Aku dan Suamimu

Disc : Masashi Kishimoto

Pair : SasuHina slight GaaHina

Rated : T+

Warning : Gaje, Abal, OOC, Ide pasaran, Ranjau bertebaran

Don't Like Don't Read

.

.

.

.

.

.

Happy Reading ^_^

Aku dan Suamimu Chapter 3

Sasuke merebahkan tubuh lelahnya di sofa ruang tengah rumahnya, jari-jarinya dengan cekatan melepaskan dasi yang seakan mencekiknya. Dengan malas, pria itu menghidupkan televisi dan mencari channel yang mungkin menarik perhatiannya. Tak berselang lama terdengar derap langkah kaki menuruni anak tangga.

Tap Tap Tap

"Tou-san" suara imut khas anak kecil menyapa indra pendengaran lelaki itu. Sasuke memalingkan wajahnya kearah putri tunggalnya.

Hana Uchiha, gadis manis dengan surai pink yang ia dapat dari ibunya, penuh semangat dan manja, serta mata emeraldnya yang mempesona, benar-benar duplikat Sakura. Ia akan menjadi gadis cantik seperti ibunya saat sudah besar nanti.

"Tou-san, pulang lebih awal?" Iris emerald Hana berbinar melihat ayahnya pulang lebih awal, hal yang jarang terjadi mengingat ayahnya menjabat sebagai presiden direktur di Uchiha corp yang mengharuskannya selalu lembur. Dengan langkah-langkah kecilnya Hana berlari ke arah Sasuke.

Gadis kecil itu merangsek ke pelukan ayahnya dan memeluk leher Sasuke untuk menjaga keseimbangan.

"Kemana kaa-san?" Tanya Sasuke pada putri kecilnya itu.

"Kaa-san belum pulang, tou-san" Hana menunduk lesu. Jari-jari kecilnya membuat gerakan melingkar di kemeja yang Sasuke kenakan, sedangkan pipinya sudah menggembung lucu.

'Kemana Sakura? Apa selama aku bekerja, ia meninggalkan Hana sendirian tanpa pengawasan?' batin Sasuke kesal.

"Sasuke."

Sasuke menolehkan kepalanya ke arah sumber suara dan mendapati ibunya tersenyum, namun terlihat dipaksakan. Lelaki itu tahu, ibunya ingin bicara empat mata dengannya. Dengan langkah elegant khas Uchiha, Mikoto mendekat ke arah anak bungsunya. Bergabung dengan Sasuke di sofa ruang tengah.

"Sayang, kembalilah ke kamar. Tou-san ingin bicara dengan baa-san." Sasuke membujuk putrinya sembari mengelus surai Hana lembut.

"Ya, tou-san" Hana mengangguk dan tersenyum senang, sebelum kemudian turun dari pangkuan ayahnya dan berlari menaiki tangga menuju kamarnya.

Setelah merasa Hana tak mendengar pembicaraan mereka, Sasuke menegakan punggungnya "Ada apa, kaa-san?" masih dengan suara datarnya.

"Apa yang istrimu lakukan di luar sana sampai Hana tidak terurus dengan baik!" Teriak Mikoto.

Sasuke terkejut dengan apa yang ibunya ucapkan, namun berhasil ditutupi dengan wajah datar yang dimilikinya.

"Apa maksud kaa-san?" Lelaki itu sama sekali tak mengerti arah pembicaraan ibunya.

"Kaa-san datang kemari untuk menengok Hana, tapi istrimu tidak ada−Hiks− d-dia membiarkan Hana bermain sendiri tanpa pengawasan, bagaimana kalau Hana d-di culik?" Mikoto menutup wajahnya dengan telapak tangan, wanita setengah baya itu menangis sesenggukan.

"T-tidak seharusnya Sakura berbuat seperti itu."

"Kaa-san, tenanglah" Sasuke berusaha menenangkan wanita yang sangat di kasihinya. "Aku akan bicara dengan Sakura nanti" Lanjut Sasuke. Pria itu beringsut memeluk ibunya, sambil sesekali mengusap punggung wanita itu.

"B-bagaimana k-kalau Hana−" Mikoto masih berbicara disela tangisannya.

"Ssstt.. sudahlah, kaa-san" Bujuk Sasuke pada wanita paruh baya yang masih menangis itu.

Mikoto bangkit dari duduknya dan mengusap air matanya pelan, "Kaa-san akan kembali ke rumah utama, Sasuke" Ujar wanita itu sembari menyambar tas tangan yang tergeletak di atas meja.

"Aku antar, kaa-san" Sasuke berdiri, sebelum kemudian berjalan mengikuti ibunya dari belakang.

"Tidak usah, kaa-san sudah meminta Jugo untuk menjemput" Mikoto menolak dengan halus tawaran anak bungsunya.

"Baiklah, kaa-san." Jawab Sasuke akhirnya. Kemudian, pria itu mengantar Mikoto sampai ke depan pintu rumahnya. Dan tak lupa mendaratkan kecupan sayang di pipi ibunya, kebiasaan sedari kecil yang masih terbawa hingga sekarang. Tangannya masih melambai hingga mobil yang ditumpangi ibunya sudah tak terlihat di iris onyxnya.

'Kau kemana saja selama aku pergi, Sakura?' Batin lelaki itu geram, hingga tak sadar telapak tangannya mengepal erat.

.

.

.

Sakura mengendap-endap dikeremangan rumah besarnya, ia melepaskan high heels yang ia kenakan agar tidak ada yang menyadari kehadirannya. Wanita itu terlihat seperti pencuri di rumahnya sendiri, tapi mau bagaimana lagi? Ia tak mungkin terang-terangan, kan? Salahkan saja sahabat pirangnya yang dengan seenaknya jidatnya mengajak ia ke bar dan pulang selarut ini.

Tiba-tiba, ruang tamu yang sebelumnya gelap gulita menjadi terang benderang. Wanita itu melebarkan iris emeraldnya−terkejut, beberapa langkah di hadapannya berdiri lelaki yang sudah lima tahun ini menjadi suaminya.

"Dari mana saja kau, Sakura?" Tanya Sasuke sembari menyilangkan kedua lengannya di depan dada. Wajahnya memang terlihat datar, namun jika kita perhatikan dengan lebih jeli, onyxnya terlihat memerah menahan marah.

"Sasuke, k-kau−" Sakura terkejut mendapati Sasuke sudah ada di rumah, bukankah biasanya suaminya itu pulang pagi?

"Kenapa? Kau tak menyangka aku sudah ada di rumah?" Ujar Sasuke sinis.

Sakura menundukan kepalanya−takut, wanita itu memilin ujung dressnya sebagai pelampiasan, "Hiks.. S-sasuke a-aku−" Sakura menangis sesenggukan. Ia benar-benar takut sekarang.

"Cukup!" Sasuke menyela, mendesis marah. "Terserah kau mau berbuat apa, aku tak peduli. Tapi, jangan sekalipun menelantarkan Hana, dia anak mu! Apa yang kau pikirkan saat meninggalkannya seorang diri!" suara Sasuke meninggi.

"Kau pikir, kenapa aku begini Sasuke? Kau tak pernah punya waktu untuk ku!" Ujarnya tak kalah kencang. "Kau pikir aku boneka mu? Yang hanya kau pamerkan dengan label istri di depan kolega mu?"

"Aku −hiks− aku juga butuh perhatianmu, Sasuke" Akhirnya pertahanan wanita itu pecah juga. Tubuh Sakura merosot ke lantai, ia terlalu shock dengan apa yang Sasuke lakukan. Selama menikah dengan Sasuke, pria itu terlihat tak acuh padanya dan tak pernah marah sekalipun. Untuk pertama kalinya dalam pernikahan mereka, Sakura melihat Sasuke marah. Ia memang tak pernah mendapatkan hati Sasuke sejak awal. Pernikahan mereka atas dasar bisnis. Tapi, salahkah Sakura mengharapkan sedikit saja hati suaminya?

Tanpa mereka berdua sadari ada sepasang emerald yang mencuri dengar di balik dinding.

Sasuke membalikkan badannya hendak kembali ke kamar, namun betapa terkejutnya ia saat melihat Hana berdiri dengan air mata berderai, gadis kecil itu melihat pertengkaran kedua orang tuanya. Pria itu berjalan mendekati putri kecilnya, lantas berjongkok dan menyamakan tinggi tubuhnya dengan sang putri, Sasuke memegang pundak anaknya seraya berkata lirih, "Hana, kenapa menangis, sayang?" Pria itu menghapus air mata Hana dengan ibu jarinya.

"T-tou-san, Hana takut" Tubuh Hana menggigil ketakutan. Gadis kecil itu merangsek ke pelukan Sasuke. Saking terkejutnya karena mendapatkan pelukan tiba-tiba, hampir saja lelaki itu terjungkal ke belakang.

"Hei, ayo kembali ke kamar. Tou-san temani sampai Hana tidur" Sasuke berdiri, sebelum kemudian meraih tubuh mungil putrinya dan membawanya kembali ke kamar.

.

.

.

.

Hinata melangkahkan kakinya dengan tenang, menikmati keindahan Tokyo di malam hari. Kelap kelip lampu di taman membuat Tokyo semakin terlihat indah. Hiruk pikuk kota Tokyo saat malam hari benar-benar terasa.

Dengan segelas kopi panas di tangan kirinya dan ponsel di tangan kanannya, Hinata terlihat sibuk mengirimkan pesan pada seseorang. Kakinya cukup pegal karena berjalan dari stasiun menuju rumahnya, begitu iris amethysnya melihat bangku taman, gadis itu memutuskan untuk mengistirahatkan badannya sejenak. Karena terlalu asik dengan ponselnya, ia tidak menyadari kehadiran seseorang di sampingnya.

'Kau masih saja seperti dulu Hime, tak pernah menyadari kehadiranku' Batin lelaki itu.

'Argh, menyebalkan! Kenapa Gaara-kun tidak bisa menjemputku sih? Memangnya dia tidak tahu kalau kaki ku sudah pegal?' Keluh Hinata dalam hati. 'Awas saja kalau panda itu datang ke rumah, jangan harap aku mau menemuinya.' Umpatnya lagi.

"Kenapa belum pulang?" Tanya Sasuke. Lelaki itu sudah tidak tahan untuk memulai percakapan dengan gadis di sebelahnya.

Hinata tersentak saat ada suara baritone yang menginterupsi kegiatan mengumpatnya. Gadis itu menolehkan kepalanya kesamping.

"E-eh?" Hinata membulatkan kedua manik pucatnya saat tahu siapa yang duduk di sebelahnya. "S-sasuke-san?" Hanya satu kata yang terlontar dari bibir peachnya.

"Hn" Balas Sasuke. Lelaki itu memasukan kedua tangannya kedalam saku celana yang ia kenakan.

"A-apa yang kau lakukan disini?" Tanya Hinata pada lelaki di sebelahnya, ia masih terlalu terkejut dengan kehadiran Sasuke yang tiba-tiba.

"Hanya ingin menemui seseorang" Jawab Sasuke datar. Hinata hanya ber oh ria sebagai jawabannya. Setelah itu hening seketika, tak ada yang berinisiatif memulai pembicaraan.

"Hinata."

"Sasuke." Ucap mereka bersamaan. Mereka juga memalingkan wajah bersamaan, tak ingin memperlihatkan rona merah yang menjalari pipi masing-masing.

Sasuke menggaruk tengkuknya yang tidak gatal−canggung, "Kau duluan saja, Hinata" Lelaki itu bukan tipe orang yang mau mengalah, tapi kalau mengalah demi Hinata, dengan senang hati ia akan melakukannya. Lima tahun tak membuatnya berhenti mencintai Hinata. Justru debarannya lebih terasa. Apalagi semenjak tahu kalau Hinata juga mencintainya.

"T-tidak jadi, a-aku lupa" Ujar Hinata beralasan. 'Hinata no baka, mana mungkin orang yang mau Sasuke temui adalah dirimu? Sadar, kau bukanlah kekasihnya lagi, kau bukan prioritas utamanya lagi.' Maki Hinata dalam hati.

"Kenapa malam-malam disini, hm?" Sasuke menyuarakan isi hatinya.

"A-aku hanya istirahat sebentar, Sasuke-san, kakiku−" Ucap gadis itu sembari menyentuh kakinya yang terasa pegal.

"Kaki mu sakit?" Sasuke memotong kalimat Hinata sebelum gadis itu menyelesaikan ucapannya, nada bicaranya berubah khawatir.

"A-ah tidak. Hanya pegal saja" Hinata mengibaskan tangannya seraya tersenyum canggung.

"Kenapa memaksakan diri? Kau kan bisa minta Neji menjemputmu."

Hinata menggelengkan kepalanya lemah, "Neji-nii sudah terlalu lelah mengurus perusahaan, aku hanya tak ingin merepotkannya."

'Kau bisa memintaku melakukannya Hime.' Ucap Sasuke dalam hati. "Lalu, kekasihmu?" Hati Sasuke terasa nyeri saat mengucapkan kata terakhirnya.

Hinata tersenyum manis, "D-dia sedang ada rapat. Aku tak boleh egois, kan?"

Sasuke menatap mata Hinata intens, ' Kau begitu memperhatikannya Hime, apa benar kau mencintaiku?' Lelaki itu tersenyum miris. Dulu, Hinata tak pernah memperhatikannya seperti gadis itu memperhatikan kekasihnya. Iri? Tentu saja. Sakit hati? Apa lagi.

"Kau keberatan kalau aku mengantarkanmu pulang?" Sasuke mengatakannya dengan hati-hati.

"E-eh?" Hinata memalingkan wajahnya kesamping dan lagi-lagi onyx seseorang yang ia lihat. Pipinya bersemu merah, tak pernah ia tersipu saat bersama Sasuke dulu. Tapi sekarang berbeda, perasaannya sudah berbeda dengan dulu. Sekarang, ia mencintai Sasuke. Namun, kenyataan bahwa Sasuke telah menikah menghantam ulu hatinya. Gadis itu tanpa sadar mencengkeram dadanya, rasanya benar-benar sakit.

"Tidak baik lelaki yang telah beristri mengantarkan pulang wanita lain" Hinata tersenyum lagi, namun sekarang senyumannya terasa berbeda, seperti sedang berusaha menyembunyikan luka hati yang dirasakannya.

"Aku mengantarkan pulang sebagai teman, bukan sebagai mantan kekasih, Hinata" Sasuke masih berusaha membujuk Hinata.

"B-baiklah" Dengan pasrah ia menerima tawaran Sasuke, lagi pula kakinya sudah terlalu pegal. Gadis itu sudah tak sanggup lagi kalau harus berjalan sampai kediaman Hyuuga.

'Bagus! Ini akan menjadi awal yang baik untuk merebut Hinata dari tangan Panda brengsek itu.' Sasuke menyeringai yang untungnya tidak disadari oleh iris amethys Hinata.

"Ayo" Ajar Sasuke, sebelum kemudian bangkit dari duduknya.

.

.

.

.

Hinata masuk ke dalam mobil Sasuke dengan berbagai perasaan. Antara senang, canggung, merasa bersalah dan−

"Pakai sabuknya, Hime. Apa kau mau aku yang melakukannya?" kata Sasuke dengan seringai menggoda.

"A-ah tidak, a-aku bisa melakukannya sendiri." Dengan tangan bergetar Hinata mencoba memasang sabuk pengamannya.

Sasuke hanya terkekeh melihat Hinata-nya gugup. Dengan gerakan cepat lelaki itu membantu Hinata. Sedangkan Hinata hanya bisa membulatkan kedua irisnya melihat apa yang Sasuke lakukan. Tak sengaja tangan mereka bersentuhan dan membuat getaran aneh di seluruh tubuh Hinata. Dulu, Sasuke sering memeluknya tapi ia tak merasakan apa pun. Tapi kini berbeda, ia mencintai Sasuke, sentuhan sedikit saja sudah membuat seluruh darahnya berkumpul di wajahnya. Gadis itu merona malu, wajahnya sudah semerah tomat, makanan kesukaan Sasuke.

Tak berbeda jauh dengan Hinata, Sasuke juga merasakan hal yang sama, jantungnya berdegup kencang. Ini bukan pertama kalinya Sasuke sedekat ini dengan Hinata, tapi sekarang sensasinya berbeda. Kini Hinata mencintainya.

Sasuke mengalihkan pandangannya ke wajah merah Hinata, ia menikmati perubahan wajah gadisnya. Dulu, ia tak pernah bisa melakukan ini pada Hinata. Pandangan Sasuke beralih ke bibir peach Hinata. Bolehkan ia merasakannya? Entah mendapat keberanian dari mana, Sasuke mengeliminasi jarak diantara keduanya. Lelaki itu memiringkan kepalanya dan−

Cup

Sasuke mengecup bibir Hinata singkat, namun memberikan efek yang luar biasa bagi keduanya. Hinata yang terbawa suasana hanya bisa memejamkan matanya, sedangkan kedua lengannya melingkari leher Sasuke.

Hinata tersentak kaget, 'Ini salah! Aku tak bisa melakukan ini dengan Sasuke, aku memang mencintai Sasuke, tapi bagaimana dengan istri Sasuke?' Dengan refleks Hinata mendorong dada Sasuke menjauh dari tubuhnya.

"Sasuke, ini salah!" Hinata berteriak kencang. "Tidak seharusnya kita melakukan ini, a-aku− " Air mata Hinata lolos dari manik amethysnya−ia ketakutan.

Melihat hal itu sontak membuat Sasuke kalang kabut, ia tidak ingin Hinata membencinya. Pria itu merengkuh tubuh Hinata dalam pelukannya, sebelum kemudian berkata lirih, "Maafkan aku, Hime. Aku terbawa suasana−" Sasuke mengusap surai indigo HInata−bermaksud menenangkan. 'Tapi, aku tak menyesalinya Hime.' Lanjut lelaki itu dalam hati.

Hinata berontak dalam pelukan Sasuke, "K-kau menyebalkan Uchiha,k-kau−hiks" gadis itu memukul dada bidang Sasuke dengan tangan mungilnya.

Sasuke mengeratkan pelukannya, "Maafkan aku, Hime, aku berjanji hal ini akan terjadi lagi" lelaki itu mengecup puncak kepala kekasihnya. Bolehkah ia mengklaim Hinata sebagai kekasihnya sekarang?

"Kita pulang sekarang?" Sasuke merenggangkan pelukannya dan menghapus jejak air mata di pipi kekasihnya. "Jangan pernah menangis lagi, Hime." Kembali, dikecupnya bibir Hinata sekilas, sebelum benar-benar melepaskan rengkuhannya.

Tak ada yang memulai pembicaraan terlebih dahulu, mereka berdua asik dengan pikiran mereka masing-masing. Hingga, tanpa terasa mereka telah memasuki kediaman Hyuuga. Sasuke menghentikan mobilnya tepat di depan gerbang kediaman Hinata.

"Hime, kita sudah samp−" Sasuke memalingkan wajahnya ke kanan saat dirasa tak ada pergerakan dari Hinata. Ia mengembangkan senyum tipis saat menyadari Hinata tertidur di bangku penumpang.

'Sepertinya kau benar-benar lelah, Hime.' Sasuke mengusap pipi gembil Hinata −Halus− itu yang dapat ia rasakan saat telapak tangannya menyentuh pipi gadisnya. Gadisnya? Keh, ia hampir tertawa saat menyadari fakta bahwa ia seperti remaja yang baru saja jatuh cinta, namun ia tak menampiknya. Ia memang seperti remaja belasan tahun saat sudah bersama Hime-nya.

Sasuke mencondongkan tubuhnya ke arah Hinata, ia mengecup lembut dahi Hinata yang tertutup poni. Wanginya masih sama seperti dulu−lavender, dan ia menyukainya. Semua yang ada pada Hinata adalah favoritnya. Pipi gembil yang di hiasi rona merah, hidung mancungnya, mata bulannya yang begitu meneduhkan, bibir peachnya yang kissable, surai indigonya yang−Ah! Pokoknya tidak ada bagian dari Hinata yang tidak lelaki itu sukai. Andai waktu bisa di putar kembali, ia tidak akan melepaskan wanitanya. Sasuke melihat ada pergerakan dari Hinata, mungkin ia terusik saat Sasuke mencium dahinya.

"Enghh, Sasu-kun" Hinata menggeliat di bangku penumpang, masih belum sadar sepenuhnya dengan posisi mereka yang terlampau dekat. Namun, saat ia merasakan hembusan nafas Sasuke di depan wajahnya, gadis itu baru sadar posisi mereka sangat berbahaya, khususnya untuk dirinya.

Pipinya merona merah−malu, "S-sasu-kun, k-kau terlalu dekat" Hinata berusaha mendorong tubuh lelaki itu menjauh darinya.

Sasuke yang melihat Hinata-nya merona malu hanya bisa menyunggingkan seringai aneh di wajahnya. Seringai yang membuat bulu kuduk Hinata meremang. Alarm tanda bahaya otomatis menyala, ini benar-benar bahaya. Ia tidak mungkin akan bisa lari kalau Sasuke sudah begini.

"Kenapa, Hime?" Suara Sasuke terdengar serak, lelaki itu menikmati perubahan wajah Hinata−merah merona dan menggemaskan.

"T-tidak, a-aku mau masuk dulu, Sasu-kun" Jawab Hinata sembari menggelengkan kepalanya.

Sasuke masih bertahan dengan seringainya. Namun ia tahu, ini belum saatnya untuk membawa Hinata ke pelukannya lagi. Pria itu harus membuat Hinata menerima keberadaannya terlebih dahulu, setelah itu ia baru akan menjerat Hinata dalam pelukannya dan tak akan melepaskannya sampai kapan pun, bahkan bila Hinata sendiri yang memintanya. Ia tidak akan melepaskan separuh nyawanya lagi, Hinata adalah separuh nafasnya−segalanya.

"Baiklah." Ujar Sasuke akhirnya.

Hinata melepaskan sabuk pengaman yang dikenakannya dan bersiap keluar dari mobil Sasuke, namun lengannya di pegang seseorang, siapa lagi tersangkanya kalau bukan Sasuke.

"Mimpikan aku, Hime" Dan hanya rona merah di wajah Hinata yang menjawabnya.

Sedikit demi sedikit Sasuke akan mengambil Hinata dari tangan calon tunangannya.

"Terima kasih, Sasu-kun" Hinata membungkukkan badannya dan masuk ke dalam rumahnya.

Sasuke mengawasi kepergian Hinata hingga gadis itu masuk ke dalam rumah. Setelah itu, ia baru pergi meninggalkan kediaman Hyuuga dan kembali ke rumahnya. Senyum tipis tak sedikit pun luntur dari wajah datarnya.

'Debaran ini−' Hinata menyentuh jantungnya. 'Aku benar-benar mencintainya. Salahkah aku bila menginginkannya? Dosakah aku mencintai suami orang?'

.

.

.

.

Hinata merebahkan tubuhnya di ranjang queen sizenya miliknya, gadis itu terlihat sedang memandang atap kamarnya−menerawang, memikirkan apa yang baru saja terjadi. Ia dan Sasuke. Kedekatan mereka salah, tapi ia tidak bisa membohongi persaannya sendiri, ia mencintai lelaki itu. Ada rasa bersalah di sudut hatinya, bagaimana bila istri Sasuke tahu? Bagaimana dengan Neji-nii dan yang terpenting bagaimana dengan perasaan Gaara jika lelaki itu tahu.

'Mungkin berendam bisa menjernihkan pikiranku'Batin Hinata. Gadis itu bangkit dari ranjangnya dan berjalan menuju ke kamar mandi yang ada di kamarnya.

Drt.. Drt.. Drt..

Hinata yang baru saja keluar dari kamar mandi langsung berjalan ke ranjang untuk mengambil ponselnya. Satu email masuk dari orang yang baru saja ia pikirkan.

From : Sasukeuchiha

Kau sedang apa?

Hinata tersenyum simpul saat membaca pesan yang baru saja ia terima, singkat dan padat khas Sasuke Uchiha.

To : Sasukeuchiha

Aku akan pergi tidur. Kenapa menghubungiku?

Sent..

Tak lama kemudian ponsel Hinata kembali bergetar, namun kali ini bukan pesan masuk tetapi panggilan dari orang yang baru saja mengiriminya pesan.

"Moshi-moshi."

"Aku hanya sedang merindukan mu" Balas seseorang diujung telpon. Senang? Tentu saja. Merasa bersalah? Sangat.

"Tapi, Sasu− " Hinata tidak bisa melanjutkan ucapannya karena lagi-lagi Sasuke memotongnya

"Cukup dengarkan apa yang aku rasakan, kau tak harus membalasnya." Sasuke tak sedikit pun membiarkan gadisnya melontarkan kalimat penolakan. Sedangkan Hinata hanya bisa meremas ujung piyama yang ia kenakan sebagai pelampiasan.

"... " Tak ada jawaban apapun dari Hinata. Ia benar-benar tidak tahu apa yang harus ia lakukan sekarang. Ingin sekali ia membalas kata rindu dari Sasuke, tapi ia bukanlah siapa-siapa bagi Sasuke, ia hanya bagian dari masa lalu lelaki itu. Ia dan Sasuke berbeda, takkan mungkin bersama lagi.

"Hime" Panggil Sasuke lagi.

"Y-ya." Jawab Hinata kaget.

"Oyasumi, hime" Ucap Sasuke sebelum memutuskan sambungan telepon.

Tutt.. Tutt.. Tutt..

Panggilan terputus tanpa sempat Hinata menjawab apa yang ada di hatinya.

"Oyasumi, Sasu-kun" Dengan air mata berderai ia mengucapkan satu nama yang sampai kapan pun akan menempati ruang tersendiri di hatinya. Gadis itu menyentuh jantungnya−sakit, itu lah yang ia rasakan saat ini, mencintai seseorang yang tak mungkin ia gapai. Apakah ini karma dari Kami-sama, karena telah menyia-nyiakan orang yang sangat mencintainya dulu? Tapi, haruskah ia menanggung karma ini sepanjang sisa hidupnya? Tak bisakah Kami-sama memberikan ia sedikit saja kebahagian bersama Sasuke?

Sasuke masih menyunggingkan senyum tipis, senyum yang bisa membuat wanita mana pun bertekuk lutut di hadapannya. Sayangnya, senyum seorang Sasuke Uchiha mahal harganya, lelaki itu harus menyakiti hati banyak orang untuk mendapatkan senyumnya sekarang. Inilah senyum yang telah hilang dari wajah tampan Sasuke Uchiha lima tahun belakangan ini. Dan kini senyum itu kembali, bersama dengan kembalinya gadis yang sangat di cintainya−Hinata.

"Selamat datang kembali di kehidupan ku, Hime, ku pastikan kau takkan lepas dari genggamanku kali ini."

.

.

.

Hinata PoV

Aku terdiam memandang langit jingga di paviliun timur kediaman Hyuuga. Semilir angin menerbangkan helaian indigoku. Dengan refleks ku selipkan anak rambut yang menutupi mataku, kebelakang telinga. Entah mengapa hal ini mengingatkan ku pada seseorang di masa lalu. Dulu, ia sering menyelipkan anak rambut ke belakang telingaku seraya berkata 'Aku selalu menyukai rambut panjangmu, kau terlihat semakin cantik Hime.'

Namun semenjak lelaki itu meninggalkan ku, aku memutuskan untuk memotong rambutku. Aku tak ingin mengingat kenangan saat masih bersamanya. Lima tahun yang lalu, kami sering menghabiskan waktu berdua di tempat ini. Akh! Sebenarnya bukan hanya kami berdua, lebih tepatnya bertiga, karena Neji-nii tak pernah membiarkan aku benar-benar berdua dengan Sasuke-kun. Saat itu aku tak benar-benar menganggap Sasuke-kun ada, namun saat kini aku tak bisa meraihnya, aku baru menyadari kalau aku begitu kehilangan dirinya. Ternyata memendam cinta tak tersampaikan rasanya sesakit ini, aku baru menyadari satu hal− selama Sasuke bersamaku inilah yang ia rasakan.

Aku menutup mataku secara perlahan, menikmati semilir angin sore yang membelai lembut wajahku. Tanpa ku minta, aku kembali memikirkan lelaki itu. Kami-sama, mengapa ia kembali disaat aku belum benar-benar melupakannya? Kenapa ia kembali menawarkan cintanya? Apa yang harus aku lakukan sekarang? Haruskah aku mengalah pada hatiku?

Andai saja lelaki itu menawarkan cintanya kembali saat ia belum menikah dan aku belum bersama Gaara, mungkin dengan senang hati aku menerimanya. Tapi sekarang keadaannya sudah berbeda, kita tidaklah sama seperti lima tahun yang lalu. Sasuke sudah punya kehidupannya sendiri dan aku pun sudah punya kehidupanku sendiri. Akan ada banyak hati yang terluka jika aku menerima tawaran cintanya kembali, bukan hanya istri dan anaknya, namun Gaara juga akan terluka. Tapi aku tidak bisa membohongi diriku sendiri, disudut hatiku− aku menginginkan Sasuke kembali. Kami-sama, bolehkah aku bersikap egois kali ini saja? Bolehkah aku menyakiti hati banyak orang demi kebahagiaan ku? Bolehkah aku menagih cinta yang sempat kau ambil lima tahun lalu ?

Hinata Pov end

Gaara sudah membiarkan Hinata bermonolog dengan dirinya sendiri hingga tak menyadari kehadirannya. Namun, Gaara bukanlah orang yang sabar menunggu dan bukan orang yang suka diacuhkan. Dengan langkah pelan ia mendekati kekasihnya dan memeluk gadis itu dari belakang. Pria bersurai merah itu meletakan dagunya di perpotongan leher kekasihnya dan menyesap aroma lavender yang menguar dari tubuh gadisnya.

Hinata terjengit saat ada lengan yang tiba-tiba memeluknya, namun setelah gadis itu tahu siapa pemiliknya, ia hanya tersenyum tipis.

"Apa yang sedang kau pikirkan, Hime? Kau bahkan tak menyadari keberadaanku." Gaara memasang muka merajuk yang tentu saja tak bisa dilihat oleh Hinata.

"G-gomen ne, Gaara-kun. A-aku benar-benar tidak tahu" Hinata menundukkan kepalanya dan menggigit bibir bawahnya−cemas.

"Jangan menggigit bibirmu, apa kau sengaja menggodaku, hm?" Gaara mengatakannya tepat di telinga kekasihnya.

Gadis itu dapat merasakan nafas Gaara di telinganya,"S-siapa yang m-menggodamu?" Hinata membela diri, "K-kau saja yang mesum, G-gaara-kun" Lanjutnya.

"Hn" Jawab Gaara singkat

"D-dari mana Gaara-kun tahu aku menggigit bibirku? Kau kan tidak melihatnya"

"Aku tahu semua kebiasaanmu, Hime" Gaara mengeratkan pelukannya di tubuh ramping gadisnya.

"Ayo masuk, disini sudah mulai dingin, aku tidak ingin Neji membunuhku karena membiarkan adik tersayangnya sakit." Bujuk lelaki itu pada kekasihnya.

Hinata terkikik geli mendengar Gaara bicara sepanjang itu, terkadang Gaara akan berubah menjadi sangat cerewet saat sudah berhubungan dengan dirinya. Gadis itu menundukan kepalanya, semua perhatian Gaara padanya membuat ia semakin merasa bersalah. Disaat Gaara mencurahkan semua cinta dan perhatiannya pada Hinata, gadis itu justru sibuk memikirkan laki-laki lain.

"B-biarkan seperti ini dulu, Gaara-kun. A-aku masih merindukanmu" Hinata membalikan badannya menghadap Gaara dan balas memeluk lelaki itu. Gaara mengelus surai indigo Hinata dan mengecup puncak kepala gadisnya sayang.

"Baiklah" Gaara mengalah. Ia tidak akan pernah bisa menolak keinginan Hinata, ia terlampau mencintai gadisnya, biarlah Neji memukulnya nanti.

"Ehm" Neji berdehem cukup keras. Hingga mengalihkan perhatian kedua sejoli itu. "Aku memintamu membawa Hinata masuk panda, bukan untuk bermesraan bersamanya disini."

Dengan terpaksa Gaara melepaskan rengkuhannya pada tubuh ramping Hinata, seraya memutar matanya bosan, " Wajarkan kalau kami bermesraan kakak ipar, lagi pula sebentar lagi Hinata akan bertunangan dengan ku" Gaara menekankan kata tunangan agar Neji tahu posisi lelaki itu bagi Hinata.

Neji mendengus kesal, "Jangan karena kau tunangan adikku, kau bisa seenaknya saja. Dasar panda jelek!" Ejek Neji, lelaki itu menyeringai senang. "Aku akan menebas kepalamu kalau sampai berani berbuat macam-macam pada adikku." Lanjut Neji.

Neji mengalihkan pandangannya pada adik tersayangnya−Hinata. Lelaki cantik itu menatap Hinata lembut, sebelum kemudian berujar lirih "Jangan terlalu lama disini, Hime, udaranya mulai dingin, Nii-san tidak ingin kau sakit" Neji mengulurkan tangannya mengusap pipi Hinata lembut.

"Hu'um" Hinata menganggukan kepalanya sebagai jawaban.

Neji mengalihkan netra amethysnya pada Gaara dan berujar ketus, "Aku akan membunuhmu kalau sampai Hinata sakit."

"Aku tak akan membiarkannya sakit, kakak ipar" Teriak Gaara pada Neji yang sudah berjalan meninggalkan mereka berdua. Lelaki menyeringai penuh kemenangan saat Neji meninggalkan mereka berdua.

T.B.C

A/N :

Huweee.. Gomen ne, baru muncul sekarang, setelah sekian lama menelantarkan fic ini.. Terimakasih buat yang udah menunggu..

Semoga chapter ini tidak mengecewakan ya

Fonny:

Ceritanya bagus, jadi penasaran lanjutin lagi dong chapnya hee aku siap menunggu ;)

Ini udah dilanjutin ya, semoga tidak terlalu mengecewakan

Yuka:

Wah akhirnya update... Ceritanya keren kuhrap chap dpan bisa lebih panjang...

Apakah chapter ini sudah cukup panjang?

NurmalaPrieska:

Nextt... Update kilatt XD

Ini udah diupdate ya

Mikyu:

APA sasu udah pnya anak...
aku nggak mau hina jdi istri simpanan... sasu egois... dia udah pnya istri dan anak...
kcuali mrka mnikah tnpa cinta #perjodohan .trus anak itu bkan anaknya sasu hmm anak lelaki lain mkin..,, wkwkwwk... #sarann siehh
lanjuttt kilat

Sudah dijelaskan dichapter ini ya. Wwkwk, masalah jadi simpanan itu masih rahasia #sok misterius.

Yap, terimakasih ya sarannya

:

"Aku dan Suami mu" um maksud-nya gimana ya? Daisy-san bisa tolong jelasin sama aku... aku belum mengerti siapa "Aku" dan "Suami mu" itu maksud-nya siapa sama siapa?
next next...
#Penasaran

Apakah dichapter ini sudah terjawab, cintya-san?

sasuhina always:

Ternyata hinata yg salah dlm hubungan masalalunya dgn sasuke,.
Q harap sasuke g' egois walaupun dulu emang hinata yg salah.
Q harap endingnya hinata tetap dgn gaara dan sasuke dgn istri serta anaknya.
Walaupun q pengermar sasuhina. Hehehe

Ya seperti itulah

Kita liat aja di chapter selanjutnya ya, egois apa gak Sasu

Kalau ending liat nanti aja ya

.777:

gregetan dah
di tunggu lanjutannya

Ini udah dilanjutin ya, semoga tidak mengecewakan

Cry3:

Lanjut senpai

Ini udah dilanjut ya, dan jangan panggil senpai, aku masih newbie..

Dinata:

mana donk chapter selanjutnya?

Ini udah diupdate ya, semoga tidak mengecewakan

Ana:

lanjut dong gimana kisah sasuhina buat mrk bersatu

Ini udah diupdate ya, semoga tidak mengecewakan

Ana:

ini kpn lanjut ana tungguin loh

Ini udah dilanjut ya

Nadya ulfa:

Saya udah baca maraton tapi gaara belum muncul juga. Hinata masih cinta ke sasu? Saya harap dia jadinya sama gaara udah itu aja. Btw gaara kapan munculnya?

Ini Gaara udah ada kan? Ya masih cinta. Kita liat aja nanti ya Hinata bakalan sama Gaara ato Sasuke.

Ana:

yah kok gini doang?

Gomen ne, kemarin pemberitahuan aja.

Sasuhina69:

aaghh beteee. aku baru baca sekilas tp ngerti. bete bangett. ending nya klo bukan sasuhina jangan buat pairing mereka ya. nyesek dehh guee T_T

Sabar, sabar Aku penganut happy ending kok, jadi gak usah khawatir

Rapita Azzalia:

Chapter 3 x ditunggu coz aku tertarik sama cerita x ...buat sasuhina happy ending ya ku mohon...

Ini udah diupdate ya..

Nhiyla324:

Yg cpeet yaa update.y
crita.y keren bgt... I like it

Ini udah diupdate ya..

Terima kasih pujiannya