Aku dan Suamimu

Disc : Masashi Kishimoto

Pair : SasuHina slight GaaHina

Rated : T+

Warning : Gaje, Abal, OOC, Ide pasaran, Ranjau bertebaran

Don't Like Don't Read

.

.

.

.

.

.

Happy Reading ^_^

Aku dan Suamimu Chapter 4

Hinata mengetuk-ngetukan pensilnya di meja─ia bosan. Padahal, jam masih menunjukan pukul 11.30 dan gadis itu sudah merasa bosan sejak tiga puluh menit yang lalu.

"Hah," Hinata menghembuskan nafas lelah. Sesekali manik amethysnya melirik ke arah jam dinding yang seakan tak berputar sejak tadi.

Drt.. Drt..

Gadis itu mengambil telpon yang ada di atas meja kerjanya, tak berapa lama kemudian wajah yang sebelumnya cemberut berubah cerah seketika. Satu pesan masuk dari kekasihnya membuat moodnya naik, ia tersenyum tipis saat membaca email dari panda kesayangannya.

'Ah! Untung Gaara-kun mengajakku makan siang bersama, jadi aku tak perlu menghabiskan hari ini dengan wajah bosan,' Ucap gadis itu dalam hati.

"Kenapa kau senyum-senyum sendiri, Hinata?" Tanya Ino penasaran, pasalnya teman yang biasanya diam tiba-tiba tersenyum sendiri di depan layar ponsel.

Ino mengacaukan hari Hinata yang memang sudah jelek karena moodnya yang sedang tidak bagus, gadis itu memutar kursinya menghadap teman pirangnya, "A-aku tidak senyum-senyum sendiri," sanggahnya.

"Lalu─yang kau lakukan itu apa, hm?" Ino menunjuk-nunjuk wajah gadis yang ada di hadapannya.

Sebelum Hinata sempat mengucapkan sanggahan apa pun untuk membela diri, ponselnya kembali bergetar. Namun, kali ini bukan pesan dari kekasihnya tetapi panggilan dari Sasuke.

Raut wajahnya berubah seketika, tiba-tiba darah di tubuhnya seakan tersedot semua.

"Moshi-moshi, Sasu-kun."

"..."

"A-aku tidak bisa, gomen ne"

"..."

"Baiklah, sampai jumpa."

Hinata menghembuskan nafas lega, setidaknya ia telah berhasil menjauh dari Sasuke hari ini. Ia akan memikirkan cara menjauhi Sasuke nanti, haruskah ia minta bantuan Neji-nii saja untuk membuat Sasuke menjauh darinya? Sepertinya itu terlalu berlebihan.

"Hei, apa yang kau pikirkan?" Ino mengibaskan tangannya di depan wajah Hinata yang terlihat melamun sesaat setelah menerima telpon dari seseorang─entah siapa.

"T-tidak ada," Hinata memalingkan wajah, tak mau memandang temannya itu.

"Kau mau ikut makan siang bersamaku dan Sai-kun ?" Gadis barbie itu mencoba mengajak Hinata untuk makan siang bersamanya. Ino tak mau mengambil resiko meninggalkan temannya seorang diri dalam keadaan melamun.

"Tidak, aku sudah ada janji dengan kekasihku," Hinata menolak dengan halus sembari senyum manis.

"Baiklah," Ino memutar tubuhnya menghadap komputer dan berkonsentrasi kembali pada pekerjaannya.

.

.

.

.

Gaara Sabaku mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang, sebenarnya lelaki itu tidak terlalu suka mengemudikan mobil dengan kecepatan seperti sekarang, ia lebih suka ngebut. Tapi mau bagaimana lagi, jalanan kota Tokyo saat jam makan siang sungguh padat. Ia melambatkan laju mobilnya saat di depannya ada lampu merah.

Tangannya sedang sibuk mengotak-atik ponselnya, ia berencana menjemput Hinata di kantornya untuk makan siang bersama. Tanpa sengaja jadenya menangkap bayangan wanita yang sudah lama tidak dilihatnya. Wanita yang sempat mengisi hari-hari kosongnya beberapa tahun silam. Dengan gerakkan lincah ia kembali mengetik pesan untuk Hinata agar tak perlu menunggunya, ia ada urusan yang lebih penting yang harus ia lakukan saat ini.

Setelah lampu berubah warna menjadi hijau, lelaki kembali memacu mobilnya mengejar sosok yang lama tak ditemuinya. Banyaknya orang yang lalu lalang di trotoar membuat lelaki itu cukup kesulitan menemukan wanita yang di ikutinya. Setelah berhasil menyusul wanita itu, Gaara menepikan mobilnya, sebelum kemudian turun dari mobil dan membaur dengan para pejalan kaki.

"Sakura," Tangan Gaara menangkap pergelangan tangan wanita yang ia kejar barusan.

Sakura membalikan badannya mengahadap Gaara. Wanita itu membelalakkan kedua iris emeraldnya─terkejut, saat tahu siapa yang menghentikan langkah kakinya.

"G-gaara-kun" Tanpa wanita itu sadari ia sudah menitikan air mata, Sakura benar-benar merindukan kehadiran lelaki itu di sampingnya. Tiba-tiba, Sakura memeluk Gaara dan menangis di dada bidangnya.

Lelaki itu tidak tahu apa yang terjadi dengan Sakura, namun satu hal yang ia tahu, wanita itu membutuhkan pundak seseorang sebagai sandaran.

"Kita cari tempat lain untuk mengobrol, hm?" Gaara membimbing Sakura masuk ke dalam mobilnya. Sedangkan wanita itu hanya menganggukkan kepalanya singkat.

Tanpa mereka berdua sadari ada sepasang mata yang memperhatikan Gaara dan Sakura sejak awal mereka bertemu. Hinata merasakan dadanya sesak ketika melihat kekasihnya memeluk wanita lain di depan matanya, gadis itu tak pernah tahu bahwa kekasihnya memiliki teman wanita selain dirinya.

Liquid bening menetes menganak sungai. 'Jadi, ini yang kau maksud dengan urusan yang harus segera di kerjakan? Jadi, ini alasan Gaara-kun membatalkan janji makan siang kami?'

Dengan langkah gontai gadis itu meninggalkan tempatnya makan siang bersama Ino dan Sai, Hinata melangkahkan kakinya tak tentu arah. Ia tidak tahu kemana akan pergi, ia hanya mengikuti kemana langkah kakinya membawa pergi. Hingga, tanpa sadar Hinata menyeberang jalan tanpa melihat kanan kirinya, kalau saja tak ada lengan yang menahan tubuhnya mungkin ia sudah tertabrak mobil yang lalu-lalang di jalan.

"Apa kau bodoh!" Seru seseorang yang baru saja menahan tubuh linglung gadis itu.

Hinata masih belum sadar sepenuhnya, ia hanya diam dan menundukan kepalanya -tiba, gadis manis itu merasakan pipinya di usap oleh tangan seseorang, hal tersebut sontak membuat Hinata terkejut dan memaksanya mendongakkan kepala.

"S-sasu-kun," Tanpa aba-aba dan tanpa peringatan, gadis itu merangsek ke pelukan Sasuke. Sedangkan lelaki itu hanya bisa mengeratkan pelukannya pada tubuh mungil Hinata.

Tanpa banyak kata Sasuke membawa Hinata masuk ke mobilnya, pria Uchiha itu mengemudikan mobilnya dengan tenang. Gadis di sebelahnya masih menangis sesenggukan, Sasuke tidak tahu apa yang terjadi pada Hinata. Namun, ia tak akan membiarkan siapapun membuat Hinata-nya menangis.

.

.

.

.

"Sakura," Panggil lelaki bersurai merah yang sudah beberapa menit lalu menemaninya.

Yang di panggil hanya bisa mendongakkan kepalanya memandang Gaara dengan sesekali di selingi tangis yang tak kunjung reda, "Gaara-kun, kenapa kau meninggalkanku?" Tanya Sakura di sela tangisannya.

"Maaf, Sakura, aku tak bisa melawan keinginan tou-san," Gaara mengeratkan pelukannya pada wanita yang sempat hadir di hidupnya─dulu.

"Kau meninggalkanku tanpa mengatakan sepatah kata pun, kau bahkan tak memberiku kesempatan untuk─" Wanita itu tiba-tiba menghentikan ucapannya. Sakura gelisah dalam pelukan Gaara.

"Hm," Ujar Gaara, menandakan ia masih menyimak dengan baik apa yang Sakura sampaikan.

"Sakura, kau─ " Tanpa sengaja Gaara melihat sebuah cincin di jari manis Sakura.

Sakura menundukan kepalanya, "Ya, Gaara-kun, a-aku sudah menikah dan memiliki seorang putri."

"Ah! Begitu, ia pasti cantik sepertimu," Gaara tersenyum kikuk. Entah mengapa ada sebagian dari hatinya yang tidak rela ketika melihat Sakura memiliki anak dari lelaki lain. Apa ia masih mencintai Sakura? Tapi, bukankah selama ini pikirannya hanya tersita dengan semua bayangan Hinata? Kenapa hanya bertemu satu kali dengan Sakura mampu membuat hatinya kembali berdetak kencang? Dan darahnya berdesir aneh─

.

.

.

.

Setelah mengendarai mobil lebih dari empat puluh lima menit, Sasuke menghentikan mobilnya di pinggiran pantai. Mereka berdua masih diam tanpa banyak bicara, walaupun Hinata sudah tidak menangis lagi tetapi pandangan matanya kosong─entah apa yang gadis itu lihat. Deburan ombak di belakang mereka menjadi backsound keheningan yang masih melanda keduanya.

"Hime," Lirih Sasuke, tubuhnya sudah menghadap sepenuhnya pada Hinata.

Gadis itu memalingkan wajahnya ke arah sumber suara─tepatnya pada lelaki tampan yang ada di sebelahnya, pandangan matanya masih kosong seperti saat ia pertama kali memasuki mobil Sasuke, tapi Hinata mencoba tersenyum walau terkesan dipaksakan.

"Siapa yang membuatmu menangis, hm?" Tanya Sasuke pelan, ia menjulurkan tangannya dan menghapus jejak air mata di pipi kekasihnya.

Hinata hanya bisa menunduk untuk menyembunyikan air matanya. Namun, mata tajam Sasuke tidak bisa di kelabui, lelaki memegang dagu Hinata agar ia bisa menghapus air mata yang kembali mengalir, "Katakan, Hime."

"G-gaara-kun, t-tadi aku melihatnya berpelukan d-dengan wanita lain di jalan. A-aku tidak tahu siapa wanita itu, ia membatalkan janji makan siangnya dengan ku demi wanita i-itu, Sasuke," Ucap Hinata terbata-bata, sesekali air mata masih menetes di sela ia berbicara.

Rahang Sasuke mengeras, giginya bergemeletuk─marah, ingin rasanya ia memberi pelajaran pada tuan Sabaku yang sudah berani-beraninya membuat Hinata-nya menangis. Kalau memang dia tak bisa membahagiakan Hinata, tinggalkan saja, biar ia saja yang melakukannya.

Sasuke merangkum wajah Hinata dengan kedua telapak tangannya, lelaki itu memandang iris amethys Hinata intens "Dengarkan aku, Hime─" Jeda sejenak, "─tinggalkan laki-laki itu dan kembalilah padaku," Ucap Sasuke sungguh-sungguh.

Hinata menggelengkan kepalanya, tidak setuju "T-tidak bisa, Sasu-kun, a-akan ada banyak hati yang terluka," Hinata kembali menangis seperti sebelumnya.

"Aku lebih memilih menyakiti hati semua orang dari pada menyakiti hatimu, Hime," Sasuke beringsut mendekat, sebelum kemudian menempelkan keningnya dengan kening Hinata. Sesekali telapak tangannya yang hangat membelai pipi Hinata lembut.

"Kembalilah padaku, Hime, aku mohon," Sasuke tidak pernah memohon apapun dan kepada siapapun, tapi untuk mendapatkan Hinata kembali, ia rela merendahkan harga dirinya asalkan gadis itu kembali dalam pelukannya.

Tidak ada kata yang keluar dari bibir tipis Hinata, ia hanya memeluk Sasuke seerat yang ia bisa. 'Kami-sama, ijinkanlah aku mereguk sedikit kebahagian bersama Sasuke,' Batin gadis itu sedih.

"Kita pergi?" Tanya Sasuke setelah di rasa gadis itu mulai tenang dan tidak menangis lagi. Namun, tak ada jawaban atau pun pergerakan dari Hinata, entah apa yang gadis itu lihat hingga mengacuhkan keberadaan Sasuke di sampingnya.

"Hime," Ulang lelaki itu.

"Y-ya, Sasu-kun," Jawab Hinata pelan.

Sasuke mengembangkan senyum tipis, "Kau masih ingin di sini?"

Hinata memalingkan wajahnya menghadap Sasuke seraya memberikan tatapan memohon, "Bolehkah?"

Namun dalam sekejap mata ekspresinya kembali muram, "Tapi bagaimana dengan pekerjaanku, aku harus menghubungi─ "

Belum selesai Hinata bicara, kembali ucapannya di potong oleh Sasuke entah untuk yang keberapa kalinya, kemudian lelaki itu berkata dengan tenang,"Aku sudah menghubungi Shikamaru."

Hinata membulatkan kedua netranya terkejut, seakan tak percaya, "B-bagaimana bisa? M-maksudku─" Gadis itu bahkan sudah tak bisa berkata-kata lagi.

"Apapun bisa aku lakukan untuk mu, Hime," Ujar Sasuke lembut. Sedangkan telapak tangannya mengusap surai indigo Hinata sayang.

Gadis itu memandang Sasuke tepat di iris onyxnya, dengan perlahan ia mengangkat tangannya dan menyentuh wajah Sasuke lembut, "Terima kasih, Sasu-ku,." Hinata memberikan senyum termanisnya pada lelaki di hadapannya.

"Apa pun untukmu, Hime," Dikecupnya pelan surai indigo gadis yang sangat dicintainya.

Mereka berdua keluar dari mobil dan berjalan menuju tepi pantai, angin sepoi menerbangkan helaian indigo Hinata dan menutupi sebagian matanya, namun sebelum tangan putihnya sempat menyelipkan helaian rambut yang di terbangkan angin, tangan Sasuke sudah lebih dulu melakukannya.

"Aku selalu menyukai rambutmu, Hime," Katanya lirih dan diiringi senyum tipis yang terbit dari bibir yang biasanya mengatup rapat. Sedangkan Hinata hanya bisa merona malu diperlakukan sedemikian manis.

Hinata berlarian di sepanjang bibir pantai yang ia pijak, sesekali gadis itu menunduk untuk mengambil kerang atau pun bintang laut yang ia temui. Garis bibirnya melengkung ke atas, pertanda gadis itu sedang senang.

Melihat pemandangan indah yang tersaji di depannya membuat bibir tipis Sasuke terangkat, lelaki itu senang Hinata-nya tak lagi menangisi lelaki lain. Ia sudah bersumpah untuk merebut Hinata dari pemuda brengsek bermarga Sabaku dan akan memenjarakan gadis itu di hatinya─selamanya.

Dinginnya angin laut menembus hingga ke tulang Hinata, gadis itu memeluk tubuhnya sendiri untuk mengurangi hawa dingin yang ia rasakan.

"Kau kedinginan?" Tanya Sasuke lembut. Yang hanya di balas anggukan samar oleh Hinata. Dengan segera lelaki itu membuka jas yang ia kenakan dan memakaikannya pada Hinata.

"Sudah merasa lebih hangat?" Tanya Sasuke─lagi.

Hinata tersenyum simpul mendapat perhatian dari Sasuke, "Hu'um."

"Sudah sore, kita pulang sekarang."

.

.

.

.

Selama perjalanan hanya kesunyian yang menemani Sasuke, karena Hinata sudah masuk ke alam mimpi satu jam yang lalu. Namun, ia menikmati keheningannya sekarang, ia menikmati kebersamaannya dengan Hinata. Sepertinya, Sasuke harus berterima kasih pada tuan Sabaku yang telah berselingkuh hingga ia bisa berduaan seperti sekarang dengan Hinata.

Tok.. Tok.. Tok..

'Kenapa Hinata tidak menghubungiku sama sekali, apa dia marah? Tapi kenapa? Ini bukan pertama kalinya aku membatalkan janji dengan Hinata dan selama ini ia bisa mengerti,' Batin Gaara, lelaki itu terlihat resah.

Ceklek

"Gaara-nii, ada apa?" Tanya Hanabi dengan raut terkejut. Pasalnya, kakak perempuannya tak pulang bersama calon kakak iparnya.

"Apa Hinata sudah pulang? Aku tadi tidak sempat menjemputnya," Bohong Gaara pada gadis remaja yang ada di hadapannya itu.

"Nee-san be─" Kalimat Hanabi terputus saat ada sebuah mobil yang masuk ke pekarangan rumahnya. Gadis remaja itu tahu siapa pemiliknya, tapi untuk apa lelaki itu datang? Akan ada perang dunia ketiga kalau sampai mereka berdua bertemu.

Sasuke menghentikan mobilnya tepat di sebelah mobil yang dikendarai Gaara, ia keluar dari mobilnya dengan gaya arogan khas Uchiha, namun yang membuat Hanabi dan Gaara terkejut adalah Sasuke berjalan ke sisi mobilnya dan menggendong Hinata yang telah tidur dengan berselimutkan jas Sasuke.

Dengan langkah santai Sasuke membawa Hinata masuk ke dalam rumah, sedangkan Gaara dan Hanabi masih belum ngeh dengan apa yang baru saja ia lihat. Mereka mengikuti Sasuke dalam diam, tak ada kalimat apapun yang keluar dari bibir keduanya. Mereka berdua hanya terlalu terkejut dengan apa yang baru saja mereka lihat.

Sasuke meletakkan tubuh Hinata di sofa ruang tamu kediaman Hyuuga, ia memperbaiki posisi Hinata agar gadis itu nyaman dan merapatkan jasnya di tubuh Hinata, ia tidak ingin gadisnya kedinginan.

Gaara mengepalkan kedua telapak tangannya erat, ingin rasanya ia memukul laki-laki yang berani menyentuh Hinata, tepat di depan matanya.

"Apa yang kau lakukan, brengsek!" Umpat Gaara.

Bugh

Gaara melayangkan satu pukulan tepat di wajah Sasuke hingga membuat lelaki itu terhuyung ke belakang. Sedangkan Sasuke hanya mendecih dan menyeka darah di ujung bibirnya.

"Cih, apa yang ku lakukan bukan urusan mu, panda!" Teriak Sasuke tepat di depan wajah Gaara.

Gaara menggeram marah mendengar apa yang keluar dari mulut bungsu Uchiha yang ada di hadapannya, "Tapi dia tunanganku."

"Baru calon dan aku tak akan pernah membiarkan hal itu terjadi," Sebuah seringai sinis bertengger di bibir sang bungsu Uchiha.

Hinata sama sekali tidak terganggu dengan apa yang terjadi disekelilingnya, ia masih nyaman bergelung di jas hangat Sasuke.

"Apa yang kalian berdua lakukan!" Hingga sebuah suara datar dan dalam khas Neji Hyuuga menginterupsi perkelahian yang dilakukan kedua pria tak tahu diri itu di rumahnya. Lelaki cantik itu turun dari tangga dengan wajah datar, ia berjalan ke arah Hinata dan mengusap pipi adiknya lembut.

Merasakan sentuhan lembut di pipinya, mau tak mau membuat Hinata terusik dan bangun dari tidunya, gadis itu membuka kelopak matanya perlahan, "Neji-nii, " Hinata mendudukan dirinya tergesa.

Gadis itu menatap ke sekelilingnya, ada Sasuke yang duduk dengan tenang dan tersenyum tipis ke arahnya, 'Sasuke? Jadi aku sudah di rumah sekarang?' Batin Hinata. Hinata kembali mengedarkan amethys miliknya menyapu seluruh ruangan, dan tak jauh dari Sasuke duduk ada Gaara, tiba-tiba dadanya terasa nyeri mengingat apa yang telah Gaara lakukan siang tadi.

Hinata menundukan wajahnya tak ingin bertemu pandang dengan Gaara─hatinya masih sakit, dan Neji menyadari perubahan raut wajah Hinata saat menatap calon tunangannya itu.

"Hime, apa ada sesuatu yang Nii-san lewatkan?" Tanya Neji sembari memegang dagu adiknya lembut.

Hinata menggelengkan kepalanya pelan, "A-aku ingin istirahat, Nii-san, " Gadis bersurai indigo itu berdiri sebelum kemudian meninggalkan mereka bertiga di ruang tamu.

Semua mata memandang kepergian Hinata dengan pikiran masing-masing, tiba-tiba gadis itu menghentikan langkahnya, tanpa melihat ke belakang ia berkata lirih, "Terima kasih. S-sasuke-kun. Aku akan mengembalikan jas mu nanti."

Sasuke tersenyum tipis, "Kapan pun, Hime."

Neji dan Gaara terkejut dengan interaksi keduanya. Apa mereka sudah sedekat itu? Bahkan belum ada sebulan Hinata di Jepang dan gadis itu sudah sedekat ini dengan Sasuke.

Gaara tanpa sadar mengepalkan telapak tangannya erat, lelaki itu tiba-tiba bangkit dari duduknya dan berjalan tergesa ke arah Hinata. Lelaki bersurai merah itu mencengkeram pergelangan tangan Hinata.

"Jelaskan!" Gaara mengeluarkan aura mencekam, lalaki itu bahkan sudah mengabaikan keberadaan Neji─kakak Hinata yang akan membunuhnya kalau sampai pemuda bersurai merah itu menyakiti Hinata.

Hinata menggerakkan pergelangan tangannya, mencoba melepaskan diri dari cengkeraman Gaara, dan dengan sekali sentakkan cengkeraman lelaki itu terlepas,"L-lepas!"

"Bukan aku yang harus menjelaskan, tapi kau!" Hinata menunjuk wajah Gaara dengan jari lentiknya─gadis itu benar-benar sudah melupakan etika yang diajarkan di keluarga Hyuuga.

"Apa maksudmu?" Gaara masih belum sadar apa yang Hinata ucapkan.

"Lalu─hiks─apakah kau bisa menjelaskan apa yang kau lakukan di distrik shibuya dengan wanita itu!" Hinata berteriak menumpahkan semua sakit yang ia rasakan, bahkan air matanya sudah tak sungkan lagi untuk membanjiri pipi gembilnya.

Deg

Gaara menunjukan raut wajah terkejut, pria itu seakan tersadar dengan apa yang baru saja terjadi, 'Apa Hinata melihatku dengan Sakura?'

"Itu tidak seperti yang kau lihat Hime, percayalah─" Gaara meraih pergelangan tangan Hinata dan menggenggamnya erat, "Aku hanya─" Penjelasannya menggantung ditenggorokan.

"Memangnya apa yang aku lihat?" Balas Hinata sinis,"Dan hanya apa? Kau hanya mendekap wanita itu dan pergi berdua dengannya!" Teriak Hinata di depan wajah kekasihnya.

Tanpa mendengar penjelasan dari Gaara, Hinata berlari menaiki tangga ke kamarnya. Air mata masih menggenang di pelupuk matanya.

Neji mencengkeram kerah baju Gaara─"Apa yang kau lakukan, brengsek!"

Dan satu pukulan dari Neji mendarat di wajah mulus Gaara, lelaki bersurai merah itu tidak melawan sama sekali karena ia sadar ini semua karena kesalahannya. Tapi, bukankah Hinata juga bersalah? Ia pergi dengan laki-laki lain di belakangnya?

T.B.C

Ana : ana pengin hina dekat sama hana kan ibunya ngga peduli bikin hana sayang sama hina dan juga sebaliknya, sebenarnya kasian sih sakura bikin dia bahagia sama pria lain ,tapi jngan sama sasu yah

Baik Sakura maupun Hinata bakal bahagia kok, ntar di endingnya

Hime345 : Hmm ,, apa hana itu bukan anak sasu ya ?
Penasaran sama rumah tangga nya sasusaku yg sebenernya.

Di sini ada banyak pihak yg tersakiti ya.
Aq cuma berharap smoga hinata ga jadi perusak rumah tangga sasu , maski kayanya rumah tangga sasu juga udah bermasalah ya tanpa adanya hinata.
Dan sungguh aq berat bgt ke Gaara , dia bgtu baik dan tulus ama hinata.

Di tunggu kelanjutannya ya kak .
Semoga ga terlalu lama up datenya .
Semangaattt kak .

Dijawab dichapter-chapter selanjutnya ya

Ya, cintanya aja bukan cinta yang biasa, jadi ya begitulah..

Kita liat nanti aja ya

Ini udah dilanjut ya,

Ya, terimakasih semangatnya

cumi goreng : gua SHL tapi di fic ini gua ga berharap endingnya SH. Lanjut thor. Semangat

Kita liat aja nanti ya endingnya gimana, terimakasih semangatnya

liyaneji : semoga happy ending walaupun sasuhina ga bisa bersatu... aku ga rela klu hinata jadi perusak rumah tangga... walaupun sasu dan hina sudah saling mencintai jauh sebelum sasu nikah...

Aku pastikan happy ending, karena aku penganut aliran happy ending :D aku juga gak rela sebenernya T_T

Addalah : Aah buat sasuhina happy end ya kak, tapi gaara jg buat happy end. Jd sama skornya :-D

Semua bakal happy di endingnya, hanya saja mungkin awalnya terluka

NurmalaPrieska : Aku jadi mikir apa hana itu anaknya Naruto? XD maaf suka ngawur XD imajinasi liar XD

Wkwkwkwk, kenapa anaknya Naruto?

Srilestari : Ah sebenanya aku gak pengen bilang ini
Tapiiiiiii aku haeus bilang
BUAT Hinata mati

Kenapa harus mati?

Nadeshiko Padmini : Baca Fic ini. sambil ndegerin Back to Taylor swift sebagai . rasanya 'ngeh' n feelnya dapet banget. Dilanjut ya.
Semangat thor.
Aku mendukungmu.

Terimakasih, ini udah dilanjutkan, semoga gak mengecewakan ya Dan terimakasih dukungannya

Rapita Azzalia : Mksh daisy-san review x dibalas...
Aku dukung SasuHina untuk memperjuangkan cinta mereka..
smoga Happy Ending yg dimaksud sama Daisy-san adalah SasuHina buka Gaahina amin...

Makasih juga udah di review

Terimakasih buat dukungannya, sejujurnya aku masih bingung, mau endingnya SH atau GH

IkaS18 : Ganbate..

Arigatou

Ana : semoga sasuhina bersatu,gaara juga bahagia dengan yg lain, sakura juga bahagia sama yg lain walaupun awalnya banyak yg tersakiti atau bikin garaa kecelakaan aja deh terus meninggal jadi ngga terluka ,sakura sama neji aja deh ana suka saku neji

Hahaha, sejujurnya aku galau mau digimanain nih endingnya, belum dapet wangsit wkwkwk

Btw, terimakasih untuk sarannya

Nhiyla324 : Wahh mkin sru ajaa critax... Tp ksihan gaara.a
chap slanjt.a ya kak... Xg semangat nulis.a!

Terimakasih, ini udah di update ya

Tatsuna Hiwaya : Ih aku nungguin fic ini..terus update ya sampai end. Jangan discontinue. Semangat!

Discontinue sih gak, tapi mungkin updatenya gak pasti, tergantung mood sama feel