Mr. Johnsson seekor kambing

Kami bermain dengan banteng

Jangan bunuh singa betina itu!

Oh, God! Itu adalah Parthenon Athena!

.

.

.

AKU MEMBENARKAN UCAPAN KEI, Long Island memang cukup jauh dari Central Park tempat kami berangkat tadi.

Sekarang matahari sudah terbenam sepenuhnya dan sebagian besar dari kami mulai kelaparan. Tentu saja, aku sendiri belum sarapan tadi pagi saat para Empousa menyerang. Alex pun memutuskan untuk beristirahat sebentar sambil mengisi bensin. Sontak, kami semua menyetujuinya.

Dan di sinilah, Alex mengisi bensin di sebuah Pom Bensin yang jaraknya tidak begitu jauh dari Long Island. Begitu mobil berhenti dan parkir, kami semua langsung keluar dan berhambur ke sebuah restoran Jepang di dalam area Pom Bensin. Selagi mobil diisi bensin, kami memesan makanan.

Aku mendapati dua gadis blesteran yang duduk di sudut restoran, mereka bersama seorang laki-laki yang berkulit hitam, memakai kaos berwarna jingga, jins biru tua, sepatu hitam, dan topi berwarna merah, dia juga memakai jaket penerbang abu-abu. Aku mempunyai firasat kalau mereka adalah dua orang yang kami cari. Belum sempat aku menghampiri mereka, tetapi laki-laki itu sudah berjalan ke mejaku lebih dulu, dia memakai tongkat penyangga.

"Liz Carter?" tanyanya, aku mengangkat tangan.

"Oh, demi dewa-dewi, akhirnya!" Ucapnya lega. Kami pun bersalaman.

"Hei, Vicky, Angel! Ke sini!" Ajaknya pada dua gadis blesteran yang sedang memperhatikan kami. Rico, Kei, dan Ellionest tampaknya masih sibuk dengan makanan mereka.

Saat mereka mengambil duduk di meja kami, mulailah sesi perkenalan. "Namaku Tony Johnsson."

Laki-laki itu memperkenalkan. Seorang gadis dengan paras orang meksiko pun berkenalan juga, namanya Victoria Sanchez, dia memiliki rambut keemasan bergelombang sebahu, kulitnya putih pucat seperti mayat, dan matanya berwarna hitam gelap. Dia memakai atasan hitam dan celana jins hitam. Dulu sekali, sebelum aku terkena amnesia, aku pernah bertemu seorang dewi yang penampilannya mirip seperti gadis itu.

"Hecate." Ucapnya dengan nada pelan.

"Angela Smith." Ucap gadis yang satunya. Saat menjabat tangannya, rasanya seperti tersulut api. Tangannya kelewat hangat. Aku memperhatikannya, rambutnya berwarna merah, matanya cokelat muda seperti daun maple di musim gugur. Kulitnya tampak seperti manusia fana biasa. Dia memakai dress berwarna cokelat tua, rambutnya dikuncir kuda.

"Api bertemu api." Komentar Diana saat Angela menjabat tangan Hans.

Mau tidak mau, aku menahan tawaku. Sesaat, aku ingin bertanya pada gadis itu, tetapi ucapanku menguap begitu pesananku tiba. Beberapa menit kami menyibukkan diri dengan makanan yang ada di piring masing-masing. Alex yang sudah selesai makan, pergi ke mobilnya untuk memeriksa.

"Aku sebenarnya yang harus menemui kalian lebih dulu." Tony angkat bicara.

"Tapi kami yang menemukan kalian." Ucap Thomas.

"Kenapa begitu? Tunggu," aku mencium aroma binatang bersih, lalu teringat pada kedua Empousa yang aku temui di Central Park, membuatku merindung. "Kau… Faun?"

"Satir!" Seru Tony, ada kilatan marah di matanya.

"Maaf." Ucapku polos.

"Tidak apa-apa, asal kalian memberi kami tumpangan ke Perkemahan." Kata Tony.

Aku melirik Thomas, dia langsung risih, aku tidak tahu kenapa. "Ugh… Di Central Park tadi, aku mencuri mini bus."

"Kau?" Victoria dan Angela berseru bersama-sama.

"Dia hebat, juga gila. Tapi itu memang benar." Rico menyengir.

"Tenang saja, sopir aslinya tidak akan sadar bahwa mobilnya telah dicuri." Tambah Hans.

"Charmspeak." Kata Angela, Thomas mengangguk.

"Dan, lagipula, ini ide Liz." Kata Diana.

"Karena terpaksa."

"Baiklah, ayo ke mobil! Kita tidak mau mengundang banyak monster 'kan?" kata Ellionest.

Aku hanya mengangguk dan merapikan barang-barang, sedangkan Rico membayar makanan. Kemudian, kami semua keluar dari toko tersebut dan masuk ke dalam mini bus satu per satu. Aku berjengit di tempat duduk saat mendengar raungan yang tidak asing untukku.

Itu pasti dia, pikirku.

Aku teringat saat perjalananku pergi ke rumah serigala untuk menemui Dewi Lupa. Aku berlari sementara monster bernama Minotaurus mengejarku membabi buta. Naasnya, saat itu aku tersandung akar pohon di sebuah hutan, dan kakiku terkilir. Atas bimbingan ibuku, Atalanta, aku berhasil mencapai rumah itu sebelum mahluk tersebut meremukkanku. Rasa takut itu masih ada, menjalariku sampai sekarang.

"Kalian dengar itu?" tanyaku takut.

"Dengar? Dengar apa Liz?" Rico menoleh padaku dari kursi depan.

"Mi—" Hans buru-buru membekap mulutku dengan tangannya dari belakang.

"Jangan menyebut namanya, oke? Nama memiliki kekuatan, dan aku tahu apa yang akan kauucapkan." Aku memukul-mukul lengannya karena sulit bernapas. Oke, aku akui aneh, aku bukan anak dari dewa laut, tapi aku bisa bernapas di dalam air. Tapi dengan mulut dan hidung yang terbekap seperti ini, aku merasa hampir mati.

"Mahluk Baik!" Seruku.

Kei yang terakhir naik pun cepat-cepat menutup pintu mobil. Beberapa detik, mini bus sudah berada di jalan raya lagi. Kira-kira satu jam lagi, kami akan tiba di hutan yang dekat dengan Perkemahan Blesteran.

Aku baru akan memejamkan mata, tetapi suara itu terdengar lagi. Terasa lebih dekat daripada saat aku mendengarnya tadi. Beberapa dari kami pun mendengarnya. Menyuruh agar Alex menaikkan kecepatan mobilnya. Mahluk itu pasti sudah ada di belakang mobil kami di suatu tempat dan sedang mengejar. Bagaimana tidak? Dia sudah menemukan hampir selusin blasteran di satu tempat bersama seorang satir.

Dari kaca spion aku mengetahui ekspresi wajah Alex benar-benar panik, tapi entah kenapa dia masih bisa fokus saat petir mulai menyambar-nyambar awan, beberapa detik hujan pun turun sedangkan seruan mahluk itu semakin sering terdengar.

"Demi Hades! Alex, bisakah kau mempercepat mobilnya?" teriak Diana ketakutan, dia sudah pindah duduk di sebelahku, memeluk lenganku. Aku juga sama ketakutannya. Tapi aku sadar, misiku belum selesai, misi bunuh diri yang diberikan Aphrodite padaku, dan aku tahu aku yang memimpin seharusnya tidak boleh merasa takut. Aku menelan ludah dengan susah payah, menelan bulat-bulat rasa takutku.

Alexander Hill membelok tajam ke kiri, kami menikung ke jalan yang lebih sempit yang cukup memuat sebuah mini bus. Mobil melaju melewati rumah-rumah peternakan yang gelap dan bukit-bukit berhutan, dan plang PETIK SENDIRI STROBERI pada pagar putih.

Raungan semakin keras terdengar ketika Alex membelok ke kanan, menuruti perintah Tony yang teriak-teriak di belakang kursinya. Aku yakin kami semua—blasteran yang ada di dalam mobil ini—mulai merasa panik. Aku melihat Angela yang hampir menangis, matanya berkaca-kaca. Aku menyalahkan diriku karena menatap jendela kaca yang tepat berada di sampingku. Dari perkebunan stroberi, tiba-tiba saja sebuah pohon besar terlempar ke depan mobil, Alex refleks mengerem mendadak. Alhasil, semua yang duduk di belakang pun maju ke depan dengan posisi yang buruk.

"Alex!" Kesal Diana, wajahnya menabrak kursi depan.

"Semuanya! Keluar dari mobil! Keluar! Cepat!" Teriak Tony. Topinya telah terlepas dan aku bisa melihat sepasang tanduk mencuat dari kepalanya. Mataku membelalak dan aku kehabisan kata-kata.

"Apa? Tony! Kenapa kau buka celanamu? Oh, bagaimana—" aku mendapati dia membuka celana jins-nya, aku melihat sepasang kaki berbulu berwarna cokelat gelap. Kaki kambing.

"Keluar!" Teriak Tony lagi. Aku tidak sempat mengatakan apa pun karena Diana sudah menarik lenganku, Kei dengan tangan gemetarnya membuka pintu yang langsung terarah pada hutan di samping kiri. Kami satu per satu keluar dan cepat-cepat berlari ke hutan.

"Rico!" Teriakku, aku menatap Rico yang sudah berhadapan dengan Mahluk Baik itu. Napasku tercekat, sebelumnya aku memang tahu seperti apa bentuknya. Tinggi tubuhnya sekitar dua meter, lengan dan kakinya menonjolkan biseps dan triseps, dan entah apa lagi. Semuanya dijejalkan seperti bola bisbol di bawah kulit yang dililit urat darah. Dia tidak memakai pakaian kecuali celana dalam putih. Bagian atas tubuhnya terlihat mengerikan, bulu kasar warna cokelat dimulai sekitar pusar dan semakin lebat saat mencapai bahu.

Lehernya merupakan kumpulan otot dan bulu yang menopang kepala mahluk itu. Di kepalanya ada moncong sepanjang lenganku, lubang hidung beringus yang dihiasi cincin kuningan berkilau, mata hitam yang kejam, dan tanduk hitam-putih raksasa. Ujung tantuk itu sangat tajam, kurasa peruncing pensil listrik saja tidak mungkin bisa meruncingkan setajam itu. Monster itu menginjak mini bus curian kami dan seketika menjadi gepeng.

Jangan sampai lecet. Ups.

Aku tidak sanggup meninggalkan Rico melawan monster itu sendiri, aku menoleh pada temanku yang sudah di pinggir hutan. "Kalian pergi! Aku harus menangani ini." Ucapku sambil menarik liontin yang langsung berubah menjadi rapier.

Ellionest menjerit memanggil namaku saat aku berlari menghampiri Rico. Akhirnya, Diana dan Alex pun ikut bergabung dengan tombak perunggu langit di tangan, mereka mengambilnya sebelum mobil menjadi gepeng.

"Kami bisa menanganinya. Tony, bawa mereka ke Perkemahan dengan selamat!" Seru Rico.

Tony Johnsson menurut, dia membawa keenam temanku masuk ke dalam hutan dan mendaki bukit, pergi lebih dulu ke Perkemahan Blasteran. "Mari menghabisi monster ini." Ucap Alex, dia menghunus tombaknya.

"Liz, bagaimana caramu mengalahkannya?" tanya Diana.

"Kita lihat saja." Kami berempat mengitari monster itu yang meraung-raung seolah mengejek kami.

Dari belakang Alex menikam tubuh besar itu dengan tombak, tapi itu hanya membuatnya marah. Aku dan Rico mencoba menyabet kakinya. Darah monster mengalir selagi dia melolong kesakitan. Tapi sialnya, dia menyingkirkan tubuhku yang kembali menyabet, jadinya, aku terlempar sejauh dua meter dari sana. Aku mengerang kesakitan saat tubuhku membentur aspal. Darah segar mengalir dari mulutkku.

"Liz!" Teriak Rico.

"Jangan pedulikan aku!" Balasku. Aku kembali meneriakkan peringatan saat Minotaurus akan mengambil tubuh Rico, tetapi untungnya, Diana segera menusukkan tombaknya tepat di paha mahluk itu. Rico segera membalikkan tubuhnya dan melompat menjauh.

Mahluk itu membalikkan tubuh dan menyeruduk Diana, gadis itu langsung melompat ke samping dengan cepat dan berteriak murka. Aku berpikir, Minotaurus tidak bisa melihat atau pun mendengar, namun karena di dekatnya ada putra Zeus, sudah pasti dia bisa mencium bau yang sangat kuat.

Monster itu mengerang. Teruslah marah monster, ucapku dalam hati. Aku pun mencoba bangkit dari posisiku. Seketika, aku merasa sekujur tubuhku remuk. Dengan susah payah aku berdiri dan kembali menghampiri teman-temanku. Kami berempat berlari ke dalam hutan.

Salahnya, aku menoleh ke belakang. Melihat mahluk itu mencengkeram mini bus yang sudah gepeng dan melemparnya ke hutan dan rongsokan itu mendarat satu meter dari kami berdiri. Lalu, dia meraung murka dan mengejar kami. Diana dan Alex terus berlari mendekati bukit yang sudah berjarak lima meter.

Rico berkali-kali melempari monster tersebut dengan bebatuan di dalam hutan. Aku yang sudah lemas hanya bisa berlari seperti kura-kura. Saat sudah tidak kuat lagi, aku tersandung dan merasa kakiku terkilir. Sial, umpatku dalam hati. Minotaurus telah berjarak setengah meter dan meraung-raung. Rico yang berjalan lebih dulu dariku pun kembali, dia, Diana, dan Alex mengalihkan perhatian monster itu sementara aku memaksakan tubuh untuk berdiri.

Untuk kali terakhir, monster itu terlihat kelelahan dengan berbagai luka tusuk di tubuhnya. Dalam satu waktu, aku benar-benar memaksakan diri untuk melompat tinggi. Aku Putri Atalanta, Dewi Pelari, Dewi Pemburu, ucapku dalam hati. Aku harus kuat. Aku memenggal kepalanya, Rico menghunus rapier tepat di tengah tubuh mahluk itu, sedangkan Diana dan Alex kembali menusuknya dari belakang. Beberapa detik, erangan keras monster itu terdengar, lalu dia meledak menjadi debu.

"Huh… Akhirnya." Ucapku pelan.

Aku bersandar pada pohon besar dan menatap ketiga temanku yang sama babak belurnya sepertiku. Monster itu tidak memiliki senjata tapi kekuatannya lebih dari sepuluh kali lipat dibanding monster yang memakai senjata.

"Kalian pergi dulu, aku akan menyusul." Kataku pelan.

Saat aku menyusul ketiga temanku yang sudah menaiki bukit, aku mendengar raungan suara singa betina. Aku ragu-ragu untuk merasa senang, karena berdasarkan mitologi Yunani, terdapat beberapa monster dengan wujud singa. Aku berjalan cepat dengan kaki yang terpincang. Teman-temanku sudah menuruni bukit.

Dan aku tertinggal. Ketika aku mencapai puncak bukit, aku melihat di sisi seberang terdapat sebuah lembah, lampu-lampu rumah pertanian bersinar kuning menembus hujan. Tapi itu masih delapan ratus meter lagi, aku tidak yakin dengan keadaan kaki terkilir aku bisa mencapainya.

Aku terjatuh lagi dan memeluk sebuah pohon pinus besar, aku menatap ke atas, hampir menjerit saat melihat sebuah naga yang melingkar dengan Bulu Domba Emas yang tergantung di bawahnya gemerlapan di salah satu dahan. Sihirnya melindungi batas-batas perkemahan dari serangan. Di sebelah kiri bukit, kira-kira enam meter, Athena Parthenon berdiri menjulang setinggi dua belas meter. Sihirnya juga memancarkan rasa aman.

Di bawah bukit, Perkemahan Blasteran terlihat damai dan sepi, mungkin karena malam hari, tetapi aku bisa melihat kepulan asap dari api unggun. Ladang-ladang hijau, hutan, bangunan-bangunan putih kemilau ala Yunani. Rumah peternakan empat lantai yang sepertinya Rumah Utama, atau Rumah Besar berdiri dengan bangga di tengah-tengah ladang stroberi.

Di utara, selewat pantai, terlihat Selat Long Island yang berkilau di tengah terpaan sinar rembulan. Aku nyaris mengagumi suasana tenang tersebut sepanjang hari kalau raungan singa betina tidak mengusikku.

Aku membalikkan tubuh, dan jeritanku terdengar, aku mendapati singa betina berwarna keemasan, mata kuningnya menyala-nyala, namun aku merasa yakin dia tidak akan menikamku. Aku beringsut ke pohon pinus, mundur perlahan saat singa itu mendekatiku.

"Haruskah kubunuh?" suara seorang laki-laki yang kukenal mengagetkanku.

Aku berjengit, lalu memicingkan mata. "Nico?"

Dia duduk di atas pohon dengan pakaiannya yang hitam-hitam, rambut hitamnya acak-acakan dan kulitnya putih pucat kehijauan seperti getah pohon. Nico di Angelo ada di sini, dia sudah menghunus pedangnya. Besi Stygian yang membuatku merinding.

"Ja-jangan!" Ucapku setengah berteriak setengah pelan.

Dia menaikkan satu alis, "Dia singa, mahluk jahat."

"Dia ibuku…" ucapku pelan.

Kau bertemu Putra Hades, sayangku. Kau telah mengakuiku, kau telah selamat sampai perkemahan. Aku akan mengawasimu. Suara singa betina itu terdengar di benakku. Aku dengan lemah menatapnya, aku bisa melihat dia seakan tersenyum padaku sebelum pergi menjauh.

"Dia… Atalanta?" tanya Nico saat dia sudah melompat turun. Begitu cepat sampai aku seperti melihat bayangan hitam.

Aku mengangguk lemah, kakiku yang terkilir terasa semakin nyeri dan ngilu, pundakku pun menambah rasa sakit itu. Kepalaku sangat pusing. Hal terakhir yang kulihat adalah Nico menggendong tubuhku dan semua pandanganku gelap.

.

.

.

.

.

Aku mendengar bisik-bisik di sekitarku sebelum aku membuka mata, samar-samar aku mendapati teman-teman satu mobilku memperhatikanku. Menungguku sadar.

Aku pun membuka mata, sinar matahari langsung menyerbu kedua mataku, terasa sangat silau. Jadi, kuputuskan untuk kembali memejamkan mata sekilas, lalu mengerjap-ngerjap, menyesuaikan cahaya. Aku berada di ruang kesehatan, karena aku melihat beberapa kasur yang diisi oleh sebagian kecil orang-orang yang diperban. Ada petugas yang mendorong trolly obat, alat medis, cairan, dan entah apa lagi.

Aku mendapati Diana, Hans, dan Alex duduk di ranjang kosong di kanan. Mereka menungguku berbicara, kualihkan pandanganku ke kiri, ada Nico di Angelo dengan tatapan khawatirnya, di sebelahnya terdapat seorang anak laki-laki, rambutnya pirang dengan matanya berwarna biru. Aku yakin dia pasti Will Solace.

Aku mengesampingkan pikiran itu, di depan pintu, seperti baru masuk aku melihat Jason dengan rambut pirangnya. Dia bisa saja disebut kembarannya Will karena warna matanya sama. Dan aku terkejut melihat seseorang lagi. Yang berjaga di samping pintu, tubuhnya kekar, rambutnya pirang seperti peselancar. Matanya biru dan banyak, di pipinya, di keningnya, punggung tangannya. Sontak, aku langsung terbangun dari posisi tidurku. Kepalaku langsung terasa seperti disengat.

"Tahan, kau tidak boleh banyak bergerak." Ucap laki-laki berjas putih yang menghampiriku. Rambutnya gelap ikal, wajahnya terdapat jerawat. Aku mengerutkan keningku melihatnya, lalu menoleh ke arah Nico, aku menangkap bentuk kata yang diukir oleh bibirnya tanpa suara, Apollo.

Aku berjengit karena kaget, Nico pun berkata, "Uhm, sebaiknya kita tinggalkan Liz sementara. Dia sepertinya butuh waktu sendiri untuk mencerna segala hal yang dia lihat. Sepertinya masih syok."

Aku mengerti Diana dan Hans tidak mau meninggalkanku sendirian, tetapi aku tahu Nico pasti akan menjelaskan sesuatu tentang keadaan Apollo padaku. Jadi, saat semua orang keluar, termasuk Apollo dan Will, dia menyuruh laki-laki bermata banyak itu agar berjaga di luar, lalu menutup pintu dan menghampiriku.

"Jadi yang kaubilang padaku itu benar?" tanyaku. Dia tidak menjawabnya, dia mengambil gelas yang sudah diisi nektar dan menyodorkannya padaku.

"Kau harus minum dulu, Liz. Kami tidak bisa mengobatimu saat kau belum sadar sejak tiga hari yang lalu." Mataku melotot saat aku menerima gelas itu dan meminumnya.

"Apa katamu? Tiga hari?" kagetku.

Nico mengangguk, "Kau pingsan digendonganku."

Pipiku merona seketika, aku mengalihkan pandangan ke arah jendela, mendapati bunga-bunga yang bermekaran di sana, memperhatikan keadaan ruangan kesehatan. Pandanganku jatuh pada kaki kananku yang dibebat. "Kakiku…"

"Tidak patah, hanya saja Apollo menyarankan kakimu harus dibebat."

"Lalu, ada apa dengannya? Bagaimana bisa…" ucapanku terputus saat Will masuk ke dalam ruang kesehatan. Dia menepuk pundak Nico dengan santai dan membisikkan sesuatu padanya. Aku tidak suka melihatnya, jadi aku kembali menatap jendela, lalu menunduk, menatap gelas kosong di tanganku.

"Liz, maaf. Aku harus pergi." Kata Nico, Will sudah pergi lebih dulu.

Aku memaksakan senyuman, "Pergi saja, aku tahu itu penting." Kataku, meski aku tidak tahu hal apa itu. Tapi sepertinya Nico sedikit memahami perasaanku.

Dia berkata, "Hans akan menjagamu."

"Aku tidak mau dia membakar tempat ini."

"Pilihannya hanya Hans." Aku menggeleng.

"Lebih baik aku sendiri saja." Dia mendapati senyumanku terlihat kaku, akhirnya dia mengangguk dan membuka pintu, lalu keluar. Aku pun sendirian di sini, bukan benar-benar sendirian, memang ada beberapa pekemah yang sedang tiduran di ranjang-ranjang tapi jumlahnya tidak lebih dari setengah lusin.

Langkah kaki kuda membuatku berpaling. Aku melihat laki-laki berumur, rambutnya ikal dan berjenggot. Wajahnya yang memiliki keriput terkesan tegas dan ramah, dia memakai kemeja kotak-kotak dan yang paling mengejutkan adalah tubuhnya. Dari pinggang ke bawah, tubuhnya adalah seekor kuda besar berwarna putih, dan dari pinggang ke atas, tampak seperti manusia normal. Dia datang bersama Jason dan satu orang wanita, aku yakin pasti Jason yang memaksa untuk ikut. Kami dulu cukup dekat.

"Dia bukan demigod." Kata wanita itu.

"Tapi, Nico mengatakan dia sudah diklaim." Balas Jason.

"Aku tidak peduli, dia pasti tidak mengenalmu." Kata wanita itu lagi.

"Pipes! Kuyakin dia mengenalku, kami dulu—"

Aku menatap keduanya dengan pandangan bingung, "Tenang, anak-anak!" Potong manusia kuda itu. Ehm, kalau tidak salah namanya centaurus?

"Liz, kau mengenalku 'kan?" Jason menyerbu.

Aku hanya mengangguk, tapi tetap memperhatikan manusia kuda itu. Dia berdehem pelan, "Kau bisa memanggilku Chiron." Dia memperkenalkan diri.

Keningku mengerut, "Chiron? Bukankah itu nama anaknya Kronos?"

Laki-laki bernama Chiron itu tersenyum sabar, "Sebenarnya, Nona. Kau telah melihat yang asli. Ya, saya adalah anak Kronos. Tetapi jangan salah kira, saya ini orang baik."

"Chiron bertugas sebagai direktur yang menangani aktivitas di perkemahan ini, Liz." Jelas Jason.

Aku mengangguk-angguk. "Bapak manusia kuda?"

"Lebih tepatnya Centaurus." Jawabnya, nah, benarkan dugaanku?

"Nona Carter, benarkah yang diucapkan Nico?"

"Apa yang diucapkannya?"

"Nico mengatakan kau sudah diklaim meskipun kau bukan blasteran." Ucap wanita yang sekarang berdiri di sebelah Jason. Sedangkan Jason menatapku menyelidik, dia tentu tahu aku memiliki tattoo di tanganku, sama seperti dirinya. Tattoo itu menjadi cap bahwa diriku berasal dari Perkemahan Jupiter dan itu permanen, tidak bisa dihilangkan. Tapi kenapa Jason ada di sini? Bukannya…

Romawi dan Yunani saling berselisih dan bermusuhan?

"Aku diklaim oleh Apollo di Perkemahan Jupiter." Jawabku.

Aku menoleh pada Chiron, "Tetapi, kata ibu tiriku, aku anak dari Atalanta dan nenekku adalah anak dari Poseidon. Bapak bisa jelaskan apa artinya itu?"

Chiron terlihat memikirkan ucapanku, ekornya mengibas-ngibas ke kanan-kiri, terlihat gusar. Dia menatapku bergantian pada Jason dan wanita di sebelahnya. "Kau cucu Apollo dan cicit Poseidon. Entahlah, Liz. Kau memiliki beberapa darah dewa sekaligus dewi dalam dirimu."

Mata wanita itu membulat, "Memang bisa begitu?"

Chiron mengangguk, "Dalam beberapa kasus. Liz mengatakan ibunya adalah Atalanta. Dia seorang pahlawan sekaligus pemburu favorit Artemis." Jelasnya, "Banyak kesepakatan bahwa dia adalah Dewi Pelari, Dewi Petualangan."

"Itu benar, larinya secepat angin." Diana yang tiba-tiba sudah ada di dekat pintu masuk menginterupsi.

"Jadi, bolehkan dia tinggal di sini?" tanya Jason.

Sesaat aku terkaget, ternyata sejak tadi atau mungkin sejak tiga hari yang lalu Jason sedang membujuk Chiron untuk menerimaku di Perkemahan Blasteran ini. Mungkin lelaki tua itu menyadari aku bukan murni demigod melainkan keturunannya, jadi dia berpikir dua atau tiga kali untuk memutuskan.

"Mana bisa?" ucap wanita itu.

"Piper! Dia mantan Praetor-ku!" Ucap Jason. Nah, nama wanita itu adalah Piper.

"Ulurkan tanganmu." Suruh Chiron.

Aku pun menurut, mengulurkan tanganku sampai simbol itu terlihat tepat di lengan bagian bawah. Simbol kepala singa, busur dan panah, tombak, apel emas, SPQR dan tiga strips yang menandakan pengabdianku selama tiga tahun di Perkemahan Jupiter sebelum aku menghilang.

"Dia menghilang setelah kami menghancurkan markas Titan." Ingat Jason, "Itu artinya dia seorang pahlawan."

"Grace, seharusnya kau tidak sedemikan memaksanya, aku sudah mendengarnya dari Diana." Balas Chiron.

"Tapi masalahnya…" ucapan Piper terputus, Diana menghampiriku.

"Chiron, dia akan tidur di pondok mana?" tanya Diana.

"Nah itu masalahnya." Piper bersungut-sungut, kemudian Jason merangkulnya.

"Tidak ada pondok untuk Atalanta di sini, jadi kau bisa memilih Apollo atau Poseidon." Jelas Chiron pada akhirnya.

"Aku sudah menerima satu orang gadis di pondok Poseidon! Dia tidak boleh—" seorang laki-laki lagi menyeruak masuk.

"Percy! Kau tidak boleh begitu!" Seru seorang gadis yang mengekor di belakangnya. Gadis rambut pirang dengan mata warna abu-abu segelap badai. Aku menatap laki-laki itu. Dia pasti Percy Jackson, Putra Dewa Laut, Pahlawan Perkemahan Blasteran, rambutnya cokelat gelap dengan matanya berwarna hijau laut.

"Oh, Hei! Grace!" Sapa Percy.

"Diam, Jackson." Ucap Jason. Dia terlihat sedang kesal.

"Jadi, apa keputusanmu Nona Carter?" tanya Chiron, aku mengalihkan pandangan.

"Kau bisa tinggal di pondok Hades!" Seru Nico.

Aku berjengit, lalu meliriknya. Dia menampilkan seringaian yang mungkin bagi sebagian pekemah terlihat sangat buruk terutama aura kematian dan kegelapan yang menguar darinya. Tapi, aku hanya menangkap ekspresi iseng dari wajahnya.

"di Angelo!" Sergah Chiron.

"Maaf, Chiron." Lalu, dia menghilang setelah dirangkul oleh Will Solace.

Saat itu aku merasa jantungku seperti ditikam oleh belati. Aku menunduk, berpikir-pikir, jika aku memilih pondok Apollo, aku akan sering bertemu Apollo yang aku tidak bisa hindari, aku pasti akan merongrongnya dengan banyak pertanyaan yang sekarang berenang di pikiranku. Aku juga akan sering melihat Will Solace, dan tentunya Nico yang kutahu sering menempel dengan lelaki itu. Aku buru-buru menggeleng.

Kalau pun aku memilih pondok Poseidon, Percy sudah memperingatkanku. Satu orang lainnya? Itu pasti Ellionest Ward, sudah jelas bahwa dia Putri Poseidon. Tetapi tidak ada kabin atau pondok untuk Atalanta, itu jelas. Dia adalah pahlawan dan dewi minor.

"Percy… Aku memilih pondok Poseidon."

Mata hijau lautnya memelototiku seketika, aku menelan ludahku dengan susah payah. "Aku bisa berbagi tempat dengan Ellie." Aku berdehem, "Maksudku Ellionest Ward. Dia… Dia temanku."

"Kenapa kau tidak memilih pondok Apollo saja? Itu memperjelas kenapa kau diklaim meskipun aku sendiri saja masih bingung bagaimana itu bisa terjadi, sedangkan—"

"Percy Jackson," Chiron menginterupsi, "Dia baru sadar setelah pingsan selama tiga hari. Tidakkah kau kasihan padanya?"

"Aku… Tidak—Entahlah." Ucap Percy.

"Dia menyelamatkan Hazel dan Frank dari dua Gorgon di Perkemahan Jupiter. Dia melawan Gryphon seorang diri, dia bisa mengendarai angin seperti Jason. Kau tidak berpikir itu semua sudah lebih dari cukup untuk membuktikan bahwa dia memang seorang pahlawan?" wanita di sebelah Percy menjelaskan. "Dan, kata Jason, dia membantu menghancurkan markas Titan."

"Benar apa yang dikatakan oleh Annabeth, Percy." Pak Chiron menyetujui.

"Hei, Bung! Mendapat teman satu pondok itu asik, kau tahu? Aku saja rela berbagi bersama Rico Wright." Ucap Jason.

"Kau tahu Luna? Waktu itu aku merasa sepertimu, tapi aku menerima pada akhirnya." Kata Annabeth, sorot matanya yang tadinya serius sekarang melembut. Percy kembali menatapku, tapi dia tidak mengatakan apa pun lalu melenggang pergi disusul Annabeth.

"Dia sebenarnya tidak seperti itu. Mungkin karena terlalu syok." Kata Jason.

"Maafkan aku… Aku merepotkan kalian." Piper menggenggam tanganku yang membuatku terkejut.

"Tidak apa-apa, Liz. Sekarang aku tahu keadaanmu. Mungkin minggu-minggu berikutnya kami akan membangun pondok untuk Atalanta."

"Tapi, Pipes—" Piper memelototi Jason.

"Baiklah." Pasrah Jason.

"Nah, kurasa masalahnya sudah selesai." Kata Chiron.

"Tetapi…" aku hendak menghentikan Chiron, dan dia berhenti melangkahkan kaki kudanya. Untuk sesaat, aku ragu ingin menceritakan semua mimpiku, aku yakin dia pasti tahu apa sebabnya, apa yang akan terjadi, melihat raut wajahnya yang terlihat lelah, aku pun mengurungkan niatku. Aku menggeleng.

"Senang bertemu denganmu." Ucapku sopan. Chiron pun keluar ruangan. Meninggalkanku bersama Jason dan Piper.

"Jadi, kenapa kau bisa di sini? Kenapa kau baru kembali? Kenapa kau tidak di Perkemahan Jupiter?" Serentetan pertanyaan dari Jason langsung menghujaniku.

Aku merasa kepalaku berdenyut-denyut, aku mengambil sepotong kecil ambrosia di meja di sebelah ranjangku lalu memakannya. Rasanya sama, seperti brownies cokelat buatan ibu tiriku. "Aku mendapat misi untuk pergi ke sini dari Venus—ralat, Aphrodite, atau entahlah."

Mata Piper melotot, "Ibuku?"

Aku mengangguk, "Sebagai hadiah karena merasa bersalah. Dia telah mengubah ibuku menjadi singa betina bersama Melanion, suaminya."

"Itu karena Melanion tidak memberinya persembahan." Sungut Piper.

Aku mengangkat bahu, "Mungkin. Misinya adalah menemukan sembilan blasteran dan datang ke perkemahan ini. Dan kenapa aku baru kembali? Hei, Bung." Aku menepuk pundaknya.

"Aku terkena amnesia sebelumnya. Selama, uhm berapa ya? Kira-kira dua tahun. Nah, baru beberapa hari kemarin aku bersama Diana, Alex, Thomas, dan Hans kembali ke Perkemahan Jupiter." Jelasku.

"Kenapa aku tidak di Perkemahan Jupiter? Yah… Karena misi tadi." Aku kembali meminum nektar.

"Diana mengatakan kau—kalian dikejar Mahluk Baik?" aku mengangguk.

"Mahluk Banteng." Ucapku.

"Dan kau mengalahkannya?"

"Berempat." Jawabku. "Tanpa senjata saja dia sudah sangat kuat. Aku tidak berani melawannya sendiri."

"Tunggu sampai aku menceritakannya pada Percy." Kata Jason.

"Tidak, Jason. Percy pasti sudah tahu dari Ellionest ataupun yang lainnya." Balas Piper.

"Kau sendiri, kenapa tidak di Perkemahan Jupiter? Dan, bukannya bangsa Romawi itu bermusuhan dengan bangsa Yunani?"

"Musim panas lalu, kedua kubu sudah berbaikan."

Keningku mengerut heran, "Kenapa?"

"Ceritanya panjang. Kami sampai harus ke Yunani dan Roma yang asli untuk melakukan misi. Misi dari ramalan besar." Kata Jason.

"Ceritanya panjang?" ulangku.

"Kurasa kau tidak mau mendengarnya." Ucap Piper. Aku yakin dia memakai charmspeak. Buktinya, aku hanya mengangguk lalu mengabaikan. Biarkan sajalah.

"Sebenarnya kami juga baru datang lagi minggu lalu."

"Kami memutuskan untuk melanjutkan sekolah."

Aku mencoba duduk, memang kakiku sudah membaik, tapi masih terasa sakit, "Liz."

"Aku bisa sendiri." Aku menolak Jason yang ingin membantu.

Aku menghela napas setelah berhasil duduk, "Mau apa kau?"

"Piper, aku ingin berkeliling. Aku bosan di sini." Ucapku.

"Kau…" Piper menatapku.

"Ya, sikap GPPH-ku akan membuatku gila kalau aku berada di sini lebih lama lagi." Jason memaksa membantu. Dia dan Piper berhasil membuatku berdiri di pinggir ranjang.

"Kau memerlukan kursi roda." Hans sudah berdiri di ambang pintu. Di belakangnya, si penjaga bermata banyak sedang mendorong kursi roda ke arahku. Oh, bagus. Aku akan terlihat cacat.

"Dia Argus, penjaga Perkemahan Blasteran." Kata Jason.

Aku mengangguk dan Hans membantuku duduk di kursi roda. "Mau kuantar?"

"Tidak, terimakasih." Aku menggeleng, "Aku bersama Piper saja."

Awalnya kurasa Piper tidak mau melakukannya, tetapi akhirnya dia menyetujui. Dia mendorong kursi rodaku dan kami keluar dari ruang kesehatan.

"Antarkan dia ke Paviliun Makan saat makan malam tiba, Pipes!" Seru Jason dari kejauhan. Piper hanya mengangguk dan Jason serta Hans pun menghilang di belokan, mendekati sebuah ruangan yang mungkin tempatnya berkumpul.

.

.

.

.

.

Piper dengan sabar membantuku di kursi roda. Kami akhirnya bisa keluar dari ruang kesehatan yang ada di sebelah Rumah Besar. Aku langsung disuguhkan oleh pemandangan aktivitas para pekemah.

Aku menebak kami pasti berada di pantai utara Long Island. Lembah perkemahan ini membentang hingga ke air, yang tampak berkilauan sekitar satu setengah kilometer di kejauhan. Berbagai gedung yang mirip dengan arsitektur Yunani kuno—seperti paviliun terbuka, amfiteater, arena bundar—bertebaran di bentangan tanah itu. Tetapi, semuanya tampak baru, tiang-tiang marmer putihnya berkilauan di dalam sinar matahari.

Di lapangan pasir dekat sini, selusin satir dan anak usia SMA sedang bermain voli. Kano meluncur di atas sebuah danau kecil. Anak-anak berkaos jingga seperti kaos Tony sedang berkejaran di sekitar sekumpulan pondok yang bersembunyi di hutan. Beberapa anak menembak target di arena panah. Beberapa anak menunggang kuda menuruni jalan berhutan. Beberapa pegasi terbang melintas di langit.

"Biasanya ada lebih banyak pekemah di sini. Mereka datang di musim panas setiap tahun." Piper menjelaskan sambil mendorong kursi rodaku.

"Pekemah tahunan?" dia mengangguk. "Kau tahu, aku berpikir seharusnya aku membencimu." Ucapku.

"Mungkin karena aku anak Aphrodite ya?" tebak Piper.

Aku mengangguk, "Aku tidak boleh mendendam hanya karena hal itu. Lagipula, sudah terlalu lama. Jadi rasanya, untuk membalasnya pun percuma."

"Liz, ibuku sebenarnya baik. Walau kadang suka mempermainkan nasib percintaan orang-orang." Jelas Piper.

"Nasibmu?" Piper menggeleng.

"Terutama tidak dengan nasib percintaanku. Menurutnya mungkin hubunganku dengan Jason tidak menarik. Entahlah, ini satu hal yang tidak kusukai untuk dibahas." Dia mengangkat bahu.

Kami mendekati perkebunan stroberi, aku menahan rasa ingin memetik buah-buah merah ranum itu sekeras mungkin. Ya, stroberi merupakan buah kesukaanku. Aku melihat para pekemah yang sedang memetik buah-buah itu bersama beberapa satir yang tengah meniup seruling.

"Para satir menggunakan sihir untuk menumbuhkan buah stroberi." Ucap Piper.

"Kenapa hanya stroberi saja?"

"Kata Chiron, tadinya mau ditanam buah anggur, tetapi karena Mr. D sedang diberi hukuman, jadi yang ditanam hanya stroberi. Kau mau?" tawarnya, dia memanggil seorang pekemah. "Tunggu sebentar."

Aku memperhatikan Piper berjalan ke pinggir kebun dan mengambil beberapa buah stroberi, lalu memberikannya padaku. Aku memakannya, "Lumayan."

Piper menggangguk, "Mr. D berpengaruh baik pada tumbuhan di sini. Lagi pula, perkebunan stroberi berfungsi untuk menutupi anggaran yang dikeluarkan oleh perkemahan."

"Mr. D itu dewa juga?"

"Tepatnya sih Dionysus. Tapi kami memanggilnya Mr. D," Aku mengangguk. "Ayo kita lihat-lihat hutan." Piper mendorong kursi rodaku perlahan menuju hutan.

Sementara kami mendekat, aku menyadari betapa besarnya hutan itu yang meliputi setidaknya seperempat lembah, dengan pohon yang begitu rapat dan lebat, kau bisa membayangkan bahwa tidak ada yang pernah masuk ke sana sejak orang Pribumi Amerika.

"Hutan itu mengerikan." Ucapku.

Piper mengangguk setuju, "Memang, selain itu hutannya juga dilengkapi oleh pasokan. Tapi, jangan sekali-sekali masuk tanpa membawa senjata, beberapa bulan kemarin malah lebih parah."

"Pasokan apa?" tanyaku. "Kenapa bisa lebih parah?"

"Monster tentunya." Jawab Piper. "Karena terdapat bisikan-bisikan suara yang asing. Tapi semua itu sudah lewat, hutan itu sudah kembali seperti semula lagi setelah salah satu peramal ditemukan."

"Peramal?"

"Iya, musim panas lalu, Oracle kepunyaan Apollo tidak lagi menyebarkan ramalan. Dan kemudian, dia menemukan Oracle kepunyaan Rhea." Jelasnya.

"Rhea? Istrinya Kronos?" Piper mengangguk.

Acara keliling pun dilanjutkan. Kami melihat arena panah dan menemukan Pak Chiron sedang mengajar, dia melambaikan tangan pada kami dan tersenyum. Kami juga melewati danau kano dan istal, tempat para kuda. Aku sedetik memperhatikan kuda-kuda bersayap itu. "Yang warna hitam bagus."

"Oh, itu milik Percy, namanya Blackjack."

Piper mendorong kursi rodaku ke arena lembing, kami mendapati beberapa pekemah sedang berlatih. Ada amfiteater bernyanyi bersama, dan arena yang merupakn tempat pertempuran pedang dan tombak. Lalu, aku menjerit melihat seekor anjing neraka berwarna hitam yang sangat besar.

Piper malah tertawa, "Namanya Mrs. O'Leary. Dia baik."

"Kenapa? Kau takut karena pernah diserang anjing neraka?" Nico datang tiba-tiba sambil membawa sepotong biskuit anjing berukuran sebesar tutup tong sampah dan melemparkannya pada anjing itu.

Aku merengut, "Aku hanya kaget."

Aku tahu Piper berusaha menahan tawanya melihat interaksiku dengan Nico, "Sudah, ayo kita lanjutkan." Dia kembali mendorong kursi rodaku, tetapi dihentikan oleh Nico.

"Apa?" sahut Piper.

"Jason mencarimu, boleh kugantikan?" dalam hati aku memohon agar dia tidak menggantikannya. Bukan apa-apa, bukannya tidak suka, tetapi aku masih merasa sangat kesal padanya. Mungkin ujung-ujungnya dia kembali meninggalkanku dan pergi bersama Will Solace.

Seakan mengerti pikiranku, Nico berkata, "Will sedang latihan musik bersama Kayla dan Apollo."

"Baiklah, jaga dia baik-baik." Ucap Piper, dia melambaikan tangan padaku dan pergi menghampiri Jason. Aku mendengus.

Kami saling berdiam diri sampai pada Nico menunjuk sebuah paviliun di udara terbuka, yang dibingkai tiang-tiang putih bergaya Yunani, di atas bukit yang menghadap ke laut, Selat Long Island. Ada dua puluh meja piknik terbuat dari batu. Tidak ada atap, tidak ada dinding. "Itu paviliun makan." Katanya.

"Bagaimana kalau hujan?" tanyaku.

"Ya, tentu saja harus tetap makan." Dia menatapku, "Ada sihir yang melindungi tempat ini. Monster tidak akan bisa masuk kalau bukan untuk pasokan latihan dan ada yang memanggil. Begitu pula dengan cuaca. Sihir melindungi kita dari cuaca yang berbahaya. Serta, dari mata manusia fana." Jelasnya.

"Mata manusia fana?" ulangku.

"Manusia yang murni, tidak mengandung darah dewa, mereka hanya akan melihat perkebunan stroberi."

Aku mengangguk, kami melanjutkan perjalanan. Nico mengajakku melihat pondok. Semuanya berjumlah dua puluh, terlindung pepohonan di tepi danau. Pondok itu ditata berbentuk omega (Ω)—huruf terakhir Yunani—dengan dua di dasar dan lima berbaris di kedua sisi, serta empat berbaris di depannya, di masing-masing sisi. Dan semuanya adalah kumpulan gedung paling aneh yang pernah kulihat.

Selain kenyataan bahwa setiap pondok dipasangi nomor kuningan besar di atas pintu. Nomor ganjil di kiri, nomor genap di kanan. Semuanya sama sekali tidak mirip. "Pondok-pondok di sini disusun berdasarkan satu dewa atau dewi. Jadi, setiap pondok mewakili satu dewa-dewi."

Pondok-pondok ini meliuk di sekeliling halaman sentral, serta dua sayap bangunan yang mencuat di ujung kiri serta kanan halaman tersebut. Di tengah-tengah halaman terdapat lubang perapian besar yang bertepi batu. "Pondok pertama untuk Dewa Zeus. Jason dan temanmu, Rico tinggal di sana. Kakak Jason yang bernama Thalia juga kadang-kadang datang." Dia menunjuk satu pondok yang berkilau keemasan dan di sebelahnya berwarna perak.

"Tidak menetap?"

Ekspresi Nico menggelap, dia menggeleng. "Thalia menjadi letnan untuk Dewi Artemis, dia adalah pemburu, jadi datangnya tidak sering. Bahkan jarang. Kakakku..."

"Tidak usah dibahas." Aku menghela napas, "Nah, biar kutebak, di sebelahnya pondok untuk Dewi Hera 'kan?" dia mengangguk.

Kemudian, kami melewati pondok-pondok itu. Nico berhenti sebentar di pondok tiga yang tidak semewah pondok satu dan dua. Tetapi, terlihat panjang, rendah, dan kokoh. Tembok luarnya terbuat dari batu kelabu kasar yang dihiasi dengan potongan cangkang laut dan karang, seolah-olah lempeng-lempeng itu dipotong langsung dari dasar laut. "Poseidon?" Nico mengangguk lagi.

Kami mendekati pondok itu, "Percy dan temanmu, Ellionest. Mereka menetap di sini, kau pun juga 'kan? Kudengar kau memilih pondok Poseidon."

"Ya… karena tidak ada pilihan lain."

"Ada pondok Apollo."

"Aku tidak mau."

"Kenapa tidak mau?" aku menatapnya sebal. "Baiklah, ayo lanjut."

Pondok empat ditumbuhi sulur tomat dan atapnya terbuat dari rumput sungguhan. Pondok lima merah cerah—catnya benar-benar jelek, seolah-olah warna itu disiramkan dengan ember dan tangan, atapnya dilapisi kawat berduri. Di atas pintu tergantung kepala babi hutan liar yang diawetkan, dan matanya seolah-olah mengikutiku. "Diana!" Panggilku saat melihat salah satu temanku sedang berdiri di beranda.

"Itu pondok Ares." Nico memberitahui.

Pondok enam berwarna abu-abu dengan burung hantu di depannya. Kutebak, itu pondok Athena. Pondok tujuh tampak terbuat dari emas murni, yang begitu berkilau dalam cahaya matahari sehingga hampir tidak bisa dipandang. "Pondok Apollo."

"Kau pasti sering ke sana."

Pipi Nico merona, "Tidak. Chiron menetapkan peraturan bahwa pondok lain tidak boleh saling berkunjung masuk ke dalamnya."

"Jadi, kau kecewa?"

"Tentu saja tidak." Dia menatapku dan menyadari kata-kataku.

"Kau… Berhubungan dengan Will?"

Aku tersadar oleh ucapanku sendiri, seharusnya aku tidak bertanya seperti itu. Belum sempat Nico menjawab, aku langsung berkata, "Oh! Itu pondok untuk Dewi Artemis!" Seruku menunjuk pondok delapan yang terbuat dari perak. "Terlihat tidak ada orang." Nico terkesiap.

"Benar, itu hanya untuk para pemburunya. Karena Dewi Artemis salah satu dewi perawan. Sama seperti Athena dan Hestia." Jelasnya.

"Athena dan Hestia punya anak."

"Hestia punya anak?" aku mengangguk.

"Annabeth dan Luna Chase anak Athena 'kan? Terlihat jelas dari ekspresinya. Dan ada juga teman baruku, namanya Angela Smith, dia anak Dewi Hestia."

"Ya, dalam beberapa hal. Mungkin bisa saja."

"Itu pondok untuk Hephaestus?" aku menunjuk pondok sembilan yang memiliki beberapa cerobong asap, seperti pabrik mungil.

"Kau tahu?"

"Terlihat seperti bengkel." Ucapku. "Oh, Hei! Hans!" Aku menyapa Hans yang duduk di teras bersama Kei. Dia tersenyum padaku dan aku membalasnya.

Aku terbahak saat melihat pondok sepuluh yang didekorasi layaknya rumah Barbie dengan tirai berenda, pintu merah muda, dan anyelir dalam pot di jendela. Aroma parfum desainer menguar di sekililingnya.

"Aphrodite." Aku mengangguk.

"Aku menebak Thomas tidak akan suka."

Lalu, kami melewati pondok sebelas yang paling mirip dengan pondok perkemahan biasa dan tampak tua. Ambangnya sudah lapuk, cat cokelatnya terkelupas. Di atas ada salah satu lambang, tongkat bersayap yang dililit dua ekor ular, caduceus namanya. "Hermes." Nico mengangguk. Aku menatap dua anak kembar di beranda yang tersenyum iseng padaku. Dan aku mendapati Nico memelototi mereka.

Pondok dua belas dipenuhi oleh sulur anggur, sudah jelas itu adalah pondok untuk Mr. D, maksudku, Dionysus. Dan aku tertegun melihat pondok tiga belas. Pondok itu berwarna hitam dengan obor-boror berapi hijau—Api Yunani—di depannya. Terdapat tulang-belulang dan bebatuan permata di atap dan aura kegelapan menguar di sekililing pondok tersebut. "Ini pondokku, Hades." Ucap Nico.

"Kau tinggal sendiri?"

"Kalau kau ingin, kau bisa tinggal di sini juga." Aku menepuk lengan Nico.

"Aku tidak ada hubungannya dengan Hades." Aku menatapnya kesal, "Kau benar-benar sendirian?"

"Musim panas lalu, Hazel tinggal di sini untuk sementara."

Dia menunjukkan beberapa tempat lagi padaku. Bengkel logam tempat anak-anak menempa pedang sendiri. Aku melihat laki-laki yang diperkenalkan Nico, dia bernama Leo Valdez bersama seorang gadis cantik bernama Calypso. Aku ragu apakah itu nama salah satu peri?

Kemudian kami melewati ruang seni dan kerajinan, terdapat beberapa satir yang melakukan semburan pasir pada sebuah patung marmer berbentuk manusia kambing. Dan tembok panjat, yang sebenarnya terdiri atas dua tembok berhadapan yang berguncang keras, menjatuhkan bebatuan besar, menyemprotkan lava, dan bertabrakan jika kau tidak cukup cepat mencapai puncak.

Aku pun bertanya, "Di mana yang lain?"

"Kau ingin bertemu mereka?" aku mengangguk dan Nico membelokkan kursi rodaku, mengantarku ke sebuah tempat di dekat amfiteater, aku mendapati beberapa temanku sedang duduk-duduk santai.

"Percy," panggilku, "Kau tidak marah padaku 'kan?"

Aku terkejut melihat laki-laki itu tersenyum sopan, "Tidak, tadi karena aku sedang tidak beres."

"Kau memang selalu tidak beres, Otak Ganggang." Ledek Annabeth. Mereka duduk berdampingan, di kiri terdapat Jason dan Piper yang menyengir padaku. Menatapku dan Nico bergantian. Dan di kanan terdapat Ellionest, Victoria dan dua laki-laki yang tidak aku kenal tetapi aku merasa tidak asing.

Menyadari aku menatapnya, dia pun berkenalan. "George Carter." Dia memiliki rambut berwarna cokelat muda pendek dan matanya berwarna biru. Memakai kaos jingga bertuliskan PERKEMAHAN BLASTERAN, jins hitam dan sepatu olahraga hitam. Aku menjabat tangannya.

"Carter?" laki-laki di sebelahnya mengangguk.

"Namaku Calvin Richland." Dia memiliki rambut dan mata berwarna hitam, kulitnya pucat seperti Victoria. "Kami saudaramu."

"Benarkah?" aku merasa tampak bodoh.

"Tentu saja, Liz. Nama keluarga mereka Carter dan Richland. Tidakkah kau menyadari hal itu?" kata Nico. Dia menahan senyum melihat wajah bingungku.

Aku mengangguk seperti robot.

.

.

.

.

.

Harusnya aku tidak menerima ajakan Jason untuk berdiri dan mencoba berjalan, bangun dari kursi roda dengan susah payah. Tetapi, berkat charmspeak dari Piper aku pun menurut.

Aku mencoba untuk yang ketiga kalinya. Kali ini, aku berhasil menjejakkan kedua kakiku ke tanah. Kaki kananku yang dibebat terasa kaku, aku melangkah tiga kali dan membalikkan tubuh. Jason, Piper, dan Ellionest bertepuk tangan. Bahkan Percy dan Annabeth juga meski mereka semua menahan tawa. Aku mungkin terlihat seperti anak bayi yang sedang belajar berjalan.

Lalu, hal itu terjadi. Ketika aku kembali melangkah satu kali, kakiku tersandung. Kalau bukan Nico yang cepat-cepat menangkapku, aku pasti sudah jatuh ke tanah. "Kau harusnya hati-hati."

Aku mendengus, melirik Piper dan Annabeth yang tersenyum penuh arti ke arahku. "Berapa hari lagi aku sembuh dan bisa berjalan dengan baik?" gerutuku.

"Tiga hari lagi, mungkin." Jawab Nico. Dia membantuku kembali duduk di kursi roda.

Bedanya dengan Perkemahan Jupiter adalah saat makan malam tiba, terompet sama-sama bertiup di kejauhan. Tapi, entah bagaimana, aku tahu terompet di Perkemahan Blasteran berbentuk kerang laut, meskipun aku belum pernah mendengar suaranya.

"Makan malam, teman-teman." Ucap Percy, bangkit dari duduk dan menggandeng tangan Annabeth. Begitupula dengan Jason dan Piper. Sialnya, Will Solace dan Apollo, serta dua anak lainnya menghampiri kami, dia menghampiri Nico.

"Ayo, makan malam. Kau harus banyak makan." Nico mendengus, "Perintah dokter."

"Aku bisa ke sana sendiri, kalian pergi dulu saja." Ucapku.

Menyadari suaraku, Apollo mengambil alih kursi roda, lalu mendorongnya. "Kau harus cepat sembuh, Liz. Ayo, kita berangkat bersama-sama." Katanya. Aku mendengus kasar, aku benci tidak bisa menggerakkan kakiku seperti ini.