Update singkat aja ya :p
Aku tak pernah mengerti kenapa Kak Jaebum begitu membenciku. Sikapnya padaku begitu beda dengan sikapnya pada orang lain.
Kak Jaebum yang di kenal ramah dan murah senyum begitu berbeda dengan Kak Jaebum yang ku kenal.
Apa minum alkohol adalah sebuah kejahatan luar biasa sehingga dia begitu marah padaku?! Kalau di pikir-pikir alasannya itu konyol sekali.
Memangnya kalau aku minum alkohol kenapa? Dia hanyalah ketua club, bukan keluarga atau kekasihku. Dia tak punya hak untuk mencampuri urusanku.
Jadi menurutku kemarahannya padaku itu sungguh tak beralasan. Mungkin suatu saat aku harus meluruskan semua ini.
Hubunganku dengan Kak Jaebum semakin lama malah semakin canggung, terlebih setelah insiden ciuman dan pelukan di bioskop waktu itu.
Untungnya anak-anak yang lain tidak ada yang membahas insiden itu, kecuali Bambam yang sesekali menggodaku.
"Ciee... Yang abis peluk-pelukkan di bioskop." ujar Bambam menggodaku ketika kami sedang makan siang di kantin sekolah. "Aku pikir Kakak ada hubungan dengan Kak Mark, tapi ternyata malah dengan Kak Jaebum."
"Omong kosong, Aku tidak punya hubungan apa-apa dengannya, Bam!" protesku.
"Iyah, aku percaya, aku percaya," balas Bambam dengan nada menjengkelkan.
"Bisa gak sih kamu gak membahas kejadian itu lagi? Aku benar-benar ingin melupakannya tahu!" pintaku padanya.
Bambam menggeleng, "Gak bisa, Kak. Justru hubungan kalian ini sangat menarik untuk di bahas. Berawal dari benci dan lama-lama berubah jadi cinta," katanya.
"Sudah kubilang hubungan kami tidak seperti itu. Kau tahu sendiri kan segimana bencinya Kak Jaebum padaku."
"Lalu bagaimana denganmu, Kakak tidak benar-benar membencinya kan?"
Kalau mau jujur sih, di luar permasalahan yang sedang kami jalanin, tidak ada alasan bagiku untuk membenci pria itu. Kak Jaebum tampan, pintar, berasal dari keluarga baik-baik, serta bertanggung jawab dengan pekerjaannya.
Boleh di bilang Kak Jaebum itu tipe seme idaman banget. Tapi masalahnya Kak Jaebum yang ku kenal itu jauh dari kesan seme idaman.
"Yah, kalau saja sikapnya tidak semenyebalkan itu, aku tidak punya alasan untuk membencinya." kataku.
"Kau harus bicara padanya, Kak. Kalian harus segera berbaikan." ujar Bambam dengan entengnya. Andai ia tahu semuanya tidak semudah itu.
"Kau pikir aku tidak pernah berbicara dengannya? Ia bahkan tidak mempercayai sedikit pun kata-kataku, jadi buat apa aku bicara lagi dengannya!" ungkapku dengan nada getir.
"Kau hanya perlu waktu dan moment yang tepat agar dia bisa mengerti keadaanmu, Kak."
"Lalu kapan waktu dan moment yang tepat itu akan datang?" aku balik bertanya.
Bambam mengangkat bahunya. "Mana aku tahu, hanya kalian dan Tuhan yang tahu jawabannya." katanya.
Ake mendesis kesal mendengar jawaban Bambam yang terkesan menganggap remeh persoalan ini.
"Tenang saja, Kak, cepat atau lambat moment itu pasti akan segera datang."
"Aku harap juga begitu, Bam. Setiap kami bertemu, tatapannya yang seolah-olah ingin melubangi kepalaku itu selalu membuatku risih." ungkapku.
Yah, aku masih berharap suatu saat hubungan kami berjalan ke arah yang baik. Setidaknya hingga semua kesalahpahaman ini cepat selesai.
.
.
.
Sore itu aku hanya duduk-duduk manja di pinggir lapangan sambil melihat para pemain latihan. Kedua bola mataku bergerak mengikuti setiap pemain yang memegang bola.
Hari ini pekerjaanku terasa lebih mudah karena aku mengerjakannya sesuai dengan urutan yang benar, sehingga pekerjaanku menjadi lebih mudah dan cepat selesai. Ah, seharusnya aku melakukan semua ini sejak awal.
Sesekali aku berteriak memberikan semangat atau bertepuk tangan ketika siapa pun berhasil memasukan bola ke dalam ring basket.
"Nice shot, Kak Sungjin!"
"Kak Mark semangat!"
"Kak Jackson, larimu lambat sekali hahaha"
Aku menertawakan permainan Kak Jackson yang bisa di bilang payah hari ini. Jangankan untuk menambah angka, untuk melewati Kak Sungjin dan Kak Mark saja dia kewalahan.
Kulihat dia mengacungkan jari tengah ke arahku dengan berwajah masam. Tentu saja aku semakin tertawa terbahak-bahak melihatnya.
Namun tawaku tak bertahan lama ketika aku menyadari sebuah bola sedang melayang dengan kecepatan tinggi ke arahku.
Aku tentu saja mencoba untuk menghindar, akan tetapi semuanya sudah terlambat.
Bola basket itu menghantam tepat ke arah wajahku dengan bunyi gedebug yang sangat keras. Sontak saja aku langsung tersungkur ke belakang.
"BUGH!"
Kepalaku langsung terasa puyeng, mata berkunang-kunang, sementara telingaku berdengung kencang.
Rasanya wajahku seperti baru saja di hantam sebuah balok kayu dengan keras. Sakit tapi tidak berdarah. Ah, ralat, sepertinya hidungku mimisan.
Awalnya wajah dan hidungku terasa kebas dan mati rasa, tapi semakin lama rasanya malah semakin sakit. Dan itu benar-benar tak tertahankan.
"AKH!" jeritku. Aku berguling-guling di lantai sembari memegang hidungku yang teramat sakit.
Samar-samar aku mendengar dan melihat orang-orang mulai mengerubungiku.
"Youngjae, kau baik-baik saja?!" itu suara Kak Mark yang terdengar khawatir. Ia mencoba untuk membantuku duduk.
"Hidungku... Ssakittt..." lirihku.
"Ayo kita obati lukamu di UKS!" ajak Kak Mark.
Aku hanya bisa pasrah ketika Kak Mark mulai mencoba membantuku berdiri.
"Dan kau, Jaebum. Kita harus bicara nanti!" seru Kak Mark dengan nada tinggi, sebelum akhirnya ia memapahku pergi.
Apa yang sebenarnya sedang terjadi? Kenapa Kak Mark terdengar marah kepada Kak Jaebum?
Apa mungkin Kak Jaebum yang sengaja melemparkan bola ke arahku sehingga membuat Kak Mark marah? Entahlah, tapi kalau benar sungguh sangat keterlaluan pria itu.
Aku mengedarkan pandanganku mencari sosok Kak Jaebum, namun aku tak bisa menemukannya. Kepalaku masih terlalu pusing untuk mencarinya.
Singkat cerita aku sudah berada di UKS. Kak Mark sudah memberikan pertolongan pertama seperti kompresan es batu serta obat penghilang rasa nyeri kepadaku.
Selama itu kami nyaris tidak banyak bicara. Melihat ekspresi wajahnya yang serius membuatku enggan bertanya alasan dia marah pada Kak Jaebum tadi.
Aku membaringkan tubuhku di atas ranjang, meskipun begitu aku tidak tidur melainkan hanya sekedar memejamkan mata.
Selama aku memejamkan mata, aku masih bisa merasakan kehadiran Kak Mark di sampingku. Ia dia nyaris tanpa bersuara.
"Apa dia baik-baik saja?"
Aku mendengar suara seseorang, Kak Jinyoung.
"Yeah, dia baik-baik saja. Dia sedang tidur sekarang." balas Kak Mark.
"Sebenarnya apa yang terjadi? Aku dengar dari anak-anak kalau Youngjae kena hantaman bola basket." Kak Jinyoung memang sedang tidak ada di lapangan ketika kejadian itu terjadi, jadi wajar kalau dia baru tahu sekarang.
"Ini semua gara-gara Jaebum!" geram Kak Mark.
"Jaebum?" Kak Jinyoung bergumam.
Aku mencoba untuk bernafas sewajarnya, berusaha berpura-pura seperti seseorang yang sedang tertidur, namun daun telingaku masih awas mendengar percakapan mereka berdua.
"Dia bisa menangkap bola itu, tapi dia malah mengabaikannya sehingga bola itu mengenai Youngjae. Dia sengaja melakukannya." kata Kak Mark. "Aku tahu dia masih tidak suka dengan Youngjae, tapi caranya ini sungguh sangat kekanak-kanakan sekali, cih!" desisnya.
"Jaebum tidak mungkin melakukannya, kau tahu sendiri dia itu orang yang seperti apa. Lagi pula kenapa Jaebum tidak suka dengan Youngjae?"
"Kau tidak perlu tahu! Dan ya, aku sangat yakin dia memang sengaja!" balas Kak Mark.
Kak Jinyoung mendesis. "Sebenarnya apa yang terjadi dengan kalian semua? Kenapa hanya aku yang tidak tahu apa pun?!" kesalnya.
"Karena ini bukan urusanmu, Jinyoung. Kau harus berhenti mengurusi urusan orang lain!" aku belum pernah melihat sisi Kak Mark yang penuh amarah seperti ini. Kak Mark yang ku kenal adalah Kak Mark yang ramah dan murah senyum.
Aku kembali mendengarkan percakapan sengit yang menurutku sudah melewati jalur. Aku sedikit tidak mengerti tentang percakapan ini.
"Kenapa sih kau begitu sensitif kalau menyangkut tentang Jaebum?!"
"Dan kenapa kau selalu membelanya, eoh?!" Kak Mark balik bertanya.
"Itu karena kau selalu berpikiran negatif tentang kami!" pekik Kak Jinyoung nyaris berteriak.
"Aku tak akan berpikiran negatif kalau sikap kalian tidak mencurigakan. Ah, sudahlah tidak perlu di bahas lagi, toh kita sudah putus!" kata Kak Mark.
"Kita belum putus, Mark. Kau saja yang memutuskannya secara sepihak. Kau sendiri tahu aku sangat mencintaimu, begitu juga juga sebaliknya." ungkap Kak Jinyoung.
Kak Mark berdecak meremehkan. "Lalu bagaimana dengan Jaebum? Dia tak akan menyukaimu kalau kau tak memberinya harapan!" ujarnya. "Sekarang aku bertanya padamu, kau pilih aku atau Jaebum?"
"Dia sahabatku, Mark. Bagaimana mungkin kau menyuruhku memilih satu di antara kalian."
"Kalau begitu jawabannya sudah jelas, kan?" Kata Kak Mark dengan nada lemah.
"Apanya yang sudah jelas?! Kita masih harus bicara 4 mata, tapi tidak di sini. Kita bisa mengganggu Youngjae. Ikut aku!" perintah Kak Jinyoung dengan tegas.
Wah... wah... ternyata Kak Mark dan Kak Jinyoung itu berpacaran, namun hubungan mereka renggang karena Kak Jaebum juga menyukai Kak Jinyoung.
Sungguh aku jadi tak enak mendengar percakapan yang tidak seharusnya ku ketahui ini.
*** To be Continue ***
