"HAHAHAHA!" Ten terkejut ketika mendengar suara tawa yang tidak elit itu. Adiknya, Tern harus belajar mengontrol suaranya.
"Apa yang kau tertawakan, bodoh?!" Ten memberengut kesal, bisa bisanya Tern langsung mentertawainya sesaat setelah ia selesai berganti baju.
"Oh, orang yang belum bertemu dengan pasangannya tidak akan mengerti," Tern menjulurkan lidahnya, sesekali mengejek kakaknya sendiri boleh saja kan? "Omong-omong kau terlihat seperti rainbow cake berjalan. Sini kuperlihatkan kau pada ibu."
Oh, bahkan Ten tidak Tau seperti apa warna sesuatu yang disebut Tern sebagai 'Rainbow cake' itu, yang ia ketahui warnanya sama saja dengan sekitarnya, abu abu dengan gradasi yang berbeda-beda tiap lapisannya.
Tanpa persetujuan, Tern langsung menarik pergelangan tangan kakaknya, dan bodohnya Ten, dia hanya menurut saja. Tern Membawanya menuju ruang tamu, disana ada Ibunya yang sedang asyik menonton entah drama apalagi itu.
Tern menepuk pundak ibunya pelan "Ibu, lihatlah penampilan kakak tercintaku ini."
Satu detik..
Dua detik...
Tiga detik ...
"OH YAAMPUN TEN. PENAMPILAN MACAM APA ITU? HAHA"
Padahal Ten berharap Ibunya akan membelanya. Tetapi takdir berkata lain, kenapa semua orang suka sekali menggodanya? Cih, bahkan Ibunya sendiri mengejek penampilannya. Oh ayolah, apa yang salah dari penampilannya, ia sudah melihat ke cermin beberapa saat lalu. Namun semuanya terlihat sama, hitam putih.
"Oke, kalau begitu jelaskan bagaimana penampilanku."
Butuh waktu beberapa saat bagi Ibunya Ten untuk bisa menghentikan tawanya. Ia mengambil nafas dalam dalam, menenangkan dirinya terlebih dahulu sebelum menjawab permintaan Ten, ia tidak ingin kalimatnya terganggu dengan tawanya. "Kau memakai snapback warna kuning, t-shirt biru dan jaket merah, celanamu hitam dengan garis hijau di bagian bawahnya, tasmu berwarna ungu gelap. Lalu sepatumu warna oranye dengan pola berwarna putih."
Setelah mendengar penjelasan Ibunya, Ten bergegas kembali ke kamarnya, berharap apa yang Ibunya katakan itu benar. Tetapi nihil, apa yang dia lihat masih sama dengan sebelumnya, hanya warna-warna monoton itu.
"Sudahlah, kau memang masih jomblo dan akui saja itu." Tern berlagak sombong dengan menyenderkan diri di sisi pintu kamar Ten, kedua tangannya ia lipat didepan dadanya. Cih, baru seminggu bertemu dengan pasangannya saja dia sudah semenyebalkan ini. Ayolah, kemana Tern yang dulu. Adiknya yang dulunya lucu dan menggemaskan kini berubah menjadi setan kecil yang benar benar menyebalkan. Both;pasangan Tern yang baru saja bertemu dengan Tern seminggu yang lalu sudah banyak memberi pengaruh buruh buruk pada adiknya. Ten tidak bisa membayangkan adiknya akan berubah menjadi seperti apa bulan depan, apalagi tahun depan.
Lirikan mata Ten bergerak menuju ke arah jam yang tergantung di dindingnya. Oh, crap, kelas akan dimulai 15 menit lagi, dan jarak antara rumah dan universitasnya sekitar 20 menit dengan berjalan kaki. Jika menunggu kereta selanjutnya akan menghabiskan waktu sekitar 1 jam lagi. Jika ia terlambat, ini semua salah Tern.
Persetan dengan pakaiannya saat ini. Ten segera berlari keluar dari kamarnya. Ia memilih untuk berlari menuju universitasnya. Dan hampir saja ia lupa berpamitan dengan ibunya. Tern? Masa bodoh, ia tidak peduli dengan setan yang satu itu.
Ten menghentikan langkah kakinya di depan pintu gerbang universitasnya, mengambil nafas dalam dalam, berlari sejauh 3 kilometer tanpa henti selama 10 menit akan menjadi rekor terbarunya. Ia masih punya waktu sekitar 5 menit lagi sebelum kelas dimulai. Ten melirik pergelangan tangan kirinya, ah iya, dia lupa memasang arlojinya tadi.
Ia kembali berjalan menuju kelasnya. Koridornya sepi sekali, ia heran. Ten melepas tasnya, mencari keberadaan handphonenya, dan melihat waktu disana masih menunjukkan pukul 08.28 pagi, padahal seingatnya tadi, jarum pendek di jam dinding kamarnya sudah berada diantara angka 9 dan 10.
Ini pasti ulah adiknya.
Ten sudah bersusah payah agar tidak terlambat masuk ke kelasnya. Tetapi nyatanya, Ia malah datang lebih awal 1 jam. Pantas saja tadi Yuta tidak menjemputnya. Ten segera mengetik nomor telepon yang sudah dia hafal di luar kepala. Selang berapa detik nada sambungnya terputus menandakan bahwa orang di seberang sana sudah mengangkat panggilan darinya
"Yuta, aku sudah berada di kampus sekarang, jadi jangan jemput aku kerumah." Ten menutup teleponnya segera setelah selesai mengatakan kalimatnya. Singkat, padat dan jelas. Tanpa memberikan kesempatan bagi Yuta untuk menjawab teleponnya. Oh, padahal saat ini Yuta tengah berdiri di depan gerbang rumah Ten. Tolong ingatkan Yuta untuk memberi pelajaran pada Ten nantinya.
Ten menghela nafasnya hingga poninya tertiup ke atas. Masih ada waktu satu jam lagi. Waktu yang cukup panjang untuk dihabiskan sendiri.
Kakinya tanpa sengaja menendang kertas yang sudah tidak berbentuk itu. Hei siapa yang membuang sampah sembarangan disini. Ten memungut bongkahan kertas tersebut, berniat untuk membuangnya ke tempat yang seharusnya. Tetapi ia membuka kertas tersebut terlebih dahulu, membaca isinya, tipikal orang yang penasaran. Kertas itu penuh dengan coretan hingga Ten kesulitan untuk membacanya. Ia hanya tahu itu surat cinta dan surat itu ditujukan untuk Jaehyun. Heh, apa orang yang menulis surat ini tidak tahu bahwa tiap orang sudah diciptakan berpasangan dan kau hanya perlu menunggu sampai bertemu dengan pasanganmu sendiri, lalu kau akan melihat dunia dalam warna yang berbeda, bukan warna monokrom seperti ini.
Sebenarnya Jaehyun juga belum bertemu dengan pasangannya. Jadi mereka melihat dunia yang sama, hitam dan putih. Ten tidak tahu apakah Jaehyun akan lebih memilih makanan atau pasangannya nanti. Makanan dalam versi berwarna pasti akan jauh lebih menarik baginya.
Ten berubah pikiran, daripada membuang kertas ini. Lebih baik dia menyimpannya untuk ditunjukkan pada Jaehyun nanti.
Suara langkah kaki di ujung koridor yang sepi menarik perhatiannya, dan suara itu semakin mendekat. Ten melangkahkan kakinya menuju sumber suara itu. Demi apa ia mengikuti suara langkah kaki. Ten mulai dapat melihat orang yang berjalan berlawanan arah dengannya. Ten segera menundukkan kepalanya, memilih untuk memperhatikan ubin yang tidak terlihat seperti biasanya.
Matanya membelalak, ini bukan warna hitam, putih ataupun abu-abu. Ia tahu persis ini bukan. Tetapi ia tidak tahu entah warna apa ini.
Terlalu sibuk memperhatikan ubin keramik yang tidak seperti biasanya, Ten sampai tidak menyadari bahwa orang itu telah melewatinya. Dan ketika ia sadar, secara instan kepalanya menoleh ke belakang, namun tidak menemukan apapun. Ia kembali menundukkan kepalanya, ubin itu berubah menjadi warna abu-abu kembali. Aneh sekali, apa yang sebenarnya sedang terjadi disini?
Mungkin hanya khayalannya.
Lebih baik Ten segera ke kelasnya dan belajar. Jam pertamanya adalah sastra dan dosennya yang satu ini sangat suka memberikan kuis mendadak. Hal terakhir yang dia inginkan adalah mendapat nilai C di kelas sastranya
Kelasnya terlihat kosong namun sudah ada beberapa tas yang duduk manis di sebagian bangku. Pemiliknya entah pergi kemana. Ten mengambil bangku di baris ketiga dari depan. Tempat yang strategis karena tubuhnya yang kurang tinggi. Ingat, ia hanya kurang tinggi, bukan pendek.
Kalau tahu begini, besok besok dia datang lebih awal saja. Ternyata adiknya kadang bisa berguna juga. Ten bergegas mengambil buku catatan kelas sastra dari dalam tasnya. Sebenarnya ia bukan tipe orang yang senang membaca. Tetapi demi nilai, apapun dia lakukan.
Dapat Ten rasakan pundaknya ditepuk oleh orang dari belakang. Rahangnya menegang, tidak mungkin ada hantu pagi pagi begini. Keringat dingin mengalir dari pelipisnya. Perlahan tapi pasti, dia memutar kepalanya ke belakang.
Dan melihat sepasarng bola mata tengah menatapnya dari dekat. Ten menutup matanya, menarik nafas dalam dalam
"AAAAAAA, HANTUU! IBU! TERN! TOLONG AKUUU!"
Tidak ada respon, hanya suara cekikikan yang ia dengar, Ten membuka matanya dan menemukan Yuta kini tengah tertawa sambil berguling-guling di lantai.
Ten cemberut. "Puas mentertawaiku heh, Pangeran Yuta?"
"Oh, maafkan anakmu yang kurang ajar ini, wahai Ibunda Ratu." Yuta bersujud di bawah kaki Ten.
"Sejak kapan kau menjadi anakku hah?" Ten memicingkan matanya. "Aku tidak mengenalmu, pergi kau!"
"Hei, apa yang kalian berdua lakukan?" Secara serempak, Ten dan Yuta menoleh ke sumber suara. Jaehyun dengan baju motif kotak-kotak warna abu-abu dan denim selutut tengah berdiri menghadap mereka dengan ekspresi kebingungan. Tidak lupa dengan sebungkus potato chips di tangannya.
"Jae, kau mengganggu dramanya," Yuta angkat suara. "Bagaimana bisa kau menemukan kelas kami, sementara kau tidak punya jadwal kelas sastra hari ini?"
"Aku mendengar teriakan perempuan dari kelas ini." Jaehyun mengambil sepotong chips dari bungkusnya, lalu melanjutkan. "Tetapi aku malah menemukan kalian berdua."
Detik selanjutnya, Yuta kembali tertawa terbahak-bahak, kali ini lebih parah "HAHA, TEN, DENGAR ITU! BAHKAN JAEHYUN MENGATAKAN KAU BERTERIAK SEPERTI PEREMPUAN!"
Ten benar benar kesal sekarang. Teman temannya ini benar benar tahu apa yang harus dilakukan untuk menyulut amarahnya, laki laki mana yang akan senang jika dikatakan seperti perempuan. Tetapi sesaat kemudian Ten tersenyum, tanpa mereka berdua hidupnya pasti akan sangat membosankan, apalagi jika kau belum bisa melihat warna lain selain hitak dan putih.
"Oh, lihatlah. Sekarang dia tersenyum-senyum sendiri seperti orang gila."
Mendengus kesal, Ten merampas bungkus potato chips dari tangan Jaehyun. Padahal hatinya baru saja memuji dua orang itu.
"Hei, itu punyaku!" Kini giliran Jaehyun yang cemberut. "Ah, sudahlah, aku masih punya yang lain." Ia melepas ransel dari punggungnya. Dan mengambil sebungkus potato chips lagi. Dua orang lain yang berada di kelas saat itu heran. Berapa banyak Jaehyun membawa makanan di dalam tasnya.
Tanpa peringatan, Yuta, yang kedua tangannya masih kosong, mengambil tas Jaehyun untuk melihat isinya. Dan apa yang ia lihat selanjutnya membuatnya mengerutkan dahi, masih ada sebungkus potato chips lagi, satu kotak wafer, selusin crackers, dan sisanya adalah buku-buku pelajaran hari ini. Pantas saja tasnya selalu terlihat penuh, ternyata sebagian besar isinya adalah makanan.
Tapi yang membuatnya aneh adalah tubuh Jaehyun itu sendiri. Kenapa tubuhnya itu terlihat kekar. Bahkan Jaehyun sendiri mengatakan bahwa ia jarang melatih ototnya. Ini masih menjadi misteri.
Jujur saja, sebenarnya Ten iri dengan tubuh Jaehyun. Sangat berbeda dengan tubuhnya yang ramping ini. Bahkan ibunya mengatakan kalau Ten lebih ramping dari adiknya, Tern. Dan berakhir dengan Tern yang merajuk lalu mengunci diri dalam kamar.
Yuta mengembalikan tas tersebut ke pemiliknya, namun ia mengambil sebungkus crackers yang berada di dalamnya terlebih dahulu. Jaehyun tidak mengutarakan protes lagi, tetapi raut wajahnya masih sama seperti tadi. Keningnya tertekuk dan matanya ia tujukan ke arah lain, tidak berniat untuk melihat kedua temannya sama sekali.
Dan suasana menjadi hening. Hanya suara kunyahan makanan yang terdengar.
"Err, kelas akan dimulai 15 menit lagi. Jaehyun, kau tidak memiliki niat untuk masuk ke kelasmu?" Ten menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Jaehyun mendengus. Orang mana yang tidak akan kesal setelah makanannya dirampas secara tiba tiba lalu bukannya mengatakan terimakasih tetapi malah mengusirmu?
"Cih, aku akan pergi. Sampai jumpa di kantin nanti." Jaehyun melenggang pergi sambil menghentak-hentakkan kakinya dengan keras.
"Lihat, dia marah dan semua ini gara gara kau!" Yuta menggeram. Tidak sadarkah dia, bahwa dirinya juga ikut berpartisipasi menjadi penyebab Jaehyun marag
Ten memasang ekspresi datar. Ia ingin protes, tetapi ia sedang malas untuk berdebat saat ini. Hanya kata 'maaf' yang keluar dari mulutnya. Sebentar lagi juga mereka bertiga akan kembali berbaikan.
"Anyway Ten, aku ada tes untuk kelas selanjutnya. Jadi kau di kantin bersama Jaehyun saja ya."
Tolong selamatkan nyawa Ten.
Kelas sastranya telah berakhir, Ten meneguk salivanya. Menimang nimang apakah dia harus ke kantin atau tidak. Sampai lima menit berlalu Ten belum juga bergerak sedikitpun dari tempatnya semula. Akhirnya ia memutuskan untuk pergi ke kantin saja. Lebih baik daripada melihat Jaehyun yang terus memasang aura membunuh keesokan harinya
Di perjalanan, Ten bukannya melihat ke depan, ia malah melihat ke bawah. Berharap kejadian ubin keramik yang berubah warna seperti tadi pagi terulang kembali. Untung saja ia tidak menabrak siapa-siapa di jalan.
Ten menengadahkan kepalanya, semuanya tampak sama, hitam putih dengan gradasi warna abu abu. Pandangan matanya berpendar melihat seluruh penjuru kantin kampus, mencoba mencari orang yang tengah menunggunya sejak tadi. Hingga ia menemukannya, di tempat mereka biasa bersama, meja di pojok kantin.
Kakinya bergerak menuju meja tersebut. Matanya tak henti hentinya melihat ke sekelilingnya, dunia yang monoton, heh. Ia benci melihat warna hitam dan putih ini setiap hari.
Tidak sebelum ia menangkap sesuatu yang berbeda diantara lautan warna hitam dan putih itu. Ia berdiam di tempatnya sekarang. Dan kini, hanya matanya yang bergerak mengikuti objek tersebut. Objek itu memang masih berwarna sama dengan sekitarnya, tapi ia merasakan hal yang berbeda, terlihat lebih terang mungkin? Jangan jangan dia orang yang berada di koridor yang sama dengannya tadi pagi?
Ten menggelengkan kepalanya, ia pasti sedang mengkhayal. Ia kembali menggerakkan kakinya menuju meja dimana Jaehyun berada.
Jaehyun melihat Ten dengan ekspresi sinis. "Wah, cepat sekali," nadanya memang terdengar bahagia. Namun wajahnya tidak, cih, sinis sekali. Ten membalasnya dengan cengiran. Jaehyun pasti sudah terbiasa dengan hal seperti ini. Mungkin kebetulan saja moodnya sedang tidak baik sekarang. Ten berani bertaruh, setelah makanannya datang nanti. Mood Jaehyun pasti akan segera berubah. Rasa cintanya pada makanan benar benar melebihi apapun.
Ten mengambil posisi untuk duduk di meja hadapan Jaehyun. Ia tidak membeli makanan dari kantin untuk hari ini. Karena ia membawa kotak makanannya sendiri. Oh, Jaehyun sedang benar benar kesal sekarang, makanannya belum juga datang sejak tadi, lihatlah alisnya yang tertekuk seperti itu, pipinya yang menggembung dan ditambah lagi dengan bibirnya yang dimajukan, bagi orang lain mungkin terlihat lucu. Namun tidak bagi Ten, ia menatap Jaehyun dengan pandangan yang seolah-olah berkata 'Hentikan itu, kau menjijikan'
Daripada terus mencemari penglihatannya. Ten memutuskan untuk menghabiskan bekal makanannya sambil melihat ke sekelilingnya, namun tidak ke arah Jaehyun.
"Yeah, akhirnya!" Suara yang tiba tiba terdengar itu mengagetkan Ten. Ia melirik sekilas ke arah Jaehyun. Pantas saja, makanannya sudah datang. Matanya benar benar berbinar. Senyum tidak pernah lepas dari bibirnya. Sudah ia katakan sebelumnya kan, Jaehyun dengan makanan adalah kombinasi yang tepat, mereka saling mencintai satu sama lain. Harusnya mereka menikah saja. Dan tentu saja Ten akan mendukung hubungan mereka berdua, pasti.
Apa pedulinya tentang Jaehyun, ia memutuskan untuk mencari objek yang sedari tadi membuatnya penasaran. Kalau dia hanya mengkhayal, bagaimana mungkin ia bisa membayangkan sesuatu yang belum pernah ia lihat sebelumnya?
Ah itu dia
Ia memakai pakaian serba hitam, dengan sedikit gradasi abu-abu cerah di rambutnya. Oh tentu saja semuanya terlihat hitam-putih. Ten kan belum bisa melihat warna lain selain hitam, putih dan abu-abu.
"Ten, apa kau dapat merasakannya?" Jaehyun memberikan pertanyaan secara mendadak pada Ten.
Ten mengernyitkan dahinya "Apa maksudmu?"
Dan jawaban yang diberikan oleh Jaehyun selanjutnya membuat Ten facepalm "Makanan hari ini jauh lebih enak dari biasanya."
Ten ingin menampar Jaehyun, sungguh.
Matanya kembali ke tempat dimana objek itu terakhir berada. Dan Ten berakhir dengan tidak menemukan apapun. Heh, ia benci Jung Jaehyun dan pertanyaan bodohnya.
Memutuskan untuk melanjutkan makan siangnya dengan tenang namun orang di seberangnya ini sangat mengganggu pemandangannya. Andai Yuta juga disini. Makan siangnya pasti akan lebih menyenangkan.
Tiba-tiba, Ten teringat dengan kertas yang ia temukan di koridor tadi pagi. Ten merogoh saku celananya. Mengambil kertas yang ia simpan tadi.
"Jaehyun, coba baca ini" Tangan kanan Ten terulur kedepan. Memberikan kertas tersebut pada Jaehyun.
Jaehyun menghentikan acara makannya. Mengambil kertas yang diberikan oleh Ten, kemudian membacanya dalam diam. Matanya membelalak, sepertinya Jaehyun menemukan sesuatu yang menakjubkan.
"Apa yang kau lihat?" Ten penasaran melihat raut wajah Jaehyun
"Warna lain, selain warna abu-abu itu. Aku tidak tahu ini warna apa."
Berarti tidak hanya Ten yang mengalami kejadian seperti ini.
Mata Jaehyun memperhatikan tiap sisi kantin sebelum berhenti pada satu titik.
"Ten, sepertinya aku menemukan orang yang menulis surat ini" Ujar Jaehyun. Detik selanjutnya, Jaehyun beranjak dari tempat duduknya, dan meninggalkan makanannya tergeletak di atas meja. Wow, akhirnya temannya ini menemukan sesuatu yang akan ia cintai melebihi cintanya pada makanan.
Pandangan Ten mengikuti pergerakan Jaehyun. Jaehyun menujukan langkahnya pada meja di seberang sana. Salah satu orang yang berada di meja tersebut menatap Jaehyun lamat-lamat. Sepertinya itu orang yang dimaksud Jaehyun tadi.
Dan benar saja, orang itu langsung berlari dan menghambur kepelukan Jaehyun segera setelah Jaehyun mencapai setengah perjalanannya. Ten merasa mual, melihat sepasang lovebirds yang baru saja bertemu membuatnya ingin mengeluarkan seluruh isi perutnya.
Berarti, diantara Yuta, Jaehyun dan dirinya sendiri. Hanya dia yang belum menemukan pasangannya. Yuta sudah bertemu dengan soulmate-nya sekian tahun yang lalu, katanya. Dan kata Yuta, pasangannya itu kini tengah menjalani pelatihan yang entah pelatihan apa Ten tidak peduli, jadi mereka berpisah. Cih, persis seperti skenario drama picisan yang ibunya tonton tiap hari.
Jika Tern mengetahui bahwa diantara ketiga temannya hanya kakaknya yang masih sendiri. Pasti ia akan menggoda Ten terus menerus. Ia tidak mengerti darimana adiknya itu mendapatkan informasi tentang dirinya padahal adiknya masih seorang siswa sementara Ten sendiri sudah menjadi mahasiswa. Relasi katanya
Jaehyun kembali ke meja mereka berdua, tetapi kali ini ia mengajak orang lain. Orang yang tadi ia peluk di tengah keramaian kantin.
"Ten, warna pakaianmu bagus sekali," Cih, ada yang sombong rupanya. "Tenang saja, kau akan segera menemukan pasanganmu nanti. Aku juga tahu ada beberapa orang yang sampai akhir umur dua puluhan masih hidup dalam dunia abu-abu,"
Ten tersenyum, Jaehyun mempunyai niat untuk menghibur sahabatnya yang masih melihat dunia dengan warna abu-abu
"—dan kau mempunyai waktu satu dekade lagi sampai kau sama menyedihkannya dengan mereka," lanjutnya
Ten tarik kembali ucapannya. Jaehyun ataupun Tern, mereka berdua sama saja. Apakah semua orang yang baru saja bertemu dengan pasangannya akan menjadi semenyebalkan ini, huh?
Melirik sekilas orang yang berdiri di belakang Jaehyun. Orang itu tidak mengatakan apa apa sejak tadi. Ten melemparkan pandangan bertanya pada Jaehyun.
Jaehyun terdiam selama beberapa detik sebelum mengerti maksud dari tatapan yang diberikan oleh Ten. "Oh! Ten, ini Doyoung, bunny-ku, mahasiswa tahun kedua, sama sepertimu."
'bunny-ku' konon. Ten mengulurkan tangan kanannya, mengajak orang itu berkenalan. Dan disambut dengan baik olehnya.
"Aku Ten, jurusan Arsitektur tahun kedua"
"Doyoung, semester tiga di sosiologi." Pemuda itu tersenyum sampai memperlihatkan giginya. Oh, jadi ini alasan mengapa Jaehyun menyebutnya kelinci.
"Jaehyun, semester dua di Sastra Inggris."
Dua orang yang mendengar kalimat tersebut, secara spontan menoleh ke sumber suara. Melempar tatapan 'tidak ada yang bertanya padamu'
Jaehyun meneguk salivanya sendiri, dihadiahi tatapan tajam oleh dua orang sekaligus bukanlah hal yang menyenangkan. Ia tertawa canggung dan salah satu tangannya mengusap-usap lehernya sendiri. Merasa atmosfer di sekitarnya semakin tidak menyenangkan. Ia mengambil ranselnya lalu menarik pergelangan tangan Doyoung untuk pergi dan meninggalkan seorang Chittaphon Leechaiyapornkul sendirian di kantin.
Wow, dan sekarang Ten ditinggalkan oleh sepasang lovebirds itu. Apalagi yang akan terjadi nanti, hah?
Buat yang nanya Ten itu buta warna atau gimana, sekarang udah ngerti kan? /Bagi yang belum tanya aja/ saya lupa ngejelasin ini kemarin orz.
Kalo ada yang nemu typo(s) dan sejenisnya, tolong kasih tau saya yah, meski udah dicek berulang kali, tetep aja ada yang kelewatan. And I'm still a newbie, kritik dan saran akan saya terima.
Ps. NCT DREAM BAKAL DEBUT HUHU, JENO GANTENG BANGET, bias wrecker nambah satu lagi :(
Last but not least, thanks buat yang udah review, fav dan follow ya ^^
