CHAPTER 3 : MISSUNDERSTANDING

Hari ini aku suntuk sekali. Tenagaku habis terkuras oleh kegiatan club dan les, sehingga membuatku ogah-ogahan bermain game online. Untung saja hari ini guildku hanya rapat untuk persiapan perang antar guild minggu depan.

Haruskah aku keluar saja dari club basket? Aku tidak mau nantinya aku malah salah fokus saat berperang melawan guild lain.

Masalahnya aku baru sehari bergabung bersama club, masa sudah minta keluar aja. Aku jadi tidak enak sama Kak Junior, bisa-bisa nanti aku di anggap yang tidak-tidak olehnya.

Tapi yah gimana nanti sajalah, kalau memang gak terlalu bermanfaat betul untukku, aku tinggal keluar saja. Peduli amatlah dengan pendapat mereka tentangku, toh kita juga gak terlalu akrab.

"Lesu amat, Kak Jae."

Aku menoleh ke arah pria yang berada di meja sebelahku. Dia adalah Jaehyun, teman bermain game onlineku. Kami sudah saling mengenal sejak lama karena satu guild di permainan, tapi baru bertemu akhir-akhir ini.

Dulu kan aku lebih sering bermain game online di rumah, namun semenjak insiden pemutusan koneksi internet oleh ibuku, aku jadi anak warnet bersama Jaehyun.

Jaehyun, dia lebih muda setahun dariku. Dia satu sekolah dengan adikku Junhong, tapi katanya mereka tidak saling mengenal karena berbeda kelas. Kalau di pikir-pikir semua teman-teman dekatku lebih muda dariku, sebut saja Bambam, Yugyeom, dan sekarang Jaehyun.

Sepertinya aku punya bakat untuk mencari daun muda hehehe

Secara fisik Jaehyun tergolong sempurna. Tubuhnya atletis dan besar. Dengan tubuh seperti itu ia lebih terllihat seperti seorang mahasiswa dari pada pelajar SMA. Jangan lupakan juga wajahnya yang sangat tampan rupawan seperti model-model majalah.

Dengan modal seperti itu aku yakin Jaehyun bisa menjadi seorang idol, atau bahkan setidaknya jadi model catwalk.

"Aku tidak tertarik jadi idol, Kak. Aku lebih suka main game online."

Itu jawaban Jaehyun ketika ku sarankan dia untuk ikutan audisi jadi idol di sebuah agensi. Faktanya memang seperti itu, Jaehyun memang tak lebih dari seorang maniak game online. Ah, sungguh ketampanan yang mubadzir.

Aku menoleh pada pria muda di sampingku ini. "Apa jelas terlihat?" aku berusaha memaksakan diri untuk tersenyum.

Jaehyun mengangguk. "Sangat jelas, Kak. Biasanya kan kau cerewet dan tidak bisa diam." katanya.

Aku mendengus sebal. "Aku anggap itu sebuah pujian." dia tersenyum, senyum yang menyebalkan, huft.

"Jadi, masalah apa yang membuat wajah kakakku tersayang ini di tekuk sejak tadi?"

"Nothing spesial, Jae. Kakak hanya mengalami hari yang melelahkan hari ini." jawabku.

"Hari yang melelahkan?" dahi Jaehyun berkerut bingung.

"Mulai hari ini kakak masuk club basket di sekolah, Jae." kataku.

"Seorang Choi Youngjae yang bahkan membuka tutup botol pun kesulitan masuk club basket? Tanggal berapa sekarang, apakah hari ini hari april mop?" sindir Jaehyun dengan nada meremehkan.

Aku mendesis kesal. Apa bocah ini tak bisa apa sekali saja tidak menyindirku.

"Sialan kau, Jae!" aku meninju bahunya. "Well, aku masuk club bukan sebagai pemain, melainkan sebagai asisten manager. Kau tahu, pekerjaan asisten manager itu sangat melelahkan, rasanya badanku jadi remuk." keluhku seraya mempoutkan bibir.

"Kalau kau lelah kenapa tidak berhenti saja? Dari pada capek-capek melakukan pekerjaan yang tidak kau sukai, lebih baik kakak temanin Jae main game saja."

Aku menyentil dahi Jaehyun. "Dasar bocah, otakmu itu isinya cuman maen game, eoh?!" kataku sok bijak.

Jaehyun tersenyum lebar, memamerkan deretan giginya yang putih bersih dan rapih. Sialan, dia malah memasang ekspresi tampannya. Uhh, kadang anak ini suka bikin aku khilaf ingin menggauilinya.

"Lagian kakak ngapain sih ikut-ikutan club segala? Gak biasa banget tahu gak." tanya Jaehyun.

Aku pun kemudian menjelaskan alasanku bergabung dengan club basket pada Jaehyun. Dari mulai di paksa oleh kedua sahabatku, Kak Jackson dan Bambam, hingga alasanku tentang nilai olahragaku yang pas-pasan.

"Kau tahu apa yang di butuhkan oleh tubuhmu saat sedang pegal-pegal dan pikiran mumet?"

Aku menggeleng tak tahu.

"Soju!" Jaehyun menjentikan jarinya di depan wajahku.

Soju? Apa anak ini sudah gila?

"Kau gila!"

"Aku tidak gila, Kak. Soju itu solusi untuk orang-orang seperti Kakak melepas stres. Aku jamin nanti stres dan pegel-pegelnya Kakak pasti hilang." ungkapnya.

Aku menatapnya curiga. "Jaehyun, jangan bilang kalau kau sering minum soju..." tebakku.

"Tidak sering, Kak, hanya sesekali saja kalau aku sedang lelah." Aku kemudian memukul bahunya dengan keras.

"Yak, kau itu masih SMA sudah berani-beraninya menyentuh alkohol. Kalau orang tuamu sampai tahu bagaimana, eoh?!" Layaknya sebagai orang yang lebih tua aku mulai menceramahinya.

Aku tahu kalau secara visual Jaehyun tak seperti anak SMA sehingga bisa dengan leluasa membeli soju tanpa ada yang curiga. Aku juga tahu kalau dia kekurangan kasih sayang dari orang tuanya yang sibuk bekerja, tapi bukan berarti dia bisa bersikap seenaknya seperti itu.

"Kalau kau adikku, sudah ku gantung kau Jaehyun."

"Dan aku bersyukur tidak mempunyai kakak sepertimu." balas Jaehyun. Ku jewer saja telinganya hingga dia mengaduh kesakitan. Dasar bocah kurang ajar.

"Tapi Kak, kau benar-benar tidak mau mencobanya? zaman sekarang anak SMA minum soju bukan hal aneh loh. Malah menurutku jangan-jangan Kakak ini satu-satunya anak SMA di negeri ini yang belum pernah mencicipi soju." kata Jaehyun dengan agak berlebihan.

Aku terdiam. Apa benar yang di katakan oleh Jaehyun? Kalau benar maka aku jadi anak yang kudet dan tidak kekinian dong.

"Jadi gimana Kak, apa kau tertarik? Sebagai permulaan biar aku traktir deh." kata Jaehyun, masih mencoba menawariku. Sepertinya dia berbakat jadi SPB soju deh.

Haruskah aku mencobanya? Aku tahu ini salah, tapi memang apa salahnya kalau aku minum soju. Anak kelas 1 seperti Jaehyun saja sudah mencobanya, masa aku belum sih. Apa Bambam, Junhong, atau Yugyeom pernah mencobanya?

Bagaimana kalau sudah? Ahh, aku tidak mau jadi satu-satunya anak yang nantinya di cap cupu oleh mereka. Yosh, sudah ku putuskan aku akan mencobanya.

Choi Youngjae akan minum soju hingga mabuk. Ah, tidak sampai mabuk sih, itu terlalu berbahaya.

Malam itu aku dan Jaehyun langsung berangkat ke salah satu minimarket yang berada tak jauh dari game center. Tadinya Jaehyun ingin mengajakku minum di warung tenda pinggir jalan, namun karena aku masih menggunakan seragam sekolah kami memutuskan untuk membeli soju di minimarket saja.

Jaehyun bertugas untuk membeli soju di minimarket tersebut, sementara aku menunggu di gang sepi yang jaraknya hanya beberapa puluh meter dari minimarket.

Aku duduk di salah satu undakan tangga sambil sesekali menggosok-gosokkan tangan untuk sekedar menghangatkan diri.

Gang ini sangat cocok untuk tempat bersembunyi mengingat jarang sekali ada yang lewat. Apalagi tempat ini hanya di terangi oleh sebuah lampu jalan sehingga membuat suasana menjadi lebih temaram.
Sambil setengah berlari Jaehyun datang dengan membawa sebuah kantung plastik yang ku yakini berisi sebotol soju.

"Bagaimana, kau tidak ketahuan kan?" tanyaku khawatir. Ya aku cemas kalau-kalau saja pegawai minimarketnya menyadari kalau Jaehyun adalah seorang pelajar SMA.

"Tenang saja, Kak, semuanya aman terkendali." kata Jaehyun. Dia kemudian duduk di sampingku, lalu mengeluarkan belanjaannya.

Aku deg-degan. Jujur aku takut, namun di sisi lain aku merasa bersemangat mengingat ini akan menjadi pengalaman pertamaku meminum alkohol.

Aku penasaran bagaimana rasanya meminum alkohol. Apakah aku akan mabuk seperti orang-orang yang ku lihat di TV? Bagaimana kalau aku dan Jaehyun sama-sama mabuk kemudian melakukan hal-hal yang tidak di inginkan?

Choi Youngjae, kau terlalu jauh berkhayalnya. Aku tersenyum di dalam hati ketika mengingat pikiran-pikiran nakal yang lewat di pikirannku.

"Yak! Kenapa kau malah membeli 2 botol? Sudah ku bilang 1 botol saja!"

Jaehyun menggeleng. "1 botol tidak akan terasa, Kak, lagi pula kita tidak akan mabuk hanya karena minum 2 botol soju." ungkapnya.

Aku mendesah pasrah. Aku mau protes bagaimana pun percuma, terkadang Jaehyun suka bersikap semaunya sehingga membuatku mau tidak mau terpaksa mengikutinya.

Jaehyun membuka tutup salah satu botol soju, lalu menuangkannya pada 2 gelas sloki kecil. Ia menyerahkan salah satunya padaku.

"Nah, mari bersulang demi hidup yang lebih baik." ujar Jaehyun.

Bunyi gelas beradu terdengar ketika kami bersulang. Jaehyun langsung meminum sojunya dengan satu tegukkan.

Tak seperti Jaehyun, aku tidak langsung meminumnya. Ku amati dulu minuman alkohol di tanganku ini, seperti bagaimana warna dan baunya ketika ku hirup.

"Tunggu apa lagi, Kak, ayo cepat di minum!" desak Jaehyun. Dia sudah meneguk gelas ke duanya. Wah, sepertinya dia memang sudah pro dengan urusan seperti ini.

Aku ingin segera meneguk soju di tanganku ini, namun entah kenapa aku merasa ragu. Aku merasa ini adalah sesuatu yang salah.

"Err, Jaehyun, sepertinya aku tidak jadi mencobanya deh..." kataku seraya mengembalikan gelas di tanganku pada Jaehyun.

Ya, kau sudah melakukan hal yang benar, Choi Youngjae. Aku mungkin memang bukan anak baik yang penurut, namun aku juga tak mau menjadi anak yang nakal terutama dalam pergaulan.

Aku tidak mau karena berawal dari coba-coba, nantinya aku malah ketagihan. Aku tak ingin pergaulanku keblablasan hingga melewati batas.

Tak apalah aku di cap cupu, yang penting aku tidak melakukan hal-hal yang tidak seharusnya ku lakukan sekarang. Atau setidaknya sesuatu yang belum saatnya ku lakukan.

Jaehyun mendengus sebal. "Kau sudah sejauh ini, Kak. Yang perlu kau lakukan hanyalah meneguknya sampai habis!" katanya.

Aku menggelengkan kepala, "Tidak terima kasih, kau saja yang minum, Jae." kataku.

Rupanya Jaehyun tidak tinggal diam, dia masih terus mencoba memaksaku untuk meminum soju itu.

"Sedikit saja, Kak, kau pasti akan suka!" Jaehyun menyodorkan gelas soju padaku.

Untuk kesekian kalinya aku pun menolak. Dan seiring dengan penolakanku, Jaehyun pun semakin gencar memaksaku.

"Sedikit saja!" Ia mencoba memaksaku untuk minum. Aku tepis tangannya dengan sopan, namun dia tetap tak menyerah.

"Jangan keras kepala, Kak, cepetlah kau minum!"

"Sudah ku bilang aku tidak mau, Jung Jaehyun!"

"Sedikit saja..."

"Hentikan, Jaehyun, jangan paksa aku lagi!" seruku dengan nada tinggi.

"Hanya satu gelas dan aku tak akan memaksamu lagi, Kak." Jaehyun benar-benar memaksaku. Gelas di tangannya sudah berada di tepian bibirku.

"Jung Jaehy -" belum sempat aku menolak, Jaehyun langsung melesatkan minumannya ke dalam mulutku. Tentu saja aku tidak punya pilihan lain selain meminumnya, meskipun sebagian mulai menetes di ujung bibirku lalu turun ke leher hingga akhirnya hilang di balik kemejaku.

Aku memejamkan ke dua mataku. Rasanya agak aneh ketika minuman itu melewati tenggorokankku. Aku sulit menjelaskan secara detail, yang jelas rasanya tidak terlalu enak.

Ku lihat Jaehyun tertawa puas ketika melihatku yang sedang terbatuk-batuk karena tersedak. Sialan, dasar anak kurang ajar, beraninya dia melakukan ini padaku.

Saat aku sedang membiasakan diri dengan minuman yang melewati tenggorokanku itu, tiba-tiba saja ujung mataku menangkap sebuah bayangan yang berada tak jauh di depanku.

Ketika aku menoleh ke arah bayangan tersebut, aku mendapati sesosok pria remaja dengan seragam sekolah yang sama sepertiku.

Kendati cahaya di tempat ini tergolong temaram, aku masih bisa melihat dengan jelas wajah sosok tersebut.

"Kak Jaebum!" aku terkejut ketika melihat sosok yang cukup familiar di mataku.

Ya, sosok yang sedang berdiri tak jauh di depanku adalah Kak Jaebum. Kakak kelas dan ketua club basket di sekolahku.

Dia hanya diam sambil menatapku tajam dengan mata sipitnya. Aku tidak tahu arti tatapannya padaku ini. Apakah dia marah kepadaku?

Kami memang tidak saling mengenal secara pribadi, tapi setidaknya dia tahu kalau aku adalah asisten manager di club yang dipimpinnya.

Tidak salah lagi dia pasti marah kepadaku. Bagaimana kalau dia akan melaporkanku pada Kak Jinyoung? Atau lebih perahnya lagi dia akan menyebarkan berita tentang diriku yang ketahuan minum alkohol pada semua orang di sekolah.

Lagian sejak kapan sih dia sudah berdiri di sana? Dan apa saja yang sudah dia lihat?!

Ini gawat... benar-benar sangat gawat!

Aku langsung berdiri dari tempat dudukku. Aku hendak menghampirinya untuk menjelaskan tentang semua kesalahpahaman ini. Namun baru saja aku hendak melangkah, Kak Jaebum langsung berbalik dan pergi meninggalkan kami seolah-olah tak ada yang terjadi.

Aku tidak mengejarnya. Yang kulakukan hanyalah menatap punggungnya yang semakin menjauh di telan kegelapan hingga akhirnya menghilang di belokkan gang.

"Kau kenapa, Kak? Apa kau mengenalnya?" tanya Jaehyun yang tiba-tiba saja sudah berdiri di sampingku.

Aku melirik Jaehyun dengan sinis. Aku menatapnya dengan tatapan membunuh. Ini semua gara-gara bocah sialan ini. Kalau dia tidak mengajakku minum, mungkin semua ini tidak akan terjadi.

Kalau Kak Jaebum benar-benar menceritakan semua yang di lihatnya malam ini pada teman-temannya, imageku yang bersih di sekolah pasti akan hancur.

"JUNG JAEHYUN, INI SEMUA GARA-GARA DIRIMU!" teriakku pada Jaehyun. Ku pukuli saja pria yang lebih muda setahun lebih muda dariku itu dengan membabi buta.

Seperti biasa pagi ini aku datang ke sekolah dengan agak telat. Tolong di catat, agak ya. Yah, meskipun aku tidak pernah datang pagi-pagi sekali, aku juga tak pernah datang telat banget ke sekolah.

Alasannya, tentu saja karena Ibuku. Seberapa lelah dan ngantuknya diriku, Ibuku akan selalu membangunkanku setiap pagi dengan suara tingginya. Tak jarang sebuah pukulan di pantat menjadi makanan sehari-hariku kalau aku tak mengindahkan suara Ibuku.

Errr, rasanya aku ingin bertukar Ibu dengan Ibunya Yugyeom yang baik hati dan lembut itu.

Oh ya, saat ini aku sedang berada di dalam bus menuju ke sekolah. Kondisi busnya cukup ramai hingga membuatku harus berdiri. Kebanyakan sih penumpangnya para pekerja kantoran atau pun pelajar sepertiku.

Namun yang tidak kalah menyebalkannya adalah aku satu bus dengan Kak Mark.

Dia duduk di bangku belakang. Sesekali dia mengedipkan mata untuk menggodaku. Dia juga beberapa kali memberiku kode agar menghampirinya.

Namun aku cuek-cuek saja tuh. Alih-alih menghampirinya, aku lebih baik berdiri dekat dengan pak supir. Aku acuh saja, berpura-pura tak kenal dengannya.

Di satu sisi aku kasihan dengan Kak Mark yang mencoba menyapaku dengan antusias, namun di sisi lain lucu saja melihat ekspresinya ketika ku abaikan hehehe

Bus akhirnya berhenti di halte dekat sekolahku. Aku dan beberapa pelajar lainnya langsung turun, begitu pula dengan Kak Mark.

Tadinya aku ingin segera cepat-cepat masuk ke dalam sekolah sebelum akhirnya tasku di tarik oleh seseorang dari belakang. Ya, siapa lagi kalau bukan Kak Mark.

"Yak! Berani sekali kau mengabaikanku sejak tadi!" seru Kak Mark.

Aku menoleh ke arahnya, "Apa maksud Kakak? Aku tidak mengerti dengan maksudmu." kataku ambil memasang wajah innoncent.

Kak Mark lalu menyentil dahiku. Uhh, sakit. T.T

"Jangan berpura-pura tidak tahu, bocah. Dari tadi aku sudah memberi kode agar kau mendekatiku, tapi kau malah pura-pura tak melihatku!"

"Tapi aku sungguh-sungguh tak melihat Kakak kok. Aku bahkan baru sadar kalau kita sebus."

Kali ini bukan sentilan lagi yang ku dapat, melainkan sebuah pitingan di leher. Aku tentu saja terkejut dan berusaha melepaskan diri, namun apa daya tenaga Kak Mark lebih besar dariku.

"Masih berani berbohong, eoh?!" tanya Kak Mark.

"Ahh, iya... iya... ampun. Aku salah... aku salah..." aku memohon ampun sebelum aku kehilangan nyawaku. Ya... ya... ya... aku tahu ini berlebihan.

Kak Mark kemudian melepaskan pitingannya, "Good boy." katanya sembari mengacak-acak rambutku.

Aku hanya bisa mendengus kesal sambil mengusap-usap leherku yang tadi di kepit oleh Kak Mark.

"Ayo kita berangkat bersama!" ajak Kak Mark.

Aku menurut saja ketika Kak Mark menuntunku untuk berangkat bersama. Namun baru beberapa langkah berjalan, tiba-tiba aku mendengar suara seseorang yang meneriakan namaku dari arah belakang.

"CHOI YOUNGJAE!"

Aku dan Kak Mark sontak saja menoleh ke belakang. Ku lihat Kak Jackson berlari ke arah kami sambil memanggil-manggil namaku dengan keras sehingga membuat orang-orang melihat ke arahnya karena penasaran.

Oh, Tuhan, sekarang apa lagi?!

Kak Jackson kini sudah berada di depanku. Nafasnya masih tersengal-sengal, sehingga membuatnya harus mengambil nafas yang banyak.

"Yak! Choi Youngjae, berani-beraninya kau mencoret-coret lokerku. Dan yang paling parah kau juga sudah mengotori seragamku, eoh?!" seru Kak Jackson marah.

Aku langsung bersembunyi di belakang Kak Mark. "Aku akui kalau yang mencoret-coret loker Kakak adalah aku. Tapi yang membuat seragam Kakak kotor itu bukan aku!" protesku.

"Jangan menyangkal, Jae. Kalau bukan kau siapa lagi, eoh?!"

Aku langsung menatap tajam ke arah Kak Mark yang malah bersiul seolah-olah tak tahu apa-apa. Kak Jackson pun menatap Kak Mark dengan curiga.

"MARK TUAN!" geram Kak Jackson.

Sebelum Kak Jackson 'meledak', Kak Mark langsung meraih tanganku. Tanpa menyadari apa yang sedang terjadi, aku hanya menatap pria itu dengan bingung.

"KABURRRRR!" teriak Kak Mark. Dan sejurus kemudian aku sudah di tarik olehnya, berlari dari kejaran Kak Jackson yang masih kelelahan.

Aku dan Kak Mark berlari menyusuri jalanan, melewati orang-orang yang melihat ke arah kami dengan berbagai tatapan. Kami berlari sambil bergandengan tangan.

Sesekali ia menoleh ke arahku sambil tersenyum. Oh my gosh, kenapa waktu terasa berjalan lambat. Dan kenapa Kak Mark terlihat lebih tampan dari biasanya.

Choi Youngjae, sepertinya pikiranmu sudah tak waras. Tapi bukankah Kak Mark memang sudah tampan dari sananya? Mungkin akunya saja sih terbawa suasana.

Bagaimana tidak baper, kami berlari sambil bergandengan tangan di pagi yang cerah layaknya adegan dalam sebuah manga. Bukankah itu agak errr... sedikit romantis?

Kami berhenti berlari ketika kami sudah sampai di depan gerbang sekolah. Nafas kami masih tersengal-sengal, sementara Kak Mark belum melepaskan genggaman tangannya. Uhh, So sweet sekali yahhh.

Namun belum sempat aku mengambil nafas, mataku menangkap sosok familiar yang berdiri tak jauh di depanku dan Kak Mark.

Dia adalah Kak Jaebum yang sepertinya hendak masuk ke sekolah. Aku heran kenapa dia selalu muncul dengan tiba-tiba. Apa dia ini hantu?

"Selamat pagi, Jaebum." sapa Kak Mark.

"Pagi juga, Mark." balas Kak Jaebum. Ia tersenyum ramah hingga mata sipitnya membentuk eyesmile.

Namun ketika mata kami beradu pandang, senyumnya langsung hilang dan berganti dengan tatapan sinis.

Ini hari apa sh? Kenapa pagiku kali ini terasa penuh kejutan. Aku harus menandai hari ini sebagai hari tersialku.

Aku menunduk. Aku tak bisa menatap mata Kak Jaebum lama-lama. Tatapannya yang tajam seolah-olah mengintimidasi dan menghakimiku.

Ingin rasanya aku menjelaskan kesalahpahaman yang terjadi tadi malam, namun tidak sekarang karena ada Kak Mark. Aku tidak mau saja semakin banyak orang yang tahu tentang kejadian semalam.

Aku harus segera bicara empat mata dengan Kak Jaebum. Tapi kapan waktu yang tepat itu? Aku takut Kak Jaebum keburu menyebarkan cerita ini pada Kak Junior dan teman-temannya.

Aku hanya bisa berharap Kak Jaebum mau tutup mulut sampai aku menjelaskan semuanya.

Semoga saja...

*** To be Continue ***