CHAPTER 1 : THE BEGINNING

"Kak Jae, di antara Kak Jaebum dan Kak Mark, menurutmu siapa yang merupakan pacar Kak Jinyoung?"

Hari masih pagi dan Bambam sudah mengajakku bergosip. Salahkan Kak Jaebum, Kak Mark, dan Kak Jinyoung yang datang melewati kami sehingga membuat orang-orang tak ada kerjaan seperti Bambam mempunyai bahan bergosip.

"Mungkin Kak Jaebum. Mereka kan satu kelas dan terlihat 'akrab'." jawabku asal.

Bambam menggeleng, "Aku rasa tidak, Kak. Kemarin sore Bambam melihat Kak Mark dan Kak Jinyoung berduaan di lapangan basket."

"Ngghh, memangnya apa yang salah kalau mereka berduaan di lapangan basket. Bukankah wajar mengingat Kak Mark adalah anggota tim basket dan Kak Jinyoung merupakan managernya?" tanyaku penasaran.

"Mereka terlalu mesra untuk hubungan anggota dan manager, Kak. Lagian kau tahu sendirikan kalau Kak Mark itu playboy tingkat tinggi. Dia tak mungkin menyia-nyiakan Kak Jinyoung yang manis itu." ungkap Bambam.

"Jadi aku yakin sekali kalau ada sesuatu di antara Kak Mark dan Kak Jinyoung." Bambam menarik kesimpulan atas analisisnya.

Aku menggaruk kepalaku yang tak gatal ini. "Terserah kau sajalah, Bam." kataku acuh.

Kulihat Bambam mendengus kesal dengan reaksiku yang tak terlalu antusias ini. Ya, aku memang tidak terlalu tertarik dan peduli dengan hubungan percintaan orang lain. Kalau bukan karena Bambam, aku pun tak akan pernah tahu tentang mereka atau gosip-gosip lain yang sedang in di sekolah.

Oh ya, Bambam adalah adik kelasku. Entah bagaimana ceritanya aku dan dia bisa berteman akrab seperti sekarang, aku pun tak ingat persis.

Bambam ini kurus dan berwajah manis. Asli Thailand tapi sudah tinggal lama di Korea. Ku dengar dia sedang dekat dengan Kakak kelas bernama Jackson, tapi sampai sekarang aku tidak pernah mendengar bagaimana kelanjutan hubungan mereka.

Aku tidak pernah bertanya dan Bambam pun sepertinya lebih suka mengomentari kisah percintaan orang lain dari pada kisahnya sendiri. Dasar biang gosip hehehe

"Dari pada mengurusi hubungan orang lain, kenapa kau tidak memperjelas hubunganmu dengan Kak Jackson saja? Kasihan statusnya kau gantung terus." Sindiriku.

Bambam mendesah berat. "Entahlah, aku juga bingung. Aku masih ragu dengannya, Kak. Kau tahu sendiri kan sifatnya 11 12 dengan Kak Mark, playboy cap kabel." Katanya.

Aku tertawa kecil mendengarnya. Tingkah genit Kak Jackson memang sudah menjadi rahasia umum di sekolah ini. Aku tak tahu apa Kak Jackson serius atau tidak dengan Bambam, makanya aku maklum kalau namja asal Thailand itu ragu dengannya.

Tapi kalau dia hanya main-main dengan Bambam, maka aku akan berada di garis depan untuk memukul wajahnya. Bambam terlalu baik untuk di jadikan mainan seorang Wang Jackson.

"Kau mau ku kenalkan dengan seseorang tidak?"

Bambam melirik sinis ke arahku. "No thanks, aku masih cukup laku untuk mendapatkan pacar sendiri, Kak."

Yah, sayang sekali. Padahal rencananya aku mau mengenalkannya dengan Yugyeom. Kasihan anak itu selalu menempel denganku. Bukannya aku tak senang, tapi aku berharap dia bisa bergaul dengan orang lain selain denganku dan Junhong.

"Justru yang perlu di kenalkan dengan seseorang itu kau sendiri, Kak Jae." Kata Bambam.

Aku mengerling malas. "Sudah ku bilang aku terlalu sibuk untuk mengurusi cinta-cintaan, Bam." Kataku.

"Sibuk apaan? Apa main game online setiap hari seperti seorang maniak itu bisa di sebut dengan sibuk?" Sindirnya.

"Tidak setiap hari, Bammie. Aku kan harus belajar juga." Kataku beralasan. Ya, hanya alasan. Faktanya yang ku lakukan setiap hari hanyalah bermain game online sampai malam hari. Tentu saja setelah semua tugas sekolahku sudah ku kerjakan.

Jujur aku memang sempat kecanduan bermain game online hingga membuat Yugyeom dan Junhong melaporkanku pada Ayah dan Ibu. Akibatnya, sambungan internet di kamarku di putus oleh mereka.

Sialan, ini gara-gara Junhong dan Yugyeom.

Meskipun begitu aku tidak berhenti bermain game online begitu saja. Selepas mengikuti pelajaran tambahan di tempat les, aku selalu menyempatkan bermain game di warnet barang sejam dua jam. Memang kurang memuaskan sih, tapi mau bagaimana lagi dari pada tidak sama sekali.

Sttt... Ini rahasia. Jangan sampai Yugyeom atau Junhong tahu, aku tidak mau mulut ember mereka mengacaukan segalanya. Xixixi

Ketika aku dan Bambam melewati koridor anak kelas 3, tiba-tiba kami berpapasan dengan seseorang yang sangat familiar. Siapa lagi kalau bukan Wang Jacksong.

"Aish, Kak Jae, ayo kita lewat jalan lain saja!" Bambam menarik lenganku. Sepertinya ia sedang tak mau bertemu dengan pria Hongkong itu.

"Telat, Bam. Dia sudah melihat kita." Kataku seraya menunjuk Kak Jack yang sedang melambaikan tangan ke arah kami. Ku lihat dia langsung bergegas menghampiri kami, atau lebih tepatnya menghampiri Bambam.

"Ahh, sial!" Desis Bambam kesal. Aku hanya bisa tersenyum kecil melihatnya.

"Bammie!" Seru Kak Jackson dengan nada tinggi sehingga membuat beberapa orang menoleh ke arahnya. Kenapa dia tidak berteriak saja sekalian biar semua orang mendengarnya.

"Bammie, kau pasti datang mencariku ya?!" Ujar Kak Jackson dengan percaya diri. Sumpah, pedenya kelewat tinggi ni anak.

"Ihh, siapa juga yang mencari Kakak. Orang Bam mau ke kelas." Protes Bambam.

"Kenapa harus lewat sini? Kan bisa memutar lewat kantin. Sudah deh Bammie, jujur saja kalau kau rindu pada Kakak, kan?"

Ku lihat Bambam mengedikan badannya, merinding. "Masih pagi, Kak, jangan kebanyakan bermimpi deh. Lagian kalau memutar lewat kantin itu jauh, jangan terlalu percaya diri deh." Katanya.

Aku tetap diam memperhatikan 2 orang di depanku ini terus berdebat. Mereka kalau bertemu sudah seperti anjing dan kucing, saling adu urat tanpa ada yang mau mengalah. Terutama Bambam yang selalu membantah apa yang di katakan Kak Jackson.

"Kak Jackson... Bambam... Aku duluan ya. Kalian bisa lanjutkan pacarannya." Kataku pamit pada mereka.

"KAK JAE!" Protes Bambam. Mata kecilnya melotot ke arahku. Uhh seram deh, aku jadi takut hehehe

"Tunggu dulu, Jae, kebetulan aku ingin meminta tolong padamu." Kata Jackson mencegahku pergi.

"Kakak ada perlu apa dengan Kak Jae?" Tanya Bambam.

"Bukan apa-apa kok, Bammie. Jangan cemburu gitu dong."

Bambam merengut kesal.

"Kakak mau minta tolong apa sama Jae?" Tanyaku.

"Club Basket lagi kekurangan orang Jae. Kau mau bergabung tidak?" Ajaknya. Bergabung dengan club Basket? Apa Kak Jackson sedang mabuk? Sejak kapan aku minat dengan sesuatu yang berhubungan dengan basket. Nilai olahragaku saja sangat payah.

"Kakak sedang bercanda ya? Aku mana bisa main basket."

"Err, bukan sebagai pemain, Jae. Kami butuh Asisten Manager untuk mengurus keperluan club." Ungkap Kak Jackson.

"Ahh, maaf Kak Jack, aku-"

"MAU. KAK JAE MAU!" Sambar Bambam sebelum aku menyelesaikan kata-kataku. Apa-apaan sih ni bocah, maen jawab aja.

"Yak! Siapa juga yang mau ikut bergabung. Kalau kau mau kenapa tidak kau saja yang bergabung sana!" Protesku pada Bambam.

"Ishh, bergabung dengan club Basket itu banyak keuntungannya, Kak. Nilai olahragamu langsung otomatis terjamin bagus, yah meskipun terkesan pas-pasan. Tapi itu kan masih lebih baik dari pada nilaimu yang payah itu." Ungkap Bambam menjelaskan.

"Wah, ternyata Bammie tahu banyak tentang club kami ya. Apa yang di katakan Bammie itu benar, Jae. Meskipun kerjaanmu cuman duduk-duduk saja, tapi selama kau bergabung dengan kami, nilai olahragamu pasti terjamin." Kata Kak Jackson menambahkan.

Aku diam. Jujur saja tawaran itu sangat menggiurkan bagiku. Nilai olahragaku sangat payah dan tidak jarang aku sering kena omel Jung Songsaenim, belum lagi remedial tertulisnya yang membuat otakku berasap saking sulitnya.

"Hmm, tapi aku belum pernah jadi manager sebelumnya..." Kataku ragu.

"Tenang saja, Jae. Kau kan hanya jadi asisten saja. Urusan yang berat-berat itu urusan Jinyoung." Ah, Kak Jinyoung, tak apakah aku jadi asistennya? Pikirku.

"Iya Kak Jae, sudah terima saja!" Bambam terus mendesakku.

"Ish, kenapa kau tidak saja yang gabung sana."

Bambam menggeleng. "Aku sibuk dengan club musik, Kak, tidak seperti Kakak yang penganggur." Sialan, aku di sebut pengangguran, padahal kan aku juga sibuk.

Sibuk menaikan level game onlineku.

"Jadi gimana Jae, mau tidak? Kalau mau nanti aku bilangin sama Jinyoung."

Aku kembali diam, memikirkan tawaran Kak Jackson. Duh, aku jadi bingung, terima gak ya. Tapi demi nilai... Ah, sudahlah aku terima saja.

Aku mengangguk, menyetujui tawaran Kak Jackson. "Boleh deh, aku terima tawarannya." Kataku.

Ku lihat Kak Jackson dan Bambam tersenyum puas dengan jawabanku. Apakah keputusanku ini sudah benar? Entahlah hanya Tuhan yang tahu.

*** To be continue ***

Thank buat sudah review chap sebelumnya : dinafly3424 - mimidun - pudfa - q-ara jung - bbyay23 - xiohzi - markgyeombi - Salvia I'm

Untuk Chap ini belum ada momen-moment yang berarti ya. Tokoh utamanya aja belum ketemu hehehe

Markjin atau 2Jae? Sejujurnya aku lebih suka 2Jae, tapi MarkJae juga lagi deket-deketnya, aku kan jadi gemes sendiri huhuhu

Untuk fans Jinyoingie, tenang aja Jinyoung gak jahat kok, cuman judes-judes tsundere gitu doang, itu juga sama Youngjae doang, tapi sebenernya dia baik kok hehe

Kemudian untuk Bambam, aku bingung mau jadiin JackBam atau YugBam, yah gimana nanti aja deh.

Aku usahain update seminggu sekali ya, tapi maaf-maaf aja kalau agak telat. Tenang aja aku gak ngasih syarat review harus sekian-sekian baru mau update, soalnya aku bikin fic ini murni karena suka sama GOT7 khususnya Youngjae, bukan karena mengejar review *uhukkk*

Tapi bukan gak butuh review juga sih, aku anggap review mah bonus aja hehehe