CHAPTER 8 : The Last Train

Jam sudah menunjukan pukul 22.45 ketika aku sampai di station subway. 22.45 merupakan waktu yang cukup larut bagi seseorang yang masih mengenakan seragam SMA sepertiku berkeliaran di jalan.

Salahkan Jaehyun yang selalu menahanku setiap aku ingin segera pulang.

Setelah mengikuti les tambahan, aku memang sengaja menyempatkan diri untuk mampir ke warnet game online. Ini pertama kalinya aku bertemu dengan Jaehyun setelah insiden soju dulu.

Awalnya sih aku hanya ingin bermain 1 atau 2 jam saja, tapi gara-gara Jaehyun yang menyuruhku tinggal lebih lama dengan iming-iming akan memberikanku rare equip, aku malah kebablasan hingga larut seperti ini.

Aku duduk di salah satu bangku peron sambil memeluk tas, guna menghangatkan diri dari dinginnya malam.
Jika di bandingkan dengan jam-jam sibuk, situasi station saat ini memang lebih cenderung sepi. Meskipun begitu beberapa orang masih terlihat berlalu lalang, aku bahkan bisa mendengar derap langkah mereka yang menggema.

Aku terpaksa harus naik kereta karena jam segini sudah tak ada bus yang beroperasi. Tak seperti trayek lainnya, kereta yang akan ku naiki tidak beroperasi selama 24 Jam. Aku harus bersyukur karena masih bisa mengejar jadwal kereta yang terakhir, kalau tidak aku harus naik Taxi yang harganya sangat menjijikan mahalnya.

Salahkan juga kedua orang tuaku yang lebih memilih tinggal di pinggiran kota, padahal sekolahku dan Junhong berada di pusat kota. Mereka sih enak karena kemana-mana selalu memakai mobil Ayahku yang di berikan oleh kantornya.

Ingatkan aku untuk meminta sepeda motor pada ulang tahunku yang ke 18 nanti.

Aku masih setia menunggu kedatangan kereta sambil sesekali menguap karena menahan kantuk. Hari ini terasa sangat melelahkan untukku, setiap hari pun melelahkan sih, tapi entah kenapa hari ini terasa lebih melelahkan dari pada biasanya.

Mungkin karena efek hidungku kena hantam bola basket kali ya, sehingga rasanya tuh kepalaku jadi terasa lebih berat. Duh, jangan-jangan aku gegar otak kali ya.

Rasa kantukku terusik ketika aku melihat beberapa orang pemuda memasuki peron sambil bercanda dengan suara yang cukup besar. Dari penampilannya sih bisa ku tebak kalau mereka bukanlah orang baik-baik.

Usianya sih mungkin beberapa tahun di atasku. Mereka terlihat seperti orang-orang yang suka membully dan memalak orang-orang lemah sepertiku.

Ah, aku baru sadar kalau aku tergolong anak lemah di mata mereka. Jangan sampai deh aku terlibat dengan mereka, lebih baik aku cari aman saja.

Namun semuanya terlambat, mataku bertabrakan dengan salah satu dari mereka. Pemuda berbadan besar yang sesekali menyesap batang rokok itu mengatakan sesuatu yang tidak ku ketahui pada teman-temannya. Dan yang jelas kini perhatian teman-temannya juga terarah kepadaku.

Sialan!

Aku langsung menundukan kepala, seolah-olah tidak melihat mereka. Melalui sudut mataku, sayangnya aku bisa melihat salah satu dari mereka mulai berjalan ke arahku.

Gawat, aku sudah jadi target mereka?! Apa yang harus ku lakukan? Aku tak mungkin tiba-tiba langsung pergi, itu sangat mencurigakan.

Duh, mana aku tak membawa banyak uang pula, bisa-bisa aku di pukuli hingga babak belur oleh mereka.

Aku memeluk tasku dengan semakin erat, berharap keajaiban akan datang, meskipun sangat kecil kemungkinannya. Sialan, orang itu sudah semakin dekat pula.

Jarakku dengan pemuda itu tinggal beberapa langkah lagi, sekarang aku yakin betul kalau akulah yang menjadi incarannya.

Ya, Tuhan, jika memang hidupku akan berakhir sampai disini, aku ikhlas. Mau di pukulin atau di ganbang hingga lemes pun aku sudah ikhlas. Kalau memang harus terjadi, maka biarkanlah terjadi.

Greb, seseorang menepuk pundakku. Aku langsung memejamkan mataku.

"Youngjae,"

Aku mendengar seseorang memanggil namaku. Itu pasti dia, ah matilah aku. Tapi tunggu dulu, kenapa dia bisa sampai tahu namaku?

Perlahan aku mulai membuka kedua mataku. Hal pertama yang kulihat ada sepasang kaki seseorang yang berada tepat di depanku. Secara perlahan aku mulai menengadahkan kepalaku untuk melihat sosok itu dengan jelas.

"Kak Jaebum?!" aku nyaris tak percaya ketika melihat sosok Kak Jaebum yang berada tepat di hadapanku sekarang.

Ku lihat Kak Jaebum melirik pemuda yang tadinya hendak mendekatiku dengan tatapan tajam. Pemuda itu mendesis kesal, kemudian berbalik menuju ke arah teman-temannya.

Syukurlah, hampir saja keperjakaanku, ahh maksudku sisa uangku akan di renggut oleh mereka.

"Kak Jaebum, apa yang Kakak lakukan disini?" tanyaku penasaran.

Ia kemudian menatapku, "Apa kau tidak bisa berterima kasih saja setelah kau kuselamatkan?!" katanya dengan nada ketus, selalu.

"Ah, maaf, terima kasih atas bantuannya," balasku.

Sejujurnya aku tidak menyangka kalau dia peka dengan situasi yang tengah terjadi padaku, terlebih lagi dia sampai mau repot-repot menolongku dari gangguan pemuda-pemuda itu. Padahal tahu sendirilah hubungan kita kan kurang begitu baik.

Kak Jaebum kemudian duduk di sebelahku. "Apa yang kau lakukan jam segini? Kau pasti habis minum-minum lagi kan?!" tuduhnya padaku.

Sontak saja aku langsung menggeleng, "Tentu saja tidak, aku habis pulang les kok!" protesku tak terima.

"Pulang les?" Kak Jaebum berdecak seolah-olah meremehkan jawabanku.

"Err, dan maen game online..." kataku akhirnya mengakui.

"Apa kedua orang tahumu tahu?"

"Tentu saja tidak,"

"Kalau begitu aku akan melaporkanmu pada kedua orang tuamu,"

"YAK!" pekikku dengan nada tinggi.

"Apa kau baru saja bicara padaku dengan nada tinggi? Aku ini lebih tua darimu loh." katanya.

Aku langsung menundukan kepalaku, "Ah, maafkan aku," kataku menyesal.

"Sudahlah, aku juga sedang malas bertengkar denganmu," katanya dengan malas.

Kalau kuperhatikan wajahnya, Kak Jaebum memang terlihat sangat kelelahan dan seperti banyak yang ia pikirkan. Aah, aku jadi ingat percakapan Kak Mark dan Kak Jinyoung tadi siang.

Apa Kak Jaebum habis bertengkar dengan Kak Mark?

Lagian meskipun sudah menduga sebelumnya, aku tidak menyangka kalau Kak Jaebum menyukai Kak Jinyoung yang notabennya kekasih dari temannya sendiri.

Sekarang aku yakin tak ada yang namanya sahabat di antara seorang seme dan uke, karena pasti di antara salah satunya akan ada yang memendam rasa.

"Bagaimana keadaan hidungmu?" tanyanya tiba-tiba, aku sontak saja langsung memegang hidungku.

"Ah, sudah terasa baikan kok," jawabku. Apa ia bertanya karena merasa bersalah padaku? Berarti benar dong kata Kak Mark kalau dia memang sengaja melakukan itu padaku.

Haruskah aku tanyakan alasannya langsung kepada Kak Jaebum?

"Maaf, Kak, aku dengar Kakak sengaja mengabaikan bolanya agar mengenaiku, apakah itu benar?" tanyaku hati-hati. Aku tak ingin terkesan menyalahkannya.

Sudut bibir Kak Jaebum terangkat, meremehkan. "Apa Mark yang mengatakannya padamu?" tanyanya.

Aku buru-buru menggeleng, "Tidak, aku mendengarnya secara tidak sengaja," kataku. Aku tak mau membuat Kak Jaebum mengira Kak Mark yang mengatakannya padaku.

Ia kemudian menoleh dan menatap mataku dengan dalam.

"Dengarkan aku, Choi Youngjae. Aku mungkin memang tidak menyukaimu, tapi bukan berarti aku akan melakukan hal kotor seperti itu," ungkap Kak Jaebum.

Aku balas menatap mata Kak Jaebum, aku tidak melihat ada kebohongan pada sorot matanya. Itu artinya dia berkata jujur, mungkin. Lalu bagaimana dengan Kak Mark? Mungkin benar kata Kak Jinyoung kalau Kak Mark terlalu sensitif jika menyangkut dengan Kak Jaebum.

Hmm, cinta terkadang membuat orang lupa diri memang.

"Maaf, kalau aku sudah menuduh Kakak," sesalku.

"Tak masalah,"

Wow, andai saja sejak awal Kak Jaebum sekalem ini, mungkin hubungan kami tak akan serumit sekarang.

Kak Jaebum memang terlihat berbeda malam ini, lebih kalem dan bijak, padahal biasanya dia akan mengomeliku tak jelas. Mungkin inilah sisi lain dari seorang Im Jaebum.

"Kak Jaebum, boleh aku bertanya sesuatu padamu?"

"Silakan,"

"Kenapa kau begitu membenciku, Kak?" Kesempatan, mumpung Kak Jaebum lagi jinak aku mau sekalian tanya-tanya alasan kenapa sikapnya padaku berbeda dengan orang lain.

Kak Jaebum terdiam, seperti memikirkan sesuatu. "Entahlah, sebenarnya aku juga tak terlalu membencimu, hanya saja melihatmu selalu membuatku kesal," ungkapnya.

Aku mencicit tak tak terima, "Hey, alasan macam apa itu?!" protesku.

Kak Jaebum terkekeh, duh ni cowok kalau lagi ketawa bikin gemes aja deh.

"Kau mengingatkanku dengan masa lalu, Jae," katanya.

Aku mengkerutkan dahi, "Masa lalu? Maksud Kakak mantan pacar?" pipiku rasanya menjadi panas, masa sih aku mengingatkannya pada sang mantan hehehe

Dia buru-buru menggeleng, "Bukan mantan, Jae. Lebih tepatnya seorang sahabat, sahabat yang ku percayai namun mengkhianatiku dari belakang." katanya.

Loh, itu bukannya Kakak sendiri ya. Kakak kan berani menyukai pacar sahabat Kakak sendiri, itu artinya teman makan teman kan. Ingin rasanya aku mengatakan itu padanya, namun tentu saja aku tak berani, bisa-bisa nanti aku langsung di lempar ke rel kereta api olehnya huhuhu

"Dulu aku mempunyai teman yang sudah ku anggap sebagai sahabat. Kami bermain basket bersama, aku sangat mempercayainya, namun semenjak dia bergaul dengan orang-orang yang tidak benar, sikapnya pun jadi berubah." Ungkap Kak Jaebum, matanya menerawang mengingat masa lalunya.

Aku diam saja mendengarkan ceritanya.

"Dia jadi sering mabuk-mabukkan, bolos sekolah, dan tak pernah datang untuk latihan lagi. Puncaknya ketika ia membawa kabur uang pendaftaran kompetisi basket daerah, kami bertengkar hebat"

"Dia membawa uang pendaftaran tim basket?" tanyaku tak percaya.

Kak Jaebum mengangguk. "Benar, dia bilang ia yang akan mendaftarkan tim kami, dan aku percaya begitu saja padanya, aku salah. Semua orang marah padaku karena sudah telodor, aku akui itu." ia tersenyum miris.

"Lalu bagaimana dengan teman Kakak yang membawa kabur uang itu? Apa kalian melaporkannya pada polisi?"

"Kami tidak melaporkannya pada polisi atau pun guru karena itu adalah masalah internal club, lagi pula aku sudah mengganti uang pendaftarannya dengan menggunakan uangku. Dan masalah temanku, sejak kejadian itu ia tak pernah muncul lagi di club maupun sekolah." ungkap Kak Jaebum menjelaskan.

"Hmm, pantas saja Kakak begitu marah padaku waktu aku minum soju, jadi itu toh alasannya." gumamku mencoba mengerti.

Kak Jaebum tersenyum. "Maaf sudah mengagetkanmu, temanku itu sama sepertimu, berwajah innoncent dan lugu, makanya ketika melihatmu aku langsung teringat dia, aku hanya tak mau tertipu dua kali oleh orang sepertimu."

"Jadi sekarang Kakak sudah tak menganggapku orang jahat lagi kan? Aku bersumpah kalau aku adalah anak baik-baik!" aku meletakan telapak tangan di dada sebagai tanda sumpah.

"Yah, aku percaya. Kau terlalu pengecut untuk menjadi anak nakal," katanya.

Aku cemberut, "Entah aku harus menganggapnya itu sebagai pujian atau hinaan," kataku berpura-pura marah.

"Itu pujian," Kak Jaebum terkekeh. Duh, melihatnya tertawa hingga matanya jadi segaris membuatku semakin gemas. Rasanya jadi pengen kugauli di tempat nih.

Tawanya mungkin memang belum lepas, masih terlihat seperti ada beban. Tapi itu saja sudah cukup untukku, karena dengan begini hubunganku dengannya sudah mulai mencair.

"Ngomong-ngomong Kakak dari mana saja?" tanyaku, dari penampilannya yang masih mengenakan seragam sepertiku, ku tebak ia juga belum pulang kerumahnya.

"Rahasia, anak kecil tidak boleh tahu,"

Aku merengut kesal mendengar jawabannya, apanya yang anak kecil, aku dan dia kan hanya berbeda satu tingkat, hufft.

Tiba-tiba kereta yang sedari ku tunggu sudah datang. Ada sebersit kekecewaan karena aku tidak bisa mengobrol lebih lama dengan Kak Jaebum.

"Ah, itu keretaku..." gumamku sedikit kecewa.

"Sudah sana masuk, itu kereta terakhir kan? Maaf aku tidak bisa mengantarmu pulang." Kak Jaebum mau mengantarku pulang? Meskipun baru niat saja aku sih sudah senang mendengarnya.

Aku menggeleng, "Tak apa-apa, Kak. Rumahku dekat dengan station, jadi mudah-mudahan tidak akan terjadi apa-apa selama di jalan," kataku.

Kak Jaebum manggut-manggut, "Yasudah sana pergi, sampai jumpa di sekolah, Choi Youngjae." katanya.

"Yeah, sampai jumpa di sekolah juga, Kak."

Setelah berpamitan, aku langsung buru-buru masuk ke dalam kereta, meninggalkan Kak Jaebum yang masih duduk sendiri dengan wajah lelahnya.

.

.

.

Ketika aku sampai di rumah, waktu sudah menunjukan pukul 23.55. Aku tak langsung masuk ke dalam rumah, melainkan berdiri di depan pagar.

Sebelum masuk aku harus memastikan kalau orang tuaku, khususnya ibuku, sudah tidur. Bisa gawat kalau aku ketahuan baru pulang jam segini

Dari yang kuperhatikan, lampu di dalam rumah sudah pada mati, termasuk lampu kamar orang tuaku. Aku lalu mengeluarkan ponsel, berniat menghubungi Junhong untuk memastikan situasi di rumah aman terkendali.

"Halo, Junhong..." sapaku ketika Junhong mengangkat teleponnya.

"Astaga, Jae, ini sudah malam, ada apa sih?!" terdengar suara serak khas orang bangun tidur di seberang sana.

"Junhong, bisa tolong kau cek Ibu sudah tidur atau belum. Sekalian bukakan pintu untukku." perintahku pada adikku yang menyebalkan itu.

Junhong diam...

"Yak! Kau dengar aku tidak sih?! Jangan tidur lagi!"

"Ah, maaf, Jae. By the way, memangnya kau baru pulang jam segini? Kau bisa di gantung jika Ibu sampai tahu."

"Maka dari itu aku menyuruhmu memastikan Ibu sudah tidur atau belum, Choi Junhong sayang!" geramku menahan kesal.

"Maaf, Jae, aku sedang tidak tidur di rumah, aku menginap di rumah Yugyeom. Tapi terakhir aku melihat sih Ibu sedang nonton TV, gak tahu deh kalau sekarang." ujar Junhong.

"Ish, rugi deh aku nelpon kamu!"

Aku bisa mendengar suara kikikkan di seberang sana, Junhong sialan.

"Udah sini nginep di rumah Yugyeom aja, Jae."

"Males ah, aku sedang ingin tidur tanpa gangguan!" Gangguan yang ku maksud adalah sikap Yugyeom dan Junhong yang gak bisa diem kalau lagi tidur, kadang bantal di mana kakinya dimana. Syukur-syukur kalau mukaku gak kena tendang mereka.

"Yasudah deh, selamat malam, Jae." Junhong kemudian memutuskan teleponnya secara sepihak. Sialan, seharusnya juga aku yang menutupnya.

Aku lalu memasukan kembali ponselku ke dalam saku celana. Berhubung aku tak bisa mengandalkan Junhong, mau tidak mau aku harus masuk dan memastikan sendiri kalau Ibuku sudah tidur atau belum.

Masalahnya bagaimana caranya agar aku bisa masuk ke dalam rumah, pintu depan sudah pasti di kunci, begitu pun dengan pintu belakang. Masa iya aku harus manjat ke kamarku yang berada di lantai 2.

Selain karena takut jatuh, bagaimana kalau ada orang yang lihat terus neriakin aku maling? Bisa heboh satu komplek nanti.

Setelah mencari-cari cara agar aku bisa masuk ke dalam rumah, aku memutuskan untuk mencoba membuka satu per satu pintu, yah siapa tahu Ibu lupa mengunci salah satunya.

Namun sesuai dugaan awal, kalau semua pintu memang sudah terkunci. Sudah jelas orang seperti Ibuku yang teliti dan perpeksionis tak akan teledor seperti itu.

Ya sudahlah, mungkin malam ini aku harus menginap di rumah Yugyeom dulu.

Aku hendak meninggalkan pekarangan rumah, tapi ketika sudut mataku menangkap sesuatu yang aneh pada jendela ruang tamu, aku langsung menyeringai licik.

Bingo!

Terima kasih untuk adik balita Yugyeom yang sering main di rumahku dan selalu bermain dengan jendela ruang tamu. Setahuku engsel kunci jendelanya di rusak oleh anak itu, sehingga jendelanya sulit untuk untuk di kunci.

Berharap saja semoga Ibuku belum tahu dan memperbaikinya.

Aku langsung menghampiri jendela tersebut, lalu menempelkan wajahku di kaca guna memastikan kalau keadaan rumah sudah aman.

Lampu ruang tamu sudah mati, dan tampaknya tidak ada tanda-tanda Ibuku masih menonton TV.

Secara perlahan aku mulai mengotak-atik jendela hingga akhirnya terbuka. Syukurlah...

Kubuka jendela tersebut dengan perlahan agar tidak menimbulkan bunyi decitan yang pastinya bisa membangunkan ke dua orang tuaku.

Setelah berhasil masuk ke dalam rumah, aku kembali menutup jendelanya seperti semula. Dan kemudian aku mulai berjalan-jalan mengendap di dalam kegelapan.

Gila, aku seperti seorang maling yang ingin merampok rumahnya sendiri.

Aku masih mengendap-endap tanpa suara melewati ruang tamu, ruang keluarga, dapur, hingga melewati kamar kedua orang tuaku yang sunyi senyap.

Bunyi jarum jam seolah-olah mengiringi setiap derap langkahku. Rasanya begitu menegangkan dan mendebarkan.

Namun, baru saja aku menanjakan kaki pada anak tangga yang pertama, tiba-tiba saja lampu menyala dan membuat semuanya jadi terang benderang.

Mataku menyipit untuk membiasakan bias cahaya yang tiba-tiba menyelinap pada retina mataku. Aku terbelalak ketika melihat sesosok wanita sedang berdiri tak jauh dariku.

Dia adalah Ibuku...

... Mati aku!

Dengan berbalut gaun tidur berwarna merah muda dan rambut yang terurai, Ibuku menatap tajam dengan ekspresi yang tak ramah.

"Kemari kau" perintahnya, aku langsung buru-buru menghampirinya.

"Kau baru pulang, Choi Youngjae?!" tanya Ibu dengan nada rendah namun penuh dengan ketegasan.
Aku menelan ludah dengan susah payah.

"Dari mana saja kau baru pulang jam segini?!" Kali ini suaranya agak meninggi.

"Tentu saja dari tempat les..." dustaku, alasan yang sangat lemah.

"Les apa hingga memakan waktu hingga tengah malam? Kau pikir Ibumu ini bodoh, huh?!" geramnya.

"Sekarang cepat katakan kau habis dari mana sebelum Ibu kehilangan kesabaran dan memukulmu!"

"Errr, maaf, aku habis dari warnet, Bu," jawabku mengakui, aku tak mau membuatnya lebih marah lagi kalau aku melawannya.

Ku lihat Ibu berdecak kesal.

"Kau bermain game lagi?!" geramnya. Aku mengangguk dan tak berani menatap mata Ibuku. Aku takut melihatnya yang sedang marah.

"Bagus sekali, Choi Youngjae!" Ibuku memijat keningnya yang berkerut.

Tiba-tiba pintu kamar orang tuaku terbuka, dan munculah sosok Ayahku yang masih setengah mengantuk.

"Ada apa ini ribut-ribut, kalian tidak tahu sudah jam berapa ini, eoh?" tanya Ayah dengan suara khas orang baru tidur.

"Lihat, anakmu bermain game online lagi. Mau jadi apa dia nantinya pulang tengah malam seperti ini!" ungkap Ibuku.

Mata Ayahku menatap menyipit dan menatap tajam ke arahku.

"Benarkah itu, Youngjae?" tanyanya. Aku hanya bisa menganggukan kepalanya.

Kulihat Ibuku mengusap wajahnya dengan frustasi. Aku tahu game online adalah isu sensitif di rumah ini. Game online nyaris membuat salah satu anggota keluarganya kehilangan nyawa.

Ya, aku adalah orangnya. Dulu saat aku kecanduan bermain game online, aku tak pernah keluar dan mengunci diri di kamar selama berminggu-minggu. Aku jadi sering lupa makan, tidur, dan bahkan dengan keluargaku sendiri.

Keadaan itu membuat tubuhku drop sekali, aku bahkan sempat histeris dan melukai diri sendiri ketika orang tuaku mematikan koneksi internetku. Hasilnya, aku terbaring beberapa hari di rumah sakit karena nekat mencoba menyayat urat nadiku dengan pisau.

Aku tahu ini gila. Aku pun tak percaya kalau aku pernah seperti itu. Ah, benar-benar masa lalu yang suram. Makanya aku sedikit mengerti tentang kekhawatiran keluargaku kalau tahu mulai mendekati game online lagi.

Aku memang masih suka bermain, tapi percayalah aku sudah tak sefreak dulu.

"Tak bisakah sekali saja kau bersikap manis seperti Junhong? Apa kau tidak bisa mencontoh Kakakmu yang berhasil masuk Universitas top di luar negeri? Apakah kau tidak bisa sekali saja tak membuat kepala Ibu pusing, hah?!" Ibuku membentakku dengan nada tinggi.

Aku mengepalkan tangan dengan erat, sementara rahangku mulai mengeras. Itu terjadi lagi, Ibu selalu menyeret nama-nama saudaraku yang lain, dan aku sangat tidak suka dengan itu.

"Kenapa sih Ibu selalu membandingkanku dengan mereka?" seruku dengan nada yang tak kalah tinggi.
"Itu karena kau selalu membuat pusing Ibu, Choi Youngjae!" bentak Ibukku.

Dadaku bergemuruh dan mulai naik turun menahan kesal. "Ibu selalu saja seperti, apa-apa Junhong... apa-apa Kak Sooyoung... sementara Ibu hanya selalu berteriak kepadaku!" seruku.

Ibu terdiam dan menatapku dengan pandangan yang sulit ku artikan.

"Anakmu bukan hanya mereka saja, Bu. Aku aku juga anakmu, kenapa hanya aku yang di perlakukan berbeda?! Apa jangan-jangan aku hanya anak pungut di keluarga ini?!"

Akhirnya, keresahan dan unek-unek yang selama ini kupendam pecah juga. Aku selalu bertanya-tanya kenapa mereka selalu memanjakan Kak Sooyoung dan Junhong, sementara aku selalu saja di marahi dan di omeli.

Di mata mereka aku selalu saja salah.

"PLAKKK!"

Sebuah tamparan keras melayang pada pipiku. Aku tentu saja sangat terkejut, mengapa Ibu tega menamparku. Aku tahu Ibu sering memarahiku, tapi menamparku? Ini baru pertama kalinya.

Tanpa kusadari mataku terasa panas, air mata jatuh begitu saja membasahi pipiku.

"Sayang..." gumam Ayahku yang langsung menenangkan Ibuku.

"Ak- Aku benci Ibu! Aku benci keluarga ini!" teriakku pada mereka.

Aku langsung berlari meninggalkan rumah. Aku tak tahu harus kemana, tapi yang jelas aku tak mau kembali ke rumah. Aku membenci keluargaku.

Aku berlari menembus kegelapan malam tak tentu arah. Tak ada yang mengejarkku, itu artinya mereka tak peduli denganku.

"CKK, AKU BENCI IBU! AKU BENCI SEMUANYA! AKU TAK BUTUH MEREKA!" ujarku di sela-sela isak tangisku. Aku jatuh terduduk sambil menyeka air mata yang tak berhenti membasahi pipiku.

Hatiku rasanya sakit dan perih.

"IBU..." Lirihku.

*** To be Continue ***