CHAPTER 2 : PRIA BERMULUT MANIS

Aku tidak pernah mengerti kenapa aku memutuskan bergabung dengan tim basket. Selama hidupku aku tidak pernah bergabung dengan club apapun di sekolah. Aku lebih baik menghabiskan waktuku di warnet game dari pada di club.

Mungkin pengecualian kalau misalnya ada club pecinta game online, meskipun sebenarnya tak mungkin ada. Menurut pihak sekolah, game online adalah musuh terbesar mereka.

Tapi apa yang ku lakukan sekarang? Aku bergabung dengan salah satu club kebanggaan sekolah ini sebagai asisten manager. Dan itu semua agar nilai olahragaku yang payah akan meningkat meskipun pas-pasan.
Aku tak mengerti betul apa sih tugas asisten manager. Yang jelas aku merasa kalau tugasku ini tak berbeda jauh dengan seorang pembantu rumah tangga.

"Youngjae, tolong ambilkan handuk!"

"Youngjae, ambilkan aku air minum!"

"Youngjae, tolong kumpulkan bola dan simpan di gudang!"

"Youngjae, bersihkan lapangannya!"

AAAHHH...

Rasanya aku ingin membunuh Kak Jackson dan Bambam yang sudah menjerumuskanku ke tempat ini. Apanya yang tinggal duduk-duduk saja, aku bahkan merasa pekerjaanku lebih melelahkan dari pada anggota basket yang berlari-lari di lapangan.

Uhh, seragamku bahkan sudah basah kuyup karena keringat, tahu begitu aku bawa kaos olahraga sekalian. Ini semua karena Kak Jackson.

Kulihat Kak Junior sedang berdiri di pinggir lapangan sambil sesekali menulis sesuatu di buku catatannya. Tak ada raut kelelahan atau peluh yang mengucur di pelipisnya. Seragamnya masih sangat rapih seperti saat pertama kali datang ke sekolah.

Aku iri sekali. Kenapa pekerjaanku tidak seenak dia. Perbedaan Manager dan Asisten Manager sangat berbeda jauh. Kak Junior kebagian tugas yang bersih, sementara yang kotor-kotor di limpahkan padaku.

Ini gara-gara Kak Jackson. Sialan, aku sudah lupa berapa kali aku menyumpahi pria Hongkong itu.

Sedari awal Kak Jackson sudah sibuk latihan bersama teman-temannya. Sesekali ia bercanda dan tertawa bersama mereka. Uhh, menjijikan, rasanya aku ingin menyumpal mulutnya dengan kain pel yang ada di tanganku ini.

Well, setidaknya ia menyapa dan menanyakan kabarku yang tidak baik ini. Nyatanya ia malah bersikap cuek dan kaya gak kenal denganku. Sempat ia tersenyum beberapa kali padaku, tapi senyumannya itu seolah-olah mengejekku.

Sialan.

Ingatkan aku untuk tidak memberinya restu untuk berhubungan dengan Bambam.

Sebenarnya bukan hanya Kak Jackson saja yang bersikap seperti itu. Hampir semua pemain basket di club ini sama sekali tak peduli denganku. Kerjaan mereka hanya menyuruh-nyuruhku saja. Aku tak yakin kalau mereka mengingat namaku dengan jelas atau tidak.

"Kak Junior, apa aku sudah bisa pulang sekarang?" Aku bertanya pada Kak Junior ketika ada kesempatan.

Kak Junior menatapku dengan bingung. "Youngjae -ssi, tugas kita adalah mengurus semua keperluan yang dibutuhkan oleh tim. Kita datang sebelum latihan dan pulang setelah semua anggota selesai latihan. Bagaimana bisa kau meminta ijin untuk pulang saat latihan masih tengah berlangsung?!" Tegurnya padaku.

Aku menundukan wajahku. Ternyata Kak Junior tidak seramah yang kudengar. Dia sangat tegas dan galak, tak heran dia jadi manager club. Dengan kepribadiaannya ini dia pasti bisa mengatur club dengan baik.

"Tapi aku harus pergi les, Kak?"

"Itu bukan urusanku, Youngjae -ssi. Seharusnya kau sudah tahu kalau latihan kita ini berakhir hingga petang. Kau harus memperbaiki management waktumu." Kata Kak Junior.

"Maaf, Kak, aku tidak tahu kalau latihannya sampai sesore ini." Err, rasanya aku seperti kembali ke masa-masa dimana aku di marahi senior saat ospek.

"Memangnya Jackson tidak memberitamu tentang tugas dan informasi tentang club ini? Harusnya sebelum bergabung kau sudah tahu semuanya."

Aku menggeleng. Aku benar-benar tak tahu dan tak mengerti tentang tugasku atau pun tentang club ini.
Ku lihat Kak Junior mendesah berat, sepertinya dia mulai mengerti dengan masalahku. "Jackson tolol, bagaimana bisa dia merekrut orang tanpa menjelaskan apa pekerjaannya." Gumamnya kesal.

Uhh, jadi semua ini gara-gara Kak Jackson. Gara-gara dia tak memberitahuku apapun tentang club ini aku jadi kena marah Kak Junior. Lihat saja nanti, aku akan benar-benar membunuhnya!

"Lalu bagaimana dengan lesku, Kak? Aku belum menyesuaikan jadwalnya dengan jadwal club." Kataku khawatir. Aku sih tidak masalah dengan lesnya, tapi kalau orang tuaku tahu aku membolos, mungkin aku gak bakalan di kasih makan seminggu.

Terdengar berlebihan? Tapi kalau itu Ibuku semuanya pasti mungkin terjadi.

Kak Junior diam, seperti memikirkan sesuatu dengan serius. Aku akui meskipun wajah Kak Junior ini cenderung manis, tapi kalau sudah serius seperti sekarang, kharismanya sebagai seorang manager terasa cukup kuat. Tak heran mengapa dia tak kalah populer dari Kak Jaebum atau pun Kak Mark.

"Baiklah kau boleh pulang hari ini. Bagaimanapun urusan pelajaranmu itu lebih penting. Kau harus mengatur ulang jadwalmu karena mulai besok aku tidak akan mentolerir lagi hal seperti ini." Kata Kak Junior pada akhirnya.

Aku tersenyum sumringah. Aku tak bisa menyembunyikan rasa legaku. Aku takut Kak Junior tidak akan memberikanku ijin, atau bahkan lebih parahnya langsung memecatku dari club.

"Baik, Kak, aku mengerti. Aku janji besok tidak akan merepotkan Kakak lagi. Terima kasih ya." Aku membungkukkan badan sebagai tanda terima kasihku padanya.

"Hmm," gumamnya. "Oh ya, Sebelum kau pulang, tolong sekalian simpan dokumen ini di ruang club." Kak Junior memberikanku sebuah amplop ukuran A4 berwarna coklat.

"Aye, captain!" Aku memberi hormat ala tentara, sementara Kak Junior hanya tersenyum kecil sambil menyuruhku cepat-cepat pergi.

Setelah pamit kepada Kak Junior, aku pun mengambil tas yang kusimpan di pinggir lapangan, kemudian bergegas menuju ruang club basket.

Aku harus bergegas karena aku sudah tak punya waktu lagi. Butuh waktu sekitar 30 menit bagiku untuk sampai ke tempas les, itu pun kalau tidak macet mengingat hari sudah mulai sore.

Sesampainya di ruang club, aku langsung meletakan dokumen ini di atas meja seperti yang di perintahkan oleh Kak Junior.

Ukuran ruangan ini tidak terlalu besar atau pun kecil. Ruangan yang memanjang ini terdiri dari loker-loker di sisi kanan kirinya, sebuah kursi panjang, serta meja di sudut ruangan dengan lemari penuh trophy juara di belakangannya.

Oh ya jangan lupakan juga beberapa lembar poster yang menghiasi dinding ruangan ini, seperti poster SNSD, Bigbang, hingga gambar wanita yang hanya mengenakan bikini, dasar anak cowok. Tapi kebanyakan sih poster-poster yang berhubungan dengan pemain basket terkenal semisal Bryan Kobe atau Michael Jordan.

Ketika aku hendak meninggalkan ruangan ini, sudut mataku menangkap sebuah nama yang tertera di salah satu loker milik para anggota tim basket.

Wang Jackson, itu nama pemilik loker tersebut.

Aku menyeringai nakal, memikirkan beberapa ide nakal. Si pria Hongkong itu harus ku berikan pelajaran karena sudah mengerjaiku.

Ku hampiri loker miliknya, lalu kubuka. Tak ada yang istimewa di dalamnya. Hanya ada seragam, tas, sepatu, dan beberapa barang tak penting lainnya.

Aku lalu mengeluarkan sebuah spidol berwarna merah dari dalam tasku, kemudian menuliskan beberapa kalimat di cermin yang terpasang di balik pintu loker.

'Wang Jackson sialan. Dasar kau bedebah. Tukang tipu, playboy cap kabel, tukang modus, tukang tebar pesona. Enyahlah kau dari dunia ini. Jangan harap aku akan merestui hubunganmu dengan Bambam!'

Aku tersenyum puas ketika membaca kalimat yang baru saja ku tulis tersebut. Tak lupa aku memasukan seragam miliknya ke dalam tempat saja. Tenang saja, tempatnya sampahnya bersih kok sehingga seragamnya tidak akan terlalu kotor, paling hanya bau saja.

Yah, anggap saja itu ungkapan balas dendamku padanya hihihi

"Merusak properti sekolah itu termasuk pelanggaran berat loh."

Aku terkejut saat mendengar suara di belakangku. Sontak saja aku langsung menoleh ke belakang. Dan saat aku berbalik, aku menemukan sesosok pria berambut silver sedang berdiri di belakangku sambil menatapku curiga.

Hey, bukankah dia Kak Mark, ace tim basket kebanggan sekolah ini. Aku baru melihatnya kali ini mengingat tadi ia tidak ikut latihan bersama timnya. Apa dia tidak ikut latihan karena sudah merasa jago? Huftt, sombong sekali.

"Kau pasti mantan pacarnya Jackson ya? Meskipun begitu, merusak properti sekolah dan membuang seragamnya ke tempat sampah itu sangat tidak di benarkan!" Kak Mark melirik seragam Kak Jackson yang tadi kubuang sambil berdecak kesal.

"Itu tidak benar, Kak. Mana sudi aku jadi pacarnya si tukang modus itu!" Protesku.

Kak Mark kemudian melakukan kabedon kepadaku. Aku tersentak kaget. Uhh, gak kuat rasanya di kabedon oleh pria tampan seperti Kak Mark ini. Ia mendekatiku sehingga wajah kami hanye berjarak beberapa sentimenter.
Mata cerah Kak Mark menatapku dengan tajam. Sialan, aku memang lemah dengan pria-pria tampan seperti Kak Mark ini.

"Kalau begitu siapa kau dan apa yang di lakukan pria manis sepertimu di ruang club basket saat semua orang sedang berada di lapangan?!"

Aku meneguk ludah. Apa ia harus bertanya dengan posisi ambigu seperti ini ya. Rasanya aku seperti anak perawang yang sedang di goda oleh seorang preman di gang sepi dan gelap.

"Maaf kalau membuat Kakak salah paham. Aku Choi Youngjae, Asisten Manager yang baru. Dan untuk masalah loker Kak Jackson, itu adalah urusan pribadi. Bisakah Kakak tidak melaporkanku pada guru?" Pintaku dengan nada memelas.

Kak Mark tampak berpikir. "Kenapa aku harus menuruti asisten manager baru yang bahkan belum ku kenal?" Tanyanya.

Sialan, ternyata pria ini agak sulit untuk di ajak bernegosiasi.

"Err, aku akan memberikan apapun yang Kakak minta asalkan Kakak tidak melaporkanku pada guru." Kataku menawarkan.

"Apapun?"

Aku mengangguk.

"Kalau aku memintamu untuk tidur denganku, apa kau mau?"

"Sebelum itu terjadi aku akan membunuhmu!" Kataku dengan dingin.

Kak Mark terkekeh, "Aku hanya bercanda. Meskipun kau manis, kau bukan tipeku." Katanya.

"Tapi kalau Kakak memaksa aku bisa apalah..."

Dia menatapku bingung.

"Bercanda." Kataku kemudian. Dia kembali tertawa sambil menyentil dahiku.

"Dasar anak nakal!" Katanya.

Kak Mark kemudian menarik tubuhnya. Pyuhh, aku lega karena posisi kami sudah kembali normal. Sejujurnya berada dalam posisi tadi membuat jantungku jadi dag dig dug tak karuan.

"Baiklah, kau berhutang satu permintaan, Choi Youngjae -ssi." Katanya kemudian.

Aku tersenyum lebar karena tak bisa menyembunyikan rasa legaku. "Terima kasih, Kak. Apapun yang kakak minta selama aku sanggup, aku pasti akan memberikannya." Kataku.

Kak Mark menyeringai, "Jangan senang dulu, Youngjae -ssi. Kau bahkan tidak tahu apa yang akan ku minta nanti. Nah, sekarang kemarikan ponselmu."

Aku kemudian menyerahkan ponselku padanya. Ku lihat ia mengetik sesuatu dan tak lama kemudian terdengar bunyi ponsel milik Kak Mark. Ah, sepertinya ia baru saja memisscall ponselnya dengan ponselku.

"Aku akan menghubungimu nanti untuk menagih hutangmu." Kak Mark menyerahkan ponsel milikku.

"Anytime." Kataku.

Tiba-tiba saja Kak Mark mengeluarkan sebuah botol minum dari dalam tasnya. Ia kemudian membuka tutupnya dan menuangkan isinya ke dalam tempat sampah dimana seragam Kak Jackson berada.

Aku hanya bisa bengong melihat apa yang baru saja di lakukan oleh Kak Mark barusan.

"Kalau mau mengerjai orang itu jangan tanggung-tanggung hehehe" Kak Mark terkekeh dengan nada jail. Tak lupa ia juga mengedipkan mata dengan nakalnya ke arahku.

Oh Tuhan, sepertinya aku akan berhubungan dengan seorang manusia aneh selain Kak Jackson. Aku harap permintaannya nanti tidak aneh-aneh.

*** To be continue ***