CHAPTER 6 : In The Same Place
Hari ini aku dan Bambam berencana pergi ke bioskop untuk menonton film horror terbaru, The Conjuring 2. Sebenarnya kami sudah merencanakannya sejak seminggu yang lalu, namun sayangnya aku terlalu sibuk dengan kegiatan club sehingga aku selalu menunda-nundanya.
Beruntung hari ini club basket tidak mempunyai jadwal latihan, mengingat tak ada kompetisi akhir-akhir ini, mereka jadi lebih sedikit bersantai. Lebih tepatnya aku yang menjadi lebih santai karena tidak perlu membereskan bola basket atau mencuci handuk anggota club.
Moment ini pun tak pelak langsung kugunakan untuk hangout bareng Bambam. Kasihan dia, semenjak aku bergabung dengan club, aku jadi jarang bermain dengannya. Jangan sampai dia mencari sahabat lain karena merasa di abaikan olehku.
Saat ini aku dan Bambam sudah berada di salah satu pusat perbelanjaan. Kami masih punya waktu 2.5 jam sebelum filmnya di mulai, jadi kami memutuskan untuk jalan-jalan atau hanya untuk sekedar mengisi perut.
"Kak, kita makan Sushi yuk?" ajak Bambam ketika kami melewati sebuah restoran Jepang.
Aku menggeleng. "Jangan Sushi, Bam, aku sedang tidak membawa banyak uang. Yah, kecuali kalau kamu yang mau bayari Kakak." kataku sambil terkekeh.
Kulihat Bambam melirikku dengan sinis sambil mendengus kesal. "Yak! Dimana-dimana juga yang lebih tua bayarin yang lebih muda!" serunya.
"Males banget aku harus bayarin kamu, mending uangnya buat main game online deh."
"Huh, dasar pelit!" Aku tersenyum melihat adik kelasku yang sedang kesal itu. Aku tidak pelit, tapi aku juga tidak sedang bercanda.
Bambam itu lebih kaya dariku, uang sakunya seminggu saja setara dengan uang sakuku selama sebulan. Rugi banget kalau aku harus mentraktirnya. Hidup memang kadang terasa tidak adil ya.
"Kalau begitu kau ingin makan apa, Kak? Kalau Sushi aku tidak bisa bayarin Kakak, tapi kalau yang lain aku masih mampulah." ujar Bambam.
"Terserah kau sajalah, Bam, kan kau yang mau mentraktirku hehehe"
"Baiklah, kita makan Jjajangmyun saja."
"Yak! Kenapa harus Jjajangmyun sih?" protesku.
"Kenapa? Katanya terserah aku." Bambam menatapku dengan datar.
"Tapi tidak Jjajangmyun juga kali, Bam. Apa gitu kek, steak tenderloin atau Daging sapi kek."
"Kak Jae, kau mau mati, hah?! Itu bahkan lebih mahal dari pada Sushi!"
Aku tersenyum lebar menanggapinya. Kami kemudian berjalan-jalan mencari tempat makan yang sesuai dengan selera dan isi dompet kami.
Selama di jalan kami berdebat ingin makan ini itu, namun tak ada kesepakatan yang terjadi. Hingga pada akhirnya kami melewati sebuah restoran Italia.
Kami memutuskan untuk makan pasta tanpa ada protes satu sama lain. Karena selain sudah lapar, waktu yang tersisa pun sudah tak banyak lagi.
Seorang pelayan wanita menyambut kami ketika aku dan Bambam baru saja masuk ke dalam restoran. Pelayan wanita berseragam rapih itu menyapa kami dengan ramah.
"Selamat siang, Kakak. Meja untuk berapa orang?"
"Untuk 2 orang, kalau bisa yang no smoking area." jawab Bambam. Dia memang tidak pernah tahan berada dalam lingkungan yang penuh asap rokok, aku juga sih. Tapi aku mah masa bodo aja.
Pelayan wanita itu kemudian mengantar kami ke salah satu meja yang letaknya berada di sudut restoran. Meja-meja di sana tertata rapih, hanya beberapa meja saja yang terisi di area no smoking ini.
Aku dan Bambam baru saja hendak mendudukkan bokong di atas kursi ketika sebuah suara menginterupsi.
"Bambam?"
Kami menoleh ke arah suara tersebut dan sedikit kaget ketika melihat siapa pemilik suara itu.
"Kak Jackson? Apa yang Kakak lakukan di sini?" tanyaku, sementara Bambam hanya mendengus kesal melihat Kakak kelas 'kesayangannya' itu hehehe
"Kakak lagi nongkrong dengan teman-teman. Kalian sendiri sedang apa disini?" Kak Jackson balik bertanya.
"Tentu saja mau makan, masa iya mau berenang!" sambar Bambam dengan ketus.
"Uhh, ayangku galak amat sih, jadi gemes." Kak Jackson berusaha mencubit pipi Bambam, namun pria Thailand itu langsung menepisnya dengan kasar.
Aku hanya bisa memutar kedua bola mataku dengan malas melihat adegan lovey dovey ke dua orang itu. Meskipun sering berkata kasar, aku sih yakin Bambam ada rasa sama Kak Jackson. Hanya saja dia terlalu gengsi untuk mengakuinya.
"By the way, kalian gabung sama Kakak yuk!" ajak Kak Jackson pada kami.
Aku dan Bambam saling pandang satu sama lain. Tanpa harus berpikir 2 kali, kami sudah tahu jawabannya, tak akan.
"Maaf Kak, tapi kami -"
"Aku tahu kalian akan menolak. Maka dari itu aku terpaksa melakukan ini!" sebelum sadar dengan apa yang sedang terjadi, Kak Jackson sudah berlari menuju tangga.
"YAK! PONSELNYA!" pekik Bambam.
Ah, rupanya Kak Jackson mengambil ponsel Bambam yang di letakan di atas meja. Tunggu, itu kan ponselku!
"KAK JACKSON SIALAN, KEMBALIKAN PONSELKU!" teriakku, namun aku langsung buru-buru menutup mulut karena sudah menjadi perhatian beberapa orang pengunjung restauran.
"Kalau kau mau ponselmu kembali, ambil saja di atas!" sahut Kak Jackson yang langsung pergi menuju lantai 2 dengan tawa yang menggelegar.
"Orang itu..." geramku.
"Maaf, Kak, tadinya aku mau mengamankan ponselmu, tapi aku kalah cepat dari Kak Jakcson." ujar Bambam menyesal.
Aku menggeleng pelan, "Tak apa-apa, Bam. Ayo kita ke atas saja." ajakku padanya.
Setelah memberitahu pelayan kalau kami mau pindah meja, aku dan Bambam pun kemudian berjalan menuju tangga untuk sampai di lantai 2.
Sesampainya di lantai 2, aku dan Bambam langsung mengedarkan pandangan mencari sosok Kak Jackson. Di lantai 2 ini suasananya tak berbeda jauh dengan di bawah.
Suasanya yang cozy dengan interior khas negara Italia. Jika di bandingkan dengan di bawah, di lantai ini meja-mejanya sudah banyak yang terisi. Pantas saja di bawah sepi, ternyata pada kumpul di sini toh.
Sudut mataku kemudian menangkap sosok Kak Jackson yang berada di salah satu meja dekat dengan jendela. Dia terlihat sedang tertawa-tawa dengan temannya sambil melempar-lempar ponselku di tangannya.
"What the -" kesalku. Duh, kalau ponselku jatuh dan rusak gimana? Bisa di lempar remote Tv aku sama ibuku.
Dengan langkah menghentak, aku dan Bambam buru-buru menghampiri meja Kak Jackson.
"YAK! JANGAN LEMPAR-LEMPAR PONSELKU, KAK, KALAU JATUH GIMANA, HAH?!" aku langsung menyambar ponselku dari Kak Jackson yang tampak terkejut dengan kedatanganku.
"Maaf..." Kak Jackson membuat tanda peace dengan tangannya sambil nyengir kuda.
Pandanganku kemudian beralih pada teman-temannya Kak Jackson yang kini tengan memandangiku dengan bingung. Aku sangat terkejut melihat orang-orang yang cukup familiar itu, rasanya aku ingin menghilang di tengah gulungan ombak saja.
Bagaimana aku tidak terkejut coba, ternyata teman-teman yang di maksud oleh Kak Jackson adalah Kak Mark, Kak Jinyoung, dan juga Kak Jaebum. Uhh, kenapa harus ada orang itu juga sih.
"Oh, hallo, Youngjae." sapa Kak Mark dengan senyum khasnya, sementara aku hanya bisa tersenyum canggung.
Ingin rasanya aku mengajak Bambam pergi dari tempat ini, kalau saja Kak Jackson tidak segera menarik bocah Thailand itu agar duduk di sampingnya.
"Duduklah." Kata Kak Mark. Aku duduk di sebelahnya, karena hanya itu kursi yang tersisa.
Biar sedikit kujelaskan posisi duduk kami. Meja kami terdiri 2 sofa memanjang yang saling berhadapan. Sofa pertama di isi oleh Kak Jinyoung, Kak Mark, dan aku. Sementara sofa satunya di isi oleh Bambam, Kak Jackson, dan juga Kak Jaebum.
Sialnya, kenapa aku harus duduk berhadapan dengan pria sipit yang memandangku dengan dingin dan acuh itu? Errr, rasanya begitu menyesakan sekali.
"Teman-teman, kenalkan ini Bambam, calon pacarku." ujar Kak Jackson memperkenalkan Bambam dengan bangga yang langsung di hadiahi sikutan mau dari Bambam.
"Perkenalkan namaku Khunphinol Bhuwakul, tapi kalian bisa memanggilku Bambam. Aku temannya Kak Youngjae dan tak ada hubungannya dengan pria di sebelahku ini." ujar Bambam memperkenalkan diri.
"Kau bukan orang Korea kan?" tanya Kak Mark.
Kulihat Bambam mengangguk kecil. "Aku berasal dari Thailand, tapi sudah lama tinggal di Korea, Kak." jawabnya.
"Ah, aku pernah melihatmu saat masa orientasi dulu." kata Kak Jinyoung, sementara Bambam mengiyakan perkataannya.
Selain mengurus club basket, Kak Jinyoung memang sering membantu kegiatan anak osis. Aku penasaran seberapa pintar orang ini hingga bisa bergaul dengan orang-orang penting di sekolah.
"Ngomong-ngomong apa yang sedang kalian lakukan di sekitar sini, Jae?"
Aku tersentak kaget ketika Kak Jinyoung tiba-tiba bertanya kepadaku.
"Eeeh, itu... kami mau menonton film." kataku dengan gugup.
Kak Jinyoung tersenyum. "Jangan gugup seperti itu, Jae. Kalau di luar club kau bisa bersikap santai kepadaku." katanya.
Aku tersenyum sambil menganggukan kepala dengan canggung. Meskipun di bilang begitu, tetap saja rasanya sulit untuk bersikap santai seperti kata Kak Jinyoung. Aura mereka itu seolah-olah menegaskan kalau kami berada di dunia yang berbeda.
"Kalian mau menonton film apa? Kebetulan kami juga mau menonton film." tanya Kak Mark.
"Kami mau menonton film The Conjuring 2, Kak." jawabku.
"Wah, kebetulan sekali kami juga mau menonton film itu. Kalian belum beli tiketnya kan? Bagaimana kalau kita menonton bersama-sama." seru Kak Jackson dengan bersemangat.
"Aku rasa itu bukan ide yang buruk. Benarkan Mark?" kata Kak Jinyoung, sementara Kak Mark hanya mengangguk setuju.
Sudut mataku melihat Kak Jaebum hendak protes, namun dia urungkan.
Ya, dia pasti keberatan dengan keberadaanku, tapi siapa yang peduli. Meskipun aku masih segan dengannya, tapi aku sudah memutuskan untuk tidak ambil pusing dengan pria itu.
.
.
.
Makan siang kami berakhir tanpa ada sesuatu yang berarti. Kami hanya mengobrol-ngobrol ringan sambil sesekali menertawai jokes Kak Jackson yang kadang garing.
Meskipun begitu aku harus berterima kasih padanya, karena kalau tidak ada dia entah bagaimana rasanya suasana di antara kami, karena sejujurnya hanya Kak Jacksonlah yang banyak bicara untuk mencairkan suasana yang kadang terasa canggung.
Ada suatu moment dimana aku makan terlalu bersemangat hingga tersedak. Kak Mark yang berada di sampingku langsung memberikanku minum dengan khawatir.
Belum cukup sampai di situ, Kak Mark juga menyeka saos yang berada di sudut bibirku dengan jarinya.
"Youngjae, kau lucu sekali, makanmu berantakan seperti anak kecil." kata Kak Mark saat itu sambil mengusap kepalaku.
Dan sejak kejadian itu, atmosphire di tempat kami semakin terasa canggung. Kak Jinyoung yang menjadi pendiam, Kak Jaebum yang menatapku semakin dingin, serta jokes Kak Jackson yang kadang membuat suasana semakin terasa canggung.
Mungkin hanya aku dan Bambam saja yang tidak tahu apa-apa dengan situasi ini.
Saat ini aku sudah berada di dalam studio untuk menonton film The Conjuring 2. Seperti biasa Bambam sudah di tarik oleh Kak Jackson untuk duduk di sebelahnya.
Urutan duduk kami saat ini adalah, Kak Jinyoung - Kak Mark - Aku - Kak Jaebum - Kak Jackson - dan kemudian Bambam. Aku hanya bisa pasrah ketika aku harus dekat-dekat lagi dengan Kak Jaebum.
Selama film di putar, aku tidak bisa secara bebas berekspresi. Aku harus jaga image di depan kedua Kakak kelas yang berada di samping kiri kananku.
Padahal setiap hantu Valak muncul, ingin rasanya aku berteriak dan bersembunyi di balik tasku. Tapi aku tidak bisa melakukannya karena gengsi.
Di saat seperti ini kenapa aku harus berpisah dengan Bambam sih, huh. Sesekali aku menutup mataku ketika adegan-adegan horror terpampang secara nyata di depan saya.
"Kau bisa memegang tanganku kalau takut." aku menoleh ke arah Kak Mark.
"A- Aku tidak takut kok..." jawabku gugup, namun Kak Mark tidak mendengarku, ia tetap bersikeras untuk memegang tanganku.
Aku hendak melepaskan pegangannya, namun kemunculan Valak yang tiba-tiba malah membuatku memegang tangan Kak Mark semakin erat.
Ku dengar Kak Mark terkekeh pelan. Sial, apa dia sedang menertawaiku, huh?!
"Maaf, Kak, gak enak di lihat orang." aku menepis tangan Kak Mark secara halus, jemari kami yang tadinya saling bertautan pun terlepas.
"Kau yakin? Disini gelap, tak akan ada yang melihatnya kok."
Aku mengangguk pelan, "Ya, terima kasih atas tawarannya, Kak." kataku.
Kami kemudian kembali fokus pada film di depan sana. Uhh, kalau bukan karena penasaran tentang Valak yang orang ramai bicarakan, aku tak akan pernah menonton film yang hanya membuat jantungku berolahraga ini.
Filmnya sih tak terlalu menyeramkan. Ibuku malah lebih mengerikan dari si Valak-Valak itu. Hanya saja adegan-adegan dan efek suaranya yang membuatku sedikit terkejut.
Terdengar seperti sebuah alasan? Oke akui aku memang takut dengan sosok hantu biarawan tersebut.
Tapi bukan hanya aku saja yang ketakutan, seisi studio juga menjerit ketika adegan-adegan horror atau si Valak itu muncul.
Terkecuali seorang Im Jaebum mungkin. Kulihat dia menonton dengan ekspresi malas dan poker face. Dia ini manusia atau bukan sih.
"Apa lihat-lihat?!" ketusnya.
Aku kaget karena dia menyadari sedang kuperhatikan. Buru-buru aku langsung mengalihkan pandangan ke depan.
Entah sudah berapa lama film ini di putar, rasanya lama sekali. Adegan demi adegan sudah terlewat, dan plot twistnya sudah hampir klimaks.
Namun semuanya tidak sesederhana itu ketika dalam keadaan hening tiba-tiba sosok Valak muncul, membuat semua orang serentak menjerit, tak terkecuali diriku.
"KYAAAA!"
Aku butuh tempat untuk bersembunyi, apa pun itu. Dan tanpa sadar aku langsung memeluk pria yang berada di sampingku dengan erat.
Kubenamkan kepalaku pada dadanya, sementara kedua tanganku memegang erat bajunya. Aku tak terlalu takut dan kaget hingga tak berani untuk membuka mata hanya untuk sekedar melihat si Valaknya sudah pergi atau belum.
Harum parfum yang menusuk hidungku sangat memabukan dan maskulin, sehingga rasanya membuatku tak ingin beranjak.
Namun aku buru-buru menepis pikiranku ketika baru menyadari siapa pria yang sedang kupeluk ini.
IM JAEBUM.
SIALAN.
"YAK! KAU INGIN MATI, HAH?!" seru Kak Jaebum, ia berusaha melepaskanku dari pelukannya.
Tentu saja aku tidak mau. Aku malah memeluknya semakin erat. Bukan kenapa-kenapa sih, tapi aku terlalu tengsin untuk melihat wajahnya. Lagi pula aku tak tahu harus bagaimana menghadapi kemarahan Kak Jaebum.
"YAK! CHOI YOUNGJAE!" Kak Jaebum rupanya sedang tak bercanda, dengan kasar ia menarikku hingga kepalaku terbentur pada kursi depan.
Tanpa berani menatap Kak Jaebum, aku langsung mengambil tasku dan buru-buru pergi meninggalkan kursiku. Aku tak peduli ketika aku harus menginjak kaki para penonton yang kulewati, atau bahkan tasku yang terayun tanpa terarah sehingga memukul setiap orang yang kulewati.
Beberapa teriakan kesal terdengar memakiku, namun aku tak peduli. Yang jelas aku harus segera keluar dari tempat itu, meskipun aku harus jatuh bangun saat berlari melewati tangga yang gelap.
Im Jaebum. Dari semua orang kenapa aku harus memeluknya sih, ah memalukan sekali. Besok pasti anak-anak lain akan mengejekku, terutama Bambam dan Kak Jackson.
*** To be Continue ***
Maaf ya kalau updatenya pendek-pendek, soalnya aku sibuk banget. Ini aja aku sempetin buat update meskipun pendek, biar kalian gak lupa dengan ceritanya hehehe
Oh ya, rencananya aku bakalan pake POV Youngjae sampai akhir. Sifat Youngjae ini agak labil dan gampang terpengaruh sama orang lain, meskipun begitu tetap saja dia mengikuti kata hatinya kalau misalnya yang ia ikuti itu salah atau tidak.
Balasan Review :
Q-ara Jung : Sebenernya FF ini lebih ke 2Jae sih, tapi memang untuk saat ini bakal di banyakin moment Markjaenya. Kan tahu sendiri gimana kelakuan MarkJae real akhir-akhir ini hehehe. Spesial MarkJaenya nanti deh kalau kepikiran :p
markgyeombi : Untuk sifat dan alasan kenapa Jaebum berlaku seperti itu pada Youngjae memang masih misterius. berhubung aku pakai POV Youngjae yang polos dan gak peka, jadi ya sifat-sifat Youngjae itu masih belum ketebak hhe. gak bisa janji update 2 kali seminggu, tapi kalau agak panjang nantilah di usahakan.
Maaf kalau gak bisa balas semua review kalian, tapi aku baca semua reviewnya dan sangat berterima kasih. jujur tiap dapet notif review meskipun cuman satu rasanya seneng banget, apalagi kalau reviewnya panjang dan detail. Seperti yang kubilang di awal aku sih gak maksa kalian buat review, kalau jadi Siders palingan nanti ku kirim Valak ke rumah kalian hehehe
Sekali lagi terima kasih atas responnya terhadap cerita yang tak seberapa ini. Maaf gak bisa sebutin satu-satu. Salam Cipok basah aja buat kalian.
PS: Ada yang manggil aku eonnie, padahal aku namja T.T
