.
.
.
.
.
Sekarang aku sendiri. Ini adalah hari pertama dia disana. Aku tak tahu apa yang akan ia lakukan, terlebih bersama penyanyi itu.
Pikiranku masih menerawang jauh,ke saat dimana aku hampir saja melakukannya. 'Selaput dara.' Dia sudah tak memilikinya, bahkan aku bisa memastikannya saat milikku tak menembus apapun.
"Huhhhh..."
Hanya bisa menghela nafasku berulang kali. Dia memang sudah tak virgin lagi, tapi ... entahlah, aku bisa menerimanya dengan mudah. Apakah aku begitu mencintainya?
.
Ceklek...
.
Aku menoleh kearah pintu. Dan dia datang,dengan pakaian yang sama seperti saat ia pergi kemarin. Aku tak tahu harus bersikap bagaimana. "Ming ..."Aku hanya bisa memanggil namanya.
"Tunggu disini, aku akan ganti baju dan menyiapkan makanan untukmu. Jangan berangkat ke kantor dulu."
See... dia bahkan mengingatnya, rapatku dengan klien yang mungkin sama sekali jadi bagian yang tak berarti dari hidupku. Seluruhnya, telah menjadi miliknya.
.
.
.
.
.
.
Dreams...
Author : rainy hearT
Length : Series
Rated : T
Cast :
- Cho Kyuhyun
- Lee Sungmin a.k.a Cho Sungmin
- Kim Jong Woon a.k.a Yesung
- Other Super Junior member
Pairing : || KYUMIN || slight Yemin
Disclaimer : Semua cast belongs to God and themselves. Dan seperti biasanya, jika saya bisa saya sudah meng-Klaim seorang Lee Sungmin menjadi milik saya.#Mimmpi...#
Genre : ||Drama || Romance||Fluffy Angst||
Warning : || GS || Gaje || typo's || EYD tidak sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia||SAD jadi siapn tissue yang banyak
Summarry : ||Ini bukanlah yang aku inginkan. Seandainya saja kau tahu jika ini menyakitkan, kuharap kau tak akan meninggalkan aku semudah itu. Tapi, mengapa disaat pertemuan itu datang, aku tak bisa bernafas... aku TERPENJARA...||
Another PRESENT From Me
Mini Series
~ DREAMS ...~
Just KYUMIN
.
.
Ini emang terinspirasi and ngikutin film India yang aku sendiri lupa judulnya.
Emang sih, ceritanya klasik banget tapi menurutku...
Pengorbanan itu mahal harganya
.
.
Please be Patient With me. Don't Like Don't Read. No copas No bash. Kritik and saran yang mendukung selalu diterima dengan tangan dan hati yang terbuka.
Nikmatilah STORY-nya... ^_^
.
.
HAPPY READING
.
.
Chapter 5
.
.
.
.
Cho Kyuhyun POV
.
.
Aku melihatnya ikut memakan sarapan kami bersama. Hanya bubur dengan sup ayam yang ia buat. Sesekali aku mencuri pandang dan melihat kesekitar tubuhnya. Sama sekali tak ada bekas bercinta, atau setidaknya bibir bengkak atau apapun itu.
Kurasa dia juga hanya berganti baju, jadi seharusnya masih ada bekas namja itu jika dia memang melakukannya. Aku sedikit tersentak saat ia menghentikan gerakan menyendok buburnya.
"Kenapa kau terus melihatku?"
"Ah,ahni..."
Ketahuan. Dia tahu aku menatapnya, bahkan dia bertanya dengan wajah yang masih menunduk dan masih sibuk mengaduk buburnya. Aku melihat ke arahnya, cincin itu masih melingkar di jarinya. Meski sekarang bertambah satu cincin lagi yang bisa aku pastikan cincin itu adalah pemberian Yesung.
Aku mencoba mengalihkan pikiranku sejenak, tapi tetap saja tak bisa dan aku memaksakan diri untuk menanyakannya. "Bagaimana pertemuan kalian? Kenapa kau pulang pagi-pagi sekali?"
"Apa urusanmu? Yang penting aku masih mau pulang dan terlebih lagi memasak untukmu. Seharusnya kau tak mencampuri urusanku."
Perkataannya sangat datar dan tepat sasaran, dia benar-benar tak bisa sedikitpun berbicara lembut padaku. Aku segera menyelesaikan sarapanku dan meraih jas kantorku. "Aku rapat sampai malam dan jika kau..."
"Aku akan pergi lagi, kali ini aku akan menginap beberapa hari di rumah Yesung Oppa. Kami akan pergi liburan."
Aku tak percaya ini? Bagaimana bisa aku yang menikah sedangkan dia pergi honeymoon dengan orang lain? Sangat lucu...
"Ah, begitu yah. Ya sudahlah, jadi aku mungkin juga akan bekerja. Kalau kau butuh apapun itu, hubungi saja aku."
Rasanya sangat sesak disini, aku merasa jantungku berdenyut nyeri dan bahkan nafasku terasa sangat sesak. Mataku bahkan memanas, dan akhirnya aku harus bersiap untuk keputusan ini. Aku tak mungkin bertahan lebih dari ini.
Aku meraih tas kerjaku, melangkah ragu dan akhirnya aku berhenti. "Jika kau memang mencintainya, pergilah. Maaf aku mungkin terlalu membebanimu. Kau bisa melepaskan cincin kita dan pergilah. Aku akan menjelaskan pada semuanya."
Aku langsung meninggalkannya, tak sanggup lagi menata hati jika harus terus seperti ini. Disini akulah yang bersalah, walau berfikir seperti apapun dan berulangkalipun tetap aku yang salah. Lee Sungmin yang tetap menjadi Lee Sungmin setelah pernikahannya...
Chukkae...
Kau menang...
.
.
.
Cho Kyuhyun POV end
.
.
.
Lee Sungmin POV
.
.
'Jika kau memang mencintainya, pergilah. Maaf aku mungkin terlalu membebanimu. Kau bisa melepaskan cincin kita dan pergilah. Aku akan menjelaskan pada semuanya.'
Kata-kata itu masih aku ingat jelas. Berputar di kepalaku, dan sementara aku masih memainkan cincin ini. Entah sadar atau tidak, aku masih memakainya. Cincin yang sama yang dimiliki Kyuhyun, cincin pernikahan kami.
Lalu cincin dari Yesung Oppa, hadiah darinya. Uang hasil kerja kerasnya yang pertama dan ia memberikannya untukku.
Aku harus bagaimana jika begini?
Sekarang aku sudah berada di apartemen Yesungie, menunggunya pulang dari studio rekaman. Yeah, dia sedang membuat album perdananya. Aku tak menyangka jika jalannya akan semudah ini untuk bisa masuk ke dunia musik.
'Jika kau memang mencintainya, pergilah. Maaf aku mungkin terlalu membebanimu. Kau bisa melepaskan cincin kita dan pergilah. Aku akan menjelaskan pada semuanya.'
Dan huhhh... kata-kata itu terus berputar jelas di kepalaku. Mengapa aku terus memikirkan perkataan Kyuhyun, apa yang terjadi padaku?
Aku melihat ke sekeliling apartemen Yesungie. Menemukan foto kami yang begitu besar ada dikamarnya. Dia sungguh mencintaiku dan sementara aku...
Akulah pembohong besar.
Ahni, bukan aku yang salah disini. Aku meremas frustasi genggaman tanganku, jujur aku takut. Bagaiamana jika Yesungie tahu? Atau entah bagaimana jika dia meminta aku menjelaskan keadaanku sekarang? Bagaimana aku bisa berbohong terus menerus padanya?
Dan tawaran kyuhyun, sama saja dengan bercerai dan aku... dan dia ...
Berpisah...
Hatiku...
Mengapa sedikit nyeri? Apakah aku memikirkan kemana akan aku habiskan hidupku jika tak bersamanya? Tidak... aku akan dengan Yesungie.
Lalu, apakah Yesungie bisa sebaik Kyuhyun?
Aish, Sungmin jangan berfikir yang tidak-tidak. Yah... tentu saja, dia terbaik yang pernah aku kenal, tapi Kyuhyun...
Dia bahkan tak pernah memarahi aku sebelum ini, membentak atau berbicara keras tentang aku pun tak pernah. Dia hanya meratapiku, yeoja yang sungguh-sungguh...
"Chagi..."
Aku menoleh ke pintu, namja itu datang dengan senyumannya. Aku menatapnya dengan tatapan penuh yang akan selalu melihat kearahnya, dan setiap saat hatiku bertambah hangat seperti ini.
Tubuhnya yang tegap dan juga sosoknya yang benar-benar aku rindukan. Dia bertambah tampan disetiap harinya. Yesungie mendekat padaku, di tangannya sudah ada dress putih yang dapat kulihat jelas. Dress yang sangat cantik.
"Ini hadiah untukmu, aku yang memilihnya sendiri. Semoga ukurannya pas."
"Gomawo, Oppa"
Yesungie mencium keningku dan memeluk leherku.
Lalu bagaimana ini, bahkan wangi Kyuhyun tertinggal di penciumanku. Aku tak bisa merasakan wangi Yesungie, lengannya... nafasku seakan terhenti dan jantungku telah kalah, kali ini aku sungguh takut...
.
.
Lee Sungmin POV end
.
.
.
Sungmin menerima dress itu. Ia hanya mengangguk dan sedikit memberikan senyuman. "Pakailah chagi, dan kita akan pergi ke satu tempat romantis."
Sungmin langsung bergegas ke kamar pakaian yang terletak disudut apartemen itu. Ia bergegas berganti pakaian dan menata kembali rambutnya yang sedikit berantakkan. Keluar dari kamar itu dengan senyuman dan sungguh...
"Trully Princess..."
Sungmin tersipu saat Yesung mengatakanya. Ia berjalan perlahan dan mendekati namja itu. Meraih uluran tangannya dan berdansa sebentar, seakan ada musik yang mengiringi tarian mereka.
Entahlah, mungkin Sungmin lupa. Atau bahkan ia tak berkaca dari kemarin atau dia memang tak menyadarinya. Yesung menghentikan tarian mereka.
"Ming..."
"Eoh? Kenapa? Kenapa berhenti Oppa?"
Yesung ingin tak percaya dengan yang dilihatnya, tapi ia bisa memastikannya sendiri. "Ini..."
Sungmin menoleh ke arah yang ditunjuk Yesung. Namja itu menyibakkan rambut panjang Sungmin, dan bahkan bisa terlihat jelas bekas itu masih ada. Jika hanya satu mungkin Yesung tak akan menyadarinya tapi ini...
"Kau bahkan punya lebih dari satu kissmark."
"Aku... Oppa..."
Yesung melepaskan lengannya yang memeluk pinggang Sungmin, ia menggeleng tak percaya dan kemudian memundurkan tubuhnya. Berjalan menjauh dari Sungmin dan duduk frustasi di sofa yang tak jauh dari tempatnya.
"Aku bisa menjelaskannya Oppa."
Yesung tersenyum miris,ia ingin tak mempercayainya. Tapi kenyataan ternyata lebih menyakitkan dan dia memang harus mengetahuinya. "Aku tak menyangka jika dugaanku benar. Dan jika semua yang dikatakan Appamu adalah benar."
"Mwo?"
Yesung terdiam sejenak. Ia menghela nafasnya, dan meski Sungmin duduk disisnya ia enggan untuk menoleh ke arah yeoja itu. "Aku datang kesana, kemarin. Saat aku menghadiri satu acara live di Mokpo. Aku ingin menemui appamu dan mengatakan pada Tuan Lee jika aku bisa membahagiakanmu. Tapi apa..."
Yesung menoleh pada Sungmin dan meraih jemari Sungmin. Satu jari dengan 2 cincin.
"Kau membohongiku. Dan apa artinya ini? Apa kau sedang mencoba menjadi malaikat dan membohongiku? Atau kau sedang mempermainkan 2 namja, aku dan suamimu?"
"Ahni, aku..."
"Lee Sungmin, atau seharusnya aku panggil Cho Sungmin? Perasaan yang remuk dan hancur tak akan pernah bisa ditutupi walau sebaik apapun, dan aku masih punya hati."
Sungmin menggeleng pelan. Ia menutup mulutnya dengan satu tangannya, matanya menahan panas dan juga air mata yang bisa saja tumpah sekarang. "Ahniya, oppa... hikkks..."
"Kenapa kau menangis? Harusnya aku yang menangis disini. Kau tak tahu, bagaimana aku berusaha mati-matian masuk ke dalam dunia yang benar-benar membebaniku? Jadwal latihan yang hanpir membunuhku, dan juga perlakuan sunbae yang begitu membenciku. Aku menahannya untukmu Ming_"
"_Aku ingin bisa membahagiakanmu, menjagamu dan juga memberikan semua yang kau inginkan. Tak bisakah kau menungguku, Ming? Dan sekarang apa? Kau menduakan aku, menduakan kami. Dan suamimu...Kau hebat Ming_" Yesung menggeleng tak percaya. "Kau bahkan berpura-pura dan membohongiku, lalu kau pikir aku ini siapamu sekarang? Kau bahkan huhhh..." Yesung sudah kehabisan kata-kata, ia sungguh kalut dan benar-benar harus melampiaskan perasaannya saat ini juga.
"Hikss... Oppa.. Mianhe... aku hikss aku sungguh tak bermaksud seperti itu."
"Yah! Tidak bermaksud, lalu apa dengan ini?!" Yesung sedikit membentak Sungmin dan menyibakkan kembali rambut yeoja itu. "Kau bahkan bercinta dengannya..."
Air mata Yesung sudah diujung. Ia menunduk, melepaskan tangannya dari bahu Sungmin dan kemudian meremas kuat dadanya. "Jika kau mencintaiku harusnya kau tak seperti ini Ming. Apa tak bisa kau menungguku Ming?"
Suara lirih Yesungie yang begitu merdu namun mengisyaratkan kepedihan itu begitu menusuk hati Sungmin. Ia bahkan melepaskan langsung kedua cincin yang melingkar di jari manisnya dan berlutut pada Yesung. Meletakkan kedua tangannya memeluk paha Yesung,mencoba menatap wajah namja itu.
"Aku tidak melakukannya, asal kau tahu Oppa. Dia memang mencoba menyentuhku, tapi aku benar-benar tak melakukannya dengannya. Aku mencintaimu Oppa, bukankah kita... kita emhhh... " Sungmin berucap bingung. Ia tak tahu harus benar-benar mengatakannya atau tidak.
"Ya, kita sudah melakukannya. Tapi itu juga dulu, kau mencintaiku dan aku sangat mencintaimu. Tapi sekarang, kau membiarkannya menyentuhmu bukankah berarti kau juga mencintainya. Dan kenapa kau tak mengatakannya padaku Ming, jika namja yang bersamamu dulu itu adalah suamimu?"
"Oppa..." lirih Sungmin, ia bersusah payah menahan air matanya.
"Kenapa tak mengatakan jika Tuan Cho yang dulu itu telah menjadi suamimu?!" Yesung berteriak keras dan memukul cepat dadanya. "Hikss... disini sakit Ming... kenapa kau membodohiku..."
"Oppa, mianhe. Oppa..."
"Kenapa kau masih disini, jika ingin tetap tinggal bersamanya? Kenapa Ming..." Yesung mengabaikan Sungmin,ia tak ingin mendengar apapun. Rasanya terlalu sakit hingga ia tak bisa menahannya lagi, "Hatiku menangis untukmu,Ming."
"Hikss... appa memaksaku menikah. Aku harus menikah untukmu, Oppa. Atau appa akan membayar orang untuk membunuhmu. Aku tak mau menikah oppa, dan sungguh... hikkssss... aku sungguh tidak melakukannya dengan suamiku_"
"Berbulan ini aku terus mencarimu, Oppa. Bahkan setelah kau pergi, setelah pernikahanku dan aku terus mencarimu. Aku hampir mati putus asa, dan akhirnya aku menemukanmu. Aku pikir kita akan bahagia, jadi Oppa...hikksss... mianhe... aku hanya tak mau... hikss..."
"Sungminnie..."
"Hikss...aku benar-benar menjaganya untukmu, Oppa... hiksss... percaya..."
.
.
Lee Sungmin POV
.
.
Jantungku berdebar cepat, Yesungie Oppa menciumku. Menghentikan seluruh pergerakan bibirku dengan lumatan lembutnya. Tapi kenapa...
Aku tak merasakan yang seperti ini sebelumnya, seakan ada yang memberontak dihatiku. Antara menginginkan ini dan tak menginginkan, antara aku menikmati dan tertekan.
"Eummmmhhh... ahhh..."
Harusnya aku menikmati ini, sentuhannya. Yang hanya kurasakan ini untuk kedua kalinya, tapi kenapa rasanya seperti ini? Hatiku seakan memberontak dan tubuhku... Entahlah, kenapa aku...
"Oppa...berhentih..."
Kata itu meluncur bebas dari bibirku saat aku merasakan Yesung Oppa mulai mencium bahuku, menghapus jejak kissmark dari Kyuhyun. Aku menggeliat tak nyaman, antara menikmati atau tidak. Tapi entah bagaimana sekarang aku berada di pangkuannya. Kedua tangannya mengusap punggungku dan aku...
Kembali aku bisa mengingat sentuhan itu. Sentuhan Cho Kyuhyun, bibirnya yang lembut dan memanjakan aku. Mengapa kali ini rasanya seperti tak seharusnya?
Aku seakan mengkhianatinya...
Cho Kyuhyun...
.
.
Lee Sungmin POV end
.
.
Sungmin mulai menggeliat tak nyaman dalam pangkuan Yesung. Ia bergerak terus menerus dan yang awalnya meremas hingga sekarang akhirnya jemari mungilnya mulai sedikit mendorong Yesung.
'Jika kau memang mencintainya, pergilah. Maaf aku mungkin terlalu membebanimu. Kau bisa melepaskan cincin kita dan pergilah. Aku akan menjelaskan pada semuanya.'
"Mi... ahh... Oppahhh... eumhhh..." Sungmin terus memaksa untuk menghentikan Yesung dan saat ia merasa Yesungie sudah hampir menurunkan dressnya dengan keras, dia mendorong namja itu. Entah mendapat kekuatan dari mana hingga ia melakukannya. "Oppa..."
"Princess..."
Yesung tertawa kecil saat menyadari keadaan mereka, seakan ia juga tahu jika sesuatu telah terjadi pada Sungmin. Sungmin kembali membenarkan pakaiannya yang sedikit turun, ia kemudian sedikit menjauh dari Yesung. Mengernyit aneh saat ia melihat Yesung yang tersenyum menatapnya, dan Sungmin tahu ada yang salah dengan mereka.
"Mianhe Oppa." Sungmin menunduk dan meremas ujung dressnya yang sebatas atas lutut. Sementara itu Yesung malah tersenyum kecil dan memberikan dua cincin itu pada Sungmin. "Oppa..."
"Katakan padaku sekarang..." Suara itu begitu lirih seakan telah kehilangan nyawanya. "Pilihlah satu diantara kami."
"Oppa..."
Sungmin menatap tak mengerti pada Yesung. Jujur, ia tak mungkin bisa memilih jika seperti ini. Ia menginginkan keduanya dan ia ingin tetap seperti ini. "Oppa, jangan memintaku untuk memilih. Apa kau kau tak percaya padaku? Tentu saja aku memilihmu."
Yesung membenarkan kemejanya. Membuka kaitan dasi dan dua kancing teratas kemejanya, menyandarkan punggungnya ke sofa dan matanya menerawang menatap cincin Sungmin. Dua cincin yang semula mengikat jari manis Sungmin.
"Jika kau memilihku, maka kau tak mungkin menolaku Ming. Bukankah kita pernah melakukannya, meski hanya sekali. Kau pasti tak akan menolaknya bukan? Kau merindukanku, iya kan? Lalu apa?" Yesung menoleh pada Sungmin yang masih tetap kaku di posiisnya.
"Saat pertama kita bertemu pun kau sudah aneh, bahkan kau tak seperti biasanya dan selalu hambar. Ming, aku bukan namja gila sex atau nafsu. Tapi hanya dengan itu aku bisa membuktikan kalau kau memang sudah tak mencintaiku."
"Oppa..."
Yesung hanya tersenyum kecil, biar bagaimanapun ...
"Aku sudah tak memilikimu, Princess..." Yesung menyerahkan kedua cincin itu. "Pakailah cincin pernikahanmu, dan simpanlah cincin dariku. Aku berharap kau bahagia Ming."
"Tapi, Oppa. Aku..."
"Sudahlah..." Yesung beranjak dari duduknya. " Aku butuh sendiri Ming, pergilah."
"Oppa..." Sungmin berucap lirih. Ia sungguh tak ingin berakhir seperti ini, tapi, "Oppa..." Sungmin berlari ke depan Yesung, membuat langkahnya terhenti dan kemudian memeluk namja itu dengan erat. "Tapi aku mencintaimu, Oppa. Bagaimana bisa kau menyerah seperti ini? Hikss... Oppa, mianhe. Aku akan bercerai dengan Kyuhyun,Oppa. Jebal ak..."
.
Chu~
.
Ciuman itu begitu jujur, dan jika boleh jujur juga... Sungmin benar-benar menginginkan ini. Ia membiarkan Yesung menciumnya begitu dalam, hingga decakan dan juga saliva ikut membuat ciuman mereka semakin panas.
Tapi Yesung sadar, ia tak boleh meneruskan candu mereka. Ia harus menghentikannya sebelum ia kembali tersakiti. Ia tak mau mengikat Sungmin dalam cinta yang mulai semu dimata yeoja melepaskan tautan bibir mereka, mengusap jejak saliva di bibir Sungmin dengan ibu jarinya.
Satu lengannya mendekatkan tubuh yeoja itu, memeluknya dengan erat. Matanya mengunci pandangan Sungmin. Yesung meraih tangan kiri Sungmin, memasukkan jari tengah yeoja itu ke mulutnya dan satu tangannya yang lain sudah membuka genggaman tangan Sungmin. Mengambil satu cincin, cincin pernikahan Kyuhyun.
Memakaikannya di jari manis Sungmin, sementara satu cincin yang lain ia pegang. Satu tangannya yang tadi memeluk tubuh Sungmin, merogoh ke saku kemeja Yesung. Mengambil rantai kalung dan menyimpan cincin itu sebagai linontinnya.
"Oppa..."
Yesung hanya tersenyum kecil saat bibir pink Sungmin bergumam kecil memanggilnya. Membiarkan yeoja itu terpana dengan perlakuan romantisnya. "Ingatlah aku, Ming." Yesung mengecup pipi Sungmin dan membawa yeoja itu kepelukannya.
.
.
.
Sungmin berjalan gontai dari pagar rumah megahnya, menuju pintu utama. Ia mencoba membuka pintunya dan terbuka. Masuk perlahan dan menyalakan semua lampu ruang utama rumah itu. Ia melihat ke sekeliling, rumah megah yang begitu sempurna namun sangat dingin.
Kembali menapakkan high heelsnya menapaki tiap anak tangga dan melihat ke satu kamar dengan pintu biru tua. Kamar yang begitu asing baginya. Melihat ke dalam, dan tak menemukan apa-apa selain kosong.
"Kau bahkan memilikinya." Sungmin menengadah melihat pigura besar yang tepat berada di atas meja kerja Kyuhyun. Kamar ini memang merangkap kamar kerja Kyuhyun, dan ia memang sangat jarang masuk kekamar ini.
"Apakah kau tersakiti oleh kebodohanku? Aku bahkan tak pernah memikirkan bagaimana perasaanmu... hikss..." dan yeoja itu mulai menangis. Ia duduk di meja kerja Kyuhyun dan mengambil satu box kecil yang ada di atas meja kerja Kyuhyun. Box itu berisi semua hal yang diinginkan Sungmin.
Potongan tiket Dream Concert, formulir SMent, foto-foto setiap pengamen jalanan yang mungkin ditemukan bawahan Kyuhyun. Bahkan ia menemukan notes kecil Kyuhyun. Sebuah notes dimana Kyuhyun selalu menulis tempat mana saja yang sudah ia kunjungi untuk mencari Yesung.
"Namja ini begitu peduli padaku, tapi aku..."
Sungmin menangis lirih dan mengambil foto Kyuhyun yang ada di meja itu, mendekatkannya ke kedua matanya yang sudah meremang. Mata yang basah tergenang itu menatap lembut dan mengusap datar pada foto Kyuhyun, foto namja itu. Hanya fotonya.
"Aku tak tahu mengapa aku sangat membencimu, Tuan Cho. Tapi kumohon, aku baru mulai mencintaimu... dan mengapa aku baru menyadarinya sekarang? Apakah masih ada kesempatan untukku?"
.
.
.
.
.
Ceklek...
.
Sosok tegap itu terhenti dipintu saat melihat keadaan kamarnya. Lampu terang dan juga seorang yeoja yang duduk meringkuk di kursi kerjanya. Kyuhyun tak tahu harus berlaku seperti apa saat menemukan yeoja ini ada dikamarnya.
.
.
Cho Kyuhyun POV
.
.
Ini benar-benar kejutan. Saat dimana aku telah bersusah payah mengatur jalan pikiranku siang dan malam tadi, hingga aku kalah dari semua tender yang harusnya bisa aku menangkan dengan mudah. Bagaimana bisa yeoja ini memutar balikkan hidupku dengan begitu mudahnya? Dia sungguh-sungguh fantastis.
Dan sekarang ia seakan seperti seorang istri yang tengah menunggu suaminya pulang. Ada apa dengannya? Apakah dia lupa jika aku sudah memintanya bercerai?
Aku meletakkan tas dan jas kerjaku di kursi sudut. Mengendurkan dasiku dan melangkah mendekatinya. Aku bisa melihatnya dengan jelas, bekas kissmarku bahkan begitu terlihat di bahu putihnya. Tapi wangi ini...
Ia menggeliat tak nyaman, mungkin usapanku di bahunya sedikit mengganggunya. Ia mengangkat wajahnya dan menatapku. "Kyu..."
Aku mencoba bersikap tenang, dan tak berharap banyak. Aku harus sadar diri jika ini bukan waktunya bagiku untuk bermimpi. Terlebih dengan beraninya memimpikan Sungmin akan ada disini dan hanya untukku. Sungguh tidak mungkin. "Apa yang kau lakukan disini?" Aku berusaha bersikap setenang mungkin. Kemudian kembali menjauhinya dan duduk di kasurku, melepas kedua sepatuku.
Dan yang aku lihat, kedua mata sembab itu menatapku. Ia kemudian turun dari kursiku dan mendekatiku. Aku tahu kali ini, benar-benar ada yang salah dengannya. "Apa kau serius akan melepaskan aku, eum... artinya kita bercerai?"
Sudah kuduga, dia pasti akan mengungkit masalah ini. "Aku tahu diri Ming, tak mungkin terus mengikatmu. Aku ingin kau bahagia Ming, aku tak mau terus membuatmu merasa terkekang oleh pernikahan kita."
"Lalu bagaimana denganmu?"
"Apa?"
Aku melihat mata cantik itu menatapku lembut. Tangan mungilnya terulur mengusap pipiku hingga aku tak bisa mengalihkan pandanganku lagi untuk menatap wajahnya. Mata sendu itu seperti habis menangis. "Apakah kau bertengkar dengan Yesung?"
"Jangan mengalihkan pembicaraan, Tuan Cho."
Nada bicaranya benar-benar mengintimidasiku. Aku tak tahu harus menjawab apa, aku sendiri tak tahu bagaimana keadaanku setelah ini. "Aku, eum..."
"Apakah kau sudah tak menganggapku? Apakah kau sudah ingin menjauhiku, melepaskanku? Atau kau sudah jijik padaku, karena aku kotor?"
"Ahni!" Aku memegang kedua bahunya yang terekspose itu. "Aku tak bermaksud seperti itu. Aku hanya tak ingin kau terluka dengan terus bersamaku. Jika kita bercerai maka kau akan selalu bisa bersama Yesung, dan aku benar-benar tak merasa jijik padamu. Ming... aku terlalu bodoh untuk mencintaimu, dan tak bisa menggunakan pikiranku."
Dan apa yang ia lakukan berikutnya adalah kejutan bagiku. Ia berdiri dengan kedua lututnya menahan tubuhnya diatas bed-ku. Menangkup kedua sisi pipiku hingga kedua mataku benar-benar terpenjara oleh kecantikannya. "Bertahanlah denganku Kyu."
"Mwo?"
Sungmin hanya mengangguk dan ia malah menunjukkan jarinya, dan sekarang kembali hanya satu cincin itu. "Aku baru belajar mencintaimu, Kyu. Jadi jangan berhenti dulu, ayo mulai bersamaku."
"Ming..."
"Aku ... kumohon Kyu, bertahanlah dengan pernikahan ini. Dan... eumhhhh..."
Sungmin menunduk malu menyembunyikan wajahnya. Ia tak tahu harus bagaimana, tapi tubuhnya terasa kaku saat Kyuhyun sengaja mendorongnya membuat posisi namja itu sekarang berada tepat diatas tubuh Sungmin.
"Dan apa?"
"Kyu, itu... maksudku aku..."
"Kali ini aku akan benar-benar melakukannya ming."
"Tapi Kyu, maksudku aku..."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC
.
.
.
.
Hehehe... gimana? Sedih ga?
Ga sedih dong. Nih ch depan tamat, and mianhe karena abis ni aku mo ngelanjutin pe er yang bejibun dulu hahhahahahaa
Abaikan ajalah kegajean dan juga typo's nya. Hehe... nikmatin storynya...
Review ya?
Saranghae nae lovely reader...
