CHAPTER 10 : Lonely Boy

Sudah hampir seminggu sejak aku lari dari rumah.

Tak sekalipun aku memberi kabar keberadaanku pada mereka, aku bahkan tidak pergi ke sekolah dan mematikan ponselku agar mereka tidak bisa mencariku.

Intinya aku memutuskan segala komunikasiku entah dengan keluarga dan teman-teman sekolahku.

Lalu bagaimana dengan tempat tinggal dan kebutuhanku selama ini?

Untuk sementara ini aku tinggal di rumah Jaehyun. Beruntung malam saat aku lari dari rumah, Jaehyun masih berada di warnet sehingga aku bisa mendatanginya untuk meminta bantuan.

Entah bagaimana jadinya kalau aku tak bertemu Jaehyun malam itu. Aku tak punya tempat untuk di tuju dan tak mungkin juga aku kembali ke rumah. Oh, ayolah, rasanya seperti menjilat ludah sendiri.

Orang tua Jaehyun mengizinkanku tinggal tanpa banyak bertanya. Lagi pula mereka terlalu sibuk untuk sekedar menanyaiku dan mungkin juga Jaehyun sudah menjelaskan keadaanku pada mereka.

Tak banyak yang bisa kulakukan di rumah Jaehyun. Paling internetan menggunakan komputer milik Jaehyun yang spesifikasinya luar biasa canggih. Aku heran mengapa dia lebih memilih main di warnet, sementara di rumahnya segala fasilitas sudah tersedia.

Alasannya, tentu saja karena dia kesepian. Aku kasihan dengan Jaehyun, orang tuanya terlalu sibuk dengan pekerjaan mereka sehingga terkesan menelantarkan anak semata wayangnya. Selama tinggal di sini aku bahkan hanya bertemu dengan mereka 2 kali saja.

"Aku pulang..." pintu kamar tiba-tiba terbuka dan muncullah sosok Jaehyun yang masih menggunakan seragam sekolahnya.

Aku mengalihkan pandanganku dari layar komputer dan memandang nanar Jaehyun.

"Kenapa kau memandangiku seperti itu?" tanya Jaehyun.

Aku hanya tersenyum menanggapinya.

"Kemarilah," perintahku padanya.

Jaehyun terlihat bingung, meskipun begitu ia tetap menghampiriku.

Saat ia sudah berada di depanku, aku langsung memeluknya sambil mengusap-usap punggungnya.

"Ada apa denganmu, Jae, kenapa tiba-tiba memelukku?"

"Tidak apa-apa, hanya ingin saja." kataku.

"Dasar aneh,"

"Tapi kau menyukainya, kan? Mulai sekarang kau bisa menganggapku sebagai Kakakmu sendiri, jangan malu untuk meminta pelukanku kalau kau sedang sedih, Jaehyun." aku mengusap surai hitamnya.

"Yang benar saja, harusnya juga aku yang menjadi Kakakmu." protesnya. "Tapi terima kasih, Kak Youngjae." katanya kemudian.

"Apa kau baru saja memanggilku Kakak?" tanyaku tak percaya. Oh, ayolah, selama ini dengan kurang ajarnya dia kan selalu memanggilku tanpa embel-embel Kakak.

Jaehyun kemudian melepaskan pelukan kami. "Kau salah dengar, Jae, jangan harap aku akan memanggilmu Kakak," katanya.

Aku berpura-pura cemberut. "Aku tak salah dengar, Jung Jaehyun. Cepat panggil aku Kakak lagi!" paksaku.

"Jangan harap!" dengus Jaehyun, ia kemudian melemparkan tubuhnya ke atas ranjang. Aku mengikutinya dan berbaring di samping pria bongsor itu.

"Ayolah sekali saja... ya, ya, ya?!" aku terus mendesaknya.

"Big no no, Tuan Choi," ujar Jaehyun bersikukuh. Ia kemudian menarikku hingga membuatku jatuh ke dalam pelukannya.

Aku diam saja ketika ia merengkuh diriku layaknya seperti sedang memeluk boneka besar.

"Lihat sekarang siapa yang jadi Kakak disini?" tanya Jaehyun dengan nada mengejek.

Aku mendengus kasar, tapi aku juga tak menampik kalau aku merasa nyaman berada dalam pelukan Jaehyun. Ah, tolong jangan salah paham, perasaanku padanya itu murni hanya sebatas sayang seorang Kakak pada Adiknya, tak lebih.

Fyi, selama tinggal di sini, Jaehyun memang senang sekali mengcuddling diriku sebelum tidur, dan aku pun tak keberatan dengan itu.

"Ngomong-ngomong kapan kau akan pulang, Jae?" tanya Jaehyun tiba-tiba, masih dalam keadaan memelukku.

"Memangnya kenapa gitu, kau tak senang aku disini? Apa kau sedang mengusirku secara halus?" tanyaku.

"Ah, bukan seperti itu, Jae, tentu saja aku senang kau ada disini. Tapi keluargamu pasti khawatir dan kau juga tak bisa meninggalkan sekolahmu begitu saja." ungkap Jaehyun.

"Aku tahu, aku juga sudah memikirkannya, tapi... ah sudahlah, aku jadi pusing."

Aku juga tak yakin kalau keluargaku khawatir denganku. Bukankah menurut mereka aku ini hanya pembuat masalah, jadi seharusnya mereka senang dong kalau aku pergi.

Lalu bagaimana dengan kehidupanku selanjutnya?

Aku mungkin tak bisa terus-terusan merepotkan Jaehyun, mungkin aku harus segera mencari pekerjaan terlebih dahulu. Setidaknya aku tak hanya menumpang tinggal dan makan saja di rumah ini.

"Kau seharusnya bersyukur, Jae, keluargamu masih perhatian padamu meskipun dengan cara memarahimu seperti itu. Sementara aku, kau lihat sendiri kan betapa sibuknya orang tuaku, mereka bahkan lupa kalau hari ini anaknya sedang ulang tahun," ungkap Jaehyun dengan nada bergetar.

Aku langsung melepaskan pelukannya dan menatap Jaehyun tak percaya.

"Kau ulang tahun hari ini? Kenapa kau tidak bilang dari tadi sih?" protesku. Aku tersinggung karena ia tak memberitahuku hari spesialnya ini.

Ia tersenyum, "Kalau pun aku memberitahumu sejak awal, tak akan ada yang berubah, Jae." katanya.

"Aku mungkin tak bisa memberimu hadiah, tapi setidaknya ada orang yang akan memberimu ucapan selamat!"

"Kau mau kemana?" tanya Jaehyun ketika aku beranjak dari tempat tidur.

"Aku mau buat sup rumput laut untukmu. Itu pun kalau kau punya bahan-bahannya di dapur, sih." kataku. Sebenarnya aku ingin sekali memberikannya hadiah atau mentraktirnya makan, tapi sayangnya aku sedang tak punya uang.

"Tidak usah, Jae. Kau tak perlu repot-repot membuatnya, kita makan di luar saja ya." kata Jaehyun.

"Tapi aku tak punya uang untuk mentraktirmu."

"Tenang saja, aku yang akan mentraktirmu. Kau mau menemaniku saja aku sudah sangat bersyukur."

Aku merasa buruk karena Jaehyun harus mentraktirku padahal ia yang sedang berulang tahun. Tapi aku bisa apa sih, aku sudah tak punya uang yang tersisa di dompetku. Aku berjanji pada diriku sendiri kalau aku sudah punya uang aku harus membelikan sesuatu untuknya.

.

.

.

Setelah makan malam bersama, aku dan Jaehyun pergi ke Hongdae untuk sekedar berjalan-jalan menghabiskan malam. Jaehyun bilang, ia tak mau menghabiskan sisa waktu ulang tahunnya di rumah, jadi terpaksa aku menuruti semua keinginannya hari ini.

Anggap saja itu hadiah dariku.

Hongdae memang tidak pernah ada matinya. Banyak anak muda ramai-ramai menghabiskan waktu di sini untuk sekedar makan, nongkrong bersama teman, atau pun menikmati segala hiburan khas anak muda lainnya.

Meskipun sudah kenyang, namun aku dan Jaehyun tak pernah bosan untuk mencicipi kuliner yang di jajakan sepanjang jalan. Dan tentu saja semua itu Jaehyun yang bayarin hehehe

Sesekali kami berhenti untuk menikmati pertunjukan musik akustik yang dimainkan oleh para musisi jalanan. Malam itu kami puas jalan-jalan, menyanyi, dan tertawa bersama.

Aku harap ulang tahunnya Jaehyun kali ini membawa kesan yang baik untukknya.

"Jaehyun, ayo kita foto di sana!" seruku pada Jaehyun, aku menunjuk sebuah boot Photobox.

"Buat apa kita foto di sana? Selfie pakai ponsel sendiri kan bisa," kata Jaehyun enggan.

"Uh, ayolah, Jaehyun, sensasinya kan beda, lagi pula ini bisa jadi kenang-kenangan yang baik untuk persahabatan kita," kataku dengan bersemangat.

"Ish, kau ini ya, mentang-mentang aku yang bayarin semuanya, kau jadi aji mumpung." omel Jaehyun, meskipun begitu ia tetap mengikutiku menuju boot photobox. Such a cutie boy.

Hari ini memang segala sesuatunya Jaehyun yang bayar. Awalnya sih aku agak gak enak, masa yang ulang tahun yang mentraktir segalanya. Tapi anak itu meyakinkanku kalau ia tak merasa keberatan sama sekali.

Yasudahlah, namanya juga gratisan, rezeki tidak boleh di tolak, kan.

Di dalam photobox kami mengambil beberapa foto dalam pose lucu yang kemudian kami edit sedemikian rupa. Setelah fotonya selesai di cetak, aku menyerahkan sebagian fotonya pada Jaehyun, dan sebagian lagi kusimpan untuk kenang-kenangan.

Kulihat Jaehyun memandang foto di tangannya dengan mata yang berbinar-binar.

"Kau tahu, Jae, ini pertama kalinya loh aku berfoto di photobox bersama seseorang. Aku tahu ini hanya sebuah foto, tapi entah kenapa aku merasa sangat senang sekali," ungkap Jaehyun dengan wajah berseri-seri.

Aku tersenyum tulus padanya. Dibalik badan besar dan senyumnya, Jaehyun tak lebih dari seorang bocah yang kesepian buatku. Jiwa Kakak-Kakakku tergerak untuk melindungi dan mengayominya.

"Syukurlah kalau kau senang. Saat ulang tahunmu selanjutnya, kau bisa mengambil foto bersama kekasihmu, Jaehyun. Itu pasti akan sangat berkesan."

Jaehyun menggeleng, "Aku tidak butuh kekasih, selama kau ada di sampingku aku sudah senang kok," katanya.

"Mana bisa begitu, sekarang saja kau bisa bilang seperti itu, tapi suatu saat nanti ketika kau sudah mencintai seseorang, kau pasti akan melupakanku,"

"Yasudah kenapa tidak kau saja yang jadi kekasihku. Yah, kau memang jauh dari tipe idealku sih, tapi tak apalah, bagaimana?"

Aku menjitak kepalanya, "Yak, pacaran itu bukan hal yang main-main, kau harus mencari kekasih yang benar-benar kau sukai. Makanya mulai sekarang kau harus lebih bersosialisasi dan kurang-kurangilah bermain game." kataku menceramahinya. Aku tak mau nantinya ia bergantung padaku, aku ingin dia mempunyai banyak teman agar ia merasa tak sendirian.

Lagian kan aku juga tak mungkin bersamanya terus untuk selamanya.

"Aku juga beranda kali, Jae, aku juga ogah punya pacar yang bawel dan pemalas sepertimu," ujar Jaehyun sambil cekikikan.

Aku mendengus kemudian menendang tulang kering Jaehyun hingga ia meringis kesakitan.

"Makan itu!"

Sialan, berani sekali dia menghinaku seperti itu. Gini-gini banyak yang suka loh sama aku, meskipun kebanyakan sih yang menyukaiku itu om-om hehehe

"Jae, aku mau ke toilet dulu sebentar, kau tak apa-apa kan menunggu di sini?" tanya Jaehyun tiba-tiba.

Aku tak menjawab, melainkan melambaikan tanganku agar dia segera pergi.

"Oke, tunggu Oppa di sini dengan baik ya, awas jangan nakal." kata Jaehyun menggodaku seolah-olah aku ini seorang perempuan.

Aku mendengus seraya memelototinya dengan horror, ia terkekeh namun setelahnya ia langsung pergi setelah melihatku sudah berancang-ancang akan menendang kakinya lagi.

Dasar bocah, seneng banget sih dia menjahiliku terus. Lihat saja nanti, pasti akan ku balas.

Setelah Jaehyun pergi aku langsung duduk-duduk manja di beranda sebuah toko. Mataku jelalatan sana-sini memandangi setiap cowok-cowok cakep yang hilir mudik di depanku. Tak apa kan sekali-kali cuci mata hehehe

Meskipun begitu pikiranku tidak sedang pada tempatnya. Aku merasa sepi di tengah keramaian Hongdae. Malam ini begitu menyenangkan, namun rasanya masih ada sesuatu yang mengganjal di hatiku.

Aku jadi teringat keluarga dan teman-temanku. Apa kabarnya ya mereka tanpaku? Tentu saja tak akan ada berubah, memangnya siapalah aku ini.

Sesuai dengan rencanaku di awal, besok aku akan mencoba mencari pekerjaan. Dengan keadaanku yang sekarang rasanya mustahil mendapatkan pekerjaan yang layak, tapi pekerjaan kecil pun tak apalah, setidaknya aku harus mencari uang.

Sekarang saja aku bahkan selalu menggunakan pakaian Jaehyun yang kebesaran, awalnya dia ingin membelikanku pakaian baru sih tapi tentu saja langsung ku tolak, aku bilang saja aku suka pakai baju yang kebesaran, padahal mah rasanya sangat tidak nyaman.

Nanti aku pinjam uang saja sama Bambam untuk modal mencari kerja, sekalian tanya-tanya tentang keadaan sekolah. Aku sih yakin kalau aku terancam tidak naik kelas atau bahkan di keluarkan mengingat aku sudah terlalu sering membolos.

Sialan, kenapa rasanya kehidupannku jadi sulit seperti ini. Padahal aku tinggal pulang dan meminta maaf, kemudian semua masalah akan selesai, namun entah kenapa egoku mengatakan kalau aku harus tetap bertahan seperti ini.

Aku ingin pulang... tapi gengsi

Aku memang masih kesal dengan keluargaku, tapi aku tidak bisa memungkiri kalau aku juga rindu dengan mereka, terutama Ibuku.

Mataku terasa panas, aku ingin menangis tapi aku mencoba untuk menahannya, mengingat aku masih berada di tempat umum.

"Youngjae,"

Lamunanku buyar ketika mendengar seseorang memanggil namaku. Ah, itu pasti Jaehyun, cepat sekali dia kembalinya. Aku langsung mengusap wajahku dengan kasar, lalu mulai mengangkat wajahku.

Namun ternyata orang yang memanggil namaku bukanlah Jaehyun. Aku menatap tak percaya sosok di depanku ini. Apa yang dia lakukan di tempat ini?

"Kak Mark..."

*** To be Continued ***