KISSES
NCT
Johnyong – Johnny x Taeyong
Seo Johnny
Lee Taeyong
Other member NCT
NCT belong to God, their family and SM
This story belongs to me
Rated : M
BL! DLDR!
TYPOS EVERYWHERE!
.
.
.
First Kiss
Jaeyong, Yutae, Taeten, 2Tae, atau apalah nama shipper yang diciptakan oleh para fans diluar sana. Biarkan lah mereka berdelusi tentang pasangan favoritnya masing-masing. Dan biarkan lah mereka menikmati fanservice yang Taeyong lakukan bersama Jaehyun, Yuta, Ten maupun Taeil. Karena nyatanya itu hanya lah fake, bohongan.
Sejak dulu, hanya ada satu orang yang mengisi hatinya. Pemuda yang menyapanya lebih dulu di hari pertama ia menginjakkan kakinya di gedung SM sebagai trainee. Pemuda jangkung yang waktu itu bersurai hitam memasang senyum hangat dan memperkenalkan namanya. Johnny Seo.
Empat tahun Taeyong lalui berlatih di ruangan yang sama, tinggal di satu atap yang sama bersama pemuda yang berhasil merebut perhatiannya. Ketika ia dan Johnny sama-sama bernaung dalam nama SM Rookies, Taeyong tak bisa menggambarkan betapa bahagianya dirinya. Itu artinya ia dan Johnny akan selalu bersama-sama.
Namun sayangnya ketika Lee sajangnim memberitahu bahwa NCT akan debut dalam unit-unit yang berbeda, dan saat ia dan lima orang trainee lainnya diberitahu bahwa mereka yang memiliki kesempatan debut lebih dulu, rasanya Taeyong ingin menangis saat itu juga.
Karena nama Johnny Seo tak disebut dalam daftar enam trainee yang akan debut dengan nama NCT U.
Bahkan sepeninggalan Lee sajangnim dan ruangan yang mendadak riuh dengan ucapan selamat dimana-mana yang ditujukan pada enam trainee yang akan segera debut, Taeyong tak berhenti menggigit bibir bawahnya. Bahkan ia mengacuhkan Yuta yang memeluknya sembari mengucapkan selamat padanya.
Ya, Taeyong akan debut. Tanpa Johnny.
"Kau sudah melamun selama satu jam terakhir."
Taeyong hanya menundukkan wajahnya mendengar suara yang selalu menimbulkan getaran aneh di dalam tubuhnya. Ia tak tahu bagaimana mereka berdua bisa duduk di salah satu tangga gedung SM. Seingatnya, Johnny memang menariknya untuk keluar ruangan. Tapi Taeyong tak tahu Johnny akan membawanya ke tangga darurat gedung SM.
"Kau bahkan tak mau menatapku. Yongieee~ ayolah~ Lihat wajahku!"
Mungkin karena tak sabaran, Johnny akhirnya membiarkan tangannya bergerak menangkup wajahnya. Mengangkat wajahnya sehingga mau tak mau ia harus bertatapan langsung dengan iris coklat milik Johnny.
Hanya untuk terkejut melihat pemandangan yang disuguhkan wajah Taeyong.
"Hei, kenapa menangis?"
Taeyong tak menjawab. Ia membiarkan tubuhnya melakukan apa yang hatinya mau. Memeluk Johnny erat seolah esok hari ia tak akan melihat Johnny lagi.
Tapi bagaimana kalau ia benar-benar tak bisa melihat Johnny lagi setelah ia debut nanti?
Taeyong bersyukur Johnny benar-benar mengerti dirinya. Pemuda yang beberapa bulan lebih tua darinya itu tak mencoba mengiterupsi tangisannya. Johnny hanya membalas pelukannya dengan pelukan yang lebih erat, seraya mengusap-ngusap punggungnya. Membuat gerakan yang bisa menenangkannya.
"Jadi, mau bercerita kenapa Yongie menangis?"
Johnny perlahan melonggarkan pelukannya. Menatap kedua bola mata Taeyong yang masih berair, namun air matanya sudah berhenti mengalir.
"Ki-kita tak debut bersama.."
Rasanya Taeyong ingin menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Tak peduli bibirnya akan berdarah nantinya. Ia butuh sesuatu yang bisa menghentikan dirinya untuk menangis.
Tapi tatapan lembut yang diberikan Johnny malah membiarkan air matanya lolos begitu saja.
"Kita akan debut bersama, Yongie. Nanti. Pasti. Kau bisa pegang kata-kataku."
Ucapan Johnny yang terdengar seperti janji yang tak pasti di telinga Taeyong membuat Taeyong memejamkan matanya rapat-rapat. Ia mengambil nafas dalam sebelum menghembuskannya perlahan. Mencoba menyerap baik-baik ucapan Johnny. Membiarkan rangkaian kata yang Johnny ucapkan barusan masuk ke dalam memorinya. Agar ia bisa menagihnya nanti pada pemuda itu.
Taeyong terlalu sibuk menenangkan dirinya sendiri. Hingga ia tak sadar Johnny sudah memperpendek jarak antara keduanya. Bahkan benar-benar mengeliminasi jarak antara dua sahabat dengan tahun lahir yang sama itu. Mendaratkan sebuah ciuman lembut pada bibir merah muda Taeyong yang sedari bergetar karena tangisan pemiliknya.
Taeyong refleks membuka kedua matanya. Membiarkan bola matanya membola ketika sadar bahwa Johnny benar-benar tak membiarkan jarak sedikitpun memisahkan keduanya. Jantungnya berdebar tak karuan, seolah-olah siap meledak kapan saja di dalam tubuhnya.
Ciuman lembut dengan sedikit lumatan yang membuat Taeyong tanpa sadar larut di dalamnya. Kembali menutup kedua matanya dan menikmati Johnny yang membawanya semakin larut ke dalam ciuman itu.
Sampai Johnny memberi sedikit jarak, menghentikan ciuman mereka. Membuka bola matanya dan menemukan pemandangan paling menggemaskan di hadapannya. Taeyong dengan seluruh wajahnya yang memerah dengan bola mata yang masih berkaca-kaca. Dan jangan lupakan bekas air mata yang masih memenuhi kedua pipinya. Lee Taeyong benar-benar terlihat menggemaskan sekarang.
"Aku juga khawatir saat tahu kita tak akan debut bersama. Aku khawatir jika kau mulai tertarik dengan Jaehyun, atau yang paling parah Yuta. Tapi ciuman tadi tampaknya membuktikan padaku, bahwa aku tak perlu khawatir. Karena aku tahu tanpa diriku di sampingmu, hatimu tetap berada bersamaku. Begitu pula dengan hatiku, yang akan selalu berada bersamamu."
Johnny adalah tipe yang jauh dari kata serius jika bersama member yang lain. Tapi semuanya akan berbeda jika pemuda yang lahir pada musim dingin itu bersama Taeyong.
Jika Johnny bersama Taeyong, itu artinya ia akan berubah menjadi sosok yang siap melindungi Taeyong kapan saja. Hangat, lembut, dan menghanyutkan.
"Bodoh," Taeyong mengulum senyumnya. Mencubit lengan kiri Johnny yang membuat pemuda Seo itu meringis kesakitan. "bilang kalau mau mencuri ciuman pertamaku. Aku benar-benar terlihat memalukan setelah kau mencurinya."
Taeyong harus memastikan dirinya bisa menemukan lubang untuk mengubur tubuhnya dalam-dalam disana dan tak bertemu Johnny selama beberapa saat.
Tapi tampaknya Johnny tak ingin melepaskan Taeyong untuk sekarang.
.
.
.
Morning Kiss
Taeyong tahu tinggal tersisa beberapa hari lagi ia tinggal di dorm yang sama dengan para trainee lainnya. Karena minggu depan, ia sudah harus selesai mem-packing barang-barangnya untuk pindah ke dorm yang baru yang hanya berjarak beberapa kamar dari dorm sebelumnya. Dorm khusus unit yang akan debut nantinya.
Itu artinya, tinggal beberapa hari lagi ia bisa tertidur dalam pelukan Johnny seperti ini.
Yuta memang teman sekamar Taeyong. Tapi sejak Johnny mengumumkan pada semuanya bahwa ia dan Johnny adalah sepasang kekasih sekarang, Yuta memberi kesempatan pada Johnny untuk sekamar dengan Taeyong sebelum Taeyong benar-benar pindah dari dorm mereka.
Taeyong melirik jam weker yang berada di meja samping tempat tidurnya. Pukul 7 lewat lima belas menit. Itu artinya kemungkinan beberapa penghuni rumah ini sudah bangun. Mengingat beberapa diantaranya masih harus pergi ke sekolah.
Dan sebagai chef di dorm mereka, Taeyong harusnya tak bermalas-malasan di pelukan Johnny seperti sekarang. Ia harus menyiapkan sarapan untuk penghuni dorm ini, dan bekal untuk mini-rookies yang akan berangkat sekolah satu jam dari sekarang.
Tapi tangan Johnny yang melingkar posesif di pinggangnya membuatnya terasa enggan untuk bangun dari tempat tidurnya sekarang. Single bed yang dipaksa menanggung dua orang sekaligus. Meski sempit, tapi rasanya nyaman ketika Johnny berada di sampingnya.
Mau tak mau Taeyong harus bangun sekarang juga. Dengan perlahan ia mencoba melepaskan tangan Johnny yang melingkar di pinggangnya. Saat ia hampir berhasil, tangan yang sudah susah payah ia lepaskan itu malah kembali melingkar lagi di pinggangnya dan menariknya semakin dalam ke pelukannya.
"Youngho.. Aku harus masak untuk yang lain. Kau tahu Jisung tak biasa makan makanan di kantinnya kan?"
Johnny mengerang. Mendengar Taeyong yang sudah memanggilnya dengan nama Koreanya, itu artinya Taeyong benar-benar serius.
"Lima menit lagi, baby. Aku masih membutuhkan gulingku."
Taeyong memutar bola matanya sebelum mencubit tangan Johnny yang melingkar di pinggangnya. Sukses. Tangan itu segera terlepas diiringi dengan ringisan yang keluar dari mulut Johnny.
"Nih, peluk boneka spongebob milikku saja selama aku tak ada. Oke?"
Taeyong buru-buru turun dari tempat tidurnya sebelum Johnny kembali menariknya dan tak membiarkannya untuk keluar dari kamarnya.
Ketika Taeyong sampai di dapur, penampakan Yuta dan Ten yang mengisi dapur kesayangannya membuat matanya terbelalak seketika.
"Kalian sedang apa?" Taeyong tak bisa menyembunyikan nada panik dalam ucapannya.
"Memasak, hyung. Habis hyung tak bangun-bangun sih." Ten menyahut. Tangannya sibuk membalik telor yang bentuknya sudah tak beraturan di wajan.
Taeyong melirik Yuta yang tampaknya sedang memasak ramen. Ramen untuk sarapan? Oh yang benar saja, Nakamoto.
"Kalian keluar lah. Biar aku yang memasak untuk sarapan."
Taeyong menarik tangan Yuta dan Ten dengan paksa dan menggiring mereka keluar dari dapur. Mengacuhkan protes keduanya. Buru-buru Taeyong mematikan kompornya. Mereka berdua hanya memasak telor dadar dan ramen saja di pagi hari, tapi keadaan dapurnya benar-benar seperti kapal pecah sekarang.
Harusnya tadi Taeyong mengomeli mereka berdua dulu sebelum menggiring keduanya keluar.
Taeyong terpaksa membuang menu sarapan tak sehat Yuta dan menu sarapan yang hancur tak karuan milik Ten. Ia akan memasak dalam jumlah yang besar hingga bisa mengisi perut belasan orang yang tinggal di dorm ini.
Mengerjakannya sendiri tentu sangat sulit. Biasanya Taeyong hanya akan membuatkan sarapan untuk beberapa member saja, yang kebetulan minta dimasakkan. Yuta misalnya, sahabatnya itu adalah pelanggan nomor satu untuk menu sarapannya. Tapi mengingat Taeyong akan pindah dari dorm ini segera, Taeyong ingin memberi pelayan special pada yang lain dengan memasakkan sarapan setiap harinya sebelum ia benar-benar pindah dari dorm ini.
Kemarin-kemarin ada Jaehyun yang membantunya. Johnny juga kadang-kadang membantunya. Tapi tampaknya keduanya masih ingin berlayar di lautan mimpi untuk sekarang ini. Dan Taeyong tak tega jika harus membangunkan keduanya.
"Kau jahat."
Taeyong sedikit terlonjak saat mendengar suara itu berada tak jauh tepat di belakangnya. Terlebih saat sepasang tangan kembali melingkar di pinggangnya. Tak perlu membalikkan tubuhnya, Taeyong tahu kalau Johnny tampaknya tak berniat untuk melanjutkan tidurnya.
"Untung kau bangun. Bantu aku untuk memasak sarapan pagi ini, ya."
"Tidak mau."
Taeyong memutar tubuhnya dan menatap Johnny dengan tatapan tak percaya. Johnny yang biasanya tak pernah menolak untuk membantunya baru saja menolaknya?
"Kau harus memberikan morning-kiss milikku dulu baru aku mau membantumu."
Oh. Taeyong lupa kalau ia tadi tak melakukan ritual yang biasa mereka lakukan sebelum bangun dari tempat tidur.
"Ambil saja sendiri kalau mau." Taeyong buru-buru membalikkan tubuhnya agar Johnny tak menangkap pemandangan wajahnya yang memerah karena malu.
"Kalau aku yang mengambilnya aku akan kenyang sebelum aku memakan masakanmu, baby."
Jika Johnny sudah berbicara dengan suara rendah seperti itu, Taeyong tahu ia sudah berhasil membangunkan Seo Youngho yang tertidur di dalam diri Johnny Seo.
Mati aku.
Taeyong buru-buru membalikkan badannya lagi dan memberikan kecupan singkat di bibir Johnny. Tak memperdulikan pemuda yang lebih tua mengerang.
"Baby, itu morning-kiss paling singkat yang pernah kuterima darimu!"
Taeyong berpura-pura tak mendengar dan mulai menyibukkan dirinya dengan menyiapkan bahan-bahan untuk masakannya. Tentu dengan wajah yang dipenuhi rona merah.
.
.
.
Goodbye Kiss
Akhirnya hari ini datang. Hari dimana Taeyong benar-benar harus mengangkat kakinya dari dorm yang sudah ia tinggali selama empat tahun lamanya ini.
Mungkin berlebihan, saat ia melihat Yuta memeluk Ten dan Jaehyun sekaligus. Berpura-pura menangis disaat Ten dan Jaehyun hanya tertawa menanggapi hyung-nya yang satu itu. Atau Donghyuck yang sedari tadi tak melepaskan pelukannya dari Mark. Bocah yang satu itu akan kehilangan bahan bully-annya selama beberapa waktu ke depan. Sementara Hansol dengan tenangnya menghampiri Taeil dan Doyoung dan berbicara sejenak sebelum pemuda tinggi itu membawa Taeil dan Doyoung ke dalam pelukannya.
Mereka terlalu berlebihan padahal mereka hanya pindah beberapa kamar dari dorm ini. Ia pikir ia yang akan berkelakuan berlebihan. Tapi nyatanya sahabatnya yang lain lebih parah darinya.
Mungkin Johnny memang tak melepaskan rangkulan tangannya di pinggangnya sedari tadi. sementara Taeyong juga enggan menjauh dari tubuh Johnny yang hangat. Tapi keduanya sedari tadi hanya menatap pemandangan member mereka yang menampilkan drama gratis di hadapan mereka. Termasuk untuk mini-rookies terutama Jisung yang hanya menatap para hyungnya dengan tatapan kebingungan.
"Jadi," Johnny perlahan membuka suaranya sembari memutar tubuh Taeyong agar manghadap ke arahnya. "kau tahu apa yang harus kau lakukan saat kau membutuhkanku, kan?"
Johnny memang tak pernah berhenti untuk mengingatkan Taeyong setiap saat, ketika Taeyong benar-benar pindah dan menjalani jadwal yang berbeda dengan jadwal trainee-nya, membuat keduanya disibukkan dengan kesibukkan masing-masing, Taeyong harus selalu menghubunginya ketika ia membutuhkan Johnny.
Karena apapun yang tengah Johnny lakukan saat Taeyong menelponnya nanti, Johnny sudah berjanji akan segera menemui Taeyong saat itu juga. Karena Johnny sudah berjanji akan selalu ada di setiap saat Taeyong membutuhkannya.
"Kau no 1 di panggilan cepat ponselku."
Taeyong tak mau ikut-ikutan menjadi pemeran dalam drama gratis yang sudah ada di hadapannya itu. Jadi, Taeyong berusaha untuk tak bertingkah berlebihan. Karena, hei, mereka tak selamanya berpisah kan? Johnny bisa mengunjungi dormnya setiap saat. Begitu juga sebaliknya.
"Kalau begitu, aku akan mengantarmu sampai ke dorm barumu."
Tak seperti yang lain yang hanya mengantar keenam yang lainnya sampai pintu dorm mereka, Johnny tak melepaskan rangkulannya dari Taeyong hingga mereka tiba di dorm baru Taeyong.
"Aku akan kesini saat kau selesai latihan. Hubungi aku jika kau sudah kembali ke dorm, mengerti?"
Taeyong mengangguk sebelum memasang senyuman termanisnya. Ia memeluk leher Johnny beberapa saat. Sebelum melepaskan pelukan singkat mereka dan bersiap untuk masuk ke dalam dorm baru mereka.
"Baby," tapi suara Johnny menghentikannya.
Johnny maju satu langkah agar ia lebih dekat untuk mencium kening Taeyong. menciumnya lama, sebelum memandang dua bola mata Taeyong yang berbinar menatapnya.
"Masuklah. Aku akan kembali ketika kau sudah masuk."
Taeyong tak bisa menyembunyikan senyuman malunya saat ia mencium pipi Johnny secara singkat sebelum menutup pintunya dan membuatnya kehilangan pemandangan Johnny yang terkejut karena ciuman tak terduga yang ia lakukan.
Meninggalkan Taeyong yang memegang dadanya, berharap bisa menghentikan benda di dalamnya berdetak tak karuan.
.
.
.
Healing Kiss
Taeyong rasanya enggan untuk masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya terutama make-up yang ia kenakan. Pikirannya terlalu lelah bahan cukup untuk membuatnya lupa bahwa ia si clean-freak yang selalu mengomeli member yang lain jika tak mandi sebelum pergi tidur.
Tapi tampaknya yang lain juga tak ada niat untuk menghentikannya menjatuhkan tubuhnya langsung ke kasurnya. Terlebih Doyoung yang menjadi teman sekamarnya.
Taeyong menghabiskan waktunya selama beberapa saat hanya untuk memejamkan matanya. Peristiwa tadi terulang terus-menerus di memorinya. Dimana ia menjadi seorang anak yang cengeng ketika meminta maaf pada orangtuanya. Taeyong tak seharusnya menangis sementara kesalahan yang ia perbuat di masa lalu terus menghantuinya.
Taeyong terlalu larut dalam adegan reka ulang itu, hingga ia tak sadar bahwa kasurnya turun menandakan ada beban lain yang ditanggung. Taeyong baru terlonjak ketika merasakan kehangatan yang sudah sangat tak asing menyambutnya.
Dengan cepat Taeyong membalikkan tubuhnya dan menenggelamkan wajahnya pada dada bidang di hadapannya.
Taeyong tak ingat ia menghubungi Johnny untuk mengatakan ia membutuhkannya. Atau sekedar mengabarkan Johnny bahwa ia sudah kembali dari schedule-nya. Tapi nyatanya, tanpa memberitahu pemuda itu, sosok yang sangat ia butuhkan ada bersamanya sekarang. Memberikan ketenangan dengan memeluknya.
"I miss you, baby.."
Taeyong bersyukur Johnny tak membicarakan tentang insiden ia yang menangis di salah satu acara radio. Melainkan mengatakan bahwa ia sangat merindukan Taeyong. padahal, baru tadi pagi Johnny menyelinap keluar dari dorm mereka setelah kemarin malam menginap dan tidur di kamarnya.
"Aku juga.."
Taeyong melonggarkan pelukannya. Menatap iris coklat Johnny dalam kegelapan. Mudah baginya menemukan iris coklat favoritnya itu. Semudah Johnny merebut hatinya empat tahun yang lalu.
Cup!
Satu kecupan mendarat di keningnya.
Cup!
Kecupan yang lain mendarat di kelopak mata kanannya.
Cup!
Kelopak mata kirinya pun mendapat perlakuan yang sama dari Johnny.
Cup!
Juga kecupan singkat di ujung hidungnya.
Johnny tak membiarkan sejengkal bagian wajah Taeyong terlepas dari kecupannya. Terutama bibirnya.
Ciuman Johnny yang selalu bisa menenangkan Taeyong disaat dirinya kacau. Ciuman Johnny yang selalu memabukkan dan membuatnya candu untuk menantikan ciuman-ciuman lainnya.
.
.
.
Curing Kiss
Taeyong tak tahu apa yang lebih buruk. Membaca komentar-komentar haters yang selalu memenuhi media social tentang masa lalunya, atau bangun di pagi hari dengan kepala yang terasa berat dan hidup yang mampet seperti sekarang. Tenggorokannya juga terasa kering dan begitu menyiksanya.
Beruntung hari ini giliran NCT U-Without You unit yang melakukan promosi. Artinya Taeyong ada waktu seharian penuh untuk beristirahat di dorm dan memulihkan dirinya.
Ia kembali mencoba untuk memejamkan matanya setelah mengirimkan pesan pada Johnny bahwa ia tak pergi ke gedung SM dan akan beristirahat saja di dorm. Setelah sebelumnya menyuruh Mark dan Ten untuk istirahat juga di dorm daripada pergi ke gedung SM untuk latihan. Tentu dengan izin manager mereka.
Tapi rasanya demam yang ia rasakan membuatnya tak bisa tidur dengan tenang. Ia sudah mematikan pendingin ruangan di kamarnya karena kedinginan. Ia juga sudah memakai sweater tebal serta selimut tebal untuk menutupi tubuhnya yang menggigil. Tapi tetap saja, ia masih merasakan dingin yang menusuk tulangnya.
Ceklek!
Taeyong tak ingin membuka matanya ketika mendengar suara pintu kamarnya yang dibuka. Mungkin Ten atau Mark yang masuk untuk membawakan sesuatu untuk dimakan karena dari tadi tak ada sesuapun makanan yang masuk ke dalam mulutnya.
"Baby, aku tahu kau tak tertidur. Bangunlah, kau harus makan sebelum meminum obat."
Taeyong membuka kelopak matanya yang terasa berat. Ia kira ia sedang berhalusinasi mendengar suara Johnny. Orang bilang kau akan sering berhalusinasi ketika sedang demam tinggi.
Tapi Johnny benar-benar berada di dalam kamarnya saat ini. Berlutut di samping tempat tidurnya dan menggerakkan tangannya untuk mengusap rambutnya pelan.
"Youngho.."
Suara serak Taeyong membuat Johnny menghela nafasnya pelan sebelum membawa tubuh lemah Taeyong untuk bersender pada kepala tempat tidurnya.
Meski Taeyong menolak setiap suapan yang Johnny sodorkan di depan mulutnya, dengan sabar, Johnny selalu menunggu Taeyong untuk menyerah dan membuka mulutnya, membiarkan bubur itu masuk ke dalam mulutnya.
Taeyong kembali bergelung di dalam selimutnya setelah ia selesai memakan buburnya dan meminum obatnya. Menunggu Johnny untuk kembali setelah menaruh mangkok dan gelas kosong bekas Taeyong.
"Youngho.. peluk.."
Merengek manja saat kekasihnya itu kembali ke kamar. Membuat Johnny mengulum senyumnya dan ikut naik ke dalam single bed milik Taeyong. membawa tubuh mungil Taeyong ke dalam pelukannya.
"Tidurlah, baby. Aku tak akan kemana-mana."
Ya, Taeyong percaya ketika ia membuka matanya nanti Johnny tetap berada di sampingnya.
Kelopak mata Taeyong tak bisa menahan rasa kantuk yang ditimbulkan dari obat yang ia minum. Membuatnya perlahan tertutup hingga kedua matanya benar-benar terpejam.
Tapi Taeyong masih menyisakan kesadarannya ketika ia merasakan bibir Johnny mencium punggung tangannya berkali-kali. Juga mendengar Johnny berbisik pelan,
"Cepat sembuh, my Yongie."
.
.
.
Heated Kiss
Jika kau bertanya ciuman favorit Taeyong apa, Taeyong dengan malu-malu akan menjawab, ciuman yang Johnny lakukan saat mereka sedang melakukan sex.
Meski bagi Taeyong semua ciuman yang ia terima dari Johnny mampu membuat dirinya tergila-gila, tapi ciuman yang Johnny berikan saat make-out-session mereka adalah ciuman terbaik yang pernah Taeyong terima.
Ketika Johnny mengawalinya dengan mencium lembut bibirnya. Membawanya masuk ke dalam permainannya sebelum mulai menciumnya dengan sedikit kasar, namun tetap memperdalam ciumannya. Membuat Taeyong membiarkan Johnny menguasai seluruh bagian dalam mulutnya dengan lidahnya. Mengalah ketika benda lunak itu mengajaknya bergulat.
Johnny yang perlahan menurunkan ciumannya. Menyesap, menggigit dan menjilat setiap permukaan lehernya. Menyisakan tanda berwarna ungu yang memperindah leher jenjang Taeyong. Membuat Taeyong lupa dengan omelan yang akan ia terima dari coordi noona ketika harus menutupi tanda-tanda itu dengan make-up tebal keesokannya. Membawa Taeyong melenguh pelan setiap tanda itu dibuat.
Hingga ciuman Johnny semakin turun. Mengecup pelan dua tonjolan kecil yang mengeras di bagian dadanya. Memberi kecupan ringan yang menggelitik bagi Taeyong. Sebelum memasukkan tonjolan kecil itu dan menghisapnya. Memainkan lidahnya dan membuat Taeyong kehilangan fokusnya.
Johnny bahkan tak melewatkan perut datar Taeyong dari kecupan-kecupan ringan yang ia buat. Membuat Taeyong menggelinjang tak karuan dan Johnny harus menahan pinggang ramping Taeyong agar pemuda di bawahnya tak banyak bergerak.
Dari banyaknya ciuman yang Taeyong terima, bagian favoritnya adalah ketika Johnny memainkan lidahnya dalam setiap ciumannya. Lidah Johnny yang bahkan bisa membuat Taeyong berteriak hingga ia kehabisan suaranya.
Saat bibirnya memberi kecupan-kecupan ringan pada kedua belahan bokongnya. Yang merupakan tanda bahwa Johnny akan melesakkan lidahnya masuk ke dalam lubangnya. Membuat Taeyong menjerit, tak peduli bahwa siapa saja bisa mendengar jeritan yang sangat tak manly itu.
Johnny yang membawa Taeyong ke dalam ciuman lembut ketika ia mulai memasuki Taeyong. Mengalihkan perhatiannya dari rasa sakit yang menderanya. Yang berakhir menjadi ciuman panas saat Johnny mulai menggerakkan tubuhnya untuk masuk semakin dalam dan menyentuh titik yang membuat Taeyong kalah dalam ciuman panas mereka dan membiarkan Johnny kembali mendominasinya.
Tetap saja, sekeras apapun Taeyong mencoba mengalahkan Johnny dalam setiap pergelutan ciuman mereka, pada akhirnya, Taeyong akan kalah karena Johnny selalu berhasil membawanya larut dan membiarkan Johnny memimpin pergelutan mereka.
Dan Johnny akan selalu menghadiahi setiap inci bagian wajahnya dengan kecupan-kecupan ringan setiap mereka sama-sama sampai. Sebelum terjatuh di samping Taeyong dan membawanya ke dalam pelukannya. Menyambut pagi yang akan datang dengan tubuh yang bersatu satu sama lain.
.
.
.
Wedding Kiss
Tampaknya Taeyong salah. Ternyata baginya, ciuman favoritnya adalah saat ini. Ketika mereka berdua berdiri di altar di hadapan banyaknya tamu undangan. Mengucapkan janji yang dibantu oleh pendeta yang membimbing mereka. Tak berhenti menyunggingkan senyuman pada satu sama lain ketika pendeta itu berhenti mengucapkan sumpah sehidup semati mereka.
"Sekarang, kau bisa mencium istrimu."
Istri. Wife. Bride. Taeyong tak pernah menyangka, ia yang seorang lelaki bisa berada dalam posisi seperti ini. Berdiri dengan jas putih yang sangat bertolak belakang dengan jas hitam yang Johnny kenakan. Menyandang titel pasangan hidup Johnny untuk selamanya setelah janji selesai mereka ucapkan. Berhadapan dengan Johnny yang tersenyum lembut dan menatapnya tepat di kedua bola matanya.
Ketika Johnny menghapus jarak antaranya dan Johnny, Taeyong menutup matanya perlahan.
Taeyong tersenyum ketika ia merasakan bibir Johnny melumat lembut bibirnya. Sebelum Johnny melepaskan ciumannya ketika mendengar beberapa sahabatnya (member NCT tentunya) bersorak dan bersiul tak jelas di kursi tamu. Membuat Taeyong menatap sahabat-sahabatnya itu dan memutar bola matanya.
Ciuman favorit Taeyong adalah saat Johnny menciumnya tepat di hadapan para tamu undangan, kedua orangtuanya, dan pendeta yang menjadi saksi bagi mereka mengikat ikrar suci. Karena ciuman itu terlihat seperti Johnny mengatakan pada seluruh dunia, bahwa Lee Taeyong hanya lah miliknya.
Bukan, bukan lagi Lee Taeyong. Tapi Seo Taeyong.
.
.
.
END
Sesuai janji sama mba bbykon walau lamaaaa banget. Johnyong and a little bit rated M for yaaaa~ Aku lagi nyuri-nyuri waktu buat post FF ini karena masih sibuk dengan maba-maba dan dedek emesh yang baru masuk di kampus, wkwk. Terlebih disini sinyalnya kaya tay emang gabisa diajak kompromi. Ini aja harus numpang wifi kampus biar bisa ngepost ff. Bolt-ku juga gembel sinyalnya ah -_-
Byeee~ mau menghilang sampai benar-benar free(?) buat ngelanjutin ff yang lain. Next, mungkin angst? Kkkk, udah ada filenya tinggal dipost. Kalau sinyal baik langsung kupost kok. Byeee~
