyadarinya.
Karin pergi dengan hentakkan sepatu tingginya dan menabrak bahuku. Aku tidak peduli. Wanita itu punya sifat temperamental. Mudah marah, mudah tersinggung, mudah menangis. Tidak seperti kebanyakan wanita lainnya jika marah dan menangis mereka terlihat menggemaskan. Sedangkan dia? Kalian bisa menebaknya sendiri.
"Dia gila karena terobsesi padamu, Sasuke," Sai duduk di sofa dan membuka kaleng bir keempat. Itu yang kuhitung setelah melihat sampah kaleng bir di atas meja.
"Dan aku gila karena melihatnya. Demi Tuhan, kenapa wanita sepertinya bisa ada di dunia?"
Sai mengangkat bahunya. "Jika saja wanita di dunia ini seperti Yamanaka Ino. Mungkin aku berdoa setiap detiknya agar bisa hidup di dunia selamanya."
Sai mulai mabuk. Tapi bir ini mengandung sedikit alkohol. Aku tidak percaya ini.
"Mati saja kau sana."
Sai terkekeh ketika bantal mendarat sempurna di wajahnya dengan pelaku utama adalah Uchiha Sasuke.
.
.
Jam di Hawai menunjukkan pukul sebelas malam. Makan malam sudah berakhir sekitar tiga jam yang lalu. Dan aku masih duduk di tepi laut dengan wanita yang separuh kesadarannya sudah hilang.
"Kau mabuk?"
Sakura menoleh. "Tidak."
"Kau biasa minum?"
Sakura mengangguk. "Hanya dua gelas."
Aku melihat tiga kaleng bir di sekitarnya. "Kau minum tiga gelas."
"Tapi aku tidak mabuk. Aku masih sadar."
Sebelumnya, kami tidak hanya berdua. Ada Ino dan Sai yang bergabung. Lalu, Ino berpamitan ke kamarnya karena dia harus menghubungi keluarganya dan Sai yang memilih untuk kembali ke kamar untuk tidur. Alasannya klise, dia lelah.
Untuk Gaara dan Karin? Mungkin mereka berdua sedang melakukan hubungan intim di kamar remang-remang mereka. Aku tidak mau memikirkannya.
"Aku bertaruh kau sudah mabuk, Sakura."
Sakura memutar matanya. Dia mendorong tiga kaleng kosong birnya dan menatapku. "Aku masih sadar, Sasuke. Aku tidak mabuk. Tiga gelas ini belum apa-apa."
Sakura kembali fokus memandang lautan lepas yang tenang. Tatapan matanya tampak tenang dan tidak terlihat kosong. Tidak seperti biasanya yang kulihat.
"Kenapa kau mendekatiku sekarang? Tidakkah kau ingat kalau dulu kau selalu menyumpah padaku? Mengejek diriku seakan-akan aku ini sampah di matamu?"
Gotcha. Ini pertanyaan yang sedang tidak ingin aku dengar sekarang.
"Apa maksudmu?" Aku terlihat bodoh sekarang.
Sakura menoleh. Wajahnya datar. "Aku hanya bertanya. Tapi kau tidak perlu menjawabnya. Aku sudah tahu jawabannya."
Kemudian, dia berdiri. Berbalik pergi dengan membawa tiga kaleng birnya dan membuangnya di tempat sampah. Aku hanya mampu menatap punggungnya. Tidak berani memanggil namanya dan menggodanya seperti yang biasa kulakukan padanya.
Ini sulit. Masa lalu kami bertolak belakang dengan apa yang terjadi saat ini. Aku tidak memiliki hubungan yang baik dengannya saat kami masih kecil dulu. Orang tua kami juga tidak terlalu dekat. Hanya bersikap formal biasa.
Aku mengikutinya masuk ke dalam rumah. Menutup pintu rumah besar dan masuk ke dalam. Saat aku membuka pintu kamar, aku tidak menemukan Sai di mana pun. Ranjang tempat tidur kami juga masih bersih dan rapi.
Dimana dia?
Aku berjalan diam-diam menuju kamar yang ditempati Sakura dan Ino. Tidak ada yang mencurigakan di sana sampai pintu kamar yang sedikit terbuka membuatku tergoda untuk melihat apa yang terjadi.
Dan benar saja. Dugaanku benar sekali. Kalian tahu? Kalian pasti tahu apa yang dilakukan mereka di sana.
"Sai memperkosa Ino selama tiga jam? Ini gila."
"Apa yang kaulakukan di sini?"
Aku menoleh. Mendapati Sakura memandangku dengan alis terangkat. Kupikir dia ada di dalam dan ikut bergabung bersama mereka. Dugaanku salah.
"Kau darimana?"
Sakura mengerutkan dahinya. Tetapi kemudian dia menjawab santai. "Dari dapur. Aku harus makan sesuatu sebelum tidur."
Lalu, dia kembali bertanya. "Untuk apa kau kemari? Kau ingin mengintip Ino yang sedang tidur?" tuduhnya.
Aku mendengus. Menarik tangannya untuk ikut mengintip dari celah yang terbuka bersamaku. Dan pemandangan yang bagus pun terlihat. Matanya yang bulat melebar dan mulutnya sedikit membuka.
"Sial. Sial. Apa yang dilakukan si bodoh itu?" gerutunya dengan wajah yang memerah.
"Kau kenapa? Bukankah itu hal biasa bagi kalangan model seperti kalian?"
Sakura menggeleng. Dia memukul bahuku agak keras dan aku hampir menjerit karena pukulannya. "Tidak, bodoh. Kami bukan tipe yang seperti itu," Sakura berbisik namun suara desahan yang keras terdengar sampai ke telinga kami. "Ino masih perawan. Sai tidak boleh melakukannya."
Aku melotot. Dan Sakura mengangguk frustrasi. Tapi kemudian mimik wajah datarku kembali. "Tapi mereka sudah melakukannya tiga jam."
Sakura menoleh dengan pandangan menduh. "Bagaimana kau bisa tahu?" Tetapi wajah meledek Sakura membuatku kesal setelahnya. "Oh, ini hal yang biasa untukmu dan teman-temanmu, kan? Aku tidak terkejut."
Aku hanya diam.
"Sai cukup cerdas. Dia tidak menggunakan ranjang untuk bermain. Jika saja dia memakai ranjang, semua orang akan tahu apa yang mereka lakukan," jelasku.
Sakura hanya memasang wajah biasa dan dia bersandar agak jauh dari kamarnya setelah ia berjalan pergi agar tidak lagi mendengar suara sahabatnya dari dalam sana.
"Kau bisa tidur di kamarku. Aku akan tidur di sofa." Tawarku.
Sakura tersenyum kecil. "Tidak. Aku akan tidur di ruang tengah."
Aku menggeleng. "Aku menolak."
"Kau tidak berhak."
"Bagaimana kalau Gaara datang dan melakukan hal yang tidak-tidak padamu!?"
Alis Sakura terangkat. "Kenapa kau membentakku, bodoh?" Menghela napas pendek, dia kembali bersuara. "Baiklah, kalau itu maumu. Aku akan tidur di sana dan kau tidur di luar. Sepakat?"
"Itu mudah."
Selesai. Sakura masuk ke dalam kamar dan masih tetap diam. Kami tidak lagi berdebat bahkan ketika pintu tertutup rapat. Sakura duduk di atas ranjang. Menatapku datar.
"Apa?"
Kepala merah mudanya menggeleng.
"Kau benar tidur di sofa itu, kan?" tanyanya.
Aku mengangguk.
"Bagus." Ia melepas ikatan rambutnya dan menaruhnya di atas meja. Rambut panjang indahnya terurai. Ada aksen gelombang di bawahnya bekas ikatan rambut itu. Dan itu adalah pemandangan terindah yang pernah kulihat.
Oke. Terkesan berlebihan. Tapi serius. Dulu Sakura punya rambut pendek dengan potongan bob yang jelek. Aku masih ingat jelas bagaimana rambut merah mudanya yang nyentrik berpadu dengan potongan bob. Sangat lucu.
"Selamat malam." Kataku yang hanya dibalas gumaman singkat.
Semoga mimpi indah. Aku tidak bisa mengatakannya.
Dan untuk kalian? Jangan berpikir macam-macam, okey?
.
.
Jujur, aku tidak bisa tidur. Dan sialnya, aku kebangun.
Tidak bisa. Aku mencoba beberapa kali memejamkan mataku tapi gagal. Aku hanya bisa tertidur sekitar satu jam atau dua jam mungkin? Kamarku gelap. Tidak terlihat adanya jam di sini.
"Sakura?"
Nihil. Tidak ada reaksi. Aku berani bertaruh, aku tidak mendengar suara orang tertidur di kamar ini.
Menyalakan lampu, aku menemukan ranjang besar kamarku kosong. Tidak ada Sakura di sana. Hanya ada sisa seprai yang berantakan dan dua bantal yang ada di lantai.
Aku membuka pintu kamar. Lorong tampak sepi. Hanya lampu-lampu malam yang menyala. Ruang tengah juga sepi. Gelap tentu saja. Hanya saja aku mendengar suara langkah kaki dari arah dapur.
Suara itu semakin jelas ketika aku mendekat. Dan benar. Di antara lampu ruangan lain, hanya lampu dapur yang menyala agak terang. Dari empat lampu yang ada, hanya dua yang menyala. Tapi aku bisa melihat jelas siapa yang ada di sana.
Sakura.
Mataku melebar ketika tahu dia tidak sendirian di sana.
Ada Rei Gaara.
Serius, ada si bodoh itu di sana.
Tubuh mereka hampir menempel satu sama lain. Sakura terjebak di dalam kurungan tangannya. Menghimpitnya di antara laci dapur dengan tubuh tidak bagusnya.
"Kau tahu apa yang selanjutnya terjadi, Sasuke."
Aku menoleh cepat. Mendapati Karin tengah tersenyum menang karena pemandangan di depan matanya berhasil membuatku terbakar. Ini pasti rencana liciknya. Aku harus beritahu Ibu nanti.
"Gaara mabuk. Yang ada di kepalanya hanyalah bagaimana caranya agar Sakura mau menerimanya. Menerima dalam arti seutuhnya."
Aku tidak akan mudah terpancing. Tapi tetap saja. Pemandangan di depan benar-benar membuatku mual.
"Sakura adalah wanita incaran kaum adam di sini. Siapa saja rela membayar mahal agar bisa dekat dengannya. Kalau bisa menciumnya. Dan Gaara tidak akan melewatkan kesempatan ini."
Aku mendengus. Sedikit mulai terpengaruh. Mentalku memang sedikit lemah di sini. "Jangan berbicara omong kosong, Karin. Seharusnya kau juga tahu diri siapa dirimu sebenarnya. Beruntung, aku dan Naruto tidak membocorkan kelakuanmu pada media."
Mata wanita itu melebar marah. "Apa maksudmu?"
"Karirmu akan hancur nanti. Berterimakasihlah padaku dan Naruto." Aku tersenyum menang. Berhasil membuatnya marah.
"Aku menginginkanmu, Sakura."
Aku kembali menoleh. Gaara menarik Sakura ke dalam pelukannya. Dan kalian tahu apa yang terjadi?
Sebelum aku bisa menyentuh pria merah itu. Semuanya terlambat. Gaara menciumnya dan Sakura memberontak keras tapi gagal. Gaara yang mabuk jauh lebih mengerikan dibanding Gaara dalam keadaan sadar. Aku baru sadar.
Aku terdiam di sisi pintu masuk dapur yang terbuka. Bersama Karin yang tersenyum senang. Ini bagai akhir cerita dalam sebuah drama. Dimana tokoh laki-laki melihat wanita yang dicintainya sedang bersama pria lain dan mereka berciuman. Lalu, laki-laki itu merasa cemburu dan marah. Nah, itu yang aku alami. Hanya berbeda di kata cinta saja.
Aku masuk ke dalam kamar. Meninggalkan Karin yang kesal karena aku meninggalkannya dan bukan mengajaknya bersama masuk ke dalam kamar. Maaf saja, aku tidak tertarik dengannya. Sejak awal. Tidak pernah.
Pintu kamar tertutup sempurna. Aku sengaja mematikan lampu sampai Sakura kembali nanti. Dan wanita itu akan mengarang cerita ketika ia tertangkap basah denganku.
Hanya sepuluh menit, man. Pintu terbuka. Napasnya terengah-engah dan penyebabnya adalah ciuman tadi. Sial. Kenapa pula aku harus melihat Sai berhubungan tadi.
"Kau darimana?"
Sakura hampir saja melompat ketika aku berhasil menangkap tangannya. Tentu saja dia tidak tahu kalau aku bersembunyi di dekat pintu dan berhasil mengelabuinya. Aku sedang kesal sekarang.
"Dapur," dia mengatur napasnya.
"Dengan?"
Dia tampak bingung. "Dengan siapa maksudmu?"
Ah, Tuhan. Aku tidak lagi tahan.
Aku menarik tangannya agak kencang dan dia jatuh terduduk di atas ranjang. Matanya nyalang terbuka. Perasaan marah, kesal, bingung bercampur jadi satu.
"Aku melihatmu, Sakura."
Dahinya berkerut. Sebelum dia bisa menjawab pertanyaanku aku mendorongnya hingga terlentang. Memandangku pasrah karena tenaganya habis mengusir Gaara tadi.
Dan kalian tahu apa yang selanjutnya terjadi. Aku menciumnya memang. Itu benar. Aku mencium bibirnya sama seperti apa yang Gaara lakukan tadi. Tapi bedanya dengan si bodoh itu, Sakura tidak menolak ciumanku sama sekali. Dia juga membalasnya dengan perasaan sama menggebunya. Seolah-olah dia butuh diriku. Dan aku merasa senang.
Berdoa saja, semoga aku tidak berbuat macam-macam malam ini dengannya.
.
.
.
.
Tbc.
.
.
.
.
Author Note:
Masih tahap kissu kissu mah gapapa ya. Saya nulisnya juga malem habis buka. Haha. Nista memang, maapkan.
Eh, jawab pertanyaan yang masuk dulu, ya!
Q: Gaara berubah ntar thor?
A: Huum. Tapi rahasia ya chapter berapa. Tunggu aja.
Q: Itu beneran Gaara anak mama banget?
A: Iya, ntar kelakuan dia dijelasin kok.
Q: Sasuke dulu temen kecilnya Sakura ya?
A: Bisa dibilang sih. Sakura nganggep temen, cuma Sasuke engga. Kan tetanggaan dulunya.
Q: Itu liburan isinya orang ngeselin semua
A: Haha harusnya q juga ikut ya :( kapan lagi ke hawai coba? /dor
Anw, saya seneng banget. Akhirnya Leeminho balik main drama lagi. Setelah tiga tahun vakum. Kulelah menunggunya dan akhirnya haha. Ah saya jadi nista. Intinya, terima kasih bagi yang sudah follow, fave, review dan segala macamnya! Semangat puasanya, guys. Saya ga janji bisa update cepat lagi. Tapi doakan saja, ya! *emot mata berbinar*
Lots of Love
Delevingne
