Apakah demigod mempunyai anak?
Semuanya berubah, Kohort V berjaya
Aku melesat bagai angin dan menang
Burung-burung jahat menyerang
.
.
.
TIDAK BIASANYA AKU TIDAK BERMIMPI, hal itu membuatku gelisah. Biasanya ketika aku terlelap, mimpi-mimpi buruk seolah langsung menyerbuku saat aku menutup mata dan hendak tertidur. Tapi kejadian sore tadi adalah hal yang aneh.
Aku tidak mengingat apa pun kecuali aku jatuh ke tanah, menabrak batu mozaik, dan tiba-tiba saja pandanganku menjadi gelap, aku tidak sadarkan diri. Mataku terbuka, mengerjap-ngerjap sesaat, lalu mulai memindai hal yang dapat kulihat dengan cahaya remang-remang. Aku memandangi beberapa barang yang kurasa tidak asing di sekitarku. Baru saja aku akan bangun dari posisiku, kepalaku langsung terasa berputar-putar, seseorang menahan lenganku, aku refleks menoleh. Dan mataku melotot.
"Sebaiknya kau tiduran saja." Ucapnya dengan nada sedikit khawatir, entah kenapa. Aku tidak tahu, aku juga tidak tahu kenapa Nico di Angelo ada di sampingku saat ini.
"Kau..." ucapanku terputus.
"Panjang ceritanya." Kata Nico, seolah tahu apa yang akan kupertanyakan.
Dia meraih botol kaca sedikit tinggi yang berisi cairan berwarna yang mirip teh, menuangkannya pada gelas kecil yang biasa digunakan untuk minum bir, lalu menyodorkannya padaku. Aku tahu nama minuman itu, nektar. Minuman para dewa.
Aku menerimanya, lalu meminumnya. Beberapa detik kemudian, pusing di kepalaku lumayan terobati. "Terimakasih." Ucapku setelah meletakkan gelas ke tempat semula.
"Jadi, bagaimana keadaanmu?" tanyanya.
Aku meliriknya, "Harusnya aku yang bertanya," dia membalas tatapanku, "Bagaimana kau bisa ada di sini? Bukannya kau ada di New York?"
Nico hanya tersenyum tipis,hampir-hampir tidak terlihat. "Aku bisa berada di mana saja dalam sekejap."
Seketika aku pun teringat saat dia menghilang waktu di sekolahku itu. Aku menatapnya dengan tatapan menyelidik. "Kau bisa teleportasi?"
Dia menahan tawanya, "Tidak, tentu saja tidak."
"Lalu apa? Kau menghilang begitu melompat pada bayangan." Tanyaku curiga. Salahkan sikap GPPH-ku yang membuatku tidak bisa dibiarkan penasaran begitu saja.
Nico menunduk, memutar cincin perak tengkoraknya, lalu dia menghembuskan napas, "Namanya perjalanan bayangan."
"A-apa? Perjalanan bayangan? Bagaimana itu bisa terjadi?" tanyaku lagi, tidak percaya, tentu saja. Mana ada orang yang melakukannya? Aku bahkan tidak tahu apakah itu hal yang nyata atau tidak. Nico baru akan menjawab pertanyaanku saat pintu terbuka. Aku pun tersadar aku berada di sebuah ruangan, ehm, tidak. Kamar, ya sebuah kamar. Kamar yang seharusnya tidak asing untukku. Seorang wanita berjubah ungu masuk lebih dulu, diikuti oleh laki-laki bernama Frank, dan wanita bernama Hazel yang tadi menjaga pintu logam, juga dua anjing automaton yang sepertinya mengenaliku. Mereka bertiga memakai baju tempur.
"Reyna, dia sudah sadar." Ucap Nico, mataku menyipit memperhatikan wanita yang dipanggil Reyna oleh Nico.
Aku memperhatikan wajahnya begitu dia berdiri di hadapanku. Aku yakin aku pasti mengenalnya dulu, sebelum aku amnesia, tapi kenapa sekarang rasanya sangat asing? Reyna memiliki wajahnya tegas dan berwibawa, matanya berwarna hitam menusuk, dan rambutnya pun berwarna hitam. Sorot matanya seakan menunjukkan campuran perasaannya. Antara gelisah, cemas, takut, marah, dan entah apa lagi. Aku bisa melihat bawah bagian putih matanya sedikit memerah, aku tidak yakin, tapi menurutku dia habis menangis.
"Ya ampun, kau habis menangis?" Nico setengah kaget, setengah meledeki. Reyna melempar tatapan tajamnya ke Nico dan laki-laki itu langsung terdiam. "Kau tidak menangis saat aku kembali ke sini."
"Aku tidak menyangka kau kembali." Keningku mengerut mendengar suaranya.
"Siapa kau?" tanyaku pelan,anjing-anjingnya terlihat menggeram kecil.
Mata Reyna melotot, "Kau tidak mengenalku?"
Aku memiringkan kepalaku, "Tidak juga. Aku merasa tidak asing, tapi aku tidak mengenalmu."
"Sudah kubilang kalau dia hilang ingatan, Reyna." Nico kembali buka mulut.
"Nico, tinggalkan kami sebentar, bawa Hazel dan Frank juga." Perintah Reyna.
"Tapi, Reyna. Kami ingin—" ucapan Hazel terpotong.
"Ini perintah." Ucap Reyna tegas,begitu Frank dan Hazel menghilang dan Nico tenggelam dalam bayang-bayang yang baru kusadari, dia menghela napas. Dia kembali menatapku.
"Elizabeth Richland." Dia memanggil nama yang sama saat Hazel memanggilku. Apakah itu nama asliku?
"Kau akhirnya kembali, aku—kami, sudah lama menantimu kembali. Setelah berusaha menghancurkan markas Titan di gunung Othrys bersama Jason..." dia menggeleng pelan setelah mengatakan nama itu. Tapi, tunggu. Itu bukan menjadi perhatian untukku.
"Kenapa aku menghancurkannya? Markas Titan? Tapi, rasanya tidak asing." Balasku.
Reyna menghela napas berat, dia kembali menatapku. "Kau benar-benar melupakan semuanya, Elizabeth?"
"Liz." Kataku, aku berdehem kecil, "Namaku Liz Carter, bukan Elizabeth Richland."
Reyna mengerjapkan mata, lalu berusaha tersenyum kecil. "Itu marga Ayahmu 'kan?"
"Bagaimana kau bisa tahu?" seketika aku merutuki pertanyaan bodohku itu. Tentu saja Carter adalah marga Ayahku, karena marga tersebut juga disandang oleh Pamanku, Carl Carter.
"Panjang ceritanya, Liz. Dan, bisakah kau jelaskan kenapa kau kembali lagi ke sini?"
Aku mengangkat kedua bahuku, "Maaf, Reyna. Aku hanya diperintah Nico untuk datang ke sini sebelum aku pergi ke Perkemahan Blasteran. Aku harus mencari tahu ketidaktahuanku sendiri. Dewi Lupa yang mengantarku sampai di San Fransisco setelah aku ke rumah Ayahku..."
"Dewi Lupa?" aku mengangguk.
"Apa dia ada hubungannya dengan masa laluku?" tatapan Reyna seakan sedang menerawang.
"Kau tahu, ini seperti saat pertama kali kau datang ke sini. Dulu, dulu sekali. Saat aku belum menjadi Praetor pendamping untuk Jason."
"Aku pernah datang ke sini?" Reyna mengangguk.
"Saat itu umurmu sembilan tahun. Kau menceritakan bahwa seorang serigala betina yang menuntunmu sampai sini, dia juga yang menjagamu. Aku senang karena kedatanganmu bukan membawa malapetaka,malah kejayaan Perkemahan Jupiter semakin memuncak. Kau menjadi pahlawan di sini, dan kau menjadi—"
"Praetor." Ucapku yakin, "Frank tadi mengatakannya padaku."
Reyna hanya mengangguk, dan kembali bercerita. "Kau sudah tahu tanda di tanganmu, Liz? Sampai sekarang pun aku tidak tahu kenapa simbolmu seperti itu. Setahuku sendiri, aku belum pernah melihat simbol seperti punyamu. Bahkan sejak kau tiba-tiba saja menghilang tahun 2009 lalu..."
"Setelah menghancurkan markas Titan itu, aku menghilang?"
"Yah, tidak ada yang tahu sebelum Jason memberitahuku bahwa kau telah menghilang. Dan kami juga tidak tahu kau pergi ke mana, menghilang karena apa, kau bahkan hilang bersama tiga temanmu yang lain."
"Thomas, Alex, dan Diana, benar?"
"Dan, di mana Jason? Dia masih jadi Praetor 'kan? Tapi, kau..." aku menatap jubah ungu yang dipakai Reyna.
"Sayangnya, Jason sudah tidak di sini lagi. Jabatan Praetor digantikan oleh Frank, dan karena kau sudah menghilang beberapa tahun, tanpa kabar, aku pun menggantikanmu menjadi Praetor." Aku hanya mengangguk.
"Aku belum tahu..." aku tersenyum kecil menatap Reyna yang menatapku dengan tatapan bingung. "Maksudku, simbol di tanganku. Aku bahkan tidak mengetahui arti semua gambarnya, SPQR itu apa, dan garis-garis itu apa, aku tidak tahu."
"Inisial SPQR itu artinya Senatus Populusque Romanus, tiga garis artinya masa mengabdimu tiga tahun. Ya, kau berada di sini tiga tahun. Sebelum kau menghilang tentunya."
"Reyna, kemarin saat di sekolahku, ada monster yang menyerangku." Sebenarnya aku tidak mau menceritakannya, tetapi tatapan Reyna berubah menjadi serius. Terlihat jelas bahwa dia pernah mengalami masa-masa sulit selama aku menghilang. Menjadi Praetor yang kutahui bukanlah hal yang mudah. Terutama bagi seorang gadis, dan dia berkata menggantikanku menjadi Praetor. Tiba-tiba aku merasa bersalah karena pernah menghilang. Reyna terlihat seperti teman yang baik untuk berbagi cerita.
"Aku mendengar raungan seekor singa betina, tapi dia tidak datang padaku. Di dalam mimpiku sebelum aku bertemu Dewi Lupa di rumah Ayahku, aku mendapat penglihatan seekor singa yang menuntunku ke rumah serigala. Nico juga kemarin mengatakan dia tidak tahu siapa diriku, tapi tadi aku mendapati dia ada di sini. Dia berkata aku bukan demigod, melainkan manusia, tetapi tidak murni. Entahlah, aku bingung. Jika aku memang manusia, aku tidak mungkin bisa melihat menembus kabut dan meminum nektar 'kan?" aku menunduk, "Nico mengatakan anak yang baru kukenal adalah anak dari Hephaestus, Thomas adalah anak dari Aphrodite, dan kepala sekolahku Mrs. Carry memanggil Hill bersaudara adalah anak Ares yang kembar. Aku..."
Lidahku terasa kelu, seakan hanya akulah yang tidak diketahui, siapakah diriku sebenarnya, aku menghembuskan napas berat, "Aku memang tidak percaya bahwa dewa-dewi itu ada, aku bahkan mengatakan bahwa mereka sudah mati berabad-abad lalu, tapi kenapa rasanya aku ingin sekali bahwa salah satu dari mereka adalah orangtuaku?"
Reyna menyadari raut wajahku yang berubah sedih, dia meremas sebelah pundakku dan memaksakan sebuah senyuman. Dia sedang berusaha menguatkanku. "Aku pernah merasakan hal yang seperti itu sebelum Bellona mengklaimku. Mungkin nanti, cepat atau lambat kau juga akan diklaim, Liz. Dan tentang singa betina itu..." dia melirik tanganku. "Mungkin dia adalah ibumu."
"Ibuku seekor singa betina?" Reyna menggeleng.
"Bukan, Liz. Mungkin seorang dewa atau dewi yang diubah menjadi singa? Yang jelas sekarang kau sudah kembali. Dan kau tahu? Kami semua, di sini tengah merindukan dan mengharapkanmu kembali. Dan, kurasa ada yang ingin bertemu denganmu di Roma Baru." Jelas Reyna.
Roma Baru, pikirku. Ingatan yang kabur di benakku kembali menari-nari.
"Keluargaku?Aku merasa mempunyai kerabat di tempat itu." Reyna tersenyum lagi, sementara sebuah terompet terdengar sangat keras dari arah luar. Dia mengulurkan tangan padaku.
"Ayo, kita harus berkumpul."
.
Aku tidak pernah sekaget ini sebelumnya saat bertemu dengan orang asing, setidaknya, manusia asing. Bermata dua, bukan satu seperti yang kulihat saat ini. Aku hampir saja menjerit kaget kalau-kalau Reyna tidak bersikap akrab oleh orang itu.
"Dia saudaranya Percy, namanya Tyson." Reyna memperkenalkan orang itu.
"Tyson, ini Liz Carter, dulu dia adalah Praetor di sini."
Aku menyambut jabatan tangannya dengan enggan, "Salam kenal." Ucapku seraya tersenyum tipis. Di sebelahnya, terdapat manusia asing yang lebih aneh lagi. Bukan, matanya tetap ada dua, tapi tubuhnya kelewat kurus, tinggi, dan yang membuatnya aneh adalah dia mempunyai sepasang sayap. Gaun panjang dan sayapnya berwarna merah, wajahnya cantik.
"Namanya Ella, dia Harpy." Jelas Tyson.
"Harpy?" tanyaku pada Reyna.
"Dia Harpy terjenius yang pernah kutemui, dia dan Tyson seharusnya ada di Perkemahan Blasteran, tetapi Percy mengatakan bahwa mereka harus menyesuaikan kitab Sibylline yang dulu terbakar."
"Dia bisa membaca ramalan?" Ella mendekatiku.
"Liz Carter, salah satu seorang manusia tidak abadi yang akan menjalankan misi menyelamatkan peramal. Dan ketika Sang Penguasa Waktu—" Tyson buru-buru menutup mulut Ella dengan tangannya yang besar. Aku tidak tahu apa arti tatapan terkejut yang diperlihatkan Tyson dan Reyna, tapi aku mendengar ucapan Ella. Kata-katanya seperti ramalan, aku bergidik ngeri.
"Tyson, kau bisa membawa Ella pergi." Kata Reyna, begitu keduanya pergi, dia menghela napas dan kami berdua melanjutkan perjalanan ke perkemahan tempat para legiun berkumpul.
Saat sampai, semua legiun terlihat sudah berbaris rapi, Hazel berada di depan barisan. Frank dan keempat temanku berada di depannya, saling berhadapan. Aku dan Reyna pun menyusul di sebelahnya.
"Kalian lihat siapa yang berada di sebelahku 'kan? Liz Carter, yang dulu kita sebut sebagai Elizabeth Richland, mantan Praetor perkemahan ini, telah kembali." Jelas Reyna, dia mengumumkan.
"Aku senang karena kita tidak akan kehilangan pahlawan terbaik lagi. Liz dulu menjadi Praetor pendamping Jason, dan aku menggantikannya saat dia menghilang karena seperti itulah kesepakatannya." Dia menghela napas sejenak.
"Liz, di depanmu ini adalah para legiun yang terdiri dari lima kohort." Dia menunjuk Hazel, "Dia adalah centurion. Centurion sendiri adalah kepala kohort, masing-masing kohort memiliki dua centurion. Sedangkan kepala perkemahannya disebut Praetor, sebenarnya maksimal hanya ada dua, tetapi peraturan itu sudah dilanggar dua kali. Tahun lalu, ada tiga Praetor di sini, Jason, aku, dan Percy Jackson. Tetapi, karena Jason lebih memilih Perkemahan Blasteran, dia mempromosikan Frank, jadi Frank yang menjabat sebagai Praetor sekarang." Jelasnya panjang.
"Lalu Percy?"
"Dia adalah sebuah pertukaran di sini, jadi dia kembali ke Perkemahan Blasteran." Aku mengangguk mengerti.
"Dulu kau adalah centurion di kohort I dan menjadi Praetor setahun berikutnya. Diana, Alex, dan Thomas adalah legiun di kohort-mu. Sedangkan Hans, dia ada di kohort V, kalau aku tidak salah ingat, dia tidak ikut menghilang denganmu." Aku memandang keempat temanku.
"Jadi, sekarang, karena kau sudah memiliki tattoo di tanganmu, tidak mungkin kau kembali mengulang masa probatio, kau telah menjadi anggota penuh legiun, tetapi hal yang kau harus putuskan sekarang adalah kau harus memastikan akan ada di kohort apa?"
Aku memperhatikan para legiun yang dipimpin oleh dua centurion, aku menatap ke arah Hazel, Frank, dan keempat temanku. Aku pun menatap Reyna, "Kau bisa memilih kohort lamamu, Liz."
"Tidak juga," suara itu mengagetkanku, dari bayang-bayang di sebelahku, Nico muncul. Dia menyeringai, "Reyna, dia bisa memilih kohort yang dia suka."
"Aku memilih kohort V." Mata Hazel melotot.
"Kau memilih kohort-ku?" tanyanya tidak percaya, sedangkan legiun di kohort lain memprotes tidak terima, berbisik-bisik ricuh. Dan seketika, suasana di sekitarku ramai.
"Reyna, ini keputusanku 'kan?" aku menatapnya, dia mengangguk, "Aku ingin berada di kohort V, memulai semuanya dari awal. Yah, mungkin hanya itu yang bisa kulakukan. Aku tidak mungkin memilih kohort lamaku, bukan karena tidak mau, tetapi hanya saja, kohort itu terasa asing." Jelasku. Michael Kahael, centurion kohort I mengangkat tangannya.
"Apakah kau benar-benar Elizabeth Richland?" tanyanya.
"Namaku Liz Carter, nama itu adalah nama yang diberikan oleh Ayah tiriku." Jawabku. Aku membalas tatapannya datar, dia menatapku seakan bertanya apakah aku mengenalnya?
"Kohort I hanya memiliki satu centurion?"
"Ya, dan lebih baik kau menjadi centurion di sini, menggantikan augur menyebalkan itu!" Seru salah satu legiun.
Aku menoleh ke arah Reyna, "Maksudnya apa?"
Reyna menghela napas, "Penggantimu sebagai centurion adalah Octavian, dia meninggal tahun lalu karena..."
"Panjang ceritanya?" dia mengangguk.
"Aku tetap memilih kohort V." Ucapku yakin.
"Hazel Levesque, apakah kau bersedia menerimanya?" Bisa kudengar kasak-kusuk dari kohort lain, banyak yang mencibir, dan kecewa. Aku tidak mengerti, kenapa mereka seolah-olah sangat mengenalku dan ingin aku berada di kohort mereka?
Karena kau unik, kau spesial, Liz.Suara paman Carl menggema di benakku. Aku memejamkan mata sekilas dan menoleh saat Nico tiba-tiba meletakkan tangannya di sebelah pundakku.
"Tentu saja!" Hazel berdehem sebentar, "Maksudku, aku sebagai centurion kohort V, bersedia menerima Liz Carter menjadi anggota legiun-ku." Jelasnya, di akhiri sebuah senyuman.
"Apakah anggota kohort-mu bersedia?" lalu, terdengar sorakan ramai di barisan Hazel, menyambut pertanyaan Reyna dengan senang gembira, seolah baru mendapatkan kotak harta karun.
"Baiklah kalau begitu, sudah ditetapkan! Liz Carter akan menjadi anggota penuh legiun di kohort V." Reyna mengumumkan.
Mendengar pengumuman tersebut, seluruh kohort pun kembali rusuh dan ramai. Ada yang tidak terima dengan keputusan Reyna, ada yang merasa senang, dan ada pula yang merasa kecewa. Aku bisa mendengar ada beberapa yang mengucapkan bahwa kohort V akan turun pamor lagi.
"Centurion!" Seruan Reyna terdengar ke segala penjuru perkemahan Jupiter, suaranya tegas sehingga membuat para legiun terdiam dan memperhatikannya. "Kalian dan anggota legiun kalian memiliki waktu satu jam untuk persiapan dan makan malam. Setelahnya, kita semua akan berkumpul di lapangan Mars. Kohort I dan Kohort II akan bertahan, sedangkan Kohort III, IV, dan V akan menyerang. Semoga beruntung!" Jelas Reyna, lalu dia menghadap padaku.
"Kami biasa melakukan simulasi perang setelah makan malam." Kata Reyna, seakan tahu apa yang akan kupertanyakan.
"Dan aku tidak akan mengikutinya." Ucap Nico.
"Aku tidak berharap kau akan mengikutinya." Balasku. Hazel yang tengah berjalan mendekat menatap kami dengan pandangan heran.
"Terserah kau saja." Nico berganti posisi menjadi di sebelah Hazel.
"Reyna, apakah benar tempatku dulu disini? Aku—Kurasa, aku bukan seorang pahlawan."
Reyna menggeleng, "Kau adalah pahlawan, Liz. Yang terbaik. Semua anggota legiun di sini menghormati dan mengakuimu."
"Tapi mana mungkin? Aku belum diklaim." Kataku.
"Kau sudah," Hazel menatapku, dia mendekatiku, menarik pelan tangan kananku dan memperhatikannya. "Singa, tombak, busur dan panah, apel emas." Ucapnya.
"Kuharap aku mengetahui arti dari simbol itu." Ucapku.
"Aku sepertinya tahu." Kata Frank tiba-tiba, dia memperhatikan simbol di tanganku. Keningnya mengerut seolah sedang berpikir keras.
"Sudahlah, kita bisa bicarakan ini nanti, sekarang kalian harus bersiap-siap dan makan malam." Ucap Reyna sebelum pergi.
"Dulu kau seperti itu." Kata Hazel, dia tersenyum.
"Aku?" dia mengangguk.
"Kau senang sekali memerintah orang." Tambah Frank.
Aku cemberut, "Tidak mungkin."
"Liz, mari mendiskusikan strategi untuk simulasi perang." Aku hanya mengangguk menuruti ajakan Diana. Dia dan Hazel pun mengapit lenganku.
"Jangan sampai kalah!" Seru Frank, aku menoleh, memperhatikan Frank, Thomas, Hans, dan Alex yang kelihatannya bahagia, entah karena apa. Aku mengangguk lagi, pandanganku teralih pada Nico, dia tidak menatapku, dia sedang memandangi langit yang segelap aura di sekitarnya. Aku mulai bertanya-tanya, apakah dia selalu terlihat seperti itu? Seketika aku merasa ingin mengetahui segala tentangnya. Aku ingin mengobrol banyak padanya. Tanpa harus berdebat tiap kali kami bertemu, tentu saja.
Kemudian, dia menoleh ke arahku. Dan, aku terkesiap.
Sebelum sosoknya semakin jauh karena Diana dan Hazel seakan menyeretku, aku melihat dia tersenyum. Sebuah senyuman yang bahkan aku ingin lihat setiap hari.
Melupakan kenyataan bahwa dia adalah seorang anak dari Hades, Dewa Dunia Bawah, Penguasa Orang Mati.
.
Aula di Perkemahan Jupiter lihat sangat besar, aku hampir bergidik ngeri melihat beberapa roh-roh angin tidak kasat mata melesat cepat ke segala penjuru aula besar ini. Memberikan piring-piring berisi makanan dan mengisi gelas-gelas para legiun. Mereka melesat dengan sangat cepat, sampai-sampai kalau saja aku salah jalan dan menabrak mereka, aku pasti akan ketumpahan makanan.
Aku memperhatikan bahwa ruang makan ini terlihat lebih ribut dibanding saat pengumuman tadi, para legiun makan dengan senang hati, duduk-duduk di sofa yang mengelilingi beberapa meja rendah. Tertawa-tawa, bergosip sambil makan, dan kadang berdiri lalu pindah ke sofa lain. Terlihat menyenangkan. Tapi sayangnya, Hazel memberitahu bahwa kohort V mendapat tempat paling tidak adil, meja mereka terletak di bagian belakang ruang makan, berada di sebelah dapur. Aku ingin sekali memprotes tapi rasanya seperti aku baru berada di sini, jadi jika aku macam-macam pasti aku akan kena tampar.
Seorang roh angin—aura—meletakkan makananku di meja makan. Aku mendapat burger daging dan kentang goreng, minumannya adalah soda berwarna biru. Aku mendapati Frank dan teman laki-lakiku sudah duduk di sana bersama Nico. Aku, Hazel, dan Diana pun menghampiri mereka. Aku duduk di sofa yang pas dengan letak makananku. Naasnya, aku jadi berhadapan dengan Nico. Dia terlihat tidak memperhatikanku, matanya seakan terpaku pada piring yang berisi makanannya.
"Kalau kalian sadar, saat pengumuman tadi aku dan adikku tidak mengatakan apa pun." Ucap Alex, setelah mengalihkan pandangan dari burger kejunya.
"Yah, itu karena Reyna pasti yakin kau akan berada di kohort V, kita teman 'kan?" Frank menoleh ke arah Alex.
"Kami juga akan mengikuti Liz tentunya. Dia memilih kohort V, kami pun memilih kohort V." Jelas Thomas.
"Kenapa aku?" tanyaku.
"Kau pemimpin kami." Ucapan itu menghentikanku yang baru akan minum.
"Pemimpin apanya? Aku newbie." Nico berdecak. Untuk sesaat, dia menatapku, dan napasku seolah terasa berhenti.
"Kau dulu memang seorang pemimpin, Liz." Aku menggeleng.
"Aku tidak merasa." Balasku. Dia melototiku, dan kembali memakan makanannya.
"Tapi aku tidak keberatan kalian ada di kohort ini." Kata Dakota, dia centurion yang mendampingi Hazel, membawa-bawa gelas piala sedangkan bibirnya merah seperti vampir.
"Dia anak Dewa Anggur, tapi tidak boleh minum anggur. Jadi, dia meminum Kool-Aid dengan takaran gula tiga atau lima kali lipat dari normal." Jelas Hazel. "Dan, aku malah senang, teman lamaku mau bergabung."
"Tapi, Liz. Apa kau sudah tahu dewa atau dewi mana yang menjadi orangtuamu? Ini sudah bertahun-tahun 'kan?" aku menatap Frank, lalu bahuku merosot.
"Aku bahkan sudah tidak peduli lagi."
"Kau harusnya sangat peduli." Kata Nico.
"Kenapa aku harus peduli? Itu hanya klaim saja, tidak penting." Balasku.
Nico menggeleng, "Aku tahu itu penting untukmu. Untuk ketidaktahuanmu."
"Kau jago memanah, siapa tahu orangtuamu adalah Dewa Apollo." Kata Frank.
Hazel menggeleng, "Ayah kandungnya sudah meninggal. Apa kau tidak ingat?"
"Pamanmu tidak memberitahu apa pun?" Tanya Nico. Aku menggeleng.
"Dia hanya berpesan agar Liz mengambil senjata peninggalan Ayahnya." Kata Alex
"Yang membuat kami semua diserang oleh banteng Colchis." Thomas dan Hans mengangguk, menyetujui ucapan Diana.
"Dan Liz melawan banteng itu sendiri," timpal Hans.
"Juga dengan kedua gorgon itu." Tambah Frank.
"Kau masih mengelak bahwa kau bukan pahlawan?" Hazel menatapku.
"Entahlah, aku sendiri bingung. Reyna mengatakan keluargaku ada di Roma Baru, mungkin aku bisa mendapat informasi dari mereka." Jelasku.
Nico mempertajam tatapannya padaku, aku tidak tahu kenapa, tapi sepertinya dia mengetahui sesuatu, yang berhubungan denganku, tetapi aku tidak mengetahuinya. "Jangan menatapku seperti itu!" Seruku. Nico mengedipkan mata, lalu mengalihkan pandangannya.
Dalam cahaya remang-remang seperti ini sekali pun, aku melihat pipinya merona. Ada apa dengan anak itu?
"Kakek tirimu seorang Titan." Thomas buka suara.
"Oh, iya, Iapestus yang bernama Bob itu." Aku mendapati Nico hampir tersedak.
"Bob hidup lagi?" tanyanya dengan nada meninggi. Aku mengerutkan kening.
"Kau kenal dia?" Nico buru-buru menggeleng, dia mengubah sikapnya, dan aku merasa dia sedang menyembunyikan sesuatu.
"Oh," tiba-tiba aku mengingat sesuatu, "Bob menyebut namamu, menanyakan keberadanmu. Sepertinya dia merindukanmu."
Aku melihat tatapan matanya tidak tentu arah, dia gugup, pikirku. "Oh, baiklah." Dia menghela napas pelan, "Dulu sekali, Percy sempat bertarung melawan Titan itu, Iapestus nama aslinya. Tetapi, Percy membuatnya hilang ingatan dan tercebur ke sungai Lethe di dunia bawah. Dan saat itulah namanya Bob. Percy meninggalkannya, tapi aku bersedia merawatnya di istana Ayahku. Dari sanalah dia mengenalku." Jelas Nico panjang lebar.
"Dan, dia adalah kakek tirimu?" Nico menatapku lagi, aku mengangguk ragu, lalu tatapannya seolah sedang berpikir-pikir. Seolah sedang menyambungkan susunan puzzle yang berantakan.
"Dia menyebut-nyebut Atalanta." Kata Hans.
"Atalanta?" ulang Nico.
"Ah, itu bisa jadi ibumu." Frank mengiyakan ucapan Hazel.
"Aku ingat Atalanta adalah seorang pahlwan, pemburu dari Dewi Artemis." Ucap Frank. Dia menatapku menyelidik.
"Lalu?"
"Hazel, kau tahu bahwa para pemburu Dewi Artemis itu perawan 'kan? Maksudku, tidak boleh mencintai dan menjaga jarak dari laki-laki?" Hazel mengangguk.
"Apa hubungannya denganku?"
Hazel berdehem, "Liz, Atalanta adalah pemburu wanita favorit Sang Dewi, tetapi dia menikah dengan pahlawan yang bernama Meleager, dan aku lupa dewa atau dewi yang mana, mengubahnya menjadi singa betina."
"Mengubahnya? Tapi 'kan—"
"Atalanta memang dikenal sebagai pemburu, dia yang pertama melukai babi hutan betina Calydonia yang berukuran raksasa karena suatu hal, dia juga satu-satunya pahlawan wanita yang ikut dengan Jason."
"Jason? Praetor lama perkemahan ini?" Hans menggeleng.
"Bukan, Jason yang asli, yang bersama para Argonaut, membawa kapal perang Argo untuk mencari bulu domba emas." Hans mengangguk-angguk.
"Aku mengerti sekarang, itu telah menjelaskan semuanya." Aku menggeleng, bukannya merasa tidak mungkin, tapi aku tidak percaya. Ibuku adalah seorang pahlawan wanita? Yang diubah menjadi singa betina? Tapi, pahlawan biasanya adalah manusia biasa 'kan?
"Larinya." Ucap Diana, dia menatapku menyelidik, "Larimu seperti angin."
"Dan Atalanta dijuluki sebagai Dewi Pelari. Di jamannya dulu, dia adalah pelari wanita paling cepat, bahkan tidak ada laki-laki yang dapat menandinginya." Jelas Nico.
"Ibu Atalanta adalah Clymene, istrinya Iapestus." Kata Alex.
"Astaga, kenapa tidak pernah kupikirkan?" ucap Hazel.
"Semuanya berkaitan." Kata Frank.
Dan semuanya membuat kepalaku tambah pusing, ucapku dalam hati. Aku bersandar pada kepala sofa. Memperhatikan teman-temanku. "Liz, ibumu adalah Atalanta."
"Itu tidak mungkin, Atalanta telah diubah menjadi singa betina. Tidak mungkin kalau Ayahku menikahi singa—"
"Liz, apa yang terjadi?" Nico menatapku dengan pandangan tidak percaya, matanya melebar seakan ingin keluar. Begitu pun dengan Hazel, Dakota, dan keempat temanku. Aku menyadari bahwa mereka tidak menatap wajahku, melainkan di atas kepalaku. Aku segera mendongak dan merasa napasku tercekat.
Simbol hologram dengan busur dan anak panah berwarna emas, disertai cahaya keemasan muncul begitu saja di atas kepalaku. Aku memperhatikan dengan takjub, merasa tidak percaya. Itu adalah simbol Apollo. Tapi, bagaimana mungkin? Aku tahu Ayahku, aku hidup dan tumbuh besar bersamanya sampai dia meninggal di usiaku yang ke tujuh tahun. Ayahku Robert Carter, dia sepenuhnya manusia, tentu saja.
"Liz, bagaimana bisa?" Frank masih menatap hologram itu.
"Ayahku sudah mati, Frank. Itu—Ini... Tidak mungkin." Hologram itu berdenyar lalu menghilang, aku menyadari suasana yang tadinya sangat ramai menjadi sepi senyap. Aku memperhatikan meja-meja kohort lain, napasku kembali tercekat saat tahu bahwa para legiun menatap kearahku.
"Liz," aku menoleh saat Diana menepuk lenganku. Kami pun mengerjapkan mata dan berusaha sadar dari apa yang telah terjadi.
"Kurasa, Ayahmu..." Hazel menghentikan ucapannya, dia menatap Nico.
Nico menggeleng, "Tidak mungkin, jika Ayahmu Apollo sekalipun, dia tidak mungkin mengklaim, dia... Dia..." Hazel menenangi Nico yang tiba-tiba gugup. Sedangkan Hans kembali menatapku setelah tenggelam dari pikirannya sendiri.
"Mungkin sebelum itu." Kata Hazel, berusaha menenangkan Nico.
"Sebelum apa?" tanyaku penasaran. Hans menepuk pelan lenganku.
"Liz, Ayahmu..." aku menatap Hans, "Anak dari Apollo."
Suara terompet yang ditiup di ujung aula terdengar, membuatku berjengit. Itu adalah tanda kami akan memulai simulasi perang. Para perwira di meja Praetor, Reyna, dan tentu saja Frank pun berdiri. Aku bahkan tidak sadar kalau Frank sudah pindah tempat duduk.
"Permainan dimulai!" Reyna mengumumkan. Sontak, para pekemah ramai-ramai berlarian mengambil perlengkapan,bersorak-sorai, dan ada juga yang sedang menyusun strategi. Ini 'kan hanya simulasi, pikirku.
Belum sempat aku menikmati keramaian tersebut lebih lama lagi, tiba-tiba saja Nico menarik lenganku, membuatku tersentak. "Apa?"
"Ikut aku." Dia masih menarik tanganku sedangkan kami berdua berjalan menjauhi keramaian. Ke tempat yang lebih sepi.
"Dengar, aku bukannya terkejut karena Apollo mengklaim dirimu, ataupun kau adalah anak dari demigod yang mempunyai Ayah Apollo. Tetapi, masalahnya, sejak dua bulan lalu Apollo telah menjadi manusia biasa." Jelas Nico, suaranya terdengar bisik-bisik, Jelas sekali dia tidak mau ada siapa pun yang mendengar. Tapi kurasa, Hazel mengetahuinya. Dia dan anak-anak kohort V sedang menyusun strategi karena kami menjadi tim penyerang.
"Dewa itu tidak bisa jadi manusia! Kau mengada-ngada." Seruku.
Nico menggeleng, "Tidak, Liz. Aku mengetahuinya, namanya berubah menjadi Lester, dia manusia biasa bahkan tidak bisa minum nektar ataupun ambrosia."
"Ambro—Apa?"
"Ambrosia. Dan, masalah utamanya bukan hanya itu. Kau dengar aku mengatakan bahwa keadaan Perkemahan Blasteran memburuk?" aku mengangguk.
"Karena Apollo berubah menjadi manusia?" Nico menggeleng lagi.
"Karena Oracle menghilang. Karena musuh kembali lagi."
"Apa itu Oracle?" Nico menggeram frustasi. "Maaf."
"Aku tahu aku harus menjelaskan lebih banyak lagi, tapi sepertinya Reyna benar, kau harus ke Roma Baru besok pagi,menemui keluarga aslimu, mencari informasi tentang riwayatmu. Mungkin saja kauakan bertemu dengan orang yang tidak kauduga." Jelasnya panjang.
"Maksudmu—"
"Hei! Liz, waktunya berperang!" Hazel menginterupsi. Nico menggigit bibir bawahnya pelan setelah melepaskan lenganku, dia terlihat kesal. Aku merasa bersalah padanya.
"Kau harus mengantarku besok." Aku menatap Nico.
"Tidak bisa, Liz. Besok aku harus ke Perkemahan Blesteran." Aku mengangguk, entah kenapa aku menjadi sedih.
"Kalian berdua membicarakan apa?" tanya Hazel curiga.
"Bukan apa-apa, sebaiknya kau antar Liz mengganti baju. Ajak Diana juga." Suruh Nico. Dia menatapku seakan berkata jangan bicarakan hal tadi pada siapa-siapa. Membuatku langsung mengangguk patuh.
Diana menghampiriku, dan kami pun berjalan ke rumah mandi.
.
Aku masih memandangi lenganku yang tadi ditarik oleh Nico saat Hazel menghampiriku di depan rumah mandi, kemudian Diana. Kami bertiga sudah bersih dan memakai baju tempur. Aku masih tidak percaya apa yang dikatakan oleh Nico, tapi, ketika ingat raut wajahnya, aku yakin pasti sesuatu yang buruk sedang terjadi. Oracle menghilang, bukankah dia bekerja seperti augur? Peramal? Seketika aku ingat kata-kata yang diucapkan Ella, Sang Harpy.
"Liz?" panggil Hazel, dia menepuk lenganku.
Aku terkesiap, "Ya?"
"Ucapan Nico, apa pun itu, jangan terlalu dipikirkan. Mungkin memang serius, tapi mungkin saja tidak terlalu buruk." Kata Hazel, aku mengangguk.
"Ayo kita pergi. Aku harus menemukan tombak yang pas untukku." Kata Diana. Kami pun berjalan keluar kohort V yang membentuk dua baris di belakang centurion, Hazel dan Dakota.
"Kau punya pedang 'kan?" tanya Hazel, kebetulan aku tepat di belakangnya.
"Rapier, tapi—"
Hazel membalikkan tubuhnya, "Mana?" aku menunjuk liontin kalungku.
"Ini." Setelah aku melepasnya dari seuntai rantai perak, liontin itu berubah menjadi Rapier Emas Imperial dengan satu permata biru safir di depan pegangannya.
"Bagus." Ucap Hazel, dia kembali menatap ke depan. Kohort V berjalan ke utara, mengitari pinggiran kota, dan menuju lapangan Mars. Bagian lembah yang paling besar dan rumputnya pendek, tanah amblas sana-sini karena ledakan. Di ujung utara berdirilah target untuk tim penyerang.
Benteng batu yang dilengkapi gerbang besi berjeruji, menara pengawas, katapel kalajengking yang membuatku bergidik ngeri, meriam air, dan pasti masih banyak lagi senjata yang menyakitkan lainnya yang disiapkan oleh pasukan pertahanan.
Aku menunjuk tembok-tembok yang kelihatannya baru selesai dibangun, "Mereka serius membangun itu tiap habis perang-perangan?" Hazel mengangguk.
"Memang harusnya seperti itu. Para legiun sudah dilatih untuk membangun. Jadi, jika suatu saat nanti kita harus membongkar perkemahan dan pergi dari tempat ini, ataupun pindah, akan lebih mudah." Jelasnya. Tentu saja tidak sesederhana itu, perkemahan ini sendiri luasnya setengah kilometer. Aku tidak mau membayangkan berapa lama waktu yang akan dihabiskan untuk membongkar seluruhnya.
Diana menunjuk benteng batu, "Di suatu tempat di dalam sana, kohort I dan II menyimpan panji-panji mereka. Tugas kita adalah masuk dan merebut panji-panji tersebut dengan selamat. Jika kita berhasil melakukannya, kita menang." Jelasnya.
"Aku pasti pernah memenangkannya." Ucapku.
Hazel menyengir, "Tentu saja, sudah kubilang kau anggota legiun yang terbaik!"
Tapi aku sudah tidak terbaik seperti itu, ucapku dalam hati. Aku tersenyum masam.
"Kita juga harus melewati katapel kalajengking dan meriam air di tembok perbatasan, bertarung untuk masuk ke benteng, menemukan panji-panji, dan mengalahkan para penjaga. Sementara itu, kita juga harus melindungi panji-panji dan pasukan kita sendiri agar jangan sampai ditangkap. Dan, kohort kita berkompetisi dengan dua kohort penyerang yang lain. Seharusnya kita bekerja sama, tapi kenyataannya tidak." Dakota menjelaskan, lalu meneguk Kool-Aid dari botol yang dia bawa.
"Kenapa tidak?"
"Tentu saja karena kohort yang merebut panji-panjilah yang mendapat kejayaan." Ucap Hazel. Mereka melangkah ketengah-tengah lapangan Mars dan membentuk barisan.
"Wasitnya siapa?"
"Reyna," Hazel menunjuk ke tempat Reyna dan Frank berdiri memperhatikan kerumunan. Aku hanya mengangguk. Aku melihat setengah lusin elang raksasa membentuk formasi terbang di atas langit yang sudah gelap, aku ingat bahwa mereka bersiaga sebagai ambulan udara bila diperlukan.
Pandanganku teralih pada menara observasi dengan tinggi kira-kira sembilan puluh meter dari benteng, mendapati Nico yang sudah di sana dengan sebuah teropong. Sedang menatap ke arahku. "Duta Hades."
"Tepatnya sih, Duta Pluto." Kata Hazel.
"Pluto adalah nama Romawi dari Hades." Timpal Diana.
"Oh, iya, kau sudah mendapat tombakmu 'kan?" Diana mengangguk, dia mengangkat tombak seukuran satu setengah meter dengan ujungnya lancip terlapis Emas Imperial.
"Kau tidak mau meminjamkan busur dan anak panahmu padaku?" tanya Thomas.
Aku meliriknya, "Gunakan saja cermin kesayanganmu itu!"
"Jadi, begini rencananya!" Seru Hazel, sebelum aku dan Thomas berdebat dan saling bunuh satu sama lain. "Karena kejayaan kohort ini sejak tahun lalu, kita pasti akan menang!"
"Itu 'kan hanya karena ide Frank." Kata salah satu legiun.
"Dan, Percy!" Seru yang lain.
"Liz, dulu kau memang berkali-kali memenangkan permainan ini, karena itulah kohort I menjadi yang terbaik. Tetapi,jangan putus asa." Jelasnya.
"Kohort V pasti menang!" Seru Dakota.
"Yang pasti, kohort lain akan melempar kita ke tembok terlebih dulu untuk memperlemah pertahanan." Seisi kohort mengerang, seolah sudah menjadi tradisi lama, aku sendiri pun meringis.
"Strateginya, regu pertama dengan Dakota," kata Hazel memperhatikan barisan Dakota, "Kunci tameng kalian dan maju dengan formasi biasa ke gerbang utama. Cobalah untuk menjaga keutuhan, pancing tembakan mereka. Dan, reguku, regu kedua." Hazel terdiam sejenak. Dia menatap satu-satu, dari aku, Diana, Thomas, Alex, Hans, dan seterusnya ke belakang.
"Karena kita mendapat gajah," dia menunjuk gajah raksasa tidak jauh dari tempat kami berdiri, "Pegang si gajah dan tangga panjat. Coba serangan samping tembok barat, mungkin kita bisa menyebarkan pertahanan mereka sehingga melemah. Dan, Liz." Dia menatapku lurus-lurus.
"Kau dikenal sebagai anggota legiun dengan lari secepat angin, uhm, secepat ibumu, mungkin? Kau bisa naik ke tempat senjata-senjata lawan kita dan mengalahkan mereka." Jelas Hazel.
"Aku tidak yakin." Diana menyikutku.
"Pokoknya, lakukan sebaik mungkin. Kalau ada yang sampai ke seberang tembok paling pertama, kupastikan agar kalian mendapat Mahkota Mural lagi. Kejayaan bagi kohort V!" Seisi kohort pun bersorak dan membubarkan barisan.
"Mahkota Mural?" tanyaku pada Diana.
"Itu adalah medali militer, hadiah untuk yang menang." Jelasnya, aku mengangguk.
"Hazel, kita akan mengendap-ngendap lagi?" tanya Diana.
Hazel menatapnya, "Kau pasti sudah tahu tentang kekuatanku. Sepertinya iya."
"Hans, kau anak Hephaestus. Bisa mengotak-atik senjata 'kan?" Hans mengangguk, "Kalau begitu, kau atur meriam air dan katapel kalajengking itu. Sedangkan aku akan mengalahkan penjaganya." Jelasku.
"Aku akan memanah mereka." Ucap Alex.
"Apa? Kau gila." Anak Ares itu menatapku tajam.
"Tidak, lagipula mereka hanya akan pingsan sepuluh menit." Jelasnya. Aku memperhatikan pasukan Dakota yang sudah memulai penyerangan. Hinaan untuk kohort V terdengar, meski kata Hazel mereka tahun lalu sudah menang, tapi tetap saja dihina. Aku bisa merasakan amarah Hazel yang mendidih. Aku pun meremas sebelah pundaknya.
"Hazel, ayo." Kami pun masuk ke dalam terowongan rahasia yang tidak diketahui siapa pun.
Sementara meriam-meriam air di ledakan di sana-sini, aku berjalan bersama Alex dengan cepat, kemudian dia memanahkan panah hydra di tembok musuh, membuat tangga tali panjang sampai di ujung tembok. Beberapa pekemah jatuh dan menjadi sangkar. Aku menoleh ke arah Hans.
"Kau duluan saja, Gadis Angin." Ucapnya, aku mendengus, lalu memanjat tangga tali itu. Di bawah, seluruh anggota legiun sedang berperang, saling melawan satu sama lain. Teriakan dan sorakan terdengar berseruan. Si Gajah yang bernama Hannibal meraung-raung memainkan belalainya dengan gembira. Aku tidak sempat memperhatikannya karena buru-buru memanjat untuk sampai puncak. Terdapat tiga penjaga di sana, aku menyeringai. Entah kenapa aku seolah telah disuntik kekuatan, dalam tiga detik aku berlari, tiga penjaga itu langsung terjatuh dari tembok dan di bawa oleh elang penyelamat.
"Beres!" Teriakku pada Hazel. Hans menghampiriku dan mulai mengotak-atik senjata di sana.
"Semuanya serang!" Teriak Hazel pada kawanannya, menyerbu pasukan pertahanan saat pintu gerbang terbuka, Hannibal pun ikut masuk.
Sebelum aku menuruni anak tangga, aku menatap Hans dan berkata, "Jangan mencoba membakar semuanya." Lalu masuk ke dalam benteng musuh diikuti oleh beberapa anak kohort V yang lain.
Di dalam markas, penjaganya lebih dari tiga orang. Selagi yang lain berperang dengan kohort I dan II yang biasanya tidak pernah berada dalam posisi hampir kalah seperti ini, aku, Hazel, dan teman-temanku yang lain pun mencari panji-panji mereka.
Hazel menaiki tubuh Hannibal dan mendobrak pintu markas besar, kami pun berlari mengikutinya. Di dalam, pembawa panji-panji kohort I dan II terlihat terkesiap mendapati kami telah masuk dengan selamat. Bendera kohort disandarkan ke dinding sekenanya saja, tidak dijaga sama sekali. Hazel dan Hannibal langsung masuk ke ruangan tersebut sedangkan aku menyeringai pada penjaga. Dalam hitungan detik mereka sudah tumbang karena kena pukul oleh gagang rapier-ku.
Aku tidak mungkin menggunakan ujung rapier dengan Emas Imperial sebagai bahannya hanya untuk permainan saja. Aku dan Diana pun merebut panji-panji dan memanjat ke punggung Hannibal bersama Hazel. Dan berderap keluar dari menara utama sambil membawa panji-panji musuh, akhirnya kohort V memperoleh kemenangannya yang kedua.
Kohort V membentuk barisan di keliling mereka. Bersama-sama mereka keluar banteng, melewati musuh yang terlihat tidak terima kami menang, aku hanya menyeringai. Pasukan sekutu juga terlihat tidak senang. Reyna dan Frank mendekat dengan senyum di wajah mereka.
"Mereka mendapat anggota legiun terbaik, tentu saja menang." Ucap salah satu centurion.
"Sudah menang!" Seru Reyna, tidak bisa menghindari kesenangannya, "Berkumpul untuk memberi hadiah!" Para pekemah berhimpun kembali ke lapangan Mars. Aku melihat banyak sekali yang cedera ringan. Luka bakar, luka iris dan robek, lingkaran hitam di seputar mata, dan patah tulang, mungkin? Aku tahu penyebab luka bakar itu, sontak aku langsung menoleh pada Hans. Dia menyengir.
Aku, Hazel, dan teman-temanku melompat turun dari gajah. Semua kohort V mengerubuni, dan memuji keberhasilan kami. "Burung-burung!" Seru Tyson yang berlari-lari bersama Ella ke arah kami. Aku mengeryit.
"Oh, ya ampun ini seperti di Perkemahan Blasteran." Gumam Tyson.
"Burung-burung, Reyna! Mereka jahat!" Serunya lagi. Sekarang dia menunjuk langit gelap. Mataku melotot melihat sekumpulan merpati bermata cerah. Tidak, bukan hanya sekumpulan, tapi ribuan,gumamku dalam hati.
"Demi dewa-dewi! Burung-burung Stymphalian!" Teriak Diana. Ribuan burung-burung mulai menukik di antara kerumunan anggota legiun. Hantu-hantu yang ada di sini pun terlihat gelisah dan menghindari burung tersebut.
"Mereka pemakan daging manusia! Mereka jahat!" Ucap Tyson, seraya memukul burung merpati dengan pentungan dan berusaha melindungi Ella.
"Hazel, busur dan anak panah, yang banyak. Aku bisa menghadapi mereka." Ucapku. Beberapa pekemah juga terlihat ketakutan, namun beberapa yang lain mencoba membunuh burung-burung itu.
Aku mendesah pelan, mengeluarkan bungkus permen karet rasa mint dari kantong, menekan tombolnya. Dan bungkus itu berubah menjadi busur dan lima anak panah. Langsung saja aku menembakkannya dengan tepat pada burung-burung itu. Selama lima detik, panahku sudah habis dan beberapa burung menjadi gundukan abu. Aku berlari mendekati kerumunan.
"Jauhi burung-burung itu," ucapku. "Bawa yang cedera menjauh dari sini. Untuk yang masih baik-baik saja, mari melawan monster itu." Saat aku sudah mendapatkan anak panah yang cukup. Aku pun berlari secepat angin sambil memanah pada burung tersebut. Elang-elang raksasa penyelamat pun ikut ambil andil dalam penyerangan ini.
Anak panah dan pedang bersahutan, suara berdesing terdengar di mana-mana, Frank juga ikut memanah sepertiku. Hazel membunuh burung-burung itu dengan senjatanya. Diana dengan tombaknya, Alex dan Hans dengan panah sepertiku. Aku menurunkan busur begitu sadar bahwa burung-burung itu terlalu banyak, tidak mungkin kami semua membunuh ribuan burung.
"Bagaimana cara mengusir mereka?" tanyaku pada Diana.
Alex berdiri di sampingnya, "Hercules menggunakan suara-suara bising! Bel kuningan! Itu bisa membuat mereka ketakutan dengan suara paling mengerikan yang bisa dia—"
"Suara seseorang? Apakah bisa?" Alex mengangguk.
Aku menghela napas, mencoba berkonsentrasi, aku menyukai musik, bahkan sejak dulu. Aku juga jago memanah, aku bisa mengobati temanku, mungkin benar aku adalah cucu Apollo. Mungkin benar kalau Ayahku adalah anak dari Apollo. Aku pun mengeluarkan siulan ultrasonik yang kuyakin bisa memekakan telinga orang-orang yang mendengarnya. Aku bersiul melengking selama lima kali. Dan akhirnya burung-burung itu pun pergi.
"Hei! Kalau mau berteriak atau bersiul seperti itu bilang-bilang dulu dong!" Seru teman satu kohort-ku. Aku tersenyum.
"Bagaimana kau bisa melakukannya?" Nico tiba-tiba saja sudah ada di hadapanku saat aku menoleh pada Hazel. Aku terkesiap.
"Nico di Angelo! Kubilang jangan menggunakan bayanganmu lagi, jangan perjalanan bayangan lagi!" Seru Hazel kesal. Nico hanya menyengir dan kembali menatapku.
"Apa?" sahutku.
"Suara ultrasonik itu." Katanya. Aku mengangkat kedua bahu.
"Aku bisa melakukannya sejak masih kecil. Ayahku mengajarkannya." Tatapan Nico seperti sedang menerawang sesuatu.
"Kau tahu, aku mengenal seseorang yang juga bisa melakukan hal itu." Ucapnya. Aku membalas tatapannya, "Namanya Will Solace, dia anak Apollo dan tinggal di Perkemahan Blasteran."
Dari suaranya, ada sarat kebanggaan, Will Solace? Sepertinya Nico tertarik padanya, atau bahkan pacarnya? Usulan itu membuat perasaanku bertambah buruk hingga aku memilih untuk mendiamkannya, aku mengambil anak panah yang kembali menjadi bungkus permen karet rasa mint. "Kau tahu, Liz?"
"Kau mungkin benar-benar cucu dari Apollo." Ucap Nico.
"Mungkin kau salah." Balasku dan mengikuti Hazel pergi ke perkemahan.
