Bertemu ibu-ibu beranak dua
Diselamatkan oleh orang asing
Guru musikku berubah menjadi anjing
Hey, ini hari terakhirku bersekolah!
.
.
.
BIASANYA AKU SANGAT SUKA DENGAN MUSIK, tapi tidak setelah aku melihat seorang wanita berumur, dan sepertinya dia seorang ibu, menggandeng kedua anaknya di masing-masing tangannya.
Dia memakai baju panjang semata kaki, berlengan panjang, berwarna hitam dengan corak bunga-bunga berwarna biasa saja, seperti ibu-ibu kebanyakan yang mempunyai keriput di beberapa bagian. Memang, biasa. Tetapi, setelah aku melihatnya dari kaca jendela kelasku tempat Mrs. Carry mengajarkan not balok yang membuat otakku pusing dengan gambar nada-nadanya, aku mendapati ibu-ibu itu terus-menerus menatap ke kelasku, tidak. Aku tiba-tiba tertegun.
Dia menatap tepat ke arahku, seakan ingin menerkamku saat itu juga.
Aku menghela napas dalam-dalam setelah mengalihkan pandanganku. Penyakit diseleksia yang aku alami selama—entah kapan, aku tidak ingat—ini mengganggu. Aku tidak bisa duduk tenang saat membaca papan tulis yang sudah penuh dengan coretan nada-nada, serta penjelasannya, tulisan tangan khas guru musikku sejak musim semi tahun lalu itu.
Aku menoleh ke arah teman-temanku yang terlalu serius memperhatikannya mengajar, tiba-tiba guruku itu memanggil namaku dengan sangat jelas, "Ms. Carter."
Aku buru-buru menegakkan tubuhku, dan tersenyum kaku saat menatap ke arahnya, "Apa kau mendengar penjelasanku tadi?" aku refleks menggeleng dan dengan otomatis merutuki kebodohanku.
Mrs. Carry menghela napas, lalu berkata lagi, "Apa nama aplikasi terkenal untuk memindahkan lagu ke dalam DVD ataupun CD?" memang, sekolah yang kali ini—yang ketiga kalinya aku datangi maksudnya—bukan hanya tentang musik, menggambar, dan kegiatan seni , di sini para murid juga diajarkan teknologi-teknologi yang berkembang pesat di jaman ini.
Aku menatapnya gugup, mulutku sedikit terbuka, bermaksud ingin berkata aku tidak tahu tetapi kedua mataku tidak sengaja menatap ke arah papan tulis yang membuatku terkejut saat membaca judul yang tertera di sana. Aku yakin itu tidak ditulis secara langsung menggunakan bahasa Inggris pada umumnya, tetapi menggunakan bahasa lain—bahasa Latin—karena pandanganku bergerak-gerak seakan terbagi empat buah dan blur sebelum aku bisa membacanya dengan jelas.
"Ms. Carter?" panggilnya, memastikanku.
Aku menoleh ke arahnya dan tergugup, "Uhm...Hm, Ne-Nero?" suaraku terbata, seakan tercekat di tenggorokan dan sulit keluar dengan jelas.
Sedetik, aku bisa memastikan tatapan Mrs. Carry yang menajam dan semua siswa-siswi di dalam kelas menoleh bersamaan saat aku mengatakan nama itu secara gugup. Menatapku seperti orang aneh yang menurutku sudah biasa. Ya, aku biasa hidup ditatap seperti orang aneh, seperti... Bukan orang Amerika yang biasanya terlihat.
Aku mengalihkan pandanganku pada cincin yang tergantung pada sebuah rantai perak yang melingkar di leherku. Cincin berwarna perak dengan ukiran di luar yang aku tidak tahu bahasanya, tetapi yang jelas, cincin itu aneh. Terakhir kali aku memakainya, aku menghilang entah ke mana selama tiga hari, akhirnya aku memutuskan untuk menjadikannya liontin saja.
Aku ingat, aku mendapatkan benda itu dari Ayahku, Ayah tiriku lebih tepatnya. Sebelum kebakaran di rumahku di Las Vegas terjadi. Awalnya, aku tidak mau menerima pemberian itu, karena bisa dipastikan pemberian dari orang yang akan mati itu adalah keramat. Tetapi,karena aku anak yang penurut kepada orangtua meskipun bermasalah, aku pun menerimanya. Saat itu umurku sembilan tahun dan kebakaran itu terjadi di hari ulang tahunku.
Aku tidak tahu bagaimana melewati semua itu setelah mengetahui kedua orangtua tiriku meninggal—terbakar dalam rumah—dan hanya aku yang selamat, yang aku tahu kejadian itu terasa telah terjadi berpuluh-puluh tahun lamanya, melupakan kenyataan bahwa aku adalah seorang gadis dengan dua kepribadian yang menurutku saling bertolak belakang, mempunyai Gangguan Pemusat Perhatian Hiperaktivitas dan mengidap diseleksia yang berumur tiga belas tahun.
Aku juga tidak tahu siapa ibuku, aku yakin aku sama sekali belum pernah bertemu dengannya selama ini, aku juga tidak ingat bagaimana wajah Ayah kandungku, bagaimana postur tubuhnya, bagaimana caranya tersenyum, yang lebih parah lagi, aku bahkan tidak tahu namanya siapa. Aku menyandang nama keluarga Carter karena nama tersebut juga disandang oleh orang yang mengaku pamanku.
Aku hanya diberitahu bahwa aku kecelakaan saat mengendarai mobil Porch berwarna hitam metalik, dengan membawa ketiga temanku oleh seorang laki-laki yang mengaku menjadi pamanku, adik Ayah kandungku. Aku teringat dia pernah mengatakan selama ini dia telah mencariku ke mana-mana, tetapi tidak bisa ditemukan. Terakhir kali dia sempat melihatku, saat aku berada di St. Maria Academy, panti asuhan yang menampungku setelah terjadinya kebakaran. Nama pamanku adalah Carl Carter.
Bel istirahat berbunyi membuatku tersentak.
Aku refleks menoleh ke arah jendela tempat aku melihat ibu-ibu yang membawa dua anak tadi, dan menghela napas selega-leganya saat dia sudah tidak ada dari jarak pandangku. Tubuhku kembali tersentak saat seseorang menepuk sebelah pundakku.
Aku langsung menoleh.
Di hadapanku, terdapat seorang laki-laki, berwajah sangat tampan yang memang telah menjadi favorit seluruh siswi di sekolah ini, kedua iris mata dan rambutnya berwarna cokelat tua, mengingatkanku pada Ken—karakter laki-laki yang ada di film Barbie—dan rambutnya dipotong pendek tanpa poni, membuat dia terlihat manly meski sedikit... yah, kau tahu, dia selalu membawa cermin kesayangannya yang berbentuk oval beralaskan wadah warna silver, dia Thomas Wood. Salah satu temanku yang berada di mobil Porch berwarna hitam yang selamat. Yah, meskipun kami semua selamat.
"Kau menoleh terus ke arah jendela, memang ada yang menarik?" senyumnya terangkat. Aku tidak tahu kenapa bibirku ikut tersenyum juga.
"Tidak, hanya saja aku bosan." Jawabku. Dia mengangguk seakan mengerti.
"Aku juga, Mrs. Carry terlalu banyak bicara. Dan apa itu tadi? Dia menanyakan Nero? Huh..." Thomas mulai mengoceh dengan dirinya sendiri selagi kami berdua berjalan keluar kelas. Di koridor sekolah dan halaman yang terbentang di depan gedung, sudah banyak siswa-siswi yang menghambur ke berbagai tempat, terutama kantin.
Aku sampai di kantin dan disambut oleh dua orang, anak kembar, kakak beradik, laki-laki dan perempuan. Aku tersenyum,segera menghampiri mereka berdua bersama Thomas. Aku tidak tahu kenapa merasa dekat dengan mereka bertiga padahal aku yakin aku mengenal mereka belum terlalu lama.
Aku berdiri di depan meja tempat kedua anak itu duduk. Di hadapanku, anak kembar itu tersenyum ke arahku. "Diana? Dan, Alexander Hill?"
Mereka tersenyum lagi dan mengangguk, seorang perempuan bernama Diana bangkit dari duduk dan mengapit lenganku, "Ayo ambil makanan. Aku yakin kau pasti lapar, Mr. Grey yang mengajar sketching di kelasku benar-benar buruk, aku bosan setengah mati." Diana meniup poni belah tengahnya.
Diana Hill adalah seorang gadis yang bertumbuh tinggi, aku sempat iri padanya meski hanya berbeda dua senti saja. Nyatanya, aku iri oleh tubuhnya yang ideal sedangkan aku terlalu kurus seperti orang terkena penyakit anoreksia. Dia memiliki kulit berwarna sedikit kecokelatan karena aku tahu dia sering berjemur di pantai saat musim panas. Warna kulit tubuh dan matanya sama dengan kembarannya, Alexander Hill, matanya berwarna biru langit yang jernih, yang membedakan keduanya hanyalah memiliki rambut kuning blonde, sedangkan Alex—begitu aku memanggilnya—memiliki rambut putih blonde, jika dilihat-lihat mirip kakek-kakek yang memiliki uban.
Jika aku lebih memilih menggunakan dress selutut dengan warna pastel yang lembut, tidak dengan Diana. Walaupun kami berdua sama-sama yah, sedikit tomboy, tetapi dia lebih memilih menggunakan celana jins berwarna abu-abu tua, dengan kaos berwarna kuning kunyit bergambar garis kucing—hello kitty—dan memakai sepatu olahraga berwarna merah tua. Rambutnya sering dikuncir kuda. Sedangkan aku memilih digerai.
Kami berdua berjalan ke arah stand makanan di sebelah kiri dari pintu masuk, dan kami pun memilih menu makan siang yang tersedia untuk hari ini. Kami bergantian mengambil makan dengan Alex dan Thomas karena takut tempat kami diambil alih oleh orang lain. Serius, mencari meja untuk makan di jam makan siang dan istirahat itulah yang tersulit.
Aku dikejutkan oleh seorang anak laki-laki berparas orang Italia yang berdiri di antara Thomas dan Alex yang berjalan beriringan. Sepertinya mereka sedang berbincang mengenai apa entah aku tidak mau tahu. Yang jelas, orang ini terlihat asing bagiku. Saat jarak kami semakin sedikit dan dia sudah meletakkan alat makannya di atas meja, berhadapan denganku, dia sadar bahwa aku telah memperhatikannya dari tadi.
Aku melihat dia tersenyum gugup, "Aku lupa belum berkenalan denganmu." Satu alisku naik. Siapa yang peduli? "Namaku Hans Giordano. Salam kenal."
Dia mengulurkan tangannya seraya aku memerhatikan wajahnya, penuh minyak, memiliki bekas jerawat di pipi kiri dan kanan, hidungnya mempunyai pori-pori besar, rambut dan matanya sama-sama berwarna hitam. Dan paras wajahnya, Yah, seperti yang kubilang tadi, khas orang Italia. Rambutnya pendek sedikit bergelombang dan kurasa berminyak, wajahnya bahkan di bawah rata-rata jika dibandingkan dengan Thomas. Dia memakai celana panjang berwarna biru tua, dan kaos abu-abu yang terkesan sedikit kotor oleh minyak, oli, dan entah apa lagi. Apa dia kerja sambilan menjadi montir di sebuah bengkel?
Aku tersenyum kecil, lalu mengangguk, pada dasarnya aku tidak biasa bersalaman dengan orang asing ataupun orang yang baru kukenal. Di sekolah ini, selama ini, aku hanya mengenal dekat ketiga teman yang sudah menduduki kursinya masing-masing dan hampir disibukkan oleh makanan mereka sebelum aku merusak suasana. Mereka menatapku seakan aku berubah menjadi sesuatu yang menjijikan dan aku sadar kalau aku telah berlaku tidak sopan. Aku berdehem kecil, "Liz Carter, salam kenal." Lalu memegang garpu dan sendokku, mulai memakan makan siangku.
Aku menoleh ke arah Diana dan mulai mengomentari makanannya yang kurasa biasa saja, padahal aku melihat Alexander Hill makan dengan lahap, lalu meminum coke yang ada di kaleng. Membuatku terkesiap menatap ke sekitar piringku. Aku lupa mengambil minum karena kurasa tadi belum diletakkan di stand saat aku mengambil makanan.
Aku pun beranjak dari duduk setelah menghabiskan suapan terakhirku, "Aku pergi sebentar. Beli minuman." Ucapku singkat lalu berjalan ke arah vending machine di dekat pintu keluar. Aku baru akan cepat-cepat ke sana, tetapi sesosok wanita yang membawa kedua anak itu berada di sana. Membuat kedua kakiku terpaku, dia berdiri di depan vending machine. Lalu beberapa detik kemudian menoleh ke arahku dan menyeringai. Dia pun pergi ke belokan yang mengarah halaman belakang, ke arah jalan raya yang sempit. Dengan bodohnya aku mengikuti, mengabaikan Diana, Thomas, dan Alexander yang memanggilku.
.
Aku terlanjur penasaran kenapa wanita ini berada di area sekolahku. Sampai pada dia berhenti di belokan jalan raya. Sosok ibu-ibunya itu menoleh ke arahku, atau bahkan menatap ke arahku, melotot lebih aku menyadari kedua matanya tidak tampak biasanya. Matanya penuh warna hitam dan menyala seperti arang panggangan pada barbeque, dia melepaskan kedua tangan anak-anaknya yang mulai berubah bentuk.
Satu kata dalam benakku : Aneh, mereka berubah bentuk menjadi semacam kalelawar? Aku tidak tahu pasti, tetapi jari-jari mereka memanjang dan cakarnya benar-benar terlihat tajam. Pakaiannya berubah menjadi sayap kulit yang amat besar. Seketika aku terkesiap, merasa ingin lari tetapi sialnya, kedua kakiku seakan terpaku di aspal bewarna hitam ini, mereka bukan manusia. Bisik benakku. Mulut ketiganya penuh taring kuning, seakan tengah bersiap untuk mencabik-cabik, mengoyakkan dagingku dengan tidak beraturan. Aku bergidik ngeri. Sekaligus sedikit lega karena akhirnya kakiku bisa digerakkan.
Aku bergerak mundur pelan-pelan, tetapi ketiga mahluk itu malah melangkah maju, ekspresi ketiganya sama, menyeringai dan menatap tajam ke arahku. Seolah aku adalah mangsa empuk yang enak. "Tidak, aku tidak enak." Aku segera menutup mulutku setelah mengucapkannya.
Kedua mahluk di samping kanan-kiri ibu-ibu kalelawar itu menoleh, seakan menunggu perintah, ini gawat. Bisikku lagi. Mereka kemudian memekik dan bergerak maju dengan cepat saat aku berusaha untuk kabur. Aku berbalik dan salah satu mahluk itu menyambar sweeter rajut berwarna krem yang kupakai. Aku pun menjerit dan aku yakin jeritanku kalah saing dengan pekikan mahluk itu.
Jarak di antara kami kian menipis, aku mulai memejamkan mata sambil menggenggam erat cincin itu, tidak, aku tidak boleh memakainya lagi, aku terlalu takut untuk memakainya, sama seperti kedekatan paruh mahluk itu pada wajahku. Aku mulai berdoa dalam hati, meminta siapa pun yang kukenal untuk menolongku.
Naasnya, doaku dikabulkan.
Aku mendengar auman suara singa dari seberang jalan tempatku hampir diserang oleh ibu-ibu kalelawar itu. Dengan satu kejapan mata aku melihat Mrs. Carry berada di sana. Kemudian, mahluk yang dengan tepat berjarak sepuluh senti dari wajahku itu berdesis, seakan tidak senang. Aku mengalihkan pandangan pada guru musikku yang tadi menanyai tentang Nero, dalam tiga detik dia telah berubah menjadi seekor anjing hitam besar seukuran badak, bermata semerah lahar, dan memiliki taring setajam belati. Oh,tidak, ini bahkan lebih buruk dari ibu-ibu yang berubah menjadi kalelawar.
Mrs. Carry menggonggong keras, dan berlari menghampiriku. Untuk sesaat, aku merasakan tatapannya agar menjauh dariku, tetapi aku salah. Tatapan itu ditujukan untuk ketiga mahluk yang hampir menyerangku. Kini, guru musikku tepat berada di depanku dengan tatapan merah laharnya yang menyala-nyala.
Dia milikku. Ucap anjing hitam itu. Mataku melotot, bagaimana bisa?
Mahluk yang seperti kelewar menoleh, yang paling besar berada di depan sedangkan sisanya berdiri di belakang. Dia milikku. Aku yang lebih dulu menemukannya, baunya kuat, tidak sekuat Tiga Besar, tetapi dia berbahaya, dia—
Mrs. Carry menggonggong lebih keras membuat mahluk itu berhenti berkata, aku mengerjapkan mataku. Apa yang diamaksud bauku kuat tetapi tidak sekuat Tiga Besar? Aku buru-buru merogoh saku sweeter kremku, mengeluarkan sekotak bungkus permen karet rasa mint. Tidak, serius, itu bukan permen karet sungguhan. Aku menekan salah satu tombol yang ada di sana dan tempat itu berubah menjadi busur berwarna silver dengan panah yang ada lima, berujung perunggu langit, kurasa.
Tiba-tiba kepalaku pusing, itu adalah benda teraneh yang pernah kulihat selain para mahluk yang sedang berdebat di hadapanku. Suara KRASS terdengar seiring dengan tumbangnya dua mahluk kalelawar yang lebih kecil. Aku melongo saat mahluk itu terbuyarkan menjadi serpihan emas sebelum terbang terhempas oleh angin.
Kedua mata hitam pekat ibu-ibu kalelawar itu melotot ke arahku, tapi tidak. Panahku masih utuh ada lima, dan kalaupun mungkin, bunyinya pasti bukan KRASS. Dia menoleh ke arah lain,aku mengikutinya, dan mendapati seorang anak laki-laki yang lebih tinggi hampir dua puluh senti dariku. Tubuhnya atletis dan kurasa umurnya masih enam belas tahun, rambut pendeknya berwarna chestnut dengan kedua iris matanya berwarna hijau jernih, wajahnya tampan. Dia memakai kaos berwarna merah tua berkerah dan celana jins berwarna biru tua. Mataku teralih ke arah tangannya yang memegang senjata tajam, aku tidak yakin benda itu disebut pedang, setahuku pegangannya terlihat sangat berbeda.
Selagi anjing hitam besar—Mrs. Carry, dan ibu-ibu kalelawar itu menatap tajam ke arah laki-laki itu, aku mengambil kesempatan berlari sedikit jauh dan langsung memanah ke arah kalelawar itu,bunyi berdesing terdengar, dan sedetik mahluk itu terbuyarkan, sama seperti anak-anaknya. Berubah menjadi serbuk emas.
Mrs. Carry menoleh ke arahku dan meraung keras, "Apa? Kau mau juga?" tantangku. Anjing itu berdesis dan hendak memakanku. Aku bersiap memegang busurku dan menarik panahku yang kedua.
Aku hampir saja melepaskan tarikan pada busurku karena terkejut oleh sebuah suara, "Tunggu, jangan dibunuh!" Teriak seorang laki-laki.
Aku menyipit, dia berada di seberang jalan, Mrs. Carry menoleh ke arahnya dan mundur saat laki-laki itu berjalan mendekat. Dia seperti laki-laki yang lebih tua dariku. rambutnya gelap dipotong shaggy, kedua iris matanya hitam segelap malam, dan wajahnya serta kulitnya hampir mendekati putih pucat, selain kedua kantung mata yang menghitam tebal. Pakaiannya serba hitam, dia memakai kaos hitam sebuah band, celana jins hitam dan memakai jaket penerbang berwarna gelap. Aku terpaku melihat senjata yang menggantung di sisi pinggangnya. Sebuah pedang berwarna hitam, gelap, terlihat tajam dan mengerikan.
Apakah seekor anjing hitam sebesar badak takut pada sebuah pedang?
Well, sepertinya iya. Karena, Mrs. Carry terlihat semakin merapat ke dinding di sisi jalan ketika laki-laki itu mendekat, dan refleks membungkuk pelan saat dia sudah ada di hadapanku. Laki-laki yang tadi membunuh mahluk kalelawar itu juga tiba-tiba ada di dekatku.
"Jangan membunuhnya, tapi, meskipun bisa, dia akan hidup kembali." Ucapnya, alih-alih takut, dia malah mengelus kepala anjing itu, membuat mataku membulat. Dia membisikkan sesuatu membuat anjing hitam itu berdesis, lalu menatap ke arahku sekilas, lalu berlari pergi.
"Ba-bagaimana bisa?" tanyaku gugup tidak percaya.
"Di Immortales." Ucapnya yakin sebenarnya aku mengetahui hal itu. Tapi, kenyataannya aku tidak tahu.
"Dia anjing neraka." Suara Diana Hill mengagetkanku, aku menoleh ke arahnya dan tiba-tiba saja Alexander Hill, Thomas Wood, dan laki-laki yang baru kukenal bernama Hans Giordano datang dan sudah berdiri di sampingku.
"Hellhound, seharusnya dia tidak ada di sini, pasti ada orang yang memanggilnya. Dan suara singa itu—"
"Kau mendengarnya?" Aku memotong ucapan anak itu.
Dia mengangguk, "Well, mahluk itu jauh, kurasa, dan sepertinya tidak akan mengganggumu." Dia mengangkat kedua bahunya, "Namaku Nico di Angelo. Senang bertemu demigod yang banyak seperti ini." Dia mengulurkan tangannya.
Aku kembali mengerjapkan mataku, tidak mengindahkan tangannya dan sadar aku jatuh terduduk di dekat dinding di sisi jalan, aku pun bangun dibantu Diana Hill. "Dan mahluk kalelawar itu? Kau mengenalnya?"
Dia mengangguk.
"Mereka bertiga adalah bawahan Ayahku. Mereka..." dia menghela napas pelan, "The Furies, atau Erinyes." Jelas laki-laki yang mengenalkan namanya, Nico di Angelo.
"Erinyes? Oh, aku tahu sekarang."Aku noleh ke arah laki-laki bermata hijau jernih itu.
"Namaku Rico Wright kalau kau ingin tahu, aku," dia berdehem pelan, "Well, kalau aku boleh menyebut nama Ayahku—"
Nico buru-buru memotong, "Jangan," dia melirik ke arahku, "Jangan sekarang."
Alexander Hill berdehem kecil, "Jadi, tadi itu Erinyes dan Hellhound, anjing neraka?" dia lebih ke bertanya daripada mengonfirmasi.
"Aku yakin kalian tahu lebih dulu daripada gadis ini, Liz Carter? Benar?" Aku kembali mengerjapkan dia bisa tahu namaku?
Aku mengangguk ragu, "Bagaimana—"
"Panjang ceritanya." Ia menoleh ke anak laki-laki yang tadi kubilang tidak setampan Thomas, "Hephaestus?" dia mengangguk pelan. "Tepat sekali."
"Kalau kalian kenal jelas tentang Hades, kalian akan tahu siapa aku." Jelasnya.
"Aku tahu, jelas tahu." Kata RicoWright, matanya menatap tajam. Nico mengabaikannya dan menatap ke arah ketiga-er, keempat temanku.
"Kau duta Lord Hades?" tanya Hans, Nico mengangguk.
"Well, Lord Hades adalah Ayahku. Aku Pangeran Kegelapan, Penguasa Bayangan, dan Ghost King." Aku tertawa kecil mendengar kata terakhir. Ghost King? Yang benar saja!
"Kenapa tertawa?"
Aku menggeleng pelan. "Apakah Ghost King itu menarik untukmu? Jujur saja, aku tidak percaya dengan adanya dewa-dewi, dan kalaupun ada, mereka pasti sudah mati." Jelasku. Sedetik kemudian, guntur terdengar di langit yang bahkan cerah cemerlang.
Rico Wright menatap lurus-lurus kearahku setelah menoleh ke atas langit, "Kau, hati-hati kalau berbicara." Nico dan keempat temanku menggangguk setuju.
Aku menghembuskan napasku. "Kalian, kalau dia benar-benar Ghost King, harusnya kalian takut, bukan?"
"Liz, sebaiknya kau menuruti kata-katanya sebelum,"
"Dia mengeluarkan tengkorak." Ucapan Diana Hill disambung oleh Alexander Hill. Dasar kembar identik, gerutuku.
"Hm, baru kali ini sepertinya aku melihat anak Aphrodite dan dia seorang laki-laki." Nico tiba-tiba saja sudah ada di depan Thomas Wood. Menatapnya. "Aku mengenal kakakmu."
"Aku tidak punya kakak." Elaknya.
Nico menggeleng, "Maksudku, saudara seibu."
Diana Hill menghela napas, "Lalu, Nico di Angelo, kenapa kau mengundang anjing neraka ke sini? Kau ingin membahayakan atau bahkan lebih parahnya, membunuh Liz?"
Nico menatapnya tajam, seakan memperingati, dan aku yakin bahwa selain aku, semua orang di sekitarku ini mengenalnya dengan baik. Aku mengalihkan pandanganku dan menunduk ke arah busur serta panahku yang kembali berubah menjadi sebungkus permen karet rasa mint.
"Aku? Tidak mungkin. Kecuali, mengirim ketiga Erinyes itu." Mataku melotot.
"Apa kaubilang?"
"Aku mengirim mereka untuk mengamatimu, Nona. Apakah kau layak atau tidak,"
"Layak katamu? Layak untuk dibunuh?"amarahku naik sampai ke ubun-ubun.
"Bukan." Jawab Nico singkat. Kemudian, terdengar bel tanda istirahat sudah habis.
"Kurasa, aku harus kembali ke kelas."Rico Wright berpamitan dan menghilang di belokan menuju bagian belakang gedung sekolah, tempat tadi aku keluar mengikuti para Erinyes.
Nico menoleh dan sedikit lama menatap tajam ke arah Rico, punggung Rico lebih tepatnya.
"Kurasa aku tahu..." dia menggelengkan kepalanya pelan. "Well,"
Dia menatap ke arahku, dan keempat temanku."Aku tahu kalian siapa." Dia menunjuk kepada mereka, lalu ke arahku. "Tapi aku tidak bisa tahu siapa dirimu, Nona."
Aku berjalan ke pinggir aspal dan mengambil satu permen karet rasa mint masih dengan bungkusnya—yang tadi berubah menjadi anak panah dan membunuh si Ibu Erinyes, lalu menyimpannya di tempat dan kembali meletakkannya di saku sweeter kremku. "Aku tidak yakin aku tahu atau tidak, tapi aku bukan demigod."
Aku mengangkat kedua bahuku,benar-benar tidak tahu apa yang mereka bicarakan. Yang aku yakini hanyalah dewa-dewi itu sudah mati berabad-abad lalu, begitupun Titan, Raksasa, dan teman-temannya. Aku bahkan tidak tahu apa itu demigod.
"Demigod itu seorang manusia setengah dewa atau dewi." Jelas Diana. Aku menoleh.
"Kau tahu? Kenapa tidak bilang padaku?" tuntutku.
"Liz, kau benar-benar tidak tahu apapun?" aku menggeleng polos.
Nico di Angelo menatap dengan tidak percaya bergantian ke arah si kembar dan aku. Seakan-akan ada sesuatu yang salah. "Dia amnesia saat kecelakaan awal tahun lalu. Jadi, kurasa, benar. Dia tidak tahu apa-apa." Jelas Thomas Wood. Tatapan Nico beralih ke arahnya.
"Tapi, meskipun begitu, aku bisa merasakan aura kalian." Ucapnya.
"Aura kematian?" tanya Hans. Nico menggeleng.
"Untuk Liz Carter ini? Iya, tetapi,tidak pada kalian." Aku melongo.
"Jadi aku akan mati?" Nico mendengus.
"Kau mortal, kita semua-para demigod dan manusia-adalah mahluk mortal dan bisa saja mati!" Kurasa, dia kehilangan kesabaran. Aku merasa aura di sekitarnya menjadi lebih gelap. Aku refleks mengusap lenganku yang kuyakin merinding.
"Slow down, Nico," ucap Hans.
"Kalaupun dia murni manusia, tidak mungkin dia bisa melihat monster-monster tadi." Ucap Alex yang menatapku. Aku merasa bersalah, apakah memang kesalahanku yang bukan seorang demigod?
"Dalam beberapa kasus," Nico berdehem membersihkan tenggorokannya, "Banyak manusia yang bisa melihat monster-monster tersebut, melihat menembus kabut."
"Kabut? Yang seperti di pegunungan?"
Nico menggertakkan gigi, namun bisa menahan emosinya, "Tidak, kabut ini adalah sihir yang diberikan para dewa-dewi sehingga manusia tidak bisa melihat monster ataupun dewa-dewi."
Kurasa jika dia terus-menerus berada di dekatku, dia harus mempunyai kesabaran tingkat tinggi, atau mungkin, dia bisa mencincang tubuhku hidup-hidup, salahkan sikap GPPH-ku.
"Kau datang untuk memberitahu kami sebuah misi?" tanyaku. Sedetik kemudian aku menyesal karena bertanya, ekspresi wajah Nico terlihat kaget mendengar ucapanku.
"Tidak, kau harus bertemu dewa-dewi ataupun mendengar ramalan untuk misimu. Dan, yah. Kurasa kalian memang punya misi." Jelasnya lagi.
Alexander Hill menghela napas, "Kau menyuruh kami untuk datang ke Perkemahan Jupiter 'kan?" Nico mengangguk.
Tiba-tiba tatapan wajahnya berubah, air wajahnya menjadi keruh, sarat akan kesedihan. Hei, apakah seorang Ghost King sering merasa sedih?
"Keadaan hampir tidak terkendali, Alex. Dua bulan lalu, Perkemahan Blasteran..."
"Tunggu." mataku menyipit saat menatap ke arah Nico.
"Kau menyebut Perkemahan Jupiter dan Blasteran, apakah itu berbeda?"
Nico menatap ke arah Diana Hill, seakan menyuruhnya agar dia saja yang menjawab pertanyaanku, aku yakin bahwa aku benar-benar telah membuatnya kesal. Diana menoleh, "Ada dua perkemahan untuk demigod. Menurut para dewa-dewi, tempat-tempat itulah yang paling aman untuk kami Jupiter untuk Romawi dan Perkemahan Blasteran untuk Yunani."Jelasnya.
Nico menghela napas, "Kalian harus segera ke sana. Monster-monster itu pasti akan kembali." Dia sekali lagi menatap ke arahku. "Mereka sepertinya... Mengincarmu."
"Hanya Liz Carter yang akan ke sana?"aku menggeleng, kuharap tidak. Tidak mungkin aku pergi sendirian, tidak mungkin aku ke sana dalam keadaan tidak ingat apa pun meski sepertinya aku tahu betul seperti apa Perkemahan Jupiter itu. Lagipula, aku bukan demigod 'kan?
"Tidak," dia sedikit menjauh dari kami."Kalian semua. Bersepuluh, aku tahu pasti sembilan orangnya adalah demigod, tapi kau..." dia menatapku sedikit lama, lalu menggeleng pelan, dia menunduk memutar cincin tengkorak di jarinya. "Kau harus mencari tahu ketidaktahuanmu."
"Maksudmu bersepuluh dengan siapa? Kami hanya berlima." Nico menepuk kening pelan.
"Bersepuluh pergi ke Perkemahan Blasteran, untuk keadaan sekarang, sebaiknya kalian berlima saja ke Perkemahan Jupiter karena empat orang lainnya, salah satu di antara mereka, juga Rico Wright, memiliki bau yang kuat." Ia menghela napas sekilas, "Aku tidak ingin kalian dibunuh oleh para monster sebelum mencapai gerbang."
"Aku harus pergi, aku yakin kita akan berjumpa lagi." Lalu, Nico di Angelo, entah bagaimana bisa, tiba-tiba saja memunculkan bayangan yang besar, lalu dia masuk ke dalamnya, dan menghilang.
Aku mengerjap-ngerjapkan mataku, "Apakah dia baru saja masuk ke dalam bayangan dan menghilang?"
.
Aku baru ingat bahwa Mrs. Carry yang tadi berubah menjadi anjing hitam besar, selain menjadi guru musikku, dia juga menjadi kepala sekolahku. Dan sialnya, aku berlima bersama teman-temanku, dipanggil olehnya di ruangan kepala sekolah yang paling kubenci untuk kudatangi.
Aku mengapit lengan Diana Hill dan beringsut ketakutan saat kami sudah tiba di depan sepasang pintu tinggi berwarna hitam kecokelatan yang bertuliskan : Ruang Kepala Sekolah.
Thomas Wood memberanikan diri dan membuka pintu, untuk anak laki-laki berumur empat belas tahun, aku akui dia cukup berani. Dia masuk lebih dulu bersama Alexander Hill, aku dan Diana mengekor di belakangnya, lalu disusul oleh Hans Giordano.
Sikap GPPH-ku mulai menjalari tubuh, aku melihat ke sekeliling, berharap menemukan hal yang aneh setelah banyak keanehan yang terjadi untuk hari ini. Tetapi tidak, ruangan ini sedikit luas, terlihat sangat biasa dengan cat dinding berwarna putih gading. Meja-meja berwarna cokelat tua, terdapat satu set bangku untuk tamu di sudut ruangan dan meja serta satu bangku kerja di bagian yang lain. Di sanalah, Mrs. Carry terduduk dan sudah kembali menjadi manusia. Aku tidak yakin apakah tadi aku benar-benar melihatnya menjadi anjing neraka atau tidak.
"Permisi," aku berdehem kecil membersihkan tenggorakan saat merasa suaraku mencicit.
"Mrs. Carry? Ada apa anda memanggil kami?" tanyaku sesopan mungkin. Takut-takut dia akan kembali menjadi sesosok anjing neraka dan menerkamku.
Mrs. Carry menyeringai ke arahku, lalu mempersilakan kami berlima duduk di kursi tamu. "Yang kaulihat sebelumnya adalah wujud asliku." Aku mengangguk.
"Dan kau ingin menerkamku." Mrs. Carry terkekeh menyeramkan, aku semakin beringsut ke arah Diana.
"Tidak, aku sebenarnya datang karena ada seseorang yang memanggilku. Sebenarnya juga, sejak musim dingin setahun yang lalu, aku sudah ada di sini." Jelasnya. Aku menunduk.
"Jadi, sekarang apa yang ingin anda lakukan pada kami?" tanya Diana Hill. Aku tahu dia sama takutnya denganku, tapi dia memberanikan diri.
"Anak Ares," ucap Mrs. Carry, dia menoleh ke arah Alex. "Dan kembarannya." Mereka berdua mengangguk kecil. Tentu saja merasa takut jika tidak membawa senjata apa pun. Seketika, aku merasa bungkus permen karet rasa mint di sakuku tiba-tiba saja menjadi berat.
"Katakan Mrs. Carry, kauingin menerkam kami?" Hans Giordano angkat bicara.
Guru musikku itu menggeleng, "Aku merasakan ada yang tidak aman di antara kalian. Terutama, teman kalian yang bernama Rico Wright. Jadi, aku harus menjauhkan kalian dari sini. Dari kehidupan manusia."
"Memangnya kaupikir kami bukan manusia?" dia menoleh garang ke arahku.
"Kalian demigod, kecuali kau."Aku menelan salivaku dengan susah payah.
"Jadi..." suara Alexander Hill terputus, aku serius dia pasti berusaha mengalihkan perhatian. "Kau mengeluarkan kami dari sekolah?"
Dalam sekejap, aku berdoa agar aku tidak dikeluarkan dari sekolah setelah tiga kali. Dan, kalaupun terjadi, ini berarti kali ke empat aku dikeluarkan. Astaga, mengapa diriku sangat bermasalah seperti ini?
"Ya, kalian dikeluarkan." Kedua mata Diana Hill melotot.
"Rico Wright?" tanyaku.
"Dia yang lebih dulu keluar dari sekolah ini, dan memang, dia sudah keluar dari tempat ini saat bel berbunyi tadi." Jelasnya.
Dan, seketika, kedua bahuku merosot. Entah kenapa Rico Wright terlalu membekas dalam benakku, aku tidak tahu apa yang terjadi beberapa menit kemudian, tetapi aku sudah berada di dalam mobil sedan berwarna abu-abu metalik dengan Alexander Hill yang menyetir. Aku menyadari hari ini adalah hari terakhirku bersekolah, dan aku menebak kami menuju rumah paman Carl Carter. Tentu saja.
Si Kembar Hill dan dua anak laki-laki yang menjadi temanku tidak akan membiarkanku tidak tahu apa-apa.
