Bak seorang maling, sore itu aku mengendap-endap di sekitar gedung olahraga. Aku tidak berani masuk ke dalam. Yang kulakukan hanyalah mengintip dari jauh kegiatan club di dalam sana.
Im Jaebum. Pria yang menjadi sumber masalahku terlihat sedang berlatih memasukan bola ke dalam ring bersama rekan-rekannya. Ekspresi terlihat begitu sangat serius.
Uhh, haruskah aku masuk ke dalam? Saat ini dimataku Kak Jaebum seperti seekor singa yang kelaparan, ganas dan berbahaya. Mendekatinya sama saja seperti bunuh diri.
Maaf maaf saja deh, aku masih ingin hidup lebih lama.
Apa Kak Mark sudah berbicara dengan Kak Jaebum? Apa pria itu sudah memaafkanku? Ahh, aku tak tahu siapa yang harus meminta maaf pada siapa dalam situasi seperti ini.
Aku mengacak-acak rambutku frustasi. Dari pusing-pusing memikirkannya, lebih baik aku pulang saja deh. Lain kali saja aku datang kemari kalau kepastian hubunganku dengan Kak Jaebum sudah jelas.
Ya, itu lebih baik untuk saat ini.
Aku pun bersiap-siap untuk meninggalkan tempat ini dan bergegas pulang. Namun saat aku baru saja berbalik, ku lihat Kak Mark dan Kak Jackson sedang berjalan menuju ke arahku.
Sialan, aku harus segera bersembunyi sebelum mereka melihatku. Aku panik dan sibuk mencari tempat persembunyian.
Namun semuanya terlambat. Ketika aku hendak bergegas untuk bersembunyi, mereka keburu menyadari keberadaanku.
"YOUNGJAE!"
Kak Jackson memanggilku. Sialan, apa yang harus ku lakukan? Haruskah aku membalas sapaannya, atau berpura-pura tidak mendengar dan melihatnya?
Aku ambil option yang kedua saja deh. Ku putuskan untuk mengabaikan dan berpura-pura tidak mendengarnya.
Aku melangkahkan kaki dengan cepat namun masih terlihat normal. Aku tak mau terlihat terkesan buru-buru menghindari mereka.
Suara Kak Jackson masih terdengar ketika aku sudah hampir keluar dari pelataran gedung olahraga. Aku tak berani menengok ke belakang, aku takut mereka masih mengikutiku.
Tempo langkah kakiku semakin cepat seiring dengan suara Kak Jackson yang semakin meninggi.
Ketika aku sudah hampir keluar dari pelataran, aku merasakan seseorang menarik tasku dari belakang. Sontak saja aku terkejut dan hampir terjerembab ke belakang.
"Kena kau! Mau lari kemana lagi kau, Choi Youngjae!" seru Kak Jackson dengan nafas yang sedikit tersengal-sengal, sepertinya dia habis berlari. Sial, niat sekali dia menangkapku.
Ku lihat Kak Mark berjalan dengan santai di belakangnya. Tak lupa sebuah senyum mengembang di wajahnya.
"Kau mau kemana, Youngjae -ah, mengapa kau terlihat buru-buru sekali? Apa kau tidak ingin masuk dan mampir sebentar?" sudut bibir Kak Mark tertarik seakan menyindirku. Huh, benar-benar menyebalkan.
"Tid- Tidak perlu, Kak. Aku hanya lewat saja. Maaf, aku harus segera pergi." aku mencoba untuk melarikan diri dari situasi ini, namun baru saja aku melangkah Kak Jackson lagi-lagi menarik tasku.
Dan sekarang aku barus menyadari kalau aku sudah tidak bisa lepas dari mereka dengan mudahnya.
"Yak! Siapa bilang kau boleh pergi? Kau harus mempertanggungjawabkan pekerjaan yang sudah kau tinggalkan!" ujar Kak Jackson.
"Tapi aku harus segera pulang..." protesku tak terima.
"Aku tidak menerima penolakan, Choi Youngjae!" tegas Kak Jackson. Aku mendesis kesal.
"Ayo kita masuk. Jinyoung dan para anggota lainnya pasti senang melihatmu..." kata Kak Mark. "... Ahh, dan tentu saja Jaebum juga." lanjutnya.
Dia sengaja! Aku sadar betul kalau Kak Mark sedang menggodaku. Sialan, aku tidak protes lagi ketika Kak Jackson mulai menyeretku dengan paksa.
Aku hanya bisa menatap Kak Mark dengan pandangan memohon. Aku tidak bisa masuk ke dalam sana. Aku tidak bisa bertemu dengan Kak Jaebum.
Ku lihat Kak Mark hanya tersenyum sambil mengangguk kecil, seolah-olah meyakinkanku kalau semuanya akan baik-baik saja. Tapi aku tak mempercayainya begitu saja.
Ahh, andai saja Kak Mark mengetahui tentang insiden ciuman itu, dia pasti akan mengerti tentang ketidaksiapanku bertemu dengan Kak Jaebum saat ini.
.
.
.
Para anggota basket beserta official menghentikan kegiatannya sejenak ketika melihat Kak Jackson yang menyeretku dengan paksa ke dalam gedung olahraga.
Mereka hanya menatapku sekilas, kemudian melanjutkan kegiatannya kembali. Kecuali Im Jaebum yang berdiri di sudut lapangan. Awalnya ku lihat dia tampak terkejut, namun selang beberapa saat kemudian ia mulai menatapku dengan tajam.
Aku hanya bisa mendesis kesal ketika Kak Jackson menarikku kesana kemari layaknya menyeret seekor kucing, menyebalkan.
Dia kemudian membawaku ke hadapan Kak Jinyoung, salah satu sosok yang di anggap mengerikan di dalam club, dalam artian bawel dan galak. Gawat, aku belum mempersiapkan kata-kata alasan untuknya.
"Jinyoungie, lihat siapa yang kubawa!" teriak Kak Jackson dengan semangat.
Kak Jinyoung melirikku dengan tatapan yang sulit ku artikan. Apa dia sedang marah? Apa dia tak senang melihatku? Ataukah ia sedang menyiapkan kata-kata pedas di pikirannya?
"Apa liburannya menyenangkan, Youngjae -ssi?!" nada bicara Kak Jinyoung begitu rendah namun penuh dengan penekanan.
Dia sedang menyindirku dengan halus, namun entah kenapa aku lebih suka kalau dia meneriakan kata-kata pedasnya padaku. Kak Jinyoung yang seperti ini justru malah semakin terasa menyeramkan.
"Errr... Aku - yah, begitulah..." aku gugup, tak tahu harus berkata apa. Tatapan Kak Jinyoung begitu mengintimidasi sehingga membuat nyaliku langsung ciut seketika.
"Baiklah, sana ganti pakaianmu. Banyak pekerjaan yang sudah menantimu." kata Kak Jinyoung.
"Nde, Youngjae, tolong cucikan handuk milikku ya. Jinyoung benar-benar buruk dalam mencuci hand - AWW!" pekik Kak Jackson ketika Kak Jinyoung baru saja menendang tulang keringnya.
Uhh, pasti sakit sekali.
"Apa lagi yang kau tunggu? Cepat sana pergi!" perintah Kak Jinyoung padaku tanpa memperdulikan Kak Jackson yang tengah meringis kesakitan.
Woah, Kak Junior ini benar-benar sesuatu deh.
"Nde, baiklah!" kataku dengan nada tinggi, nyaris berteriak.
Tanpa harus menunggu di suruh 2 kali, aku langsung bergegas pergi sebelum Kak Jinyoung berubah pikiran. Dia tak memarahiku saja sudah merupakan sebuah keajaiban. Lagi pula aku tak mau bernasib sama seperti Kak Jackson huhuhu
.
.
.
Setelah berganti pakaian di toilet, aku menyempatkan diri untuk mencuci muka, yah hitung-hitung menyegarkan diri sebelum bergumul dengan pekerjaannya babuku.
Aku menatap lirih diriku yang berada pada pantulan cermin. Ahh, apa yang kulakukan ini sudah benar tidak ya.
Seharusnya aku tidak usah berhubungan lagi dengan segala hal tentang club basket, terutama Kak Jaebum.
Namun yang terjadi malah sebaliknya. Aku kembali lagi ke club dan membuat posisiku semakin sulit saja.
Kubasuh kembali wajahku dengan air, tak lupa setelahnya langsung kubilas dengan handuk kecil yang kubawa. Akan tetapi ketika aku sedang mengeringkan wajah, tiba-tiba saja pintu toilet terbuka dengan kasar.
Aku tersentak kaget mendengar pintu yang terbuka dengan kasar, nyaris di dobrak malah. Dan keterkejutanku belum berakhir ketika melihat sosok sang pelaku pendobrak pintu.
"Kak Jaebum?"
Ya, sosok yang sekarang sedang menatapku marah adalah Kak Jaebum. Tanpa banyak bicara dia langsung menarikku ke dalam salah satu bilik yang kosong.
Dia mendorongku masuk dengan paksa sehingga membuat kepalaku terkatuk pada dinding toilet. Setelah memastikan pintu bilik terkunci, Kak Jaebum kemudian mencengkeram kerah bajuku.
"Apa yang kau lakukan di sini? Kau bilang kau akan keluar dan tidak pernah kembali ke club?!" desis Kak Jaebum dengan nada rendah. Aku tahu ia sedang mencoba untuk menahan amarahnya.
"Ak - Aku hanya... Kak Mark yang menyuruhku kembali..." jawabku. Sejujurnya aku takut dan gelisah. Aku terjebak dengan Kak Jaebum di sebuah bilik toilet yang sempit, dan aku tak tahu apa yang akan di lakukan oleh pria yang sedang marah di depanku ini.
Apakah dia akan memukulku hingga babak belur? Aku tidak tahu, namun kemungkinan itu bisa saja terjadi. Ahh, habislah aku sekarang.
"Aku sudah mendengar semuanya dari Mark. Kau pikir kau bisa membodohiku seperti kau membodohi Mark, hah?!" seru Kak Jaebum.
Jadi, Kak Mark sudah menceritakan semuanya pada Kak Jaebum. Dan setelah semua alasan yang kuberikan padanya, dia masih tetap tidak mempercayai dan menuduhku sebagai orang yang tidak benar?!
Woah, Im Jaebum benar-benar sesuatu sekali. Aku bahkan sampai kehilangan kata-kata untuk mengungkapkan kekesalanku. Ya, aku sangat kesal, rasanya darah di tubuhku langsung mendidih hingga ke kepala.
"Kakak boleh saja tidak mempercayai kata-kataku, tapi kenapa Kakak tidak mau menerima permintaan maafku? Apa aku segitu hinanya di mata Kakak?" balasku. Ku tatap mata sipitnya dengan sengit.
"Kau itu berbahaya, Youngjae -ssi. Aku tidak bisa mempercayai orang sepertimu begitu saja. Aku tidak mau tertipu oleh wajah polosmu itu."
"Terserah Kakak mau menganggapku orang seperti apa, aku sudah tak peduli. Aku sudah meminta maaf, jadi terserah Kakak mau menerimanya atau tidak dan aku akan tetap di dalam club dengan atau tanpa persetujuan Kakak." ungkapku dengan nada sengit.
"Kau tak takut aku akan menyebarkan kejadian malam itu pada semua orang? Apa kau siap menerima semua resikonya?" Kak Jaebum mengancamku.
Secara perlahan aku melepaskan tangan Kak Jaebum yang mencengkeram leherku. "Aku tidak takut karena aku merasa benar. Lagian siapa juga yang peduli dengan apa yang kulakukan. Aku ini hanyalah siswa underdog, bukan siswa populer seperti Kakak." ujarku.
Yah, aku sudah tak peduli dengan imageku di depan siswa lain. Mungkin awalnya mereka akan mencemooh dan memandangku dengan sebelah mata. Tapi siapalah aku ini, hanya seseorang yang keberadaannya tidak penting.
Palingan dalam waktu satu minggu mereka juga pasti lupa denganku. Atau mungkin tak akan sampai seminggu sih.
"Jadi silakan kalau Kakak mau menyebarkan kejadian itu pada semua orang. Maaf kalau aku sudah menganggu Kakak." Aku menghela nafas. "Dan aku juga minta maaf karena tempo hari aku sudah menciu -"
"Jangan pernah membicarakan kejadian itu lagi!" Kak Jaebum membekap mulutku dengan tangannya. "Kalau sampai kau buka mulut tentang kejadian itu, kau tak akan pernah bisa lari dariku, Choi Youngjae!" ancamnya.
Aku langsung menganggukkan kepalaku dengan cepat sebagai tanda persetujuanku.
"Tokk...Tokk... Tokk..."
Aku dan Kak Jaebum tersentak kaget ketika mendengar seseorang mengetuk pintu bilik kami. Masih dengan mulut di bekap oleh Kak Jaebum, aku merasa semakin sulit untuk bernafas karena bekapan Kak Jaebum semakin menyesakan.
Dia bahkan menghimpit tubuhku dan memberi kode agar aku tidak mengeluarkan bunyi apapun. Tapi kenapa harus menghimpitku seperti ini sih, rasanya jadi aneh dan canggung.
Kami diam selama beberapa saat untuk memastikan siapa yang mengetuk pintu bilik kami.
Dalam posisi seperti ini aku bisa melihat setiap inchi lekukan wajah Kak Jaebum yang masih dalam keadaan waspada itu. Harus ku akui kalau pria bermarga IM ini memang sangat tampan.
Mata sipitnya terlihat indah ketika tersenyum, namun saat sedang serius tatapannya begitu kharismatik. Kemudian bibirnya yang ahh - aku bahkan sudah merasakan kenyalnya bibir itu. Aku penasaran sudah berapa banyak orang yang mencicipi bibirnya itu.
Apakah aku yang pertama? Err, rasanya tak mungkin mengingat Kak Jaebum adalah orang populer, setidaknya ia pasti sudah pernah berpacaran beberapa kali, tak sepertiku yang jomblo sejak lahir. T.T
"Kalian mau sampai kapan berada di dalam sana? Kalian seperti sepasang kekasih yang sedang berbuat asusila loh."
Aku dan Kak Jaebum saling berpandangan, seolah satu pikiran, kami sudah tahu siapa pemilik suara itu.
Kak Jaebum langsung melepaskan bekapannya padaku dengan kasar. Ia kemudian membuka kunci bilik kami.
"Hallo!" seorang pemuda melambaikan tangannya sambil tersenyum ketika pintu bilik kami terbuka.
Sosok itu adalah Kak Mark.
Kak Jaebum hanya mendesis kesal ketika melihat rekan seclubnya itu. Tanpa banyak bicara ia langsung pergi begitu saja, meninggalkan kami berdua.
"Kau baik-baik saja?" tanya Kak Mark ketika Kak Jaebum sudah pergi.
Aku tidak menjawab pertanyaanku. Aku langsung terduduk di atas closet sambil mengusap wajahku, frustasi. Aku dan Kak Jaebum baru saja mendeklarasikan sebuah perang, dan mau tak mau aku harus menghadapinya.
Tapi bagaimana caranya? Jangankan untuk melawannya, untuk melindungi diriku saja aku tak mampu. Mulai nanti hidupku tak akan lagi sama. Aku akui kalau aku sudah bermain dengan orang yang salah, mengingat apa yang sudah ku katakan pada Kak Jaebum hanyalah berdasarkan emosi sesaat.
*** To be Continue ***
