A Tiny Secret Crush For You

NCT

Yutae – Yuta x Taeyong

Nakamoto Yuta

Lee Taeyong

Other member NCT

NCT milik Tuhan YME, keluarganya, dan SM

This story belongs to me

Romance-Fluff

Rated : T menjorok ke M (?)

BL! YUTAE! DLDR!OOC!

TYPOS EVERYWHERE

.

.

.

Kalau kubilang aku mengenal bagian terkecil darimu, kau akan percaya tidak? That tiny part of you, is the most beautiful thing I had seen in my life.

.

.

.

"Ya Tuhan! Kau lihat kan bagaimana Yuta mencetak golnya tadi?! Kyaaaaa~ Betapa kerennya Nakamoto senpai~"

Ini mungkin sudah tradisi bagi Doyoung, Taeil dan Hansol yang secara bersamaan memutar bola mata mereka ketika Lee Taeyong mulai berhiperbola tentang kapten klub sepak bola asal Jepang itu. Seolah Taeyong tak kehabisan bahan pembicaraan jika menyangkut pemuda yang memiliki nama keluarga Nakamoto itu.

"Makan makananmu dengan benar sebelum aku membuatmu tersedak dengan kimbap di hadapanmu."

Taeyong hanya memajukan bibirnya mendengar ucapan Doyoung. Memasukkan potongan kimbap dengan paksa ke mulutnya yang bahkan belum selesai menghabiskan kimbap yang ada di dalamnya. Membuat pipinya menggembung karena dipaksa memakan dua potongan kimbap sekaligus.

Cekrek!

Mata Taeyong membola saat sadar Hansol mengarahkan kamera belakang ponselnya ke arahnya. Terlebih setelah mendengar bunyi yang dikeluarkan kamera ponsel itu. Apalagi kalau bukan untuk persedian blackmail Ji Hansol?

"Kukirimkan pada Yuta sekarang tidak yaaa.."

"Ji! Kalau kau lakukan itu aku akan membalasnya dengan mengirimkan wajah bodohmu saat mabuk pada Johnny!"

"Taeyong sayang, Johnny sudah sering melihatnya mabuk. Bahkan mungkin Hansol terlihat lebih bodoh saat ia mabuk bersama Johnny. Auw!" Moon Taeil sukses mendapatkan pukulan sendok yang cukup kencang dari Hansol yang duduk di seberangnya. Mengaduh kesakitan pada Doyoung setelahnya yang duduk di sebelahnya.

Saatnya Ilyoung couple mempertontonkan kemesraan mereka yang menjijikkan di hadapan Taeyong dan Hansol.

"Oh ya, kudengar kau baru saja menolak Jung Jaehyun, mahasiswa kedokteran yang tampan dan memiliki kekayaan yang tak akan habis sampai tujuh turunan itu? Ia kan mahasiswa terpintar di fakultasnya dan juga kapten basket kampus kita."

Taeyong kembali memasukkan potongan kimbap ke mulutnya lalu menjawab pertanyaan Doyoung sambil mengunyah kimbap dalam mulutnya. Mengabaikan pendangan menjijikkan yang ditujukan sahabat kelincinya itu kepadanya. "Ia bukan tipeku."

"Oh, lupa. Tipemu hanya sepupu kesayangan Hansol kan?"

Cengiran lebar Taeyong menyambut ketiganya. Membuat Hansol gemas ingin menjitak kepala Taeyong. "Harusnya Jaehyun tak jatuh cinta padamu. Betapa malangnya si tampan Jung Jaehyun yang jatuh cinta pada si idiot Lee Taeyong yang hanya melihat Nakamoto Yuta saja sebagai masa depannya."

"Oh Ji, kau membuatku malu."

Jangan salahkan Taeyong kalau ketiga sahabatnya itu menatapnya horror sekarang. Seandainya para lelaki yang sudah patah hati telah ditolak Taeyong berkali-kali melihat bagaimana aslinya seorang Lee Taeyong, mungkin Taeyong sudah kehilangan titel yang ia sandang sebagai Gorgeous-anime-guy. Noted that, gorgeous, not handsome. Wajahnya memang tampan, tapi beberapa bagian wajahnya lebih condong menampilkan kalau dirinya itu cantik.

Permainan notice-me-senpai yang Taeyong lakukan dalam satu tahun terakhir ini membuat ketiga sahabatnya jengah. Satu tahun penuh mereka mendengarkan berbagai macam pembicaraan tentang Nakamoto Yuta. Terlebih bagi Hansol, yang tak perlu lagi tahu tentang Nakamoto Yuta begini, Nakamoto Yuta begitu, karena Hansol sudah mengenal Yuta sejak mereka masih sama-sama mengenakan popok. Yuta adalah sepupu Hansol dari keluarga ibunya, yang memang berkewarganegaraan negeri Sakura itu.

Meski Hansol dan Yuta saling mengenal baik, bukan berarti ketiga sahabatnya itu juga mengenal baik Yuta. Oke, mungkin pengecualian bagi Taeyong yang merupakan penggemar berat pemuda Nakamoto itu. Selain karena Yuta yang berbeda fakultas dengan keempatnya, Yuta juga lebih sering hangout bersama tim sepak bolanya dibanding hangout bersama sepupunya itu. Bahkan Hansol dan Yuta terkesan tak pernah berbicara satu sama lain saat di lingkungan kampus. Tak salah jika tak banyak yang tahu kalau mereka berdua memiliki hubungan darah.

Kembali pada Taeyong dan kegilaannya pada si kapten tim sepak bola. Taeyong tak pernah melewatkan satu pun latihan ataupun pertandingan yang dilakukan tim sepak bola. Tentu dengan menyeret Hansol yang menjadi tumbalnya. Beralasan kalau ia menemani Hansol menonton Johnny, kekasih Hansol. Yang justru malah sebaliknya, Hansol yang ditarik paksa oleh Taeyong untuk menonton setiap kegiatan yang dilakukan tim sepak bola.

Entah kenapa Hansol bisa sabar bersahabat dengan Taeyong setelah setahun lamanya diseret-seret Taeyong hanya untuk duduk manis dan mendengarkan pemuda anime itu memuji-muji Yuta dari bangku penonton. Beruntung Taeyong masih tahu diri untuk tak berteriak norak ketika Yuta mencetak gol atau Yuta dengan gaya cool-nya menggiring bola dengan kakinya.

Ya, memang Taeyong berhasil menahan dirinya untuk berteriak norak. Tapi selalu Hansol yang kena batunya karena sahabat terCINTAnya itu selalu memukul-mukul tubuhnya setiap ia menemukan momen Yuta yang membuatnya berada dalam fangirl mode on. Membuat Hansol mendapatkan pukulan yang tidak pelan itu sepanjang pertandingan atau latihan berlangsung.

Rasanya Hansol harus menyuruh sepupunya itu untuk berhenti sok keren seperti itu saat di lapangan.

"Ji, temani aku menonton pertandingan Yuta minggu nanti, ya?"

Rasanya Hansol lebih ingin menimpuk Doyoung dan Taeil yang melemparkan pandangan menyebalkan ke arahnya. Oh, kenapa harus Hansol yang hanya menderita karena Taeyong's tiny crush on his cousin?!

.

.

.

Klub sepak bola dengan seragam kebanggan biru hitam itu tengah mengistirahatkan tubuh mereka yang lelah di tengah lapangan sembari mendengar instruksi dari pelatih mereka. Ini sudah 60 menit berlalu semenjak tim sepak bola universitas Seoul itu menjalankan latihan rutin mereka demi menghadapi turnamen sepak bola yang tengah mereka ikuti.

Setelah pelatih Yoon selesai melakukan instruksi, beberapa pemain mulai berpencar untuk mencari tempat beristirahat yang lebih layak atau sekedar mengambil air mineral dan menengguknya hingga habis.

Kalau Johnny sih, tadinya ia mau menghampiri kekasih cantiknya di pinggir lapangan yang tampaknya sedang butuh hiburan dilihat dari raut wajahnya. Tapi Yuta yang seenaknya menaruh kakinya diatas kakinya membuat pemuda keturunan Chicago itu mengurungkan niatnya.

"Jangan menatap Yongie seperti itu."

Johnny memutar bola matanya. Yongie. Rasanya Johnny ingin muntah mendengar panggilan itu keluar dari bibir pemuda Jepang itu.

"Rasanya aku harus menendang bola dan mengenai kepalamu agar otak bodohmu cepat sadar."

Yuta tersenyum tipis sebelum mendorong tubuh Johnny dengan salah satu kakinya. Membuat pemuda bermarga Seo itu mengumpat dalam bahasa asing yang Yuta sudah sering dengar.

"Fuck"

"I'd like to. But not with you, moron."

Johnny benar-benar tak bisa menahan dirinya untuk memiting kepala Yuta dan menjitak pemuda Jepang itu sampai ia berteriak kesakitan.

Yuta dan Johnny sudah mengenal cukup lama untuk dikatagorikan best buddy. Keduanya bahkan tinggal di apartemen yang sama. Selain karena keduanya sama-sama masuk di fakultas Seni, keduanya juga memiliki hobi dan kesukaan yang sama. Jangan kaget jika kau melihat keduanya seperti kembar siam yang tak bisa dipisahkan. Karena, dimana disitu ada Yuta, tak jauh darinya kau akan menemukan Johnny.

Oke, pengecualian saat Johnny pergi kencan dengan Hansol. Johnny akan memastikan telah mengunci sahabatnya itu di kamarnya agar pemuda Jepang itu tak mengacaukan kencannya. Trauma mengajak Yuta saat kencan bersama Hansol dan berakhir mengacaukannya. Bahkan Hansol pernah mengusulkan untuk mengikat Yuta di pohon agar sepupu dari kekasihnya itu berhenti menjadi pengacau kecil kencan mereka.

Sudah berulang kali Johnny menyuruh Yuta mencari pasangan agar berhenti mengganggu hubungan harmonisnya dengan Hansol yang notabene adalah sepupunya itu. Yang selalu dijawab Yuta dengan,

"Dude, aku hanya menunggu waktu yang tepat. Kalau kau sudah punya orang yang tepat tak usah terburu-buru lah. Nikmati masa-masa indah yang mungkin saja tak akan kau dapatkan ketika orang itu sudah menjadi milikmu."

Rasanya Johnny ingin membenturkan kepala Yuta setiap kalimat itu keluar dari mulut pemuda itu. Sayangnya, jika ia melakukan pembunuhan disaat ia belum mendepak pemuda itu dari apartemennya, kalau idiot dari Jepang itu menggentayanginya, hidupnya akan jauh lebih sengsara dari sekarang. Bayangkan, kau digentayangi oleh hantu semenyebalkan Nakamoto Yuta.

"Kau dan Taeyong sama saja. Sama-sama idiot."

Kadang Johnny menduga hal ini lah yang membuatnya yakin seratus persen kalau Yuta dan Taeyong itu akan menjadi pasangan serasi dunia-akhirat. Kenapa? Karena dua-duanya akan menjadi pasangan teridiot sepanjang masa.

"Bagus dong. Itu artinya aku dan Yongie memang berjodoh."

Berjodoh my ass. Setiap Yuta mengatakan hal itu, Johnny benar-benar ingin meninju wajahnya yang selalu memasang cengiran idiotnya.

Mereka berdua tak pernah berbicara lebih dari dua patah kata. Namun keduanya sama-sama menyimpan perasaan yang sama. Yuta dengan let's-protect-this-cutipie-called-Yongie dan Taeyong dengan notice-me-senpai yang tidak pernah berakhir.

Yuta lebih sering bertingkah seperti seorang gentleman -yang membuat Johnny selalu ingin mencongkel bola matanya setiap ia melihat sahabatnya melakukan itu, daripada banyak berbicara ketika berhadapan dengan Taeyong.

Pernah sekali Johnny dan Hansol sengaja meninggalkan Yuta dan Taeyong berdua saja setelah latihan klub sepak bola berakhir. Keduanya tidak se-awkward yang Johnny kira. Mungkin mereka tidak mengobrol sepanjang jalan Yuta mengantar Taeyong pulang. Tapi tampaknya mereka lebih menikmati keberadaan yang lain di dekat mereka. Karena, Yuta tak berhenti tersenyum bodoh sepanjang perjalanannya menuju rumah Taeyong. Bahkan senyum bodoh itu tetap ada di wajahnya hingga ia sampai di apartemen yang ia tinggali bersama Johnny. Mengundang wajahnya mendapat lemparan bantal dari Johnny.

Nakamoto Yuta dan segala keidiotannya.

.

.

.

Doyoung tak berhenti menggerutu sepanjang jalan sementara ia duduk di samping Taeil yang tengah menyetir. Gerutuannya semakin terdengar panjang ketika Taeyong malah dengan santainya bersenandung di tempatnya duduk. Bukan hanya Doyoung, Taeil berulang kali memutar bola matanya malas ketika ia melirik spion depan mobilnya dan menemukan Hansol tersenyum lebar.

Singkat cerita, keempatnya berada di satu mobil dengan Ilyoung couple yang terlihat kesal karena Taeyong dan Hansol berhasil menculik paksa pasangan yang sedang kencan itu untuk beralih dari kencan romantis mereka dan menonton pertandingan final tim sepak bola kampus mereka.

"Ayolah~ Apa salahnya mendukung tim kampus kita di pertandingan final? Kalian kan tak pernah mendukung mereka sejak babak penyisihan."

"Menontonnya? Kupikir kita akan lebih banyak mendengarmu mengoceh sepanjang pertandingan daripada memperhatikan satu bola yang diperebutkan oleh dua puluh dua orang."

Doyoung memang tak melihat Taeyong memajukan bibirnya, tapi ia yakin sekali sahabatnya itu tengah merajuk dengan kedua tangan yang terlipat di depan dadanya.

Lee Taeyong dan sifat kekanakannya.

"Kalian bisa kencan di lain waktu. Pertandingan final ini kan hanya terjadi setahun sekali. Lagipula ini tahun terakhir Yuta menjadi kapten tim sepak bola."

Mengingat ini hari terakhir ia akan melihat Yuta dengan kostum kebanggaannya itu membuat Taeyong semakin memajukan bibirnya. Ah, ia tak bisa melihat betapa seksinya Yuta dengan keringat yang bercucuran membuat lekuk tubuhnya yang terbentuk sempurna menjadi pemandangan indah baginya lagi. Mengingat Yuta dan Johnny akan menginjak tahun keempat mereka dimana mereka harus lebih fokus dengan tugas-tugas skripsi mereka, membuat kedua sohib itu memutuskan pertandingan hari ini adalah pertandingan terakhir mereka.

"Hansol saja tidak sedih ini terakhir kali ia melihat Johnny bertanding. Kau yang bukan kekasihnya Yuta kenapa berlebihan?"

Taeyong menjambak rambut coklat Doyoung dari tempatnya duduk yang persis di belakang Doyoung. Membuat pemuda mirip kelinci itu berteriak histeris.

Membuat mobil yang dibawa Taeil mendadak tak stabil karena si pengemudi terkejut mendengar teriakan cempreng kekasihnya sendiri. Beruntung Taeil dengan cepat menguasai kemudi mobil lagi.

"Kau sahabat terburuk yang pernah kumiliki!"

Salahkan Doyoung, karena setelah ini mereka bertiga harus bersusah payah membujuk Taeyong agar berhenti merajuk. Karena Taeyong yang merajuk lebih mengerikan daripada Taeyong dalam mode fanboy-nya.

.

.

.

Johnny yang kesal karena Yuta tak kunjung menoleh setelah ia panggil berulang-ulang akhirnya memutuskan melempar botol berisi air dingin yang ada di tangannya. Meski ia bertahun-tahun menjadi pemain sepak bola, tak hanya kakinya saja yang ahli menguasai bola, tangannya juga bisa melempar tepat sasaran mengenai wajah Yuta. Oh, sudah lama ia ingin menimpuk wajah sahabatnya itu. Kenapa baru terealisasi sekarang?

"Shit Seo Youngho!"

"Urwel, bro."

Tapi bukan seperti Yuta, yang tak membalas lemparan Johnny segera, pemuda Jepang itu lagi-lagi melamun. Membuat Johnny memutar bola matanya.

"Ia datang, kok. Hanya saja ada sedikit masalah dalam perjalanan kesini."

Ucapan Johnny kali ini tak diabaikan oleh Yuta. Ia segera menoleh ke arah Johnny dengan hitungan sepersekian detik. "Yongie tak kecelakaan kan?! Jangan bilang ia kenapa-napa?!"

Johnny menggerakkan telapak tangannya untuk mendorong cukup kuat kepala Yuta, membuat pemuda itu terhuyung ke belakang.

"Ya Seo Youngho! Aku serius, bodoh! Kalau sampai ada apa-apa dengan Yongie, Hansol lah yang kusalahkan pertama kali."

Kadang Yuta tak tahu diri. Bagaimana mungkin ia lebih mementingkan Taeyong daripada Hansol yang notabene adalah sepupunya?

"Salahkan Taeyong yang tiba-tiba merajuk sehingga mereka terlambat datang kemari. Dia membuat kekasihku frustasi untuk membujuknya tahu."

Merajuk? Dahi Yuta mengernyit. Mendadak terbayang di benaknya bagaimana Taeyong memajukan bibir cherry miliknya itu dengan tangan yang terlipat di depan dadanya dan matanya yang membola seolah marah. Membuat Yuta memekik tertahan. How cute.

"Berhenti membayangkan yang tidak-tidak, bodoh! Cepat pemanasan! Sebentar lagi pertandingan dimulai."

Yuta menatap sinis Johnny setelah si jangkung itu menghancurkan imajinasinya. Yuta melempar botol di tangannya yang sialnya, berhasil ditangkap oleh Johnny. Membuat Yuta semakin keki dan memilih berjalan meninggalkan Johnny yang tertawa secara berlebihan, seolah mengatakan bahwa skor 2-0 dengan dirinya yang lebih unggul daripada Yuta.

.

.

.

Setelah melewati cobaan yang sangat berat –membujuk Lee Taeyong, akhirnya Hansol, Taeyong, Doyoung dan Taeil berhasil masuk ke dalam stadion tempat pertandingan final dilaksanakan. Taeyong yang awalnya masih sedikit merajuk langsung tersenyum lebar begitu kakinya menginjakkan pintu stadion.

Bahkan pemuda itu mengeluarkan suara lengkingan yang cukup tinggi ketika melihat Yuta tengah berlari mengelilingi lapangan bersama anggota tim yang lain untuk pemanasan.

Mulai deh. Kira-kira itu yang ada dipikiran ketiga sahabatnya yang lain.

Lima menit berlalu setelah keempatnya duduk di deretan bangku kosong yang paling dekat dengan lapangan. Pertandingan pun dimulai dengan peluit yang dibunyikan wasit lapangan.

"Kalian harus melihat bagaimana Yuta menaklukan bola itu." Bahkan, disaat bola belum berada di dalam kuasa kaki Yuta, Taeyong sudah memuji pemuda pujaannya itu.

"Seperti ia menaklukan sahabatku tercinta ini dan membuatnya menjadi seorang idiot."

"Ia sepupumu loh, Ji."

"Terima kasih sudah mengingatkannya."

Menit-menit awal pertandingan Taeyong tak membuat komentar yang berlebihan. Mungkin sedikit memuji Yuta. Tapi daripada memuji permainan Yuta, Taeyong malah memuji bagaimana penampilan Yuta hari ini. Betapa tampannya pemuda dengan nomor punggung 07 itu dengan headband yang berada di kepalanya. Meski Yuta baru berlari-lari kecil saja dari posisinya yang menjadi center.

Taeil dan Hansol sedari tadi sudah melempar pandangan satu sama lain. Dan dari yang Taeil tangkap, Hansol berusaha memberitahu bahwa ini lah yang selama ini Hansol rasakan saat menemani Taeyong menonton pangeran berkudanya.

Bukan membicarakan sepak bola. Tapi membicarakan bagaimana sempurnanya Yuta.

Dan ketika Yuta memberikan operan pada salah striker tim, Seungcheol, dan mempersembahkan gol pertama untuk tim mereka, Taeyong lah yang mungkin berteriak paling kencang. Bahkan lebih kencang daripada cheerleader yang bersorak di lapangan.

"Kalian lihat kan?! Yuta mengopernya dan gol! Yuta membuat bola itu masuk ke dalam gawang!"

"Yongie-ku sayang, yang mencetak gol itu bernama Choi Seungcheol, kalau kau belum tahu."

Taeyong tak terima dengan ucapan Taeil. "Kalau Yuta tak mengopernya juga golnya tak akan terjadi."

Taeil menepuk jidatnya sementara Doyoung menahan tangannya untuk tak menjambak rambut hitam milik sahabatnya itu. Hansol? Ia hanya memutar bola matanya malas. Sudah biasa menghadapi Taeyong yang seperti ini.

Ketika menit injury time, di menit-menit terakhir sebelum pertandingan babak pertama usai, Yuta akhirnya berhasil menyumbangkan gol kedua untuk timnya dengan tendangan kaki kirinya.

Tebak apa yang terjadi? Doyoung dan Taeil untuk pertama kalinya menyesal tak membawa penyumpal telinga karena, gendang telinga mereka hampir pecah mendengar Taeyong berteriak sambil melompat-lompat di tempatnya ketika pahlawannya itu mencetak gol perdananya hari ini.

Hansol? Pemuda itu sudah lebih dulu menyumpal telinganya dengan earphone. Karena setelah ini, lebih baik ia menonton tanpa suara secara langsung daripada ia pulang dengan kuping berdarah karena bocah bernama Lee Taeyong.

.

.

.

"Dude, harusnya kau beritahu Irene untuk merekrut Taeyong sebagai anggota cheerleader."

Itu komentar Johnny saat mereka masuk dalam waktu istirahat sebelum babak kedua dimulai. Di posisinya sebagai back, disaat timnya dalam mode menyerang, ia tak bisa tak melirik ke arah kekasihnya dan para sahabatnya berada. Tapi sosok yang duduk di samping kekasihnya itu tampaknya lebih menyita perhatian Johnny. Apalagi ketika ia melakukan selebrasi saat Yuta mencetak gol. Bahkan Johnny kira ia bisa mendengar teriakan Taeyong sampai sini.

"Dan membiarkan yang lain melihat tubuh Yongie yang seksi itu? Kau mau kubunuh sebelum menyelesaikan pertandingan terakhirmu?"

Johnny memutar bola matanya. "Possesive brat. Bahkan dia belum menjadi hak milikmu. Bagaimana jika ia sudah benar-benar menjadi milikmu? Mau dirantai?"

"Nice, John. I think sex with chains like that is amazing."

Harusnya Johnny yang membunuh kapten timnya itu sebelum si nomor punggung 07 bisa menyelesaikan tugasnya sebagai kapten hari itu.

Ketika peluit kembali dibunyikan tanda pertandingan babak kedua sudah dimulai, Yuta kembali dalam mode cool guy-nya sementara Johnny menahan dirinya untuk tak menjoroki tubuh si kapten hingga tersungkur ke tanah. Yuta dan segala kepercayaan dirinya yang tinggi.

Or just stupid show-off in front of his crush.

Kali ini Yuta lebih memimpin timnya untuk memasang mode defensive. Karena timnya sudah unggul dengan skor 2-0, bertindak serakah untuk mengambil angka tampaknya tak dibutuhkan oleh timnya.

Meski dalam mode pertahanan, tapi Yuta tetap mencari celah agar timnya bisa bergerak untuk memasuki daerah lawan. Sebagai center, sudah tugasnya untuk mengatur jalannya permainan karena ia yang berada di tengah lapangan permainan.

Meski kebobolan satu angka, namun saat di menit-menit terakhir, Yuta berhasil menyumbangkan gol keduanya sekaligus gol terakhirnya sebagai kapten tim.

Tak hanya para pemain yang melakukan selebrasi. Para pendukung tim universitas Seoul tentu bersorak paling kencang di stadion itu. Begitu pula para cheerleader yang bahkan berlarian ke arah pemain.

Dan hal yang tak diduga terjadi. Salah satu cheerleader dengan rambut bercat blonde itu berlari ke arah Yuta dan memeluk sang kapten dengan erat. Yuta yang baru selesai berselebrasi dengan menyiksa Johnny tentu terkejut bahkan harus menyeimbangkan tubuhnya karena diterjang begitu saja oleh anggota cheerleader yang bahkan tak Yuta kenal.

"Yuta, cepat kemari!"

Disaat Johnny memanggilnya, dengan cepat Yuta melepas paksa pelukan sepersekian detik yang mengejutkannya itu. Namun tampaknya si cheerleader blonde tak menyerah dan malah mengamit lengan Yuta sambil membawa Yuta menuju pemain dan anggota cheerleader yang lain.

"Irene," Johnny berbisik pada leader tim cheerleader. "Jauhkan anak buahmu dari sahabatku yang satu itu dong."

Irene menoleh ke arah Johnny sesaat. "Maaf Johnny. Mungkin Seulgi refleks memeluk Yuta. Ia sudah lama memendam rasa pada si kapten sih."

Johnny menelan ludahnya kasar. Wow, his stupid-bestie in danger. Johnny tanpa sengaja melihat Hansol, Doyoung dan Taeil berlari keluar stadion. Meski tak melihat Taeyong, tapi Johnny tahu kalau Taeyong lah yang menyebabkan kekasihnya dan dua sahabatnya itu berlari keluar stadion seperti itu.

'Bad news for you, bro.' dan Johnny hanya bisa bersimpati saat Yuta melemparkan pandangan meminta tolong padanya di saat cheerleader yang memeluknya itu masih menempel padanya.

.

.

.

Hansol kira Taeyong tak akan tahan merajuk selama ini. Ini sudah hari keempat Taeyong mendiamkannya, Doyoung dan juga Taeil. Bahkan sudah dari tadi pagi Hansol, Doyoung dan Taeil bediri di depan kamar Taeyong bergantian hanya untuk membujuknya keluar dari kamar.

Kalau bukan karena Yuta yang memohon pada Hansol untuk memaksa Taeyong ikut ke dalam pesta yang diadakan kampus untuk merayakan kemenangan tim sepak bola dan basket dalam turnamen tahunan, dan berjanji akan menjelaskan semuanya yang terjadi empat hari lalu pada Taeyong, disini lah ia sekarang. Menjadi orang terakhir untuk membujuk Taeyong keluar dari kamarnya.

Untungnya Doyoung kepikiran untuk membawa kostum yang akan mereka gunakan di pesta nanti malam ke rumah Taeyong. karena, sampai sore tiba, Taeyong belum mau membukakan pintu kamarnya untuk ketiga sahabatnya.

"Yongie, ayolah.. Jangan sampai aku dan yang lainnya masuk ke dalam kamarmu dengan memanjat pohon di samping kamarmu dan masuk lewat balkon."

Ceklek!

Rasanya Hansol ingin berteriak sekencang mungkin ketika mendengar suara kunci yang dibuka dari dalam. Ia bahkan harus menahan dirinya untuk tak melakukan selebrasi saat Taeyong menampakkan dirinya di hadapan Hansol.

Membuat Hansol ingin membunuh sepupunya sendiri karena membuatnya tak mengenal sosok yang berdiri di hadapannya sekarang.

.

.

.

Sudah lebih dari satu jam Johnny melihat Yuta mondar-mandir di depan cermin. Di lantai kamarnya, berbagai macam stelan jas sudah tergeletak tak beraturan.

Segitu susahnya kah memilih baju untuk pesta? Padahal Johnny hanya membutuhkan waktu kurang dari satu menit untuk mengambil jas terdekat dari jangkauannya waktu itu.

Ddrrrttt

Saat ponsel Johnny berbunyi, bukan Johnny lah yang mengambil ponselnya melainkan Yuta yang tiba-tiba melesat ke arahnya dan mengambil ponsel yang ditaruh di meja samping tempat tidur Yuta itu.

"Okay baby, dad will stop making another brother for you. What?!"

Johnny buru-buru merebut ponselnya dan menatap horror ke layar ponselnya. Heol. Yuta baru saja membaca pesan dari ayahnya.

"Ya! Kenapa membaca pesan orang seenaknya sih?!"

Jika Yuta tak dalam mode paniknya, mungkin Yuta akan mengejek Johnny habis-habisan. Johnny, akan mempunyai adik di usianya yang sudah menginjak angka 23? Mau sejauh apa jaraknya dengan adiknya itu?

"Kukira dari Hansol."

Johnny menghempaskan bokongnya kesal ke tempat tidur Yuta sebelum melempar stelan jas terdekat dengannya ke arah Yuta.

"Pakai itu atau kutelpon Hansol untuk berhenti membujuk Taeyong untuk datang."

Kenapa Johnny selalu menang melawan Yuta? Karena Johnny tahu kelemahan Yuta. Lee Taeyong.

.

.

.

Hansol dan yang lainnya hampir telat untuk pergi ke pesta itu. Di dalam mobil Taeil, dengan si empunya yang berusaha membawa mobilnya dalam kecepatan maksimal namun tetap berhati-hati. Sementara Hansol tak melepaskan genggaman tangannya dengan tangan Taeyong sejak ia menarik pemuda itu untuk keluar dari kamarnya.

Taeyong, yang berbalut jas putih dengan dasi hitam itu tampil dengan rambut yang di-style seadanya karena waktu yang tak cukup. Beruntung Taeyong menggunakan topeng, karena setidaknya lingkar hitam dan matanya yang bengkak parah bisa tertutupi sedikit.

Pesta perayaan kemenangan dua tim kampus mereka ini memang mengusung Mask-party. Dimana para tamu yang hadir harus menggunakan topeng selama pesta berlangsung dan boleh membuka topengnya setelah acara terakhir, yaitu menari di lantai dansa berakhir.

Daripada dibilang perayaan keberhasilan dua tim unggulan kampus merebut kemenangan, ini lebih pantas disebut ajang cari jodoh bagi yang masih single.

Setidaknya itu yang Doyoung ucapkan.

"Cari saja pengganti Nakamoto itu. Jaehyun misalnya. Siapa tahu dia masih menaruh harapan padamu."

Hansol ingin menyumpal sahabat termudanya itu sebenarnya. Namun mengingat dirinya yang masih kesal tanpa sebab dengan sepupunya sendiri membuatnya diam-diam mendukung ucapan Doyoung.

Hansol bersumpah, kalau Yuta tak menembak Taeyong malam ini, ia akan mendorong Taeyong ke arah Jaehyun dan memaksa si kapten basket itu untuk berdansa dengan Taeyong malam ini.

Tampaknya mereka benar-benar telat. Karena saat keempatnya masuk ke dalam gedung yang disewa untuk perayaan kali ini, sudah ada yang berdiri di atas panggung untuk menampilkan penampilannya. Aula dalam gedung juga sudah dipenuhi oleh mahasiswa dari berbagai jurusan yang tak akan mudah dikenali karena semuanya mengenakan topeng.

Sepuluh menit mereka berada di dalam gedung itu, Taeyong sudah merengek minta pulang. Hansol ingin membuka topeng yang ia kenakan dan memijat keningnya sekarang. Sialan Taeil yang menarik Doyoung untuk menikmati waktu berdua sementara ia meninggalkannya bersama Taeyong. Ternyata sebatas itu persahabatan mereka berempat. Hansol bersumpah untuk mengempeskan ban mobil Taeil nanti sementara ia akan membawa Taeyong untuk menumpang mobil Johnny.

Dan lagi, mana sepupunya yang idiotnya kelewatan itu?

Tiba-tiba Hansol merasakan sebuah tangan yang melingkar di pinggangnya. Tahu ini bukan ukuran tangan Taeyong, Hansol memutar tubuhnya hingga ia menemukan sesosok pemuda dengan stelan jas berwarna biru dongket dengan kemeja putih yang tiga kancingnya dibiarkan terbuka.

"Can I steal some of your previous time to dance a bit?"

Mata Hansol membola saat sosok itu menarik tubuhnya bahkan sebelum ia menyetujui ucapan sosok itu. Meninggalkan Taeyong yang tampaknya tak sadar Hansol sudah tak ada di sampingnya karena pemuda itu tengah menenangkan dirinya dengan makan sebanyak-banyaknya. Itu lah yang Taeyong lakukan ketika merajuk. Makan sebanyak-banyaknya.

"Johnny! Kenapa menarikku tiba-tiba begini?!"

Sosok di balik topeng yang menarik tubuhnya seenaknya itu menyunggingkan senyuman tipis. "Kukira kau tak akan mengenali kekasihmu sendiri."

Hansol menjitak kepala Johnny membuat tangan yang sedari tadi melingkar di pinggangnya terlepas. "Auw, It's hurt babe." Hansol memutar bola matanya.

"Aku akan kembali menemani Taeyong. Dan ini bahkan belum masuk waktu untuk berdansa, kenapa kau mengajakku berdansa huh?"

Johnny menahan tangan Hansol yang hendak meninggalkannya. "Babe, jangan hampiri Taeyong! kau bisa mengacaukan rencana yang sepupumu buat selama empat hari empat malam."

"Apa?"

"Biarkan Taeyong dijemput oleh pangeran kesiangannya malam ini. Kenapa kita tak menikmati malam ini seperti yang Taeil dan Doyoung lakukan?"

Ujung bibir Hansol terangkat untuk membentuk sebuah senyuman. Ia segera mengamit lengan Johnny dan sekarang ia lah yang menarik Johnny untuk semakin menjauh dari tempat Taeyong berdiri.

Butuh waktu beberapa menit sampai akhirnya Taeyong sadar bahwa Hansol sudah tidak ada di sampingnya. Taeyong mencoba menoleh kesana-kemari. Ke seluruh penjuru ruangan untuk mencari sosok blonde yang mengenakan kemeja merah marun. Namun nihil. Ia tak menemukan Hansol dimana.

Taeyong menghentakkan kakinya kesal. Ia benar-benar akan pulang tanpa ketiga sahabatnya itu. Masa bodo dengan pesta yang dihadiri seluruh penghuni Seoul University. Taeyong lebih memilih kasurnya untuk menghabisi malamnya kali ini.

"Mencari sesuatu, Princess?"

Tubuh Taeyong terlonjak mendengar suara yang sangat tak asing baginya itu. Dengan cepat ia memutar tubuhnya sehingga ia bisa melihat sosok pemuda dengan stelan jas hitam dengan kemeja yang kancing atasnya dibiarkan terbuka tengah tersenyum ke arahnya. Topeng hitam senada dengan jas yang dikenakannya memang menutupi sebagian wajahnya. Tapi Taeyong tahu benar kalau itu adalah Yuta.

Pujaan hatinya yang membawanya melambung tinggi hanya untuk menghempaskannya keras ke tanah.

Taeyong memilih untuk membalikkan tubuhnya dan memunggungi Yuta. Ia berpura-pura sibuk dengan muffin yang berada di meja terdekat dengannya dan memasukkan muffin itu ke dalam mulutnya. Ingatkan Taeyong ini sudah muffin keberapa yang ia makan malam ini. Jangan sampai Taeyong mabok muffin ketika keluar dari gedung ini.

"Cute."

Muffin yang ada di tangannya hampir terlepas dan terjatuh ke lantai ketika mendengar Yuta mengucapkan sesuatu yang berhasil membuat jantungnya berdetak tak karuan.

Apa tadi pemuda yang ia puja-puja itu baru memujinya? Setelah selama ini hanya ia yang memuji keberadaan pemuda itu, sudah saatnya kah Taeyong mendengar pujian balasan?

"Ada sesuatu di bibirmu."

Ucapan Yuta selanjutnya membuat Taeyong dengan panik menyeka bibirnya. Ia pasti benar-benar terlihat bodoh di hadapan Yuta sekarang. Memakan muffin dengan rakusnya, dan meninggalkan bekas muffin cokelat di bibirnya.

"Here, let me wipe it for you."

Taeyong tak tahu bagaimana kabar jantungnya saat Yuta menggerakkan tangannya untuk menyentuh dagunya dan menggerakkan jemarinya untuk bersentuhan dengan sudut bibir Taeyong.

"Mau menikmati musik dengan berdansa?"

Taeyong bahkan tak sadar bahwa musik yang tadinya berirama upbeat berganti dengan musik dengan irama tenang. Dan orang-orang di sekelilingnya juga mulai mencari pasangan untuk berdansa.

"A-aku tak bisa berdansa."

Bohong besar. Mana mungkin ketua klub dance tidak bisa berdansa?

"Oh ya? Kalau begitu biar aku mengajarkanmu."

Taeyong tersentak saat Yuta menauktkan jemarinya dengan miliknya dan melingkarkan tangannya di pinggang Taeyong. Membawa Taeyong lebih ke tengah untuk bergabung bersama beberapa pasangan yang lain yang sudah berdansa lebih dulu.

Taeyong menggigit bibir bawahnya. Kalau Yuta bilang akan mengajarkannya, berarti Yuta tak tahu bahwa yang berada di balik topeng ini adalah dirinya? Kenapa Taeyong harus berharap tinggi Yuta mengajaknya berdansa karena Yuta tahu bahwa yang sekarang berdansa dengannya adalah dirinya? Mana mungkin Yuta mengenalinya dengan topeng yang menutupi sebagian wajahnya? Yuta kan tak pernah memperhatikannya seperti ia memperhatikan pemuda yang tengah membimbingnya berdansa sekarang.

Berpura-pura kaku dalam berdansa lah yang dilakukan Taeyong untuk menyembunyikan bahwa yang di balik topeng adalah dirinya. Ia tak mau dibuat berharap lebih tinggi lagi jika Yuta tahu bahwa ia yang berada di balik topeng putih yang kenakan.

Mungkin harusnya Taeyong masuk ke fakultas Seni dan mengambil jurusan teater. Aktingnya menjadi dance-fool tak begitu buruk. Ia beberapa kali menginjak kaki Yuta seolah bingung bagaimana ia harus menggerakkan kakinya. Gerakan kaku seperti robot benar-benar tak cocok dengan musik yang tengah mengalun sekarang.

Tapi Yuta tak mengeluarkan sedikit pun protes saat Taeyong menginjak kakinya, atau saat Taeyong bergerak berlawanan dengan arah gerak Yuta. Yang pemuda itu lakukan sejak awal mereka berdansa hanya menatap Taeyong tepat ke bola matanya. Pandangannya tak beranjak sedikit pun dari dua bola mata milik Taeyong.

Tak tahukah Yuta apa yang ia lakukan hanya membuat Taeyong berharap lebih padanya?

Tapi tak ada yang bisa Taeyong lakukan selain larut dalam dua iris coklat milik Yuta. Bahkan Taeyong tak sadar ketika tangannya bergerak dengan sendirinya melingkar di pinggang pemuda itu sementara tangannya yang lain berada di pundak Yuta. Menirukan apa yang Yuta lakukan pada dirinya.

Taeyong tak sadar ketika musik yang ia dengar perlahan menghilang. Butuh beberapa saat bagi Taeyong untuk menyadari kalau mereka berdua sudah tak berada di lantai dansa. Entah sejak kapan dan bagaimana caranya mereka bisa berada di balkon.

Kedua tangan Yuta melepaskan pinggang dan pundak Taeyong. Membuat Taeyong secara refleks melepaskannya juga. Namun tangan Yuta menghentikan pergerakan Taeyong dengan menauhkan salah satu tangan mereka dan menarik Taeyong untuk berdiri lebih dekat dengannya.

"Kau terlihat lebih indah ditemani sinar bulan seperti ini."

Taeyong tak bisa menggerakkan bibirnya untuk mengeluarkan suara. Lidahnya juga terasa kelu, saat tangan Yuta yang bebas bergerak untuk memegang dagunya. Bahkan Taeyong tak melakukan apa-apa saat Yuta semakin mendekat ke arahnya.

Otak Taeyong baru bisa mencerna semuanya ketika bibirnya bertemu dengan bibir Yuta. Yuta berhasil membawanya larut dalam sebuah ciuman lembut. Yuta berhasil kembali menarik Taeyong ke dalam pesonanya. Dimana Taeyong tak akan yakin ia bisa keluar dari sana.

Taeyong mendesah kecewa saat Yuta mengakhiri ciuman keduanya. Membuatnya seketika sadar sesuatu. Apakah Yuta selalu seperti ini dengan orang asing yang ia temui? Mengajaknya berdansa dan berakhir dengan ciuman seperti tadi?

Kalau benar begitu, selamat, karena Yuta lagi-lagi menghempaskan Taeyong begitu saja ke tanah. Dari awal harusnya Taeyong sadar, ia hanya bisa menjadi pengagum Yuta, bukan memiliki hatinya.

Beruntung Taeyong mengenakan topeng kali ini. Tak akan terlalu terlihat ketika ia sedang menangis di balik topengnya sekarang.

"Kau menangis.."

Tampaknya Yuta memiliki penglihatan yang tajam dan menyadari bekas air mata yang jatuh di pipi Taeyong. Tangannya beralih untuk menangkup pipi Taeyong.

"Apa ini terlalu cepat untukmu? Maksudku- berciuman seperti tadi? Apa aku terlalu memaksamu?"

Ucapan Yuta hanya membuat air mata Taeyong mengalir semakin deras.

"Oh God Taeyong, I'm really sorry. Aku tak bermaksud untuk menakutimu. Ta-tapi.. shit. How can I forget the lines I had prepared?"

Mata Taeyong membulat sempurna. Bibirnya terbuka, tak percaya. Apakah Yuta baru saja menyebut namanya?

"Can I open your mask?"

Sembari menunggu jawaban dari Taeyong, Yuta memilih untuk membuka topengnya terlebih dahulu. Dan tampaknya Yuta tak bisa menunggu lebih lama lagi persetujuan dari Taeyong. Tangannya sudah bergerak untuk melepaskan topeng yang dikenakan Taeyong.

"Ba-bagaimana kau bisa tahu kalau ini aku?"

Senyuman lembut yang terpampang di wajah Yuta membuat Taeyong ingin menangis lagi.

"Aku selalu tahu itu dirimu, Taeyong. Aku bisa menebak bahwa kau yang berada di balik topeng ini hanya dengan melihat dua bola matamu."

Taeyong menggigit bibirnya. "Kukira kau tak mengenalku. A-aku ingin menangis rasanya ketika pemikiran tentang kau yang mengajak berdansa orang asing dan menciumnya meski kau belum melihat wajahnya. K-kau terlihat seperti-"

"-brengsek kan? Hansol berulang kali memanggilku dengan sebutan itu. Aku memang brengsek, Taeyong."

"Ma-maksudku bukan begi-"

"Apa namanya kalau bukan brengsek jika sudah membiarkan seseorang menunggumu begitu lama hanya untuk mengatakan ini. Dengarkan aku baik-baik. Karena aku tak yakin bisa mengulanginya lagi."

Kedua tangan Yuta bergerak untuk menggenggam erat tangan Taeyong. "I've always loved you, before you even laid your eyes on me. Ketika aku melihatmu bersama Hansol, di tahun pertama kita. I've always known everything about you, before you started interesting on me. Aku bahkan diam-diam memperhatikanmu saat kau berlatih sendirian di ruang dance. Dan terakhir, I've made you waited so long, but I promise. Malam ini, adalah malam terakhir aku membiarkanmu menunggu."

Taeyong tak pernah kehilangan kata-kata seperti sekarang. Ia ingin mengucapkan sesuatu, tapi lidahnya tak kunjung bergerak dan bibirnya tak mengeluarkan suara sama sekali.

"Lee Taeyong, biarkan malam ini menjadi malam terakhirku menjadi sosok yang brengsek di matamu. Biarkan malam ini menjadi malam pertama kita mengawali semuanya, menulis sesuatu di lembaran kertas putih yang selama ini kita biarkan kosong begitu saja."

Yuta menautkan jemari mereka. Dan Taeyong akhirnya menemukan suaranya kembali.

"Sejak kapan kau adalah sosok yang brengsek? Apapun yang kau lakukan, kau hanya lah seorang Nakamoto Yuta di mataku. Orang yang berhasil merebut hatiku sejak lama."

Yuta benci jika Johnny selalu menyebutnya idiot ketika ia tersenyum lebar. Tapi ia tak bisa tersenyum lebih lebar lagi mendengar penuturan Taeyong. tangannya segera menarik tubuh kurus itu ke dalam pelukannya. Membiarkan Taeyong menenggelamkan wajahnya di ceruk lehernya.

"Maaf membuatmu harus melihat lingkaran hitam di bawah mataku seperti ini.." Taeyong bergumam. Nafas Taeyong yang berhembus di ceruk lehernya membuat Yuta tersenyum sebelum menghirup aroma rambut Taeyong. aroma stroberi.

"Lingkaran hitam itu ada karena aku kan? Biarkan aku menebusnya semuanya, Taeyong. Aku berjanji."

Taeyong tersenyum sebelum menganggukkan kepalanya dan semakin menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Yuta. Membiarkan kedua tangan Yuta melingkar kokoh di pinggangnya.

.

.

.

END

.

.

.

BONUS!

"Yah, kita tak jadi membunuh Yuta nih malam ini?" Harusnya Johnny mencegah dirinya untuk tak menerima jitakan penuh kasih sayang dari Hansol.

"Padahal aku dan Taeil sudah mengobrol sedikit dengan Jaehyun tadi. Dan tampaknya Jaehyun masih menaruh harapan pada Taeyong."

"Kalian ini tak bisa bersenang-senang sedikit melihat dua pasangan idiot itu bersatu apa?!"

.

.

.

I'm back again~ With Yutae this time, kekeke. Thanks banget buat semua review yang mampir ke TY FF Collection ini~ Cipok satu-satu ah :*

Oh ya, buat yang udah request, bisa ditunggu yaaps. Aku masih punya utang Johnyong sama mbak bbykon. Lagi ngumpulin feel buat nulis rated M nih, hehe. Abis mba bbykon mintanya gak nanggung-nanggung. Udah Johnyong, rated M lagi -_-

Last, RnR pleeeeaassseee ;)