Penjaga yang cerewet

Fakta dari kenyataan

Thomas bertemu ibunya

Hadiah atau misi bunuh diri?

.

.

.

AKU TERBANG MENGGUNAKAN ANGIN, setidaknya itu yang kulihat pada diriku di dalam mimpi. Aku berada di sebuah gunung dan sedang bertarung dengan seorang Titan. Aku tidak sendirian, tapi aku bersama seorang laki-laki yang mempunyai rambut blonde dan mata biru, tubuhnya tinggi dan wajahnya lumayan tampan.

Banyak leguin romawi yang juga sedang bertarung, berusaha menghabisi para Titan dan monster yang ramainya bukan main. Begitu keadaan mulai terkendali, aku kembali terbang mengikuti Jason memasuki sebuah markas yang terbuat dari bebatuan hitam, Markas Titan.

"Kau bantu yang lain saja! Yang ini urusannya denganku!" Seru Jason saat aku berdiri di depan pintu. Karena saat itu Jason yang memimpin, aku hanya mengangguk menurutinya dan kembali ke medan perang, membantu legiun romawi.

Aku tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya pada Jason saat seorang Titan menyerbunya, di mimpiku tersebut gambarnya telah berganti. Kini, aku melihat seorang laki-laki yang mirip Jason, tetapi tentu saja bukan dia, berada di sebuah ruangan yang gelap. Dia berhadapan dengan sebuah peti emas yang lumayan besar, cahaya remang-remang dari peti tersebut menerangi ruangan itu.

Aku merasa mengenal orang itu, aku yakin sekali. Dia menatap peti itu dengan penuh harapan di sorot matanya, dia mendekati peti tersebut dan berlutut untuk menghormatinya. Peti itu terlihat sudah tua dimakan usia, atau mungkin peti kuno? Lalu, apa yang ada di dalam peti itu?

"Sebentar lagi, kau akan bangkit kembali, Yang Mulia." Ucap laki-laki itu.

Ketika dia menoleh ke arahku, entah dia melihatku atau tidak, tapi napasku terasa tercekat. Aku mengenalinya, sangat mengenalinya malah. Dia Rico Wright. Tetapi, kenapa dia berekspresi seperti itu? Memang sepenting apa sesuatu yang ada di dalam peti tersebut?

Belum sempat aku mengetahuinya lebih lanjut lagi, aku merasa tubuhku terguncang oleh sesuatu. Aku pun terbangun dan membuka mataku. Tubuhku dipenuhi keringat dan napasku memburu, sinar matahari langsung merasuk membuat silau.

"Liz, Liz!" Panggil Diana yang mengguncang-guncang tubuhku.

Aku mengusap mataku sambil berkata, "Kau membuatku kaget."

"Kupikir kau mati." Kata Diana, "Kau seolah tidak bernapas, kau tahu."

"Uhm, aku memang kalau tidur selalu seperti itu, kenapa?" aku berusaha bangkit dari tempat tidur. Karena kemarin aku memilih kohort V, aku pun tidur di barak bersama Diana.

"Waktunya sarapan?" tanyaku lagi.

"Sarapan sebentar, habis itu Reyna menyuruhmu ke Roma Baru." Ucap Diana.

Aku bangkit dari duduk dan bersiap-siap.

.

.

.

.

.

Sudah tiga kali aku menoleh ke arah Hazel Levesque, sesekali menggigit roti isi keju dan daging ham di piringku, dan mengabaikan tatapan para legiun padaku.

Aku tidak suka diperhatikan, itu membuatku risih. Tapi apa boleh buat? Aku bukan lagi Praetor seperti Reyna yang bisa bersikap galak. Aku mendengar bisik-bisik tentang kejadian semalam, cara Apollo mengklaimku dan tentu saja, cara siulan ultrasonik yang aku lakukan untuk mengusir burung-burung juga ikut dibicarakan.

Aku memperhatikan Hazel juga bukan tanpa alasan, melainkan karena rasa penasaranku, pagi ini Nico di Angelo, adiknya Hazel itu tidak muncul di mana-mana, aku mencarinya di sekitar perkemahan tapi tidak menemukan Si Raja Hantu itu. Yang ada, aku menemukan hantu-hantu legiun yang berlalu-lalang. Untungnya, aku tidak takut pada hantu.

"Ada yang salah denganku?" tanya Hazel, sebuah batu emerald muncul dari dalam tanah di sampingnya, dia mendengus dan mengambilnya.

"Kenapa?" tanyaku balik, pura-pura tidak tahu, kembali memakan roti isiku.

"Kau menoleh padaku selama tiga kali. Kepalamu pasti akan patah kalau menoleh sekali lagi." Protes Hazel.

"Mungkin bautnya hilang." Celetuk Hans, lalu meminum sodanya. Aku melirik kesal.

"Dia mencari Nico." Timpal Diana.

Aku melotot, "Bisa tidak kau diam?"

"Nico? Dia sudah pergi ke Perkemahan Blesteran semalam." Kata Hazel santai.

"Kapan dia akan kembali?" tanya Thomas sambil mengunyah sepotong pancake. Seakan tahu pertanyaan di benakku, padahal aku tidak berniat menanyakannya pada Hazel. Aku baru mengenal Nico kurang dari seminggu. Tidak mungkin aku menanyai tentangnya tanpa membuat Hazel berpikiran macam-macam.

Hazel mengangkat bahunya, "Tidak tahu. Nanti juga datang secara tiba-tiba."

"Selamat pagi!" Kata Reyna riang, dia tiba-tiba datang bersama Frank.

Kami menjawab sapaannya dengan setengah hati, pasti tidak biasa Reyna bersikap riang seperti ini. Tapi juga membuat beberapa pekemah beranggapan bahwa hari ini akan menjadi baik, karena biasanya Reyna bersikap galak.

"Liz, tidurmu nyenyak?" aku meringis.

"Kenapa, Liz?" tanya Hans.

Aku menatap bergantian pada teman-temanku. Reyna dan Frank sudah menduduki kursi kosong yang mengelilingi meja ini. Aku ragu untuk menceritakan mimpiku, terutama karena aku belum tahu peti apa yang ada bersama Rico, kenapa Rico seakan memuja peti tersebut. Aku takut salah kira, tetapi, akhirnya aku menceritakannya juga.

"Jadi, kau memimpikan Rico?" Diana memukul lengan Alex.

"Bukan itu intinya!"

"Liz, sepertinya kita bakal mendapat berita buruk." Kata Reyna setelah lumayan lama terdiam.

"Memangnya ada apa?" tanyaku polos.

"Jika Rico memanggilnya Yang Mulia, sudah pasti usianya lama, sudah pasti dia seorang raja atau semacamnya." Jelas Frank.

"Usianya lama ya? Apa di dalam peti itu jasad seorang Titan?" tanya Thomas.

Reyna menggeleng, "Tidak, Titan tidak bisa mati, begitu pula monster dan dewa-dewi, serta para raksasa." Dia menoleh ke arahku, "Yang jelas, itu bukanlah jasad, tapi mungkin sebuah kebangkitan."

"Kebangkitan?" ulangku. Reyna mengangguk.

"Tahun lalu, Gaea telah bangkit, terbangun dari tidurnya." Ucap Reyna.

"Saat kau belum menghilang, Para Titan pun terbangkit dari kedalaman Tartarus." Aku merinding saat Hazel mengatakan 'Tartarus'.

"Jason melawan Titan tertua sendirian… Berarti, di mimpimu yang pertama, kau dan Jason hampir bersamaan melawan Titan itu." Ucap Alex.

"Tapi kuyakin masalahnya bukan itu, siapa pun atau apa pun yang ada di dalam peti tersebut pasti usianya lebih tua dari para Titan. Bisa jadi… Bisa jadi…" ucapan Reyna terputus.

"Kronos bangkit lagi." Kata Hans. Aku menatap Hans tidak percaya. Setahuku, Kronos sudah menghilang, dibunuh oleh anak-anaknya, dipotong-potong dan dibuang ke kedalaman Tartarus.

"Yang lebih tahu masalah ini tentu saja Nico." Ucap Hazel.

"Kenapa?"

"Nico bisa ada di dua perkemahan, Jupiter dan Blasteran. Aku tidak pernah mengetahui Kronos bangkit lagi, tetapi mungkin Nico mengetahuinya karena dia yang awalnya ada di Perkemahan Blasteran." Jelas Hazel.

"Kau harus ke perkemahan itu." Usul Frank.

"Lalu?"

"Bertanya pada Chiron, mungkin?" aku memandang Frank.

"Chiron? Bukannya dia centaurus?" Frank mengangguk.

"Oh, iya, dia direktur perkemahan, benar, Frank. Mungkin Liz harus ke sana. Chiron pasti lebih tahu." Hazel menyetujui.

Reyna malah menggeleng, "Kau tetap harus ke Roma Baru dulu. Kalau memang yang di dalam peti tersebut adalah Kronos, pasti kebangkitannya akan lama, Rico akan mencari alat atau benda, atau apa pun untuk membangkitkannya."

Tiba-tiba Diana terjengit, "Ada apa?"

"Liz, bulu domba emas itu." Keningku mengerut heran.

"Jason yang asli dan para Argonaut mencarinya, bulu itu bisa membangkitkan kehidupan apa pun." Napasku seketika tercekat.

"Kita harus memastikan Rico tidak mendapatkannya." Kata Reyna.

.

.

.

.

.

Aku, Reyna, Thomas, dan Hans berjalan keluar dari perkemahan menuju perbatasan dalam diam. Sibuk dengan pikiran masing-masing dan memikirkan kemungkinan-kemungkinan kalau memang Kronos akan bangkit kembali.

"Liz, kau tidak membawa senjata 'kan?"

"Memangnya kenapa?" tanyaku pada Thomas.

"Hanya saja, senjata tidak diperbolehkan di dalam Batas Pomerian." Kata Hans.

"Pome—Apa?"

"Pomerian, Batas Kota." Ujar Hans, "Di dalam terletak zona aman yang keramat. Legiun tidak boleh masuk, senjata tidak diperbolehkan. Tujuannya supaya kota aman."

Aku mulai memikirkan liontin yang menggantung di leherku, yang bisa berubah menjadi rapier bermata satu, lalu bungkus permen karet rasa mint di saku jaketku yang dapat berubah menjadi busur serta panah, dan juga cincin yang dapat membuatku menghilang.

Saat kami semakin dekat dengan kota, aku bisa mengapresiasikan betapa indahnya kota tersebut, juga merasa tidak asing. Aku pernah ke sini, aku pernah tinggal di sini, pikirku. Aku memperhatikan bangunan-bangunan yang indah, atap genting dan kubah emas yang berkilat-kilat diterpa sinar matahari. Bunga-bunga bermekaran di taman, alun-alun di tengah kota berubin batu putih dan abu-abu. Dihiasi patung, air mancur, dan pilar-pilar berlapis emas. Di lingkungan sekitarnya, jalanan diapit oleh rumah lantai dua yang baru dicat, toko, kafe, dan taman kota. Di kejauhan, menjulanglah koloseum dan arena balap kuda.

Di sisi jalan, berdirilah patung marmer putih sebesar orang sungguhan—pria kekar berambut ikal, tidak berlengan, dan bermimik jengkel. Di bawah, dia hanya berupa bongkahan marmer besar.

"Namanya Terminus, Dewa Perbatasan." Ucap Reyna sebelum maju lebih dulu.

"Berbaris satu-satu!" Kata patung itu, "Siapkan tanda pengenal kalian."

Reyna berdiri paling depan, kemudian Hans, Thomas, lalu aku. Aku memperhatikan sisi kiri-kananku, kota ini dikelilingi oleh patung-patung identik tiap interval kira-kira sembilan puluh meter. Pandanganku kembali pada Reyna, patung itu memeriksa tattoo di tangannya. "Reyna. Praetor, tentu saja, silakan."

Dia memeriksa Thomas, "Thomas Wood, strip tiga, anak Aphrodite, dan Hans strip empat anak Hephaestus, yah, keduanya silakan lewat." Dan akhirnya, patung itu menatapku.

"Aku seperti mengenalmu." Ucap Terminus.

"Dia Elizabeth Richland, Praetor yang dulu menghilang." Sembur Reyna. Terminus mengangguk-angguk, aku bahkan tidak peduli apakah dia mengenalku atau tidak.

"Liz Carter nama asliku." Ucapku.

"Coba kulihat tanganmu." Aku menjulurkan tangan kananku sedangkan dia memeriksa tattoo yang berada di lengan bawah setelah aku menggulung lengan jaketku, dia terdiam beberapa detik. Kemudian berkata, "Strip tiga, menghilang setelah tiga tahun ya? Oke, silakan. Kau tidak membawa senjata 'kan?"

"Oh, tunggu. Kau membawanya. Lepaskan! Keluarkan! Ya ampun, dua senjata sekaligus." Oceh Terminus.

Aku terpaksa mengeluarkan bungkus permen karet rasa mint dan melepaskan kalungku. Untungnya dia tidak meminta cincinku. "Rapier emas Imperial bermata satu, cukup berbahaya, tinggalkan di bald. Oh, di mana asistenku? Julia!" Dia kembali mengoceh. Aku memperhatikan seorang anak perempuan mengintip dari balik landasan patung. Dia memiliki rambut yang dikepang dua, memakai dress warna pink, dia berjalan mendekat.

"Maju jalan, bawakan baki." Kata Terminus, dan anak yang dipanggil Julia itu menurut.

Dia membawa sebuah bald dan mengulurkannya padaku. Di bald itu terdapat beberapa senjata tajam, dan benda-benda magis lainnya. Aku meletakkan senjataku di sana. "Kau boleh mengambil senjatamu dalam perjalanan keluar." Ucap patung itu.

"Julia akan menjaganya baik-baik." Katanya lagi, "Nah, karena kau baru kembali, kau memasuki batas kota. Jaga ketertiban di dalam garis kota dan mengalahlah pada lalu lintas kereta kuda selagi menyusuri jalan umum. Dan—"

"Aku mengerti, kau sangat cerewet." Celetukku, kedua matanya berkilat-kilat marah, dia pasti kesal.

"Kau—"

"Terminus, kami harus pergi, dia akan ke Roma Baru untuk bertemu keluarganya." Jelas Reyna, dia sepertinya tidak sabar dengan ucapan Terminus yang kelewat cerewet. Benar-benar patung yang banyak omong.

Aku, Reyna, dan kedua temanku pun melanjutkan jalan sementara patung itu terus berbicara, berteriak-teriak memperingati dan saat kami sudah sampai di kota, suaranya menghilang. "Kau hampir membuatnya marah, Liz." Kata Hans.

Aku mengangkat kedua bahu, "Dia menyebalkan. Banyak omong."

"Dia sebenarnya tidak menyebalkan," aku hanya mengangguk. "Ayo bertemu dengan keluargamu."

Reyna mengapit lenganku dan menuntun kami jalan di sebelah kanan, di trotoar. Beberapa blok dari jalanan umum, dia berbelok memasuki sebuah gang dan jalan setapak. Jalan ini terlihat lebih kecil dan berbatu marmer warna putih gading, mengingatkanku pada rumah Ayahku di Arcadia. Lima meter dari sana, terdapat sebuah mansion yang megah, warna cat luarnya sama, putih gading.

"Itu tempatnya?" tanyaku. Reyna mengangguk.

Reyna menekan bel yang ada di sebelah sepasang pintu kayu berwarna cokelat kehitaman, gagangnya terbuat dari emas yang berkilau. Saat pintu terbuka dan menampilkan seorang pria paruh baya, berumur sekitar enam puluh tahun, rambutnya cokelat dan sedikit beruban, tubuhnya tinggi dan besar, aku mendapati Hans tidak berkedip sedetik pun. Matanya melebar dua kali lipat.

"Hans?" aku berusaha menyadarkannya.

"Eh, apa?" dia terkesiap, lalu berkedip dan mengalihkan pandangan.

"Selamat pagi, Mr. Carter, kami dari Perkemahan Jupiter, ingin mencari informasi mengenai keluarga Carter, kami—"

Suara Reyna mengecil saat laki-laki itu berjalan mendekatiku dengan pandangan takjub. Aku menatap teman-temanku dengan gugup. Aku tidak mengenal orang ini, tapi Reyna memanggilnya Mr. Carter, itu artinya dia berasal dari keluarga Ayahku.

"Apa kabar, saudara tiriku."

.

.

.

.

.

Aku tidak pernah membayangkan bagaimana jelasnya keluargaku sebelumnya, tetapi, lukisan-lukisan di sekitar dinding koridor yang mengarah ke ruang tamu membuat beberapa keping puzzle di kepalaku mulai menyatu. Foto-foto Ayahku ada di sini, ada yang berdua dengan seorang wanita yang samar-sama kuketahui adalah ibu tiriku. Ada juga fotonya bersama orang yang tadi dipanggil Mr. Carter oleh Reyna.

"Aku lahir setahun setelah Ayahmu menikah dengan ibuku." Ucapnya sambil menggiring kami semua ke sebuah ruangan besar bercat kuning pucat. Sama seperti di koridor, terdapat foto-foto di sini. Di tengah ruangan, ada satu set sofa berwarna abu-abu, mengelilingi meja rendah yang terbuat dari kayu jati. Di salah satu sisi, terdapat tempat api unggun dan di sebelahnya ada sebuah meja, serta lemari pajangan. Mendadak, aku seperti kembali ke rumah dengan suasana seperti ini.

Hans yang pertama duduk di sofa dan terdiam, Thomas dan Reyna mengikuti. Sedangkan Mr. Carter menaiki anak tangga yang melingkar ke lantai dua untuk memanggil yang lain seolah dia kedatangan tamu dari jauh. Karena aku masih penasaran dengan foto-foto itu, aku pun berjalan mendekati lemari pajangan. Di sana terdapat beberapa fotoku saat masih kecil, saat menemukan potret seorang wanita yang menjadi ibu kandungku. Kepalaku terasa pusing, tanganku yang memegang bingkai fotonya pun bergetar.

"Meina! Siapkan minuman untuk tamu kita." Kata seorang wanita yang baru turun dari lantai dua. Dia beberapa senti lebih pendek dariku, umurnya mungkin setengah abad atau lebih, kerutan berada di sekitar wajahnya yang termakan usia namun senyumannya hangat.

"Senang sekali bisa melihatmu lagi." Ucapnya, dia menduduki salah satu sofa diikuti Mr. Carter dan seorang pria yang lain yang menuntun seorang nenek. Nenek itu menatap ke arahku, dia tersenyum, membuatku tertegun. Senyumannya, aku sangat mengenalinya.

Aku tidak mengindahkan ucapan wanita itu, tetapi aku langsung mendekati nenek itu, berjongkok di depannya, mungkin umurnya sekitar sembilan puluh tahun. "Mama." Ucapku.

Seketika suhu udara di sekitar ruangan turun beberapa derajat, semua terdiam, Reyna yang awalnya mengobrol dengan Thomas pun ikut terdiam, dan mereka semua menatapku. Meina yang baru datang dan meletakkan gelas-gelas berisi minuman pun menatapku.

"Rose, kau… Kau…" tangan keriput Rose mengusap pipiku lembut. Aku tidak percaya ini, kenapa bisa? Apa yang terjadi padanya hingga setua ini? Kupikir dia juga telah meninggal bersama William, Ayah tiriku. Tetapi…

"Kau masih cantik seperti dulu, Liz." Katanya dengan suara rendah.

"Tapi, kenapa bisa? Aku—Kupikir kau telah meninggal." Dia menggeleng.

"Hana, sebaiknya kau jelaskan padanya." Ucap Mr. Carter.

Wanita yang dipanggil Hana, yang tadi menyuruh Meina membuatkan minuman pun mengalihkan pandangannya yang baru kusadari bahwa dia tengah bertatapan dingin oleh Hans. Keningku berkerut heran, apa mereka saling kenal?

"Liz Carter," panggil Hana padaku. "Seharusnya kau sudah mati."

Aku terkesiap, begitu pula dengan teman-temanku, juga Reyna. "A-Apa?"

"Sudah mati apanya?" aku menuntut penjelasan.

Hana menghela napas sekilas, lalu berkata, "Tentu saja, umurmu lebih dari setengah abad, Liz."

Mataku melotot, "Apa katamu? Aku masih tiga belas tahun!"

Mr. Carter menggeleng, "Tidak, saudara tiriku. Kau lahir di tahun 40-an, sebelumnya aku percaya bahwa kau sudah mati saat kebakaran berpuluh-puluh tahun lalu di rumahmu di Las Vegas." Jelasnya, aku melihat Rose menundukkan wajahnya, tetapi kedua tangannya menggenggam erat tanganku.

"Tidak, aku pikir aku satu-satunya yang selamat."

"Kau dan Rose yang selamat." Ucap Hana.

"Dia Sebastian Carter, Liz. Kau tidak ingat? Dia saudara tirimu, lahir saat kau berumur lima tahun." Ucap Rose, menunjuk ke arah Mr. Carter. Aku menatapnya tidak percaya.

"Tapi, bagaimana bisa?" Reyna bertanya.

"Mr. Carter terlihat berumur, harusnya Liz lebih terlihat tua." Aku menatap tajam pada Thomas yang meledekiku tua.

"—dan dia adalah Rick Richland, anakku saat bersama dengan Ayah tirimu, Liz. William Richland." Lanjut Rose.

"Jadi itu sebabnya nama Liz sebelumnya adalah Elizabeth Richland." Simpul Reyna, Rose mengangguk.

"Lalu ini, Hana Giordano, dia menikah dengan Sebastian." Saat itu juga, Hans bangkit dari duduknya.

"Kau bohong 'kan? Kenapa kau mengkhianati Ayah?" marah Hans sambil menatap Hana dengan kesal. Aku terkesiap, menyadari kenapa ada aura tidak enak di sekitar mereka.

"Hans, ibu bisa jelaskan." Ucapnya. Dia menahan tangan Hans saat laki-laki itu akan meninggalkan ruangan, "Aphrodite mengatakan bahwa hanya Sebastian-lah yang bisa membebaskanku dari kutukan."

"Kutukan?" ucapku.

"Dan Aphrodite? Kutebak, dia ibumu?" tanya Thomas, rahangnya mengeras dan Hana mengangguk.

"Ya ampun, ini rumit." Kata Reyna, dia membanting kepalanya pada kepala sofa, terlihat frustasi.

"Yang jelas, Hans. Aku tidak mengkhianati Ayahmu, Hephaestus adalah laki-laki yang baik, tetapi kau tahu… Sebastian Carter yang bisa membantuku."

"Seorang demigod harus memiliki orangtua fana untuk diketahui DNA-nya, karena dewa-dewi tidak memilikinya." Jelas Reyna.

"Nah, hal yang lainnya adalah itu. Karena aku harus menyembunyikan identitas aslimu terlebih dulu." Kata Hana, aku memperhatikan Hans. Memang sulit untuk mempercayainya, dia kembali duduk dan menundukkan kepalanya. Aku bisa tahu dia pasti merasa kesal dan kecewa. Aku bisa merasakannya. Aku juga bisa melihat kilatan marah dari matanya.

"Nah, Liz. Kau pasti penasaran dengan Ayahmu."

"Aku penasaran dengan sejarah Ayahku." Ucapku.

"Sebaiknya, kau duduk dengan nyaman." Balas Rose setelah dia duduk di kursi roda. Aku pun menurutinya, masih dalam pikiran bahwa semua ini terasa seperti mimpi. Aku yang selama ini mengetahui hanya memiliki Carl Carter, Pamanku. Tetapi, sekarang aku menemukan kenyataan bahwa keluargaku berada di sini, di Roma Baru. Aku menatap Reyna.

"Kau benar, Nico benar." Tatapan Reyna datar tapi seolah dia mengatakan kenapa? Aku hanya membalasnya dengan tersenyum. Thomas terlihat syok karena mengetahui Hana, Ibu Hans adalah anak dari Aphrodite. Ibunya sendiri. Dan, Hans, dia masih terdiam. Kuharap dia bisa bersikap dewasa, tapi sepertinya ada hal lain yang dia pikirkan selain kenyataan ibunya menikahi saudara tiriku.

"Ayahmu bertemu dengan Atalanta sebelum bertemu denganku, tentu saja. Kemudian kau lahir. Kau tahu, Ayahmu adalah keturunan dari Apollo, dia dan Pamanmu, Carl Carter adalah anak Dewa Matahari itu. Sedangkan nenekmu dari pihak Ayah merupakan anak dari Poseidon. Dan kedua Dewa utama Olympus tersebut, kau memiliki kekuatan mereka, Liz. Kau juga mendapat banyak kekuatan dari Atalanta." Jelas Rose Woodrace panjang lebar.

"Jadi itu sebabnya Liz diklaim oleh Apollo." Ucap Reyna, tapi 'kan Apollo sudah tidak menjadi dewa lagi, benakku berbicara.

Rose mengangguk, lalu melanjutkan, "Sedangkan, aku adalah anak dari Circe."

Mata Reyna membulat lebar, hampir-hampir terlihat kilatan amarah. "Anda anak dari penyihir Circe?" kurasa dia hampir meledakkan amarahnya kalau tidak menyadari keadaan Rose yang sudah tua renta. Dia menghela napas dalam-dalam, "Aku mempunyai kenangan yang buruk tentangnya."

"Dia mendapat warisan dari Hecate, aku pun begitu, tetapi Circe, ibuku, menggunakan sihir dengan sikap yang salah. Dia terkesan jahat, tetapi berbeda denganku." Ucap Rose.

"Aku ingat kau pernah mengajarkan beberapa padaku." Kataku.

"Ya, Liz. Aku tentu mengajarimu, salah satunya adalah sihir kabut."

"Liz bisa melakukannya?" tanya Thomas.

"Tentu saja, namun, kudengar dari Carl, kau mengalami amnesia, jadi mungkin kau tidak mengingat caranya." Aku hanya meringis kecil. Sepertinya bagiku tidak apa-apa tidak bisa menggunakan sihir kabut.

"Dan, Liz. Ayah tirimu, dia juga seorang demigod. Dia anak dari Gyges. Dan kau mendapat warisannya juga." Dia melirik cincinku, aku refleks memeganginya.

Thomas terlihat berjengit, "Jadi karena itu Liz memiliki cincin tersebut? Karena Ayah tirinya adalah anak dari Gyges? Liz, kurasa…"

"Thomas, biarkan Rose melanjutkan." Kata Reyna.

Rose berdehem kecil, "Yah, begitulah asal usulmu."

"Jadi, ibumu benar-benar Atalanta." Kata Rick.

"Kau beruntung, Liz." Kata Sebastian.

"Tapi, kenapa aku tidak menua?" tanyaku penasaran. "Aku bahkan sekitar lebih dari setengah abad lebih muda. Bagaimana bisa?"

"Sebaiknya kau menemui orang yang telah menunggumu, Liz." Suara Nico menginterupsi, aku terlonjak kaget, begitu pun dengan orang-orang yang ada di ruangan ini. Seperti biasa, dia muncul dari bayang-bayang.

"Putra Pluto." Kata Hana.

"Hades, lebih tepatnya." Koreksi Nico. Dia kembali menatapku.

"Ada yang menunggumu." Kemudian, dia berpaling pada anggota keluargaku, "Bisakah kami pamit? Aku harus membawa teman-temanku…"

"Oh, tentu saja, silakan," kata Sebastian. "Lagipula, penjelasannya sudah terlalu jelas. Benar 'kan Rose?"

Rose hanya mengangguk, tapi Sebastian terlihat takut. Aku tidak tahu kenapa, mungkin aura Nico yang memancarkan kematian dan dia tidak ingin mati lebih dulu karena menolak?

"Nico, apa yang kaulakukan?" sayangnya, dia tidak mempedulikanku.

"Aku bisa menjelaskan lebih lanjut masalahnya, Hans. Suatu saat nanti, kita pasti bertemu lagi. Yang jelas, kau harus bertahan hidup dan menjadi laki-laki yang baik." Kata Hana, dia meremas pelan pundak Hans, kurasa perasaannya sudah lebih baik.

Nico menatapku bertanya, "Nanti saja kujelaskan."

"Baiklah, kami pamit. Maaf merepotkan dan mengganggu waktu kalian semua." Ucap Reyna, dia memaksakan sebuah senyuman yang kuyakin pasti sulit. Setelah berhadapan dengan kenyataan yang membuat perutku melilit. Aku tidak suka merasa seperti ini, ditambah kepalaku pusing. Rasanya aku ingin rebahan dan…

Aku tersentak saat Nico memegangi pinggangku, "Jangan pingsan!"

Aku mengangguk, lalu kami menghilang ke dalam bayang-bayang.

.

.

.

.

.

Aku dan Nico tiba-tiba saja muncul di alun-alun kota, di dekat air mancur. Reyna, Thomas, dan Hans sudah ada di sana lebih dulu.

"Demi dewa-dewi! Nico! Bagaimana kalau kau terbuyarkan lagi? Jangan terlalu sering melakukan perjalanan bayangan!" Seru Reyna marah.

"Aku baik-baik saja." Ucap Nico, dia melepaskan tangannya dari genggamanku, aku baru sadar kami berpegangan tangan.

Aku menghembuskan napas, berjalan ke samping Reyna, "Jadi, siapa lagi yang ingin bertemu denganku?"

"Aku." Seekor merpati putih mendarat di puncak patung di sebuah air mancur yang ada di belakang mereka, tepatnya di belakang Thomas yang sudah terkaget.

Unggas itu tiba-tiba saja sudah berubah menjadi sesosok wanita yang sangat cantik jelita, cahaya memantul di cermin kesayangan Thomas hingga dia membantingnya, untung saja tidak pecah.

"Ibu!" Jeritnya.

Sosok itu terbang dan mendarat di sebelah Reyna, "Senang bertemu denganmu lagi." Aku memperhatikan wanita itu, memikirkan jeritan Thomas. Ibu? Tiba-tiba seakan ada satu bohlam lampu yang tersinar terang di atas kepalaku. Aphrodite, pikirku.

Sosok wanita itu terlihat bercahaya terang. Raut wajahnya, warna rambut dan modelnya, serta warna matanya berubah-ubah, aku tidak terbiasa dengan hal itu, jadi aku memilih memandangi gaunnya. Dia memakai gaun berwarna pink dengan atasan yang berpotongan rendah, roknya mengembang tumpuk tiga dan berenda-renda. Dia memakai sepasang sarung tangan sutra putih panjang, dan dia memegang kipas putih-pink berbulu yang dirapatkan ke dada.

Aku bisa tebak Thomas sedikit malu melihat ibunya seperti ini.

"Kenapa ibu ada di sini?" dari suaranya, tidak ada nada bersahabat, Thomas sepertinya sedang dalam perasaan yang tidak baik.

"Anakku, kau terlihat tampan!" Puji Aphrodite.

"Kenapa kau datang ke sini tapi belum mengklaimku?"

"Sekarang sudah." Aphrodite menunjuk ke arahnya, dan seketika penampilan Thomas berubah.

Bukan seperti laki-laki yang mirip wanita karena membawa cermin kesayangannya ke mana-mana, tetapi lebih dari itu. Dia terlihat sangat tampan, rambutnya di sisir rapi tertata, kacamata hitam berbingkai transparan yang entah dari mana bertengger manis di hidungnya yang mancung. Dia memakai setelan tuxedo berwarna hitam, kemeja putih polos, dan sepatu pantopel hitam, seperti hendak pergi ke acara pernikahan seseorang.

"Wow, Thomas! Kau benar-benar tampan!" Puji Nico.

"Nah, sekarang, saatnya memberi pesan." Ucap Aphrodite. Dia melirik Nico.

"Apa?" sahut Nico.

"Kau sudah tahu pesannya?" Nico menggeleng.

"Eh, iya, eh tidak! Tentu saja tidak!" Jawab Nico gugup.

Aphrodite menatapku, "Liz Carter." Panggilnya. "Kau kuberi misi."

"Apa?" aku menatap tidak percaya.

"Misi ini merupakan hadiah dariku untukmu. Pembalasan atas rasa bersalahku karena telah mengubah ibumu menjadi singa dan…"

"Kau mengubah ibuku menjadi singa!" Seruku dengan nada tinggi. Kilatan marah membara di sorot mataku.

Aphrodite mengangkat kedua bahu, "Melanion yang salah, aku juga mengubahnya menjadi singa. Dia tidak membalas kebaikanku. Nah, yang jelas, aku memberimu misi."

"Aku tidak mau! Ya ampun, kembalikan ibuku seperti semula!"

"Tidak bisa, Liz Carter. Itu sudah ratusan tahun lalu. Lagipula, keadaannya sudah berubah. Dan, tentu saja dia belum mati." Kedua tanganku terkepal.

"Apa misinya?" tanya Reyna sebelum amarahku meledak.

"Oh, Reyna sayang! Senang sekali bisa melihatmu." Reyna memutar bola matanya.

"Katakan saja misinya, Ibu." Thomas menekankan kata Ibu.

Aphrodite berdehem, dia terlihat tidak masalah dengan sikap anaknya—sikap kami. "Kalian berlima bersama Diana dan Alexander tentunya, dan lima orang lainnya di New York, harus pergi ke Perkemahan Blesteran." Dia melirik Nico lagi.

"Ya, aku tahu. Nico sudah memberitahuku." Ucapku.

"Misi pentingnya adalah pastikan Rico Wright bersama kalian tanpa terluka. Perhatikan dia, perhatikan gerak-geriknya. Jangan sampai dia lepas dari pandanganmu." Mendengar kata-katanya, aku jadi teringat mimpiku. Aku sadar Reyna dan teman-temanku menatapku.

"Jadi, Si Pembuat Masalah adalah Rico Wright?" tanyaku, berusaha tenang.

"Bukan, bukan. Aku mempunyai firasat bahwa dia akan melakukan hal yang buruk."

"Peti itu." Kata Hans tiba-tiba. Aku melemparkan tatapan galak padanya.

"Peti apa?"

Aku menggeleng, "Bukan apa-apa, Dewi. Baiklah, hanya itu misinya? Itu sih gampang."

"Kau menganggap semuanya mudah, Liz. Pada kenyataannya, semua yang kauanggap mudah itu tampaknya bahkan lebih sulit dari apa pun."

"Baiklah, itu memang misinya. Waspada pada monster, Titan, atau Raksasa sekalipun. Aku sebenarnya jarang sekali mengobrol dengan pria, tetapi, Nico," dia menatap Nico. "Putra Hades, jaga mereka, pastikan mereka sampai dengan selamat." Nico hanya mengangguk.

"Aku akan pergi, dan Thomas…" dia menatapnya, "Cerminmu bagus."

Kemudian, Aphrodite menghilang dengan cahaya putih yang menyilaukan, berdenyar sampai-sampai aku merasa bahwa sinar matahari kalah terang.

"Jadi, itu yang namanya hadiah? Misi agar kita bersepuluh pergi ke Perkemahan Blasteran?" kata Hans.

"Hadiah apa misi bunuh diri?" gerutu Reyna.

"Liz, misi ke perkemahan dari jarak yang jauh—setidaknya dari perkemahan Jupiter—bukanlah hal yang mudah. Di setiap perjalananmu pasti akan bertemu monster jahat, kau harus ingat itu." Jelas Reyna.

"Ya ampun, aku harus mengadakan rapat senat sekarang. Kalian telah mendapat misi, kalian harus bersiap-siap. Ayo! Liz, sebaiknya…"

Aku tidak mempedulikan ucapan Reyna, tetapi aku memperhatikan Nico yang menunduk, menatap lurus ke bawah, memperhatikan jalan di alun-alun ini. Aku yakin pikirannya tidak tertera di sana, matanya seolah terpaku pada tanah. Tapi pikirannya pasti melayang-layang. Aku jadi bertanya-tanya, kenapa dia berkata tahu apa sebabnya aku tidak menua? Aku terkesiap.

"Nico…" aku menepuk sebelah pundaknya. Dia menoleh.

"Kau tahu alasan kenapa aku tidak menua?"

"Entahlah, Liz. Aku merasa kasusmu sama sepertiku. Hanya berbeda tahun saja." Jelasnya.

"Maksudmu? Kau juga…" ucapanku terputus.

Aku menatap Nico lekat-lekat. Dalam jarak sedekat ini, napasku terasa tercekat memperhatikan wajahnya. Detakan jantungku menjadi dua kali lipat lebih cepat saat menangkap sepasang iris mata berwarna gelapnya, kedua kelopak yang menghitam, hidung mancungnya dan bibirnya. Aura kematian dan kegelapan yang menguar darinya terasa tidak penting bagiku.

Tapi Nico… Dia seakan telah menjadi yang terpenting untukku.

"Yah, kau lahir tahun 1946, Liz." Ucapnya.

"Kenapa aku tidak bisa tua?"

"Hotel Lotus." Katanya, dia mengalihkan pandangan dan menatap langit yang biru cerah.

"Apa?" sahutku.

"Hotel itu tempat orang-orang pemakan bunga Lotus. Kalau kau masuk ke sana, kau akan terjebak dan tidak akan pergi sampai seseorang membebaskanmu." Jelasnya lagi.

"Kenapa aku bisa terbebas?" tanyaku lagi.

Nico terkekeh kecil, dia mengacak rambut cokelat tuaku, lalu berjalan mengikuti Reyna dan kedua temanku yang sudah melangkah lebih dulu. "Kau harusnya menanyakan hal itu pada dirimu sendiri."

Kenapa aku bisa bebas? Pikirku. Kemudian, aku teringat.

"Ibuku." Gumamku. Aku menyusulnya.

"Hm?"

"Atalanta, ibuku. Dia yang membebaskanku." Nico menoleh.

"Bagaimana—"

"Suaranya, Nico. Suaranya ada di benakku. Saat aku bermimpi sekalipun, saat aku dalam bahaya dan dalam masalah. Suaranya selalu terngiang-ngiang." Nico mengangguk.

"Kalau begitu, kau sudah mengetahui identitas aslimu, Liz. Itu melegakan."