Nico membuatku bingung
Menjalankan misi rahasia
Elang raksasa melukaiku
Pelayan toko menjadi vampire
.
.
.
AKU TERKEJUT MELIHAT HAZEL dan Frank melambaikan tangan mereka dari kejauhan. Mereka berdiri di depan sebuah bangunan besar berkubah putih di ujung barat forum.
Hazel membawa toga hitam yang kurasa milik Reyna, dia dan Frank juga memakai toga besar yang menutup sampai ke ujung kaki. Aku bertanya-tanya apa mereka tidak tersandung dan kesulitan berjalan dengan pakaian seperti itu? Yang lebih pentingnya, kenapa mereka tahu kalau Reyna akan mengadakan rapat dadakan?
Pandangan Hazel yang lurus pada Nico-lah yang menjawab pertanyaan tanpa jawaban di kepalaku. Aku menoleh ke sebelahku tapi tidak mendapati Nico yang tadi bersebelahan denganku. Keningku mengerut, "Nico sudah ada di dalam." Ucap Hazel seolah bisa membaca pikiranku saat aku, Thomas, dan Hans berdiri di hadapannya. Reyna buru-buru memakai toga hitam.
"Bagaimana dengan Diana dan Alex?"
"Sudah di dalam juga, bersama para senator." Jawab Frank.
Aku hanya mengangguk. Sedikit linglung, Nico pasti menggunakan perjalanan bayangan lagi. Aku jadi ingat apa yang dikatakan Reyna, perjalanan bayangan bisa membuat laki-laki itu terbuyarkan. Aku bergidik ngeri membayangkannya, dan memilih menyusul teman-temanku yang sudah memasuki gedung senat.
Interior gedung ini mirip dengan ruang kuliah, kurasa. Bangku bertingkat-tingkat yang membentuk setengah lingkaran menghadap panggung yang memuat mimbar dan dua kursi. Kursi tersebut kosong sebelum Reyna dan Frank mendudukinya. Aku, Diana, Thomas, dan Hans duduk di sisi kiri setengah lingkaran tersebut, kemudian Hazel dan Dakota di depanku. Kesepuluh senator dan Nico menempati baris depan, mungkin karena dia Duta Pluto, dia ikut rapat senat, pikirku. Deret-deret atas diisi beberapa lusin hantu dan segelintir veteran dari kota, semuanya mengenakan toga resmi.
Reyna bangkit dari duduk dan mengangkat tangan untuk minta perhatian. "Ini rapat darurat," katanya, "Tidak perlu bersikap formal."
"Formalitas itu baik!" Ucap seorang hantu.
"Dan sopan!" Ucap yang lain. Reyna melemparkan ekspresi galak pada mereka berdua.
"Aku ingin mengumumkan bahwa Liz Carter mendapatkan misi." Bisik-bisik terdengar dari orang-orang di dalam gedung ini. Hantu-hantu lebih tepatnya. Berpuluh-puluh pasang mata menatap ke arahku. Aku mengusap tengkukku yang merinding, sejak dulu aku tidak suka dengan hantu, lebih parahnya aku selalu berteriak jika berpapasan dengan hantu. Namun, setelah aku datang ke Perkemahan Jupiter lima tahun yang lalu, aku berusaha untuk tidak takut pada mereka. Aku terkesiap.
Bagaimana bisa aku tahu kejadian lima tahun lalu? Aku pun menyadari bahwa ingatanku perlahan-lahan pulih kembali. Aku menghembuskan napas lega. "Misi ini bukan karena tenggara, ataupun ucapan dari Ella Si Harpy, tapi misi ini diberikan langsung oleh Dewi Venus." Reyna melanjutkan.
"Aku yang mendengarnya sendiri, bahwa lima orang blasteran ini dititahkan untuk pergi ke New York, bertemu dengan lima blasteran lainnya, kemudian mereka bersepuluh pergi ke Perkemahan Blasteran."
Para hantu memperhatikan setiap kata yang Reyna ucapkan dengan baik, lalu Frank bangkit dari duduknya. "Seperti yang kalian ketahui, Liz baru saja kembali ke sini. Memang cukup berat untuk melepaskannya lagi, tetapi kita harus. Aku yakin misi tersebut penting."
Salah satu hantu berkata, "Apakah tidak ada pemungutan suara mengenai misi itu sendiri?"
"Tidak ada, karena siapa yang akan pergi sudah ditetapkan langsung oleh Sang Dewi." Ucap Reyna.
"Bagaimana kami bisa percaya?"
Aku pun bangkit dari duduk, "Bukan maksudku untuk membuat kalian khawatir," aku berdehem pelan, "Tetapi, karena aku sendirilah yang diberi misi, dan aku mendengarnya dengan sangat baik meski aku membenci Dewi Venus—atau Aphrodite, terserahlah—yang jelas, aku dan teman-temanku akan pergi."
"Dan… Oh! Pemberian hadiah untuk pemenang simulasi perang semalam." Reyna berhasil mengalihkan topik, kurasa dia tahu bahwa pembicaraan misi ini sudah selesai, dia tidak ingin berbagai pendapat muncul untuk merusak keyakinannya. Reyna memang tipe wanita yang sulit dibaca ekspresinya, tapi aku tahu. Karena aku mengenalnya, benakku berbicara.
"Liz Carter, majulah." Ucap Frank. Dia mengambil kotak beludru, aku pun menurutinya dan menaiki panggung. Aku bisa melihat Hazel tersenyum senang padaku, dia berkali-kali mengalihkan pandangannya padaku. Mau tidak mau, aku juga ikut tersenyum.
"Dengan senang hati," Frank menahan senyumnya, dia mungkin terlalu senang atas kembalinya aku, atau karena aku memilih kohort V, atau karena menang untuk yang kedua kalinya. Entahlah, aku tidak terlalu peduli. "Kuanugerahi kau Mahkota Mural sebagai orang pertama yang menyeberangi tembok dalam aksi pengepungan." Dia menyerahkan pin perunggu berbentuk mirip mahkota daun dafnah.
"Selain itu, berdasarkan perintah Praetor Reyna, kunaikkan pangkatmu menjadi Centurion." Mataku membelalak mendengarnya. Aku menatap Frank ragu-ragu, bertanya-tanya apakah dia salah bicara atau tidak. Kemudian aku tersadar saat dia memberiku sebuah pin lagi. Pin bulan sabit perunggu, dan seisi senat kontan meledak karena protes.
"Dia baru saja kembali!" Teriak seseorang.
"Itu mustahil! Dia harus melewati masa pengabdian setahun dulu!" Teriak orang kedua.
"Dia baru sehari di sini!" Teriak yang ketiga.
"DIAM!" Seruan Frank terdengar sangat tegas. Aku merasakan sarat kepemimpinan dari suaranya.
"Dakota telah memutuskan untuk undur diri menjadi Centurion karena sadar oleh kepentingan misi yang akan dijalani oleh Liz Carter." Jelas Frank. Sontak aku langsung menatap Dakota yang terlihat santai-santai saja sambil meminum Kool-Aid.
"Praetor kita, Reyna, juga menyadari bahwa tidak ada seorang pun berpangkat di bawah Centurion—sekalipun dia mantan Praetor—yang boleh memimpin sebuah misi. Entah itu baik atau buruk, tetapi Liz harus memimpin misi ini karena Sang Dewi sendiri yang langsung memberikannya. Oleh sebab itu, Praetor telah menitahkan bahwa Liz Carter harus dijadikan Centurion."
Aku menatapnya, "Tapi… Frank, bagaimana kalau aku tidak kembali lagi?"
Aku melihat Frank tersenyum mendengarnya, berbeda dengan ekspresi para hadirin yang menyaksikan. Aku tahu bahwa mereka sebagian berpikiran sama. "Mungkin Dakota akan menyandangnya lagi."
"Lagipula, Liz. Aku tahu kau akan berhasil." Kata Frank menyemangati.
"Reyna, kau yakin?" aku menatap ragu-ragu.
Reyna mengangguk, "Perjalanannya mungkin akan sangat sulit. Jangan berpikiran mudah sekali pergi ke Perkemahan Blasteran. Pikirkan rintangan, halangan, dan tentunya… Kau harus menemukan lima blasteran yang lain, yang sama kuatnya denganmu."
Setelah meyakinkanku, Reyna kembali menatap hadirin. "Nah, keputusan sudah diambil. Liz Carter yang akan memimpin misi. Diana Hill, Alexander Hill, Thomas Wood, dan Hans Giordano akan mendampinginya. Kita harus berharap bahwa mereka akan kembali dan sampai dengan selamat."
Aku yakin jika Reyna mempunyai palu dia akan menggunakannya untuk menuntaskan rapat. "Misi disahkan," dia menoleh padaku, "Centurion Liz Carter, kau dan rombonganmu dipersilakan pergi. Rapat ditutup." Untuk kali pertama, aku lega bisa keluar dari rapat yang menegangkan ini.
Di depan gedung, aku menatap sinar matahari yang menjunjung tinggi. Biasanya aku tidak menyukai sinar matahari yang terang, aku lebih memilih cuaca mendung setiap hari. Tetapi untuk saat ini, sinar itu bagus dan menyegarkan. Aku mengisi paru-paruku dengan udara segar, lalu menduduki bebatuan di pinggir gedung. Menunggu Frank dan Reyna yang sedang mengobrol dengan keempat temanku. Mungkin sedang membicarakan bagaimana gambaran perjalanan yang akan kami tempuh.
Aku menunduk menatap kedua tanganku yang memegang dua pin, lalu menghela napas, merasa beban di pundakku kian bertambah berat. Semuanya sulit dipercaya, aku masih memikirkan perkataan dari keluargaku di Roma Baru. Aku memikirkan ucapan dari Dewi Venus—atau Aphrodite, terserahlah—dan tentu saja, ucapan Ella Si Harpy itulah yang selalu terngiang-ngiang di pikiranku.
"Hei," seseorang penepuk bahuku, aku segera menoleh. Mendapati Nico di Angelo tersenyum samar. Rambut hitamnya acak-acakan, berpindah arah menyesuaikan angin yang bertiup. Toga hitam besarnya membuat tubuh kurus Nico seperti tenggelam, aku menahan senyumku.
"Kau formal sekali." Ucapku.
"Yah… Rapat senat memang harus seperti itu." Balasnya, dia duduk di sebelahku.
"Belum memakainya?" Nico melirik kedua pin di tanganku.
"Ya… Aku masih bingung, dan ragu." Aku menghela napas sekilas, "Kenapa para Praetor dengan mudahnya menetapkanku sebagai Centurion?"
"Liz," panggil Nico. "Kau berhak atas jabatan itu. Kau memenangkan simulasi perang semalam, dan juga kau yang menangani burung-burung pemakan daging manusia itu. Lagipula, ucapan Reyna dan Frank ada benarnya. Tahun lalu, Frank malah dinaikkan jabatannya dari masa Probatio ke Centurion."
"Aku tidak bisa memimpin, Nico. Aku lemah, kau tahu itu." Aku menundukkan kepala.
Nico mengambil kedua pin dari tanganku, "Aku pernah berpikiran seperti itu."
Dia menatapku, "Tetapi, aku menyingkirkan segala pikiran negatif. Aku bahkan…" sesaat, ada keraguan di sorot matanya, seakan dia akan menceritakan segala rahasianya padaku.
"Ceritakanlah kalau kau ingin menceritakannya." Ucapku akhirnya.
Dia memasangkan pin itu satu per satu di jaketku sambil berkata, "Aku dulu membenci Ayahku karena merasa tidak dipedulikan. Karena menyebabkan Ibuku meninggal, dulu aku berpikir seperti itu. Kakak kandungku juga meninggal saat menjalani misi beberapa tahun lalu. Tapi itu sudah bukan masalahku, aku berusaha menerimanya, dan membalas mereka dengan perbuatan baik."
"Kau tahu, Liz? Seseorang pernah berkata padaku bahwa menyimpan dendam adalah kesalahan fatal untuk anak-anak Hades. Dulu, aku memang dendam pada Percy, menyalahkannya atas kematian kakakku, tetapi aku tersadar dan aku yang sekarang, berbeda dengan yang dulu." Aku membalas tatapannya. Sorot matanya berubah, aku melihat ada suatu keyakinan di sana. Atau mungkin, hanya perasaanku saja?
"Seseorang?" tanyaku.
Untuk sesaat, dia membuka mulut, hendak berbicara, tapi kurasa lidahnya kelu. Seolah akan membagi rahasia terbesar dalam hidupnya. Dia berdehem menyadari aku menatapnya, menunggunya untuk menjawab pertanyaanku. "Kakakku lebih tepatnya."
"Kakakmu?" dia menggeram kecil. Dan aku akui, aku sudah terlalu memaksanya. Aku tidak boleh seperti itu, Nico masih menganggapku sebagai orang asing yang tentu saja sangat wajar karena kami baru kenal beberapa hari.
"Kalau tidak mau, jangan diceritakan." Aku berusaha menampilkan senyuman.
"Maaf," dia menunduk, "Yah… Kurasa mengetahui hal yang lebih banyak lagi akan membuatmu sulit."
Aku hanya mengangguk, mau bagaimanapun juga, aku memakluminya. Aku mengganti topik dengan berkata, "Kau lahir tahun berapa?"
Dia mengalihkan pandangan, beberapa saat dia menatap langit dengan diam. Aku tidak bisa membaca pikirannya, Nico sulit ditebak. Namun, kurasa pertanyaanku lebih baik. Setidaknya, tidak mengungkit-ngungkit suatu hal yang terlalu sensitif untuknya. "Tahun 30-an, kurasa."
"Jadi kita sama." Simpulku. "Nico," begitu aku teringat dengan ingatanku yang pulih.
"Aku sudah mengingat semuanya."
.
.
.
.
.
Makan siang tidak begitu buruk, setidaknya bagiku. Aku tetap mengobrol dengan nyaman bersama Hazel, Dakota, dan teman-temanku yang lain. Bahkan Reyna dan Frank pun ikut bergabung dengan kami.
"Aku memergoki Nico tertawa bersama Liz!" Ucap Alexander.
"Biasanya Nico tidak seakrab itu dengan orang yang baru dia kenal." Kata Hazel.
"Serius! Aku juga melihat mereka bertatap-tatapan." Tambah Diana sambil menunjuk-nunjuk diriku dan Nico yang sialnya duduk bersebelahan. Aku tidak bisa menghindari pipiku yang merona merah.
"Kau ini apaan sih!" Omelku, "Namanya juga manusia, pastilah menatap, apa gunanya mata kalau tidak untuk menatap?" Dan seketika tawa menggema di meja kohort V. Membuat kesal saja, aku mengunyah makananku dengan cepat.
"Benar yang dikatakan oleh Liz." Kata Nico, dia terlihat tidak ambil pusing.
"Wow, wow, wow, Nico menyetujuinya, itu seperti bukan gayamu!" Kata Frank, tertawa bersama Hazel.
"Nico menjadi lebih manusiawi sekarang." Ucap Reyna, dia menatap Nico dengan iseng.
"Karena Will, mungkin." Ucapanku membuat semua orang di meja kohort V menghentikan aktivitasnya dan menatapku. Aku balas menatap mereka, "Kenapa? Kalian tidak kenal Will Solace?"
Aku berdehem, "Well, dia mungkin kekasihnya Nico."
Aku berusaha tidak menampilkan tatapan sakit hati saat Nico menatap bersalah padaku. Kenapa dia harus merasa bersalah? Karena membuat perasaanku memburuk semalam? Bukankah dia tidak peduli?
Hazel mengangkat kedua bahunya, "Aku tidak tahu. Tapi, sepertinya iya. Will anak dari Apollo. Dia ceria, dan keceriaannya mungkin menular pada Nico." Dia menyenggol adik tirinya. Sedangkan yang disenggol hanya terdiam, menatap ke arah lain. Menghindari kontak mata denganku.
"Jadi, kalian akan berangkat sehabis makan siang?" untungnya Reyna mengalihkan topik.
Aku mengangguk, "Aku sudah selesai makan, kalian selesaikanlah makan siangnya, aku akan bersiap-siap." Ucapku sambil bangkit dari duduk. Kemudian, aku melangkah keluar dan berjalan ke barak. Berusaha tidak mempedulikan tatapan teman-temanku, dan juga Nico.
Aku memasuki barak kohort V dengan gontai, berjalan ke kasur lipatku, mengambil tas ranselku dan bersiap-siap. Memasukan hal-hal yang pasti akan kuperlukan. Setelah keluar dari Roma Baru dan batas Pomerian, secara otomatis liontinku sudah kembali, dan bungkus permen karet rasa mint sudah ada di sakuku.
Belakangan aku tahu, bahwa kedua benda itu akan kembali seperti semula secara magis. Aku memasukkan kotak bekal berisi ambrosia, Diana memberitahuku itu makanan yang penting untuk blasteran. Mengisi penuh botol minumku dengan nektar, dan tentunya memasukkan satu kantong uang fana—dollar—yang diberikan oleh Pamanku.
Aku menunduk saat menyadari tali sepatuku terlepas, tanganku berhenti bergerak melihat sepasang sepatu hitam bertali di ambang pintu. Celana jins hitam dan kaos hitam dengan gambar tengkorak besar di tengahnya, serta jaket penerbang berwarna gelap yang ia pakai. Pandanganku terus ke atas sampai aku mendapati Nico di Angelo berdiri di sana. Napasku terasa berhenti. Bukan karena aura kematian dan kegelapan yang menguar dari dirinya, tetapi karena keberadaannyalah yang membuatku sesak.
Aku tidak bisa tidak merasa bersalah akan di ruang makan saat makan siang tadi. Di satu sisi aku berpikir, toh, itu hanya hal sepele, meski wajahku sudah semerah kepiting rebus ketika teman-temanku meledeki. Di sisi lain, aku sadar Nico bukannya tidak mempedulikanku.
Dia sudah bersikap baik padaku sampai memberitahukan ucapan tentang kesalahan fatalnya. Bukankah itu sudah cukup untuk membuatnya menjadi teman untukku? Kemudian, aku juga sadar, bahwa Nico tidak suka aku meledekinya dengan menyangkutkan nama Will Solace. Entah kenapa, tetapi memikirkan nama tersebut membuatku semakin bersalah.
"Bukannya Reyna sudah memperingatkanmu untuk tidak menggunakan perjalanan bayangan? Kalau dirimu terbuyarkan lagi, bagaimana dengan—" ucapanku terpotong saat Nico sudah berjongkok di hadapanku. Dia menyimpulkan tali sepatuku, lalu mengikatnya.
"Bagaimana denganmu?" tanyanya.
"Huh?" aku merasa napasku tersangkut di tenggorokan.
"Bagaimana denganmu jika aku terbuyarkan lagi?" dia menatapku, tepat pada mataku.
"Terbuyarkan dalam artian?" keningku mengerut, pertanyaanku ini bisa dipastikan membuatnya kesal.
Dia menghembuskan napas, "Menghilang. Melebur ke dalam bayang-bayang, menjadi hantu." Dia mengangkat bahu, "Pokoknya tidak akan kembali lagi, kau tidak bisa melihatku lagi kecuali di Dunia Bawah."
"Kenapa kau bertanya seperti itu padaku?" aku balas menatapnya.
"Karena aku ingin." Jawaban itu membuat lidahku kelu. Sikap GPPH-ku seolah sudah tidak tertarik untuk bertanya lebih lanjut lagi. Dan pikiranku menjadi kusut, aku tahu satu hal yang bisa kupikirkan hanyalah keingintahuan hubungan laki-laki di depanku ini dengan seseorang bernama Will Solace. Menyadari tatapan Nico yang seakan berkata jangan bertanya macam-macam, aku refleks menelan ludahku dengan susah payah.
"Aku… Aku tidak mau bergantung padamu." Ucapku ragu-ragu.
Nico terdiam, seolah menunggu kelanjutan dari ucapanku.
Aku bangkit dari dudukku, lalu menyampirkan tas ranselku. Aku menghela napas dalam-dalam sebelum berkata, "Aku berharap kau mendapat Elysium jika kau terbuyarkan lagi." Dan aku berharap kenyataan itu tidak akan pernah terjadi, ucapku dalam hati. Beberapa saat, aku menatapnya, memperhatikan wajahnya dengan ekspresi tidak bisa dibaca. Lalu, aku mengangguk pelan. Mungkin, ada baiknya aku berkata seperti itu.
"Sampai jumpa." Pamitku, aku pun keluar dari barak. Menghampiri teman-temanku yang sudah menunggu. Meninggalkan Nico yang terdiam, terpaku di dalam barak.
Reyna mengatakan tidak akan mengantarku dari gerbang, jadi setelah melepaskan pelukan perpisahan, dia langsung pergi. Berbeda dengan Hazel dan Frank yang dengan senang hati mengantarku. Aku memperhatikan pemandangan yang tidak bisa kunikmati saat baru sampai sini karena waktu itu aku sempat pingsan. Setelah mengarungi sungai Tiberis yang untungnya tidak dalam. Kami semua masuk ke dalam terowongan, membelakangi cahaya matahari yang bersinar terang.
Aku memperhatikan bebatuan mozaik hitam di sisi kiri-kanan terowongan, pemandangan itu diusik oleh kekehan Hazel dan Diana yang sedang mengobrol sesekali. Frank terlihat nyaman membicarakan beberapa strategi perang bersama Alexander, mereka sama-sama anak dari Ares, Dewa Perang. Kemudian, di belakang mereka, tepat di depanku, Thomas dan Hans juga berceloteh ria. Aku menundukkan kepalaku karena tidak ada satu pun yang menemaniku berbicara. Andai ada Nico, benakku berkata. Aku tertegun. Kenapa harus Nico? Kalaupun ada teman bicara yang aku inginkan, harusnya Reyna, bukan Si Raja Hantu itu. Gerutuku.
Beberapa menit berlalu, kami sudah sampai di pintu logam. Aku mendapati ada dua penjaga di sana. "Kalian, berhati-hatilah." Hazel memperingatkan.
"Tenang saja, kami punya dua anak Ares di sini." Kata Hans.
"Mereka pasti bisa menghabisi monster." Tambah Thomas.
"Ya, itu pun kalau Liz tidak menghabisinya lebih dulu. Kalian tahu 'kan? Dia secepat angin." Ucap Alexander. Aku hanya terdiam.
"Nico akan baik-baik saja." Ledek Diana, aku pun melemparkan ekspresi galak.
"Aku tidak peduli." Balasku setengah hati.
"Kau peduli." Ucap Frank, dia menoleh pada Alex, tidak mempedulikan tatapan tajam dariku, "Nah, Alex. Sesampainya kau di luar, ada mobil SUV berwarna hitam metalik. Kau akan menggunakannya sampai ke bandara Los Angeles, dan Paman Liz—oke Liz jangan menatapku seperti itu."
Aku mendengus, Frank melanjutkan, "Dia sudah menyewakan helikopter untuk kalian."
"Bagaimana kau bisa tahu?" gerutuku.
"Dia menemuiku." Aku menatapnya tidak percaya.
"Apa?" sahutku berlebihan.
Aku tahu ini aneh, tetapi, masa iya Pamanku tidak ingin bertemu denganku? Tidak ingin menanyai kabarku? Tidak ingin tahu apakah aku masih hidup atau tidak? Oke itu berlebihan. Tetapi, serius! Apa dia tidak mempunyai sikap peduli sedikitpun terhadapku?
Aku mempedulikanmu, Liz. Aku bergidik saat mendengar suara Pamanku menggema di pikiranku. Jika kami berdua memiliki sambungan empati, mungkin memang benar dia bisa tahu apa yang sedang kupikirkan.
"Baiklah, Alex, ini kuncinya." Frank menyerahkan kunci mobil, "Usahakan kalian semua selamat dari monster, tidak usah menjaga agar mobilnya tidak rusak. Aku sudah berpengalaman." Menurutku itu tidak lucu, tapi Hazel menahan tawanya.
"Kalian akan kembali lagi, aku yakin itu." Kata Hazel.
Aku pun memeluknya, bergantian dengan Diana. Aku menjabat tangan Frank, lalu disusul Thomas, Diana, dan terakhir Hans. Alex memberinya pelukan beruang perpisahan. Aku tidak tahu apakah ini perpisahan atau bukan, tapi aku merasa aku akan kembali ke sini dalam waktu yang lama.
"Kalau terjadi apa-apa, kirimkan aku pesan Iris." Hazel mengingatkan.
"Ya, karena ponsel sangat berbahaya untuk blasteran." Ucap Hans.
"Kecuali kau ingin diburu monster dan mati lebih cepat." Tambahku.
Hazel mengangguk, dan aku serta teman-temanku pun keluar dari gerbang. Benar saja, aku mendapati mobil SUV yang terparkir di pinggir jalan tol. Kami menyeberangi jalan yang lumayan ramai tersebut, lalu masuk ke dalam mobil. Posisi duduknya sama seperti saat kami berangkat. Aku duduk di antara Thomas dan Diana. Dan mobil pun langsung berjalan menyusuri jalan tol menuju San Fransisco, kami sampai bandara Los Angeles paling tidak dua jam lagi. Itu pun kalau tidak terhambat oleh monster.
.
.
.
.
.
Terpujilah wahai dewa-dewi, selama perjalanan dua jam dari San Fransisco menuju bandara Los Angeles, kami tidak menemukan satu monster pun. Entah karena ada kabut magis yang menutupi keberadaan kami di dalam mobil ini, atau mungkin karena kami sedang beruntung.
Helikopter yang disewa oleh Pamanku ternyata tidak seperti perkiraanku. Saat aku keluar dari mobil SUV bersama keempat temanku, kendaraan berbaling-baling besar itu berukuran lebih besar dari helikopter umum pada biasanya. Bahkan mampu memuat mobil berwarna hitam metalik yang tadi dikendarai oleh Alexander. Mau tidak mau, aku mengucapkan terimakasih di dalam hati pada Pamanku. Matahari sudah mulai turun saat jam menunjukkan pukul empat sore. Kami pun masuk ke dalam helikopter.
Interiornya terlihat mewah walaupun masih biasa seperti helikopter kebanyakan. Aku tidak ingat apakah kami juga menggunakannya saat berangkat beberapa hari lalu karena aku tertidur sangat lama. Tapi, aku teringat ucapan Diana, bahwa kami menggunakan pesawat, bukan helikopter.
Aku menduduki bangku berwarna krem pucat yang bersebelahan dengan jendela. Menatap langit yang mulai berubah warna menjadi jingga keemasan. "Selamat datang, perhentian selanjutnya : Manhattan, New York City." Sang pilot berkata. Aku menyamankan dudukku.
Aku melirik teman-temanku yang sudah duduk nyaman, Thomas membaca majalah, Diana bersiap untuk tidur, Alex memperhatikan langit, dan Hans, dia memang tidak bisa diam sekali saja. Dia terlihat membuat benda semacam baling-baling? Atau kincir angin? Dan mengeluarkan beberapa benda lain dari sabuk perkakasnya.
Perjalanan akan memakan waktu enam sampai tujuh jam. Aku memperkirakan kami akan tiba tepat tengah malam atau jam satu pagi. Entah di mana helikopter ini akan mendarat di Manhattan, aku hanya bisa berharap kami semua selamat. Dan beberapa detik kemudian, mataku memejam, kantuk menyerangku, termasuk mimpi burukku.
Aku sedang bersembunyi di salah satu pilar berwarna gelap di ruangan besar. Aku tidak tahu ruangan tersebut seperti apa, yang jelas ini terlihat asing untukku. Suara derap sepatu terdengar membuatku harus melangkah ke samping pelan-pelan, berjalan ke arah yang lebih gelap agar tidak terlihat. Untuk sekian menit, aku melihat sosok itu dari belakang. Manusia, tentu saja, tapi kesannya beda. Ada aura gelap dan jahat yang mengelilingi tubuh orang itu. Dari potongan rambutnya aku merasa mengenalnya, tetapi aku tidak ingat. Dia berdiri di hadapan seorang anak laki-laki yang kukenal dengan nama Rico Wright.
Semula, aku mengira iris mata Rico memang berwarna hijau jernih, tetapi setelah orang itu mengucapkan kata-kata yang tidak terdengar jelas olehku, mata tersebut berubah menjadi keemasan. Dan suaranya, benar-benar menyeramkan. Bulu kudukku langsung berdiri mendengarnya, suara yang terdengar sangat gelap dan tua, tapi juga berkuasa dan perkasa.
"Aku akan menghancurkan Perkemahan tersebut."
Suara itu menggelegar memenuhi ruangan besar ini. Sedetik kemudian, Rico kembali seperti seorang laki-laki yang kukenal. Matanya kembali berwarna hijau jernih sebelum menutup dan tubuhnya melemas jatuh ke lantai dengan tidak bertenaga. Aku menyadari sebuah peti berukuran besar yang ada di sebelahnya.
Aku baru akan menghampiri Rico yang sudah tidak sadarkan diri, tetapi ruangan besar tersebut bergemuruh, atap mulai retak-retak dan berguncang. Kemudian pandanganku kabur dan aku terbangun. Aku mendapati Diana mengguncang tubuhku dan kepalaku terasa amat pusing saat tahu helikopter tengah terbang tidak stabil.
"Demi dewa-dewi, Liz! Bangun!" Teriak Diana sambil mengguncangkan tubuhku.
Aku membuka mata, "Kenapa? Ada gempa bumi ya?"
"Gryphon!" Serunya, aku mengerutkan kening, "Kita diserang Gryphon!"
Seketika semua nyawaku terkumpul. "Kita ada di mana?"
"Baru akan mendarat di Manhattan!" Seru Alex melebihi suara mesin yang menggema, dia memanah melewati jendela yang sudah pecah. Aku tidak tahu bagaimana kejadiannya hingga jendela-jendela sudah pecah.
"Ada apa—Bagaimana bisa?"
"Gryphon itu mencakar pilot. Sehingga helikopternya oleng." Jelas Thomas. Dia berusaha menusuk-nusuk cakar monster yang mencengkeram helikopter dengan erat.
"Hans, di mana dia?" tanyaku panik.
"Di ruang kemudi. Liz, kau bisa mengendarai angin 'kan? Bisa menyerang monster ini?" Aku menatap Alex, kemudian merasa kekuatan kembali menjalari tubuhku. Aku mengangguk mantap. Aku meminta teman-temanku menjauhi pintu darurat.
"Hans!" Teriakku, berharap agar terdengar sampai ruang kemudi.
"Usahakan helikopter tetap seimbang." Aku mengitari pandanganku pada keadaan Manhattan yang berkerlap-kerlip oleh lampu jalanan. Kemudian aku menemukan sebuah gedung tinggi. "Arahkan ke gedung Empire State Building!"
"Diana, kau dan Alex tetap memanah monster ini." Diana menyanggupi dengan mengangguk.
"Thomas! Teruslah berusaha melepaskan cakarnya dengan pedang." Dia mengacungkan jempol.
"Oke, mari kita membunuh monster ini." Aku pun menarik liontinku yang kemudian berubah menjadi rapier, lalu membuka pintu darurat, memanggil angin, dan terbang ke atas, mendekati badan monster.
Mahluk tersebut seukuran anjing Labrador. Tubuhnya hitam mulus, rentang sayapnya yang dibentangkan paling tidak sepanjang tiga meter. Mata merahnya menyala-nyala saat aku mencoba menusuk rapier-ku ke salah satu matanya. Paruhnya tajam dan cekernya menyeramkan. Dia jelas-jelas bukan elang kesukaanku.
"Haruskah aku memutus sayapnya?" gumamku. Aku terbang menggunakan angin menjauh beberapa senti. Tanpa harus berpikir lagi, aku menyabet sepasang sayap hitam monster itu, menusuk-nusuk matanya meski paruhnya yang tajam hampir mengenaiku. Setelah aku mendapat perhatiannya, dia melepaskan helikopter dari cengkeraman dan beralih padaku.
Aku mendengar Diana berteriak memanggil namaku.
"Arahkan saja ke gedung!" Balasku.
Nah, sekarang, pikirkan bagaimana mahluk ini bisa terbuyarkan. Benakku berkata. Aku menghunus rapier ke arahnya, kembali menyabet tubuhnya dan sialnya salah satu cekernya yang mengerikan sekaligus tajam mencengkeram bahuku. Aku menjerit kesakitan, lalu dengan murka aku pun menebas ceker itu. Gryphon melolong kesakitan. Dalam keadaannya yang lemah seperti itu, aku melupakan rasa nyeri yang menghujam bahuku kemudian mempercepat terbangku, lalu memenggal kepala monster itu.
Aku menghela napas saat mahluk itu terbuyarkan menjadi debu dan tertiup angin. Aku pun terbang menurun ke gedung Empire State Building, mendapati helikopter yang rusak parah di landasan helikopter yang tidak terparkir rapi. Setelah aku mendarat, tubuhku langsung melemas dan jatuh begitu saja. Diana langsung memegangi bahuku. Aku refleks menjerit kesakitan.
"Ya ampun, Liz! Kau terluka!" Jerit Diana panik.
Hans membuka pintu ruang kendali helikopter dengan kasar dan langsung menghampiriku. "Liz." Panggilnya. Aku hanya tersenyum kecil.
"Kau bisa mengemudikan helikopter," kataku pelan, "Usahamu bagus."
Thomas langsung menyodorkan sepotong ambrosia, aku memakannya, rasanya seperti brownies cokelat buatan Rose, ibu tiriku. Kemudian aku meminum seteguk nektar. Aku memejamkan mata, rasa nyeri dan ngilu pada bahuku mulai menghilang.
"Itu namanya heroik." Kata Alex, dia sudah duduk dengan kaki diluruskan.
"Apa?" sahutku pelan.
"Melawan Gryphon seorang diri. Kau ini…" tidak ada amarah dalam ucapannya, malahan aku bisa mendapat kesan terkagum-kagum dari kembaran Diana itu.
Aku menoleh pada Diana, "Kau tidak apa-apa?"
Aku melihat matanya berkaca-kaca, "Kau…" suaranya tersendat.
"Jangan melakukan aksi heroik seperti itu lagi!"
Hans mengiyakan, "Setidaknya sisakan untuk kami."
Aku merebahkan diri. Tubuhku terasa remuk, lelah sekali. Bahkan mimpi burukku pun hampir terlupakan, gara-gara kemunculan Gryphon tadi. "Kita harus ke mana sekarang?"
"Perkemahan Blasteran, tentu saja." Ucap Alex.
"Lebih baik ke Olympus." Thomas memandangi ke dalam gedung. Kami berada berpuluh-puluh kaki dari bawah. Dan gedung ini merupakan pintu masuk ke gunung Olympus.
"Lalu apa? Meminta ibumu membatalkan misi? Itu tidak mungkin!" Kesal Diana.
"Yang jelas kita harus menemukan tempat menginap dulu, aku sangat lelah." Ucapku.
"Tentu saja!" Keempat temanku memandangku kesal.
.
.
.
.
.
Untung saja ada kabut yang mengelabui manusia. Kalau tidak, kejadian semalam pasti sudah menjadi trending topic di seluruh dunia. Aku terbangun saat Hans menyalakan TV yang menampilkan berita helikopter mendarat secara misterius di gedung Empire State Building. Dan ajaibnya, Carl Carter ada di sana tengah menjelaskan kejadian itu secara terperinci namun bisa ditangkap oleh nalar manusia fana.
"Setidaknya masalah sepele selesai." Kata Alex yang baru keluar dari kamar mandi.
"Pakai bajumu!" Seru Diana sambil melempar kaos berwarna ungu Perkemahan Jupiter pada Alex. Aku jadi memikirkan Reyna dan teman-temanku yang ada di sana. Mereka tidak diserang monster lagi 'kan? Apa yang terjadi pada Nico?
"Mereka pasti baik-baik saja." Ucap Thomas, dia duduk di sofa di sebelah kasurku. Aku menoleh, dia selalu saja seakan bisa membaca pikiranku. Membuat kesal, aku pun mendengus.
"Central Park tidak jauh dari sini." Kata Hans yang sedang memandang keluar jendela.
"Sarapan di sana ada baiknya juga." Diana menyetujui.
Aku mengangkat bahu, "Aku setuju-setuju saja, lagipula, tidak ada yang tahu kita mungkin akan bertemu dengan lima blasteran lainnya 'kan?" mereka mengangguk.
Kemudian, Diana mandi lebih dulu. Satu hal yang membuatku aneh, demigod laki-laki kenapa lebih sigap daripada wanita? Hans, Alex, dan Thomas terlihat sudah rapi. Thomas tentunya tidak lagi memakai tuxedo saat dia diklaim oleh Aphrodite. Hans sudah mengganti kaos putihnya yang terkena oli, dan Alex memakai jaket penerbangnya yang berwarna cokelat tua.
"Bagaimana dengan bahumu?" Hans duduk di sebelah sofa yang diduduki Thomas, menatapku.
Aku menggerakkannya pelan, lalu meringis. "Masih sedikit sakit."
"Nanti juga sembuh." Kata Alex menenangkan.
"Kita tidak boleh memberinya ambrosia lagi ya?" tanya Thomas.
"Ya, karena dia akan terbakar." Suara Diana bergabung, dia sudah memakai kaos perkemahan Jupiter, celana jins ketat berwarna gelap, dan sepatu tali berwarna krem. Rambutnya yang basah digulung oleh handuk.
"Aku tahu." Ucapku, mengambil pakaianku dan handuk bersih. Lalu, menghilang di balik pintu kamar mandi. Sepuluh menit kemudian, aku sudah memakai dress ungu pucat dan jaket berwarna krem tua, saat aku menatap kedua pin yang menempel di sana, aku teringat Nico lagi. Dia yang memasangkannya. Aku menghela napas, lalu mengeringkan rambutku.
Aku melihat teman-temanku masih menatap TV, sekarang berita menampilkan tentang naik-turunnya saham. Aku tidak terlalu tertarik pada bisnis, tapi mungkin tidak untuk Alex. Tapi tunggu…
Aku mendekati TV sampai Diana bilang, "Liz, kau menghalangi!"
Aku tidak peduli. Aku memperhatikan wajah manusia yang sedang diwawancarai, meski samar tapi aku merasa ingat wajah itu. Terutama potongan rambutnya, dan pakaiannya. Aku berpegangan pada gantungan jas di sana, kepalaku pusing. Hans menghampiri, "Liz, ada apa?"
"Aku… Aku seperti mengenal orang itu."
Diana mengangkat bahu, "Mungkin, Ayahmu pengusaha besar."
Aku menggeleng, "Tidak, Diana. Ini lain… Rasanya… Dia orang yang ada di dalam mimpiku."
Seketika mereka semua mendadak bisu, menatapku terperangah, kemudian bergantian menatap TV yang sudah berganti acara. Aku menghela napas dan duduk di sofa. Menceritakan semua mimpi yang kualami sebelum diserang monster bernama Gryphon.
"Dia sekutunya Rico." Simpul Hans.
"Mungkin… Dia yang membangkitkan sesuatu itu?" ucap Alex.
"Tapi, Liz. Kaubilang, mata Rico berubah warna?" aku mengangguk.
"Kau tahu, mata keemasan hanya dimiliki oleh Titan dan mahluk yang lebih tua." Kata Alex lagi.
"Aku tidak mau menyimpulkan, tapi Alex ada benarnya." Thomas menimpali.
"Tidak mungkin." Aku mengelak kenyataan yang mereka simpulkan. Semuanya sama, bertujuan pada satu arah dan aku tidak mau mengakuinya. Itu terlalu gelap, menyeramkan, mengerikan, dan entahlah. Aku tidak bisa membayangkan kalau Kronos bangkit lagi.
.
.
.
.
.
Central Park terlihat ramai pada hari minggu. Tentu saja. Meski pagi baru menjelang beberapa jam lalu, matahari sudah menampilkan sinarnya yang cerah. Yang tidak kusukai.
Terlihat beberapa anak kecil mengayuh sepeda-sepeda mini yang lucu dan berwarna cerah. Ada juga yang sedang memainkan gelembung sabun, atau memainkan mobil-mobilan. Taman luas ini seketika dipenuhi oleh orang-orang yang menikmati hari libur.
Banyak anak remaja yang duduk-duduk di bawah pohon. Manusia fana yang sudah lanjut usia duduk-duduk di kursi panjang di pinggir taman. Ada air mancur yang menyegarkan, aku menghirup udara dalam-dalam. Merasakan wangi kopi, kue-kue hangat untuk sarapan yang sangat cocok untuk suasana taman ini.
"Ayo kita sarapan di sana." Alex menunjuk ke salah satu toko kopi berjarak tiga meter dariku. Rupanya, dia juga menunjuk seorang laki-laki yang melambaikan tangannya.
"Itu Rico Wright." Napasku seketika tercekat. Otak dan pikiranku bekerjasama menyatukan puzzle dari mimpi-mimpiku.
"Jangan berharap untuk bertanya macam-macam padanya." Diana memperingatkan.
"Siapa juga yang mau bertanya." Gerutuku.
"Ayo, pergi." Hans merangkul bahuku. Kami semua pun berjalan ke toko itu dan memasukinya.
Rico Wright memamerkan senyumannya yang secerah matahari. Kedua iris matanya berwarna hijau jernih yang menyejukkan. Rambut pirangnya terlihat berkilau diterpa mentari. Di mejanya, terdapat dua anak perempuan yang menyambut kami. Alex berinisiatif menggabungkan meja dan kursi-kursi, lalu kami duduk.
"Ellionest Ward." Seorang perempuan berwajah ceria dengan sepasang iris mata berwarna biru laut menyodorkan tangannya padaku. Rambut panjang cokelat mudanya dikepang satu, dia memakai kaos berwarna biru tua, jaket kulit cokelat, dan jins hitam. Aroma laut menguar dari dirinya, aku yakin dia anak dari Poseidon, wujud Romawi dari Neptunus. Aku menjabat tangannya.
"Liz Carter." Ucapku seraya menampilkan senyuman.
"Hanako Kei." Seorang perempuan yang satunya bahkan terlihat secerah matahari. Kulitnya putih bercahaya, wajahnya berparas orang Asia. Dari namanya, dia pasti orang Jepang. Rambutnya hitam segelap malam, begitu pula dengan matanya yang bulat besar. Aku seakan mengenali senyumannya.
"Dewa Matahari." Ucap Thomas seolah mengetahui pikiranku. "Eh, maksudku, dari Negeri Matahari Terbit." Dia berdehem pelan sambil memandang ke sekitar, tampaknya manusia fana yang ada di dalam toko tidak memperhatikannya.
Aku menjabat tangan gadis itu. Terasa hangat, tentu saja. Dewa Matahari adalah istilah yang tepat untuk Apollo, meski ada Dewa lain sebelum dirinya. "Aku juga, ehm, cucunya, mungkin?"
Semuanya tertawa mendengar ucapanku. "Senang bertemu dengan kalian lagi." Kata Rico.
"Jadi, kalian sudah tahu akan pergi ke Perkemahan?" tanyaku.
Kei mengangkat bahu, "Semua blasteran memang selalu ke sana 'kan?" dia pun mengunyah burger kejunya. Dua pelayan berkulit pucat menghampiri kami.
"Ada yang mau dipesan?" tanya seorang pelayan, nametag di bajunya bernama Kelli, dia mempunyai rambut pirang dan matanya sebiru es.
"Menu baru kami enak loh! Bisa juga ditambahkan keju lumer!" Kata yang satunya, seorang gadis Afro-Amerika dengan rambut gelap keriting, menyerupai kepala gorgon, nametag di bajunya bernama Tammi. Aku bergidik saat teringat gorgon yang hampir menyerang Hazel di Perkemahan Jupiter.
"Tidak terimakasih, nanti saja." Ucapku.
"Sekarang saja, kau tahu aku lapar." Kata Alex.
"Nanti." Paksaku.
Alex menatapku bingung, teman-temanku yang lain pun begitu, tetapi firasatku mengatakan ada hal yang tidak beres. Aku menghela napas, pelayan itu menyebarkan bau mawar dan bau binatang bersih. Aneh memang, tapi bisa membuat mabuk. Untungnya, aku tidak terpengaruh.
"Dia bukan manusia." Gumamku pelan setelah pelayan itu menjauhi kami.
"Apa? Apanya yang bukan manusia?" aku menatap galak pada Hans.
"Teriak lebih kencang, Mr. Giordano." Sungutku.
"Jadi, apa yang harus kita lakukan? Memangnya dia apa?" kata Diana.
"Tunggu," ucap Kei. Dia menatap kedua pelayan yang sekarang sudah ada di konter kasur. Menatap lurus ke meja kami dengan tatapan menyeramkan. Wajah pucat, kulit pucat… Mereka vampire?
Aku mengikuti Kei memandangnya, lalu begitu merasakan hal aneh, aku berpaling. Rasanya sangat aneh, seperti pada saat aku mendengar dan menatap Thomas. Suaranya… Charmspeak, aku tertegun.
"Dia bisa charmspeak." Gumamku.
Thomas melotot, "Mereka blasteran?"
Aku langsung menggeleng, "Tentu saja bukan! Kaki mereka sebelah terbuat dari perunggu sebelahnya lagi terbuat dari kaki keledai." Aku buru-buru menutup mulut merasa keceplosan.
"Jangan mengolok-olok kaki kami, sialan!" Geram Tammi.
Serta-merta, teman-temanku bangkit dari duduk. "Lari." Ucap Alex.
"Kita bisa menghadapinya bersama-sama." Elakku.
"Liz, jangan keras kepala!" Kata Hans, dia sudah mengeluarkan apinya, "Bahumu. Pikirkan."
Aku mendengus, tidak mempedulikannya dan malah melepas liontinku yang berubah menjadi rapier. "Bersama-sama." Aku menatap teman-temanku yang mengangguk.
Mahluk itu vampire. Tentu saja, ketika kami semua akan keluar dari toko. Mahluk yang bernama Kelli itu mencegah pintunya. "Kalian tidak bisa pergi ke mana-mana, blasteran." Ucapnya mengerikan.
Manusia fana yang ada di toko ini sudah keluar semua, menyisakan aku dan teman-temanku. Mata kedua pelayan itu berubah menjadi merah dan taring-taringnya yang tajam. "Vampire!" Teriakku.
Tammi terkekeh, "Kami Empousa, idiot!" Serunya.
"Menjauh dari Liz Carter!" Teriak Ellionest, dia menghunus pedangnya, menusuk lengan kanan Kelli. Langsung saja, monster itu melolong kesakitan.
"Menyakiti wanita cantik itu tidak baik, Putri Dewa Laut!" Raung Kelli. Dan sesaat, perhatian Kelli tertuju pada Ellionest, Kei, dan Rico. Tammi masih berurusan dengan Hans yang melemparkan bola-bola apinya, Thomas yang mengucapkan kalimat charmspeak sepertinya lumayan berguna.
"Dengar, Tammi mengatakan kau itu jelek! Tunggu, dia akan menjambakmu!" Teriak Thomas dengan charmspeak-nya.
Kelli terkekeh mengerikan, "Ucapanmu tidak mempan padaku!"
"Kau benar, tidak mempan." Aku terperangah pada ucapanku sendiri.
"Kami biasanya menyantap darah pria-pria muda," Tammi menatap Rico, Alex, Hans, dan Thomas dengan tatapan lapar. "Mana yang ingin lebih dulu?"
Rico, Alex, dan Hans pun melangkah maju mendekati Tammi yang menyeringai. Diana pun buru-buru menarik lengan ketiganya, lalu berteriak, "Tidak ada satu orang pun!" Dia mendorong sebuah meja pada Tammi, dan Kei menghunus pedangnya di kepala Empousa itu. Seketika, meledaklah dia menjadi abu.
"Rico! Alex! Hans! Sadar dong! Kalian terkena charmspeak!" Teriak Ellionest.
Kelli menatapku kesal setelah menjerit pada Kei, "Kau membunuh adikku!"
Sekarang, dia menahan tanganku yang memegang rapier. Bau napasnya membuat perut kosongku mual. "Biasanya aku tidak membunuh para gadis. Tetapi sepertinya…" dia menjilat bibirnya dengan cara yang menjijikan. "Darahmu cukup lezat."
"Lepaskan dia!" Teriak Thomas. Dia tidak mempan oleh charmspeak dari Tammi.
Untuk sedetik, Kelli melepas tanganku, tetapi dia kembali merapatkannya ke pintu kaca di belakangku dengat amat erat, mencengkeramnya sampai aku menjerit kesakitan.
"Aku Empousa senior!" Geramnya, mata merahnya terlihat menyala-nyala pada teman-temanku yang sigap mengunus pedang ataupun melepas panah dari busur. "Kalian blasteran yang remeh, tidak akan bisa mengalahkanku!"
"Well, kita lihat saja." Ucap Rico yang sudah sadar. "Serang!"
Tentunya Kelli jauh lebih sigap daripada Tammi. Dalam keadaan sebelah tangan yang mencengkeram erat lenganku sekalipun. Dia menghindari sabetan dari Rico, menangkis panahan dari Diana dan Alex. Dia menulikan telinga oleh charmspeak Thomas. Dia bahkan tidak mempan oleh api yang dilemparkan Hans.
Kemudian Rico kembali menyerang. Aku tahu dia tidak mungkin menusukkan pedangnya di tengah tubuh Si Empousa tanpa harus mengenaiku. Tetapi, Kei sudah melepaskan panahnya, suara berdesing melesat cepat dan menancap di kepala Kelli, menembus hingga beberapa senti dariku. Aku menahan napas.
Sebelum Kelli meledak menjadi debu, dia mencengkeram lenganku erat sekali, sampai-sampai aku merasa tulangku patah. Abu Kelli pun didorong keluar oleh air yang dikontrol oleh Ellionest. Aku pun jatuh ke lantai sambil mengerang kesakitan.
.
.
.
.
.
Ellionest Ward membantu menghilangkan memar yang ada di lenganku. Dia mengulurkan tanganku pada wastafel, dengan sekejap, air sudah menyembuhkan lukaku.
"Terimakasih." Gumamku.
Kami berdua menyusul yang lain keluar toko. Duduk di pinggir taman sambil memikirkan serangan apa lagi yang sedang menunggu kami. Hans yang pertama bangkit dari duduknya, dia menghampiriku. Memegang lenganku perlahan, "Sudah sembuh?" Aku mengangguk, lalu melepaskan tangannya.
"Jadi, kita ke Perkemahan Blesteran menggunakan apa?" tanya Diana.
"Kau pemimpin, Liz. Kau yang tentukan." Ucap Alex.
Saat ini, aku benar-benar merasa sangat lemah, pemimpin tidak seharusnya sepertiku. Yang mudah terluka karena diserang Gryphon dan Empousa. Aku tidak pantas menjadi pemimpin, tetapi, aku tidak mau menghancurkan kepercayaan Reyna padaku. Aku duduk di samping Thomas, lalu menghela napas. Menatap ke sekitar taman berharap menemukan kendaraan yang aman dan cukup untuk menampung delapan—ralat, sepuluh blasteran.
"Long Island jaraknya cukup jauh dari sini." Kata Kei.
Rico mengiyakan, "Kalau saja kita mempunyai mobil…"
"Kalau saja helikopter Paman Carl serta mobil SUV Reyna tidak hancur…" gumam Diana.
Rico menatapku, "Helikopter?"
Aku mengangguk, kemudian menceritakan perjalananku dari Perkemahan Jupiter, memakai helikopter, hingga diserang oleh Gryphon. Tentu saja aku tidak menceritakan mimpi-mimpiku padanya. Belum saatnya, gumamku dalam hati. Aku harus mengetahui yang sebenarnya, mungkin saja mimpi itu hanya mimpi buruk, mungkin saja hanya sebagai bunga tidur, bukan sebagai kenyataan. Tapi aku tahu, mimpi para demigod tidaklah berupa ilusi. Itu adalah semacam informasi ataupun pesan.
Mataku terus tertuju pada mini bus rekreasi yang tidak jauh dari gedung replika Parthenon. Seketika, melintas sebuah ide gila di benakku. "Thomas," panggilku. "Aku punya ide."
"Oh, aku benci idemu." Kata Hans. Aku memutar bola mata.
"Kau bisa charmspeak." Thomas mengangguk.
"Bisa mencoba 'meminjam' mini bus itu?" aku menunjuk-nunjuk mini bus yang kuperhatikan sejak tadi.
"Liz, kau gila." Kata Kei, Rico mengiyakan.
"Tidak juga, ayo." Alex bangkit dari duduk.
"Yah, dalam keadaan darurat saja." Thomas berjalan percaya diri ke mini bus itu. Dari kejauhan, dia terlihat sedang mengobrol dengan seseorang, mungkin sang sopir. Dan beberapa menit kemudian, sopir itu keluar, menyerahkan mobilnya pada Thomas.
Aku bisa mendengar perkataannya, "Jangan sampai lecet."
Kami pun bergerak ke mini bus itu. Aku mendapatkan tempat yang bersebelahan dengan jendela. "Tadi itu hebat, Thomas!"
Thomas terkekeh, "Itu tidak menjadi masalah. Aku pernah mencuri BMW direktur Ayahku."
"Kau benar-benar gila." Kata Alex, menduduki kursi kemudi.
"Sama seperti Liz!" Ucap Hans, duduk di belakangku.
Setelah semuanya sudah masuk mobil, Rico duduk di samping Alex bersama Thomas, dan gadis-gadis yang lain ada di sekitarku. Alex pun menyalakan mesin mobil.
"Cepat, Alex! Sebelum sopir itu tersadar!" Seru Diana sambil menutup pintu.
"Slow down." Ujar Alex, dia menyeringai.
"Ini dia. Long Island, kami datang!" Dan mini bus hasil curian itu berjalan menjauhi Central Park.
