CHAPTER 4 : Dont Judge Book by Cover

Hari ini latihan club basket berjalan seperti biasanya. Para pemain sibuk memasukan si kulit bundar ke dalam ring lawan sambil sesekali mengikuti arahan sang pelatih. Di sampingnya Kak Jinyoung mencatat berbagai analisis dan strategi yang harapkan oleh pelatih.

Sementara aku? Tentu saja aku juga sibuk. Sangat sibuk lebih lepatnya.

Pekerjaanku tak jauh-jauh dari mengepel lapangan, mengumpulkan bola, mencuci handuk, atau hal sepele seperti memberikan minum pada para pemain.

Meskipun di depan sana terdapat pemandangan Kakak-Kakak tampan nan sexy yang bermandikan keringat, namun karena pekerjaanku yang melelahkan ini seharian ini aku jadi bad mood.

Bawaannya sewot mulu dan rasanya ingin berkata kasar.

Ketika para pemain mulai beristirahat, aku langsung mengambil beberapa botol minuman dan membagikannya pada mereka. Kak Jackson menggodaku saat aku memberikan air minum padanya.
Aku heran dengan pria menyebalkan itu. Ketika semua orang terlihat kelelahan, dia malah terlihat semakin hyper aktif. Sebenarnya seberapa banyak sih stamina yang dia punya?

Lain Kak Jackson lain pula Kak Mark. Dia terlihat kelelahan, namun masih bisa tersenyum dan mengucapkan terima kasih saat menerima botol minuman dariku.

Sementara Kak Jaebum...

Saat aku hendak memberikan air minum untuknya, dia malah menepisnya. Mungkin itu terlihat wajar di mata orang lain, tapi tidak olehku.

Aku tahu ada maksud tersendiri dari penolakannya itu. Dia masih marah denganku. Aku bisa merasakannya dari tatapan Kak Jaebum yang tidak suka padaku.

Beruntungnya aku belum mendengar gosip tentang diriku yang tertangkap basah sedang minum alkohol tersebar di sekolah. Sikap para anggota club termasuk Kak Jinyoung masih biasa saja padaku.

Itu artinya Kak Jaebum tidak menceritakan kejadian malam itu pada siapa pun. Atau mungkin belum. Aku tidak tahu sampai kapan Kak Jaebum akan menutup mulutnya, yang jelas aku harus segera menjelaskan kesalahpahaman ini padanya.

"Aku ke toilet dulu sebentar." pamit Kak Jaebum pada yang lainnya.

Sebelum beranjak Kak Jaebum melirikku sekilas. Bukan lirikkan biasa, melainkan sebuah kode agar aku mengikutinya. Aku sedikit khawatir dengan apa yang akan terjadi nanti.

"Nggghh, aku juga mau ke toilet dulu. Aku mau mencuci handuk." kataku pamit, berbasa-basi. Meskipun sebenarnya siapa juga yang peduli aku mau pergi kemana.

Tanpa melihat ke arahku, Kak Jinyoung melambaikan tangannya, menyuruhku pergi.

Aku kemudian pergi mengikuti Kak Jaebum. Aku tidak menyusulnya, hanya mengikutinya dari belakang. Jarak kami tidak terlalu dekat, tapi juga tidak terlalu jauh.

Lama aku mengikuti pria bermata sipit itu. Seperti dugaanku, Kak Jaebum tidak pergi ke toilet. Ia menggiringku ke luar gedung olahraga.

Sesampainya di luar tiba-tiba saja Kak Jaebum berhenti melangkah. Dia berdiri memunggungiku, matanya lurus menatap ke arah lapangan sepak bola yang sepi di ujung sana.

Aku menelan ludah dengan susah payah, lalu memberanikan diri untuk mendekatinya.

"Kak Jaebum..." panggilku. Ia masih terdiam.

"Mengenai kejadian tadi malam, aku ingin menjelaskan kalau aku -"

"Keluarlah!" seru Kak Jaebum tiba-tiba. Aku kaget dan bingung, tak mengerti dengan apa maksud pria di depanku ini.

"Maksud Kakak apa?" tanyaku.

Kak Jaebum kemudian berbalik. Sorot matanya memandang lurus dan tajam ke arahku.

"Keluarlah dari club basket, maka aku tidak akan menceritakan kejadian tadi malam pada Jinyoung atau siapa pun." katanya.

"Aku bisa menjelaskan semuanya, Kak. Tolong jangan salah paham dulu." pintaku padanya. Ya, aku mengerti kalau dia marah dan salah paham padaku, tapi setidaknya dia harus mendengarkan penjelasanku terlebih dahulu.

"Aku tidak peduli dengan alasanmu. Yang jelas aku tak mau ada orang sepertimu di dalam clubku. Rasanya sangat memuakkan!"

Aku merasa tertohok. Aku tahu dia marah, tapi kata-katanya barusan itu terdengar sangat kasar dan tidak sopan. Jelas aku sangat tersinggung dan kesal mendengarnya.

Hey, kemana Kak Jaebum si ramah yang sering orang-orang katakan itu?

"Maaf, Kak. Aku tahu Kakak marah padaku. Tapi apa kata-kata Kakak barusan itu tidak terdengar keterlaluan?"

"Aku tidak punya alasan untuk beramah tamah denganmu, Youngjae -ssi." katanya dengan nada dingin.

"Tapi Kakak sudah salah paham. Malam itu aku di paksa oleh Jaehyun. Dan itu pertama kalinya aku menyentuh alkohol. Aku bukan orang yang seperti Kakak bayangkan." ungkapku.

Kak Jaebum kemudian mendekatiku. Ia mencondongkan tubuhnya sehingga wajahnya tepat berada di depan wajahku, aku bahkan bisa merasakan deru nafasnya yang hangat.

"Aku muak mendengar orang-orang seperti kalian yang selalu mencari alasan. Menghirup udara yang sama dengan sampah sepertimu hanya membuatku sesak saja!" Kak Jaebum menatapku dengan tajam, sangat tajam sehingga membuatku sedikit merinding. Belum lagi nada suaranya yang rendah membuatku merasa terintimidasi.

Rahangku meras dan tanganku mengepal dengan kuat, menahan amarah. Aku sudah tidak peduli lagi dengan kesalah pahaman yang terjadi di antara kami.

Dia sudah keterlaluan. Bagaimana mungkin kata-kata kasar itu meluncur dari mulutnya dengan mudah. Aku tahu dia kaya, pintar, dan populer. Tapi apa dia punya hak untuk menghakimi orang lain tanpa mendengarkan pembelaanku terlebih dahulu?!

Tidak, Kak Jaebum tidak berhak. Siapa pun tidak berhak melakukannya, terlebih itu terjadi padaku.

"Aku tidak tahu kalau seorang Im Jaebum ternyata adalah orang yang berpikiran sempit dan juga tidak punya sopan santun!" seruku dengan bibir bergetar.

Rasa kesalku sudah sampai di ubun-ubun. Dadaku sesak hingga rasanya aku ingin menangis. Aku bahkan sudah mencoba menahan diri untuk tidak memukul pria di depanku ini.

Aku tidak bisa memukulnya. Aku juga tidak bisa membalas kata-katanya hanya untuk sekedar protes. Aku sudah kehilangan minat untuk menjelaskan semuanya. Biar saja dia salah paham.

Aku balas menatap tajam Kak Jaebum, dia masih memasang ekspresi dingin yang menyebalkannya itu.

Tanpa berpikir panjang aku langsung menarik tengkuknya sehingga bibirnya dan bibirku bertemu. Ya, aku menyesap bibir pria di hadapanku ini dengan kuat.

Aku bisa melihat kilatan terkejut pada matanya. Cih, tentu saja dia pasti terkejut. Dia pasti tidak menyangka kalau aku akan menciumnya.

Ya, aku menciumnya.

Eh, tunggu dulu, menciumnya? Aku menciumnya?!

Mencium seorang Im Jaebum?!

Sadar dengan hal gila yang baru saja ku lakukan, aku langsung mendorong tubuh Kak Jaebum dengan kasar.

Dadaku naik turun. Aku menyentuh bibirku. Astaga, Choi Youngjae, kau sudah benar-benar gila, bagaimana mungkin kau berani menciumnya.

Aku terus merutuki diriku. Suasana tiba-tiba menjadi hening. Bibirku kelu, tak tahu harus berkata apa pada Kak Jaebum. Dia juga tidak mengatakan sesuatu. Jelas, karena dia masih syok, aku bisa melihat dari ekspresi wajahnya. Sepertinya dia masih mencoba mencerna apa yang baru saja terjadi.

Aku menelan ludah dengan susah payah sambil menatapnya dengan ragu. "A- Aku akan keluar dari club seperti yang Kakak mau..." kataku dengan gugup.

Tanpa mendengarkan balasan dari Kak Jaebum, aku langsung berbalik dan berlari meninggalkannya. Mau tidak mau aku terpaksa keluar dari club. Sebenarnya alasanku keluar bukan karena desakan Kak Jaebum, aku keluar karena aku tak punya muka lagi untuk berhadapan dengan pria itu.

Aku menciumnya! Itu adalah hal paling gila yang baru saja ku lakukan pada Kakak kelasku, pada orang yang sedang memarahiku, dan pada orang yang sudah memanggilku sampah.

Aku berlari dengan wajah tertunduk sehingga tanpa sengaja aku menabrak seseorang. Dia adalah Kak Mark.
Seperti biasa, Kak Mark selalu tersenyum ramah, dia hendak menyapaku namun tak ku pedulikan. Aku kemudian kembali berlari, mengabaikan Kak Mark yang sepertinya kebingungan.

Aku berlari tanpa mau menoleh ke belakang. Aku tidak mau melihat Kak Jaebum. Aku tidak tahu reaksi seperti apa yang akan di berikannya padaku ketika keadaannya sudah mulai normal.

Aku tidak ingin melihatnya.

Aku tidak ingin bertemu dengannya.

Aku bersumpah akan menghindari segala sesuatu yang berhubungan dengan club basket, terutama Im Jaebum.

Mulai sekarang aku harus bersiap dengan segala kemungkinan. Aku tidak bisa bertemu dengan Bambam karena jika aku bertemu dengannya, otomatis aku bertemu juga dengan Kak Jackson.

Ya, aku juga harus mengindari orang itu.

Kemudian aku juga tak bisa menghabiskan waktu istirahatku di kantin mengingat anak-anak basket selalu nongkrong di sana. Sialan, sepertinya mulai besok aku harus membuat bekal makan siang sendiri dari rumah.

Yang jelas aku hanya perlu menghindari Kak Jaebum. Beruntung kelas kami tidak berada dalam satu kawasan, kelasku berada di lantai 2 bagian barat sementara kelas Kak Jaebum berada di lantai 3 bagian timur.

Kecil kemungkinan untuk kami bisa bertemu. Sekolah kami cukup besar dan aku sudah tahu dimana tempat-tempat anak basket biasa nongkrong, kantin, taman belakang di bagian timur, dan tentu saja lapangan basket.

Yang perlu ku lakukan hanya menghindari tempat-tempat itu. Hmm, sepertinya terdengar sangat mudah. Yah, aku pasti bisa melakukannya.

"Choi Youngjae, kau pasti bisa!" aku berusaha memberikan semangat pada diriku.

.

.

Sudah 1 minggu aku keluar dari club basket. Aku keluar begitu saja tanpa bilang pada Kak Jinyoung atau pun anggota club lainnya. Selama seminggu ini situasi masih bisa terkendali.

Aku menghindari Kak Jaebum dengan baik sehingga kami tidak pernah bertemu sekali pun. Pernah aku dan dia hampir berpapasan ketika aku sedang ingin ke toilet, untung saja aku langsung sigap dan bersembunyi sebelum ketahuan olehnya.

Agak melelahkan sih harus bermain kucing-kucingan dengan Kak Jaebum atau anggota club lainnya, tapi mau gimana lagi aku memang harus melakukannya.

Ngomong-ngomong tentang anggota club basket, selama seminggu ini keluar tanpa ijin aku tidak pernah bertemu dengan mereka, termasuk Kak Jackson. Aku tahu keberadaanku di dalam club memanglah tidak terlalu penting, tapi fakta tidak ada satu pun dari mereka yang mencariku membuatku sedikit sedih. T.T

Hubunganku dengan Bambam juga jadi sedikit renggang, aku selalu bersembunyi di perpustakaan agar tidak ada orang yang menemukanku. Yah, mau gimana lagi dong Kak Jackson terus saja menempel dengan bocah Thailand itu sehingga membuatku tak bisa bertemu dengannya.

Seperti biasa hari ini aku bersembunyi di perpustakaan. Sesekali aku memang membaca buku, tapi seringnya sih aku hanya menumpang tidur di sini. Bagaimana pun tempat ini bukan style ku hehehe

Suasana perpustakaan memang sangat mendukung untuk menjadi tempat tidur sih. Tempatnya sepi, tak banyak orang yang datang kemari. Murid-murid yang sedang belajar terlalu sibuk dengan buku mereka sehingga keberadaanku ini tak terlalu mengganggu mereka.

Aku menidurkan kepalaku di atas meja dengan buku sebagai alasnya. Aku memilih meja yang paling pojok dan gelap agar tidak ketahuan oleh sang penjaga perpustakaan. Meskipun aku tidak menganggu, tetap saja aku termasuk kriteria orang yang akan di usirnya.

Ketika aku sedang mencoba untuk tidur, tiba-tiba saja aku mendengar seseorang duduk di sampingku. Tak lama kemudian aku mendengar suara halaman buku yang di bolak-balik.

Aku sedikit terusik. Sambil menguliat dengan malas, aku mencoba untuk membuka ke dua mataku.

Hal pertama yang tertangkap oleh indera penglihatanku adalah seorang pria manis duduk di sampingku sambil membuka lembar demi lembar bukunya.

Aku tersenyum kepadanya, "Bagaimana kau bisa menemukanku, Bammie?" Ya, pria itu adalah Bambam, teman yang beberapa hari ini jarang kutemui.

Bambam menoleh ke arahku dengan ekspresi tidak senang. "Ku dengar kau tidak pernah datang ke club basket lagi. Apa karena itu kau menghindariku, Kak Jae?!" tanya Bambam to the point.

Dia memang selalu seperti itu, to the point dan tidak suka berbasa-basi. Hal yang kusukai darinya adalah sifat blak-blakkannya. Kalau dia sudah bilang Ya, maka artinya Ya, dan jika Tidak berarti memang tidak. Kalau jelek dia akan bilang jelek, dan kalau bagus dia akan bilang bagus.

Teman yang cukup kritis dalam memberi komentar, meskipun kadang-kadang sifatnya itu juga agak menjengkelkan sih.

Aku menegakan tubuhku sambil menguap ngantuk. "Ceritanya panjang, Bam." kataku.

"Waktu istirahat masih tersisa 40 menit lagi. Kalau memang tidak cukup, kau bisa menceritakan intinya saja!" tegas Bambam. Lihatlah, dia tidak akan menyerah menuntutku untuk bercerita.

Aku berdehem, "Seperti yang sudah kau dengar sebelumnya, aku memang tidak pernah datang lagi club basket, Kak Jackson pasti sudah menceritakannya padamu, kan?" tanyaku.

Bambam mengangguk.

"Aku sudah memutuskan untuk keluar dari club basket." kataku pada akhirnya.

Dahi Bambam berkerut heran. "Kakak keluar dari club? Tapi kenapa?" tanyanya penasaran.

Aku menghela nafas, kemudian jeda sebentar. Aku lalu menceritakan semua kronologis kejadian yang terjadi antara aku dan Kak Jaebum sehingga membuatku harus terpaksa meninggalkan club.

Aku menceritakan tentang betapa lelahnya menjadi seorang asisten manager, pertemuanku dengan Jaehyun yang mengajak dan memaksaku untuk minum, meskipun yah awalnya aku memang menyetujuinya, hingga berakhir tertang basah oleh Kak Jaebum.

Aku juga menceritakan tentang Kak Jaebum yang menyuruhku untuk keluar dari club dengan tuduhan dan berbagai macam kata-kata kasarnya.

Hanya sampai di sana. Aku tidak menceritakan tentang diriku yang kehilangan kontrol dan mencium Kak Jaebum. Bisa heboh dia kalau sampai mendengarnya. Lagi pula aku ingin kejadian itu hanya menjadi rahasia antara diriku dengan Kak Jaebum saja.

"Kak Jaebum benar-benar berkata seperti itu?" itu reaksi pertama Bambam setelah aku selesai menjelaskan semua kejadiannya. Dia terlihat tak percaya mendengarnya.

Aku mengangguk.

"Wow, luar biasa. Aku tidak menyangka ternyata Kak Jaebum adalah orang yang seperti itu."

"Terkadang apa yang kau lihat belum tentu benar. Kak Jaebum yang selalu menebar senyum itu ternyata tidak seramah yang orang pikirkan." kataku.

Wajar sih kalau Bambam sedikit tidak percaya mengingat image Kak Jaebum di sekolah ini tergolong baik. Dia memang tidak terlalu banyak bicara, namun senyum yang selalu mengembang di wajahnya membuat orang berpikir kalau dia adalah orang yang baik.

Maksudku Kak Jaebum memang orang yang baik, tak mungkin kan kalau dia seorang penjahat yang kabur dari tahanan. Hanya saja perangainya yang asli tidak terlalu baik. Setidaknya itu yang sudah kulihat pada pertemuan terakhir kami.

"Oh ya, jangan bilang pada Kak Jackson alasanku yang sebenarnya keluar dari club ya. Aku tidak mau masalahku dengan Kak Jaebum di dengar oleh orang lain." pintaku pada Bambam, kulihat dia mengangguk-angguk mengerti.

"Errr, aku janji tidak akan bilang pada siapa pun. Tapi bagaimana dengannya?" Bambam terlihat ragu, sudut matanya melirik ke arah meja yang berada tepat di belakangku.

Aku sedikit bingung dengan sikap Bambam yang aneh. Siapa yang maksud 'denganya' olehnya?

Tanpa ragu aku langsung menoleh kebelakang. Di sana ada seorang pria yang harus ku hindari. Bukan Kak Jaebum, melainkan Kak Mark.

Ya, Kak Mark duduk tepat di meja yang berada di belakangku. Aku nyaris terperanjat saking terkejutnya.

Bagaimana bisa dia ada di tempat ini?!

"Hallo, Youngjae -ssi. Sudah lama ya kita tidak bertemu." Kak Mark menyapaku sambil melambaikan tanganya. Tak lupa sebuah senyum mengembang di wajahnya.

"KAK- Kak Mark, apa yang Kakak lakukan di tempat ini? Sejak kapan Kakak berada di sana? Dan apakah Kakak sudah mendengar semuanya?!" aku langsung memberondonginya dengan berbagai pertanyaan. Aku bahkan tidak tahu seberapa cepat aku berbicara.

Choi Youngjae bodoh. Sudah pasti kalau pria itu mendengarkan semua ceritanya pada Bambam. Bodohnya aku tidak menyadari keberadaan Kak Mark di sana.

"Cukup lama untukku bisa mendengar semua ceritamu." katanya. "Jadi itu alasan aku tidak pernah melihatmu lagi di lapangan dan juga sikapmu yang ketakutan dan buru-buru saat terakhir kita bertemu." itu tidak terdengar seperti sebuah pertanyaan, melainkan lebih terdengar seperti sebuah pernyataan.

Aku terdiam sambil tertunduk malu.

"Jaebum adalah orang baik, aku bisa pastikan itu. Mengenai sikapnya padamu, aku yakin dia mempunyai sebuah alasan. Aku percaya padanya." katanya kemudian.

Dia membelanya. Tentu saja dia akan membelanya. Mereka kan berteman, sementara aku hanyalah orang asing.

"Aku tidak tahu alasan apa yang membuatnya bersikap seperti itu padaku. Tapi aku sudah terlanjur sakit hati dibuatnya." lirihku

"Kembalilah ke club, Youngjae. Aku akan bicara pada Jaebum dan memastikan dia meminta maaf padamu." kata Kak Mark berusaha meyakinkanku.

"Kak Mark benar. Apa yang terjadi pada kalian hanyalah sebuah kesalahpahaman. Kalian harus menyeselesaikannya kesalahpahaman itu." Bambam yang sedari tadi diam ikut angkat bicara.

Kembali ke club? Kemudian bertemu dengan Kak Jaebum dan juga orang-orang yang tidak peduli denganku?
Lagi pula bagaimana mungkin aku masih berani menampakan diri di depan Kak Jaebum setelah insiden ciuman itu? Tidak, terima kasih, aku masih punya rasa malu dan harga diri.

"Maaf, Kak, aku rasa aku tidak bisa. Permasalahannya tidak sesederhana itu." kataku. Aku tidak mungkin mengatakan tentang ciuman itu pada mereka.

"Lagi pula keberadaanku di sana tidaklah begitu penting. Ada atau tidaknya diriku tidak berpengaruh apa-apa pada club." ungkapku.

"Apa itu yang kau pikirkan tentang kami? Kau pikir kami tidak peduli padamu? dan apa itu, kau menganggap dirimu tidak penting?" nada bicara Kak Mark meninggi, beberapa orang tampak medelik sinis ke arah kami.

Aku melihat ekspresi wajah Kak Marak yang terlihat sedih, kesal, marah, dan kecewa.

"Bukankah memang seperti itu kenyataannya, Kak? Tidak ada yang peduli denganku di sana."

Kak Mark mendengus kesal. "Kau tahu, sejak kepergianmu Jinyoung harus bekerja dobel dan mengurus semuanya sendirian. Bukan itu saja, semua anggota tim jadi tersiksa karena setiap hari di omelin dan di suruh-suruh oleh Jinyoung yang entah kenapa kadar sensitifnya jadi semakin meningkat."

Aku tersenyum miris. Jadi keberadaanku hanya tak lebih dari sekedar untuk di suruh-suruh.

"Berhenti tersenyum menyebalkan seperti itu, Choi Youngjae, aku tahu apa yang sedang kau pikirkan sekarang!" Kak Mark menegurku. Aku langsung memasang ekspresi datar.

"Aku belum selesai berbicara." katanya. "Jinyoung bisa saja mencari asisten manager yang baru tanpa harus repot-repot seperti sekarang ini. Tapi dia tidak melakukannya, kau tahu kenapa?"

Aku menggeleng tak tahu. Sebenarnya aku senang ketika mendengar Kak Jinyoung kerepotan karena mengambil alih tugasku. Terdengar jahat memang hehehe

"Dia tidak mencari asisten yang baru karena dia menunggumu. Dia percaya padamu, Choi Youngjae, begitu pula dengan anggota club lainnya." ungkap Kak Mark.

Aku terkejut mendengarnya. Benarkah apa yang di katakan Kak Mark barusan? Mereka menungguku? Dan Kak Jinyoung yang galak itu percaya padaku?!

"Kami memang bukan tipe yang bisa menunjukan rasa perhatian kami secara terbuka. Tapi kau harus yakin kalau mereka mempercayaimu. Mereka mengandalkanmu, Choi Youngjae. Jadi berhentilah menganggap dirimu tidak penting."

Aku memandang Kak Mark, tidak ada tanda-tanda kebohongan di matanya. Dia tulus saat mengatakan semuanya.

"Semua orang setuju kalau di bandingkan dengan asisten manager yang sebelumnya, kau itu jauh lebih baik. Kau lebih rajin, cekatan, dan juga lebih ramah. Yah, meskipun kau sering cemberut sih hehehe" kata Kak Mark menambahkan. Aku hanya tersenyum menanggapinya.

Aku merasa tersanjung kalau apa yang di katakan oleh Kak Mark itu semuanya benar. Tapi kalau harus kembali ke club bagaimana yaaa...

Bukannya aku tidak mau, tapi permasalahannya ada pada Kak Jaebum.

"Maafkan aku, Kak. Tapi sepertinya aku benar-benar tidak bisa kembali ke club kecuali dengan satu syarat." kataku.

"Syarat apa, Jae?" Kak Mark terlihat penasaran.

Aku diam sejenak, lalu menghela nafas.

"Aku ingin Kak Jaebum meminta maaf padaku!" kataku. Ya, Kak Jaebum harus meminta maaf atas segala perkataannya padaku. Kalau perlu dia harus berlutut di depanku sekalian.

Ah, itu terlalu berlebihan. Mana mau orang itu berlutut di depannku. Yang ada mungkin malah aku yang akan di gantung di ring basket.

"Akan ku pastikan dia meminta maaf padamu, Jae." Kak Mark mencoba meyakinkanku. Sejujurnya aku tak yakin betul Kak Jaebum mau meminta maaf.

Lagi pula bagaimana dengan ciuman itu? Sialan, aku hampir lupa dengan masalah itu. Kalau pun Kak Jaebum memintaa maaf, insiden ciuman itu tidak akan pernah bisa di lupakan begitu saja.

Oh, apa yang harus ku lakukan sekarang? Haruskah aku bilang pada Kak Mark kalau aku tidak jadi bergabung dengan club?

Kulihat Kak Mark tiba-tiba bangkit dari kursinya. "Kalau begitu aku pergi dulu ya." katanya. "Jangan lupa sepulang sekolah nanti kau harus datang ke lapangan, kalau tidak aku yang akan menyeretmu!" ancamnya.
Terlambat sudah, semuanya sudah terlambat. Ahh, bagaimana ini?!"

"Bammie..." lirihku pada Bambam.

"Ada apa dengan wajahmu itu, Kak? Bukankah semuanya sudah beres sekarang?" tanyanya.

Aku menggeleng. "Tidak, Bammie. Aku rasa masalahnya akan semakin rumit." kataku dengan pasrah.
Ya, semuanya akan semakin rumit. Hubunganku dengan Kak Jaebum tidak akan lagi sama.

*** To Be Continue ***