Kakek tiriku seorang Titan
Anak jelek itu mengeluarkan api
Si Kembar Hill memiliki tombak
Aku kembali ke rumah

.

.

.

AKU TERKEJUT MELIHAT PAMANKU MENGOBROL dengan seorang
raksasa yang membawa sapu yang juga seukuran raksasa.

Serius, laki-laki yang berdiri berhadapan di sebelah pamanku saat aku dan teman-temanku mencarinya di halaman belakang adalah seorang raksasa yang sungguh besar dan tinggi. Aku merasa tingginya sekitar sepuluh kaki, warna kulitnya keperakan, rambutnya juga berwarna perak acak-acakan ala Einstein. Kedua lengan berototnya mencuat dari seragam petugas kebersihan berwarna biru yang sudah sobek-sobek. Kedua matanya berwarna perak, dan pada label nama seragamnya bertulis 'BOB'. Aku ragu dia manusia atau raksasa, atau bahkan monster.

"Bob?" Diana refleks membaca tulisan itu. Aku menoleh ke arahnya dan menatap tajam, menyuruhnya untuk diam. Tetapi, raksasa itu sudah lebih dulu menghentikan obrolannya dengan pamanku dan menoleh. Entah aku salah lihat atau tidak, dia tersenyum. Senyum yang menyeramkan bagiku tapi aku dapat merasakan sarat kehangatan dari tatapannya.

"Aku Bob. Aku berhasil hidup kembali dan melihat matahari!" Serunya riang, dia bahkan menunjuk ke arah langit cerah yang berwarna oranye bercampur jingga. Tanda hari mulai senja.

Aku berdehem, "Jadi, Bob. Sebenarnya kau—"

"Nama sebenarnya adalah Iapestus." Ucap Carl Carter, pamanku. Dia ikut menoleh ke arahku.

Aku menatapnya dengan banyak pertanyaan yang hampir meledak di kepalaku. Aku tidak pernah tahu nama itu, tetapi, padasaat itu juga aku yakin aku tahu tentangnya. Amnesia benar-benar membuatku sulit.

"Titan." Alexander yang berdiri di sebelah Diana Hill berujar.

Raksasa itu mengangguk, tetapi tidak ada kesan marah pada ekspresinya. Dia terlihat santai, "Iya, aku memang Titan, nama asliku Iapestus, tetapi aku lebih suka menggunakan nama Bob, aku teman Percy." Jelasnya panjang.

Mataku melotot.

"Percy?" ulangku.

"Ya, kau benar," aku menoleh ke arah suara, Thomas Wood. "Percy Jackson adalah temanmu. Kenapa? Kau tidak percayaaku mengetahuinya?" aku menggeleng pelan.

"Kita semua mengenal—tahu siapa itu Percy Jackson." Ucap Hans.

"Percy adalah teman yang baik." Bob setuju.

Carl Carter berjalan mendekat kearahku. "Entah kau mau percaya atau tidak, tetapi dia mencarimu."

"Aku? Siapa? Raksasa ini?" tanyaku tidak percaya.

Seakan mengerti ucapanku, Bob mengangguk. "Atalanta menemuiku, aku sedih karena sosoknya sudah menjadi singa,dia berpesan agar aku menemuimu."

Mataku kembali melotot.

"Percaya atau tidak, dia adalah kakek tirimu, Liz." Dan saat itulah aku jatuh terduduk, aku tidak sadar tubuhku terasa sangat lelah setelah apa yang sudah terjadi hari ini. Bertemu ibu-ibu dan dua anaknya yang menjadi monster kalelawar, menyaksikan Mrs. Carry berubah menjadi anjing neraka. Bertemu Rico Wright dan Nico di Angelo. Lalu, sekarang, aku mendapati seorang Titan bernama Iapestus adalah kakek tiriku?

Mengerti dengan ekspresiku, Paman Carl berkata, "Istrinya bernama Clymene adalah ibu kandung ibumu. Atalanta."

"Atalanta yang—" pamanku memberi gestur untuk tidak berbicara sesuatu pada Hans.

"Apa? Kau tahu sesuatu tentangnya?" tuntutku. Hans buru-buru menggeleng.

"Jadi, kenapa kalian pulang sekolah lebih cepat?" tanya Carl. Aku menghela napas.

"Kami dikeluarkan dari sekolah." Ucapkulesu.

"Ada tiga Erinyes dan satu anjing neraka yang hampir membunuh kami." Kata Diana Hill.

Pamanku mengalihkan tatapannya, "Kalau saja Nico tidak menolong kami,"

"Di mana dia sekarang?" Diana tiba-tiba menutup mulutnya, jelas sekali ekspresi wajahnya ketakutan saat Bob menatapnya. "Nico di Angelo, dia baik padaku."

"Kami tidak tahu, setelah mengatakan kami harus segera pergi ke Perkemahan Jupiter, dia menghilang." Jelas Diana dengan upaya besar agar suaranya tidak tersendat-sendat oleh rasa takutnya.

Carl Carter menghela napas beratnya, "Sebaiknya, memang sejak dulu aku mengantarmu ke sana, Liz."

"Apa? Tapi aku bukan demigod."Balasku.

Bob lebih memilih kembali ke halaman belakang sambil bergumam nama Nico, Percy, dan Annabeth. Aku tidak tahu mereka bertiga siapa, tetapi aku cukup lega karena tidak merasa terancam oleh seorang Titan meski dia adalah kakek tiriku.

"Nico juga bilang kalau Liz harus mengetahui identitas aslinya terlebih dulu sebelum pergi ke Perkemahan Jupiter." Ucap Alex.

"Bagaimana kalian melawan para Erinyes dan hellhound itu?" aku tahu Pamanku sedang mencoba mengalihkan topik pembicaran. Dia tidak ingin aku mengetahui identitas asliku.

"Dua Erinyes dibunuh oleh Rico Wright, anak Zeus, dan satunya lagi dibunuh oleh Liz. Sedangkan anjing neraka itu adalah kepala sekolah kami, Mrs. Carry." Jelas Diana.

Pamanku menatap lurus-lurus ke arahku. Seolah bertanya, bagaimana bisa aku membunuhnya? "Aku menggunakan bungkus permen karet rasa mint yang diberikan olehmu." Seketika senyum tipisnya terukir.

"Aku yakin benda itu akan bermanfaat walaupun anak panahnya hanya ada lima." Aku memutar bola mataku menanggapi sikap percaya diri yang melebihi seorang artis sekalipun itu.

Dia mendekat ke arahku, "Untung saja kau tidak menggunakan ini." Dia memegang cincin yang ada di kalungku. Aku mengangguk pelan seraya merasakan tatapan ingin tahu dan terkejut dari teman-temanku.

"Bisakah kau mengantar kami ke Perkemahan Jupiter sekarang?" tanya Hans Giordano sedikit tidak sabaran. Pamanku melirik, dan sekarang aku sadar bahwa dia sedang mengulur-ulur waktu.

"Aku tidak bisa mengantarnya, aku tidak tahu tempatnya berada di mana, tapi—"

"Kau bilang kau seharusnya mengantar Liz ke sana? Itu artinya kau tahu tempatnya!" Seru Hans tiba-tiba, ekspresi wajahnya seram, dia pasti marah.

"Hans, tanganmu mengeluarkan api." Ucap Diana hati-hati, aku menatap ke arah tangan laki-laki itu yang memercikan cahaya api, merah, kuning dan jingga itu. Aku mundur beberapa langkah darinya.

"Untuk sekarang, lebih baik kalian istirahat dulu, ada yang harus aku ceritakan pada Liz." Aku meringis pelan.

"Maaf, tapi pamanku benar, kalian dengar sendiri apa yang dikatakan Nico padaku, aku harus mencari tahu ketidaktahuanku. Kalian bisa menggunakan kamar-kamar di lantai dua. Sepertinya aman jika kita menginap semalam di sini." Jelasku panjang lebar.

Untungnya, teman-temanku menurut dan Hans sudah lebih dulu berjalan menuju tangga, dia sudah mematikan apinya dan sekilas aku bisa melihat ekspresi wajahnya yang bersalah padaku. Aku mengingat apa yang diucapkan Nico padanya, Hephaestus? Bukankah itu nama seorang dewa? Tapi aku tidak yakin dia adalah dewa api. Dan lagipula, kenapa sekarang aku jadi percaya bahwa dewa-dewi itu ada?

Setelah memastikan teman-temanku ke lantai dua, pamanku menarik tanganku ke ruang makan. Aku duduk di kursi tinggi di sebuah meja selagi dia membuat minuman kesukaanku. Es teh lemon.

"Jadi, apa yang kau ketahui tentangku dan tidak kuketahui?" tanyaku.

Dia mengalihkan perhatian dari blender, "Banyak, Liz."

"Sebenarnya kau tahu 'kan aku ini siapa? Kenapa kau tidak memberitahuku? Dan, Atalanta itu. Dia bukannya—"

"Dia sama sepertimu, seorang pahlawan." Ucap Carl.

"Aku bukan pahlawan." Elakku.

Carl menggeleng, "Periksa tangan kananmu." Dia menunjuk ke arah tanganku yang masih tertutup sweeter berwarna krem yang sekarang terlihat lusuh. Aku menoleh.

Kemudian, aku menuruti ucapannya, aku menggulung lengan sweeter sampai siku dan di dekat pergelangan, tempat nadiku berada, terdapat sebuah simbol. Gambar kepala singa, apel emas, tombak, busur dan anak panah, singkatan SPQR, serta tiga garis di bawahnya. Tiba-tiba saja kepalaku terasa dihantam benda keras, pusing sekali.

Sekelebat bayangan mulai berkeliaran di pikiranku, aku tidak bisa melihatnya dengan jelas, pandanganku berubah menjadi titik-titik hitam layaknya layar TV yang dipenuhi semut. "Itu simbol Romawi, kau mendapatkannya di Perkemahan Jupiter, sama seperti keempat temanmu." Aku berusaha menatapnya tajam tapi hal itu malah membuat kepalaku bertambah pusing. Perkemahan Jupiter, sebuah simbol, tiga garis, Romawi.

"Minum ini." Dia menyodorkan sebuah minuman seperti teh alih-alih teh rasa lemon, minuman ini terasa asing untukku. Lagi-lagi aku menurutinya. Aku mengeryit saat merasakan minuman itu.

"Apa ini?" tanyaku penasaran. Rasanya lumayan enak.

"Nektar." Jawabnya singkat."Minuman para dewa."

"Tapi, bukankah manusia tidak bisa meminumnya? Kalau meminumnya, akan terbakar—tunggu, kenapa aku tidak terbakar?" Ucapku bingung. Aku jelas bukan demigod yang biasa meminum minuman seperti ini, tapi kenapa aku tidak terbakar?

"Karena kau unik, kau spesial, Liz. Karena hal itu banyak monster yang mengincarmu."

"Aku harus ke Perkemahan Jupiter, Paman. Bagaimana aku bisa selamat dari para monster itu?" tanyaku lesu. Satu hal yang hanya kupikirkan saat ini adalah pergi ke tempat di mana seharusnya aku berada.

"Kau akan ke sana besok, tetapi, kau harus menemukan benda peninggalan Ayahmu terlebih dulu." Jawabnya. Aku mengerjapkan mata.

"Ayah meninggalkan sesuatu untukku?"

Carl mengangguk, "Sayangnya, benda itu terdapat di rumahmu, di Arcadia, sebenarnya benda tersebut adalah senjata. Berupa pedang, sepertinya. Tapi, tidak bisa dibilang pedang juga sih, karena pegangannya yang berbeda. Terbuat dari Emas Imperial." Jelasnya lagi.

Aku mengangguk, "Senjata seperti punya Rico Wright." Gumamku.

"Apa?" sahut Pamanku, aku menggelengdan tersenyum datar.

"Aku harus ke sana sekarang." Kataku.

"Tidak, hari sudah mulai larut,monster-monster akan semakin banyak di luar sana, kau akan dalam bahaya. Kau mungkin bukan seorang demigod, tapi teman-temanmu." Dia menghela napas, "Mereka adalah anak dari dewa-dewi Olympus. Dewa-dewi utama."

"Paman, aku harus cepat-cepat, kalau tidak—"

Ucapanku terpotong ketika Iapestus masuk ke dalam ruang makan. Aku bersyukur karena rumah pamanku terlampau besar sehingga dia bisa leluasa berjalan-jalan ke berbagai ruangan di rumah ini. Aku meliriknya, "Dia baik. Kami sudah saling mengenal selama dua minggu. Kurasa ibumu yang menuntunnya ke sini. Kalian aman ada di sini."

"Aku masih curiga." Jujurku. Aku tidak rela harus menginap walaupun hanya semalam di rumah Pamanku dengan seorang Titan.

"Bagaimanapun, dia bertemu ibumu, Liz. Percayalah dia, seperti ibumu yang percaya padanya."

"Aku mau tidur." Pamitku, sudah tidak tahan dengan obrolannya. Dia mengucapkannya seolah-olah aku mengenal ibuku, seolah ibuku sering muncul di hadapanku dan bersikap layaknya seorang ibu asli. Aku memang tidak menginginkan dia ada di sisiku selamanya, tetapi aku ingin melihatnya, sepertinya Carl melupakan kenyataan bahwa aku tidak pernah bertemu dengan ibuku, sekalipun. Dan simbol pada tanganku itu... Aku mendengus sambil menaiki anak tangga.

.

Aku bermimpi, aku berada di daerah yang jauh dari tempatku seharusnya. Aku berlari dari St. Maria Academy, panti asuhan yang menampungku sejak umurku sembilan tahun di Las Vegas. Saat aku berbelok berseberangan dengan jalan raya besar, aku melihat sebuah papan besar bertuliskan LOTUSHOTEL & CASINO. Entah dorongan dari mana, aku pun berjalan memasuki hotel itu. Aku tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya, tetapi gambar di dalam mimpiku itu berubah.

Aku berada di jalanan yang penuh dengan pohon-pohon pinus menjulang tinggi. Aku mengikuti sebuah suara wanita ke arah utara dari tempatku berdiri. Ketika aku tersandung sebuah pohon besar, suara itu berkata : Bangunlah, kau harus terus berjalan, kau tidak bisa berhenti di sini, tidak aman. Kau harus bertemu dewi serigala. Aku merasa aneh kenapa suara itu terdengar tidak asing untukku, aku pun mencoba bangun dan belum sempat berjalan, raungan sesosok monster terdengar jelas.

Aku menjerit dan berlari cepat, sialnya kaki kiriku terkilir, sampai pada di kawasan yang sepi. Hanya ada sebuah rumah bobrok—griya yang terlihat seperti sudah terbakar, berjarak seratus meter di depanku, sebuah monster yang seperti banteng berusaha mengejarku. Pada saat itulah, raungan beberapa serigala betina mendekatiku dan tiba-tiba pandanganku gelap.

Gambar itu berganti dengan ruangan yang gelap. Aku menyimpulkan bahwa aku sudah berada di dalam rumah bobrok itu. Ketika aku di dalam mimpi itu membuka mata, aku terlihat terkejut saat dua ekor serigala betina menghampiriku. "Yang Mulia, Dewi Lupa, kau harus memutuskan." Ucap seekor serigala yang lebih kecil.

"Aku memang akan memutuskannya." Aku menatapnya takut.

Serigala betina yang dipanggil dewi itu semakin mendekatiku dan raungan seekor singa betina seperti pada saat aku dikepung oleh tiga Erinyes itu terdengar. Sekarang aku bisa melihat seekor singa betina besar berukuran seperti badak, atau gajah kurasa. Mendekati serigala betina itu, memelototinya.

"Dewi, kau harus menjaganya,mendidiknya." Aku bisa mendengar ucapannya, dan aku terkejut.

Serigala betina itu menanggapi ucapannya. "Baiklah kalau kau mau aku seperti itu. Dia akan aku jadikan anak, akan kuurus, dan kujadikan seorang pahlawan, bukan seorang untuk dimakan." Jelas dewi serigala.

Singa betina terlihat mengangguk, dia berjalan ke arahku, menatapku lembut. Sekilas, aku bahkan merasa otakku tidak berjalan baik karena melihatnya seakan tersenyum. Suara itu pun terdengar lagi, kau akan aman di sini. Sesudahnya, pandanganku kembali gelap dan aku terbangun.

Aku mendapati diriku rebahan beralaskan paha Thomas, di kursi belakang sebuah mobil warna abu-abu metalik yang kuyakin milik Pamanku. Mataku mengerjap-ngerjap berusaha menerima sinar matahari yang mulai meredup. Aku bisa melihat Diana Hill yang menatapku.

"Kau tertidur selama perjalanan udara." Jelas Diana sebelum aku berucap.

"Berapa jam?" tanyaku seraya berusaha bangun dari posisiku. Thomas membantu.

"Delapan jam. Kau tidur seperti orang mati." Jelas Alex yang duduk di belakang kemudi. Dia terkekeh kecil diikuti Hans, aku merengut.

"Kurasa aku hanya tertidur beberapa menit saja." Gumamku setelah duduk di antara Thomas dan Diana. "Kita akan ke mana?"

"Arcadia." Ucap Hans lagi. Aku mendengus.

"Sepertinya kau tahu banyak sekali ya." Sindirku. Aku bisa melihat dia menggeleng dan menoleh. Ekspresi wajahnya datar namun juga terlihat senang.

"Pamanmu sudah menceritakan semuanya pada kami, Alexander harus membawamu ke Arcadia, rumah Ayahmu. Dia mengatakan kau harus mencari sebuah benda—"

"Rapier. Namanya Rapier." Sela Diana. Hans memutar bola matanya.

"Ya, itulah. Sepertinya senjata untukmu." Jelasnya.

"Untuk selama perjalanan ini sih kita belum menemukan sesuatu yang aneh, kurasa benda itu akan membantumu saat perjalanan ke Perkemahan Jupiter nanti." Ucap Alex dengan pandangan lurus kejalan raya, aku hanya bisa mengangguk, menebak-nebak apa yang akan terjadi, apa yang akan kami hadapi ke depannya. Setelah tiga puluh menit dari bandara Internasional Los Angeles, kami memasuki kota Arcadia dan sebentar lagi sampai di rumahku.

Mobil pun berhenti di depan gerbang besar setinggi tiga meter, aku yakin kalau Titan yang bernama Iapestus itu kesini, dia hanya perlu mengambil gerbangnya saja. Aku menoleh memperhatikan suasananya yang sepi, selama perjalanan tadi, jalanan juga terlihat cukup sepi, beda saat kami baru meninggalkan Los Angeles.

Aku memperhatikan rumah—mansion lebih tepatnya, tingkat lima tersebut. Ada dua pilar menjulang tinggi dengan sepasang pintu berwarna emas pucat di tengahnya. Cat dindingnya yang berwarna kuning gading terlihat mengelupas dimakan usia. Melihat rumah itu membuat kuteringat akan masa kecilku. Memang tidak terlalu banyak, tetapi ingatan itu sepertinya cukup untukku. Terutama saat-saat Ayahku sekarat terserang penyakit aneh dan tiba-tiba saja meninggal.

Aku mengikuti Diana yang sudah keluar dari mobil. Kami berlima pun berjalan menuju gerbang yang luar biasanya tidak digembok, dibiarkan terbuka begitu saja. Dari kejauhan, aku bisa mendengar auman serigala betina yang bahkan tidak menakutkan untukku.

Aku merasakan ada sesuatu yang mendorongku untuk cepat-cepat berada di dalam rumah itu, aku pun lebih dulu berjalan di depan, memimpin teman-temanku. Aku membuka hati-hati pintu tersebut dan mendapati ruangan besar itu kosong, tidak terisi apa pun meski dinding-dindingnya terlihat terbakar. Aku tidak tahu apa sebelumnya tempat ini memang mengalami kebakaran atau tidak.

"Kata Pamanmu, benda itu tersimpan di kamar utama. Aku tidak tahu di mana pastinya, tapi kau bisa mencarinya. Aku dan Thomas akan menjaga di dekat tangga." Jelas Diana Hill. Aku melirik ke arah Alex.

"Aku dan Hans menjaga di depan pintu, kalau-kalau ada sesuatu yang tidak beres." Ucapnya setelah mengerti arah tatapanku.

Aku mengangguk, "Aku akan berteriak jika memerlukan bantuan." Diana terkekeh kecil. Membayangkan kembarannya itu berteriak.

"Aku akan cepat-cepat kalau begitu." Setelahnya suasana kembali sepi, Alex dan Hans kembali ke pintu utama, berjaga di luar. Diana dan Thomas mengikutiku, begitu sampai di tangga melingkar yang terbuat dari batu marmer berwarna krem mereka berhenti.

"Kami akan menjaga di sini." Kata Thomas, aku mengangguk dan mulai menaiki anak tangga.

Tidak sulit untuk menemukan kamar utama, aku hanya perlu berbelok ke kanan dan dengan jarak tiga meter, aku langsung bisa menemukan pintunya. Sialnya, pintu tersebut telah rusak, terbelah menjadi beberapa bagian. Aku hati-hati memasuki kamar, dan mendapati ada sebuah kotak seperti peti berwarna cokelat kayu tua, berukuran sedang.

Mungkin di sana Ayah meletakannya? Pikirku.

Aku segera berjalan ke kotak kotak itu tidak seperti yang kukira, beratnya seperti tubuhku, sehingga aku benar-benar harus mengerahkan seluruh tenagaku untuk membuka tutupnya, aku mendapati sebuah kalung, rantai berwarna perak dengan liontin berbentuk kunci. Mempunyai sepasang sayap dan permata berwarna biru safir dengan ukiran kunci G pada nada musik. Ini hanya sebuah kalung dan liontin. Dimana Rapier-nya?

Belum sempat aku mencari dan menjelajahi kamar itu, terdengar teriakan Thomas dan Diana dari lantai bawah, aku buru-buru menggenggam kalung itu, menutup petinya, dan berlari ke arah tangga. Aku heran kenapa lariku menjadi cepat seperti ini, dengan jarak tiga meter antara kamar utama dan anak tangga, aku hanya membutuhkan satu detik dan melihat sebuah banteng seukuran gajah. Kulitnya terbuat dari perunggu, hampir menyemburkan api ke arah Diana dan Thomas, kemudian, aku mendengar siulan dari pintu utama, Hans yang melakukannya. Aku mendengus.

Banteng itu mengalihkan pandangan dan mengejar Hans, aku menuruni anak tangga secepat angin dan membantu Diana yang jatuh terduduk itu berdiri. "Apa itu tadi?"

"Banteng Colchis." Jawab Thomas. "Dia datang dari arah sana." Dia menunjuk ke sebuah lorong di koridor gelap di sebelah kanan. Aku melihat jendela besarnya sudah pecah.

"Kita harus membantu Hans." Ucapnya lagi.

"Kau sudah mendapatkannya?" tanya Diana, menatapku. Aku mengangguk dan menggoyangkan kalung di tanganku. "Kalung?" dia menatapku tidak percaya.

Aku hanya menyengir, "Liontin," aku menghela napas, "Biasanya benda-benda seperti itu aneh 'kan? Kita lihat nanti dia berbentuk seperti apa." Jelasku, lalu berjalan menuju pintu utama.

Aku melongo ketika melihat banteng perunggu itu sedang bertarung dengan Hans dan Alexander. Lebih-lebih lagi aku mendapati setengah lusin kawanan serigala betina di sana. Aku menghela napas, aku tahu aku mengenal salah satu dari mereka dan menurutku, lebih baik menyingkirkan banteng ini terlebih dulu.

Aku melihat Hans mengeluarkan api, "Tidak! Kau akan mati melawannya!" Teriakku, berusaha mendekat. Hans menoleh dan hampir saja tersembur oleh api yang dikeluarkan dari moncong banteng itu.

"Apa? Bagaimana—" dia menatapku tidak percaya kalau sekarang aku sudah ada di hadapannya, tanganku yang ada di lengannya refleks aku lepas. Dia pasti mengira aku melakukan teleportasi atau semacamnya. Tetapi tidak, sama seperti di lantai dua tadi, aku berlari secepat angin. Aku tidak tahu hal itu bisa terjadi padaku.

"Aku akan mengalihkan perhatian." Ucapku. Aku bersiul memanggil banteng yang sekarang kembali menyerang Diana, bahkan tombaknya yang entah dari mana dia dapatkan itu telah hancur saat ditusukkan ke tubuh banteng. Aku mempunyai ide.

Sialnya, belum sempat ideku tersalurkan, Hans sudah kembali mengambil alih.

Dia pun diterjang oleh banteng tersebut, dan seolah tidak mau menyerah, banteng itu menyemburkan api. Untuk sejenak, aku dan Diana menatapnya tidak percaya. Meski aku baru berkenalan dengan Hans, belum mengenalnya lebih jauh lagi. Aku merasa kasihan. Aku menatap ke arah Diana seakan mengatakan apakah dia akan mati terbakar?

Jawabanku dijawab oleh Hans sendiri. "Banteng sialan!" Teriaknya, dia pun membalas menyemburkan api dari kedua tangannya pada banteng perunggu itu yang berkeriut-keriut karena terkejut semburan apinya tidak dapat membakar Hans, bahkan pakaiannya pun tidak.

"Hei, banteng jelek! Kemari kau!" Teriakku saat banteng itu beralih menerjang Alex yang menusukkan tombaknya, lagi, aku tidak tahu si kembar Hill mendapat tombak dari mana.

Dan, sialnya, banteng itu sekarang benar-benar beralih padaku.

Aku pun berlari menjauh dan mendapati diriku sudah terpojok di sebuah dinding tinggi berbatu, serta berlumut hijau. Banteng itu meraung dan mengerang, aku berusaha bernapas dalam-dalam, tetapi udara di sekitarku terasa menipis, berubah menjadi uap panas. Monster itu hanya berjarak kurang dari satu meter denganku, tapi aku sudah merasakan panas logam yang terpancar dari kulit logamnya. Kedua mata delimanya memelototiku seolah menantangku.

Moncong semburan apinya berubah menjadi alat pemotong pohon, berdenyit nyaring, membuat seluruh gigi linu. Aku memejamkan mata sekilas, berpikir, memutar otakku bagaimana cara memusnahkan monster ini, seketika liontin yang ada di genggaman tanganku menjadi berat, aku kembali mendapat kekuatan, tapi, banteng itu malah menerjangku.

Aku berputar ke kiri, menghindari gilingan tajam moncongnya, bahkan menghembuskan napas pun sepertinya tidak cukup. Dia menoleh dan mengerang padaku, saat dia menegakkan moncongnya, membukanya, aku segara melemparkan liontin yang kutemukan di kamar Ayahku ke dalam mulutnya. Bersamaan dengan itu, liontin itu berubah bentuk menjadi memanjang, terus memanjang sampai berbentuk senjata seperti pedang bergagang aneh. Rapier-ku terbuat dari emas Imperial dengan gagangnya yang meliuk seperti kunci G dan sulur-sulur tanaman merambat. Menancap di suatu tempat di dalam tubuh banteng itu.

Aku berharap benda itu menusuk jantungnya.

Banteng perunggu itu berdiri tegak sedangkan tubuhnya bergerak-gerak seperti mesin rusak. Asap keluar dari beberapa lubang yang membuat udara di sekitarku terasa panas. Dalam lima detik berikutnya, banteng itu meledak menyemburkan api dan aku segera melompat menjauh darinya. Api itu padam dengan cepat secepat banteng yang tadi menyerangku berubah menjadi serbuk abu-abu, bebatuan kecil, alat-alat bekas mesin dan seketika hancur menghilang terbawa angin. Menyisakan rapier-ku yang kembali berbentuk liontin. Aku menghembuskan napas berat dan mengambilnya.

Aku teringat sesuatu dan berusaha bangkit dari posisiku, merasa sekujur tubuhku gemetar hebat karena kelelahan. Aku menepis rasa lelahku, berjalan ke arah Hans, serta ketiga temanku yang tahu-tahu sudah dikepung oleh serigala betina. "Kau, bagaimana caranya tidak bisa terbakar seperti itu?" tanyaku.

Dia menoleh, lalu mengangkat bahu, "Banteng Colchis adalah buatan Ayahku, Hephaestus. Lagipula, aku mengeluarkan api, jadi kupikir, aku kebal dengan api." Jelasnya sambil mengeluarkan sepercik api kecil di tangannya, dia tersenyum menatapku. Aku mendengus.

"Teman-teman, bantu kami. Mungkin lebih baik menjadi santapan banteng itu daripada sekumpulan serigala betina ini." Jelas Diana, Thomas meringis.

Aku menghela napas, "Sepertinya aku mengenal mereka."

Aku berjalan mendekati dewi serigala tersebut tanpa rasa takut, teman-temanku menatap seolah aku ini sudah gila karena mendekati sekumpulan serigala betina yang menyeramkan. Aku memaksakan sebuah senyuman. "Dewi Lupa, benar?"

Serigala betina itu terlihat terkejut saat aku menyebutkan namanya, dia berjalan ragu-ragu, perlahan mendekat kearahku.

Kau sampai sini dengan selamat. Mungkin teman-temanku hanya bisa mendengar raungan saja, tetapi aku benar-benar bisa mendengar bahwa Lupa berbicara layaknya manusia padaku.

"Well, tidak seperti itu juga, Dewi. Kau lihat, kami telah diserang banteng." Balasku.

Dia meraung kecil, mengatakan akan mengantarku ke Perkemahan Jupiter, aku mengarahkan tanganku ke kepalanya. "Terimakasih, Dewi. Karena telah menjagaku."

"Kau sudah mengingat semuanya?" tanya Hans, aku menoleh.

"Dan kau dijaga oleh serigala betina ini?" sambung Diana.

"Namanya Lupa, Dewi Serigala." Ucapku.

Alexander Hill berdehem, "Lupa Capitolina," dia mengangguk-anggukkan kepala, lalu menoleh ke arah Sang Dewi Serigala. "Serigala betina yang membesarkan Remus dan Romulus?" serigala betina itu meraung, meski aku yakin itu bukan tanda dia marah, melainkan, mengiyakan ucapan Alex.

.

Dewi Seringala betina dan kawanannya mengantar kami sampai San Fransisco dan mengatakan bahwa dia tidak bisa jauh-jauh dari sana, jadi kami berlima harus mencari jalan sendiri menuju Perkemahan Jupiter. Dia juga mengatakan bahwa pintu masuknya terdapat di tengah-tengah jalan tol. Aku hanya mengangguk dan menghentikan sebuah mobil. Dengan terpaksa Alex memukul wajah laki-laki yang menyetir hingga tidak sadarkan diri dan kami pun membawa pergi mobilnya.

Memang, perlakuan yang jahat, tapi kami tidak memiliki pilihan lain. Hari sudah hampir menjelang malam dan kami tidak mau semakin banyak monster yang mengikuti.

Selama di dalam mobil, kami tidak terlalu berisik, aku sendiri lebih tertarik memperhatikan jalan-jalan dan pemandangan. Terdapat gunung-gunung tinggi keemasan tertimpa sinar senja, dan lautan yang terlihat indah, kalau saja kami tidak kelelahan, aku pasti sudah benar-benar mengaguminya. Jalan raya terlihat lengang dengan lalu-lalang mobil yang teratur. Diana dan Thomas tertidur, Alex masih fokus menyetir dan aku merasa kasihan padanya. Sejak dari rumah Pamanku, dia yang selalu menyetir mobil, karena memang hanya dia yang bisa menyetir dan mempunyai surat izin mengemudi.

Mobil mulai memasuki jalan tol, aku mempertajam penglihatanku, dan insting yang diberikan oleh dewi serigala padaku terasa menggila-gila di benakku. Aku merasa bahwa kami semakin dekat dengan perkemahan. Lalu aku melihatnya, Sembilan puluh meter di depan, terdapat terowongan yang menyerupai mata tengkorak raksasa. Di antaranya adalah jalur yang berlawanan. Terowongan itu menembus kaki bukit entah ke mana, aku benar-benar payah dalam hal mengetahui jalanan di Amerika.

Di tengah-tengah antara terowongan itu, dari sisi bukit, dinding semen menyembul dan terdapat sebuah pintu yang aku tahu terbuat dari logam. Pintu tersebut menyerupai sebuah bunker sekaligus hidung. Itu adalah pintu masuknya, aku benar-benar yakin.

"Kau lihat pintu itu 'kan?" tanyaku. Alex mengangguk dan kami semakin mendekati terowongan itu, aku membangunkan teman-temanku.

"Seperti bunker. Kau yakin itu pintu masuknya?" tanya Hans.

"Seratus persen. Insting-ku benar-benar kuat." Jawabku.

Alex pun menepikan mobil, dan kami memikirkan bagaimana caranya bisa sampai di tengah-tengah tanpa harus terluka, apa lagi diserang monster. Aku memperhatikan pintu itu dari jauh, karena aku bisa melihat menembus kabut, aku bisa melihat ada dua anak memakai baju tempur yang mengapit jalan masuk tersebut. Mereka memakai perpaduan baju aneh yang tidak asing untukku. Helm Romawi berjambul, tameng dada, sarung pedang, celanajins, kaos berwarna ungu, dan sepatu olahraga berwarna putih.

"Aku merasa kenal orang itu." Kata Diana sambil menunjuk penjaga wanita di sisi kanan.

"Dia Hazel Levesque 'kan?" ucap Thomas tidak yakin.

Aku memperhatikan keempat temanku yang sepertinya menatap dengan ekspresi bagaikan sudah menemui teman lama, sedangkan aku sendiri merasa sama sekali tidak mengenal mereka.

"Mari kita—" belum sempat aku berucap, aku mendapati kedua penjaga itu diserang monster.

"Ayo, kita tolong mereka!" Seru Alex, entah bagaimana caranya kami semua selamat menyeberangi jalur jalan tol dan sudah sampai di tengah-tengah.

"Gorgon." Gumam Hans.

Monster itu sebanyak dua ekor, berwajah wanita tetapi mempunyai rambut ular dengan warna cerah. Yang satu memiliki ular belang-belang, yang satunya lagi berwarna hijau cerah. Hanya itu yang dapat dibedakan, mereka memakai baju pegawai supermarket berwarna hijau. Kalau saja aku tidak bisa melihat menembus kabut, aku pasti melihat mereka bagaikan nenek-nenek gemuk, pendek yang biasa berada di supermarket, menawarkan produk seperti seorang sales. Sampai aku melirik ke bawah, kaki mereka seperti kaki ayam jago.

Monster itu meraung sampai mulutnya terbuka lebar pada penjaga wanita yang hampir menghajarnya, memperlihatkan gigi-gigi taring babi hutan berwarna perunggu dari sudut mulutnya, matanya menyala-nyala merah, sedangkan rambut mereka bergeliut-geliut menjijikan.

Aku mengeluarkan bungkus permen karetrasa mint dari saku sweeter, menekan tombol dan seketika benda itu berubah menjadi busur dengan lima anak panah perunggu langit. Aku menghela napas, "Aku bisa menangani ini." Ucapku yakin.

Aku berjalan mendahului teman-temanku, dan menarik anak panah di dalam busurku, mengarahkannya pada salah satu monster bernama gorgon. Bunyi panah berdesing terdengar selama satu detik sebelum menancap pada badan gorgon itu. Lalu, dia hancur menjadi debu berwarna abu-abu.

"Tidak, Stheno!" Teriak saudaranya. Dia menoleh kepadaku dan terlihat marah. Oh, gawat, gumamku dalam hati. Meski ditatap dengan mata tajam seperti itu, bukannya memundurkan langkah, aku malah maju dan tetap membawa busurku. Aku mengambil anak panah yang kedua. Dan menembakkannya tepat di leher monster itu.

"Selamat tinggal, Euryale."Ucapku. Setelah mahluk itu terbuyarkan, aku jatuh terduduk di depan dua penjaga tersebut, merasa kekuatanku hilang entah ke mana. Aku juga bingung kenapa aku menyebut nama gorgon tersebut, seolah aku mengingatnya.

"Elizabeth Richland!" Teriak si penjaga wanita itu dengan riang, dia berlari ke arahku saat aku sedang mengambil anak panah yang tadi ditancapkan ke gorgon bersaudara, pastinya sudah kembali berbentuk menjadi bungkus permen karet rasa mint. Aku meletakkannya kembali ke tempatnya dan memasukkannya di saku sweeter.

Mataku melotot mendengar nama itu, terdengar tidak asing. Dan pandangan di sekililingku berputar-putar, pelan, memang. Tapi, kepalaku mulai pusing. Elizabeth Richland. Itu namaku, aku yakin itu namaku. Tapi, kenapa teman-temanku malah menatapnya seolah nama itu tidak pernah ada? Seolah mereka tidak mengenalinya? Aku juga tidak ingat sejak kapan aku mempunyai nama itu. Dan, nama keluarganya, apakah itu nama keluarga Ayah kandungku?

"Ya ampun, sudah sangat lama rasanya aku tidak melihatmu." Keningku mengerut.

"Lebih baik kalian semua masuk sebelum para monster kembali mengintai." Jelas penjaga laki-laki.

"Baiklah, Praetor Zhang." Ucap Diana Hill, aku menoleh.

"Jangan seperti itu Diana, aku baru menjabatnya, jadi masih merasa tidak enak." Ucap penjaga laki-laki itu.

"Hei, Man. Jangan mengomeli adikku." Balas Alex yang muncul dari belakang Thomas.

Penajaga itu melebarkan mata, "Alexander Hill!" Serunya senang seakan baru bertemu teman lama.

"Aku heran kenapa kau tidak mengingatku. Well, Frank Zhang." Dia mengulurkan tangannya padaku. Keningku semakin mengerut. Apa sebelumnya aku memang mengenal atau bahkan akrab dengannya?

Aku menyambut jabatan tangannya, sadar kalau Hans memperhatikan, aku segera mengalihkan pandangan dan melepaskan tangan. Frank dan Hazel menuntun kami memasuki pintu logam itu, dan menemukan dua orang pekemah yang sepertinya mendapat jadwal menjaga. Frank berkata, "Gantian berjaga. Tadi kami diserang gorgon." Jelasnya pada pekemah terdekat.

"Praetor Zhang, sebaiknya aku saja yang berjaga." Usul Hazel.

"Tidak!" Aku kaget bahwa aku ikut berseru bersamaan dengan Diana. Hazel menatap bergantian ke arahku dan tersenyum tipis melihat kebingunganku.

"Reyna pasti sangat senang mereka kembali." Ucap Hazel, lalu dia menyengir.

Reyna? Pikirku dalam hati.

Tiba-tiba saja aku berhenti berjalan, terowongan tersebut hampir menuju ujungnya yang bercahaya remang-remang karena kurasa hari sudah gelap, mungkin kira-kira beberapa meter lagi, tapi kepalaku sangat pusing membuat penglihatanku berubah menjadi titik-titik hitam. Aku jatuh terduduk.

"Kau tidak mengenal Reyna?" tanya Diana.

Kurasa aku mengenali nama itu, sangat mengenalnya, tapi saat itu juga nama itu terdengar asing, aku tahu seharusnya aku merasa sangat senang karena akan bertemu dengan seseorang yang mempunyai nama itu, tetapi sekelebat bayangan di benakku kembali muncul secara tidak beraturan. Kepalaku sangat pusing.

"Reyna Avila Ramírez-Arellano, Praetor utama Legiun XII. Sebelumnya, kau yang—" belum sempat Thomas Wood menyelesaikan kalimatnya, pandanganku sudah berputar-putar, menyebabkan rasa pusing yang sangat hebat di kepalaku. Kepalaku terkulai ketanah, sepertinya terpatuk batu mozaik, hal terakhir yang aku lihat adalah wajah khawatir teman-temanku, dan pandanganku gelap.