Aku dan Suami mu

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Pair : SasuHina slight GaaHina

Rated : T+

Warning : Gaje, Abal, OOC, Typo bertebaran dll

Don't Like Don't Read

Aku dan Suami mu © Daisy Uchiha

Beta Reader © Ruby Fair

Happy reading ^_^

Chapter 2

Hinata berjalan melewati lobby dengan menghentak-hentakkan kakinya diselingi berbagai umpatan.

"Dasar Uchiha sialan! Menyebalkan! Brengsek!"

Gadis itu tak mau ambil pusing meski juga menyadari ada beberapa pasang mata yang kini mengarah padanya. Beberapa diantara mereka terlihat mengernyitkan dahi, sedang yang lain cenderung tak memperdulikan.

Terserah saja jika harus menjadi pusat perhatian. Mereka, rekan-rekan Hinata hanya bisa menggeleng maklum seolah sudah paham benar. Bagi mereka, tingkah sang Hyuuga yang sedang merajuk bukan lagi hal baru. Keanehan seperti itu sudah biasa terjadi.

"Hinata-san~"

Lalu, indera pendengar gadis itu menangkap suara yang meneriaki namanya. Intonasi dari suara sebrang bagai tak bersemangat. Hinata menoleh kearah sumber suara bersamaan dengan di hentikan aktivitas mengocehnya.

"Shika-san?" Rupanya si pria Nara. "Ada perlu apa?" Masih belum berubah ekspresi gadis tersebut. Kesal di liputi amarah.

"15 menit lagi akan diadakan rapat direksi. Kau sudah menyiapkan bahannya kan?" Datar pria itu bertanya. Sorot mata bengkak disana menandakan pria itu belum lama ini terjaga dari alam mimpi.

"Rapat direksi ?" Hinata mengulangi seperti orang bodoh. "Oh Tuhan!" Bersamaan dengan ekspresi menyesal ia menepuk jidat.

"Kenapa tak mengingatkan ku tuan koala?!" Memekiklah sang Hyuuga dengan sorot mata amethys yang membulat.

Tak tahan mendengar pekikan, Shikmaru mempoisisikan tangannya melindungi kedua telinga. "Ck, mendokusai!" Ia memutar bola matanya malas mengungkapkan rasa tak berminat.

"Jangan pikir aku hanya diam saja nona. Aku mencarimu kemana-mana dan nasib baik aku menemukanmu disini." Tampak telunjuk tangan kanannya mengarah masuk dalam telinganya. "Ck! Sepertinya aku harus membuat janji dengan dokter spesialis telinga setelah ini."

Oh.. ungkapan terakhir terdengar seperti sindiran. Pikiran Hinata makin kalut tepat saat Shikamaru berujar kata 'rapat direksi'. Pekerjaan penting lagi-lagi. Hinata tak bisa bersantai kalau sudah begini.

"Aaarrgh! Ini semua gara-gara Uchiha sialan itu! Aku jadi lupa kalau hari ini akan di adakan rapat penting!"

Tak banyak ucapan setelahnya, Hinata melesat masuk ke ruang kerja meninggalkan Shikamaru yang datar menanggapi tingkahnya. Tak lupa pula ia melafalkan umpatan-umpatan tak jelas bagai mengekspresikan suasana hati.

"Keh..." Sambil menatap Hinata dengan umpatan tidak jelasnya, Shikamaru terkekeh. "Ada apa dengannya? Dasar wanita aneh." Kemudian ia meninggalkan tempatnya berdiri dan memilih masuk ke ruangan untuk menuntaskan kerja membosankan.

Sementara di kediaman Hyuuga...

Semilir angin menerpa wajah Hanabi di balkon kamarnya saat sebuah mobil tampak masuk ke pekarangan Hyuuga. Hanabi menyipitkan matanya, milik siapa? Terlihat familiar bagi anak itu. Kemudian ia teringat sesuatu.

'Bukankah itu mobil Sasuke-niisan?' Batinnya.

"Apa yang dia lakukan disini? Apa dia sudah tahu kalau Nee-san sudah kembali ke Jepang?" Amethys Hanabi bermain ke kanan dan kiri. Betapa anak itu sedikit tidak mengerti dengan kedatangan orang yang ia prediksi adalah si Uchiha.

Buru-buru ia keluar dari kamarnya menuruni anak tangga. Neji yang menyaksikan tingkah Hanabi tampak mengernyitkan dahi. Amethys pria itu pun terlihat penuh tanya.

"Ada apa dengannya?" Neji bergumam saat Hanabi melintas begitu saja di sebelahnya. Aneh kelakuan anak itu, terlihat buru-buru menuju ruang utama. Kembali menonton acara televisi, Neji hanya menggeleng acuh.

Hanabi lebih dulu menarik kenop untuk memperlebar celah pintu saat Sasuke hendak mengetuk. Onyx pria Uchiha tersebut membulat setengah terkejut.

"H-Hanabi..." Sedikit terbata ucapan Sasuke, masih dengan ekspresi terkejut pula.

"Sasuke Nii-san?"

"Apa Neji ada?"

"A-aah.. Neji-nii?" Arah mata Hanabi beralih melirik sebentar kedalam. "Kau ingin bertemu dengannya?" Tanya anak itu.

"Ya, ku rasa." Singkat saja Sasuke menyahut, menatap Hanabi untuk sedikit menebar senyum paksa.

"Oh.. begitu. Silahkan masuk."

Hanabi kemudian bergeser, memberi celah sebagai isyarat pria itu masuk kedalam. Bungsu Hyuuga tersebut menuntun menuju ruang utama. Lantas, di persilahkan Sasuke duduk sembari menunggu.

"Akan ku buatkan minuman untuk Sasuke Nii-san, tunggulah sebentar."

"Hn, terima kasih." Terdengar Santun saat Sasuke membalas. Setelahnya, Hanabi berlalu.

Segera Hanabi menuntun langkah menuju kakak laki-lakinya yang saat itu berada diruang tengah. Masih sama seperti yang tadi, Sulung Hyuuga nampak asyik menonton acara televisi.

"Kau kenapa?" Neji yang bersuara. Tak sedikitpun ia menoleh untuk menemukan wajah adiknya. "Tadi terlihat buru-buru sekali."

"Sasuke Nii..." Kalimatnya berjeda. Mendengar sahutan Hanabi, sontak Neji beralih pandangan. "Dia ingin bertemu denganmu, Nii-san."

"Sasuke?" Sorot mata Neji mempelototi. Ia kemudian berdiri dari duduknya. "Mau apa dia? Apa dia sudah tahu Hinata telah kembali?"

"Entah." Kedua bahu Hanabi bergedik. "Temui saja."

Dan kembali anak itu berlalu meninggalkan Neji. Tampak pria itu menatap punggung Hanabi yang sudah semakin menjauh, setelahnya beralih pandangan tajam kearah ruang utama.

Sasuke masih pada posisinya. Pandangannya tak fokus hanya dengan satu titik. Tempat ini adalah saksi saat Sasuke dan Hinata saling memadu kasih, meskipun terkadang juga di selingi orang ketiga sebagai pengganggu. Ya, siapa lagi kalau bukan kakak lekaki kekasihnya? Hyuuga Neji! Lelaki rapunsel yang juga dikenal sangat protektiv pada kedua saudaranya.

Kembali memorinya mundur beberapa langkah kebelakang. Sasuke masih ingat benar, sang kekasih dulu sangat sering mengabaikannya untuk fokus pada layar ponsel sebagai hiburan. Gadis itu juga tak banyak bicara jika di tanya.

Terasa sakit menancap benak, namun Sasuke tak ingin ego menguasai perasaannya untuk mengakhiri hubungan. Ia tetap bertahan meski kejadian seperti itu terus saja terjadi. Rasa sayangnya terhadap Hinata sungguh sangat besar walau pria itu selalu di buat sakit hati.

"Sasuke."

Sapaan Neji sukses membuyarkan lamunan si Uchiha berambut raven tersebut.

"Neji?"

Tanpa menyahut, Neji memposisikan diri seperti halnya Sasuke. "Ada apa kau kemari?"

Dua pasang mata berbeda sorot telihat lurus saling menatap. "Apa kau kesini untuk menanyakan Hinata?" Si Sulung Hyuuga menebak.

Disana, tepat pada sosok Uchiha Sasuke, Neji menemukan anggukan kecil tercipta. Dugaannya benar. Sasuke memang mendatangi Kediaman Hyuuga berkaitan dengan adik perempuan pertamanya.

"Haahh..." Dengan kasar Neji mendesah. "Sudah bertemu dengan Hinata?" Sekilas, arah pandang Neji menghadap Sasuke sebelum akhirnya beralih.

"Ya."

"Ku harap kau tidak mengganggu kehidupannya lagi."

Pernyataan pria di hadapannya membuat rahang Sasuke mengeras. "Apa maksudmu?!" Alisnya menaut.

"Aku hanya tidak ingin melihat Hinata depresi lagi."

"Depresi?" Semakin mentaut alis Si Uchiha dengan wajah ikut di tekuk, menciptakan siku-siku pada dahinya.

'Apa maksudnya depresi? Bukankah selama ini Hinata tak pernah sekalipun mencintai Sasuke? Apa masih kurang jelas Neji membaca tingkah adiknya? Perlu diingat, Hinata selalu saja mengabaikan laki-laki Uchiha tersebut'.

'Siapa yang menyebabkan Hinata depresi? Apa sebabnya? Dan, kenapa? Berbagai pertanyaan berkecamuk di kepala pria bermata onyx itu. Sungguh ia tak begitu mengerti, ia membutuhkan penjelasan'.

"Aku tahu dalam hal ini Hinata yang bersalah. Aku tak menyalahkanmu saat kau memilih menikah dengan wanita lain. Tapi ketahuilah Sasuke, Hinata sempat depresi saat tahu kau akan menikah."

Tidak ada sahutan untuk penjelasan Neji kali ini. Lidah Sasuke terasa kelu tiba-tiba. Keduanya saling menatap satu sama lain. Lalu kemudian sorot amethys sang sulung Hyuuga perlahan sayu. Seakan menerawang, ia mengingat sesuatu...

Beberapa tahun kebelakang...

Tepat saat itu...

Pada tahun-tahun yang sempat membuatnya ikut miris...

~FLASH BACK ON~

.

.

.

Hinata menatap heran kedua saudaranya saat itu, "Neji-nii ? Hanabi ? Ada apa dengan kalian?"

Neji dan Hanabi saling bertukar pandang penuh keragu-raguan. Entah bagaimana mereka akan menyikapi situasi saat itu. Arah mata Hinata mengarah kebawah. Tepat pada benda yang kini di genggam Hanabi. Kembali Hinata menatap kedua saudaranya yang sekalipun tak memberinya jawaban. Keduanya terlihat takut-takut sekaligus bingung.

Jelas saja! Bagaimana mungkin mereka tega memberikan undangan pernikahan Sasuke kepada Hinata yang saat ini masih resmi berstatus sebagai kekasihnya?

Tak mendapat jawaban apapun dari kedua saudaranya, Hinata mengambil paksa benda yang terlihat resmi dari tangan adiknya.

"H-Hinata i-itu..." Neji berusaha mencegah, namun sepertinya pria itu kalah cepat. Membiarkan Hinata membuka benda itu dan membaca lebih jauh, Neji memejamkan matanya dalam-dalam. Sementara Hanabi, ia terlihat pasrah. Apa mau di kata? Toh, kakaknya sudah terlanjur melihat.

"I-ini..." Terbata ucapan Hinata. "S-Sasuke-kun?!" Sepertinya gadis itu mulai paham maksud dari benda yang di bacanya.

"Hinata itu-"

"Hiks... Sasuke-kun." Mulai bergetar suaranya disertai airmata yang kini mendominasi.

"S-Sasuke-kun..."

"Nee-san."

"Sasuke-kun.. Hiks.. Sasuke-kun!" Lalu, isakan histeris gadis itupun pecah. Tidak terima. Hinata sungguh tidak bisa menerima dengan baik.

"Hinata..." Sebagai kakak tertua, wajar saja jika Neji khawatir. Sedikit panik ia mendapati Hinata dengan keadaan demikian.

"Neji-nii.. Hiks.. Sasuke-kun!" Kemudian dengan dikuasai amarah Hinata melempar benda yang sempat di bacanya tersebut. Lunglai tubuhnya, kaki jejang putih itu seakan tak lagi mampu menahan tumpuan sehingga mengaharuskannya tumbang.

"Hinata tenang dul - Hinata!" Sigap Neji menangkap tubuh adiknya yang hendak tumbang ke lantai.

"Nee-san." Begitupun Hanabi yang juga tampak panik sama halnya kakak laki-lakinya.

Sedikit kesulitan Neji membebani diri dengan keadaan Hinata yang kini sudah lemas, "Hanabi bantu Nii-san" Ia sedikit berteriak.

"I-Iya Nii-san." Hanabi menolong sebisanya. Ya, setidaknya cukup meringankan beban Neji saat ia membatu menopang tubuh sang kakak perempuan.

Sesuai perananan kakak tertua, Neji membopong tubuh mungil Hinata yang sudah sangat lemas ke kamarnya.

"Buka pintunya, Hanabi."

"B-baik." Disana terdapat anggukan Hanabi. Dengan kasar karena sangat buru-buru ia membuka pintu.

Neji menciptakan langkah lebar untuk masuk keruang kamar adiknnya. Direbahkan tubuh Hinata di atas ranjang, menyelimuti tubuh anak itu, kemudian di tatap lekat-lekat sembari melayangkan fikiran. Jauh dalam benaknya, ada rasa khawatir yang kian menghantui pikiran Neji.

"Sasuke-kun.. Hiks.. Hiks." Hinata bergumam tanpa ia sadari. Bak kristal-krystal bening cairan mengalir dari kedua manik lavendernya.

Dengan perasaan tak tega Neji menghapus air mata sang adik. Kemudian di elusnya surai gadis itu, menyalurkan rasa sayang terhadap adik yang sangat di cintai dan dijaganya.

Neji mengalihkan pandangan pada Hanabi yang tak lain adalah adik bungsunya tersebut.

"Jangan beritahu tou-san tentang ini." Satu kenyataan berusaha di sembunyikan oleh dua bersaudara ini.

"Baik nii-san." Mengerti maksud dari kakaknya, Hanabi mengindahkan. Tak sedikitpun akan keluar bantahan. Mengingat, sang Ayah juga sangat sensitif keadaannya. Bagaimanapun, akan berdampak tidak baik bagi pria berusia setengah abad tersebut, terutama bagi kesehatannya.

Langkah Hanabi kemudian tertuntun untuk meninggalkan kedua saudaranya. Mungkin ia harus berjaga-jaga kalau saja sampai Ayahnya pulang.

"Apa yang kau rasakan Hime ? Apa kau baru menyadari perasaanmu ?" Neji menyibak poni rata Hinata dan mencium kening gadis itu. Ia paham, tak mungkin dalam keadaan hilang kesadaran seseorang akan menyahut.

"Selamat tidur hime. Jangan menangis, ada nii-san yang akan selalu bersamamu".

Neji menekan saklar lampu kamar gadis itu dan kembali ke kamarnya untuk beristirahat, meninggalkan Hinata seorang diri disana.

Baru saja Neji merebahkan tubuhnya di pembaringan, suara gaduh dari kamar sebelah terdengar. Buru-buru ia bangkit kembali. Tidak salah lagi, kegaduhan pasti berasal dari kamar Hinata. Membuka langkah lebar, Neji tergesa menuju kamar adik perempuan yang menyalin penuh wajah sang ibu.

"Hinata!" Tekejut setengah mati, pria bersurai panjang itu kembali menadapati sang adik yang kini tengah di kuasai tangisan keras. Dan, yang makin mengusik hatinya adalah, tangisan Hinata diselingi nama Sasuke.

"Jahat... Hiks! Sasuke-kun! Kenapa kau meninggalkanku ? Bukankah kau bilang takkan meninggalkan ku apapun yang terjadi ?! Hiks.. Kenapa kau meninggalkanku Sasuke?! Kenapa?!"

Entah apa yang merasuki Hinata saat itu. Bagai tak berbeban ia merobek lembar demi lembar gambarnya bersama dengan pria Uchiha yang sebentar lagi akan menggelar pesta pernikahan.

"Hihihi..." Lalu seperti orang gila, Hinata terkikik. "Neji-nii lihat?! Sasuke-kun! hiks..." Dan tak lama berselang Hinata kembali menangis. Hinata tertawa kemudian menangis. Tertawa lagi kemudian menangis sambil menunjuk foto yang telah ia robek menjadi beberapa bagian.

"Hinata, hentikan !" Tak ada perasaan yang lebih menguasai Neji selain rasa prihatin. Keadaan sang adik benar-benar membuat hatinya remuk luar biasa.

"Pergi ! Pergi !" Bak kesetanan Hinata melempar berbagai benda yang bisa di jangkau oleh tangannya.

"Hiks.. Pergi..! Nii-san, usir Sasuke dari sini nii-san. Aku mohon Nii-san!" Dan Kembali ia melempar benda-benda yang berhasil di jangkaunya. Bantal-bantal milik gadis itu kini sudah berserahkan di lantai dengan keadaan kusut.

Sigap, Neji merengkuh tubuh mungil Hinata kedalam pelukannya. "Sudahlah Hime, jangan menangis lagi, ada nii-san disini" Dengan lembut laki-laki Hyuuga tersebut mengelus surai adiknya.

"Nii-san, kenapa Sasuke-kun meninggalkan ku? Hiks.. D-dia.. Dia b-berjanji tidak akan pernah meninggalkan ku nii-san.. A-apa aku.. ".

"Ssttt! sudah Hime, nii-san tidak ingin kau menyalahkan dirimu sendiri" Neji menyelip sebelum Hinata melanjutkan kalimat. "Sekarang tidurlah, nii-san akan menemani disini."

Tak ada sahutan atas pernyataannya. Isakkan kecil masih terdengar namun Neji bisa bernafas lega kali ini. Setidaknya, tak seperah yang tadi. Masih dalam rangkulannya, Neji membelai surai adiknya. Hingga, laki-laki Hyuuga itu menyadari adiknya sudah memejamkan mata dengan setengah lelap.

Kemudian dengan hati-hati, ia merebahkan tubuh mungil adiknya di ranjang, dan membalutkan selimut tebal.

'Apa yang harus aku lakukan sekarang ? Sebagai seorang kakak aku merasa gagal melindunginya...'

.

.

.

"Apa sesuatu terjadi padanya?" Seorang pria berjas putih mengajukan pertanyaan pada si sulung Hyuuga, tepat setelah ia selesai melakukan pemeriksaan pada gadis yang kini tengah tak sadarkan diri di atas ranjang.

"A-ah.. i-itu-"

"Keadaan Hinata-sama tidak cukup baik." Kabuto. Ia kemudian menyelip kalimat Neji tiba-tiba. Pria berkacamata tesebut melirik pasiennya sebentar kemudian kembali melempar pandangan pada Neji.

"Dia depresi. Dan jika di biarkan lebih lama, maka akan berdampak buruk bagi psikologisnya." Tambanhnya.

Hening tempat tersebut. Neji berhembus pasrah tanpa tahu harus berujar apa.

Kemudian Kabuto, yang tak lain adalah dokter keluarga bagi keluarga Hyuuga tersebut melanjutkan, "Aku memang tidak tahu apa masalahnya. Tapi, sebisa mungkin hindari hal-hal yang mungkin dapat memacu tingkat emosinya. Jangan membuatnya stress berlebihan lagi."

"Aku mengerti." Neji mengangguk. Ia hanya memperhatikan saat Kabuto menuliskan sesuatu pada selembar kertas berukuran sedang. Ia tidak akan bertanya. Ia sudah paham.

"Ini resepnya." Kemudian, Kabuto menyerahkan pada Neji, sebuah resep obat yang harus segera di tebus. "Kalau begitu saya permisi Neji-san."

Kabuto meraih tas kebesarannya dan bermaksud untuk pamit.

"A-ah... mari saya antar dokter."

.

.

.

Anak kecil itu mendekatinya diam-diam. Menyembunyikan rasa cemas dengan memasang tampang seolah tak terjadi apa-apa.

"Neji nii."

Suara sapaan kecil cukup membuyarkan konsentrasi pemuda bermanik amethys tersebut. Ia mengalihkan perhatiannya dari koran yang sedang dibacanya.

"Ada apa?"

"Apa nee-san baik-baik saja?"

Walau terkesan tak mau banyak peduli, namun bisa di tangkap oleh amethys pria itu, anak kecil bernama Hanabi, yang juga adik kandung Neji, terdengar mengkhawatirkan kakak perempuannya. Bagaimanapun mereka sedarah. Jadi, ini sangat wajar bukan?

Neji berhembus lelah sebelum akhirnya tersenyum, "Ya. Kau tak perlu khawatir. Cukup sekolah dengan baik dan jangan menambah kekawathiran nii-san." Balasnya, membuat Hanabi kecil mengangguk tanpa sedikitpun bersuara.

"Mengerti?"Kembali Neji bersuara.

"Ya. Aku mengerti." Jawab anak itu lagi.

.

.

.

5 hari kemudian

Tok.. Tok.. Tok

"Hinata?"

CLEK!

Neji memutar kenop dan melangkah masuk ke kamar Hinata tanpa menunggu jawaban dari si empunya.

"Hinata, kau sudah bangun?" Ia kemudian mendekati ranjang yang ia prediksi di tempati oleh adiknya saat itu. Ya, gadis bersurai indigo itu tampak betah dengan posisi menyamping. Membelakangi Neji. Enggan menoleh. Masih terbalut selimut.

"Makanlah." Kembali Neji bersuara. Kali ini, ia meletakkan nampan berisi sarapan pagi untuk adik perempuannya tersebut di atas nakas. "Nii-san tidak ingin kau jatuh sakit."

Tapi apa mau di kata? Bagaimana pun Neji menyapa dan mendekat, hasilnya tetap sama saja. Hinata masih betah pada posisinya tanpa sedikitpun membuat sahutan.

"Nii-san tidak ingin kau seperti ini terus. Ketahuilah kau masih muda. Masa depanmu masih panjang. Masih banyak pria baik-baik yang bersedia mendampingimu. Kau tetap harus melanjutkan hidupmu, paham? Dengan ataupun tanpa Sasuke-"

"Nii-san tidak mengerti." Hinata. Akhirnya ia bersuara, "Kau tidak mengerti Nii-san. Kau tidak mengerti apa-apa."

Tak ada yang dapat menjelaskan bagaimana perasaan gadis itu selain air mata. Sorot pandangannya kosong redup. Ia bagai kehilangan pancaran hidup. Bibir merah merekah sekarang berubah pucat. Singkat hari saja, belum seminggu, keadaannya sukses merubah bentuk pipi gembilnya menjadi tirus dengan sedikit agak pasi.

"Apa yang membuatmu berpikir begitu? Nii-san adalah orang yang paling mengerti keadaanmu. Apapun yang akan kau lakukan, semua sudah terjadi, Hinata. Nii-san tak bermaksud menyalahkanmu untuk ini. Tapi, bukankah selama ini kau tak pernah mencintai Sasuke ? Tak kau tampakkan keseriusan padanya, sama seperti yang sudah-sudah. Lepaskan apa yang bukan milikmu, Hinata. Sasuke pantas bahagia bersama wanita yang tulus mencintainya."

Terengah dalam kalimatnya, Neji berusaha menyadarkan adik perempuannya tersebut. Mencoba memberi pemahaman agar mata hati anak itu mau terbuka, kalau saat ini ia telah menuai hasil dari perbuatannya sendiri. Ia teramat menyakiti Sasuke dengan selalu mengabaikan pria itu. Hinata tidak mencintai Sasuke. Alasan mengapa ia mempertahankan hubungan adalah, karena ketulusan Sasuke yang teramat mencintainya. Dan...

Setetes cairan bening kini lolos dari si levender...

"Nii-san benar" Hinata berujar, memberi jeda pada kalimatnya untuk menahan rasa perih yang teramat ia rasakan. "Selama ini, aku mungkin telah mempermainkan perasaannya. Sasuke akan tersakiti jika terus bersamaku. Dia pantas bahagia dengan wanita yang tulus mencintainya."

Neji menatap nanar adik perempuannya. Lantas, ia harus apa?

"Sasuke memang pantas bahagia Nii-san. Dia memang pantas... tapi-" Dan kembali kalimatnya berjeda. Dengan keras, Hinata meramas piyama yang ia kenakan tepat pada dada sebelah kiri, "Terasa sakit disini!" Ia terisak.

"Sakit, Nii-san!"

Hinata merasakan sentuhan penuh pada tubuhnya. Isakkannya makin keras terdengar. Ia menangis. Ya, menangis. Menumpahkan segala cairan menyesakkan pada dekapan hangat kakak lekakinya.

"Kau tak menyadarinya? Kau mencintai Sasuke. Benar begitu?"

"Semua sudah terlambat Nii-san! Tak akan ada yang berubah meskipun aku melantangkan perasaanku berulang kali. Aku tidak punya hak atas kehidupannya saat ini. Kami telah berakhir..."

Tanpa sedikitpun menyahut, Neji kian mempererat pelukannya, menyalurkan rasa tenang dalam dirinya. Akan lebih mudah dilakukan jika keduanya sedarah. Neji berjanji, ia akan melindungi kedua adiknya apapun yang terjadi.

.

.

.

Keesokan harinya..

Sama seperti hari-hari sebelumnya, kala pagi menyambut, Hyuuga Neji akan menikmati waktu bersantai dengan membaca koran sambil tangan kirinya memegang secangkir kopi untuk di seruput.

"O-ohayou nii-san, Hanabi-chan..."

Melirik dengan ekor matanya, indera pendengar Neji menangkap suara yang tak asing.

"Ohayou nee-san." Itu suara Hanabi, "Sudah merasa lebih baik?"

Mendongak, Neji mendapati adik perempuan yang teramat menyita pemikirannya kini tengah mengembangkan senyum. Lega. Rasa itu terbesit dalam hatinya.

"Huh!" Hinata, ia melipat tangan di depan dada. "Nii-san tidak membalas sapaanku, heh?" Lalu ia terlihat protes. Hinata mantap menempati celah kosong di sebelah kanan kakaknya.

"Hn. Ohayou hime..." Sang kakak pun membalas. Sambil tersenyum, ia mengacak surai pada pundak kepala adik kesayangannya.

"Nii-san!" Kembali gadis itu protes, "Jangan rusak rambutku! Tadikan sudah rapi!" .

Sungguh kekanakkan adik kesayangannya itu. Neji terkekeh sebagai jawaban. Kini, rasa khawatir yang sempat membesit perasaan Neji dan Hanabi perlahan menyulut.

.

.

.

"Hinata-chan!"

Langkah gadis Hyuuga itu terhenti. Baru saja ia mendengar seseorang meneriaki namanya dengan lantang. Menunda waktu duduknya saat itu, Ia lantas berbalik,menemukan gadis bersurai kuning dengan poni yang menutupi hampir setengah wajahnya.

"Kemana saja kau selama ini? Beberapa hari belakangan tidak tampak hadir. Bahkan kau juga tidak mengangkat teleponku, mengabaikan e-mail, juga tidak-"

"-Bisa kah kau betanya pelan-pelan Ino-chan?!"

Hinata berujar, tak membiarkan Ino melanjutkan kalimat tanyanya lagi. Memutar bola matanya bosan, Hinata sudah terbiasa dengan tingkah Ino yang memiliki rasa keingin tahuan lumayan besar. Sahabatnya itu memang sangat cerewet dan terlalu banyak tanya.

"A-ah... G-gomen." Si gadis Yamanaka mengembang senyum canggung saat melihat ekspresi sahabatnya. Ya, ia bisa membaca. Suasana hati Hinata sedang tidak baik saat itu, "Kau berhutang banyak cerita padaku!"Ujarnya.

Hinata menoleh sambil matanya menyipit. Telunjuk Ino saat itu tengah mengarah padanya singkat. Sang Hyuuga hanya menggeleng seolah berkata, 'Ya, terserah kau saja.'

Baru akan fokus untuk menghidupkan mesin komputer...

"Hinata-san."

Lagi-lagi seseorang menyapa. Memang tak sekeras yang tadi, namun lihatlah betapa tekukkan wajah gadis Hyuuga itu mengisyaratkan rasa tidak suka. Lantas ia menoleh,

"Karin-san?" Sedikit membulat manik levender Hinata.

"Nara-sama memintamu keruangannya, sekarang."

DEG!

Yang benar saja, seharusnya Hinata sudah bisa menduga sejak awal. Memejamkan matanya dalam, jantung gadis itu berdetak lebih dari normal. Ini bukanlah sesuatu yang baik. Ya, ia memprediksi.

'Celaka! Ini pasti karena aku membolos selama seminggu penuh!' Batinnya.

"A-ah... baik. Terimakasih Karin-san."

Sesaat setelah mendengar ucapan terimakasih itu, Karin berlalu. Giliran dirinya yang harus bersiap menghadapi Shikamaru. Ino yang menangkap ekspresi Hinata tampak menyunggingkan cengiran. "Ku kira ini bukan hal bagus, nona"

"Ya. Ku rasa."

"Berjuanglah!" Dukungan moral dari sahabatnya. Namun bagi Hinata, itu tak lebih hanya sebuah ejekan lag-lagi. Bagaimana tidak, gadis Yamanaka itu kemudian terkikik setengah mati. Tak mau ambil pusing, Hinata kemudian melangkah untuk satu tujuan...

.

.

.

Tok.. Tok.. Tok..

"Masuk."

CLEK!

Daun pintu terbuka. Menampakkan sesosok gadis Hyuuga dengan rambut panjang tergerai di ambang sana. Sorot mata sang Nara tak terlepas daripada gadis itu.

"Apa Shikamaru-san memanggilku?" Sambil meremas ujung dress yang ia kenakan, Hinata bertanya. Tak sedikitpun gadis itu berani menatap rekannya. Oh.. sepertinya Hinata tahu diri, ya?

"Ya. Duduklah."

Kemudian Hinata melangkah takut-takut menuju Shikamaru. Terlihat, ia memantapkan diri duduk berhadapan dengan pria tersebut.

"Kau pikir, kenapa aku memanggilmu kemari?" Satu pertanyaan Shikamaru yang sebelumnya sudah Hinata prediski. Makin menghindar tatapan gadis itu. Memejamkan mata dalam untuk mencari-cari alasan (?)

"I-itu... b-begini Shika-san A-aku-"

"Aku sudah tahu. Neji yang memberitahuku."

EH-?

Seketika itu pula Hinata mendongak sambil lavendernya melebar. Apa yang pria itu katakan? Hinata nyaris kena serangan jantung mendadak.

"S-Shi-Shika-s-san-"

"Jadi itu alasanmu membolos jadwal kantor selama seminggu?!"

Hening. Entah bagaimana Hinata akan melukiskan perasaannya di depan orang ini. Sungguh ia malu. Kembali wajahnya tenggelam dalam ketertundukkan.

"Aku hanya akan mengajukan satu pertanyaan. Apa yang dikatakan Neji itu benar?" Kalimat itu terdengar serius, membuat nyali si gadis Hyuuga menciut..

Dengan pelan ia menganggukkan kepala. Berusaha jujur meskipun ini masuk dalam kasus pribadinya.

"Ck... begitu rupanya."

"Apa aku akan di pecat, Shikamaru-san?"

Masih takut-takut Hinata bertanya, enggan menatap wajah sahabat sang Kakak yang menurutnya teramat seram.

"Tidak!" Balas pria itu. Membuat Hinata menatapnya sedikit binar penuh rasa lega, "Tapi kau harus di hukum!"

DEG!

Bagai kekuranga oksigen, Hinata merasa tercekat mendegar kalimat terakhir dari atasannya. Hukuman?! Oh! Ya Tuhan!

"Dengan makan siang bersamaku."

"Eh-?"

Bingung. Aneh. Janggal. Apa-apan itu? Apa itu temasuk dalam kategori hukuman? Mengajaknya makan siang? Benarkah?

"T-Tapi S-Sh-Shika-san..."

"Apa kau mengerti?!"

Hening. Di tatapnya Shikamaru penuh tanda tanya. Tetapi setelahnya, gadis itu mengangguk dengan tatapan kosong.

'Setidaknya, aku tidak di pecat. Mengerti?

.

.

.

Gadis itu melangkah masuk keruang utama rumahnya. Sambil berdiri ia melepas high heels yang ia kekanakan dan mengucapkan kalimat pemberitahuan seolah ia telah sampai dengan selamat.

"Okareo nee-san." Lalu tiba-tiba muncul anak yang memiliki mata serupa dengannya dari arah ruang tengah."Tidak seperti biasa, hari ini nee-san terlambat pulang."

Oh... rupanya anak itu menyadari. Hanabi. Di tatapnya sang kakak penuh selidik

"Aku lembur. Sudah seminggu nee-san tidak masuk kantor."Hinata menyahut seadanya. Ia terpaksa berbohong.

"Souka?" Seakan tak percaya, Hanabi kembali memastikan. Ia merasa ganjil, seperti menangkap dusta dari mulut sang kakak.

"S-sungguh! Kau pikir aku berbohong?" Berusaha Hinata meyakinkan. Menghindari kontak mata dengan sang adik untuk melirik jauh kedalam,"Apa Neji-nii belum pulang?"

Usaha yang bagus, ia mengalihkan perhatian Hanabi dengan menanyakan kepulang Neji. Berharap adiknya benar-benar tidak menyadari dan tidak ingin kebohongannya terbongkar.

Hanabi menggeleng sebagai jawaban.

"Baiklah kalau begitu, nee-san ingin istirahat."

Setelah di rasa cukup Hinata beranjak dari tempat semula, meninggalkan Hanabi yang kini tengah memadang punggungnya yang kian menjauh. Bagaimanapun keduanya sedarah. Hanabi bukan tak menyadari kebohongan sang kakak. Hanya saja, ia tak ingin bertanya lebih jauh. Sebagai anak kecil yang usianya bahkan belum genap 15 tahun Hanabi berusaha memaklumi. Ia hanya ingin meringankan beban kakaknya.

Nara Shikamaru yang tak lain adalah sahabat Neji juga sangat di kenalnya. Bagaimana mungkin Shikamaru akan tega membiarkan Hinata lembur sementara pria itu tahu benar tentang keadaan sang kakak? Ya, kebohongan kali ini sangat mudah di tebak.

.

.

.

Neji merenggangkan otot tangannya. Badannya seakan remuk jika di paksa bekerja hingga sedemikian larut.

'Haruskah aku memberitahu tou-san tentang keadaan Hinata?' Ia membatin. Sedikit menimbang-nimbang untuk mengungkap fakta di depan ayahnya. Tentang Hinata, adik perempuannya yang kini telah berakhir dengan si Uchiha sahabatnya.

'Ah-! Tidak-tidak' Ia kemudian menggeleng, 'Aku masih bisa menanganinya sendiri.'

Hening. Detak jarum jam adalah satu-satunya yang masih terdengar. Neji melirik singkat, "Hah! Mungkin lebih baik jika aku pulang sekarang."

Tangan kekar itu meraih satu persatu dokumen berharga untuk ia bereskan. Dan langkah kaki membawanya pergi meninggalkan Hyuuga Corp. Ia harus pulang untuk beristirahat, bukan?

Sesampainya di kediaman Hyuuga...

Suasana kediamannya sudah sangat lengang saat ia tiba. Melirik jam dinding yang bertengger tepat di samping lukisan mendiang leluhurnya, wajar saja jika semua sudah terlelap. Sudah terlalu larut.

TAP...

TAP..

TAP..

Bahkan ia bisa mendengar suara langkahnya sendiri. Neji melonggarkan dasi yang seolah mencekik.

'Aku benar-benar lelah dan ingin tidur secepatnya.'

Namun sayup-sayup ia mendengar rintihan kecil.

'Siapa yang masih terajaga selarut ini?' Dahinya mengernyit heran. Lelaki Hyuuga itu lalu mempertajam pendengarannya. Ia merasa kaku saat menyadari suara rintihan itu sangat ia kenal. Menolehlah ia. Rintihan itu tepat berasal dari kamar adiknya, Hinata.

Hati-hati ia melangkah menuju kamar sang adik. Dan benar saja...

"Sasuke-kun... Hiks..."

Neji memejamkan mata dengan menautkan alis penuh rasa bersalah. Salahkah dirinya yang sempat memperkenalkan mereka berdua. Ingin rasanya pria itu masuk dan merengkuh sang adik sembari mengingatkan, bahwa masih banyak orang yang menyanginya. Terutama dirinya sendiri. Namun, ia cukup paham akan perasaan Hinata. Ia tak akan mengganggu kali ini. Membiarkan Hinata menenangkan diri.

~FLASH BACK END~

.

.

.

'Jika benar mencintaiku, kenapa dia tidak datang padaku? Kenapa malah membiarkanku pergi dan menikah dengan wanita itu?' Bertalu-talu pikiran Sasuke. Dalam ia menundukkan kepala.

TAP!

Sasuke mengangkat kepalanya saat ia merasakan satu tepukkan di bahunya. "Apapun yang kau dengar, ku harap kau tidak akan mengganggu Hinata lagi."

"Lalu kenapa Hinata tidak menghentikan pernikahanku dulu? Bukankah kau bilang dia juga mencintaiku?" Kedua tangan pria Uchiha itu mengepal kuat seolah menggenggam benda.

"Bagaimanapun, situasinya telah berubah, Sasuke. Tak akan ada yang kembali sekalipun kau mencoba semampumu. Faktanya, sekarang kau telah menikah dengan wanitamu, bukan?"

Onyx Sasuke menatap Neji lekat seolah menegaskan kini darahnya telah mendidih. Mendekat, Sasuke meraih kasar kerah kemeja yang di kenakan Neji, "Kau tidak mengerti, Neji !"

Satu hantaman nyaris di layangkan Sasuke, namun sedikitpun Neji tak gentar.

"Tidak mengerti katamu?! Aku mengerti! Sangat mengerti, Uchiha! Aku hanya ingin menjalankan kewajibanku sebagai saudaranya! Aku akan melindungi Hinata!" Neji tak kalah geram, "Berkacalah! Kau sudah menikah dan berstatus sebagai suami dari wanita lain! Memangnya apa yang akan kau berikan pada Hinata? Penderitaan?! Makian karena merebut suami orang?! Atau... cacian yang mungkin akan dia terima karena telah menjadi simpanan seorang Uchiha Sasuke?!"

Bak tamparan kalimat Neji. Dengan mata yang kian membulat, perlahan Sasuke melemaskan genggamannya dari kerah baju Neji. Lelaki Hyuuga itu benar. Apa yang akan Hinata dapatkan jika mereka bersama? Apapun alasannya, semua orang pasti akan mencemoohnya di kemudian hari.

"Tapi aku masih mencintainya Neji, selalu dan selamanya."

"Aku takkan membiarkan Hinata jatuh ke pelukan mu lagi Uchiha, lagi pula dia sudah akan bertunangan sebentar lagi."

Dalam rasa putus asa Sasuke mendongak dan menemukan sang Hyuuga sedang sinis tersenyum kearahnya. Sambil tangannya kembali mengepal, matanya menyipit, Sasuke menanamkan tekad.

"Coba saja! Aku tak akan membiarkan hal itu terjadi! Aku akan merebut kembali apa yang seharusnya menjadi milikku!"

BUAAGGHH!

Satu hantaman mendarat mentah pada tepi bibir Sasuke. Namun lihatlah, pria itu menganggap enteng, memberi Neji satu tarikan bibir nan sinis "Cih! Cukup sekali aku melepaskan Hinata! Sekarang, tak ada alasan untukku melepaskannya lagi!"

"Pergi kau brengsek!" Neji benar-benar sudah hilang kendali. "Pergi!"

Tanpa sepatah katapun Sasuke meninggalkan kediaman Hyuuga. Ia kini punya asalan untuk merebut kembali Hinata sebagai 'miliknya'. Dan untuk itu, ia akan menghalalkan segala cara. Apapun yang harus menjadi miliknya sejak awal harus ia genggam kembali. Lantas, jika benar situasinya akan berubah rumit. Bagaimana dengan istrinya? Sempat terbesit, namun ia akan memikirkannya nanti.

Tbc

RnR ?

A/N :

Terima kasih buat yang udah review, fav and follow di chap sebelumnya..

Thanks to Ruby Fair yang udah mau jadi beta reader saya – setelah saya bujuk, saya paksa dan saya ancam tentunya - #evilsmirk

Buat yang udah login : NurmalaPrieska, ChintyaRosita, Ruby Fair, Cahya Uchiha dan Miss Hyuuga Hatake (Imouto ku yang ngakunya imut). Udah aku bales lewat PM ya..

Dawnstory'shinat : Terima kasih, ah sayang nya aku penganut happy ending.. jadi gomen ne ga bisa sad ending..

Yuka : Terima kasih. Buat pertanyaan "Siapa istri Sasuke " akan di bahas di chap selanjutnya

Rinzione : Terima kasih. Ini sudah di up ya..